Tausyiah275

November 22, 2009

Film 2012 Bukan Film Tentang Kiamat

Bismillah,

Sehubungan dengan gencarnya berita mengenai film 2012, saya menjadi tertarik untuk menuliskan apa yang menjadi pemikiran saya terhadap fenomena berbondong-bondongnya orang mengantri untuk menonton film ini. Belum lagi keluarnya fatwa dari beberapa MUI yang mengharamkan umat Islam untuk menonton film ini. Sayangnya, fatwa ini malah menjadi kontraproduktif. Alih-alih menuruti dan mengikuti fatwa ini, orang-orang malah kian ramai dan penasaran ingin menonton. Bahkan seorang teman sempat nyeletuk barangkali ada kerjasama antara ulama dan pengusaha bioskop, karena di Indonesia, jika sebuah film dilarang (apalagi sampai keluar fatwa), orang malah akan cenderung penasaran.

Saya perlu tegaskan bahwa film 2012 ini TIDAK BERCERITA MENGENAI KIAMAT, MELAINKAN BENCANA ALAM.

Ada beberapa poin mengapa saya berani mengatakan bahwa 2012 ini bukan film tentang kiamat:
- Kiamat tidak bisa ditentukan kapan akan terjadi. Saya sudah pernah menulis lebih dari 2 tahun lalu tentang hal ini.
- Kejadian kiamat sangatlah mengerikan! Bahkan tidak terbayangkan oleh manusia. Ilustrasi yg diberikan ALLOH SWT hanya sebatas bayangan yg bisa dikhayalkan oleh manusia. Pada saatnya kelak, dahsyatnya kiamat tidak akan bisa digambarkan.
- Pada saat kiamat nanti, TIDAK ADA SEORANGPUN YANG SELAMAT! Sementara pada 2012, diceritakan masih ada orang-orang yang selamat. Menurut hemat saya, BENCANA DI ZAMAN NABI NUH lebih cocok untuk menggambarkan film 2012 ini.
- Film 2012 tidak bercerita ttg ramalan suku Maya. Saya sendiri tidak tahu persis mengapa pembuat film ini tidak menyertakan informasi dari suku Maya, jika memang film 2012 ini terinspirasi dari ramalan suku Maya tersebut.
- Kiamat akan MENGHANCURKAN SEMUA BENDA. Namun pada film 2012, si sutradara tidak menghancurkan Ka’bah. Alasannya takut umat Islam marah. Tapi di sisi lain, hal ini mestinya bisa menjadi bahan pemikiran bagi kaum muslim bahwa 2012 BUKANLAH FILM TENTANG KIAMAT.

Penjelasan yang (lebih) ilmiah mengenai hubungan ‘ramalan’ suku Maya dengan Kiamat pada 21 Desember 2012 saya dapatkan di sini. Dituliskan sebagai berikut (saya kutip langsung agar tidak ada salah persepsi):

Pak Ma’rufin Sudibyo (LAPAN Indonesia) berpendapat:
“Setelah membaca lebih jauh, berakhirnya kalender Maya di 21 Desember 2012 itu lebih disebabkan oleh berakhirnya siklus kalender, yang disebabkan oleh “kehabisan angka”. Sistem Kalender Maya berbasiskan pada bilangan 20 (bi-desimal) , berbeda dengan kalender lainnya yang berbasiskan bilangan 10 (desimal). Mengutip tulisannya mbak Avivah Yamani di langitselatan. com, dengan metode penulisan 0.0.0.0.0 dan hobi-nya suku Maya dengan siklus 13 dan 20 serta start kalender Maya ini ekivalen dengan 11 Agustus 3114 BCE, maka posisi 13.0.0.0.0 sebagai angka terbesar dalam kalender Maya ini akan ekivalen dengan 21 Desember 2012. Nah setelah 13.0.0.0.0 ini terlampaui, kalender Maya tidak mengenal angka 13.0.0.0.1 atau yang lebih besar, karena akan kembali ke posisi 0.0.0.0.1 alias angka paling kecil. Inilah yang saya maksud dengan “kehabisan angka” tadi. So, satu hari setelah 21 Des 2012 itu, atau pada 22 Desember 2012, kalender Maya memulai siklus barunya dengan angka 0.0.0.0.1.

Dengan demikian, secara ilmiah pun bisa dibuktikan bahwa 2012 BUKANLAH kiamat.

Berikut ini beberapa ayat yang terkait dengan kiamat:
- “Kiamat itu amat berat (bagi makhluk) yg di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba” (Al Anfaal,7:187)
- “Sesungguhnya pengetahuan ttg kiamat itu ada pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yg dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia” (Al Anfaal,7:187)
- “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan” (Thaaha,20:15)
- “Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman” (Al Mu’min,40:59)
- “Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan” (Asy Syura,42:18)
- “Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya” (Az Zukhruf,43:66)

Lantas, mengapa film 2012 dianggap ‘haram’ oleh banyak ulama? Bukankah jika setelah menonton film 2012 lantas orang2 ketakutan sehingga banyak berbuat kebajikan adalah hal yang baik? Ya, di satu sisi hal tersebut (film 2012) membawa ‘kebaikan’. Namun di sisi lain, 2012 memang rentan dengan AQIDAH. MEMPERCAYAI 2012 SEBAGAI WAKTU TERJADINYA KIAMAT BISA DIKATAKAN SEBAGAI PENYIMPANGAN DARI AQIDAH.

Mengapa?

Seperti artikel saya 2 tahun lalu, TIDAK ADA SEORANGPUN YANG TAHU KAPAN TERJADINYA KIAMAT. Itu berarti, MEMPERCAYAI TAHUN 2012 SEBAGAI WAKTU KIAMAT bisa dianggap KITA MEMPERCAYAI RAMALAN DAN MENGESAMPINGKAN PETUNJUK ALLOH SWT. Hal ini yang memang rentan dengan aqidah (keimanan).

Toh, menurut saya pribadi, lebih baik ulama menjelaskan dengan secara ilmiah dan meyakinkan, bahwa 2012 bukan film tentang kiamat. Dan bukan ‘kebakaran jenggot’ dengan mengeluarkan fatwa yang malah ‘menjerumuskan’ posisi MUI sendiri.

November 15, 2009

Islam Dan Alkohol

Bismillah,

Alkohol merupakan salah satu zat kimia yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Selama ini kita sering identikkan alkohol dengan mabuk-mabukan. Dengan kata lain, yang terlintas di benak kita, tiap kali mendengar kata alkohol, adalah minuman keras. Padahal jika kita kaji lebih jauh, alkohol tidak selalu berkaitan dengan minuman keras. Alkohol juga dipakai untuk obat, operasi, pewangi, dan masih banyak lagi.

Lantas, bagaimana sikap Islam terhadap alkohol?

Banyak sekali pendapat mengenai alkohol ini. Bahkan para ulama banyak memperdebatkan mengenai aturan dan hukum untuk segala yg terkait dengan alkohol ini.

Alkohol dan minuman

Beberapa dalil yang terkait dengan alkohol adalah:
Al Qur’an:
- “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir,” (Al Baqarah(2):219)
- “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. — Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Al Maidah(5):90-91)
- “Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya.” (Ash Shaaffaat(37):47)

Hadits:
- Aisyah r.a. berkata, “Ketika diturunkan ayat-ayat [terakhir, 3/11] dari surah al-Baqarah tentang riba, Nabi Muhammad saw keluar ke masjid. Beliau lalu membacakannya kepada orang-orang dan beliau mengharamkan berdagang khamr”
- Thariq bin Suwaid Ra bertanya kepada Nabi Saw tentang khamar (arak) dan beliau melarangnya. Lalu Thariq berkata, “Aku hanya menjadikannya campuran untuk obat.” Lalu Nabi Saw berkata lagi, “Itu bukan obat tetapi penyakit.” (HR. Ahmad)

Jika melihat dalil-dalil di atas, berarti alkohol itu haram?

Tidak semudah itu menyimpulkan demikian. Jika kita tilik dari ayat-ayat di atas, pengharaman alkohol lebih ditujukan kepada minuman beralkohol (khamr). Seberapa besar kadar (minuman) alkohol yg dilarang? Rasululloh SAW sendiri menyatakan bahwa, tidak peduli seberapa besar kadar alkohol, dia tetaplah haram untuk diminum.

Perhatikan hadits-hadits berikut:
- “Setiap yang memabukan adalah khomr dan setiap khomr adalah haram.” (HR. Muslim no. 2003 dari hadits Ibnu Umar, Bab Bayanu anna kulla muskirin khomr wa anna kulla khmr harom, Abu Daud, no. 3679)
- “Setiap yang memabukkan adalah haram.” (HR. Al-Bukhari no. 4087, 4088 bab ba’ts Mu’adz ilal yaman qobla hajjatil wada’, no. 5773, Muslim no. 1733)
- “Dan aku melarang kalian dari segala yang memabukkan.” (HR. Abu Dawud no. 3677, bab al-’inab yu’shoru lil khomr)
- Dar Ibnu Umar, ia berkata, “Umar berkhotbah di atas mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Sesungguhnya telah turun (ayat) pengharaman khomr, dan khomr berasal dari lima macam, anggur, kurma, hintoh, syair, madu, dan khomr adalah apa yang menutup akal.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, 5/2122 no. 5266, Muslim, 4/2322)

Jadi, walau hanya 0,05% ataupun 0,01% maka jelaslah bahwa alkohol (khamr) dilarang untuk diminum!

Alkohol dan obat

Jika kita perhatikan, saat ini banyak obat-obatan di Indonesia yang mengandung alkohol. Termasuk di dalamnya adalah obat yang diminum, seperti obat batuk. Saya pernah baca, bahwa penggunaan alkohol dalam obat-obatan (terutama obat batuk) agar si obat tidak mengental (tetap cair) dalam kondisi apapun.

Bagaimana Islam menyikapi hal ini?

Mari kita tinjau ulang hadits Rasululloh SAW, Thariq bin Suwaid Ra bertanya kepada Nabi Saw tentang khamar (arak) dan beliau melarangnya. Lalu Thariq berkata, “Aku hanya menjadikannya campuran untuk obat.” Lalu Nabi Saw berkata lagi, “Itu bukan obat tetapi penyakit.” (HR. Ahmad)

Dari hadits di atas, jelaslah bahwa penggunaan alkohol dalam obat-obatan pun DILARANG! Saya sendiri punya pendapat, kita lihat dulu kondisinya. Jika memang tidak ada obat lain yg bebas (tidak ada bahan) alkohol, maka kondisinya menjadi kondisi darurat, sehingga kita ‘terpaksa’ untuk mengonsumsi obat (beralkohol) tersebut. Namun, jika ada obat sejenis yang bisa tidak menggunakan alkohol, maka kita WAJIB meninggalkan obat beralkohol tersebut!

Contoh paling mudah adalah obat batuk. Saat ini ada 2 jenis obat batuk. Beralkohol dan tidak. Karena sudah ada obat batuk yg tidak beralkohol, maka kita TIDAK BOLEH mengonsumsi, karena sudah ada obat alternatif! Dengan demikian, tidak berlaku kondisi darurat.

Sementara jika alkohol digunakan untuk pengobatan luar, TIDAK ADA LARANGAN! Seperti mengobati dan membersihkan luka luar (kecelakaan atau operasi). Hingga saat ini saya tidak menemukan dalil larangan penggunaan alkohol untuk pengobatan luar, ataupun untuk membersihkan alat-alat operasi.

Alkohol dan parfum

Hal yang menarik adalah beberapa pertanyaan mengenai penggunaan alkohol untuk parfum (wewangian). Ulama terbagi dalam 2 kelompok, yakni yang membolehkan dan melarang penggunaan alkohol untuk parfum.

Ulama yang melarang mempunyai dalil Al Maidah(5):90 di atas. Mereka menafsirkan “rijs” sebagai najis. Sementara dari beberapa terjemahan dan penjelasan yang saya baca, “rijs” lebih merujuk pada “kejelekan”. Dengan demikian, alkohol TIDAKLAH najis. Pendapat ini yang saya pegang.

Untuk penggunaan alkohol dalam parfum, saya punya pendapat yang sama dengan penggunaan alkohol dalam obat. Jika memang bisa mendapatkan parfum tanpa alkohol, lebih baik menggunakan parfum tersebut, karena sifatnya lebih aman.

Saya sendiri menduga jika parfum terlalu banyak mengandung alkohol, si parfum ini akan bersifat memabukkan. Dan ini berarti jelas-jelas dilarang dalam Islam.

Lebih amannya, anda perhatikan dahulu komposisi parfum tersebut. Jika bahan alkohol lebih mendominasi bahan/komposisi dari parfum, sebaiknya dihindari saja, karena ditakutkan akan berakibat seperti yg saya tuliskan 1 paragraf sebelumnya.

*barangkali ada saudara yg lebih berkompeten yg bisa menjelaskan hal ini*

Semoga bermanfaat.

July 27, 2009

Sholatlah Dengan Tuma’ninah

Bismillah,

Peristiwa Isra’ Mi’raj yang baru saja berlalu meninggalkan 1 perintah untuk mendirikan ibadah yang begitu istimewa. Yak, ibadah tersebut adalah sholat (sedikitnya) 5 waktu, sebagai sarana komunikasi seorang muslim dengan Sang Khalik.

Seperti kita ketahui bersama, sedemikian istimewanya ibadah sholat ini, sehingga ALLOH SWT mesti ‘mendatangkan’ Rasululloh SAW untuk bertemu dengan-Nya langsung untuk menyampaikan ibadah ini. Tidak seperti ibadah-ibadah lain yang disampaikan melalui Jibril sebagai perantara, melalui ibadah sholat ini ALLOH SWT seakan ingin menunjukkan agar manusia menaruh perhatian khusus pada ibadah ini.

Terlebih seperti yang sudah sering kita dengar, sholat merupakan ibadah (hal) pertama yang ditanyakan di hari akhirat kelak. Jika sholatnya baik, maka ibadah lainnya pun akan baik. Sebaliknya, jika sholatnya buruk, maka ibadah lain pun akan buruk. “Amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka sungguh dia telah berbahagia dan selamat. Dan apabila jelek shalatnya maka dia telah binasa dan merugi” (HR. Baihaqi)

Perhatikan juga hadits berikut. Dari Abu Hurairah ra. dari Rasululloh saw., beliau bersabda : “Sesuatu yang pertama kali diperhitungkan pada hamba adalah shalatnya, jika ia menyempurnakannya. Jika tidak (sempurna) maka ALLOH Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Lihatlah apakah hambaKu mempunyai (shalat) sunat ?”. Jika kedapatan padanya (shalat) sunat, maka ALLOH berfirman : “Sempurnakanlah fardhu itu dengannya”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

Dari sekian banyak hal tentang sholat, kali ini saya (terutama) ingin mengingatkan diri sendiri mengenai sholat yg tuma’ninah.

Apakah sholat yg tuma’ninah itu?

Tuma’ninah dalam sholat adalah gerakan sholat yang sempurna, di beberapa bacaan dituliskan tuma’ninah sebagai hal yg rileks. Pengertian saya, tuma’ninah adalah tindakan menyempurnakan gerakan sholat dengan kondisi yang rileks.

Lho, sholat kok malah rileks?

Jadi begini, saat ini banyak di antara kita yang sholat dengan gerakan yang tergesa-gesa. Sholat menjadi gerakan tanpa arti, bahkan malah berkesan sebagai gerakan senam. Padahal Rasululloh SAW sudah menjelaskan dalam hadits,“Sampai kamu merasakan tuma’ninah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dengan kata lain, sholatlah dengan tenang. Berikut ini adalah penjelasan saya mengenai tuma’ninah yang MESTI DILAKUKAN PADA SAAT SHOLAT.

1. Jika ruku’, maka posisi badan mestilah benar-benar hingga membungkuk (dari beberapa tulisan, saya pernah baca, ruku’ yg ‘benar’ adalah jika anda merasakan adanya tarikan otot di kaki anda).

2. Pada saat i’tidal, hendaknya berdiri hingga posisi berdiri anda sudah benar dan dalam kondisi rileks (tidak tegang).

3. Ketika sujud, dahi benar-benar menempel (dan sedikit ditekan, dari beberapa referensi yang saya baca) pada tempat sujud. Kemudian punggungnya mesti dalam keadaan rileks (saya baca ada 2 posisi rileks untuk punggung dalam kondisi sujud, yakni melengkung ataupun ‘dibuat lurus’).

4. Duduk usai sujud, posisi anda benar-benar sudah ‘tenang’, tidak gelisah mengubah-ubah posisi.

Demikian sekelumit gerakan tuma’ninah yang saya ketahui berdasarkan beberapa referensi yang pernah saya baca.

Dengan gerakan tuma’ninah, sholat akan memakan waktu (normalnya) sekitar 10-15 menit. Namun, seringkali saya temui orang sholat dengan waktu kurang dari 5 menit untuk sholat Dhuhur, Ashar, dan Isya, yang jumlah raka’atnya sebanyak 4 raka’at. Padahal kita baru bahas mengenai tuma’ninah, belum ke bagian khusyu’. :-)

Mari kita benahi sholat kita, minimal dimulai dengan gerakan yg tuma’ninah. Semoga ibadah sholat kita diterima ALLOH SWT. Aamiin.

February 14, 2009

Islam dan Kasih Sayang

Bismillah,

Sebelumnya, saya minta maaf, karena sudah sebulan lebih saya tidak memperbaharui isi blog ini. Maaf terutama saya tujukan bagi anda-anda yang telah setia mengunjungi blog ini. *mode ge-er*

Alhamdulillah, hari ini saya bisa memperbaharui artikel di blog ini. Momennya di hari Valentine, hari yang senantiasa diagung-agungkan oleh banyak kaum muda, tidak hanya dari non muslim, tapi juga banyak kaum muda muslim yang merayakan hari ini. Saya tidak akan banyak membahas, karena saya sudah pernah membahasnya di:
- http://tausyiah275.blogsome.com/2006/02/13/haruskah-kita-merayakan-valentine/
- http://tausyiah275.blogsome.com/2006/02/14/apa-sesungguhnya-valentines-day/
- http://tausyiah275.blogsome.com/2007/02/13/valentine-hal-paling-ga-penting/

Silakan anda baca kembali artikel2 saya di atas untuk penjelasan tentang hari Valentine tersebut.

Pada kesempatan ini, saya ingin membahas, bahwa Islam sudah mengajarkan kasih sayang yang jauuuh lebih baik dari kasih sayang yg ‘diajarkan’ di hari Valentine. Pada salah satu artikel saya di atas, tertulis bahwa Valentine hanya dirayakan dengan orang2 yg kita sayangi, yang notabene dilakukan oleh orang2 yg sedang berpacaran. Lebih ‘ngerinya’, bentuk kasih sayangnya diwujudkan dalam hubungan sex tanpa ikatan nikah, yang jelas2 haram dalam pandangan Islam.

Sementara itu, Islam, seperti yg saya tulis di atas, mengajarkan kasih sayang yang lebih global dan tidak terbatas.

“Ah, yang benar Mas? Buktinya apa? Kok saya selama ini tahunya Islam itu perang?”

Pertanyaan di atas barangkali muncul dalam benak anda.

Ok, saya tunjukkan bukti-bukti bahwa Islam mengajarkan kasih sayang yg kualitasnya jauh lebih baik.

Hadits-hadits Rasululloh SAW
1. “Amal perbuatan yang paling disukai ALLOH sesudah yang fardhu (wajib) ialah memasukkan kesenangan ke dalam hati seorang muslim.” (HR. Ath-Thabrani)
Hadits ini mempunyai arti, seorang muslim hendaknya menyenangkan hati sesama saudaranya. Menyenangkan hati mempunyai makna yang luas, dan termasuk di dalam bentuk kasih sayang.

2. “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya.” (HR. Bukhari)
Jika kita menyayangi seseorang, maka kita akan berusaha untuk menghalangi (atau memperbaiki) aibnya.

3. “Tiga perbuatan yang termasuk sangat baik, yaitu berzikir kepada ALLOH dalam segala situasi dan kondisi, saling menyadarkan (menasihati) satu sama lain, dan menyantuni saudara-saudaranya (yang memerlukan).” (HR. Ad-Dailami)
Poin terakhir, yakni menyantuni (memberi pertolongan) saudara2 yg memerlukan, jelas sekali bukti bahwa Islam itu mengajarkan kasih sayang.

4. “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak mengecewakannya (membiarkannya menderita) dan tidak merusaknya (kehormatan dan nama baiknya).” (HR. Muslim)
Salah satu bentuk kasih sayang adalah tidak ingin mengecewakan orang yg kita cintai dan sayangi.

5. “Tiada beriman seorang dari kamu sehingga dia mencintai segala sesuatu bagi saudaranya sebagaimana yang dia cintai bagi dirinya.” (HR. Bukhari)
Ini adalah hadits yg sudah sedemikian terkenal, dan SANGATLAH JELAS bahwa Islam mengajarkan kasih sayang!

6. “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta kasih dan belas kasih seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing) maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)
Ini juga salah satu hadits yg seringkali dijadikan sandaran bahwa Islam mengajarkan kasih sayang.

7. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” (Al Isra(17):24)
Ayat Al Qur’an ini menjelaskan tentang kasih sayang kita kepada orang tua kita.

8. “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan ALLOH, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa ALLOH mengampunimu? Dan ALLOH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nuur(24):22)
Ayat ini menjelaskan bahwa orang2 yang diberi kelebihan (terutama di bidang materi) hendaknya membantu saudara2nya yang kekurangan.

Dari hadits-hadits dan ayat-ayat di atas, kita bisa lihat bahwa bentuk kasih sayang yg diajarkan Islam kepada para pemeluknya bersifat universal. Berlaku untuk semua manusia, semua golongan. Namun, tentu saja kaum muslim, sebagai saudara seiman mempunyai prioritas yg lebih tinggi, terutama jika saudara seiman tersebut posisinya dekat dengan kita. Tetangga 1 RT, tetangga 1 RW, bahkan dalam 1 negara pun, saudara seiman mempunyai hak untuk diprioritaskan.

Bahkan jika kita mau telaah lebih lanjut, kasih sayang yg ‘mesti’ dilakukan oleh seorang muslim tidaklah melulu kepada sesama manusia, namun juga kepada makhluk-makhluk lain sebagai ciptaan ALLOH SWT. Barangkali anda ingat, mengapa saat hendak menyembelih hewan, kita diperintahkan untuk menggunakan pisau/senjata yang sangat tajam? Tujuannya tidak lain agar hewan tersebut tidak tersiksa terlalu lama, menderita kesengsaraan karena rasa sakit disembelih oleh senjata yg tumpul.

Dengan demikian, jelaslah kasih sayang dalam Islam LEBIH BAIK daripada kasih sayang yg ‘diajarkan’ di hari Valentine, yang lebih banyak tertuju pada orang2 terdekat (pacar/suami/istri).

Permasalahannya, seberapa banyak kaum muslim yg mau menyebarkan kasih sayang? Kita masih lihat banyak sesama muslim gontok2an, saling menyerang, dst dst. Jadi yg SALAH adalah PEMELUKNYA, BUKAN AGAMANYA.

Atau coba kita berkaca pada diri kita sendiri.
- Apakah anda menyayangi seseorang karena hartanya?
- Apakah anda menyayangi seseorang karena wajahnya?
- Apakah anda menyayangi seseorang karena kedudukannya?
- Apakah anda sudah pernah membantu seorang nenek tua di pinggir jalan?
- Apakah …
Dan masih banyak apakah lagi.

Tujuan saya memberikan contoh di atas bukanlah untuk menjadi riya’ atau ujub. Tapi sebagai peringatan dan saran, bahwa Islam tidak akan pernah dianggap mengajarkan kasih dan sayang, jika kita selaku pemeluknya ternyata masih belum menyebarkan kasih dan sayang tanpa memandang status, golongan, harta, bahkan agama sekalipun.

Semoga kita semua, termasuk saya sendiri (penulis artikel ini), bisa mulai (lebih) menyebarkan kasih dan sayang pada banyak orang. Tentunya didasarkan (diniatkan) karena ALLOH SWT, agar perbuatan kita ini menjadi bernilai ibadah.

May 27, 2008

Demi Masa, Jangan Sampai Jadi Manusia Yang Merugi!!

Masuk Kategori: HOT NEWS, Kajian Qur'an

Mari kita perhatikan ayat berikut:
(1) Demi masa.
(2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
(3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Teman-teman dan para pembaca, mari kita tingkatkan kualitas hidup kita, menjadi orang yg lebih bermanfaat bagi lingkungan sekitar serta memperbaiki akhlak
*merenung diri dalam upaya menghindari kerugian dunia dan akhirat serta berusaha lebih baik di masa depan*

April 27, 2007

Taubatan Nasuha Itu HARUS!!

Istilah Taubatan Nasuha mungkin jarang kita dengar. Istilah yg lebih sering kita dengar dan lebih sering diutarakan, baik oleh para ustadz, ulama, ataupun di masyarakat adalah taubat atau tobat. Makna keduanya, sekilas sama, namun istilah taubatan nasuha merupakan istilah yg lebih ‘tepat’ dan akan dibahas di artikel ini.

Terma dari akar kata “t-w-b” dalam bahasa Arab menunjukkan pengertian: pulang dan kembali. Sedangkan taubat kepada Allah SWT berarti pulang dan kembali ke haribaan-Nya serta tetap di pintu-Nya. Definisi ini diutarakan oleh Yusuf Qardhawi, salah seorang ulama besar asal Mesir.

Sementara istilah Taubatan Nasuha, berasal dari Al Qur’an, At Tahrim(66):8,“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.”

Pengertian murni dalam bertaubat adalah benar2 dilakukan karena ingin kembali ke jalan-Nya. Dia menyesali perbuatan buruknya di masa lalu serta berjanji untuk TIDAK MELAKUKANNYA/MENGULANGINYA di kemudian hari. Hasilnya adalah ALLOH SWT akan menghapus kesalahan2 yg pernah dilakukannya. Dalam satu referensi, aku dapatkan pernyataan dari Al Kulabi, yg menyatakan bahwa taubatan nasuha dilakukan dengan meminta ampunan dengan lidah, menyesal dengan hatinya, serta menjaga tubuhnya untuk tidak melakukannnya lagi.

Dengan demikian, taubat nasuha HARUSLAH HASIL KOORDINASI LIDAH, HATI DAN TUBUH. Bisa dikatakan, taubat nasuha MIRIP dengan iman, diyakini dg hati, diucapkan dg lisan, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Taubat nasuha merupakan solusi dari ALLOH SWT kepada hamba2Nya yg pernah berbuat kesalahan (dosa) dan kemudian menyadarinya, serta ingin kembali ke jalan yg benar. Hal ini dikarenakan tidak ada manusia yg tidak pernah berbuat kesalahan. Manusia bukanlah malaikat, yg selalu bersih, tanpa noda…karena setan, selaku musuh manusia, akan selalu menggoda manusia ke dalam perbuatan maksiat dan melanggar aturan ALLOH SWT, hingga akhir jaman.

Hinakah orang yg berbuat salah kemudian menyadari kesalahannya dan ingin kembali ke sisi ALLOH SWT? Sesungguhnya tidaklah hina orang yg bertaubat, karena ALLOH SWT sendiri menyukai orang2 yg bertaubat, sebagaimana tercantum di Al Baqarah(2):222,“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.

Hal ini wajar jika ALLOH SWT menyukai orang2 yg bertaubat, karena ALLOH SWT sendiri SUKA MENERIMA TOBAT, Al Baqarah(2):160,“kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Ada juga orang yg mengaku bertobat, tapi kembali berulangkali melakukan kesalahan yg sama. Aku jadi teringat ceramah Zainudin MZ, yg menyatakan orang yg demikian tobatnya adalah tobat sambal. Ngaku tobat (kapok) makan sambal, tapi di kesempatan lain akan mencoba lagi makan sambal…dan saat pedas dirasa, dia tobat lagi, tapi makan lagi sambal, demikian seterusnya…

Dengan demikian, taubat nasuha ialah taubat yang mengandungi ciri-ciri berikut:
1. Menyesal di atas dosa/maksiat yang dilakukan. Untuk dosa/perbuatan maksiat yg ‘biasa’, dilakukan dg memohon ampunan kepada ALLOH SWT. Sedangkan jika kesalahan dilakukan kepada sesama manusia, maka hendaklah dia meminta maaf kepadanya serta mengembalikan hak yg dia rampas (jika ada).
2. Berniat (dg sungguh2) tidak akan mengulanginya lagi.
3. Memohon taubat kepada ALLOH SWT.
4. ‘Menghapus’ kesalahan masa lalu dg banyak beramal soleh.

Mudah2an artikel ini berguna….






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham