Tausyiah275

September 23, 2009

Puasa Syawal, Susah Atau Mudah?

Bismillah,

Pertama-tama, saya ucapkan Selamat ‘Idul Fitri 1430 H. Taqabballahu Minna Wa Minkum, Shiyamana Wa Shiyamakum. Maaf lahir dan batin untuk segala kesalahan yang pernah saya lakukan di blog ini, facebook, ataupun di yahoo messenger. :-) Semoga di 11 bulan berikutnya, kita bisa mempertahankan semangat Ramadhan hingga kita bertemu lagi dengan bulan mulia itu. Aamiin :-)

Puasa Syawal adalah ibadah yang bisa dilakukan di bulan Syawal, sebagai upaya untuk menyempurnakan shaum Ramadhan yang telah kita lakukan. Anda bisa membaca artikelnya di sini.

Pertanyaan yang timbul, apakah puasa Syawal itu mudah atau susah?

Mengapa ada pertanyaan seperti itu? Karena walaupun puasa Syawal itu ‘hanya’ 6 hari, jauh lebih pendek jika dibandingkan dengan puasa Ramadhan yang 29-30 hari, namun bagi kebanyakan kaum muslim, puasa Syawal ini dirasa sangat berat untuk dilakukan. Hal ini, jika dipikir secara logika, memang benar. Dilihat dari jumlah hari, puasa Syawal itu mudah, tapi kenyataannya sulit dilakukan.

Apa pasal puasa Syawal (cenderung) sulit dilakukan?

Ada beberapa penyebab mengapa puasa Syawal cenderung sulit (dan enggan) dilakukan.

Pertama, kaum muslim merasa dirinya baru bebas dari kewajiban puasa Ramadhan. Mereka beranggapan puasa di bulan Ramadhan sudah cukup sebagai sarana ibadah, terutama untuk puasa di bulan lain tidak terlalu penting. Walhasil, mereka merasa tidak perlu menuaikan puasa Syawal.

Kedua, bisa jadi kaum muslim tidak mengetahui manfaat dari puasa Syawal. Manfaat puasa Syawal adalah untuk menyempurnakan ibadah puasa yang telah dilakukan di bulan Ramadhan. Sebagaimana sabda Rasululloh SAW, dari Abu Ayyub rodhiyallahu anhu: “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup’.” [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164] Selain itu, anda bisa baca kembali poin 1.

Ketiga, masalah kebersamaan. Puasa Ramadhan terasa lebih mudah dilakukan karena orang-orang di sekeliling anda juga berpuasa. Sementara untuk puasa Syawal, anda akan berpuasa sementara orang-orang lain cenderung tidak berpuasa. Adalah hal yang aneh, jika di Indonesia, yg mayoritas penduduknya beragama Islam, sulit untuk puasa sunnah. Bagi orang-orang yg pernah tinggal di negara non muslim, saya yakin akan lebih mudah untuk menuaikan puasa sunnah, karena mereka sudah terbiasa puasa di tengah-tengah orang yang tidak berpuasa. Terlebih bagi kaum muslim di Jakarta, yg sehari-hari mesti berhadapan dg cuaca cukup panas dan teriknya matahari.

Nah, menurut anda sendiri, puasa Syawal mudah atau sulit?

August 20, 2009

Bersih-bersih Dan Mandi Menjelang Ramadhan

Masuk Kategori: Fiqh, Seri Kesalahan2, Puasa

Bismillah,
Salah kaprah lain yang sering dilakukan kaum muslim Indonesia adalah beramai-ramai mandi dan keramas menjelang Ramadhan tiba. Tradisi ini biasanya dilakukan selambatnya 1 hari menjelang Ramadhan. Jadi, misalnya tahun ini Ramadhan dimulai hari Sabtu tgl 22 Agustus 2009, maka Jum’at malam (21 Agustus 2009) kita akan banyak mendapati banyak kaum muslim mandi malam atau bahkan memadati kolam dan mandi di sana. Bahkan ada yang rela mandi pagi dan bersih-bersih (jam 3 pagi) di hari pertama Ramadhan agar tidak ketinggalan tradisi ini.

Saya hanya bisa tertawa saja melihat tingkah laku saudara seiman ini. Mereka begitu jor-joran untuk bersih-bersih (mandi, berendam, atau apapun itu) secara fisik menjelang Ramadhan, namun seringkali bersih-bersih secara mental/rohani cenderung dilupakan. Bahkan tidak sedikit yang sibuk bersih-bersih di awal Ramadhan, namun ternyata ibadah shaumnya tidak jelas nasibnya.

Hal yg membuat miris adalah bercampurnya (di dalam kolam) antara laki-laki dan perempuan. Bahkan di beberapa tempat, kumpul2 ini dg baju yg minim, bahkan ada yg (maaf) hanya model sarung dan (maaf lagi) menonjolkan bagian2 tertentu tubuhnya, yg bisa mengundang syahwat. :-(

Jelas sekali bahwa perbuatan ini (bersih2 menjelang bulan Ramadhan, apalagi sampai bercampur laki-perempuan bukan mahram) tidak pernah diajarkan dalam Islam.

Yang ingin saya tekankan di sini, bersih-bersih (fisik) menjelang Ramadhan bukanlah hal yang terlalu penting. Lebih penting menyiapkan diri untuk fokus beribadah pada saat Ramadhan.

Salah kaprah lainnya adalah bermaaf-maafan menjelang Ramadhan dan Lebaran.

August 18, 2009

Niatnya Wangi Kesturi, Tapi…

Bismillah,

Ramadhan sudah di depan mata. Tidak terasa kita sudah didatangi (lagi) untuk yang kesekian kalinya oleh tamu yang agung ini. Tamu yang begitu memuliakan kita, big sales yang tidak ada duanya, bahkan membuat kita selalu merindukan Ramadhan.

Ada beberapa hal yang selalu menjadi ganjalan pikiran saya setiap Ramadhan. Kali ini saya ketengahkan artikel tentang SALAH PAHAM orang tentang BAU MULUT YANG SEWANGI KESTURI.

Hadits lengkapnya adalah sebagai berikut:
Abu Hurairah r.a, berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman, (dalam satu riwayat: dari Nabi, beliau meriwayatkan dari Tuhanmu, Dia berfirman 8/212), “Setiap amal anak Adam itu untuknya sendiri selain puasa, sesungguhnya puasa itu untuk Ku (dalam satu riwayat: Tiap-tiap amalan memiliki kafarat, dan puasa itu adalah untuk Ku 8/212), dan Aku yang membalasnya. Puasa itu perisai. Apabila ada seseorang di antaramu berpuasa pada suatu hari, maka janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak (dan dalam satu riwayat: jangan bertindak bodoh 2/226). Jika ada seseorang yang mencaci makinya atau memeranginya (mengajaknya bertengkar), maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa.’ (dua kali 2/226) Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah adalah lebih harum daripada bau kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang dirasakannya. Yaitu, apabila berbuka, ia bergembira; dan apabila ia bertemu dengan Tuhannya, ia bergembira karena puasanya itu.”

Nah, hadits di atas seringkali DISALAH ARTIKAN dan DISALAH PAHAMI oleh banyak orang. Mereka TIDAK MENJAGA KEBERSIHAN DAN KEHARUMAN MULUTNYA. Akibatnya, seringkali kita alami, saat bulan puasa jika kita berbincang-bincang (atau bahkan sekedar buka mulut) terasa sekali bau mulut yang tidak enak, bahkan memusingkan dan bisa membuat kita mual.

Hendak menegur mereka, seringkali kita merasa tidak enak. Namun jika mereka ditegur, mereka selalu menggunakan dalil hadits di atas. “Lho, bau mulut ini ga enak kan menurut anda, kalo menurut ALLOH SWT bau mulut saya ini lebih wangi dari bau kasturi lho.”

Hal ini terjadi karena mereka tidak mau gosok gigi atau membersihkan mulut mereka. Selain dengan alasan hadits di atas, juga ada anggapan dan salah pemahaman bahwa saat puasa itu DILARANG UNTUK GOSOK GIGI!

Padahal jika kita merujuk ke kitab-kitab manapun, tidak ada hadits Rasululloh SAW yg melarang menggosok gigi (siwak). Hanya saja, yg mesti diperhatikan adalah JANGAN MENELAN AIR KUMUR DG SENGAJA!

Nah, bagi sebagian saudara kita, mereka memilih tidak gosok gigi dg alasan takut menelan air kumur. Padahal jika kita berniat dan sungguh-sungguh, kita sebenarnya bisa gosok gigi (dan berkumur) dengan hati-hati dan tidak sampai tertelan air kumurnya.

Anda bisa bayangkan jika semua orang memilih tidak memperhatikan kebersihan mulutnya selama puasa, lalu anda ajak bercakap-cakap, bwehhhh…bau mulutnya akan terasa mengganggu sekali. Bau mulut sendiri saja kadang kita tidak tahan, apalagi bau mulut orang lain. ;-)

Saya sendiri, alhamdulillah, tidak terlalu takut untuk gosok gigi selama puasa (dan di bulan Ramadhan). Bahkan saya kenal dg 1 rekan kerja yg selalu membawa sikat gigi dan odol. Sebelum wudhu, dia selalu gosok gigi, sekalipun di bulan puasa. Posisinya sebagai manajer, sehingga memang penampilan cukup penting. Tapi alasannya bukan karena penampilan (duniawi), tapi karena baginya sikat gigi merupakan hal ‘wajib’.

Anda sendiri bagaimana? Masih tidak mau gosok gigi dg alasan takut menelan air kumur, tapi dengan demikian anda berarti ‘menyengsarakan’ orang2 sekitar anda (terutama yg anda ajak obrol)? Atau anda mulai punya kesadaran bahwa wangi kasturi bisa didapat walau mulut anda senantiasa dijaga kebersihannya? ;-)

August 31, 2008

Ramadhan Menjadi Bulan Mengumbar Nafsu

Bismillah,

Malam ini, saya mengantar istri tercinta berbelanja untuk keperluan sahur besok pagi. Sebagaimana kita ketahui, bahwa mulai besok, insya ALLOH kita akan mulai menjalankan ibadah shaum selama 1 bulan penuh.

Kami berniat (dan ternyata memang) belanja tidak banyak. Satu ekor ayam, telur 1/2 kg, nugget serta beberapa keperluan lain, seperti tissue, hanya belanja itu, tidak lebih dan tidak kurang. Bukan karena tanggal tua sehingga kami mesti berhemat, tapi lebih karena saya memang sudah meminta istri saya untuk tidak banyak belanja.

Saat berbelanja di sebuah toko swalayan itu, saya mendapati begitu banyak orang2 ramai2 memborong. Mulai dari ayam sekian ekor, mie instan sekian banyak, buah, bla bla bla. Menyaksikan itu semua, saya hanya bisa tertegun dan merenung.

Ternyata masih banyak di antara kita, sesama muslim, yg masih salah memaknai Ramadhan (ibadah shaum). Ibadah shaum, sebagaimana diketahui, mempunyai salah satu tujuan untuk LEBIH BEREMPATI dengan KAUM MISKIN (tidak berpunya), yg selama ini sulit untuk makan dan minum.

Namun, apa yg saya lihat, aksi borong dan belanja, yg menurut saya, berlebihan, malah lebih diminati dan menjadi ‘tujuan’ dari banyak kaum muslim. Setidaknya hal ini yg sudah saya lihat di malam ini.

Padahal, sebenarnya untuk menjalankan ibadah shaum tidaklah perlu dengan sikap yg berlebihan dengan belanja barang2 kebutuhan. Karena pada hakikatnya, ibadah shaum ‘hanya’ memindahkan waktu/jadwal makan saja. Sisa waktu (mestinya) lebih banyak diisi dengan ibadah atau sejenisnya.

Akibat dari aksi borong dan perasaan istimewa terhadap ibadah shaum (yg sebenarnya salah kaprah) sudah jelas, MEMBENGKAKNYA ANGGARAN RUMAH TANGGA. Anda bisa baca kembali artikel yg saya buat dan tulis 2 tahun lalu. Artikel tersebut, insya ALLOH, akan selalu sesuai dengan kondisi kaum muslim (terutama di Indonesia), selama paradigma kaum muslim terhadap bulan Ramadhan masih ’salah’.

Padahal, KEISTIMEWAAN TERHADAPA BULAN RAMADHAN mestinya diwujudkan dengan IBADAH, BUKAN DENGAN MENU SAHUR DAN BERBUKA!!!

Jika kita mau jujur dan benar2 ingin meneladani Rasululloh SAW, kita bisa lihat bahwa selama beliau berpuasa Ramadhan, BELIAU TIDAK PERNAH MENGISTIMEWAKAN MENU SAHUR DAN BUKA PUASA. Bahkan jika kita mau lebih teliti, Rasululloh SAW sudah ‘berpesan’, bahwa berbuka puasa itu cukup dengan kurma atau air putih, sebagaimana hadits2 berikut:
Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air.” (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma.Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”

Jadi, mengapa kita mesti bermewah-mewah dalam sahur dan buka puasa? Bukankah dengan bermewah-mewah, sebenarnya kita justru sudah menjadi budak dari hawa nafsu dan bukannya kita yg mengendalikannya?

Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membawa pencerahan serta menghemat anggaran belanja. *senyum*

October 19, 2007

Antara Puasa Syawal Dan Hutang Puasa Ramadhan

Masuk Kategori: Fiqh, Ensiklopedia Islam, Puasa

Tanya:”Assalamu’alaykum Wr Wb, mas..”
Jawab:”Wa’alaykumsalam Wr Wb. Ada yg bisa saya bantu?”

T:”Kita ketemu lagi ya? Begini…saya mau tanya tentang puasa Syawal”
J:”Iya…kita ketemu lagi di bulan Syawal. Silakan bertanya, semoga saya bisa membantu?”

T:”Puasa Syawal itu berapa hari ya? Saya agak lupa, 6 hari atau 7 hari?”
J:”Berdasarkan contoh dari Rasululloh SAW, puasa Syawal dilakukan selama 6 hari.”

T:”Kok 6 hari? Kenapa bukan 7 hari? Kan biar pas dari Senin sampai Minggu.”
J:”Jadi begini. Puasa Syawal melengkapi puasa Ramadhan yg baru kita lakukan. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa barangsiapa puasa Ramadhan lalu diikuti puasa Syawal selama 6 hari, ibaratnya dia sudah berpuasa selama setahun penuh.”

T:”Waaahhh…hebat sekaliiii…tapi saya kok jadi bingung. Kok bisa dihitung selama setahun ya?”
J:”Perhitungannya begini. Amal ibadah dihitung 10x, sehingga 1 bulan puasa Ramadhan = 10 bulan puasa. Lalu 6 hari puasa Syawal = 60 hari puasa = 2 bulan puasa. Total 10 + 2 bulan = 12 bulan berpuasa.”

T:”Ooo…begitu yaa..? Ada hadits atau dalilnya ga mas? Saya bukannya tidak yakin, tapi biar lebih sreg.”
J:”Ini dalilnya. “Barangsiapa berpuasa Ramadhan (penuh) lalu diikuti dengan berpuasa enam hari dalam bulan Syawal maka dia seperti berpuasa seumur hidup. (HR. Muslim)”

T:”Lalu, mas…bagaimana sih pelaksanaan puasa Syawal itu?”
J:”Sama seperti puasa2 pada umumnya. KIta berpuasa selama 6 hari di bulan Syawal.”

T:”Apakah mesti berturut-turut? Maksud saya, langsung puasa dari Senin - Sabtu?”
J:”Tidak perlu dilakukan berturut-turut. Yang penting dilakukan di bulan Syawal.”

T:”Istri saya ingin berpuasa Syawal, tapi dia masih punya hutang puasa Ramadhan. Bagaimana dong? Mana yang mesti didahulukan?”
J:”Saya sendiri punya pendapat silakan lakukan puasa yg bisa istri anda lakukan. Jika ingin puasa Syawal dulu, silakan. Jika ingin melunasi hutang puasa Ramadhan dulu, boleh juga…malah lebih baik.”

T:”Ya…saya mengerti. Lebih baik melunasi hutang Ramadhan dulu baru Syawalan ya? Karena puasa Ramadhan itu WAJIB sedang puasa Syawal itu SUNNAH. Bukan begitu mas?”
J:”Ah, anda tepat sekali. Memang itu maksud saya. Hanya saja, kita tidak bisa ’saklek’ begitu.”

T:”Saklek bagaimana? Saya kok tidak mengerti…”
J:”Jadi begini. Puasa Syawal, sesuai penjelasan di atas, MESTI dilakukan di bulan Syawal. Waktunya pendek. Sementara kaum perempuan dalam sebulan itu akan mendapatkan haid/mens selama 7-10 hari. Dengan demikian makin pendek waktu yg dimiliki kaum perempuan.”

T:”Lalu? Lalu?”
J:”Dari penjelasan dan logika itu, saya sendiri TIDAK MELARANG istri saya untuk Syawalan dahulu baru kemudian melunasi hutangnya di bulan-bulan berikutnya.”

T:”Jadi, bagaimana kesimpulannya mas?”
J:”Kesimpulannya:
1. Puasa Syawal, selama 6 hari, dilakukan HANYA DI BULAN SYAWAL
2. Boleh tidak dilakukan berturut-turut
3. Bagi kaum perempuan, sebaiknya lebih baik lunasi dulu hutang puasa Ramadhan baru Syawalan. Tapi menurut saya, sah-sah saja jika hendak Syawalan terlebih dahulu, baru melunasi hutang Ramadhan. Penyebabnya karena waktu Syawal hanya sebentar (hanya 1 bulan).”

T:”Tapi mas…saya kok lebih sreg lunasi hutang Ramadhan baru Syawalan. Ibaratnya, kok ngejar yg sunnah dulu sementara yg wajib malah ditunda? Saya malah punya pikiran, eh, analogi begini. Bagaimana kita sholat sunnah bada’ Isya (yg sunnah) sementara kita belum sholat Isya (yg wajib)?”
J:”Betul sekali. Itu sebabnya, silakan pilih dan tetapkan keyakinan anda. Jika anda, eh, istri anda yakin bahwa dia hendak melunasi Ramadhan dulu baru Syawalan ya monggo. Mau Syawalan dulu, seperti istri saya, juga monggo. Intinya: JANGAN MEMPERSULIT diri sendiri..”

T:”Ok mas…terima kasih…”
J:”Sama-sama…”

T:”Wassalamu’alaykum wr wb…”
J:”Wa’alaykumsalam wr wb. Oya, Taqabalallahu minna wa minkum. Shiyaamana wa shiyaamakum. Minal ‘aidin wal faizin. Maaf lahir dan batin ya mas?”

T:”Oya ya…sama-sama mas…aamiin…”
J:*salaman dg mas T*

*artikel terkait: Puasa Syawal*

October 12, 2007

Bacaan di Akhir Pekan - Lebaran itu Haknya Allah, Kok Diributkan?

Masuk Kategori: Fiqh, Hikmah, Dari Inboxku, Puasa

Wawancara Majalah TEMPO, 4 Oktober 2007

Mustofa Bisri:
Lebaran itu Haknya Allah, Kok Diributkan

Lengannya cepat-cepat ditarik setiap kali ada lawan bicara berusaha menjemba tangannya untuk dicium. Tampaknya dia jengah dengan tradisi mencium tangan para kiai. Di daftar riwayat hidupnya, tertera pekerjaan sebagai penulis. Padahal, kalau mau, dia bisa menyebut “Pengasuh Pondok Pesantren”, “Rais Syuriah PB NU”, atau atribut bergengsi lain.

Jadwalnya selalu padat, dia kerap bepergian. Tapi, di bulan Ramadan, Ahmad Mustofa Bisri menjadi mudah ditemui. Datang saja ke Kompleks Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin atau Taman Pelajar di Rembang, Jawa Tengah. Pasti Gus Mus–begitu dia biasa disapa–ada di sana. Sejak kakaknya, Cholil Bisri, wafat, dialah yang menjadi pengasuh pondok peninggalan orang tua mereka. ”Selama 11 bulan saya kerap meninggalkan rumah. Kini giliran satu bulan bersama keluarga di rumah,” begitu dalihnya menampik berbagai undangan berceramah dan sebagainya.

Supel dan hangat, Mustofa Bisri mudah bergaul dengan siapa saja. Kehidupan sosialnya, yang luas dan kaya, terbaca dengan mudah. Ketika dia menikahkan anaknya pada Agustus lalu, misalnya, tamu mengalir dari mana-mana, tanpa mengenal kelas, suku, agama.

Kiai Bisri adalah teman berbincang yang asyik. Tutur katanya lembut–nyaris tanpa tekanan, bahkan saat menyampaikan soal yang tidak ia sukai. Asap rokok nyaris tidak berhenti mengepul dari mulutnya saat dia memberikan wawancara. Rokok kretek sigaret dan kretek filter bergantian dia isap melalui sebuah pipa gading cokelat. ”Saya sedang banyak keinginan. Mau nulis buku, bikin novel, cerpen, dan juga merampungkan 50 tulisan dalam satu tema, tapi baru selesai lima,” ujarnya. Produktivitasnya dalam menulis, baik sastra maupun buku agama, sulit ditandingi kiai lain.

Di ruang tamu rumahnya, dihiasi hamparan karpet hijau tanpa perabot, Gus Mus menerima Imron Rosyid dan Rofiuddin dari Tempo pada Jumat malam pekan lalu. Sembari lesehan, dia menjelaskan keberagaman beragama, termasuk dalam hal merayakan Idul Fitri. Ditemani secangkir kopi lelet dan beragam kue suguhan santrinya, waktu dua jam terasa cepat berlalu.

Berikut ini nukilannya.

Bagaimana Anda melihat perbedaan penetapan Idul Fitri tahun ini?
Akar masalahnya adalah negara kita bukan negara agama, bukan pula negara sekuler. Jadi pemerintah bingung, he-he-he…. Menurut pakemnya, yang berwenang menetapkan Lebaran adalah pemerintah. Dulu zaman Nabi ndak sulit-sulit, cah angon lapor lihat bulan, Nabi hanya tanya, “Kamu syahadat tidak?” “Ya, saya syahadat.” Sudah gitu saja. Nabi kemudian bilang kepada bilal untuk diumumkan. Jadi ndak disumpah atau pakai teropong. Jadi, kalau pemerintah sudah menetapkan, itu sudah cukup. Cuma pemerintah itu ingin harmoni, menenggang perasaan, minta pendapat segala, bagaimana organisasi-organisasi Islam. Ndak usah begitu.

Jadi sebaiknya ormas-ormas Islam tinggal mengikut pemerintah?
Ya, pemerintah saja yang menetapkan. Yang tidak cocok, ya, sudah biarkan. Wong negara Pancasila, kok. Orang tidak puasa, tidak salat saja dibiarkan, kok. Orang Indonesia harus bersyukur. Negara-negara lain dikasih Lebaran sama Tuhan hanya sekali, kita dikasih dua, malah gegeran. Coba tanya kepada pedagang ternak, Idul Adha kemarin mereka senang sekali; hari ini belum laku, besok masih ada Lebaran. Jadi kenapa ribut? Lebaran itu haknya Tuhan.

Dasarnya kita mengikuti pemerintah itu apa?
Dasarnya, memang dari dulu yang menetapkan itu sultan. Zaman sekarang sultan itu pemerintah. Jadi, kalau kita lihat di kitab-kitab, penetapan awal Ramadan, hari raya, semuanya pemerintah. Perbedaan perhitungan hisab dan rukyat itu wajar dan sudah terjadi dari dulu.

Tapi sekarang kan terjadi perbedaan….
Karena sekarang kita cuma melihat pada perbedaan metode penetapan. Kita lupa siapa yang berhak menetapkan. Makanya istilah NU itu tidak menetapkan, tapi ikhbar, memberitahukan. Orang-orang NU mau ikut, ya, silakan. Tidak, ya, silakan. Pemerintah mau memaksakan? Wong bukan negara Islam. Jadi caranya menetapkan saja. Siapa yang tidak mau, ya, sudah. Kenapa sih harus diseragamkan? Kalau semua harus seragam, nanti balik ke Orde Baru.

Mungkin maksudnya agar rakyat tidak bingung?
Rakyat enggak bisa bingung. Wong sudah bingung terus-terusan. Segala masalah bikin bingung. Gusti Allah itu paham sekali sama hamba-Nya, jadi kita enggak usah ribut. Agama itu mudah. Tapi, kalau orang memperberat agama, dia akan kesulitan sendiri. Perkara mudah, ya, sudah dibuat mudah.

Dulu apa pernah muncul perbedaan penetapan Ramadan atau Lebaran?
Ndak, karena semua tahu itu adalah haknya Allah. Dan semua taat kepada pemerintah. Sekarang ini kan ada permasalahan politis segala….

Maksud Anda sekarang ada ormas Islam tertentu tidak taat terhadap penetapan pemerintah?
Bukan begitu. Dalam soal ini, mereka beranggapan itu adalah soal keyakinan yang tidak bisa dipaksakan, terutama oleh pemerintahan yang bukan Islam. Seperti yang saya katakan di awal tadi, kita itu bukan negara agama dan juga bukan negara sekuler. Karena bukan negara sekuler, jadi ngurusi Lebaran dan ngurusi haji. Tapi, karena bukan negara agama, ya, tidak memaksakan.

Di Arab atau di negara lain, apakah dua metode penghitungan bisa isatukan?
Ya, enggak bisa. Kan, sudah berabad-abad. Itu muncul ketika ada ilmu falak, ilmu hisab. Orang-orang bisa menghitung. Yang satu melihat tradisi pada zaman Nabi yang melihat langsung. Sedangkan yang paham ilmu perbintangan bisa menghitung sendiri. Kalau yang terjadi tidak sama, kita ambil hikmah saja. Ooh… ternyata Gusti Allah memberikan Lebaran dua kali.

Upaya Wakil Presiden mempertemukan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah untuk mencari solusi, menurut Anda, apakah ada manfaatnya?
Kita itu kan senangnya harmoni, aman, salatnya bareng-bareng. Sebetulnya, yang harus bareng itu hatinya. Kalau hatinya enggak bisa bareng, bagaimana badannya bisa?

Pentingkah ada satu Lebaran saja?
Enggak penting. Yang lebih penting, penganggur masih banyak, kemiskinan masih jauh dari penyelesaian. Tapi urusannya Gusti Allah yang malah diributkan.

Pada level umat kerap timbul masalah. Tahun lalu, ada ormas dilarang menggunakan lapangan karena Lebarannya tidak sama dengan pemerintah…. Itu karena orang enggak ngerti bahwa penetapan Lebaran haknya pemerintah. Kalau pemerintah menetapkan Lebaran hari Senin, misalnya, semua aparat pemerintah, dari gubernur, bupati, sampai lurah, harus taat hari Senin. Ormas yang lain boleh saja beda, tapi jangan pakai fasilitas milik pemerintah. Kalau Anda Selasa, ya, cari lapangan lain. Jadi itu jalan tengahnya.

Jadi Islam itu beragam?
Beragam. Dari dulu sudah beragam. Ada Syiah, ada Khawaridj, segala macam. Islam itu ada lebih dari 70 golongan.

Apakah keragaman ini yang memunculkan kategorisasi Islam keras, moderat, atau Islam “garis tengah”?
Itu kan ada ajarannya semua. Dari dulu sudah ada ajaran keras, seperti Khawaridj, yang hanya mau memaksakan pendapatnya sendiri. “Pokoknya yang tidak sama dengan saya itu kafir.” Itu bawaan manusia, mbegug (berkukuh–Red.) dengan pendapatnya sendiri, memutlakkan dirinya sendiri. Juga ada yang toleran dan moderat.

Ada dampak kategorisasi itu dalam kehidupan kita?
Untuk pembelajaran demokrasi, ya, positif dengan adanya perbedaan-perbedaan. Segi negatifnya juga ada, karena terjadi benturan. Apalagi kalau benturan itu keras dengan keras.

Kategorisasi itu bukan berasal dari Islamnya?
Muslim yang memahami Islam dapat berbeda-beda. Tapi Islamnya tetap satu. Gusti Allah satu, nabinya satu, kitabnya satu. Dalam memahami kitab memang berbeda. Ada yang memandang teks, ada yang kontekstual. Padahal di Quran itu ada asbabun nuzul. Quran itu tidak rekaman, hadis bukan rekaman. Nabi tidak merekam (Gus Mus menirukan seperti orang berbicara di depan rekaman) hadis, tapi hadis disabdakan sesuai dengan konteks pada saat itu.

Bagaimana menyikapi perbedaan itu?
Dari zaman sahabat, sudah ada perbedaan. Cuma, mereka diajari oleh Nabi, ada yang prinsip, ada yang tidak prinsip. Pernah ada dua orang datang ke Rasulullah, mengadukan bacaan Qurannya yang tidak sama. Dijawab, kalau kalian semua itu baik, tidak usah gegeran. Kita sering menggegerkan hal-hal yang tidak prinsip. Yang prinsip adalah tauhid aqidah. Laillah ha Illallah Muhammadurasulullah, itu yang paling prinsip. Yang lain-lain tidak prinsip. Salat zuhur itu mesti empat rakaat, ndak bisa dipikir-pikirkan lagi. Jangan karena waktu subuh itu enak buat olahraga, terus kemudian dipikir-pikirkan enak bila ditambah rakaatnya. Itu ndak bisa. Menetapkan Ramadan, Lebaran, juga masalah kecil yang bukan prinsip.

Menurut Anda, yang lebih sulit menerima perbedaan itu masyarakat biasa atau elite?
Rakyat bergantung pada elite (Gus Mus mengutip pepatah Arab yang artinya orang itu bergantung pada elite, pada pemimpinnya). Kalau pemimpinnya korupsi, rakyatnya nyopet. Pemerintah menjarah pabrik, rakyatnya menjarah toko. Makanya, pemimpin harus mulai mengajari orang supaya bisa berbeda, bukan memaksakan keseragaman terus-menerus.

Ada yang bilang kelompok garis keras–yang sukar menerima perbedaan–kian mendapat tempat di Indonesia. Apa komentar Anda?
Dari dulu sampai sekarang, ada orang yang amat ngotot dan ada yang tidak. Mungkin nanti bergantung pada rakyat Indonesia, apakah mayoritasnya nanti adalah (golongan) yang ngotot atau tidak. Kelompok yang ngotot ini timbul karena banyak sebab. Mungkin kaku hatinya, jengkel karena melihat yang lunak, yang moderat ndak berhasil. Ada faktor ekonomi juga. Ke depan nanti tergantung sejauh mana kita mau mempelajari agama itu sendiri.

Maksudnya, kelompok garis keras kurang mempelajari agama?
Secara kelakar ada yang mengatakan sampean baru belajar sampai bab ghodob, bab marah, terus berhenti. Jadi sampean marah terus, he-he-he…. Padahal nanti ada bab sabar, bab tawaduk, bab segala macam, masih banyak sekali. Kalau mau belajar terus, insya Allah akan mantap. Saya khawatir terhadap orang yang merasa sudah sempurna, lalu menganggap yang lain jahanam semua. Ini malah berbahaya. Orang yang memutlakkan diri sendiri itu sudah syirik, minimal syirik samar, karena yang mutlak benar itu hanya Allah.

Apakah kelompok yang ingin Indonesia harus jadi negara agama perlu diberi kesempatan?
Ya, tidak semudah itu. Negara agama itu seperti siapa? Saudi bukan negara Islam, ia negara wahabi. Pakistan negara militer. Anda bayangkan saja misalnya Indonesia nanti kalau jadi negara agama. Lalu siapa kira-kira presidennya. Terus siapa menterinya.

Belakangan banyak dai muda berdakwah secara ngepop. Apa pendapat Anda tentang fenomena ini?
Itulah yang saya sebut semangat keberagamaan. Orang kota melihat perlu ada modernisasi dakwah. Dulu Hamka menjadi terkenal karena dia orang pesantren yang mengerti bahasa kota. Sekarang jarang orang desa punya bahasa itu. Maka orang kota yang tampil, entah itu artis atau siapa saja yang merasa ngerti agama. Memang ada sabda Rasul yang mengatakan, “Sampaikan dariku walau satu ayat.” Kemudian orang berbondong-bondong, meski hanya punya satu ayat, langsung jadi mubalig. Dia menyampaikan bagus-bagus saja, tapi agar tidak hanya satu ayat, dia harus nyetrum aki, ngecas, supaya tidak habis atau lemah baterai.

Bisa beri contoh bahwa dakwah para ustad kontemporer baru sebatas semangat?
Lihat saja perilakunya. Yang dibicarakan itu-itu saja, soal ibadah mahdoh, ibadah murni, ibadah ritual. Padahal Islam ada ibadah sosial. Kenapa tidak bicara tentang keadilan, hak asasi manusia, kemanusiaan, kejujuran dalam pergaulan hidup? Bagaimana menyantuni orang dhoif dan seterusnya? Itu tidak bisa diselesaikan dengan pidato, ceramah, khotbah. Kalau Islam tampil menegakkan keadilan, memberantas korupsi, membela orang lemah, itu menjadi dakwah tersendiri. Orang akan melihat bahwa Islam itu mulia.

Kami dengar banyak yang mencalonkan Anda menjadi Gubernur Jawa Tengah pada
pemilihan tahun depan?

Saya itu diminta untuk pidato kebudayaan di Dewan Kesenian Cabang Rembang saja tidak mau, kok, disuruh jadi gubernur. Jelas tidak mau. Kalau disuruh baca cerpen, saya mau. Kebanyakan orang sudah tahu siapa saya. Istilahnya, “wong gak genah”, he-he-he….

Mustofa Bisri

Lahir: Rembang, 10 Agustus 1944
Pendidikan: Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir
Pekerjaan: - Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin
– Rais Syuriah PB Nahdlatul Ulama
– Penulis puisi dan cerita pendek, kerap menulis dengan nama samaran M. Ustov Abi Sri






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham