Tausyiah275

June 21, 2009

Berdakwah Melalui Kaos

Masuk Kategori: Tarbiyah, Muamalah

Bismillah,

Banyak cara bagi kaum muslim untuk melakukan dakwah, minimal bagi dirinya sendiri. Dakwah perlu dilakukan, terutama secara istiqomah, agar kita senantiasa ingat apa tujuan kita diciptakan ALLOH SWT, yakni tiada lain untuk beribadah pada-Nya serta menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Berbagai cara dakwah yang bisa kita lakukan adalah:
- menunjukkan sikap yg baik
- menjadi alim ulama
- membuat blog terkait dengan agama
- mengirim sms

Saya sendiri ‘baru sadar’ bahwa ada cara lain untuk berdakwah, yakni berdakwah melalui kaos. Kaos, sebuah jenis pakaian yang selalu kita kenakan, bisa menjadi media dakwah dengan cara memasang atau menuliskan kata-kata dakwah pada kaos tersebut.

Jika anda berminat menjadi agen dakwah, minimal melalui kaos, anda bisa kunjungi http://thedzikr.blogspot.com atau http://www.dzikrclothing.com. Silakan beli salah satu kaos dan bersiaplah menjadi agen dakwah.

Semoga dakwah yang kita lakukan akan menjadi amal jariah bagi kita semua. Aamiin

June 7, 2009

Ceramah Zainuddin MZ

Masuk Kategori: Tarbiyah, Muamalah, Teknologi

Bismillah,

Bagi anda yang rindu dengan ceramah kiai sejuta umat, Zainuddin MZ, anda bisa mengunduh file-file (mp3) di sini.

Semoga bermanfaat.

May 23, 2009

Facebook Haram?

Masuk Kategori: HOT NEWS, Muamalah, Teknologi

Bismillah,

Sebuah informasi yg mengejutkan saya dapatkan sejak kemarin. Informasi tersebut berupa adanya larangan (bahkan pengharaman) aplikasi-aplikasi jejaring sosial (social networking), termasuk di dalamnya adalah Facebook dan Friendster. Larangan ini dikeluarkan oleh ulama yg tergabung dalam Forum Komunikasi Pondok Pesantren Putri.

Pengharaman jejaring sosial ini ditujukan bagi para pemakai yang menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut secara berlebihan. Definisi berlebihan di sini adalah mencari jodoh dan berpacaran dengan memanfaatkan media tersebut tanpa bertujuan untuk menikah.

Sebagaimana saya kutip dari detikinet,

Dijelaskan oleh Masruhan, larangan tersebut ditekankan pada adanya hubungan pertemanan spesial yang berlebihan. Apabila hubungan pertemanan spesial tersebut dilakukan untuk mengenal karakter seseorang dalam kerangka keinginan menikahinya dengan keyakinan keinginannya akan mendapatkan restu dari orang tua, hal tersebut tetap diperbolehkan.

“Disini yang dilarang apabila penggunan Facebook hanya untuk mencari jodoh dan mengenal karakternya dan tidak dalam proses khitbah (pinangan atau lamaran),” jelas Masruhan.

Dalam penentuan pernyataan tersebut, FMP3 menggunakan sejumlah dasar. Antara lain Kitab Bariqah Mahmudiyah halaman 7, Kitab Ihya’ Ulumudin halaman 99, Kitab Al-Fatawi Al-Fiqhiyyah Al-Kubra halaman 203, serta sejumlah kitab dan tausyiyah dari ulamak besar.

“Intinya yang kami hasilkan ini sesuai dengan ketentuan dalam agama, yang secara tegas sudah menyebutkan hubungan pertemanan spesial tanpa ada maksud keseriusan diharamkan,” ungkap Masruhan.

Hmmm…bagi saya pribadi, penjelasan yg diberikan para ulama tersebut cukup masuk akal. Namun, saya lebih setuju jika pengharaman jejaring sosial diberlakukan bagi para pemakai yg menggunakan jejaring sosial untuk menyebarkan pornografi, bergosip (ghibah), atau bahkan untuk hal2 ‘tidak penting’ dan cenderung menghabiskan waktu tanpa ada manfaat. Masalah mencari jodoh atau berpacaran, seperti yg pernah saya tulis dalam artikel “Bagaimana Menemukan Jodoh“, jejaring sosial itu hanyalah alternatif, terutama bagi masyarakat jaman sekarang yg cenderung ’sulit’ berinteraksi secara langsung.

Saya sendiri menggunakan Facebook sebagai media dakwah, menyebarkan ilmu agama sebisa dan semampu saya. Jadi, memang tidak bisa sembarangan menerapkan aturan haram. Kembali mesti dilihat tujuan (niat) menggunakan jejaring sosial.

Toh, saya tetap menyambut baik aksi para ulama ini. Setidaknya mereka punya kepedulian juga terhadap perkembangan teknologi yg sedang ‘digeluti’ dan hangat di kalangan masyarakat. Namun, hendaknya mereka juga tidak melupakan hal-hal dasar lainnya. :-)

Sekedar saran, barangkali sudah waktunya Indonesia mesti mempunyai ulama yg lebih melek teknologi, sebelum akhirnya mengeluarkan fatwa ataupun putusan2 yang terkait teknologi. Sehingga tidak akan menjadi bahan tertawaan, karena sudah melalui proses yg cukup teruji, baik dari sisi teknologi dan agama. :-)

February 14, 2009

Islam dan Kasih Sayang

Bismillah,

Sebelumnya, saya minta maaf, karena sudah sebulan lebih saya tidak memperbaharui isi blog ini. Maaf terutama saya tujukan bagi anda-anda yang telah setia mengunjungi blog ini. *mode ge-er*

Alhamdulillah, hari ini saya bisa memperbaharui artikel di blog ini. Momennya di hari Valentine, hari yang senantiasa diagung-agungkan oleh banyak kaum muda, tidak hanya dari non muslim, tapi juga banyak kaum muda muslim yang merayakan hari ini. Saya tidak akan banyak membahas, karena saya sudah pernah membahasnya di:
- http://tausyiah275.blogsome.com/2006/02/13/haruskah-kita-merayakan-valentine/
- http://tausyiah275.blogsome.com/2006/02/14/apa-sesungguhnya-valentines-day/
- http://tausyiah275.blogsome.com/2007/02/13/valentine-hal-paling-ga-penting/

Silakan anda baca kembali artikel2 saya di atas untuk penjelasan tentang hari Valentine tersebut.

Pada kesempatan ini, saya ingin membahas, bahwa Islam sudah mengajarkan kasih sayang yang jauuuh lebih baik dari kasih sayang yg ‘diajarkan’ di hari Valentine. Pada salah satu artikel saya di atas, tertulis bahwa Valentine hanya dirayakan dengan orang2 yg kita sayangi, yang notabene dilakukan oleh orang2 yg sedang berpacaran. Lebih ‘ngerinya’, bentuk kasih sayangnya diwujudkan dalam hubungan sex tanpa ikatan nikah, yang jelas2 haram dalam pandangan Islam.

Sementara itu, Islam, seperti yg saya tulis di atas, mengajarkan kasih sayang yang lebih global dan tidak terbatas.

“Ah, yang benar Mas? Buktinya apa? Kok saya selama ini tahunya Islam itu perang?”

Pertanyaan di atas barangkali muncul dalam benak anda.

Ok, saya tunjukkan bukti-bukti bahwa Islam mengajarkan kasih sayang yg kualitasnya jauh lebih baik.

Hadits-hadits Rasululloh SAW
1. “Amal perbuatan yang paling disukai ALLOH sesudah yang fardhu (wajib) ialah memasukkan kesenangan ke dalam hati seorang muslim.” (HR. Ath-Thabrani)
Hadits ini mempunyai arti, seorang muslim hendaknya menyenangkan hati sesama saudaranya. Menyenangkan hati mempunyai makna yang luas, dan termasuk di dalam bentuk kasih sayang.

2. “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya.” (HR. Bukhari)
Jika kita menyayangi seseorang, maka kita akan berusaha untuk menghalangi (atau memperbaiki) aibnya.

3. “Tiga perbuatan yang termasuk sangat baik, yaitu berzikir kepada ALLOH dalam segala situasi dan kondisi, saling menyadarkan (menasihati) satu sama lain, dan menyantuni saudara-saudaranya (yang memerlukan).” (HR. Ad-Dailami)
Poin terakhir, yakni menyantuni (memberi pertolongan) saudara2 yg memerlukan, jelas sekali bukti bahwa Islam itu mengajarkan kasih sayang.

4. “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak mengecewakannya (membiarkannya menderita) dan tidak merusaknya (kehormatan dan nama baiknya).” (HR. Muslim)
Salah satu bentuk kasih sayang adalah tidak ingin mengecewakan orang yg kita cintai dan sayangi.

5. “Tiada beriman seorang dari kamu sehingga dia mencintai segala sesuatu bagi saudaranya sebagaimana yang dia cintai bagi dirinya.” (HR. Bukhari)
Ini adalah hadits yg sudah sedemikian terkenal, dan SANGATLAH JELAS bahwa Islam mengajarkan kasih sayang!

6. “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta kasih dan belas kasih seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing) maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)
Ini juga salah satu hadits yg seringkali dijadikan sandaran bahwa Islam mengajarkan kasih sayang.

7. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” (Al Isra(17):24)
Ayat Al Qur’an ini menjelaskan tentang kasih sayang kita kepada orang tua kita.

8. “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan ALLOH, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa ALLOH mengampunimu? Dan ALLOH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nuur(24):22)
Ayat ini menjelaskan bahwa orang2 yang diberi kelebihan (terutama di bidang materi) hendaknya membantu saudara2nya yang kekurangan.

Dari hadits-hadits dan ayat-ayat di atas, kita bisa lihat bahwa bentuk kasih sayang yg diajarkan Islam kepada para pemeluknya bersifat universal. Berlaku untuk semua manusia, semua golongan. Namun, tentu saja kaum muslim, sebagai saudara seiman mempunyai prioritas yg lebih tinggi, terutama jika saudara seiman tersebut posisinya dekat dengan kita. Tetangga 1 RT, tetangga 1 RW, bahkan dalam 1 negara pun, saudara seiman mempunyai hak untuk diprioritaskan.

Bahkan jika kita mau telaah lebih lanjut, kasih sayang yg ‘mesti’ dilakukan oleh seorang muslim tidaklah melulu kepada sesama manusia, namun juga kepada makhluk-makhluk lain sebagai ciptaan ALLOH SWT. Barangkali anda ingat, mengapa saat hendak menyembelih hewan, kita diperintahkan untuk menggunakan pisau/senjata yang sangat tajam? Tujuannya tidak lain agar hewan tersebut tidak tersiksa terlalu lama, menderita kesengsaraan karena rasa sakit disembelih oleh senjata yg tumpul.

Dengan demikian, jelaslah kasih sayang dalam Islam LEBIH BAIK daripada kasih sayang yg ‘diajarkan’ di hari Valentine, yang lebih banyak tertuju pada orang2 terdekat (pacar/suami/istri).

Permasalahannya, seberapa banyak kaum muslim yg mau menyebarkan kasih sayang? Kita masih lihat banyak sesama muslim gontok2an, saling menyerang, dst dst. Jadi yg SALAH adalah PEMELUKNYA, BUKAN AGAMANYA.

Atau coba kita berkaca pada diri kita sendiri.
- Apakah anda menyayangi seseorang karena hartanya?
- Apakah anda menyayangi seseorang karena wajahnya?
- Apakah anda menyayangi seseorang karena kedudukannya?
- Apakah anda sudah pernah membantu seorang nenek tua di pinggir jalan?
- Apakah …
Dan masih banyak apakah lagi.

Tujuan saya memberikan contoh di atas bukanlah untuk menjadi riya’ atau ujub. Tapi sebagai peringatan dan saran, bahwa Islam tidak akan pernah dianggap mengajarkan kasih dan sayang, jika kita selaku pemeluknya ternyata masih belum menyebarkan kasih dan sayang tanpa memandang status, golongan, harta, bahkan agama sekalipun.

Semoga kita semua, termasuk saya sendiri (penulis artikel ini), bisa mulai (lebih) menyebarkan kasih dan sayang pada banyak orang. Tentunya didasarkan (diniatkan) karena ALLOH SWT, agar perbuatan kita ini menjadi bernilai ibadah.

December 23, 2008

Mengucapkan Selamat Natal Itu Penting Atau Tidak?

Bismillah,

Tiap tanggal 25 Desember, kaum Nasrani akan merayakan hari Natal, hari yang mereka percaya sebagai hari lahirnya tuhan mereka, Yesus (yang di Islam lebih dikenal sebagai Nabi Isa as). Mirip dengan lebaran, hari Natal merupakan hari kaum Nasrani berpesta pora, meski ada juga yang berusaha memaknai arti hari Natal tersebut dengan pendekatan secara agama.

Nah, sudah menjadi ‘penyakit’ tahunan kaum Islam, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia, mengenai perlu tidak sih mengucapkan selamat natal kepada mereka?

MUI, terutama di jaman Buya Hamka menjadi ketuanya, sudah jelas2 mengharamkan pemberian selamat hari Natal, terlebih lagi hadir dalam acara keagamaan yang terkait dengan hari Natal ini. Meski mengandung kontroversi dan selalu menjadi bahan perdebatan, toh fatwa MUI ini masih banyak yang mengikuti dan patuh. Fatwa lengkap MUI mengenai hal ini bisa anda baca di sini.

Di jaman dulu, Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya, juga sudah menerapkan hukum yang serupa dengan fatwa MUI ini. Alasan mereka, perayaan Natal merupakan bagian dari syiar agama Nasrani. Mereka punya pendapat bahwa kaum muslim wajib menjauhi berbagai perayaan orang-orang kafir, menjauhi dari sikap menyerupai perbuatan-perbuatan mereka, menjauhi berbagai sarana yang digunakan untuk menghadiri perayaan tersebut, tidak menolong seorang muslim didalam menyerupai perayaan hari raya mereka, tidak mengucapkan selamat atas hari raya mereka serta menjauhi penggunaan berbagai nama dan istilah khusus didalam ibadah mereka.

Sementara itu, Yusuf Qardhawi memberikan fatwa yang ’sedikit’ berbeda. Beliau membolehkan mengucapkan selamat natal (atau hari besar lainnya) kepada mereka yang CINTA DAMAI, terlebih kepada mereka yang mempunyai hubungan darah, seperti saudara, ataupun bertetangga (yg baik).

Jika saya tidak salah baca, saya pernah baca bahwa bolehnya mengucapkan selamat natal ini terutama ditujukan kepada kaum muslim yang bermukim di negara yg mayoritas Nasrani. Alasan di artikel yg pernah saya baca, serupa dengan pendapat Yusuf Qardhawi (atau jangan2 artikel yg saya baca itu juga artikel dari YQ? Entahlah).

Saya sendiri bersikap moderat konservatif, dalam artian tetap menghormati kaum Nasrani, namun saya berada dalam lingkup atau wawasan mengucapkan selamat natal adalah hal yang tidak penting (bagi saya). Mengapa tidak penting? Karena, menurut saya pribadi, Natal sudah merupakan bagian dari ke-tauhid-an seorang Nasrani.

Saya berpatokan kepada ayat Al Qur’an, surat yg saya yakin kita semua sudah hafal, yakni Al Kafirun(109). Di sana, pada ayat 6 tertulis,“Untukmu agamamu,untukku agamaku”. Surat ini turun, seingat saya ketika Rasululloh SAW ditawari kaum kafir Quraisy untuk ‘bergantian’ menyembah tuhan masing-masing. Jadi, minggu ini kaum kafir nyembah ALLOH SWT, minggu depan kaum muslim yg gantian nyembah tuhannya kaum kafir.

Selain itu, saya juga berpatokan kepada sang suri tauladan. Sepanjang saya ketahui, dalam shirah nabawi tidak tersebut (atau disebutkan) Rasululloh SAW mengucapkan selamat hari natal kepada kaum Nasrani yg ada saat itu, terutama raja Heraklius dari Romawi. Well, barangkali perayaan Natal belum marak saat itu, tapi saya yakin bahwa Rasululloh SAW sudah dipersiapkan ALLOH SWT untuk memberikan contoh mengenai hal2 yang terkait dengan tauhid.

Namun, saya TIDAK AKAN MENYALAHKAN atau MELARANG kepada saudara2 sesama muslim yg mengucapkan selamat Natal. Seperti yg saya tulis di atas, ada 2 pendapat mengenai mengucapkan selamat natal ini. Terlebih kepada saudara muslim yang hidup di negara Barat, atau bahkan punya saudara atau keluarga yg beragama Nasrani.

Jadi, tidak perlu saling menyalahkan.

Yang mengucapkan selamat Natal tidak perlu menyalahkan yg tidak mengucapkan. Apalagi dengan embel2 bahwa yg tidak mengucapkan selamat natal berarti tidak tenggang rasa, tidak ada jiwa sosial (bergaul), dan sebagainya dan sebagainya.

Demikian pula yg tidak mengucapkan tidak perlu serta merta memaksakan pendapatnya kepada saudara sesama muslim yang mengucapkan selamat. Apalagi dengan ucapan mengancam bahwa yg mengucapkan selamat natal akan masuk neraka. Wah wah wah…suatu tindakan, yg menurut saya, tidak bijak.

Setiap orang (terutama muslim) akan dimintai pertanggung jawaban untuk setiap tindakannya. Ilmu pengetahuan mengenai boleh tidaknya mengucapkan selamat natal berarti sudah anda ketahui. Masalah anda pilih yang mana, ikutilah yang anda anggap sesuai. Masing-masing pendapat punya alasan yang kuat.

Jadi, anda pilih yang mana?

November 22, 2008

Menemukan Jodoh Anda

Bismillah,

Seperti janji saya tempo hari, yang akan membahas tentang pernikahan, saya akan mulai dengan (menemukan) jodoh. Jadi, harap diperhatikan bahwa upaya menemukan jodoh di sini adalah DALAM RANGKA MENIKAH, bukan hal2 yg lain. ;-)

Jodoh merupakan salah satu dari sekian rahasia ALLOH SWT kepada makhluk-Nya (baca: manusia), di samping rejeki dan kematian.

Sebenarnya apa sih jodoh itu?

Banyak definisi tentang jodoh. Saya hanya akan menjelaskan definisi jodoh dengan pendapat pribadi saya, jadi akan banyak unsur subyektifitas dan ‘ngawur’ dalam definisi saya.

Jodoh, menurut saya, adalah pasangan (yg diikat dengan tali pernikahan, terutama secara agama/Islam), serta bersedia menemani sisa hidup kita, dalam suasana duka dan suka, tidak hanya di dunia namun juga di akhirat (terutama di surga).

Pertanyaan yg akan timbul, jika ada orang yg hingga meninggal, dia tidak menikah, berarti dia tidak punya jodoh?

Untuk hal ini, saya teringat dengan ucapan salah seorang guru saya. Beliau mengatakan bahwa ALLOH SWT menciptakan (ada) orang2 yg tidak diberi jodoh di alam dunia. Bagi mereka telah disiapkan jodoh di akhirat (baca: surga, jika mereka memang masuk surga kelak).

Saya ‘cut’ dulu untuk urusan jodoh di akhirat ini, kita akan bahas di lain waktu, insya ALLOH. Kini saya hendak fokus dulu pada jodoh di dunia.

Untuk menikah, tentulah mesti ada pasangannya. Nah, pasangan ini yg seringkali dianggap sebagai jodoh (termasuk pada definisi yg saya uraikan di atas).

Menemukan jodoh, sulit-sulit gampang. Ada yg menyebutkan, jodoh itu adalah orang yg kita rindukan setiap saat walau hanya bertemu sesaat. Ada juga yg menyebutkan, jodoh itu adalah orang yg membuat kita ingin menghabiskan sisa waktu hidup kita bersamanya. Bahkan ada yg menyebutkan, jodoh itu adalah orang yg sudah kita nikahi. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Khusus untuk pernyataan terakhir ini, mesti lebih berhati-hati. Jika kasusnya poligami, MUNGKIN saja itu jodohnya. Tapi jika kasusnya kawin cerai, nah…itu mesti lebih dicermati sebelum mengatakan bahwa pasangan nikahnya adalah jodohnya.

Banyak cara ALLOH SWT untuk mempertemukan seseorang dengan jodohnya. Ada yg di sekolah atau kampus kuliah (mungkin banyak yg mengalami hal ini). Ada yg bertemu di tempat kerja, bioskop, diskotik, masjid, atau bahkan gara-gara tabrakan atau bersenggolan.

Saya tidak akan membahas cara2 bertemu jodoh, karena itu merupakan rahasia-Nya. Namun saya bisa membantu anda cara menemukan jodoh kita dengan cara yg, insya ALLOH, baik.

Bagi laki2, kriteria jodoh (perempuan) yg hendak dia nikahi, ‘relatif mudah’ karena ada panduan dari Rasululloh SAW, dalam haditsnya yg terkenal. Rasululloh SAW menjelaskan ada 4 kriteria perempuan yg ‘boleh’ dinikahi (baca: dijadikan jodoh) oleh seorang laki2, yakni kecantikan, kekayaan, kehormatan (kedudukan), dan agama. Tapi nikahilah perempuan yg paling baik agamanya, karena lelaki itu akan beruntung. Hadits lengkapnya sebagai berikut: “Seorang wanita dinikahi karena empat hal : karena hartanya, kecantikannya, keturunannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya beruntung kedua tanganmu” (HR. Ahmad)

Bagi perempuan, dia juga berhak memilih lelaki yg hendak menikahinya. Meski tidak ada panduan ‘resmi’ dari Rasululloh SAW bagi perempuan, untuk kriteria calon suaminya, saya menggunakan panduan yg sama. Yakni, terimalah nikah seorang lelaki karena si lelaki taat beragama.

Lalu, bagaimana dan kapan bertemu jodoh?

Tidak ada pola ataupun cara yg ‘pasti’ untuk menemukan jodoh. Banyak cara yg dialami seseorang untuk menemukan jodohnya, terserah bagaimana ALLOH SWT berkehendak, seperti yg saya tulis di atas.

Namun, karena jodoh adalah sesuatu yg berharga, hendaknya dia (dicari dan) ditemukan dengan cara dan di tempat yg baik. Menggunakan ilmu pelet, mencari jodoh di tempat dugem, atau barangkali di tempat pelacuran, jelas bukan cara mencari jodoh yg ‘dianjurkan’. Karena dg cara (dan tempat) yg ‘tidak benar’, sulitlah kiranya kita bisa menemukan hal yg baik dan benar juga.

Beberapa teman menceritakan pengalamannya. Mereka menemukan jodohnya di tempat pengajian, di kampus, di tempat kerja. Intinya tempat2 yg ‘baik’ dan jauh dari hal2 yg (secara agama) dinilai tidak baik.

Lalu, kapan kita akan bertemu dg jodoh kita?

Nah, yg jelas kita mesti berusaha. Memperluas pergaulan, mencari informasi ini itu, merupakan salah satu ikhtiar kita. Jika kita sudah bertemu dg seseorang yg membuat hati kita (istilahnya) ‘deg’, BISA JADI itu adalah tanda bahwa kita sudah bertemu dg jodoh kita.

Saya sendiri bertemu dengan istri saya di kampus, saat kuliah.

Nah, bagaimana anda bertemu dg jodoh anda? Bagi yg belum bertemu, kini saatnya untuk mulai berusaha. :-)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham