Tausyiah275

June 24, 2008

Beranikah MUI Mengeluarkan Fatwa Melarang Merokok?

Masuk Kategori: HOT NEWS, Hikmah, Lain-lain

Bismillah,

Masalah rokok ternyata menjadi hal pelik bagi umat Muslim di Indonesia, meskipun bahaya rokok sudah cukup sering dan gencar disampaikan oleh pihak kesehatan. Pelik di sini dalam artian, tidak ada ‘keberanian’ (jika boleh dikatakan demikian) dari pihak ulama (MUI) untuk menyikapi hal ini.

Beberapa hal yg senantiasa dijadikan ’senjata’ untuk menentang pelarangan rokok adalah:
- Industri rokok memberikan pemasukan yg cukup tinggi bagi negara.
- Banyak keluarga yg menggantungkan hidupnya dari industri rokok, mulai dari penjual rokok, maupun pekerja kasar di industri rokok.
- Tidak ada dalil (baca: hadits Rasululloh SAW) mengenai larangan merokok.

Padahal, rokok sudah jelas-jelas merupakan hal yg mubadzir. Tidak ada kebaikan dalam merokok, kecuali menambah penyakit ke dalam tubuh serta membuat paru-paru kita rusak.

“Ah, ga merokok juga bakal mati.”
“Lho, si bapak A, meski perokok berat, umurnya ternyata lebih panjang dibanding bapak B yg ga merokok.”
“Emangnya sampeyan siapa, berani bilang umur perokok lebih pendek? Sampeyan Tuhan ya?”
“Ah, anda ini kan bukan ulama. Ulama saja banyak yg merokok, dan mereka punya umur yg panjang.”
“Merokok itu kan makruh, tidak sampai haram. Buktinya, masih banyak ulama yg merokok!”

Wah, terus terang, dengan berondongan bantahan seperti itu (dan bantahan2 lain), saya tidak bisa ‘membalas’nya. Terutama karena saya memang bukan ALLOH SWT, Tuhan yg mengetahui dan menetapkan umur seseorang serta menentukan bagaimana seseorang itu mati.

Selain itu, contoh dari para ulama/kiai, jelas memberikan dampak psikologis yg cukup besar, terutama bagi para umat (terlebih yg fanatik). Dalam hal ini, ulama, terlebih yg tergabung dalam MUI, mestinya memang WAJIB MEMBERI CONTOH serta MENG-SOSIALISASIKAN bahaya merokok serta upaya untuk berhenti merokok.

Bagi saya sendiri, rokok tidak bisa dikategorikan sebagai makruh, karena ’sifatnya’ yg merusak tubuh, tidak hanya pada dirinya sendiri, namun juga pada orang lain (perokok pasif). Makruh, ini juga pendapat saya, memang tepat ‘diberikan’ kepada jengkol dan petai, yg meski mengganggu orang lain tapi tidak sampai level merusak tubuh (membawa kematian).

MUI, dalam mengeluarkan fatwa, menurut saya, semestinya tidak harus menunggu ‘complaint’ atau keluhan/pengaduan dari masyarakat. Toh, para ulama yg tergabung di MUI, saya yakin banyak yg pintar. Hanya saja, seperti saya sebutkan di atas, apakah para ulama itu sudah memberikan contoh?

Dalam Al Baqarah(2):168, ALLOH SWT sudah memberikan saran kepada manusia agar makanan yg BAIK (THAYYIB), tidak sekedar halal. “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Juga ada teguran dari-Nya, agar kita tidak membinasakan diri,“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” Al Baqarah(2):195.

Dan jelas, bagi umat Muslim, terlebih ulama, menyuruh sesuatu (kebajikan) sementara dirinya belum mengerjakannya, teguran ALLOH SWT sudah cukup jelas,“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? — Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” As-Shaf(61):2-3.

Jadi, kapan MUI akan mengeluarkan fatwa (larangan) merokok ya?

June 23, 2008

Perlukah Mendukung Obama?

Masuk Kategori: Tarbiyah, HOT NEWS, Muamalah

Bismillah,

Menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat, kita tidak bisa menganggap remeh. Penyebabnya apalagi jika karena saat ini Amerika Serikat merupakan ‘penguasa’ dunia (yg lebih banyak bertindak lalim dan dzalim dibandingkan adil), sehingga setiap perubahan yg terjadi, akan banyak mempengaruhi kehidupan bangsa2 lain di dunia.

Bagi kaum muslim, terlebih kaum muslim di Amerika, hal ini juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Kesalahan dalam memilih presiden Amerika Serikat, seperti yg pernah terjadi saat pemilu yg lalu, harus dijadikan pelajaran, karena ternyata Bush, yg didukung oleh kaum muslim, malah lebih banyak bertindak yg merugikan dan menciderai hati kaum muslim.

Kali ini, pemilihan presiden Amerika Serikat dirasa akan lebih seru, karena adanya sosok Barack Obama. Obama, yg pernah tinggal di Indonesia selama beberapa waktu (saat kecil), selalu melontarkan ide PERUBAHAN (sebagai salah satu tema) dalam tiap kampanyenya.

Pertanyaannya, bagaimana sikap kaum muslim (terutama muslim Amerika) terhadap Obama? Apakah dia layak dipilih?

Sebelum memutuskan untuk memilih Obama, hendaknya kaum muslim (terutama muslim Amerika) mesti melihat dulu berita-berita berikut:
- Barack Obama Diskriminasikan Wanita Muslim
- Sikap Obama tentang foto dia bersarung
- Sikap Obama terhadap Yahudi

Saya tidak ada niat untuk memprovokasi atau melakukan black campaign (kampanye negatif) terhadap Obama. Saya hanya hendak mengingatkan kita semua, terutama saudara muslim di Amerika, agar mereka tidak berharap terlalu berlebihan terhadap Obama dan menjadi kecewa jika usai memilih Obama, ternyata ybs malah lebih ‘menekan’ Islam.

Semoga ALLOH SWT senantiasa menolong hamba2-Nya yg senantiasa mencari dan menegakkan kebenaran.

June 18, 2008

Islam dan Sihir

Bismillah,

Sihir atau ilmu gaib adalah sebuah ilmu yg dilarang dipelajari di dalam Islam. Kita bisa dapati hal ini dalam Al Qur’an dan hadits Rasululloh SAW.
- “Mereka belajar suatu ilmu yang membahayakan diri mereka sendiri dan tidak bermanfaat buat mereka.” (Al Baqarah(2): 102)

- “Jauhilah tujuh perkara besar yang merusak. Para sahabat bertanya: Apakah tujuh perkara itu, ya Rasululloh? Jawab Nabi, yaitu: 1) menyekutukan ALLOH SWT; 2) sihir; 3) membunuh jiwa yang oleh ALLOH SWT diharamkan kecuali karena hak; 4) makan harta riba; 5) makan harta anak yatim, 6) lari dari peperangan; 7) menuduh perempuan-perempuan baik, terjaga dan beriman.” (HR Bukhari dan Muslim)

Di jaman sekarang, sihir tidaklah hilang. Dia masih ada, karena masih ada orang (sesat) yg mempelajari dan mengamalkannya. Juga masih ada orang2 yg percaya pada sihir. Banyak sekali contohnya, orang sakit berobat ke dukun minta jampi2. Ada juga orang yg ingin pintar, ingin kaya, mencari jodoh, semuanya datang ke paranormal untuk konsultasi dan minta solusi. Padahal sebenarnya solusi yg diberikan para dukun dan paranormal itu tidaklah berdasar. Namun demikian, pikiran manusia kadang irrasional, bahkan banyak para pejabat yg minta ilmu ini itu demi menjaga kelangsungan jabatan mereka dan senantiasa menang dalam pemilihan.

Selain itu, dukun dan paranormal seringkali ditanya mengenai skor sepakbola (selagi ramai piala Eropa), lalu ditanya juga mengenai barang2 yg hilang. Padahal semuanya itu tidak ada pengetahuan pada dukun tersebut!

Rasululloh SAW sendiri telah jelas-jelas menyatakan bahwa pergi ke dukun atau paranormal adalah HAL YG HARAM!
- “Tidak termasuk golongan kami, barangsiapa yang menganggap sial karena alamat (tathayyur) atau minta ditebak kesialannya dan menenung atau minta ditenungkan, atau menyihir atau minta disihirkan.” (HR Bazzar dengan sanad yang baik)

- Ibnu Mas’ud juga pernah berkata:”Barangsiapa pergi ke tukang ramal, atau ke tukang sihir atau ke tukang tenung, kemudian ia bertanya dan percaya terhadap apa yang dikatakannya, maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.” (HR Bazzar dan Abu Ya’la dengan sanad yang baik)

- “Tidak akan masuk sorga pencandu arak, dan tidak pula orang yang percaya kepada sihir dan tidak pula orang yang memutuskan silaturrahmi.” (HR Ibnu Hibban)

Sihir mempunyai berbagai bentuk, di antaranya adalah santet dan pelet.

Pelet sendiri adalah usaha dari seseorang (laki-laki atau perempuan) untuk mendapatkan perhatian/kasih sayang (atau dicintai) dari lawan jenisnya dengan cara2 yg tidak masuk akal. Ada yg mesti mengambil rambut lawan jenisnya sebanyak 7 helai, atau mesti mengambil baju dalam, dst dst. Dari caranya saja, kita sudah bisa ambil kesimpulan bahwa hal tersebut jelas2 tidak masuk akal dan bertentangan dengan nalar manusia normal (sehat jiwanya).

Namun demikian, pelet masih seringkali dicari, terutama oleh kaum muda yg merasa cintanya tidak kesampaian. Jadi, jangan heran, jika ada ungkapan “Cinta ditolak, dukun bertindak” *terbahak-bahak*. Namun ini demikian adanya. Anda bisa lihat di banyak media (terutama koran) mengenai praktik pelet memelet ini.

Sementara untuk santet (atau tenung), hal seperti ini merupakan hal yg sulit dipercaya meski kita masih bisa jumpai hal2 seperti itu. Ada beberapa kejadian yg pernah dialami oleh teman dan kerabat saya:
- Ibunya ditenung/disantet hingga meninggal. Pada saat hendak meninggl, dari kepalanya keluar barang2 yg aneh seperti paku, pecahan kaca.

- Seorang teman, saat dipijat, mendadak dari punggungnya keluar pecahan beling.

Sebenarnya masih ada beberapa cerita lain, namun tidak perlu saya tulis di sini.

Lantas, bagaimana sikap kita?

Saudara2ku, kita TIDAK PERLU TAKUT dengan sihir! ALLOH SWT sudah memberikan cara agar kita terlindung dari perbuatan sihir, sebagaimana kita bisa baca di Al Falaq(113):4, “(Dan aku berlindung diri) dari kejahatan tukang meniup simpul.” Meniup simpul di sini adalah perbuatan sihir yg biasa dilakukan di jaman Rasululloh SAW.

Hal lain yg bisa kita lakukan adalah memperbanyak dzikir, bersedekah, berbuat baik kepada orang lain. Dengan dzikir, pikiran kita akan senantiasa ‘terhubung’ dengan ALLOH SWT, sehingga mempersulit hal2 lain, karena ALLOH SWT (insya ALLOH) akan selalu menjaga kita. Sementara bersedekah sesungguhnya menolak bala, sebagaimana sabda Rasululloh SAW,“Bersegeralah untuk bersedekah. Sebab, yang namanya bala tidak bisa mendahului sedekah.” Sementara dengan berbuat baik kepada orang lain, maka kebaikan (insya ALLOH) akan datang juga kepada kita (aamiin).

Semoga kita bisa terhindar dari sihir.

June 15, 2008

Bacaan Di Akhir Pekan - Munarman, Saya dan FPI

Masuk Kategori: HOT NEWS, Seri Kesalahan2

Bismillah,

Disadur dari sini.

Oleh : Abu Taqi Majestino

Pertama Kali Saya Mengenal Munarman

Munarman, SH., pengacara muda terkenal yang mantan petinggi YLBHI dan Kontras itu adalah seseorang yang mengaku “Muallaf” saat pertama kali saya berjumpa dengannya di satu rapat di hari-hari terakhir bulan Ramadhan 2007, di Masjid Al Azhar. Ia menyebut dirinya “Muallaf”, karena sebelumnya, sebelum menemukan Islam yang sesungguhnya, ia adalah seorang sekularis, “…dulu saya Muslim Sekuler”. Dan sebagai orang yang bergelut dalam bidang hukum tentunya ia hanya membela orang dalam masalah hukum berdasarkan hukum manusia. Ia dulu belum banyak belajar Islam. Belakangan ia meralatnya menjadi, “Saya Muhajir” atau orang yang berhijrah, dalam hal ini, dari keburukan ke kebaikan. Saya dan agaknya kami semua yang hadir di rapat itu, sejumlah kecil wakil petinggi dan tokoh umat, tersenyum-senyum dan sebagian bahkan tertawa kecil mendengarnya. Kami, agaknya sepakat dan mengerti bahwa hukum manusia, tentu bukan hukum Tuhan, Pembuat manusia.

Saya dan Munarman

Kali kedua saya berbicara dengannya, adalah saat saya merasa dunia ini hampir runtuh di akhir tahun 2007. ”Namun hari kiamat bukan esok hari” (meminjam kata Abraracourcix, kepala suku gendut desa Galianya Asterix dan Obelix di komik terkenal ”Asterix itu). Saat itu dalam situasi mendadak, saya harus mencari Pembela/Kuasa Hukum dalam satu kasus Perdata, akibat ulah sekelompok orang yang memanipulasi beberapa hal tanpa sepengetahuan saya, mungkin juga telah lama mencurangi saya, dan juga menyangkut keutuhan keluarga saya. Sebenarnya ada seorang pengacara juga didalam keluarga saya, walaupun terhitung keluarga jauh, seorang muslim, dan beliau lumayan terkenal di jajaran pengacara Indonesia, namanya sering muncul di beberapa media massa. Saya memberanikan diri untuk menghubungi beliau, sedikit-banyak menceritakan permasalahan saya dan meminta sarannya. Yang saya tangkap dari beliau, adalah bahwa beliau tentu sebagai pejuang hukum, bersedia menangangi kasus saya, namun beliau memang sedang sangat sibuk. Karena waktu yang sungguh mendesak, saya coba hubungi Munarman, kawan baru saya.

Ponselnya ternyata mati selama beberapa hari, kemudian saya kirim SMS untuk meminta waktu berbicara. Dan masih tidak ada laporan ”delivered”. Berarti ponselnya benar-benar mati. Beberapa hari itu sungguh moment yang sangat mencekam dalam hidup saya, hampir-hampir membuat putus-asa. Permasalahan atau ujian (saya lebih suka menyebutnya demikian) itu, alhamdulillah ditakdirkan Allah SWT datang berbarengan dengan berbagai ujian berat yang lain. Mungkin Abraracourcix akan mengira langit runtuh segera, jika berada dalam posisi seperti saya.

Tiba-tiba, ada laporan ”delivered” di ponsel merah ’jadul’ saya, dan sekitar waktu shalat fardhu, ponsel tersebut berdering, rupanya telepon dari kawan baru saya itu. Langsung saya utarakan berbagai masalahnya, dan saya utarakan pula bahwa saya sedang tidak punya uang, dan jika ada biaya, saya bersedia mencicil. Posisi saya saat itu sedang di Surabaya, dia di Jakarta, dan dia yang menelepon saya. Dan dalam hubungan interlokal itu, dia bahkan menolak memutuskan hubungan telepon, dan membiarkan saya mengutarakan hampir semua detail kasus saya dengan biaya tanggungan sambungan teleponnya. Ia menyanggupi langsung menangani kasus saya, tanpa ada biaya, hanya karena saya muslim yang sedang dalam kesulitan, katanya.

Singkat cerita, saya pun bertemu dia sewaktu saya tiba kembali di Jakarta, di kantornya yang sangat sederhana (bila dibandingkan kantor-kantor Pengacara top lain) di bilangan Benhil-Pejompongan. Dia menunjuk seorang anak buahnya untuk khusus mendampingi saya, selain beberapa rekanannya yang lain. Saat saya utarakan kembali kesulitan keuangan saya, dan niatan saya untuk mencicil, kembali ia menolak, saya hanya harus membayar apa yang menjadi kewajiban saya terhadap negara, dalam proses hukum tersebut, hanya itu. Tak terkatakan betapa rasa gembira dan kagum saya akan semangat ikramul muslimin-nya (memuliakan sesama muslim) inilah yang pantas membuat dunia lebih baik.

Setelah berbulan-bulan proses pengadilan itu berlangsung, akhirnya saya sampai pada suatu informasi bahwa lawan saya, kemungkinan besar menggunakan uang sogokan untuk memenangkan perkaranya, mungkin menilik semakin banyak tuduhan mereka yang tak terbukti dan argumen mereka yang lemah. Semakin banyak pula bukti beberapa kejanggalan dan main kotor, manipulasi, fitnah, salah-paham dalam kasus saya ini. Bahkan keterangan yang mendukung itu semua, saya dapatkan justru dari orang-orang dekat bahkan keluarga kandung lawan saya berperkara tersebut. Rupanya mereka bersimpati kepada saya. Dan dugaan suapan ke Hakim ini pun dikuatkan oleh kawan lama saya, yang juga kawan Munarman semasa kuliahnya, bahwa di Pengadilan macam itupun adalah lumrah di Indonesia untuk orang main sogok, atau bahasa halusnya, ”Mendekati dan berbaik-baik dengan (para) hakim, supaya menang berperkara”. Kawan saya ini, ternyata juga pernah melalui perkara serupa.

Saya sangat terpukul, jenuh, lelah dan hampir goyah iman saya. Harapan saya sangat tipis pada sistem peradilan Indonesia. Lalu saya hubungi Munarman. Saya utarakan via SMS, segala permasalahan ini, kegundahan, termasuk keinginan saya untuk mengambil ’short cut’. Dan dengan cepat dia jawab, lugas, bahwa jika saya menyuap hakim, maka ia akan menarik semua Pengacara anak-buahnya, dan saya dipersilahkan jalan sendiri.

Alhamdulillah, ini sangat menggembirakan saya, dan seakan menguatkan kembali iman saya. Dan memang, bahwa jika pun ada peluang menyuap hakim, saya toh tak akan mampu, karena saya sedang dalam kesulitan keuangan di waktu itu. Ini saya anggap sebagai satu tanda pula dari Allah SWT, dan saya meneruskan perkara saya, dengan prinsip beriman kepada Allah SWT. Pengadilan saya yang paling adil, ada di akhirat. Tak akan rugi, orang yang mendekat kepada Allah SWT. Dan paling bak memang dekat-deka dengan atasan yang benarlah, kira-kira perumpamaannya demikian, bukan?

Setelah berbulan-bulan kemudian akhirnya saya ada kelebihan rizki. Kembali saya kontak dia lewat ponselnya, saya utarakan niat saya sambil mengemudikan kendaraan di Jakarta (bukan suatu kebiasaan berlalu-lintas yang baik memang, namun ternyata di Indonesia, banyak sekali orang melakukan ini, dengan kualitas kemampuan mengemudi yang berbeda-beda). Dia masih menolak, dan menjawab bahwa jika ada kelebihan rizki seperti itu, lebih baik saya serahkan ke fakir miskin, anak yatim, dsb. layaknya amalan muslim. Saya berteriak sendiri di mobil kepadanya saat menjawab pernyataannya itu, saya tak seberapa ingat apa jawaban saya, namun lebih-kurang adalah, ”Antum mulia! Ana senang pada antum! Allah yubarik fik (semoga Tuhan menambah berkahNya pada anda yang saya hormati)! Ana ridho pada antum, dan semoga Allah ridho pada antum dan apa yang antum cintai! Dia tertawa-tawa saja mendengar suara saya.

Insiden Monas

Setelah peristiwa bentrok 1 Juni antara massa Islam yang (katanya) dari FPI (padahal ada berbagai unsur di sana) dengan massa AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), dan bahwa menurut informasi dari mulut ke mulut, FPI lah yang memulai serangan, kemudian menyusul berbagai berita yang mendiskreditkan Munarman. Saya kirim SMS kepadanya untuk bertanya apa kiranya yang dapat saya bantu. Dia membalas, hanya meminta tolong dicarikan kunci mobil dan ponselnya yang hilang di kawasan Monas di hari itu, karena dia tahu saya mengenal beberapa ”orang Gambir dan Monas”. Tentu saja saya coba sebisanya, namun sampai saat ini belum ada berita. Segala puji pada Allah yang telah menunjukkan bahwa Beliau-lah Pemilik segala sesuatu. Sangat logis pula bila kita gunakan logika dan supra logika, atau apapun juga istilah sekulernya tentang kuasa Tuhan ini. Saya rasa, Munarman pun tetap dan cukup atau malah semakin beriman, atas kehilangan, pengambilan, atau pengalihan tempat dari milik Allah yang dipinjamkanNya ini, karena tentunya tak ada yang benar-benar milik kita tak juga ruh kita, insya Allah.

Malam itu, 4 juni 2008, saya mendapatkan berita dari berbagai sumber terpercaya, dan dari pengetahuan saya sendiri, bahwa sejak semula rencana unjuk rasa gabungan berbagai lembaga dan ormas Islam di Istana Presiden yang dijadualkan pada Minggu 1 Juni 2008 pk.12.00 WIB disusun, tidak ada sama sekali pembahasan tentang tindakan kekerasan, dalam bentuk apapun. Dan memang, demo yang terjadi di depan Istana Presiden antara massa gabungan ormas Islam dan massa buruh yang berpakaian merah-merah, walaupun bersandingan cukup dekat, tapi berjalan dengan sangat mulus. Kekerasan bukanlah kebiasaan muslim manapun, tidak diperbolehkan dalam agama Islam. Dan ini juga ternyata disadari pihak aparat di lapangan, bagaimana responnya yang santai ketika massa muslim masuk dan bagaimana ketika massa buruh masuk yang dengan segera aparat membentangkan tali putih mengitari massa buruh. Namun, bila ada yang mulai menghujat, menghina, melecehkan, apalagi menyangkut akidah dan hak Allah SWT, memang diperbolehkan bagi muslim untuk bereaksi secukupnya, walaupun memang jauh lebih baik untuk memaafkannya.

Unjuk rasa itu sendiri adalah rangkaian dari sekian banyak unjuk rasa dan ketidakpuasan muslim Indonesia (dan muslim seluruh dunia, sebenarnya) yang cukup menggunakan otak dan hatinya, tentang apa itu sesungguhnya Ahmadiyah, dan apa atau siapa sesungguhnya di balik semua itu, dan juga apa sesungguhnya yang akan diusahakan terjadi di Indonesia yang menggiurkan sumber daya alamnya sebagai bagian dari dunia yang semakin tua dan berpenyakit ini. Ini juga untuk meperkuat rekomendasi MUI (fatwa MUI no 11/MUNAS VII/MUI/15/2005) dan Bakorpekem serta bahkan dunia Islam di dunia yang kita tinggali ini (deklarasi Liga Muslim Dunia/Rabithah Alam Islami tahun 1974). Lebih kurang isinya adalah bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat yang menyesatkan, dan sudah (sangat) menciderai Hak Azasi Manusia (HAM) terdasar muslim untuk beragama yang bebas, memurnikan ajarannya, dan (yang juga kata para pejuang HAM secara gigih berulang-ulang), adalah untuk diijamin kebebasan beragamanya, muslim beribadah secara aturan Islam.

Singkatnya, adalah menuntut hak muslim untuk tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad dan segala ajarannya serta pernak-perniknya yang mencampurkan Islam dan berbagai pemikiran atau teknologi budaya entah dari mana yang dibawa Mirza Ghula Ahmad, sebagai nabi setelah Rasulullah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib SAW dan untuk tidak mengakuinya sebagai bagian dari Islam, karena toh ciri-ciri utama Islam tak ada pada mereka. Seorang guru saya KH Suharyadi Sumhudi, mengirim SMS ke saya,
”Lima belas tahun lalu Ketua Ahmadiyah, Ahmad Hariadi saya tantang bersumpah Muhabalah (populer di Indonesia sebagai Sumpah Pocong, sumpah untuk sungguh-sungguh menghadapkan diri dan keluarga masing-masing dan berdoa kepada Tuhan agar menjatuhkan laknat bagi pihak yang berbohong, dasarnya di QS Ali Imraan ayat 61… dia takut/tak hadir … e dia sekarang tobat, 6 Juni mau ceramah di Al Azhar …”

QS Ali Imraan ayat 61
61. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.

Mubahalah ialah masing-masing pihak diantara orang-orang yang berbeda pendapat mendoa kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta. Nabi mengajak utusan Nasrani Najran bermubahalah tetapi mereka tidak berani dan ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad s.a.w.

Kalau saja para Sekuleris (yang notabene pemkiran Sekulerisme ini datang dari barat/Eropa dan mendunia), mau istiqamah konsekuen dengan prinsipnya bahwa urusan agama biar dipinggirkan dari kehidupan sehari-hari sejak mereka frustasi dengan campur tangan yang bahkan tak masuk akal dari para petinggi Kerajaan dan agamanya selama Abad Pertengahan/Abad Kegelapan (Dark Ages); maka semestinya bahkan kaum Atheis pun setuju untuk membiarkan umat beragama Islam mengurus agamanya sendiri, termasuk dengan tidak mengakui Ahmadiyah sebagai bagian dari Islam. Walaupun Ahmadiyah mengaku-aku demikian. Termasuk di Indonesia.

Jadi Departemen Agama Republik Indonesia yang kaya potensi namun miskin-miskin saja ini dan para penyelenggara haji pun tak usah menjadi repot menjawab pertanyaan Allah SWT dan setidaknya saja, Kerajaan Arab Saudi, jika ada Jamaah Haji non-muslim (Ahmadiyah) sampai di Makkah al Mukaromah, atas rekomendasi negara Republik Indonesia.

Tapi tentu saja di mana ada peluang menguntungkan, Kapitalisme dan Kolonialisme, mencoba sekuat tenaga mendulang keuntungan, hampir at all cost (dengan segala cara, semahal apapun), apalagi jika atas nama kepentingan Manajemen Strategis dan segala macam teknologi lain. Mungkin berdasarkan asumsi dan argumen ini, tak heran Ahmadiyah tak juga dibubarkan di Indonesia, padahal di negara asalnya dan di banyak negara Islam atau ’negara Islam’ lain rekan Indonesia di OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang berdiri agak lama setelah Kekhalifahan dijatuhkan Barat pada 1924, toh sudah tegas melarang Ahmadiyah (deklarasi Liga Muslim Dunia/Rabithah Alam Islami tahun 1974), apalagi membiarkan jama’ahnya ke tanah suci Makkah al Mukaromah. Indonesia mau menjadi spesial dengan tepo-slironya rupanya? Hingga diajak ke neraka pun ayo saja, karena tepo-sliro?

Ahad pagi 1 Juni 2008 itu saya kebetulan lewat Gambir dan Monas dalam perjalanan ke rumah. Saya saksikan banyak sekali orang berpakaian merah saat itu, tua-muda. Ada banyak sekali Bus parkir di sekitar Monas bahkan sampai Pasar Baru. Terus saja saya pulang dan sempat berpikir, banyak sekali yang tidak ke Gereja, pagi ini, yah? Saya tidak terlalu ambil pusing, ini semua perkara mudah diduga, permainan sekelompok kecil orang pengatur. Lagipula kondisi saya sedang tidak sehat. Saya tertidur hingga sekitar sore hari. Sesudah saya bangun, saya ke Gambir, silaturrahim dan mengurus jama’ah di sana. Dan saya dilapori, bahwa tadi ada bentrokan kecil di Monas. Saya hanya tertawa-tawa saja, dan kami lanjutkan mengurus banyak hal lain.

Lantas rupanya kejadian itu menjadi berita nasional. Seakan ada yang memeningkan untuk membesarkan permasalahan ini. Saya pun mau tak mau ikut mencari tahu dan menangani. Dari informasi kawan terpercaya, massa gabungan lembaga ormas Islam, sejatinya saat 1 Juni siang itu menuju Istana Presiden dengan agenda mereka tentang BBM. Namun tak pelak sebagian mereka lewat pula di depan Monas, yang disana telah ada ribuan peserta peringatan ’lahirnya’ Pancasila. Demo AKKBB di Monas itu menurut sejumlah kalangan dilakukan tanpa ijin (saya jadi ingat Belanda yang membonceng Sekutu saat perang Kemerdekaan Republik Indonesia untuk menghalalkan langkahnya). Dan menurut sumber yang saya percayai, provokasi oleh massa yang sudah dahulu berada di Monas (AKKBB) memang dilakukan, dan fakta ini juga dikuatkan oleh beberapa tokoh nasional yang disampaikan lewat media cetak, elektronik serta forum pertemuan yang saya hadir disana. Terjadi pula letusan pistol, empat kali bahkan kabarnya, bukan dari pihak muslim. Teriakan makian tak senonoh terhadap ciri-ciri Islam dan massa yang lewat itupun berlontaran, misalnya seperti ’Kafir’ dan ’Laskar Setan’, dan sejumlah aksi memancing emosi lain tentunya, di siang hari yang cukup panas di pusat kota Jakarta itu.

Agaknya prinsip ’Lu jual gue beli’ terjadi di sini. Namun toh tetap banyak yang berkepala dingin, dan ada seorang kawan yang saya kenal dari FPI, hari itu ia berbaju kotak-kotak justru terlihat melerai kedua massa yang hendak bentrok. Dan ini terlihat jelas di tayangan beberapa stasiun TV yang diputar berulang-ulang, seperti yang diceritakan kawan saya. Saya percaya kevalidan informasi kawan ini dan saya kenal betul dia. Kebetulan orang yang dimaksud di TV tersebut juga saya kenal. Seorang Preman yang sungguh telah bertobat, insya Allah. Munarman sendiri, siang itu berlaku sebagai pemimpin, komandan lapangan ’Laskar Islam’, Laskar gabungan sejumlah lembaga bernama GARIS, FPI, MMI dan sebagainya. Perlu ditegaskan kembali, bukan FPI saja.

Di kondisi panas, gerah, dibawah sinar matahari siang yang cukup terik itu, Munarman telah berusaha menyadarkan anggotanya yang terpancing emosi akibat provokasi dari pihak AKKBB. Teguran keras yang dilakukan Munarman ini pada anggota laskar adalah pantas, karena ia adalah sebagai Amir, sebagai pemimpin. Pemimpin pantas membina dan bertanggungjawab. Bukankah ini pengejawantahan teknologi Manajemen sekuler juga?

Bila kita melihat foto terkenal Munarman saat ini yang beredar di internet dan berbagai media saat ia terlihat sedang ‘mencekik’ seseorang berbaju hitam, dikelilingi massa berbaju putih, maka sebenarnya yang dipegangi lehernya itu adalah orang muslim sendiri anggota rombongannya yang hampir emosi, lepas kendali, dan justru sedang dicegah keras oleh Munarman agar tidak melangkah lebih jauh yang mungkin belum perlu dan tidak sesuai dengan akidah Islam. Dalam foto tersebut, tampak Munarman berpakaian hitam dan penutup kepala hitam mencekik seorang pria yang juga berpakaian hitam. Foto milik AKKBB itu diabadikan saat bentrok FPI dan massa AKKBB di kawasan Monas 1 Juni lalu. Munarman menyangkal bahwa yang dia cekik adalah anggota AKKBB. Bahkan dalam konferensi pers, Munarman memperkenalkan pria yang dia cekik sebagai anggota Laskar Islam bernama Ucok Nasrullah. Klik saja antara lain ke: http://suaramerdeka.com/beta1/news/print.php?id_news=7044 , http://swaramuslim.com/index.php , http://groups.google.co.zw/group/soc.culture.filipino/topics?lnk=gschg.
Dan kata orang, wajah Munarman nampak bengis saat itu? Tidak, menurut saya. Lihatlah betul-betul. Lihatlah ekspresi orang-orang itu semua lebih cermat. Orang Psikologi jujur setidaknya akan tahu tentang ini.

Dan saat terjadi bentrokan, itu adalah REAKSI massa muslim terhadap mereka yang memprovokasi, yang menantang. Bukan merupakan AKSI, samasekali bukan mendahului, walaupun toh memang terjadi perkelahian. Memang disayangkan massa muslim sampai terpancing, dan yang salah tetap harus dihukum, ini pun sunnatullah (hukum Allah) tak peduli apapun agamanya, karena justru Islam adalah seharusnya rahmatan lil’ aalamiin (rahmat untuk alam semesta). Jika pengusung Islam tak mampu mengusung tugas berat dan suci ini, pantaslah dihukum dan dikalahkan Allah. Allah tidak butuh manusia dan dunia beserta isinya. Manusialah dan dunia bserta isinyalah yang butuh Allah dan cara hidup, petunjukNya.

Ingat Perang Uhub dan Badar? Sangat berbeda hasilnya. Di Perang Badar, muslim yang menghadapi musuh kafir tiga kali lipat banyaknya, menang gemilang, karena berperang dengan cara Islami. Di Perang sesudahnya, Perang Uhud, muslim dibiarkan Tuhan kalah parah, karena tidak berperang dengan cara Islami. Dan alhamdulillah tidak pernah dalam masa Rasulullah SAW dan para sahabat, perang muslim mengalami kekalahan, karena mereka menjaga betul cara-cara islami, termasuk mengasihi ‘musuhnya’.

Dan toh mereka semua, di Monas siang 1 Juni 2008 itu, baik pengaksi juga pereaksi, adalah manusia, dan di mana-mana termasuk saat itu tentu banyak setan tak tampak maupun tampak (orang Atheis akan mengatakannya sebagai energi negatif), maka terjadilah kejadian yang patut disesalkan lalu itu. Untuk memahami ini pula, pakai Hukum Newton tentang aksi-reaksi sajalah, gunakan, tak usah payah-payah, karena bukankan jaman modern yang dilandasi Filsafat Modern ini sudah mempercayakan sepenuhnya segala pembangunan peradaban kepada hanya Logika a la Descartes dan Nweton yang hanya memakai paradigma logik dan sains dalam memahami, merekayasa segala hal, termasuk yang hal-hal non logis, supralogis, metafisika, dan sebagainya? Yang inilah yang bahkan ditentang orang sekuler macam Filsuf Nietszche dan Capra dengan Filsafat Dekonstruksi a la Posmodernnya untuk mendekonstruksi emikiran sesat Filsafat dan jaman Modern? Ini logis, jadinya. Anda termasuk orang modern kan ? Cukup kan kalau pakai logika saja? Hahahahaaaa.

Tentang logika, masuk akalkah pula jika ada satu orang berbaju hitam yang orang mudah asumsikan bukan muslim (walau ternyata muslim), berada dikelilingi muslim berbaju putih penyusul yang jumlahnya sedikit, sementara di Monas massa penghadir acara Pancasila itu justru-menurut klaim mereka sendiri- adalah sekitar seratus ribu?

Dan si orang berbaju hitam itu, bukan orang rombongan Munarman sendiri? Masuk akalkah itu? Betapa mudahnya ya ratusan ribu orang yang sudah menunggu di Monas itu kalah oleh rombongan Munarman yang datang belakangan dan tidak berbus-bus banyaknya, kebanyakan hanya bersepeda motor, jika tenyata si baju hitam itu musuh Laskar Islam?

Dan herannya mengapa media hanya mengekspos yang perlu mereka ekspos saja? Mengapa cepat menyimpulkan? Dengan sangat yakin? Tidakkah pernah sampai kepada telinga, otak, dan hati orang-orang ini, azas praduga tak bersalah, yang dalam Islam adalah LARANGAN untuk su’udhon (berpikir, menduga buruk)? Dengan segala cara? Siapa yang mengaturnya?

Dan yang paling mengherankan, mengapa hanya FPI yang dibidik padahal ada beberapa lembaga ormas yang turun? Mengapa isu tentang Ahmadiyah menjadi dibelokkan tentang pembubaran FPI dan pembunuhan karakter Munarman?
Mereka ini yang kemudian menjadi sasaran tembak? Ada apa ini?.

Padahal tidakkah FPI yang termasuk romobongan awal aktif di Aceh saat setelah Tsunami lalu? Tidakkah FPI yang di Poso dan Ambon membela muslim yang dibantai? Tidakkah FPI yang pergi dan mengusut di Jawa Timur saat para Kyai dan Uztadz difitnah dan dibunuhi karena isu dukun santet? Tidakkah FPI yang memerangi tempat-tempat maksiat? Tidakkah FPI yang tahu banyak mengenai data-data intelijen pihak-pihak yang hendak mengacau negara dan muslim Indonesia DAN SUDAH PULA BERBUAT BANYAK?

Jadi jelas tidak, mengapa hanya hanya FPI yang diminta diberangus oleh orang-orang yang tidak senang Islam?

Termasuk dengan Perang Opini?

Saya kurang tahu, tapi menurut seorang sahabat (dia mengirimkan SMS) yang beliau adalah mantan Pendeta Protestan dan bekas ’orang dalam’ sebuah partai besar keagamaan Indonesia serta tahu betul teknologi langkah-langkah sistematis pemurtadan umat Islam bertahun-tahun lamanya, bunyi SMSnya sebagai berikut :
”Ass-wr-wb. Bagi Gereja FPI dianggap salah satu komponen Islam yang sering halangi pendirian gereja2. Ada indikasi skenario makro lewat infiltrasi intelektual untuk bubarkan FPI, sehingga misi kristen tidak telalu terhadang gerakannya. Saya yakin pemerintah sudah diintervensi CIA untuk berangus FPI. Masyarakat oleh pers dibuat naik darah (blood boiling-up) terhadap FPI! Stigma mulai dibangun mereka! Hukum jelas tidak akan melihat content masalah tapi hanya efek dari suatu masalah dan itulah cara2 AS dan antek2nya lakukan political engineering!”

Jadi kawan-kawanku, hati-hati saja terhadap pancingan-pancingan!
Menilik ini semua, saya jadi ingat beberapa ayat ini:

QS.Ali Imraan ayat 104
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[1]; merekalah orang-orang yang beruntung.

QS Ali imraan ayat 110
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

QS Luqmaan ayat 17
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

QS Thahaa ayat 132
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

QS Al Fath ayat 28-29
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[*]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

QS Al Ahzab ayat 70
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.

QS An Nur ayat 14.
Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.

QS Al Hujuraat ayat 6.
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

QS Al Ahzab ayat 60.
Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar

QS Al Baqarah ayat 217
… Dan berbuat fitnah[lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Hadits:
Diriwayatkan dari Anas R.A. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Kalimat Laa ilaa ha illallaah akan selalu memberi manfaat bagi siapa saja yang mengucapkannya dan akan menghindarkan mereka dari adzab dan bencana selama mereka tidak mengabaikan hak-haknya.” Sahabat bertanya, ”Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan mengabaikan hak-haknya?” Jawab beliau, ”Kemaksiatan kepada Allah dilakukan secara terang-terangan, tetapi tidak dicegah dan diubah olehnya.” (Al-Ashbahani-At Targhib)

Dan patut pula dipahami, jika muslim tidak melakukan hal-hal yang dipersyaratkan Islam agar mendapatkan kemenangan, Muslim akan dibiarkan mengalami kekalahan. Simaklah beberapa paparan di bawah ini:

QS Al Israaâ’ ayat 7
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.

Dalam potongan ayat QS Al Israa’ 7 (17:07) ini, ”dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”, maka bahkan Allah S.W.T. pun akan membiarkan mereka (para musuh kebaikan) itu bebas masuk ke dalam masjid (satu tempat yang melambangkan kehormatan dan kesucian muslim), dan membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai ,

Hal ini mungkin saja, jika muslim yang diberi amanah memanfaatkan, menjaga ciptaan Allah S.W.T. tidak (atau tidak lagi) melakukan hal-hal Islami (tidak menjaga amahaNya, antara lain), tidak memenuhi syarat untuk dimenangkan menjadi pemimpin di satu masa itu, di mana kejahatan muslim justru lebih menonjol daripada kebaikannya. Bahkan dalam ayat ini disebutkan sampai-sampai melakukan kejahatan ”˜yang kedua” atau dalm hal ini juga ditafsirkan, bahkan mengulanginya (dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua). Kemenangan, kehormatan, ketinggian derajat dan macam-macam hal terkait bagi muslim diberikan, jika muslim melakukan yang diperintahkan Allah S.W.T., jika seseorang itu adalah orang-orang yang beriman, melakukan hal-hal islami.

Lihatlah juga kembali:
QS Ali Imraan 139 (3:139)
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

Hadits:
Dari Abu Sa’id Al Khudri R.A., ia berkata, ”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lidahnya. Jika tidak mampu, maka bencilah dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim, Ibnu Majah, Nasa’i-At Targhib)

Kekalahan juga mungkin terjadi bagi siapa saja termasuk Muslim bila menyia-nyiakan nikmat, berbuat dhalim, dan sebagainya:

QS An Nahl ayat 112
Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, yang rezekinya datang kepadanya melimpah-limpah dari segenap penjuru. Lalu (penduduk)-nya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Oleh karena itu, Allah mengenakan kepada mereka ’pakaian’ kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.’

QS Al Israa’ ayat 16
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

QS Al Anfaal ayat 25
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

Hadits:
Jabir bin Abdillah R.A. berkata, ”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Tidaklah seseorang berada di suatu kaum, ia berbuat maksiat di tengah mereka, dan mereka mampu mencegahnya, namun mereka tidak mencegahnya, melainkan Allah akan menimpakan kepada mereka siksa sebelum mereka mati.” Yakni mereka akan ditimpa musibah dunia. (Hadits riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Asbahani-Al Targhib)

QS Ar Ra’d ayat 11
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

QS Al A’raf ayat 96
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman serta bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka. -

QS Ibrahim ayat 7
Ingatlah juga, tatkala Tuhan kalian memaklumkan, ”Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat)-Ku, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”.

Dibalik setiap ujian dan kejadian, ada ibroh dari Allah SWT yang bisa kita petik sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan ke depan. Insya Allah.

Wassalamualaikum wrwb.
Jakarta, Juni 2008

Abu Taqi Mayestino

June 12, 2008

FPI-ku Sayang, FPI-ku Malang

Masuk Kategori: HOT NEWS, Seri Kesalahan2

Bismillah,

Beberapa hari terakhir ini, banyak sekali berita yg terkait dengan FPI yg beredar di media, baik di media online maupun di media cetak atau media2 lainnya. Hal ini terkait dengan aksi kerusuhan yg terjadi di Monas, 1 Juni 2008 lalu, yg melibatkan FPI dengan AKKBB.

Pada aksi tersebut, dari beberapa media yg menurut saya cukup netral, terjadi provokasi dari AKKBB, yg semestinya mereka hanya berdemo di sekitar Bunderan HI. Entah bagaimana caranya, mereka menuju sekitaran Monas, yg saat itu massa FPI sedang berdemo terkait dengan kenaikan harga BBM. Pihak AKKBB lantas menggelar aksi demo ‘tandingan’, dg membawa-bawa isu Ahmadiyah serta mengejek FPI dengan ucapan2 yg tidak layak. Buntutnya, terjadi bentrokan fisik antara FPI (yg merasa diprovokasi) dengan AKKBB.

Akibat ghazwul fikri yg cukup berhasil, terpedayalah mayoritas masyarakat Indonesia! Media-media yg sudah disetir dg kepentingan2 yg bertujuan mengadu domba dan merusak serta menghancurkan Islam, dengan ’senang hati’ memberitakan hal2 yg tidak berimbang dan justru memutar balikkan fakta!

Dampaknya, timbul gelombang aksi di berbagai daerah, berisi tuntutan pembubaran FPI! Bahkan di beberapa tempat, FPI ‘terpaksa’ membubarkan diri, demi menghindari bentrok dengan masyarakat sekitar. Selain itu, dilakukan penangkapan terhadap anggota2 FPI, termasuk ketua FPI. Sementara itu, anehnya, tidak ada berita sama sekali mengenai penangkapan terhadap anggota AKKBB. Bahkan mereka ‘hanya’ diperiksa sekian waktu dan lalu dilepas lagi.

Bagaimana kita mesti menyikapi hal ini?

Saya sendiri menyayangkan aksi2 yg dilakukan FPI. Seringkali aksi2 yg mereka lakukan terkesan serabutan, brutal, tidak tahu etika, kasar, dan kata2 lain yg tidak enak didengar dan dibaca. Komentar ini tidak hanya dilontarkan oleh orang2 non muslim, tapi bahkan juga dari kalangan muslim.

Pernyataan di atas merupakan hal yg ‘wajar’ jika melihat aksi mereka. Membongkar dan merusak warung (yg dianggap maksiat), lalu melakukan penyerbuan terhadap kantong2/daerah2 yg dirasa tingkat kemaksiatannya tinggi merupakan beberapa aksi mereka. Aksi lain yg tingkat ketidaksetujuanku cukup tinggi adalah merazia orang yg tidak berpuasa!! Ya ALLOH, Rasululloh SAW saja tidak pernah merazia orang yg tidak berpuasa, terlebih lagi menutup warung orang2 yg berjualan di bulan puasa, lantas kenapa FPI melakukan hal itu?

Sebagai sebuah ormas Islam, saya yakin FPI mempunyai tujuan yg baik, yakni amar ma’ruf nahyi munkar, memberantas maksiat/keburukan dan mengajak kebaikan. Sayangnya, aksi yg mereka lakukan, terutama dalam memberantas keburukan/maksiat, menurutku terlalu berlebihan. Padahal, aksi2 FPI lainnya banyak yg bermanfaat, terutama ketika mereka membantu saudara2 kita di Aceh pada saat bencana tsunami, kemudian ikut terjun di Maluku (dengan Laskar Jihad, jika tidak salah) ketika pihak keamanan cenderung diam terhadap aksi brutal yg menimpa saudara muslim, dan masih banyak hal2 baik yg dilakukan FPI.

Pointnya, FPI sebenarnya tidak perlu melakukan tindakan/aksi kekerasan dalam sikap dan gerak mereka. Membantu saudara2 kita yg lain, dengan lebih fokus dan mengena, sebenarnya jauh lebih cocok, terlebih lagi FPI sudah memiliki banyak cabang. Koordinasi akan terlaksana lebih baik.

Namun, saya juga menyadari bahwa FPI berusaha menjadi muslim yg sebenar-benarnya. Tentu saja mereka tidak akan tinggal diam jika ada kejahatan/kemaksiatan terjadi di lingkungannya. Persangkaan baikku, FPI sudah melayangkan teguran kepada para pelaku maksiat itu, namun karena ‘tidak dianggap’, anggota2 FPI menjadi naik pitam dan kalap (serta cenderung berlebihan) ketika ‘membersihkan’ para pelaku maksiat itu.

Demikian pula halnya dengan kasus Ahmadiyah. FPI merupakan salah satu elemen Islam yg tidak setuju dengan keberadaan Ahmadiyah. Pemerintah sendiri sudah berulangkali menyatakan akan mengeluarkan SKB untuk ‘melarang’ kegiatan Ahmadiyah, namun hingga timbul bentrokan di Monas, yg terjadi adalah pemerintah mengulur-ulur terus. Akibatnya jelas, gesekan horizontal, terutama sesama elemen Islam, kian membuat gerah suasana. Terlebih dengan ucapan2 ngawur dari Abdurrahman Wahid tentang Ahmadiyah, yg jelas2 membela Ahmadiyah, membuat suasana kian panas. Walhasil, ketika ada sedikit saja trigger, ‘pecahlah’ kemarahan itu, yg terjadi di Monas.

Malangnya, FPI kini dianggap sebagai hal yg najis dan haram. Bahkan elemen2 Islam lain memperlakukan FPI tidak seperti saudara seiman. Saya sempat membaca, di Jawa Tengah dan Jawa Timur, beberapa elemen dari beberapa ormas Islam juga (baca: pasukan para militer) menuntut dan menyatakan akan membubarkan FPI! Lebih gilanya lagi, mereka melakukan sweeping terhadap anggota2 FPI!! Padahal, seperti diketahui, ketua FPI sudah menyatakan agar anggota FPI tidak melakukan perlawanan. Bahkan ketua FPI sendiri dengan sukarela ikut ke kantor polisi, meski saya yakin mereka semua merasa marah dengan perlakuan yg mereka terima.

Adalah suatu yg mengherankan, ketika sekelompok muslim yg berusaha menegakkan kebenaran berdasarkan syariah/hukum agama Islam (meski barangkali caranya dianggap keliru), mereka justru diburu-buru dan dikejar-kejar oleh kelompok muslim lain yg, menurut saya, tindakannya justru TIDAK ADA DASARNYA DALAM AL QUR’AN!! Mereka justru berhasil diprovokasi oleh pemimpin2 ormas mereka, yg sudah ndak jelas alur pikirannya. *geleng2*

Keheranan di atas akan berubah menjadi hal yg ‘wajar’ jika kita melihat pihak2 yg ada di belakang layar. Ditengarai dan diduga kuat, pihak-pihak yg tidak ingin Islam maju, memang bermain di dalam peristiwa2 tersebut. Dengan mengadu domba sesama muslim, mereka akan diuntungkan karena dengan demikian energi dan waktu kaum muslim akan terkuras habis, sehingga Islam tidak bisa berkembang dan sesama pemeluknya tidak bisa hidup dengan aman.

Saya yakin, aksi2 (anarkis) FPI, terutama terkait dengan kafe2 yg menjadi ajang maksiat, membongkar warung remang2, demo terkait dengan Ahmadiyah, dll, semua itu bisa dihindari dengan sikap pemerintah yg tegas serta tindakan nyata dari pihak keamanan. Sayangnya, pemerintah dan aparat keamanan kita cenderung adem ayem terhadap aspirasi dan kegelisahan yg melanda kaum muslim. Sebaliknya, jika non-muslim yg terkena aksi, wuiiihhh…cepat sekali aksinya, berupa penangkapan terhadap orang2 yg dianggap teroris.

Sebagai sebuah ormas Islam, menurut saya, hendaknya FPI memperlihatkan sikap yg lebih Islami dalam memberantas kemaksiatan. Sebagai warga negara, yg memiliki pemerintah dan pihak keamanan (meski kinerjanya, seperti saya tulis di atas, dirasa masih kurang memadai), tidak perlu sampai turun tangan dan melakukan aksi2 brutal.

Hadits Rasululloh SAW,“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya” jangan diartikan, dipahami, dan dilaksanakan dengan sempit.

Mengubah dengan tangan bukanlah melakukan aksi sweeping, pengeroyokan, ataupun tindakan pengrusakan. Berdasarkan ilmu yg saya miliki, hasil pembicaraan ataupun hasil belajar dengan orang2 yg lebih berilmu, mengubah dengan tangan ini dimaksudkan dan ditujukan kepada PENGUASA/PEMIMPIN, yg memiliki kuasa (power). Dengan kuasa dan wewenang yg mereka miliki, para pemimpin (termasuk pihak keamanan di dalamnya) bisa (bahkan wajib) bertindak dalam rangka menenangkan masyarakat serta menjaga kestabilan kondisi.

Bagi saya, tugas masyarakat umumnya adalah di bagian kedua, yakni berusaha mengubah dengan lisan. Banyak cara untuk melakukan hal ini, karena pengertian lisan di sini jangan dibuat sempit.
- Bagi para ulama, mereka senantiasa mendesak pemerintah untuk berbuat adil, serta menyerukan kepada masyarakat agar tetap menjaga ketertiban.

- Bagi wartawan atau bahkan blogger, mereka bisa menuliskan tentang ketidakadilan yg terjadi. Bisa juga mendesak pihak2 terkait, tentu saja dengan tulisan2.

- Bagi kaum muslim lainnya, mereka bisa melaporkan hal2 yg tidak sesuai dg agama (baca: kejahatan dan kemaksiatan) kepada kaum ulama. Nantinya kaum ulama akan melakukan poin di atas.

Tentu saja, bagi ulama dan wartawan (blogger), mereka hendaknya memberikan juga solusi atas masalah2 yg terjadi, selain menunjukkan bahwa kita tidak sekedar bisa mengkritik namun juga kita bisa memberikan solusi bagi kritik2 yg kita lontarkan. Ini menunjukkan bahwa kaum muslim tidak hanya ngomong tapi juga ikut berpikir.

Oleh karenanya, sikap ketua PPP yg mengajak ketua FPI untuk melakukan ‘transformasi’ dan revolusi terhadap cara berdakwah, merupakan tindakan yg begitu cerdas dan jitu. FPI yg merupakan aset umat Islam jangan sampai mubazir dan terbuang percuma.

Semoga FPI bisa menjadi lebih baik dalam bersikap dan bisa memperlihatkan Islam yg sesungguhnya. Dengan memperlihatkan sikap Islam yg rahmatan lil ‘aalamiin, lemah lembut kepada sesama muslim dan tegas terhadap orang2 yg mengganggu Islam, insya ALLOH akan menimbulkan simpati dan dukungan terhadap mereka.

June 5, 2008

Jawaban Untuk Pernyataan Dari Non Muslim

Masuk Kategori: Aqidah, HOT NEWS, Seri Kesalahan2

Bismillah,

Jika sebelumnya saya memuat artikel berisi jawaban atas pertanyaan2 ‘tantangan’ yg dilontarkan kaum Non Muslim untuk ‘menyerang’ kaum Muslim, maka kini saya akan memuat artikel berisi jawaban atas pernyataan2 dari Non Muslim yg seringkali mereka lontarkan saat mereka diskusi (lebih tepatnya, menyerang) kaum Muslim.

Jawaban2 yg saya tulis mungkin tidak cukup memuaskan, karena keterbatasan ilmu yg saya miliki. Namun, harapan saya, jawaban2 yg saya tulis bisa membantu dan ‘menenangkan’ saudara2 Muslim, terhadap pernyataan2 tendensius yg cenderung memojokkan Islam.

Sumber pernyataan non muslim ini bisa anda lihat di sini.

1. Pertama-tama, muslim akan bilang, ‘Ini informasi yg salah’, ‘ini bohong’. Apapun yg kamu katakan adalah salah dan apapun yg mereka katakan adalah benar.
***Pernyataan yg tendensius. Pada hakikatnya, seorang muslim akan terbuka terhadap pendapat orang lain (baca: non muslim) jika memang ada landasan dan bukti-bukti yg mendukungnya.

2. Langkah berikutnya adalah Taqqiya, contoh : ‘Islam artinya Damai’, ‘Islam artinya Selamat’, ‘Islam tidak disebarkan lewat pedang tapi lewat cinta kasih’, ‘tidak ada paksaan dalam islam’.
***Silakan cari dalam sejarah, apakah ada sebuah daerah/negara yg ‘ditundukkan’ Islam, lalu masyarakatnya dipaksa masuk Islam?

3. Jika kamu mengutip dari Quran atau Hadis, kamu akan dituduh telah mengutip ayat sepotong-sepotong.
***Banyak sekali orang non muslim (bahkan kaum muslim) sendiri yg ’senang’ mengutip ayat sepotong-sepotong demi kepentingan mereka. Contoh paling mudah adalah film Fitna. Untunglah ada Ayat-Ayat Fitna, yg membantah film Fitna dan berusaha menjelaskan secara lebih detail ayat2 yg dikutip oleh Wilders secara sembarangan.

4. Dan siaplah dgn tuduhan bahwa ayat yg kamu kutip telah dipelintir dan keluar dari konteks, atau kamu telah memanipulasi makna ayat.
***Jika ayat yg dikutip kemudian ditafsirkan dengan sembarang, terlebih lagi ‘disesuaikan’ dengan keinginan si pengutip, jelas itu artinya ada manipulasi ayat.

5. Jika kamu menyediakan referensi utk kutipanmu, kemudian muslim akan berkata ‘Semua referensimu itu palsu dan bohong’, yg secara tidak langsung menyatakan bahwa referensi mereka yg asli dan benar.
***Masalahnya, referensi2 yg digunakan seringkali referensi2 yg memang menyerang Islam, bukan menjelaskan dg pikiran yg jernih.

6. Kamu akan dinasihati utk ‘Baca Quran dulu yang kushuk dan kamu akan mengerti’
***Tidak sekedar membaca, namun juga mengkaji. Bahkan jika perlu diskusi dan dipandu oleh orang2 yg lebih ahlinya.

7. Jika kamu bilang bahwa kamu sudah membacanya, mereka akan meragukanmu dan menganggap kamu pembohong.
***Jika hanya membacanya saja, nanti akan seperti Wilders. Dia pikir apa yg dia baca sudah benar.

8. Jika kamu mengutip seluruh ayat (bukan sepotong2) dari Quran dan Hadis, maka terjemahanmu dianggap salah/menyesatkan. Kamu akan dianjurkan utk belajar bahasa Arab dan membaca dalam versi aslinya.
***Ah, ini pernyataan ngawur. Lihat dulu siapa yg menerjemahkan. Membaca kembali bahasa Arab itu maksudnya kita mesti melihat lagi struktur dan tata bahasa Arab, karena dalam Al Qur’an ada nilai sastra Arab yg tidak bisa diartikan/diterjemahkan sembarangan.

9. Jika kamu bilang, saya baca Quran yg sama dg terjemahan yg diakui otentik, yg dianjurkan oleh Muslim, maka kamu akan ditanya ‘apa kamu cuma baca kulit luarnya?’, ‘Baca dg pikiran terbuka’ (maksudnya: baca dg perasaan tertutup, seperti cara muslim membaca dg mengesampingkan hati nuraninya).
***Ini juga pernyataan ngawur. Cerita di sini dan di sini menunjukkan bahwa orang yg membaca Al Qur’an dg ‘open mind’ justru akan mendapatkan hidayah.

10. Kalaupun kamu membaca terjemahan Quran atau langsung baca bahasa Arabnya, jika kamu mengutip Quran, mereka mengutip Hadis, Tafsir dll. Dan apabila kamu mengutip Hadis, maka mereka akan berkata ‘Hanya Quran yg dianggap sahih’.
***Ini juga pernyataan seakan-akan ngawur tapi sebenarnya masuk akal. Al Qur’an merupakan sumber hukum tertinggi, namun dia hanya menjelaskan secara global. Hadits (dan Sunnah) merupakan penjelasan (detail) dari apa2 yg ada di Al Qur’an. Analogi paling mudah adalah UUD, Keppres, KepMen, dst. Memangnya di UUD dijelaskan semua secara detail apa yg harus dilakukan? Tentu tidak kan? Detailnya muncul di Tap MPR, Keputusan Presiden, dst dst. Dengan demikian, jika ada Hadits yg BERTENTANGAN DG AL QUR’AN, maka kita mesti merujuk kembali ke Al Qur’an.

11. Setelah semua ini, kamu masih tetap ingin terus, mereka akan mengalihkan perhatian kpd topik lain dan menyuapimu banyak isu2 tidak relevan.
***Tidak jelas maksudnya.

12. Kamu tetap bertahan di topik semula, muslim akan mengarahkan pada agamamu, Alkitab, Taurat, Injil, dll dan kejadian2 serta orang2 seperti Bush, Blair, Indira Gandhi, Irak, Lebanon, Palestina, Israel dll.
***Ini juga tidak jelas maksudnya.

13. Bersiaplah kamu dng hal2 atau referensi dari situs Islam sampah. Ini termasuk ayat2 dari Quran dan Hadis, fakta2 yg dipelintir dari ayat2 suci Alkitab, misalnya, seperti bahwa Mohammad sudah diramalkan dalam ayat2 tsb.
***Ok, jika hal ini memang dibantah, toh para penganut agama Kristen juga tidak bisa menjelaskan dg rinci dan jelas apa maksud sebenarnya. Malah muter-muter tidak keruan.

14. Muslim akan merujuk pada keajaiban Quran. Ingat apapun yg telah ditemukan dalam jaman ini, muslim akan menghubungkannya ke Quran, tapi mereka akan diam saja sampai penemuan itu ditemukan. Mereka tidak akan pernah mengatakan pikiran2 yg keliru dalam Quran seperti ‘Langit adalah kubah dg pilar2 khayalan’, ‘matahari tenggelam di lumpur’, ‘matahari memutari bumi’ dll. Jika kamu tunjukkan perhatian mereka pada hal2 keliru ini, mereka akan mengatakan hal sampah2 yg sangat tidak logis dan tidak rasional. Kamu akan dinasihati utk baca Quran lagi lebih kushuk.
***Nah, ini memang kelemahan Muslim jaman sekarang. Mereka sudah banyak meninggalkan Al Qur’an dan tidak mengkaji Al Qur’an dengan fenomena alam. Silakan lihat ilmuwan Muslim jaman dahulu, langkah mereka dalam kehidupan diselaraskana dengan Al Qur’an, dan mereka senantiasa berpikir. Jadi, untuk kaum Muslim, INI ADALAH CAMBUK DAN PERINGATAN UNTUK BERPIKIR DAN MENGKAJI AL QUR’AN DAN FENOMENA ALAM!

15. Kamu sudah tidak sabar tapi masih terus bertanya, kemudian mulailah mereka menyerang pribadimu. Kamu akan disebut bodoh, dungu, idiot, babi, anjing, kafir dll.
***Seringkali pertanyaan yg ditanyakan sudah dijawab namun mereka tetap ngotot. Ini lebih banyak terjadi karena mereka tidak mau membaca ulang atau bahkan sudah menutup diri dan menolak pernyataan/jawaban tersebut. Kata2 kotor biasanya datang lebih dulu dari kaum non muslim, bahkan mereka tidak ragu untuk mencaci (pribadi) Rasululloh SAW jika mereka tidak bisa menjawab.

16. Jika itu tidak berhasil, maka mereka akan menuduhmu telah dibayar CIA atau Mossad. Juga mereka akan bilang ‘Media barat penuh prasangka, berpropaganda utk mencemarkan islam, Islam diperlakukan tidak adil oleh semua non-muslim, Orang Kristen iri dan penuh kebencian terhadap Islam, Islam telah dihujat ……….. bla bla bla ……untuk menutupi ketidakmampuannya dalam memberi jawab.
***Hahaha…sudah jelas dan nyata sekali keterlibatan mereka. Jangan tidur melulu dong ;-)

17. Bahkan jika hal ini tidak berhasil juga, maka muslim akan mulai mengancam ibu dan saudari2mu.
***Ini sih pernyataan ngawur.

18. Jika kamu masih kepala batu dan ingin terus berdebat, kamu akan dikutuk seperti ‘Dibakarlah kamu di neraka, kamu akan bertobat di hari terakhir, masih ada waktu utk mencari kebenaran, semoga Allah memberi hidayah sebelum ajal menjemputmu, dll.
***Debat yg dilakukan adalah debat kusir, bukan diskusi yg baik. Berhubung kami bukan (maaf, tidak ada niat meremehkan pekerjaan kusir) kusir, kami tidak akan melayani debat seperti itu.

19. Akhirnya, ketika semuanya gagal, dia akan mengancammu langsung: ‘hati2, jaga mulutmu, ini nasihat tulus saya’ atau tidak langsung seperti ‘kasih saya email kamu, jangan sembunyi di belakang nama palsu, kamu pengecut (karena kamu pakai nama palsu di internet), dan terakhir undangan utk debat satu lawan satu atau diminta mengunjungi mesjid atau pusat islamik seperti Yayasan Riset islam’, dll (Hati-hati dengan lehermu, karena ini pancingan)
***Hahaha…kenyataannya memang hanya para pengecut yg tidak memakai nama asli, kemudian takut untuk diskusi dg argumen2 yg bisa dipertanggungjawabkan. Silakan lihat kembali diskusi Ahmad Deedat dg para pendeta/evangelis. Beliau justru menghormati mereka karena berani diskusi langsung. Jika memang tidak berani datang ke masjid, silakan debat terbuka di tempat umum seperti yg dilakukan Ahmad Deedat. Apakah usai diskusi dan debat (intelek) lalu para pendeta/evangelis dipancung lehernya?

20. Dan terakhir – tabuhan genderang kemenangan, utk semua muslim, seolah2 mereka menang debat, bahkan ketika mereka kalah dg menyedihkan, karena Quran adalah kalimat Allah.
***Ini sih sudah jelas, pernyataan putus asa dari orang yg tidak bisa menggunakan akalnya dan tidak punya bukti dan dalil yg logis dan bisa mendukung pernyataan2 mereka.

21. Jika Quran adalah kata2 Allah sendiri dan jelas dimengerti dan memang dimaksudkan bagi seluruh umat manusia, utk kapan saja dan dimana saja, kenapa ada Hadis, Tafsir dan Penjelasan2nya ?
***Silakan lihat kembali poin 10.

22. Kenapa beberapa sekte islam dan pelajar Islam mengerti Quran secara berbeda2 ? Kalau Quran itu jelas, mengapa tidak bisa dimengerti oleh semua? Kenapa beberapa ayat hanya ditujukan utk jaman tertentu, spt 1400 th lalu, dan utk daerah tertentu, spt semenanjung arab, padahal Quran utk kapan saja dan dimana saja dan seluruh umat manusia.
***Pemahaman tentu berbeda. Dan itu tidak dilarang. Jika tidak mengerti Al Qur’an, bagian mana yg tidak dimengerti? Silakan hubungi ustad/ulama setempat, barangkali mereka bisa menjelaskan. Ayat man yg ditujukan untuk 1400 tahun yg anda maksud? Jangan2 itu penafsiran akal anda semata. Kenyataannya, Al Qur’an tetap berlaku untuk siapa saja, di mana saja, dan kapan saja toh?

23. Kenapa ada pencabutan, ayat Quran digantikan oleh yg lebih baru? Apa Allah tidak bisa menyatakannya saat pertama atau dia berubah pikiran dari waktu ke waktu utk menyesuaikan dg keperluan Muhammad?
***Ayat mana yg dimaksud? Saya yakin itu penafsiran ngawur anda saja.

24. Kenapa islam, mengaku satu2nya agama yg benar, tidak bisa menjadi mayoritas, menjadi cuma satu2nya agama di muka bumi ini, bahkan setelah 1400 th berlalu ketika didirikan oleh Muhammad?
***Apakah anda tidak melihat kenyataan, bahwa perlahan tapi pasti, jumlah umat Islam di dunia kian bertambah?






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham