Tausyiah275

July 4, 2008

Orang Beriman PASTI Masuk Surga

Romadhoni : Dari Abu Said Al Khudri ra. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Allah memasukkan penghuni Sorga ke Sorga, Dia memasukkan orang yang di kehendakiNya dengan rahmatnya dan memasukkan penghuni Neraka ke Neraka, kemudian Dia berfirman : “Lihatlah orang yang kamu sekalian dapati di dalam hatinya iman seberat biji sawi, maka keluarkanlah ia”. Kemudian mereka dikeluarkan dari neraka seperti arang, mereka telah terbakar maka mereka dilemparkan di sungai hidup (Nahrul hayat), lalu mereka tumbuh di dalamnya, sebagaimana biji-bijian itu tumbuh di tanah yang dibawa banjir, tidaklah kamu melihatnya, bagaimana ia tumbuh dengan kuning emas”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Makna dari hadits di atas adalah siapa saja yg memiliki keimanan kepada ALLOH SWT, insya ALLOH dia akan dikeluarkan dari neraka.

Yang bisa menjadi diskusi di sini adalah siapa yg akan diselamatkan dari neraka? Apakah hanya orang Islam (yg beriman) ataukah juga termasuk orang2 non muslim, yg saat di dunia, pernah terbetik dalam hatinya bahwa mereka meyakini adanya ALLOH SWT (namun tidak pernah diumumkan)?

July 1, 2008

Keutamaan Sholat Berjama’ah, Shaf Pertama, dan Pahala Sholat Isya&Subuh

Romadhoni (6/24/2008 8:47:40 AM): Abu Hurairah radhiyallahu’anhu mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala azan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan undian, niscaya mereka melakukan undian itu. Seandainya mereka mengetahui pahala bersegera pergi menunaikan shalat, niscaya mereka berlomba-lomba kepadanya. Dan, seandainya mereka mengetahui pahala jamaah shalat isya dan subuh, niscaya mereka mendatanginya meskipun dengan merangkak.” [HR. Bukhari no. 341]

Makna dari hadits di atas:
1. Menjadi muadzin adalah hal yg mulia dan mempunyai keistimewaan dan keutamaan di sisi ALLOH SWT.

2. Jika melakukan sholat berjama’ah, bagi pria carilah dan raihlah shaf terdepan, karena merupakan sebaik-baik shaf. Sementara bagi perempuan, shaf terbaik adalah yg paling belakang. *silakan bacaa lagi di sini*

3. Apabila di dekat lokasi anda terdapat masjid, sebaiknya segera sholat berjama’ah apabila waktunya tiba.

4. Sholat Isya dan sholat Shubuh berjama’ah mempunyai keutamaan yg sangat besar.
*hadits dan nasehat ini terutama ditujukan pada diri saya pribadi, agar lebih bersemangat sholat berjama’ah*

June 27, 2008

Kiat Sehat Ala Rasulullah

Masuk Kategori: Hikmah

Bismillah,

Dari kotak surat, saya dapatkan email berikut. Semoga berguna

1. SELALU BANGUN SEBELUM SUBUH
Rasul selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelum subuh, melaksanakan sholat sunah dan sholat Fardhu,sholat subuh berjamaah. Hal ini memberi hikmah yg mendalam antara lain :
- Berlimpah pahala dari Allah
- Kesegaran udara subuh yg bagus utk kesehatan/ terapi penyakit TB
- Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan

2. AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN
Rasul selalu senantiasa rapi & bersih, tiap hari kamis atau Jumaat beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi. “Mandi pada hari Jumaat adalah wajib bagi setiap orang-orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan memakai harum-haruman”(HR Muslim)

3.TIDAK PERNAH BANYAK MAKAN
Sabda Rasul :“Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan)”(Muttafaq Alaih)

Dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk 3 benda :
Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan.Bahkan ada satu tarbiyyah khusus bagi ummat Islam dengan adanya Puasa Ramadhan untuk menyeimbangkan kesehatan

4. GEMAR BERJALAN KAKI
Rasul selalu berjalan kaki ke Masjid, Pasar, medan jihad, mengunjungi rumah sahabat, dan sebagainya. Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir,pori-pori terbuka dan peredaran darah akan berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung

5. TIDAK PEMARAH
Nasihat Rasulullah : “Jangan Marah”diulangi sampai 3 kali. Ini menunjukkan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatan jiwa. Ada terapi yang tepat untuk menahan marah :
- Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka duduk, dan bila duduk maka berbaring
- Membaca Ta ‘awwudz, karena marah itu dari Syaithon
- Segeralah berwudhu
- Sholat 2 Rokaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan kegundahan hati

6. OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA
Sikap optimis akan memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar, istiqomah dan bekerja keras, serta tawakal kepada Allah SWT

7. TAK PERNAH IRI HATI
Untuk menjaga stabilitas hati & kesehatan jiwa, mentalitas maka menjauhi iri hati merupakan tindakan preventif yang sangat tepat.

::Ya Allah,bersihkanlah hatiku dari sifat sifat mazmumah dan hiasilah diriku dengan sifat sifat mahmudah…::

June 24, 2008

Beranikah MUI Mengeluarkan Fatwa Melarang Merokok?

Masuk Kategori: HOT NEWS, Hikmah, Lain-lain

Bismillah,

Masalah rokok ternyata menjadi hal pelik bagi umat Muslim di Indonesia, meskipun bahaya rokok sudah cukup sering dan gencar disampaikan oleh pihak kesehatan. Pelik di sini dalam artian, tidak ada ‘keberanian’ (jika boleh dikatakan demikian) dari pihak ulama (MUI) untuk menyikapi hal ini.

Beberapa hal yg senantiasa dijadikan ’senjata’ untuk menentang pelarangan rokok adalah:
- Industri rokok memberikan pemasukan yg cukup tinggi bagi negara.
- Banyak keluarga yg menggantungkan hidupnya dari industri rokok, mulai dari penjual rokok, maupun pekerja kasar di industri rokok.
- Tidak ada dalil (baca: hadits Rasululloh SAW) mengenai larangan merokok.

Padahal, rokok sudah jelas-jelas merupakan hal yg mubadzir. Tidak ada kebaikan dalam merokok, kecuali menambah penyakit ke dalam tubuh serta membuat paru-paru kita rusak.

“Ah, ga merokok juga bakal mati.”
“Lho, si bapak A, meski perokok berat, umurnya ternyata lebih panjang dibanding bapak B yg ga merokok.”
“Emangnya sampeyan siapa, berani bilang umur perokok lebih pendek? Sampeyan Tuhan ya?”
“Ah, anda ini kan bukan ulama. Ulama saja banyak yg merokok, dan mereka punya umur yg panjang.”
“Merokok itu kan makruh, tidak sampai haram. Buktinya, masih banyak ulama yg merokok!”

Wah, terus terang, dengan berondongan bantahan seperti itu (dan bantahan2 lain), saya tidak bisa ‘membalas’nya. Terutama karena saya memang bukan ALLOH SWT, Tuhan yg mengetahui dan menetapkan umur seseorang serta menentukan bagaimana seseorang itu mati.

Selain itu, contoh dari para ulama/kiai, jelas memberikan dampak psikologis yg cukup besar, terutama bagi para umat (terlebih yg fanatik). Dalam hal ini, ulama, terlebih yg tergabung dalam MUI, mestinya memang WAJIB MEMBERI CONTOH serta MENG-SOSIALISASIKAN bahaya merokok serta upaya untuk berhenti merokok.

Bagi saya sendiri, rokok tidak bisa dikategorikan sebagai makruh, karena ’sifatnya’ yg merusak tubuh, tidak hanya pada dirinya sendiri, namun juga pada orang lain (perokok pasif). Makruh, ini juga pendapat saya, memang tepat ‘diberikan’ kepada jengkol dan petai, yg meski mengganggu orang lain tapi tidak sampai level merusak tubuh (membawa kematian).

MUI, dalam mengeluarkan fatwa, menurut saya, semestinya tidak harus menunggu ‘complaint’ atau keluhan/pengaduan dari masyarakat. Toh, para ulama yg tergabung di MUI, saya yakin banyak yg pintar. Hanya saja, seperti saya sebutkan di atas, apakah para ulama itu sudah memberikan contoh?

Dalam Al Baqarah(2):168, ALLOH SWT sudah memberikan saran kepada manusia agar makanan yg BAIK (THAYYIB), tidak sekedar halal. “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Juga ada teguran dari-Nya, agar kita tidak membinasakan diri,“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” Al Baqarah(2):195.

Dan jelas, bagi umat Muslim, terlebih ulama, menyuruh sesuatu (kebajikan) sementara dirinya belum mengerjakannya, teguran ALLOH SWT sudah cukup jelas,“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? — Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” As-Shaf(61):2-3.

Jadi, kapan MUI akan mengeluarkan fatwa (larangan) merokok ya?

June 18, 2008

Islam dan Sihir

Bismillah,

Sihir atau ilmu gaib adalah sebuah ilmu yg dilarang dipelajari di dalam Islam. Kita bisa dapati hal ini dalam Al Qur’an dan hadits Rasululloh SAW.
- “Mereka belajar suatu ilmu yang membahayakan diri mereka sendiri dan tidak bermanfaat buat mereka.” (Al Baqarah(2): 102)

- “Jauhilah tujuh perkara besar yang merusak. Para sahabat bertanya: Apakah tujuh perkara itu, ya Rasululloh? Jawab Nabi, yaitu: 1) menyekutukan ALLOH SWT; 2) sihir; 3) membunuh jiwa yang oleh ALLOH SWT diharamkan kecuali karena hak; 4) makan harta riba; 5) makan harta anak yatim, 6) lari dari peperangan; 7) menuduh perempuan-perempuan baik, terjaga dan beriman.” (HR Bukhari dan Muslim)

Di jaman sekarang, sihir tidaklah hilang. Dia masih ada, karena masih ada orang (sesat) yg mempelajari dan mengamalkannya. Juga masih ada orang2 yg percaya pada sihir. Banyak sekali contohnya, orang sakit berobat ke dukun minta jampi2. Ada juga orang yg ingin pintar, ingin kaya, mencari jodoh, semuanya datang ke paranormal untuk konsultasi dan minta solusi. Padahal sebenarnya solusi yg diberikan para dukun dan paranormal itu tidaklah berdasar. Namun demikian, pikiran manusia kadang irrasional, bahkan banyak para pejabat yg minta ilmu ini itu demi menjaga kelangsungan jabatan mereka dan senantiasa menang dalam pemilihan.

Selain itu, dukun dan paranormal seringkali ditanya mengenai skor sepakbola (selagi ramai piala Eropa), lalu ditanya juga mengenai barang2 yg hilang. Padahal semuanya itu tidak ada pengetahuan pada dukun tersebut!

Rasululloh SAW sendiri telah jelas-jelas menyatakan bahwa pergi ke dukun atau paranormal adalah HAL YG HARAM!
- “Tidak termasuk golongan kami, barangsiapa yang menganggap sial karena alamat (tathayyur) atau minta ditebak kesialannya dan menenung atau minta ditenungkan, atau menyihir atau minta disihirkan.” (HR Bazzar dengan sanad yang baik)

- Ibnu Mas’ud juga pernah berkata:”Barangsiapa pergi ke tukang ramal, atau ke tukang sihir atau ke tukang tenung, kemudian ia bertanya dan percaya terhadap apa yang dikatakannya, maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.” (HR Bazzar dan Abu Ya’la dengan sanad yang baik)

- “Tidak akan masuk sorga pencandu arak, dan tidak pula orang yang percaya kepada sihir dan tidak pula orang yang memutuskan silaturrahmi.” (HR Ibnu Hibban)

Sihir mempunyai berbagai bentuk, di antaranya adalah santet dan pelet.

Pelet sendiri adalah usaha dari seseorang (laki-laki atau perempuan) untuk mendapatkan perhatian/kasih sayang (atau dicintai) dari lawan jenisnya dengan cara2 yg tidak masuk akal. Ada yg mesti mengambil rambut lawan jenisnya sebanyak 7 helai, atau mesti mengambil baju dalam, dst dst. Dari caranya saja, kita sudah bisa ambil kesimpulan bahwa hal tersebut jelas2 tidak masuk akal dan bertentangan dengan nalar manusia normal (sehat jiwanya).

Namun demikian, pelet masih seringkali dicari, terutama oleh kaum muda yg merasa cintanya tidak kesampaian. Jadi, jangan heran, jika ada ungkapan “Cinta ditolak, dukun bertindak” *terbahak-bahak*. Namun ini demikian adanya. Anda bisa lihat di banyak media (terutama koran) mengenai praktik pelet memelet ini.

Sementara untuk santet (atau tenung), hal seperti ini merupakan hal yg sulit dipercaya meski kita masih bisa jumpai hal2 seperti itu. Ada beberapa kejadian yg pernah dialami oleh teman dan kerabat saya:
- Ibunya ditenung/disantet hingga meninggal. Pada saat hendak meninggl, dari kepalanya keluar barang2 yg aneh seperti paku, pecahan kaca.

- Seorang teman, saat dipijat, mendadak dari punggungnya keluar pecahan beling.

Sebenarnya masih ada beberapa cerita lain, namun tidak perlu saya tulis di sini.

Lantas, bagaimana sikap kita?

Saudara2ku, kita TIDAK PERLU TAKUT dengan sihir! ALLOH SWT sudah memberikan cara agar kita terlindung dari perbuatan sihir, sebagaimana kita bisa baca di Al Falaq(113):4, “(Dan aku berlindung diri) dari kejahatan tukang meniup simpul.” Meniup simpul di sini adalah perbuatan sihir yg biasa dilakukan di jaman Rasululloh SAW.

Hal lain yg bisa kita lakukan adalah memperbanyak dzikir, bersedekah, berbuat baik kepada orang lain. Dengan dzikir, pikiran kita akan senantiasa ‘terhubung’ dengan ALLOH SWT, sehingga mempersulit hal2 lain, karena ALLOH SWT (insya ALLOH) akan selalu menjaga kita. Sementara bersedekah sesungguhnya menolak bala, sebagaimana sabda Rasululloh SAW,“Bersegeralah untuk bersedekah. Sebab, yang namanya bala tidak bisa mendahului sedekah.” Sementara dengan berbuat baik kepada orang lain, maka kebaikan (insya ALLOH) akan datang juga kepada kita (aamiin).

Semoga kita bisa terhindar dari sihir.

May 17, 2008

Bacaan Di Akhir Pekan - Keajaiban Sedekah dan Rezeki

Masuk Kategori: HOT NEWS, Hikmah, Dari Inboxku

Bismillah,

Dari inboxku, aku dapatkan cerita berikut. Semoga bermanfaat…

Oleh Muhammad Rizqon

Saat itu Lihan (34) hendak menyelenggarakan halal bihalal dengan 1428 anak yatim dan panti asuhan di Banjarmasin. Ia akan mengundang seorang ustadz kondang dari Jakarta. Namun sampai menjelang hari H, uang belum tersedia.

Hatinya makin galau ketika pihak event organizer meminta kepastian. Iseng-iseng, ia pergi ke bank mengecek rekening. Ajaib, ada uang Rp 1 miliar di dalamnya. Ia mengecek ke petugas bank kalau-kalau ada salah transfer, ternyata tidak. Namun nama pengirimnya “gelap”. Tak hanya sekali saja. Keesokan harinya, uangnya bertambah Rp 1 miliar lagi. “Sampai saat ini orang yang mengirim uang ke rekening saya tidak tahu, ” ujarnya. Padahal untuk membiayai acaranya, ia hanya butuh uang Rp 200 juta.

Itulah penggalan kisah keajaiban sedekah yang dimuat di koran nasional terbitan jum’at 25 April 2008 lalu.

***

Saat itu, kondisi keuangan kami lagi sangat menipis. Situasi ekonomi dan bisnis tengah dilanda kelesuan. Harga barang-barang menjadi meningkat sementara nilai real uang yang tersedia menjadi kecil. Pendapatan yang dulunya cukup untuk memenuhi kebutuhan, karena krisis ekonomi, menjadi tidak cukup lagi. Dalam situasi seperti itu, berhemat dan menekan nafsu terhadap kebutuhan yang kurang penting menjadi pilihan yang cukup bijaksana, selain mengupayakan sumber pendapatan lain yang bisa digali.

Di tengah keprihatian atas kondisi krisis saat itu, suatu ketika, isteri meminta tolong saya untuk mengecek saldo rekening di ATM. Seperti biasanya, saya selalu menanyakan siapa kira-kira yang akan mentranfer uang dan berapa jumlahnya. Dan biasanya pula, isteri selalu bisa menyebutkan siapa kira-kira yang akan mentransfer uang dan berapa jumlahnya. Hal tersebut dimungkinkan mengingat beberapa hari sebelumnya isteri telah memberitahukan kepada pelanggan (yang mengambil barang) kapan saat jatuh tempo pembayarannya dan berapa jumlah nominalnya. Namun kali itu, tanpa ada alasan yang rasional, isteri meminta saya mengecek saldo rekening dengan alasan “siapa tahu ada pelanggan yang transfer”, padahal tidak ada satupun yang memberitahu akan mentransfer sejumlah dana karena belum jatuh tempo pembayaran.

Saya menjadi tidak semangat memenuhi permintaannya itu. Meski demikian saya tetap melaksanakannya demi menjaga perasaan dan membahagiakan dirinya. Ketika saya mendapat giliran melakukan transaksi di mesin ATM setelah mengantri cukup lama, saya mendapati hal yang sesuai saya duga: tidak ada penambahan apapun di rekening isteri saya. Astaghfirullah al-adzim.

***

Kisah saya dan Lihan di atas adalah menampilkan fragmen kehidupan yang sama, yaitu sama-sama melakukan pengecekan atas saldo rekening ketika dihadapkan pada kesulitan keuangan. Bedanya, Lihan mendapati ada transferan dana sejumlah Rp 2 Miliar, sedangkan saya tidak mendapati transferan dana apapun, alias Rp 0 Miliar.

Kisah Lihan yang dimuat di koran nasional itu, mengisyaratkan sebuah pesan akan keajaiban sebuah sedekah. Uang sejumlah Rp 2 Miliar yang diterima Lihan dari orang yang tidak dikenal itu adalah balasan Allah Swt atas sedekah yang pernah dia lakukan sebelumnya.

Namun orang yang mengalami kisah sebaliknya —seperti saya dan isteri, tidak adanya transferan dana yang spektakuler dan tanpa terduga, tidak berarti Allah SWT tidak memenuhi janjinya dalam membalas orang-orang yang melakukan sedekah. Saya yakin banyak orang yang melakukan sedekah seperti halnya Lihan. Namun sangat sedikit orang yang mendapat kejutan seperti dirinya. Lantas apakah sedekah mereka tidak menemukan pembalasannya?

Balasan Allah Swt atas sedekah yang dilakukan orang tidak harus berupa uang tunai. Bisa jadi berupa terhindarnya seseorang yang penyakit atau mara bahaya, atau perasaan tentram di dalam jiwa, atau kehidupan yang penuh dengan keberkahan dan kemanfaatan, dan lain-lain, yang apabila dikonversi dengan uang boleh jadi akan bernilai Rp 1 Miliar atau bahkan lebih.

***

“Akh, antum mau kaya ga?” demikian seorang sahabat berujar kepada saya suatu hari. Kemudian ia melanjutkan, “Menjadi kaya itu gampang kok. Coba antum ingin uang berapa? Katakanlah Rp 1 millar. Berarti antum harus sedekah sebedar Rp 100 juta, karena pahala sedekah itu akan dilipatkan minimal sepuluh kali lipat!. Bahkan di Al-quran pahala sedekah ini akan dilipatkan menjadi minimal 700 kali lipat (QS 2:261). Ini adalah janji Allah, dan janji Allah itu pasti benar adanya.”

Saya menjadi tercenung beberapa saat. Hati saya bertanya, “apakah semudah itu?”. Saya tidak pernah menyangsikan keajaiban sedekah, tetapi saya tidak mengartikan bahwa sekedah harus berbalas dengan wujud materi. Jika memang harus demikian, tentu kita akan mendapati Rasulullah Saw yang senantiasa menyedekahkan seperlima dari harta rampasan perang, tentu akan memiliki harta yang berlipat. Demikian pula sahabat Abu Bakar Ash Shidiq yang pernah menyedekahkan seluruh hartanya, atau Usman Bin Affan yang menyedekahkan separoh hartanya, atau Umar bin Khattab yang menyedekahkan sebagian besar harta beliau, mereka tentu akan berlipat hartanya dengan sedekah yang dilakukannya. Namun kenyataannya mereka tetap hidup bersahaja. Meski demikian, kita tidak pernah menyangsikan bahwa ketaqwaan mereka sungguh teramat luar biasa. Dan mereka adalah sahabat-sahabat yang dikabarkan oleh Rasululllah Saw sebagai calon penghuni surga. Subhanallah.

Sedekah adalah pembukti iman. Manakala sedekah yang dilakukan seseorang itu ikhlas tanpa mengharap apapun selain keridhaan Allah Swt, maka sedekah yang dilakukannya menjadi saksi atas kebenaran imannya. Namun demikian, tidak sedikit kita menjumpai orang-orang yang bersedekah demi mengharap balasan dunia. Sedekah model begini bukan justru akanmenyelamatkan hidupnya, melainkanakan menjerumuskannya dalam sebuah dosa yang berakibat menghilangkan keberkahan hidup didunia dan ancaman kehidupan yang menyengsarakan di akhirat.

Atas maraknya fenomena bersedekah seperti saat ini, sebagaimana tergambar dalam sinetron-sinetron atau kisah-kisah keajaiban sedekah, saya mensyukurinya sebagai pemacu semangat bagi orang yang memiliki kelebihan harta untuk senantiasa melakukan sedekah hartanya. Namun pada sisi lain, timbul sebuah kekhawatiran, kisah-kisah itu dijadikan bukti dan legitimasi bahwa Allah SWT akan membalas sedekah secara tunai berujud kelipatan sejumlah uang yang disedekahkan. Padahal lipatan balasan itu tidak harus berujud demikian atau akan langsung diberikan di dunia ini.

Ada suatu kisah di mana orang yang melakukan kemaksiatan meyangka dirinya melakukan ketaatan kepada Allah Swt. Ada pula kisah orang yang sedang dibiarkan dalam kesesatan menyangka dirinya mendapat kemuliaan di sisi Allah Swt. Kita patut berhati-hati menyikapi hal-hal yang serupa dengan hal ini. Oleh karenanya, janganlah bersedekah dengan mengharap lipatan harta di dunia. Andaipun Allah Swt memberikan lipatan harta di dunia ini, berhatilah-hatilah untuk mengatakan bahwa itu adalah hasil dari sekedah yang kita lakukan.

Siapa tahu Allah Swt sedang menguji kita.

Ada baiknya kita menyimak pendapat Prof. Dr. M. Mutawalli Asy Sya’rawi bahwa rezeki itu (apa yang diperoleh manusia)– seperti halnya semua takdir Allah yang lain- berjalan dengan hikmah kebijaksanaan yang tinggi yang tidak kita pahami.

Waallahua’lam bishshawaab

Cerita lain tentang sedekah bisa dibaca di sini.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham