Tausyiah275

September 14, 2008

Ibadah, Antara Kualitas dan Kuantitas

Bismillah,

Malam ini, usai saya sholat tarawih di sebuah masjid, dengan jumlah raka’at tarawih sebanyak 20 raka’at, saya merenung dan berpikir ulang mengenai ibadah. Perenungan dan pemikiran ulang mengenai ibadah muncul setelah saya melihat (kembali) praktik ibadah yg dilakukan oleh (sebagian besar?) umat Islam (mungkin saja dilakukan di banyak tempat, tapi saya fokuskan di Indonesia dahulu).

Seperti judul artikel ini, saya berpikir ulang mengenai ibadah, antara kualitas dan kuantitas. Sebenarnya, ibadah seperti apa yg diharapkan serta diperintahkan oleh ALLOH SWT (dan Rasul-Nya) kepada umat-Nya? Apakah berlomba-lomba memperbanyak sholat, haji, dst dst, ataukah hanya ibadah seperlunya (dan sesempatnya)?

Sebelum saya membahas lebih lanjut mengenai hal ini, saya ingin mengingatkan mengenai egoisme ibadah yg pernah saya tulis tempo hari. Dalam artikel itu, saya tuliskan bahwa ibadah kita hendaknya berorientasi kepada aspek sosial, tidak hanya kepada keinginan pribadi saja.

Lalu, apa hubungannya dengan kualitas dan kuantitas?

Begini, kita ketahui bahwa umat Islam (di Indonesia) masih banyak yg cenderung (dan silau) kepada ibadah dengan kuantitas sebagai titik acuan. Saya ambil contoh untuk memudahkan ilustrasi ini. Masyarakat (Muslim) Indonesia akan lebih menghormati orang-orang seperti berikut:
- Berulangkali naik haji
- Menyumbang/memberi dana pembangunan masjid dengan jumlah cukup besar
- Berqurban sekian belas kambing dan sapi
- Mampu membangun masjid di mana-mana
- Dan masih banyak lagi

Sementara, orang akan cenderung melecehkan (menganggap rendah) orang-orang yg:
- Bertutur sopan dalam bergaul
- Menghormati pendapat orang, apabila berdiskusi
- Bersedekah dari pendapatannya yg tidak seberapa
- Dan masih banyak lagi

Maka, jelas bukan bahwa “Pak Haji” akan semakin terkenal apabila dia berulangkali naik haji dan gemar menyumbang di sana sini. Sementara kaum ‘tidak berpunya’ seakan tidak ada ‘kesempatan’ untuk menjadi ‘terkenal’.

Tapi, jangan salah dulu. Keterkenalan dan hal2 lain itu, semuanya kan dalam pandangan manusia. Bagaimana dalam pandangan ALLOH SWT? Belum tentu orang yg berulangkali naik haji, hajinya termasuk dalam haji yg mabrur.

Sebuah cerita mengenai seorang hamba ALLOH SWT yg memilih mengorbankan bekal hajinya, untuk diberikan kepada tetangganya, yg karena perbuatannya itu haji seluruh orang di tahun itu diterima ALLOH SWT, merupakan salah satu contoh bahwa KUALITAS LEBIH PENTING DARIPADA KUANTITAS.

Tentu saja, idealnya, kualitas dan kuantitas berjalan beriringan. Karena itulah puncak keimanan dan ibadah dari seorang hamba ALLOH SWT.

Kembali kepada fenomena sholat tarawih yang saya alami.

Dalam sholat tarawih 20 raka’at, sebenarnya saya tidak ada masalah dengan jumlah raka’atnya. Sayapun seringkali sholat tarawih dengan berbagai macam jumlah, entah itu 8 atau 20 raka’at. Seperti yg pernah saya tulis di blog ini, mengenai jumlah raka’at sholat tarawih, semuanya mempunyai dalil yang sama kuatnya. Jadi, bukan hal yg penting untuk diperdebatkan, apalagi hingga mencapai tahap debat kusir, debat tidak berkesudahan tanpa nalar dan keinginan untuk mencari solusi.

Yang menjadi masalah, adalah perilaku imam2nya pada saat sholat. Mereka BEGITU CEPAT membaca Al Fatihah dan surat lainnya. Bahkan, saking cepatnya, sang imam sempat salah membaca Al Ikhlas.

Suatu hal yg menyedihkan, menurut saya. Apa sebab, DEMI MENGEJAR JUMLAH RAKA’AT, mereka (para imam) cenderung tidak mempedulikan lafazh dan KETARTILAN bacaan Al Qur’an. Padahal, insya ALLOH, semua jumlah raka’at tarawih akan diterima-Nya. Janganlah terlalu pusing dengan jumlah raka’at.

Dengan demikian, jelaslah bahwa kualitas ibadah itu lebih penting.

Lantas, jika begitu, ibadah bisa ’seenaknya’ dong? Kan, yg penting kualitas?

Nah, ini sikap yg salah juga, apalagi sampai mengambil kesimpulan seperti itu.

Sebuah cerita di jaman Rasululloh SAW, bisa menjadi contoh. Saya tidak ingat persis cerita lengkapnya, jadi saya akan ambil intinya saja. Tiga orang datang ke rumah Rasululloh SAW. Mereka bertemu dg Aisyah untuk bertanya tentang cara ibadah Rasululloh SAW.

Usai mendapat jawaban Aisyah, si A berkata bahwa dia akan sholat terus-terusan sepanjang sisa hidupnya. Si B berniat akan puasa terus dan tidak akan berbuka. Sementara si C berkata dia akan mendedikasikan hidupnya bagi ALLOH SWT dan tidak akan menikah.

Saat Rasululloh SAW mengetahui hal ini, beliau menasehati ketiga orang tersebut. Bahwa beliau beribadah itu SEIMBANG ANTARA KUALITAS DAN KUANTITAS. Beliau berkata, bahwa beliau sholat tapi juga ada waktunya untuk mencari dunia (kerja). Beliau tidak terus menerus berpuasa, tapi ada saatnya berbuka. Dan beliau tetap menikah, tidak lantas mengasingkan diri.

Sebagai penutup, saya ceritakan lagi sebuah hadits dari Rasululloh SAW. Amal (kebaikan) yang disukai ALLOH SWT ialah yang langgeng meskipun sedikit. (HR. Bukhari). Dalam hadits itu, kembali kita bisa baca secara gamblang, Rasululloh SAW tidak menyinggung JUMLAH, tapi KUALITAS.

Semoga kita tidak lagi terjebak untuk ‘membabi buta’ mencari kuantitas ibadah, sementara kualitasnya terbengkalai.

October 6, 2007

(ber)I’tikaf

Ramadhan hanya bersisa lebih kurang 5-6 hari lagi. Berarti sudah lebih dari 10 hari terakhir kita lewati.

Sebagaimana contoh dari Rasululloh SAW, 10 hari terakhir di bulan Ramadhan merupakan hari-hari yg paling beliau nantikan, karena dalam 10 hari tersebut, terdapat 1 malam yg begitu istimewa, yg telah kita ketahui bersama, yakni Lailatul Qadr, 1 malam yg lebih baik dari 1000bulan. Dengan kata lain, dalam 10 hari terakhir, Rasululloh SAW mencontohkan untuk memperbanyak dan menggiatkan ibadah.

Al Qur’an sudah menjelaskan dengan gamblang mengenai malam Lailatul Qadr ini, dalam surat Al Qadr(97),“(1)Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. == (2)Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? == (3)Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. == (4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. == (5)Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Aku sudah tulis artikel tentang Lailatul Qadr di sini.

Salah satu cara untuk mendapatkan malam Lailatul Qadr adalah dengan i’tikaf.

Apakah sebenarnya i’tikaf itu?
I’tikaf berasal dari bahasa Arab yang artinya tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu. Jika diterapkan di Islam, terutama terkait dg contoh dari Rasululloh SAW, i’tikaf berarti tinggal di dalam masjid yang dilakukan seseorang dengan niat tertentu (dalam hal ini untuk mencari dan meraih malam Lailatul Qadr).

Apakah ada syarat khusus dalam melakukan i’tikaf?
Dari beberapa literatur, aku dapatkan keterangan bahwa syarat melakukan i’tikaf adalah:
1. Beragama Islam.
2. Berakal (tidak gila atau pingsan).
3. Di dalam masjid, tidak sah kalau di rumah (ini adalah SYARAT MUTLAK).
4. Berniat (menyengajakan diri untuk i’tikaf, bisa diucapkan atau dalam hati).
5. Berpuasa (untuk poin ini, ada pendapat dari Mazhab Maliki, berpuasa merupakan syarat mutlak).
6. Suci (dari hadats kecil dan besar).

Apakah i’tikaf itu berarti di masjid terus menerus?
Dari pengalamanku serta yg pernah aku dengar, contoh dari Rasululloh SAW adalah SENANTIASA BERDIAM di dalam masjid. Beliau MENINGGALKAN kegiatan yg terkait dengan keduniawian. *Terus terang, untuk pertanyaan ini aku belum mendapatkan sumber referensi yg shahih untuk menjadi acuan jawaban. Insya ALLOH aku akan cari lagi referensi yg layak.*

Bagaimana pengalaman i’tikaf anda?
Pengalaman i’tikafku, selama 10 hari, secara berturut-turut, aku berdiam di masjid. Kegiatan yg dilakukan tidak hanya membaca Al Qur’an dan sholat terus menerus. Namun juga membaca buku (terutama yg terkait dengan agama) kemudian juga diskusi (dg titik berat masalah keagamaan).

Lalu, bagaimana makan dan mandi?
Untuk makan, dapat pasokan/ransum dari rumah (di beberapa masjid, makanan disediakan oleh pihak masjid). Sementara untuk mandi, aku gunakan kamar mandi masjid untuk mandi.

Saya tidak bisa berdiam terus di masjid, karena saya tidak libur. Apakah i’tikaf saya sah?
Hmmm…aku tidak berwenang menilai. Hanya saja, jika merujuk dari arti i’tikaf, insya ALLOH i’tikafnya sah, karena sudah BERDIAM DI MASJID. Namun jika merujuk dari contoh Rasululloh SAW yg aku tahu, tentu saja ada perbedaan.

Pertanyaan terakhir barangkali muncul dari artikel yg sempat aku muat, tentang acara i’tikaf yg dilakukan di beberapa masjid di Jakarta.

Memang, jika merujuk pada aktivitas kita di jaman sekarang yg kian padat, 10 hari terus menerus untuk i’tikaf di masjid adalah hal yg sulit. Namun, seperti yg aku tulis, jika merujuk dari arti i’tikaf, berdiam dalam masjid, rasa2nya tidak ada alasan untuk tidak melakukan hal ini.

Sebagai solusi untuk i’tikaf di jaman sekarang, para pesertanya mesti mempersiapkan diri, terutama fisiknya. Hal ini dikarenakan acara i’tikaf akan dimulai sekitar pukul 12 malam, diawali dengan membaca Al Qur’an sekian ayat, diikuti sholat malam, ceramah singkat, sahur, membaca Al Qur’an dan diakhiri dengan sholat Subuh berjama’ah.

Dengan kegiatan yg cukup padat, apabila para peserta i’tikaf mesti masuk kantor di pagi harinya, maka dia mestilah mempersiapkan fisiknya agar pasokan gizi dan jatah istirahatnya cukup. Jangan sampai produktivitas kerja menurun karena i’tikaf, lalu kegiatan i’tikaf disalahkan!!

Untuk tahun ini, insya ALLOH aku sudah berniat i’tikaf, namun tidak seperti i’tikaf yg lalu (10 hari berturut-turut di masjid). I’tikaf kali ini, aku akan berusaha menyempatkan diri menghabiskan beberapa malam di masjid di dekat rumah, insya ALLOH.

September 24, 2007

Mengapa Mesti Merazia Orang Yg Tidak Berpuasa?

Membaca artikel ini, tentang FPI yg melakukan razia terhadap orang yg tidak berpuasa, aku hanya mengelus dada. Ternyata masih ada saudara-saudara kita yg masih tidak toleran terhadap orang2 yg tidak berpuasa.

Padahal bisa jadi orang2 yg tidak berpuasa tersebut karena sedang dalam perjalanan (safar) yg diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Atau bisa juga karena ybs sedang sakit, sehingga sedang makan. Bahkan, bisa jadi orang tersebut memang non muslim, yg jelas2 tidak diwajibkan berpuasa di bulan Ramadhan.

Di Indonesia memang aneh, di saat bulan Ramadhan, banyak sekali anjuran (yg cenderung memaksa) warung2 untuk tutup. Tampak sekali tidak ada toleransi bagi warung2 untuk membuka usaha mereka di bulan Ramadhan (di siang hari). Padahal, jika kita perhatikan lagi, banyak sekali orang yg membutuhkan warung di siang hari, seperti perempuan yg haid, non muslim, dan orang yg bepergian (seperti yg aku sebutkan di atas).

Jika sudah terjadi razia dan paksaan seperti ini, lantas di mana letak Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat bagi seluruh alam)? Rasa2nya aku tidak pernah temukan riwayat Rasululloh SAW melarang orang2 non muslim untuk tutup usaha/warung di bulan Ramadhan.

Menghormati yg sedang berpuasa memang ‘harus’…tapi jika sudah mencapai tingkatan razia/penutupan warung, menurutku itu sudah (sangat) berlebihan.

Semoga kita bisa menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin.

September 23, 2007

Bacaan di Akhir Pekan - Acara Sahur Yang (Masih) Menyedihkan

Sudah sepuluh hari Ramadhan 1428 H berlalu dan selama 10 hari ini aku dan Wify terpaksa menelan bulat-bulat acara sahur yg ditayangkan oleh stasiun2 TV di Indonesia. Nyaris semua stasiun TV menayangkan acara sahur yg serupa, yakni berupa acara humor-humor konyol yg tidak berarti dan membuat mual kami berdua.

Apa pasal?

Karena pola tingkah yg dilakukan para artis dalam tayangan tersebut hanyalah mengumbar tawa semata, tidak peduli caranya. Berpakaian ala perempuan, saling ejek dengan kata2 kasar adalah sebagian pola yg dilakukan para artis tersebut demi menarik tawa para penonton. Jika memang cukup lucu (dan cara penyampaiannya cukup lucu) masih bisa membuat kami berdua tersenyum simpul. Namun jika sudah saling lontar kata2 umpatan dan aksi-aksi tidak sopan, terus terang aku muak melihatnya.

Belum lagi acara kuisnya, yg masih menyerempet (bahkan jika menurutku) sudah masuk ke kategori judi. Penyebabnya jelas, kita mesti mengirim sms (yg harganya mahal) untuk mendaftar menjadi peserta (dan mendapat no pin). Kemudian si pembawa acara mengundi no pin, disuguhi pertanyaan ‘bodoh’ dan akhirnya mendapat hadiah yg cukup mewah.

Sebenarnya, tindakan ini (undian SMS) sudah termasuk kategori judi. Bahkan fatwa sudah dimaklumatkan oleh MUI mengenai undian SMS ini, yg menyatakan bahwa undian ini termasuk judi dan mengharamkannya. Namun, sayangnya fatwa ini dianggap angin lalu saja oleh para penyelenggara undian dan peserta, termasuk juga oleh pemerintah dan operator (penyelenggara jasa telekomunikasi). Mereka masih asyik membuat acara kuis yg menyedot sms dari para penonton bernilai miliaran rupiah dan hanya mengeluarkan sejumlah kecil uang sebagai hadiah.

Tayangan televisi acara sahur ini menambah daftar jenis tayangan televisi yg tidak bermutu. Bahkan lebih parah, karena di bulan Ramadhan pun, umat Islam masih tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk menikmati tayangan yg lebih mendukung suasana dan acara sahur yg dilakukan.

Tentu saja tidak semua acara televisi yg ditayangkan di saat sahur ini buruk. Setidaknya, ada 2 stasiun tv yg menayangkan acara cukup bagus, yakni Metro TV menayangkan Tafsir Al Mishbah (yg sayangnya hanya 30 menit dan dilanjutkan acara dagelan dari Republik Mimpi) serta acara SCTV berupa sinetron “Para Pencari Tuhan”.

Akhirnya, yaaa…kami berdua hanya memilih acara SCTV sebagai teman sahur kami, karena sinetron tersebut mempunyai nilai lebih dibandingkan acara2 di stasiun tv lain pada saat yg bersamaan.

Sementara untuk acara menjelang berbuka, masih standar. Yakni kultum (kuliah tujuh menit) dari sekian banyak ustadz dan ulama untuk mengisi relung rohani para penonton. Ok, aku akui untuk tayangan menjelang berbuka masih lebih ‘beradab’ dibandingkan acara sahur.

Harapanku simple saja, semoga di Ramadhan tahun mendatang, acara2 televisi terutama di saat sahur dan menjelang berbuka lebih baik.

October 23, 2006

Kisah Hikmah - 20061023

Masuk Kategori: Hikmah, Kegiatan Ramadhan

Tidak Khianat Akan Mendapat Rahmat

Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad Al-Bazzar Al-Anshari berkata: “Dulu, aku pernah berada di Makkah semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu menjaganya, suatu hari aku merasakan lapar yang sangat. Aku tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menghilangkan laparku. Tiba-tiba aku menemukan sebuah kantong dari sutera yang diikat dengan kaos kaki yang terbuat dari sutera pula. (more…)

October 22, 2006

Kisah Hikmah - 20061022

Masuk Kategori: Hikmah, Kegiatan Ramadhan

Kisah Seekor Ulat dengan Nabi Daud as

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud a.s. sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu. (more…)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham