Tausyiah275

November 19, 2009

Makanan Haram Dan Ibadah

Bismillah,

Blog ini sudah pernah memuat beberapa artikel mengenai makanan haram. Anda bisa membacanya sebagai wawasan agar kita, selaku kaum Muslim, lebih berhati-hati dengan makanan (dan minuman) yang kita konsumsi sehari-hari, termasuk yang kita berikan kepada keluarga kita.

Beberapa waktu lalu, saya pernah menulis mengenai larangan mengonsumsi alkohol (khamr) sebagai salah satu bahan makanan/minuman yang mesti kita hindari untuk dikonsumsi.

Berikut ini saya hendak tuliskan beberapa hal yang terkait antara (mengonsumsi) makanan (dan minuma) haram dan efeknya terhadap ibadah kita.

Amal Ibadah Tidak Diterima Selama 40 Hari

Hal ini didasarkan pada hadits berikut:
Ibnu Abbas berkata bahwa Sa’ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi SAW, “Ya Rasululloh, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah.” Apa jawaban Rasululloh SAW, “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya.” (HR At-Thabrani)

Angka 40 hari ini mungkin dirasa tidak logis bagi kebanyakan orang. Beberapa waktu lalu, saya pernah membaca email seorang teman yang mengatakan bahwa ada sebuah artikel (ilmiah) yang menjelaskan bahwa (sari/dzat) sebuah makanan akan mempengaruhi makanan selama 40 hari. Hanya saja saya tidak berhasil mendapatkan artikel yang dimaksud.

Namun, jika memang hal ini terbukti, maka sudahlah jelas dan kian menjadi bukti nyata bahwa Islam adalah agama yg benar-benar diturunkan ALLOH SWT bagi manusia.

Doa Tidak Akan Dikabulkan

Apakah anda pernah mengalami, senantiasa ibadah, lalu berdoa meminta ALLOH SWT untuk mengabulkan permintaan-permintaan kita. Namun ternyata tidak ada satupun doa kita yang dikabul?

Jika memang pernah mengalami, maka anda mesti perhatikan lagi makanan (dan minuman) yang anda konsumsi. Karena makanan (dan minuman) haram yang dikonsumsi (dan masuk ke tubuh) kita, akan membuat doa kita tidak terkabul.

Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada Rasululloh SAW, “Ya Rasululloh, doakan saya kepada Allah agar doa saya terkabul.” Rasululloh menjawab, “Wahai Sa’ad, perbaikilan makananmu, maka doamu akan terkabulkan.” (HR At-Thabrani). Disebutkan juga dalam hadis lain bahwa Rasululloh SAW bersabda, “Seorang lelaki melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, mukanya berdebu, menengadahkan kedua tangannya ke langit dan mengatakan, “Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!” Padahal makanannya haram dan mulutnya disuapkan dengan yang haram, maka bagaimanakah akan diterima doa itu?” (HR Muslim).

Maka saudaraku, berhati-hatilah dengan makanan dan minuman yg anda (dan keluarga) konsumsi.

Mengikis Keimanan

Anda pernah melihat seseorang beragama Islam, tapi sering berbuat kejahatan? Bisa jadi ybs senantiasa mengonsumsi makanan dan minuman haram.

Rasululloh SAW bersabda, “Tidaklah peminum khamr, ketika ia meminum khamr termasuk seorang mukmin.” (HR Bukhari Muslim).

Hadits di atas memang hanya menjelaskan khamr, namun sebenarnya hal tersebut berlaku untuk semua makanan dan minuman haram.

Menjadi Penghuni Neraka

Kaum Muslim yang mengonsumsi makanan/minuman haram, sudah jelas akan disediakan tempat baginya di neraka kelak.

Rasululloh SAW bersabda, “Tidaklah tumbuh daging dari makanan haram, kecuali neraka lebih utama untuknya.” (HR At Tirmidzi).

Anda ingin pesan tempat di neraka? Gampang saja, tinggal konsumsi makanan/minuman haram saja! :-)

Mengeraskan Hati

Apabila seseorang begitu sulit menerima kebenaran, bisa jadi ybs adalah pelanggan makanan/minuman haram.

Imam Ahmad ra pernah ditanya, apa yang harus dilakukan agar hati mudah menerima kesabaran, maka beliau menjawab, “Dengan memakan makanan halal.” (Thabaqat Al Hanabilah : 1/219).

At Tustari, seorang mufassir juga mengatakan, “Barangsiapa ingin disingkapkan tanda-tanda orang yang jujur (shiddiqun), hendaknya tidak makan, kecuali yang halal dan mengamalkan sunnah,” (Ar Risalah Al Mustarsyidin : hal 216).

Jadi, anda masih berani mengonsumsi makanan/minuman haram? ;-)

Semoga berguna.

February 14, 2009

Islam dan Kasih Sayang

Bismillah,

Sebelumnya, saya minta maaf, karena sudah sebulan lebih saya tidak memperbaharui isi blog ini. Maaf terutama saya tujukan bagi anda-anda yang telah setia mengunjungi blog ini. *mode ge-er*

Alhamdulillah, hari ini saya bisa memperbaharui artikel di blog ini. Momennya di hari Valentine, hari yang senantiasa diagung-agungkan oleh banyak kaum muda, tidak hanya dari non muslim, tapi juga banyak kaum muda muslim yang merayakan hari ini. Saya tidak akan banyak membahas, karena saya sudah pernah membahasnya di:
- http://tausyiah275.blogsome.com/2006/02/13/haruskah-kita-merayakan-valentine/
- http://tausyiah275.blogsome.com/2006/02/14/apa-sesungguhnya-valentines-day/
- http://tausyiah275.blogsome.com/2007/02/13/valentine-hal-paling-ga-penting/

Silakan anda baca kembali artikel2 saya di atas untuk penjelasan tentang hari Valentine tersebut.

Pada kesempatan ini, saya ingin membahas, bahwa Islam sudah mengajarkan kasih sayang yang jauuuh lebih baik dari kasih sayang yg ‘diajarkan’ di hari Valentine. Pada salah satu artikel saya di atas, tertulis bahwa Valentine hanya dirayakan dengan orang2 yg kita sayangi, yang notabene dilakukan oleh orang2 yg sedang berpacaran. Lebih ‘ngerinya’, bentuk kasih sayangnya diwujudkan dalam hubungan sex tanpa ikatan nikah, yang jelas2 haram dalam pandangan Islam.

Sementara itu, Islam, seperti yg saya tulis di atas, mengajarkan kasih sayang yang lebih global dan tidak terbatas.

“Ah, yang benar Mas? Buktinya apa? Kok saya selama ini tahunya Islam itu perang?”

Pertanyaan di atas barangkali muncul dalam benak anda.

Ok, saya tunjukkan bukti-bukti bahwa Islam mengajarkan kasih sayang yg kualitasnya jauh lebih baik.

Hadits-hadits Rasululloh SAW
1. “Amal perbuatan yang paling disukai ALLOH sesudah yang fardhu (wajib) ialah memasukkan kesenangan ke dalam hati seorang muslim.” (HR. Ath-Thabrani)
Hadits ini mempunyai arti, seorang muslim hendaknya menyenangkan hati sesama saudaranya. Menyenangkan hati mempunyai makna yang luas, dan termasuk di dalam bentuk kasih sayang.

2. “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya.” (HR. Bukhari)
Jika kita menyayangi seseorang, maka kita akan berusaha untuk menghalangi (atau memperbaiki) aibnya.

3. “Tiga perbuatan yang termasuk sangat baik, yaitu berzikir kepada ALLOH dalam segala situasi dan kondisi, saling menyadarkan (menasihati) satu sama lain, dan menyantuni saudara-saudaranya (yang memerlukan).” (HR. Ad-Dailami)
Poin terakhir, yakni menyantuni (memberi pertolongan) saudara2 yg memerlukan, jelas sekali bukti bahwa Islam itu mengajarkan kasih sayang.

4. “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak mengecewakannya (membiarkannya menderita) dan tidak merusaknya (kehormatan dan nama baiknya).” (HR. Muslim)
Salah satu bentuk kasih sayang adalah tidak ingin mengecewakan orang yg kita cintai dan sayangi.

5. “Tiada beriman seorang dari kamu sehingga dia mencintai segala sesuatu bagi saudaranya sebagaimana yang dia cintai bagi dirinya.” (HR. Bukhari)
Ini adalah hadits yg sudah sedemikian terkenal, dan SANGATLAH JELAS bahwa Islam mengajarkan kasih sayang!

6. “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta kasih dan belas kasih seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing) maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)
Ini juga salah satu hadits yg seringkali dijadikan sandaran bahwa Islam mengajarkan kasih sayang.

7. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” (Al Isra(17):24)
Ayat Al Qur’an ini menjelaskan tentang kasih sayang kita kepada orang tua kita.

8. “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan ALLOH, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa ALLOH mengampunimu? Dan ALLOH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nuur(24):22)
Ayat ini menjelaskan bahwa orang2 yang diberi kelebihan (terutama di bidang materi) hendaknya membantu saudara2nya yang kekurangan.

Dari hadits-hadits dan ayat-ayat di atas, kita bisa lihat bahwa bentuk kasih sayang yg diajarkan Islam kepada para pemeluknya bersifat universal. Berlaku untuk semua manusia, semua golongan. Namun, tentu saja kaum muslim, sebagai saudara seiman mempunyai prioritas yg lebih tinggi, terutama jika saudara seiman tersebut posisinya dekat dengan kita. Tetangga 1 RT, tetangga 1 RW, bahkan dalam 1 negara pun, saudara seiman mempunyai hak untuk diprioritaskan.

Bahkan jika kita mau telaah lebih lanjut, kasih sayang yg ‘mesti’ dilakukan oleh seorang muslim tidaklah melulu kepada sesama manusia, namun juga kepada makhluk-makhluk lain sebagai ciptaan ALLOH SWT. Barangkali anda ingat, mengapa saat hendak menyembelih hewan, kita diperintahkan untuk menggunakan pisau/senjata yang sangat tajam? Tujuannya tidak lain agar hewan tersebut tidak tersiksa terlalu lama, menderita kesengsaraan karena rasa sakit disembelih oleh senjata yg tumpul.

Dengan demikian, jelaslah kasih sayang dalam Islam LEBIH BAIK daripada kasih sayang yg ‘diajarkan’ di hari Valentine, yang lebih banyak tertuju pada orang2 terdekat (pacar/suami/istri).

Permasalahannya, seberapa banyak kaum muslim yg mau menyebarkan kasih sayang? Kita masih lihat banyak sesama muslim gontok2an, saling menyerang, dst dst. Jadi yg SALAH adalah PEMELUKNYA, BUKAN AGAMANYA.

Atau coba kita berkaca pada diri kita sendiri.
- Apakah anda menyayangi seseorang karena hartanya?
- Apakah anda menyayangi seseorang karena wajahnya?
- Apakah anda menyayangi seseorang karena kedudukannya?
- Apakah anda sudah pernah membantu seorang nenek tua di pinggir jalan?
- Apakah …
Dan masih banyak apakah lagi.

Tujuan saya memberikan contoh di atas bukanlah untuk menjadi riya’ atau ujub. Tapi sebagai peringatan dan saran, bahwa Islam tidak akan pernah dianggap mengajarkan kasih dan sayang, jika kita selaku pemeluknya ternyata masih belum menyebarkan kasih dan sayang tanpa memandang status, golongan, harta, bahkan agama sekalipun.

Semoga kita semua, termasuk saya sendiri (penulis artikel ini), bisa mulai (lebih) menyebarkan kasih dan sayang pada banyak orang. Tentunya didasarkan (diniatkan) karena ALLOH SWT, agar perbuatan kita ini menjadi bernilai ibadah.

December 8, 2008

Menggugat Pak Haji dan Bu Hajjah

Masuk Kategori: Hikmah, Seri Kesalahan2

Bismillah,

Sebelumnya saya minta maaf kepada anda semua, apabila judul dan isi artikel ini bernada provokatif, atau bahkan dianggap sebagai (blog) pemecah belah umat Islam. Karenanya, sebelum anda2 yg kontra dengan saya (dan blog ini) hendaknya membaca lebih dahulu artikel ini hingga selesai, sebelum anda mengeluarkan unek2 anda.

Pelaksanaan haji semestinya tidak ada batasan jumlah jama’ah haji. Namun, jika tidak ada batas atau ketentuan, maka pemerintah Arab Saudi akan mengalami masalah dalam pengaturan. Oleh karenanya, mereka menerapkan satu kebijakan, yakni kebijakan quota atau pembatasan jumlah jama’ah haji.

Indonesia, sebagai negara dengan jumlah muslim terbesar di Indonesia, juga terkena penerapan quota itu. Seingat saya, tidak lebih dari 0.1% quota yang diberikan kepada Indonesia. Dengan jumlah penduduk lebih kurang 250 juta, itu berarti Indonesia punya ‘jatah’ jama’ah haji sebanyak 210 ribu (lebih kurang).

Yang hendak saya gugat adalah sikap dan niat dari pak ‘haji’ dan bu ‘hajjah’ yg berangkat. Poin-poin yg hendak saya kritik (habis2an jika perlu) adalah:
1. Yang berhaji berkali-kali
Saya pernah tulis artikel tentang kaum muslim (terutama dari Indonesia) yg menuaikan haji berkali-kali. Di sana, saya tulis bahwa MEMANG TIDAK SALAH UNTUK BERHAJI BERKALI-KALI, tapi alangkah baiknya jika hartanya tidak melulu untuk haji sebagai sebuah ibadah yg ‘egois’, karena lebih banyak tertuju untuk pribadi/individu, namun hendaknya juga bisa menyentuh dan mengangkat (martabat) masyarakat di sekitarnya. Dengan kata lain, ibadah itu jangan egois.

Jikapun jama’ah haji tersebut hidup di lingkungan yg serba berkecukupan, itu bukan berarti dia bisa lepas tangan, dan tetap lebih asyik ber-haji ria, daripada mengurus masyarakat. Karena sesungguhnya masih buanyak sekali saudara kita yg membutuhkan bantuan (terutama dana).

So, bagi para jama’ah haji yg ingin berhaji untuk kesekian kalinya, jika saya boleh memberi saran, sebaiknya harta anda di-infaq-kan atau di-amal jariyah-kan saja. Insya ALLOH, manfaatnya akan lebih besar dan bermanfaat meski anda telah meninggal.

2. Yang berhaji sekedar mencari gelar
Percaya atau tidak, ada sebagian jama’ah haji yg pergi haji demi mendapatkan gelar H atau Hj di depan namanya. Bahkan, ada juga yg setelah pulang dari berhaji, dia tidak mau ditegur (ataupun menoleh) jika tidak dipanggil “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”.

Ya ALLOH…saya sampai geleng2 kepala bahkan teramat sedih dengan saudara2 kita yg berperilaku seperti itu. Mengapa? Yaa…karena haji dan hajjah itu sebenarnya hanyalah ‘embel2′ semata. Tidak ada contoh dari Rasululloh SAW, bahwa orang yg sudah naik haji akan mendapat gelar H atau Hj.

Paling mudah, kita cek contoh dari Rasululloh SAW dan para sahabat. Apakah mereka lantas mengubah nama mereka menjadi H Umar bin Khatab? Atau H Ali bin Abi Thalib?

3. Yang berhaji dengan niat berbelanja/jual-beli
Kita bisa saksikan, para jama’ah haji yg baru pulang, senantiasa membawa barang yg sedemikian banyak. “Oleh-oleh buat keluarga” demikian alasannya. Saya tidak tahu persis apakah pikiran belanja oleh2 ini sudah ‘diset’ (direncanakan) sejak di pondokan haji di Indonesia atau dilakukan setelah tiba di sana. Dan saya juga jelas tidak tahu apakah ketika ibadah haji, mereka terpikir “Eh, pak A minta oleh2 ini, adik saya minta dibelikan ini…”

Yang jelas, sebaiknya lupakan berbelanja (oleh2), terutama jika terlalu banyak, untuk keluarga/rekan kita. Sudah banyak kok toko2 yg menjual oleh2 haji. Harganya pun tidak jauh berbeda. Bahkan banyak barang2 yg dijual di sana sebenarnya bukan made in Arab, tapi made in China ataupun made in Indonesia.

Nah, daripada anda sibuk berpikir oleh2, lebih baik pusatkan pikiran anda untuk beribadah haji. Rugi jika ternyata anda tidak bisa mencapai tingkatan haji yg mabrur.

Kebalikannya, ada juga jama’ah haji yg pergi haji untuk berdagang. Bapak saya pernah menyaksikan seorang jama’ah haji kedapatan membawa rokok kretek dalam jumlah besar. Setelah ditanya ini itu, ternyata jama’ah tersebut mengakui hendak menjual rokok kretek itu di Arab karena harganya bisa 5-10 kali dari harga Indonesia.

Yaahhh…menyedihkan sekali, mencampur adukkan ibadah yg suci dengan kotornya hati untuk berdagang/meraih keuntungan.

4. Yang berhaji dengan harta yang kotor
Nah, berhaji tipe ini banyak sekali kita temui di negara ini. Banyak pejabat yg (sudah menjadi rahasia umum) sering korupsi atau menyalahgunakan jabatannya, tiba2 pergi berhaji. Menangis bla bla bla…dan seterusnya…dan seterusnya.

Sesungguhnya berhaji dengan harta yg kotor (hasil dari perbuatan tidak halal) TIDAK AKAN DITERIMA. Berikut hadits yg menyatakan hal tersebut. Dalam sebuah kisah diriwayatkan dari oleh Abu Hurairah, Nabi bersabda bahwa jika seseorang pergi menunaikan haji dengan biaya dari harta yang halal, dan ketika ia mengucapkan “Labbaikallahumma labbaik” (Inilah aku datang memenuhi panggilanmu ya Allah), maka dilangit ia akan disambut: “Labbaika wa sa’daika, zadukal halal, warahilatukal halal, wahajjuka mabrurun ghairu ma’zurin” (Allah akan menyambut dan menerima kedatanganmu dan semoga kamu berbahagia! Perbekalanmu halal, kendaraanmu juga halal, maka hajimu mambrur dan tidak dicampuri dosa). Sebaliknya, jika seseorang menunaikan haji dengan hartanya yang haram, dan ketika ia mengucapkan: “Labbaikallahumma labbaik,” ia akan disambut di langit dengan ucapan: “La labbaika wa la sa’daika, zaduka haramun, wa nafaqatuka haramun, wa hajjuka ma’zurun ghairu ma’zurin” (Tidak diterima kedatanganmu dan kamu tidak akan berbahagia. Perbekalanmu haram, perbelanjaanmu dari harta yang haram, maka hajimu mengakibatkan dosa, dan jauh dari pahala).

Jadi, jika anda sudah punya niat berhaji, pastikan harta yg anda sisihkan untuk bekal haji adalah sebaik-baik harta. Tidak berasal dari perbuatan korupsi, sudah di-zakat-i, setidaknya 2 hal itu mesti dipenuhi.

5. Yang berhaji dengan memaksakan diri
Yang dimaksud dengan haji yg memaksakan diri adalah dia berhutang ke sana kemari untuk mendapatkan biaya berhaji. Terus terang, saya tidak punya rujukan yg pasti mengenai boleh tidaknya orang berhaji dengan harta pinjaman, ataupun dengan cara meminta bantuan (sumbangan) dari kaum muslim. Contoh yg terakhir ini pernah saya temukan di salah satu situs. Isinya meminta bantuan (harta tentunya) kepada kaum muslim, agar dirinya bisa naik haji. Dalil/dalih yg digunakan adalah dirinya jihad fi sabilillah.

Jika seseorang berhaji dengan uang pinjaman, namun tiba2 dia meninggal, nah, jelas hutangnya malah akan menjadi beban dirinya di akhirat. Terlebih jika keluarganya tidak mampu membayar hutangnya. Alih-alih ingin menjadi haji yg mabrur, ybs di akhirat kelak akan diminta pertanggung jawabannya ttg hutang yg dia pakai untuk berhaji.

Walhasil, merepotkan keluarganya di dunia dan dirinya di akhirat.

Sementara untuk contoh yg kedua, sebenarnya ‘boleh2′ saja seseorang minta sumbangan dari saudaranya untuk ongkos naik haji. Namun, menurut hemat saya, tindakan ini dilakukan jika ybs SUDAH BERIKHTIAR terlebih dahulu.

Contohnya begini. Saya sudah niat berhaji. Selama beberapa tahun, saya sudah rutin menyisihkan harta, dengan menabung dengan nominal tertentu. Target saya, dalam waktu 5 tahun ke depan saya sudah bisa mempunyai dana sebesar, katakanlah, Rp 40 juta untuk naik haji.

Namun, ternyata hingga 4 tahun 10 bulan, saya hanya bisa mengumpulkan Rp 35 juta. Nah, menurut saya pribadi (karena seperti saya jelaskan di atas, saya belum temukan referensi yg layak dijadikan pegangan) barulah saya ‘boleh’ mengirimkan ‘proposal’ kepada saudara2 muslim lainnya, meminta bantuan untuk menambahi ongkos naik haji.

Yg saya tidak setuju, jika saya sama sekali kondisinya 0 (tidak punya dana sedikitpun untuk jadi patokan) lalu tiba2 minta bantuan ke si A, B, C, dst. Kalau begini sih, sama saja dengan contoh saya ingin ‘jalan2′ tapi dibayari orang lain. :-)

6. Yang berhaji namun tidak memberikan manfaat
Dari sekian kritikan yg saya sampaikan, haji yg tidak memberikan manfaat saya tempatkan di bagian akhir. Ada alasan tertentu mengapa saya tempatkan di bagian akhir.

Banyak para jama’ah haji yg berhasil mengatasi poin 1-5 di atas. Namun, ternyata ybs tidak bisa (gagal?) menjadi haji bisa memberikan manfaat bagi masyarakat banyak. Sikapnya masih seenaknya, bersedekah atau berinfaq masih pelit dan pikir2, sholat berjamaahnya (sebagai simbol pergaulan/sosial) masih tambal sulam. Masyarakat sekitarnya pun tidak merasakan manfaatnya.

Saya masih senantiasa kagum dengan haji-haji jaman dulu, terutama di saat jaman penjajahan, yg usai pulang berhaji, mereka bisa menggerakkan semangat masyarakat untuk berontak dan berusaha mengusir penjajah. Menurut saya, merekalah orang2 yg layak mendapat ‘gelar’ haji yg mabrur, meski saya yakin mereka sebenarnya tidak butuh gelar2 seperti itu.

Sementara, para pak haji dan bu hajjah jaman sekarang? Saya masih berusaha berpikiran baik, bahwa mereka sudah banyak berkontribusi di tempat2 yg tidak saya ketahui, jauh dari publisitas, tidak ingin tampil di permukaan. Kritik2 yg saya sampaikan sekedar refleksi dari jama’ah haji yg, yaa…katakanlah, sudah tercemar dengan sikap materialistis dan racun penyakit dunia.

Selamat hari Raya Idul Adha, semoga para jama’ah haji yg akan pulang nanti akan bisa membawa perubahan (ke arah yg lebih positif) bagi bangsa Indonesia (dan dunia). Aamiin.

Bagi kita yg belum berkesempatan berhaji, tidak perlu kecil hati. Niatkan ingin berangkat, mulailah menabung, insya ALLOH segala sesuatunya akan dimudahkan-Nya.

November 22, 2008

Menemukan Jodoh Anda

Bismillah,

Seperti janji saya tempo hari, yang akan membahas tentang pernikahan, saya akan mulai dengan (menemukan) jodoh. Jadi, harap diperhatikan bahwa upaya menemukan jodoh di sini adalah DALAM RANGKA MENIKAH, bukan hal2 yg lain. ;-)

Jodoh merupakan salah satu dari sekian rahasia ALLOH SWT kepada makhluk-Nya (baca: manusia), di samping rejeki dan kematian.

Sebenarnya apa sih jodoh itu?

Banyak definisi tentang jodoh. Saya hanya akan menjelaskan definisi jodoh dengan pendapat pribadi saya, jadi akan banyak unsur subyektifitas dan ‘ngawur’ dalam definisi saya.

Jodoh, menurut saya, adalah pasangan (yg diikat dengan tali pernikahan, terutama secara agama/Islam), serta bersedia menemani sisa hidup kita, dalam suasana duka dan suka, tidak hanya di dunia namun juga di akhirat (terutama di surga).

Pertanyaan yg akan timbul, jika ada orang yg hingga meninggal, dia tidak menikah, berarti dia tidak punya jodoh?

Untuk hal ini, saya teringat dengan ucapan salah seorang guru saya. Beliau mengatakan bahwa ALLOH SWT menciptakan (ada) orang2 yg tidak diberi jodoh di alam dunia. Bagi mereka telah disiapkan jodoh di akhirat (baca: surga, jika mereka memang masuk surga kelak).

Saya ‘cut’ dulu untuk urusan jodoh di akhirat ini, kita akan bahas di lain waktu, insya ALLOH. Kini saya hendak fokus dulu pada jodoh di dunia.

Untuk menikah, tentulah mesti ada pasangannya. Nah, pasangan ini yg seringkali dianggap sebagai jodoh (termasuk pada definisi yg saya uraikan di atas).

Menemukan jodoh, sulit-sulit gampang. Ada yg menyebutkan, jodoh itu adalah orang yg kita rindukan setiap saat walau hanya bertemu sesaat. Ada juga yg menyebutkan, jodoh itu adalah orang yg membuat kita ingin menghabiskan sisa waktu hidup kita bersamanya. Bahkan ada yg menyebutkan, jodoh itu adalah orang yg sudah kita nikahi. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Khusus untuk pernyataan terakhir ini, mesti lebih berhati-hati. Jika kasusnya poligami, MUNGKIN saja itu jodohnya. Tapi jika kasusnya kawin cerai, nah…itu mesti lebih dicermati sebelum mengatakan bahwa pasangan nikahnya adalah jodohnya.

Banyak cara ALLOH SWT untuk mempertemukan seseorang dengan jodohnya. Ada yg di sekolah atau kampus kuliah (mungkin banyak yg mengalami hal ini). Ada yg bertemu di tempat kerja, bioskop, diskotik, masjid, atau bahkan gara-gara tabrakan atau bersenggolan.

Saya tidak akan membahas cara2 bertemu jodoh, karena itu merupakan rahasia-Nya. Namun saya bisa membantu anda cara menemukan jodoh kita dengan cara yg, insya ALLOH, baik.

Bagi laki2, kriteria jodoh (perempuan) yg hendak dia nikahi, ‘relatif mudah’ karena ada panduan dari Rasululloh SAW, dalam haditsnya yg terkenal. Rasululloh SAW menjelaskan ada 4 kriteria perempuan yg ‘boleh’ dinikahi (baca: dijadikan jodoh) oleh seorang laki2, yakni kecantikan, kekayaan, kehormatan (kedudukan), dan agama. Tapi nikahilah perempuan yg paling baik agamanya, karena lelaki itu akan beruntung. Hadits lengkapnya sebagai berikut: “Seorang wanita dinikahi karena empat hal : karena hartanya, kecantikannya, keturunannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya beruntung kedua tanganmu” (HR. Ahmad)

Bagi perempuan, dia juga berhak memilih lelaki yg hendak menikahinya. Meski tidak ada panduan ‘resmi’ dari Rasululloh SAW bagi perempuan, untuk kriteria calon suaminya, saya menggunakan panduan yg sama. Yakni, terimalah nikah seorang lelaki karena si lelaki taat beragama.

Lalu, bagaimana dan kapan bertemu jodoh?

Tidak ada pola ataupun cara yg ‘pasti’ untuk menemukan jodoh. Banyak cara yg dialami seseorang untuk menemukan jodohnya, terserah bagaimana ALLOH SWT berkehendak, seperti yg saya tulis di atas.

Namun, karena jodoh adalah sesuatu yg berharga, hendaknya dia (dicari dan) ditemukan dengan cara dan di tempat yg baik. Menggunakan ilmu pelet, mencari jodoh di tempat dugem, atau barangkali di tempat pelacuran, jelas bukan cara mencari jodoh yg ‘dianjurkan’. Karena dg cara (dan tempat) yg ‘tidak benar’, sulitlah kiranya kita bisa menemukan hal yg baik dan benar juga.

Beberapa teman menceritakan pengalamannya. Mereka menemukan jodohnya di tempat pengajian, di kampus, di tempat kerja. Intinya tempat2 yg ‘baik’ dan jauh dari hal2 yg (secara agama) dinilai tidak baik.

Lalu, kapan kita akan bertemu dg jodoh kita?

Nah, yg jelas kita mesti berusaha. Memperluas pergaulan, mencari informasi ini itu, merupakan salah satu ikhtiar kita. Jika kita sudah bertemu dg seseorang yg membuat hati kita (istilahnya) ‘deg’, BISA JADI itu adalah tanda bahwa kita sudah bertemu dg jodoh kita.

Saya sendiri bertemu dengan istri saya di kampus, saat kuliah.

Nah, bagaimana anda bertemu dg jodoh anda? Bagi yg belum bertemu, kini saatnya untuk mulai berusaha. :-)

October 12, 2008

Dibutuhkan: Komunitas Curhat (Muslim)

Masuk Kategori: Hikmah, Muamalah

Bismillah,

Sebagai seorang manusia, kesulitan hidup merupakan salah satu hal yg tidak mungkin dihindari. Kemiskinan, hutang, ujian tidak lulus, suami selingkuh, istri lari dari rumah, anak yg ugal2an, merupakan sebagian contoh dari kesulitan hidup tersebut.

Islam, sebagai solusi hidup, seringkali dilupakan. Akibatnya banyak orang stres dan mencari hal2 lain sebagai pelariannya. Mulai dari narkoba, sex bebas, hingga senjata pamungkas, bunuh diri, dijadikan solusi karena keterbatasan akal dan hati mereka untuk bisa mengatasi masalah yg dihadapi.

Sebagai contoh terakhir adalah bunuh dirinya seorang lelaki di masjid Istiqlal saat sholat Idul Fitri lalu. Dari beberapa berita yg saya baca, lelaki itu sempat mondar mandir berkali-kali sebelum melakukan bunuh diri. Dari hasil penyelidikan lebih lanjut, diketahui bahwa lelaki tersebut sedang mengalami kesulitan hidup. Saya yakin, pria tersebut sudah berada dalam keadaan linglung, dengan pikiran yg tidak fokus, cenderung mengambang.

Itu satu contoh.

Contoh lainnya, seorang anak yang mencari pelampiasan ke minuman keras dan narkoba, karena kondisi keluarganya yg sedemikian semrawut. Klise memang, tapi contoh dari anak tersebut sebenarnya tidak hanya terjadi di golongan kaya, tapi juga di golongan miskin. Paling berbahaya memang jika terjadi di golongan miskin, karena mereka tidak mempunyai uang untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Dari contoh kasus (yang sebenarnya masih banyak lagi contoh2 lain), sebenarnya yg dibutuhkan adalah komunikasi dan diskusi.

Manusia terkadang terlalu naif, bahwa masalah2 hidupnya bisa diatasi dengan materi. Padahal, sebenarnya lebih banyak lagi masalah yg bisa diselesaikan tanpa materi.

Maksudnya?

Kita ambil contoh orang yg bunuh diri itu. Sebenarnya, tindakan nekadnya itu bisa dicegah jika ada orang yg mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Barangkali tidak perlu memberi bantuan materi (uang), tapi bisa melampiaskan kekesalan dalam hati bisa jadi suatu hal lebih dari cukup.

Di beberapa negara maju, Amerika Serikat misalnya. Para pecandu narkoba bisa sembuh dari kecanduan, setelah mereka berkumpul dengan para pemakai, lalu masing2 curhat dan mengeluarkan unek2nya, dalam hal apapun. Masalah keluarga, pekerjaan, keuangan, dst dst dikeluarkan dalam grup itu. Mereka mengeluarkan isi hatinya, saling mendengar, saling memberikan solusi (meski hanya sekedar omongan) serta BERSIMPATI DAN BEREMPATI atas masalah yg diungkapkan rekan grupnya.

Dan hasilnya? Banyak para pecandu narkoba (dan minuman keras) yg akhirnya benar2 bisa sembuh.

Blog ini seringkali mendapat pertanyaan, baik berupa komentar ataupun email ke pemilik blog. Mereka mengeluhkan ini itu, bertanya ini itu. Mulai dari hal sepele, misalnya onani, keinginan nikah beda agama, dan banyak lagi.

Saya berusaha menjawab dan mencari solusinya, tentunya sebatas yang saya bisa (dengan sedikit ilmu yg saya ketahui). Dan seperti yg saya jelaskan di atas, kebanyakan dari mereka TIDAK BUTUH SOLUSI MATERI. Balasan 1-2 paragraf, yg menenangkan hati mereka, jauh lebih dibutuhkan.

Beberapa bahkan mengalami masalah keluarga yg sedemikian pelik, yg membuat saya menjadi (mesti) lebih banyak bersyukur lagi, karena jika saya yg mengalaminya, saya tidak yakin kuat menghadapi itu.

Sayangnya, saya belum menemukan komunitas curhat muslim, terutama muslim Indonesia.

Salah satu penyebabnya, ini baru prakiraan kasar saja:
1. Tidak ada uangnya.
Kondisi yg kian serba egois, materialistis, hedonis, membuat orang hanya berpikir materi sebagai solusi. Bahkan untuk mendengarkan pun, si ‘korban’ mesti mengeluarkan uang. Bukan berarti saya ‘menyalahkan’ para psikiater, karena mereka menuntut bayaran untuk curhat yg mereka dengar. Tapi, saya ‘menunjuk’ KITA….YA, SAYA DAN ANDA, yg barangkali tidak pernah berempati dan bersimpati kepada orang2 yg mengeluarkan curhat mereka pada kita, hanya karena anda tidak melihat keuntungan dari apa2 yg mereka ceritakan.

2. Bukan empati yg didapat, malah cacian, ancaman, dst.
Untuk poin 2 ini, saya hendak menyindir para ulama dan orang tua, yg begitu mudahnya marah dan mengeluarkan dalil2 ancaman neraka terhadap orang2 yg ‘tersesat’.

Sebagai contoh, ada 2 anak muda yg berzina hingga hamil. Bukannya berusaha untuk menenangkan hati keduanya, terlebih anak perempuan yg sudah hamil, para orang tua (dan juga ada ulama) malah memakai dalil untuk mencap para pezina ini sebagai penghuni nereka.

Ada juga yg bercerita, katakan V, bahwa dia dimusuhi banyak orang karena dianggap merebut suami orang. Gara2nya, si bos, yg naksir dia, adalah suami dari seorang ibu. Baik, katakanlah dia ‘merebut’ suami orang, tapi kita toh mesti melihat dari sisi lain, sisi si bos, yg malah ‘menjanjikan’ macam2 kepada V.

3. Perlakuan yg tidak adil.
Ini terkait juga dg no 2. Kita sering melakukan tindakan tidak adil kepada orang yg curhat dan membicarakan masalahnya. Jika yg cerita adalah ‘musuh’ kita, kita cenderung mengabaikannya. Atau malah memberi saran yg ‘menjebak’, dalam artian, malah membuatnya kian sengsara dan terjerumus dalam kejelekan.

Sementara jika teman dekat yg bermasalah, apapun kita lakukan.

Sebenarnya, saya punya keinginan untuk mendirikan satu grup untuk diskusi atau curhat tentang masalah mereka. Hanya saja, saat ini yg bisa saya lakukan hanyalah diskusi via email atau mengirim pesan singkat melalui instant messenger.

Mengapa saya ingin membuat grup itu? Tidak lain untuk menumbuhkan rasa simpati dan empati, serta pada akhirnya saya akan lebih banyak lagi bersyukur bahwa kita ternyata jauuuhhh lebih beruntung dari orang lain yg mengalami masalah yg lebih berat.

Semoga satu waktu nanti, impian saya ini bisa terwujud. :-)

Tapi setidaknya, mulai hari ini anda bisa mulai lebih bersimpati dan berempati pada orang2 yg curhat kepada anda.

September 14, 2008

Ibadah, Antara Kualitas dan Kuantitas

Bismillah,

Malam ini, usai saya sholat tarawih di sebuah masjid, dengan jumlah raka’at tarawih sebanyak 20 raka’at, saya merenung dan berpikir ulang mengenai ibadah. Perenungan dan pemikiran ulang mengenai ibadah muncul setelah saya melihat (kembali) praktik ibadah yg dilakukan oleh (sebagian besar?) umat Islam (mungkin saja dilakukan di banyak tempat, tapi saya fokuskan di Indonesia dahulu).

Seperti judul artikel ini, saya berpikir ulang mengenai ibadah, antara kualitas dan kuantitas. Sebenarnya, ibadah seperti apa yg diharapkan serta diperintahkan oleh ALLOH SWT (dan Rasul-Nya) kepada umat-Nya? Apakah berlomba-lomba memperbanyak sholat, haji, dst dst, ataukah hanya ibadah seperlunya (dan sesempatnya)?

Sebelum saya membahas lebih lanjut mengenai hal ini, saya ingin mengingatkan mengenai egoisme ibadah yg pernah saya tulis tempo hari. Dalam artikel itu, saya tuliskan bahwa ibadah kita hendaknya berorientasi kepada aspek sosial, tidak hanya kepada keinginan pribadi saja.

Lalu, apa hubungannya dengan kualitas dan kuantitas?

Begini, kita ketahui bahwa umat Islam (di Indonesia) masih banyak yg cenderung (dan silau) kepada ibadah dengan kuantitas sebagai titik acuan. Saya ambil contoh untuk memudahkan ilustrasi ini. Masyarakat (Muslim) Indonesia akan lebih menghormati orang-orang seperti berikut:
- Berulangkali naik haji
- Menyumbang/memberi dana pembangunan masjid dengan jumlah cukup besar
- Berqurban sekian belas kambing dan sapi
- Mampu membangun masjid di mana-mana
- Dan masih banyak lagi

Sementara, orang akan cenderung melecehkan (menganggap rendah) orang-orang yg:
- Bertutur sopan dalam bergaul
- Menghormati pendapat orang, apabila berdiskusi
- Bersedekah dari pendapatannya yg tidak seberapa
- Dan masih banyak lagi

Maka, jelas bukan bahwa “Pak Haji” akan semakin terkenal apabila dia berulangkali naik haji dan gemar menyumbang di sana sini. Sementara kaum ‘tidak berpunya’ seakan tidak ada ‘kesempatan’ untuk menjadi ‘terkenal’.

Tapi, jangan salah dulu. Keterkenalan dan hal2 lain itu, semuanya kan dalam pandangan manusia. Bagaimana dalam pandangan ALLOH SWT? Belum tentu orang yg berulangkali naik haji, hajinya termasuk dalam haji yg mabrur.

Sebuah cerita mengenai seorang hamba ALLOH SWT yg memilih mengorbankan bekal hajinya, untuk diberikan kepada tetangganya, yg karena perbuatannya itu haji seluruh orang di tahun itu diterima ALLOH SWT, merupakan salah satu contoh bahwa KUALITAS LEBIH PENTING DARIPADA KUANTITAS.

Tentu saja, idealnya, kualitas dan kuantitas berjalan beriringan. Karena itulah puncak keimanan dan ibadah dari seorang hamba ALLOH SWT.

Kembali kepada fenomena sholat tarawih yang saya alami.

Dalam sholat tarawih 20 raka’at, sebenarnya saya tidak ada masalah dengan jumlah raka’atnya. Sayapun seringkali sholat tarawih dengan berbagai macam jumlah, entah itu 8 atau 20 raka’at. Seperti yg pernah saya tulis di blog ini, mengenai jumlah raka’at sholat tarawih, semuanya mempunyai dalil yang sama kuatnya. Jadi, bukan hal yg penting untuk diperdebatkan, apalagi hingga mencapai tahap debat kusir, debat tidak berkesudahan tanpa nalar dan keinginan untuk mencari solusi.

Yang menjadi masalah, adalah perilaku imam2nya pada saat sholat. Mereka BEGITU CEPAT membaca Al Fatihah dan surat lainnya. Bahkan, saking cepatnya, sang imam sempat salah membaca Al Ikhlas.

Suatu hal yg menyedihkan, menurut saya. Apa sebab, DEMI MENGEJAR JUMLAH RAKA’AT, mereka (para imam) cenderung tidak mempedulikan lafazh dan KETARTILAN bacaan Al Qur’an. Padahal, insya ALLOH, semua jumlah raka’at tarawih akan diterima-Nya. Janganlah terlalu pusing dengan jumlah raka’at.

Dengan demikian, jelaslah bahwa kualitas ibadah itu lebih penting.

Lantas, jika begitu, ibadah bisa ’seenaknya’ dong? Kan, yg penting kualitas?

Nah, ini sikap yg salah juga, apalagi sampai mengambil kesimpulan seperti itu.

Sebuah cerita di jaman Rasululloh SAW, bisa menjadi contoh. Saya tidak ingat persis cerita lengkapnya, jadi saya akan ambil intinya saja. Tiga orang datang ke rumah Rasululloh SAW. Mereka bertemu dg Aisyah untuk bertanya tentang cara ibadah Rasululloh SAW.

Usai mendapat jawaban Aisyah, si A berkata bahwa dia akan sholat terus-terusan sepanjang sisa hidupnya. Si B berniat akan puasa terus dan tidak akan berbuka. Sementara si C berkata dia akan mendedikasikan hidupnya bagi ALLOH SWT dan tidak akan menikah.

Saat Rasululloh SAW mengetahui hal ini, beliau menasehati ketiga orang tersebut. Bahwa beliau beribadah itu SEIMBANG ANTARA KUALITAS DAN KUANTITAS. Beliau berkata, bahwa beliau sholat tapi juga ada waktunya untuk mencari dunia (kerja). Beliau tidak terus menerus berpuasa, tapi ada saatnya berbuka. Dan beliau tetap menikah, tidak lantas mengasingkan diri.

Sebagai penutup, saya ceritakan lagi sebuah hadits dari Rasululloh SAW. Amal (kebaikan) yang disukai ALLOH SWT ialah yang langgeng meskipun sedikit. (HR. Bukhari). Dalam hadits itu, kembali kita bisa baca secara gamblang, Rasululloh SAW tidak menyinggung JUMLAH, tapi KUALITAS.

Semoga kita tidak lagi terjebak untuk ‘membabi buta’ mencari kuantitas ibadah, sementara kualitasnya terbengkalai.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham