Tausyiah275

June 23, 2008

Perlukah Mendukung Obama?

Masuk Kategori: Tarbiyah, HOT NEWS, Muamalah

Bismillah,

Menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat, kita tidak bisa menganggap remeh. Penyebabnya apalagi jika karena saat ini Amerika Serikat merupakan ‘penguasa’ dunia (yg lebih banyak bertindak lalim dan dzalim dibandingkan adil), sehingga setiap perubahan yg terjadi, akan banyak mempengaruhi kehidupan bangsa2 lain di dunia.

Bagi kaum muslim, terlebih kaum muslim di Amerika, hal ini juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Kesalahan dalam memilih presiden Amerika Serikat, seperti yg pernah terjadi saat pemilu yg lalu, harus dijadikan pelajaran, karena ternyata Bush, yg didukung oleh kaum muslim, malah lebih banyak bertindak yg merugikan dan menciderai hati kaum muslim.

Kali ini, pemilihan presiden Amerika Serikat dirasa akan lebih seru, karena adanya sosok Barack Obama. Obama, yg pernah tinggal di Indonesia selama beberapa waktu (saat kecil), selalu melontarkan ide PERUBAHAN (sebagai salah satu tema) dalam tiap kampanyenya.

Pertanyaannya, bagaimana sikap kaum muslim (terutama muslim Amerika) terhadap Obama? Apakah dia layak dipilih?

Sebelum memutuskan untuk memilih Obama, hendaknya kaum muslim (terutama muslim Amerika) mesti melihat dulu berita-berita berikut:
- Barack Obama Diskriminasikan Wanita Muslim
- Sikap Obama tentang foto dia bersarung
- Sikap Obama terhadap Yahudi

Saya tidak ada niat untuk memprovokasi atau melakukan black campaign (kampanye negatif) terhadap Obama. Saya hanya hendak mengingatkan kita semua, terutama saudara muslim di Amerika, agar mereka tidak berharap terlalu berlebihan terhadap Obama dan menjadi kecewa jika usai memilih Obama, ternyata ybs malah lebih ‘menekan’ Islam.

Semoga ALLOH SWT senantiasa menolong hamba2-Nya yg senantiasa mencari dan menegakkan kebenaran.

June 3, 2008

Daftar Dokter Kandungan Perempuan

Masuk Kategori: Muamalah, Dari Inboxku

Bismillah,

Dari kotak surat, saya dapatkan daftar dokter kandungan perempuan. Semoga berguna.

dr Puji Ichtiarti RS Hermina Bekasi Barat dan RS Hermina Jatinegara
dr Yenny Julizir Rs.Anna Bekasi (Suaminya dr. Anak dan sebagai pemilik RS. ANNA)
dr. Susi RS Rawamangun
dr. Lidya Liliana RS. Mitra Bekasi Barat
dr. Lina Meilina Pujiastuti SpOG RS Mitra Keluarga Bekasi Barat
dr. Jenny Anggraeni RSIA Hermina Bekasi
dr. Nina Martini Somad RSIA Hermina Bekasi
Hj. Lina Meilina Spog RS Mitra keluarga Bekasi Barat
dr. Sri Redjeki - RS Hermina, Klinik Bella, Klinik Alifia Perumnas III Bulak Kapal
Bekasi
dr. Koesmaryati - Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Timur (Muslimah)
dr. Ariati RS. siloam cikarang
dr Santi (Marlisanti kalau gak salah) RS JMC Buncit Raya
dr Husna RS OMC Pulomas
dr Ramayanti RSIA Putra Dalima , BSD Serpong
dr Hasna, dr.. (bisa dicek di website harapan kita) RS harapan kita
dr. Lita Lilik RS Mitra International jatinegara
dr Dwiyana Ocviayanti (Ocvi) RS Permata Cibubur
dr. Sri Lestari Praktek di RS International Bintaro dan RS Fatmawati.
dr. Rudiyanti RS International Bintaro. Praktek setiap hari 10:00-13:00 di RSIB.
dr. Wenny Ningsih RS.Honoris Tangerang (Perum Tmn modern Tangerang, dkt Metropolitan
Town Square )
dr. Lucky Syafitri RSIA Eva Sari di Jl Rawa Mangun (Pramuka) Jak Pus dan RS Thamrin
JakPus
dr. Suharyanti, Spog Praktek di RS. MMC dan RS Hermina Jatinegara
dr. Mutia Prayanti RS Hermina Depok
dr. Nelwati RS Hermina Depok
dr. Tazkiroh RS ISLAM JAKARTA, Jl. Cempaka putih Tengah I/1 Jakarta Pusat, Telp.
(021) 4250451 - 42801567 (hunting) Fax. (021) 4206681
dr. Suharni Kahar, SpOG
dr. Isnariani, SpOG
dr. Hasnah Siregar RSIA Hermina Jatinegara
dr. Roslina Spog RSIA Trimitra Cibinong Jalan Raya Bogor, 1km selatan dari Matahari
Cibinong
dr. SUSAN MELINDA RSB.Limijati Bandung Jl RE Martadinata atau di Melinda Hospital ,
Bandung Jl Pajajaran
dr. Sofie Kimia Farma Jl Juanda Bandung
dr. Dewi S Gaduh Hermina
dr. Laila Nurana SPOG Medistra dan Bunda
dr. Nana Agustina RS Bersalin Siaga Dua, Pejaten Barat
dr. Zanibar Aldy RS Malahayati Medan
dr. Ida Farida, SpOG RS Kramat 128 Jakpus dan RS Satyanegara, Sunter

May 7, 2008

Teman Yang Baik Adalah…

Masuk Kategori: Hikmah, Muamalah

Bismillah,

Pak Tanya (PT) dan Pak Jawab (PJ) bertemu kembali untuk kesekian kalinya. Kali ini, apa yang mereka perbincangkan? Mari kita ikuti…

PT:”Assalamu’alaykum wr wb, pak Jawab”
PJ:”Wa’alaykumsalam wr wb, pak Tanya…ada yang bisa saya bantu?”

PT:”Begini pak Jawab…saya ingin curhat.”
PJ:”Tumben ingin curhat, apa yg menjadi keluhan anda? Setahu saya anda tidak punya banyak keluhan..”

PT:”Wah, jangan begitu toh pak, saya juga manusia biasa, pasti ada keluhan..”
PJ:”Hmmm..oke…oke..maaf..Lalu, apa yg menjadi keluhan anda?”

PT:”Begini…saya ingin tahu apa yang dimaksud dengan teman yang baik..”
PJ:”Memangnya, anda ada masalah dg teman?”

PT:”Tentu saja, makanya saya bertanya demikian. Begini, saya mengalami masalah dengan teman2 saya.”
PJ:”Ada apa dengan teman anda?”

PT:”Sebelumnya, tolong jawab dulu, apa yang dimaksud dengan teman yg baik?”
PJ:”Oya, maaf…saya lupa. Teman yg baik, menurut Islam, adalah teman yg selalu mengajak kepada kebaikan, senantiasa menghindarkan kita dari perbuatan yg keji dan mungkar. Termasuk perbuatan yang sia-sia.”

PT:”Oooo…begitu ya pak?”
PJ:”Betul. Bahkan dalam salah satu pengajian yg pernah saya ikuti, sang ustad berkata,”Jika berteman dengan tukang pandai besi, kita akan terpercik bara api. Sementara jika kita berteman dengan tukang minyak wangi, maka sedikit banyak bau wangi akan tercium dari tubuh kita.” Karenanya kita mesti memperhatikan siapa teman2 kita.”

PT: *mengangguk-angguk*
PJ:”Lantas, apa masalah anda, pak Tanya?”

PT:”Oh ya…hampir lupa. Begini, saya merasa teman saya kok rasanya tidak sesuai dengan kriteria pak Jawab. Tiap saya bertemu atau beraktivitas dengan mereka, kok saya tidak merasakan adanya kebaikan…err..maksud saya, kebaikan mungkin ada, tapi persentasinya kuecil sekali.”
PJ:”Maksud anda?”

PT:”Wah, saya sulit menjelaskannya. Mudahnya begini…belakangan ini ucapan dan sikap mereka cenderung meresahkan hati saya. Kok yaaa…keterlaluan begitu, ngomong kok yaaa dikontrol sedikit. Lha ini kok malah seenaknya?”
PJ:”Yaa…jika anda merasa resah, tidak ada salahnya anda tinggalkan mereka.”

PT:”Memang, saya sudah lakukan itu. Saya sudah jarang mengunjungi teman2 saya itu. Lha wong tiap kali bertemu dengan mereka, tujuannya seringkali tidak jelas. Nongkrong2 di satu tempat hingga pagi malah…walhasil saya sering terlambat bekerja.”
PJ:”Lah…lah…lah…kok ya bisa nongkrong hingga pagi seperti itu? Lebih baik kan waktunya digunakan untuk sholat malam atau sejenisnya. Memangnya teman2 anda tidak bekerja?”

PT:”Tentu saja bekerja…tapi entahlah, saya sendiri juga tidak mengerti. Bahkan saya bingung, apakah kantor mereka tidak menegur mereka?”
PJ:”Hmmm…”

PT:”Jadi, pak Tanya…apa yg mesti saya lakukan?”
PJ:”Usaha dan tindakan pak Tanya sudah benar. JAUHI MEREKA. Seperti yg saya utarakan tadi di atas, jika TEMAN ANDA malah membawa KEBURUKAN/KEMUDHARATAN, lebih baik ANDA TINGGALKAN.”

PT: *mengangguk-angguk*
PJ:”Terlebih lagi, sedikit banyak teman bergaul anda bisa mempengaruhi cara pikir anda. Jika anda selalu berteman dengan tukang sampah, maka anda akan menganggap hal-hal yg kotor sebagai sesuatu yg biasa. Padahal, bagi orang lain, yg normal maksudnya, hal tersebut menjijikkan.”

PT:”Lho, pak Jawab…memangnya salah jika berteman dengan tukang sampah?”
PJ:”Tidak…tidak ada salahnya. Tapi saya lihat anda sebenarnya memiliki potensi yg baik, dan berasal dari keluarga baik-baik. Mengapa anda harus memaksakan diri berteman dg tukang sampah? Jika anda berteman dg PENGELOLA SAMPAH, itu baik, karena dia pasti berpikir bagaimana mengolah sampah. Dan saya yakin, dia tidak lantas mesti bercampur langsung dengan sampah.”

PT: *mengangguk-angguk*
PJ:”Jika anda ingin sukses, anda justru mesti banyak bergaul dengan orang2 sukses. Saya lihat banyak teman anda yg cukup sukses, serta punya kepribadian yg baik. Banyak2 bergaul dengan mereka. Pola pikir mereka, saya yakin, akan banyak bermanfaat bagi usaha mencapai sukses seperti yg anda harapkan.”

PT:”Ok, pak Jawab…terima kasih atas pencerahannya.”
PJ:”Sama-sama…”

PT:”Saya pamit dulu. Assalamu’alaykum wr wb.”
PJ:”Wa’alaykumsalam wr wb.”

May 2, 2008

Bacaan Di Akhir Pekan - Kaum Muslim Indonesia, Contohlah Bangsa Jepang!

Bismillah,

Sebuah tulisan yg menarik, muncul di kotak surat saya. Usai membaca artikel ini, nampaknya umat muslim Indonesia mesti mau mencontoh bangsa Jepang, yg meski mayoritas non muslim, namun mereka ternyata sudah mempraktekkan kehidupan yg Islami, sebagaimana yg dicontohkan Rasululloh SAW.

Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta.

Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan dekat kami di Jepang.

01. Kantor pemerintahan dan pelayanan publik
Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada “semut” yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam “semut-semut” yang sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut.

Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat.

Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari system pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para “semut” tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal, pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari “RT, RW, Kelurahan” dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan kejujuran.

Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien. Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya mendapatkan “fasilitas” diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya membaca prinsip “the biggest (service) for the small” yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-orang yang kurang beruntung.

Pameo “kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah” tidak saya jumpai di Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana .

Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di Jepang.

Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 10 kali lipat.

Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak
lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang keliru tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di Negara ini.

Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang akan sebuah paradigma “Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja”.

Saya membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda melintasi kantor walikota (shiyakusho) . Sebagian besar lampu di kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00.

Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja - versi Jepang.

02.Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian
Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali memastikan niat kami membeli nya. Sembari tersenyum,
tentu saja kami mengatakan “daijobu” (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya dari awal.

Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup
mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada “pemaksaan” untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero

Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat “sepele”; hal ini bisa menyebabkan ketidak-ikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli .

Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena “keriangan” anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali melibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas supermarket melihat dan segera mengganti barang-barang tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas
supermarket menyahut “daijobu yo” (tidak apa-apa).

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga
mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut.

Di sebuah toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli .

03.Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi
Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi)
yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an.

Saya tidak bergurau. Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang - mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) - kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan berisi.

Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.

04.Lingkungan hidup dan transportasi
Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir separuh populasi Republik tercinta.

Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan- jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi.

Orang Jepang meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya.

Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.

Nasehat “tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan” mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda
akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.

05.Kesehatan dan rumah sakit
Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu memajukan bangsa dan negaranya.

Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat.

Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan.

Dari laporan rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang.

Jangan membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi - apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-benarnya. Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya.

Saat istri melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit.

Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan kemudian.

Saling percaya adalah kuncinya.

Yuli Setyo Indartono. Mahasiswa S3 di Graduate School

Jadi, kapan kita mulai mempraktekkannya? Jangan tunda lagi, lakukan sekarang juga!!!

April 2, 2008

Fitna, Sebuah Film Provokasi

Masuk Kategori: HOT NEWS, Muamalah

Bismillah,

Tgl 28 Maret 2008 lalu, seorang anggota parlemen Belanda, Geert Wilders, bersikeras meluncurkan film Fitna, sebuah film yg bersifat memprovokasi umat Islam. Peluncuran film Fitna ini ‘hanya bisa’ dilakukan di internet, karena dari sekian banyak stasiun televisi yg dia datangi, rata2 menolak untuk menyiarkan film tersebut.

Kebetulan, saya sempat mendapatkan file film Fitna tersebut, sebelum belakangan file ini sulit didapat karena banyak menuai protes.

Dalam film yg ‘aslinya’ berdurasi 15 menit, saya hanya mendapatkan file dengan durasi 8 menit, memang terlihat sekali bagaimana Wilders berusaha memprovokasi umat Islam. Dimulai dengan ditampilkannya sebuah Al Qur’an dengan judul Fitna di sebelah kanan. Ketika Al Qur’an dibuka, tampillah karikatur ‘wajah’ Rasululloh SAW dg bersorbankan sebuah BOM! *sebagai pengingat, karikatur ini merupakan salah satu karikatur yg dimuat di koran Denmark tempo hari*.

Kemudian muncul surat 8 (Al Anfaal) ayat 60, diikuti dengan tayangan runtuhnya WTC tgl 9 September 2001. Disusul dengan cuplikan ledakan bom di stasiun kereta di Spanyol,

Intinya, Wilders berusaha mengaitkan bahwa AKSI TERORISME yg terjadi di dunia karena ISLAM MENYURUH UMMATNYA UNTUK BERBUAT DEMIKIAN. Hal ini nampak jelas sekali, dengan mengaitkan ayat2 perang di Al Qur’an kemudian menayangkan kejadian2 terorisme.

Jelas ini suatu hal yg MENGGELIKAN. Mengapa? Saya yakin Wilders tidak pernah mempelajari Al Qur’an dg baik dan benar serta dengan niat yg tulus. Jika diperhatikan dengan seksama, ayat2 perang yg ada di Al Qur’an justru sebagai bentuk perlawanan kaum Muslim, karena mereka telah diserang dan disiksa sedemikian rupa oleh kaum musyrikin Quraisy.

Pemerintah Belanda sendiri nampaknya berusaha cuci tangan dengan kasus Wilders ini. Di satu sisi mereka tidak berusaha mengambil tindakan terhadap Wilders, dg berlindung di balik kata KEBEBASAN. Di satu sisi, mereka (seakan2?) mengecam Wilders, lalu berusaha mendekati negara2 muslim (terutama Indonesia) seraya menyatakan mereka tidak setuju dg Wilders bla bla bla.

Ah, negara2 barat itu memang payah. Jika sudah terkait dengan (kerjasama) ekonomi dg negara2 muslim, mereka begitu concern, tapi di sisi lain tidak memperhatikan dg sepenuhnya saran dan pendapat dari negara2 muslim tersebut.

Intinya, kita, selaku kaum muslim, tidak perlu terlalu terprovokasi. Aksi2 mengecam dan demonstrasi, sah2 saja kita lakukan, asal TIDAK BERLAKU ANARKIS. Karena dengan adanya sikap anarkis, terutama melakukan sweeping terhadap orang2 barat (terutama orang2 Belanda), justru akan memperkuat ‘kibulan’ Wilders mengenai orang Islam yg pemarah. Dan hal ini juga akan meyakinkan orang2 bule lainnya untuk mendukung film Wilders tersebut.

Justru, kita seyogyanya tetap bersikap santun, ramah, namun tegas. Perlihatkanlah, Islam adala rahmatan lil ‘aalamiin, rahmat bagi segenap semesta.

Lagipula, sikap orang yg liar (Wilders = Wild = liar) ga perlu dibalas dg sikap yg liar juga. *tersenyum* Oya, sebenarnya Wilders sudah memberikan judul yg tepat, Fitna, untuk filmnya, karena itu berarti film yg dibuat Wilders adalah fitnah terhadap umat Islam, dg kata lain, sebenarnya Islam tidaklah seperti yg tampil pada film Wilders. “Gitu aja kok repot!!” *senyum2 lagi*

October 8, 2007

Zakat, Potensi Yang Terlupakan

Menjelang Ramadhan berakhir, sudah menjadi kewajiban bagi kaum Muslim (YANG MAMPU DAN HARTANYA SUDAH MASUK NASAB) untuk membayar zakat sebagai kewajiban untuk melengkapi (menyempurnakan) ibadah puasa yg telah dia lakukan selama sebulan penuh. Zakat sendiri merupakan salah satu rukun Islam, sehingga bisa dikatakan pilar agama Islam.

Aku melihat zakat adalah sebuah potensi (yang sangat) besar dalam menghimpun, mengelola dan mendistribusikan harta kaum Muslim. Namun sayangnya, hanya proses menghimpun saja yg rutin dan dilakukan…itu pun, aku yakin, masih belum optimal. Dengan kata lain, belum 100% potensi menghimpun zakat yg bisa dilakukan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Aku beranggapan dan berasumsi bahwa masih banyaknya badan2 zakat, yg notabene tidak terpusat, yg mengakibatkan potensi penghimpunan zakat ini masih belum optimal.

Dalam satu waktu perenungan, aku sempat berpikir dan berandai-andai, suatu saat kelak didirikan lembaga zakat yg profesional, mungkin lebih baik dari baznas. Bahkan, dalam bayanganku, lembaga zakat yg terbentuk memiliki efektivitas yg (hampir serupa atau bahkan lebih baik) dari lembaga pajak.

Ya…zakat dan pajak tidak bisa dipisahkan dari kaum Muslim di Indonesia, sebagaimana pernah aku tulis di artikel berikut.

Informasi yg aku dapatkan, Malaysia sudah memiliki badan zakat yg (menurutku) cukup profesional. Dari artikel di sini, aku dapatkan informasi berikut:

Pada 1991 dana zakat yang terkumpul mencapai 62.6 juta RM pada 1992 jumlahnya meningkat menjadi 77.8 juta RM. Kemudian pada 1997 dana zakat yang terkumpul sebesar 203.5 juta RM namun pada 1998 dan 1999 mengalami penurunan yaitu menjadi 197.7 juta RM dan 196.1 juta RM. Penurunan terjadi karena saat itu Malaysia dihantam krisis.

Namun pada 2000 dana zakat yang terkumpul mengalami kenaikan kembali hingga mencapai 261.4 juta RM. Dan hingga 2003 PPZ mampu mengumpulkan dana zakat sebesar 408 juta RM.

Kita bisa lihat bahwa potensi zakat di Malaysia sedemikian besar. Jika kita kalikan dengan kurs yg ada, 1 ringgit = Rp 2600, maka uang yg terkumpul adalah sebesar Rp 1,06 triliun. Padahal jumlah muslim di Malaysia tidaklah sebesar di Indonesia. Itu baru tahun 2003, bisa kita bayangkan berapa kira2 uang yg terkumpul di tahun 2007 ini.

Ya ya ya…barangkali jumlah pemberi zakat (muzakki) dan penerima zakat (mustahik) bisa menjadi alasan (meski sebenarnya, menurutku tidak boleh ada alasan hanya karena kita tidak sanggup mengoptimalkan potensi kita).

Dan ternyata potensi zakat umat Islam di Indonesia barulah ’seujung kuku’. Aku dapatkan informasi berikut

Alfath mengatakan, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 20 triliun per tahun. Namun dari jumlah itu, yang tergali baru Rp 500 miliar per tahun.

(data didapat dari sini dan asumsi yg digunakan adalah asumsi tahun 2006).

Penyebab lain mengapa potensi zakat masih belum cukup optimal adalah masalah pengelolaan dan distribusi. Dalam beberapa kesempatan, aku berusaha mengikuti ceramah dan melihat fenomena zakat yg terjadi di Indonesia selama 2-3 tahun terakhir.

Dari hasil pengamatan yg relatif singkat, aku melihat adanya ‘KESALAHAN’ mendasar yg (menurutku) menjadi penyebab zakat (yg terkumpul) belum bisa dioptimalkan dalam pengelolaan dan distribusi. ‘Kesalahan’ tersebut adalah:
1. Tidak ada data yg valid mengenai jumlah rakyat yg berhak menjadi mustahik. Akibatnya sering terjadi tumpang tindih (overlap) dalam pendistribusian. Dalam beberapa kesempatan, aku melihat langsung, adanya pemberian ganda pada seorang mustahik.

‘Parahnya’, gandanya dana/zakat yg diterima oleh mustahik, cenderung ‘dipelihara’ oleh mustahik tersebut. Bahkan, aku melihat kecenderungan para mustahik di Indonesia berlaku ‘curang’, yakni dia mendaftarkan dirinya di beberapa tempat. Sementara database lembaga zakat sendiri terbatas, sehingga mereka tidak tahu bahwa mustahik yg mereka ’santuni’ menerima dana ganda.

Belum lagi ada orang2 kaya yg membagikan zakatnya tanpa koordinasi dg lembaga zakat. Di beberapa tayangan televisi, sudah ada muzakki yang membagikan zakatnya (zakat harta?) kepada orang2. Banyak sekali orang tidak mampu (yg menganggap dirinya layak sebagai mustahik, meski pada tayangan terlihat ada beberapa orang yg cukup sehat dan ‘tidak layak’ sebagai mustahik) antri dan berdesak-desakan. Akibatnya banyak yg jatuh pingsan dan menimbulkan kehebohan.

2. Pengelolaan zakat yg kurang mengena. Kurang mengena di sini, maksudnya adalah zakat yg diberikan berfungsi sebagai ‘ikan’…bukan sebagai ‘kail’. Dengan kata lain, yg diberikan kepada para mustahik adalah uang dan barang semata. Bukan tindakan yg salah, terlebih lagi karena kita sendiri tidak bisa memperkirakan kebutuhan para mustahik. Namun, output zakatnya nyaris tidak bersisa…alias, para mustahik tahun ini bisa diperkirakan akan menjadi mustahik lagi tahun depan.

Menurutku, alangkah lebih baiknya bila zakat2 tersebut didistribusikan menjadi suatu bentuk yg memberdayagunakan para mustahik. Dengan demikian, harapanku, para mustahik di tahun ini akan menjadi muzakki di tahun depan.

Sayangnya, dari beberapa informasi dan obrolan yg aku dapatkan, paradigma distribusi dan pengelolaan zakat masih banyak yg terpaku ke pembagian uang dan barang. Sedikit sekali lembaga zakat yg mengolah perolehan zakat ke dalam bentuk yg lebih bermanfaat.

Padahal, setahuku, Rasululloh SAW tidak mencontohkan dana zakat habis begitu saja. Manajemen keuangan/ekonomi yg dilakukan beliau, beserta keempat khalifah pertama memperlihatkan bahwa dana zakat (terutama yg masuk ke baitul mal) bisa digunakan untuk keperluan lain.

Salah satu keberhasilan pengolahan dana zakat telah ditunjukkan oleh Baznas (bekerjasama dengan beberapa organisasi lain seperti Dompet Dhuafa dan Yayasan Masjid Sunda Kelapa), dengan mendirikan Rumah Sehat Mesjid Agung Sunda Kelapa.

Harapanku, di tahun2 mendatang lebih banyak lagi rumah2 sehat yg berdiri.

3. Data kekayaan para muzakki yg kurang akurat. Sudah selayaknya kaum Muslim (Indonesia), terutama yg mampu, didata harta kekayaannya. Salaah satu manfaatnya, terkait dengan artikel ini, adalah untuk mempermudah lembaga zakat (yg profesional) menghitung berapa besar zakat yg mesti dikeluarkan.

Selama ini, zakat yg dikeluarkan ‘hanya’ sebatas uang Rp 12.500 (atau lebih sedikit), yg notabene hanya zakat diri. Sementara untuk zakat harta, cenderung ‘diabaikan’…jika tidak dibilang ’seikhlasnya’. Penyebabnya jelas, si muzakki tidak punya data yg pasti mengenai harta yg dia miliki.

Jikapun sudah punya data harta yg pasti, sudah menjadi sifat manusia, untuk mendapatkan ‘keringanan’ dalam beramal. Misalnya, zakat harta yg seharusnya dia keluarkan sebesar Rp 20 juta, tapi dia merasa berat hati untuk mengeluarkannya…walhasil, dia berusaha mencari-cari cara/muslihat untuk mengeluarkan uang yg lebih kecil/sedikit dari jumlah itu.

Dengan adanya pendataan kekayaan yg cukup komprehensif, diharapkan kaum Muslim lebih berhati-hati dalam mengumpulkan uang. Mudahnya, tidak korupsi.

Poin 3 ini juga akan membantu mengumpulkan dan mendistribusikan zakat harta dg lebih baik. Seperti kita ketahui, zakat harta WAJIB dikeluarkan jika sudah memenuhi nasab dan sudah berumur 1 tahun (atau lebih). Kenyataannya, aku yakin, banyak yg tidak menghitung nasab dan umur hartanya.

Walhasil, seperti aku tulis di atas, zakat hartanya cenderung seikhlasnya.

Mudah2an artikel singkat ini bisa mencerahkan dan bermanfaat kelak di satu hari nanti…
*untuk menghitung zakat, filenya bisa diambil di sini.*






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham