Tausyiah275

August 27, 2009

Sahur Itu Diakhirkan, Bukan Di Awal!

Bismillah,

Sebuah kondisi yang menarik untuk diamati adalah waktu sahur. Ternyata banyak sekali keluarga muslim yang masih salah kaprah tentang sahur. Salah kaprah dalam hal ini adalah melakukan sahur sepagi mungkin. Bahkan saya masih ingat, tetangga saya yang di Bandung, mereka sahur jam 3 pagi.

Hal ini tidaklah dilarang, tapi sebenarnya tidak sesuai dengan anjuran dan contoh Rasululloh SAW yang senantiasa mengakhirkan sahur beliau. Hal ini berdasarkan hadits berikut: Dari Anas bin Malik (dan dalam satu riwayat darinya bahwa Zaid bin Tsabit bercerita kepadanya) bahwa Nabiyullah dan Zaid bin Tsabit[18] makan sahur bersama. Tatkala keduanya telah selesai sahur, Nabi berdiri pergi shalat, maka shalatlah beliau. Aku bertanya kepada Anas, “Berapa lama antara keduanya selesai makan sahur dan mulai shalat?” Anas berkata, “Sekitar (membaca) lima puluh ayat”

Membaca 50 ayat Al Qur’an secara tartil membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit. Dari keterangan di atas, berarti waktu sahur Rasululloh SAW cenderung di sekitar 20-30 menit menjelang sholat Subuh.

Tujuan mengakhirkan sahur sudah jelas, agar kita tidak terlalu cepat merasa lapar saat menjalankan shaum.

Tentu saja mesti dibedakan antara MAKAN SAHUR dengan MEMASAK SAHUR. Untuk memasak menu sahur, tentulah tergantung pada menu yang hendak disantap. Bisa jadi butuh waktu 1-2 jam untuk memasaknya. Meski demikian, saya dan istri biasanya tidak memilih menu makanan yang lama dimasak. Istri saya biasanya sudah menyiapkan menu sahur di malam hari, sehingga saat sahur tidak butuh waktu lama untuk menyiapkannya.

Jangan lupa, sahur sebaiknya dilakukan, karena ada keutamaan dan manfaat di dalamnya.

Semoga berguna. :-)

August 11, 2009

Menikah Di Depan Jenazah. Ajaran Siapa Itu?

Bismillah,

Sebuah fenomena yg kian marak terjadi belakangan ini mengganggu pikiran saya. Yakni fenomena menikah di depan jenazah (pada umumnya jenazah ayah dari salah satu calon mempelai). Saya perhatikan hal ini sejak sekitar 10 tahun terakhir. Jika saya tidak salah, saya mulai membaca hal ini di sebuah koran untuk Jawa Barat.

Banyak alasan yg membuat fenomena ini terjadi. Dari sekian banyak alasan, satu hal yg membuat saya kian tak habis pikir. Alasan tersebut adalah agar (jenazah) sang ayah ‘menyaksikan’ pernikahan anaknya. Atau karena wasiat ayahnya yg ingin menyaksikan pernikahan anaknya, tapi tidak kesampaian karena keburu dijemput ajal.

Padahal, seseorang yg sudah mati tidak ada daya upaya lainnya. Ruhnya sudah dicabut dari jasadnya, sehingga yg tersisa hanyalah seonggok badan yang siap untuk dikonsumsi oleh cacing tanah dan perlahan akan hancur.

Saya juga cari riwayat2, entah itu hadits atau ijma’ para ulama, tidak ada yg menyebutkan dan membolehkan hal seperti ini.

Jika diperhatikan dengan seksama, justru ada kontradiksi di acara pernikahan di depan jenazah. Jenazah identik dg kematian dan berkaitan dengan kesedihan. Sementara pernikahan mempunyai hubungan erat dg kebahagiaan. Jadi, apakah bisa kebahagiaan dicampurkan dengan kesedihan seperti itu?

Singkat kata, saya bisa katakan MENIKAH DI DEPAN JENAZAH ADALAH HAL YANG TERLALU MENGADA-ADA. Bahkan bisa dikatakan bid’ah!

Semoga berguna.

July 26, 2009

Lagi-lagi Bom Bunuh Diri

Masuk Kategori: Tarbiyah, HOT NEWS, Fiqh, Lain-lain

Bismillah,

Kembali Jakarta diguncang bom bunuh diri, tepatnya 10 hari lalu. Sebanyak 2 buah bom meledak di 2 tempat yang berbeda dan menimbulkan korban yang tidak sedikit (berapapun korban yang jatuh tidak pernah ada kata sedikit), baik di kalangan orang Indonesia maupun orang asing. Korban yang jatuh berupa korban tewas dan luka-luka.

Seperti biasa, umat Islam kembali menjadi sorotan. Entah ditengarai sebagai pelaku maupun ‘kisruh’ dan silang pendapat yang terjadi di kalangan umat Islam sendiri. Pihak keamanan dan beberapa analis teroris serta merta menuduh Jama’ah Islamiyah sebagai dalang di balik teror bom ini.

Dan kembali, umat Islam berperang opini mengenai bom tersebut apakah bom jihad atau bom bunuh diri.

Sekitar 4 tahun lalu, saya sudah menulis artikel bahwa bom yang meledak di Indonesia, BUKANLAH BOM JIHAD. Itu semua adalah BOM BUNUH DIRI. Banyak alasan mengapa tindakan itu disebut bom bunuh diri, namun dari sekian banyak alasan, yang menjadi pokok utama adalah Indonesia TIDAK SEDANG DALAM KONDISI PERANG.

Meski demikian, masih banyak kaum Muslim dan para ulama yang ngotot bahwa tindakan itu adalah tindakan jihad, terutama karena target mereka adalah orang2 non muslim, yg mereka sebut kafir dan musuh Islam. Sayangnya, pendapat KELIRU ini masih banyak yang ‘menyetujui’ dan bahkan tidak sedikit yang tertarik dan bahkan menjadi pelaku bom bunuh diri.

Hal lain yang menjadi ‘kekeliruan’ (menurut mereka) adalah karena Indonesia bukan negara Islam, sehingga tidaklah perlu mengikuti hukum Indonesia untuk ‘menghukum’ para orang kafir tersebut.

Mereka mungkin LUPA atau malah TIDAK TAHU bahwa Rasululloh SAW sendiri MELARANG melukai dan membunuh orang-orang yg TIDAK TERLIBAT LANGSUNG dengan perang! Bahkan ALLOH SWT sendiri melaknat umat Muslim yang membunuh saudaranya sendiri tanpa alasan yang jelas.

Perhatikan hadits berikut ini. “Berangkatlah kalian dengan nama Allah, dengan (pertolongan) Allah, sesuai tuntunan agama (yang diajarkan) Rasulullah, janganlah kalian membunuh orang tua jompo, anak yang masih kecil, perempuan, dan janganlah kalian melampaui batas, kumpulkanlah harta rampasan perang kalian, ciptakan kedamaian, dan berbuat baiklah sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (H.R. Abu Daud)

Kemudian cek juga ayat berikut, “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu413 sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi” (Qs. Al-Maidah [5] : 32)

Dalam kasus pemboman ini, sudah jelas, ada kaum Muslim yang menjadi korban, entah itu korban tewas ataupun luka-luka.

Jika sudah begini, muka kaum Muslim sendiri yang tercoreng, bahkan gelar Rahmatan Lil ‘Aalamiin menjadi sesuatu yang kontradiksi. Gelar tersebut mestinya diberlakukan untuk semua makhluk, tanpa membeda-bedakan agama dan kepercayaannya. Jadi, tidak hanya berlaku untuk kaum Muslim juga.

Terlebih jika merujuk pada ayat surat Al Maidah di atas, mesti para ulama (yg oleh banyak kalangan disebut ulama garis keras) mestinya menelaah dan mengkaji lebih dalam ayat di atas.

Sesungguhnya, sikap yg santun, tutur kata yang lemah lembut, tindakan yang simpatik justru akan membuat orang lebih tersentuh dan mendekat, daripada ‘diberi’ acungan pedang, kekerasan fisik, dan adu otot.

Sekedar mengingatkan, Rasululloh SAW lebih banyak bertindak dengan lemah lembut (meski juga beliau tegas) serta santun dalam kehidupan beliau. Hal ini justru yang membuat banyak pihak akhirnya memeluk Islam dengan sukarela. :-)

Semoga kita semua menjadi muslim yang sebenar-benarnya, tidak menggunakan kekerasan untuk memaksakan keyakinan serta tidak (senang) menebar teror di muka bumi.

June 17, 2009

Perlukah Menikah Di Masjidil Haram?

Masuk Kategori: HOT NEWS, Fiqh, Lain-lain

Bismillah,

Saya perhatikan, ada sebuah fenomena yang menarik yang terjadi di Indonesia. Fenomena ini adalah menikah di masjidil haram, yang kebetulan banyak dilakukan oleh orang-orang berduit. Banyak sekali ‘alasannya’ mereka melakukan ini, ada yang karena sekalian umroh, ada yang ‘kebetulan’ menemukan jodoh di sana, dan masih banyak alasan lainnya.

Memang, jika dihubungkan dengan jodoh, kita tidak bisa ‘menghindari’, karena itu adalah kekuasaan ALLOH SWT. Kita hanya bisa ikhtiar (dan menjemput jodoh), tapi di mana jodoh itu akhirnya ditemukan, toh tetap ALLOH SWT yg berkuasa.

Hanya saja, saya pribadi kok merasa risih dengan kelakuan dan pernyataan para pasangan yang menikah di Masjidil Haram, terutama saat ada yang mengatakan bahwa menikah di Masjidil Haram merupakan wujud komitmen suci dan bentuk niat baik. Terlebih lagi jika memang dilakukan seraya umroh atau bahkan seraya berhaji (mudah-mudahan hal yg terakhir ini tidak ada yg melakukannya), bagi saya hal tersebut terlalu berlebih-lebihan.

Menurut saya, bertemu jodoh ‘boleh’lah ditakdirkan di Masjidil Haram, namun menikah lebih baik dilakukan di Indonesia saja. Banyak faktor menurut saya mengapa pernikahan lebih baik dilakukan di Indonesia:
1. Biaya bisa ditekan
2. Lebih banyak kerabat yang bisa hadir
3. (masih terkait dg no 2) Teman dan relasi bisa ikut hadir
4. …. (silakan ditambahkan)

Lagipula, tidak ada jaminan menikah di Masjidil Haram akan langgeng dan benar2 berniat suci dan ikhlas. Toh Abu Jahal dan Abu Lahab juga menikah di Mekkah, dan keduanya sudah ‘ditakdirkan’ masuk neraka.

Jadi, tidak perlu jauh-jauh menikah di sana ya? :-)

February 14, 2009

Islam dan Kasih Sayang

Bismillah,

Sebelumnya, saya minta maaf, karena sudah sebulan lebih saya tidak memperbaharui isi blog ini. Maaf terutama saya tujukan bagi anda-anda yang telah setia mengunjungi blog ini. *mode ge-er*

Alhamdulillah, hari ini saya bisa memperbaharui artikel di blog ini. Momennya di hari Valentine, hari yang senantiasa diagung-agungkan oleh banyak kaum muda, tidak hanya dari non muslim, tapi juga banyak kaum muda muslim yang merayakan hari ini. Saya tidak akan banyak membahas, karena saya sudah pernah membahasnya di:
- http://tausyiah275.blogsome.com/2006/02/13/haruskah-kita-merayakan-valentine/
- http://tausyiah275.blogsome.com/2006/02/14/apa-sesungguhnya-valentines-day/
- http://tausyiah275.blogsome.com/2007/02/13/valentine-hal-paling-ga-penting/

Silakan anda baca kembali artikel2 saya di atas untuk penjelasan tentang hari Valentine tersebut.

Pada kesempatan ini, saya ingin membahas, bahwa Islam sudah mengajarkan kasih sayang yang jauuuh lebih baik dari kasih sayang yg ‘diajarkan’ di hari Valentine. Pada salah satu artikel saya di atas, tertulis bahwa Valentine hanya dirayakan dengan orang2 yg kita sayangi, yang notabene dilakukan oleh orang2 yg sedang berpacaran. Lebih ‘ngerinya’, bentuk kasih sayangnya diwujudkan dalam hubungan sex tanpa ikatan nikah, yang jelas2 haram dalam pandangan Islam.

Sementara itu, Islam, seperti yg saya tulis di atas, mengajarkan kasih sayang yang lebih global dan tidak terbatas.

“Ah, yang benar Mas? Buktinya apa? Kok saya selama ini tahunya Islam itu perang?”

Pertanyaan di atas barangkali muncul dalam benak anda.

Ok, saya tunjukkan bukti-bukti bahwa Islam mengajarkan kasih sayang yg kualitasnya jauh lebih baik.

Hadits-hadits Rasululloh SAW
1. “Amal perbuatan yang paling disukai ALLOH sesudah yang fardhu (wajib) ialah memasukkan kesenangan ke dalam hati seorang muslim.” (HR. Ath-Thabrani)
Hadits ini mempunyai arti, seorang muslim hendaknya menyenangkan hati sesama saudaranya. Menyenangkan hati mempunyai makna yang luas, dan termasuk di dalam bentuk kasih sayang.

2. “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya.” (HR. Bukhari)
Jika kita menyayangi seseorang, maka kita akan berusaha untuk menghalangi (atau memperbaiki) aibnya.

3. “Tiga perbuatan yang termasuk sangat baik, yaitu berzikir kepada ALLOH dalam segala situasi dan kondisi, saling menyadarkan (menasihati) satu sama lain, dan menyantuni saudara-saudaranya (yang memerlukan).” (HR. Ad-Dailami)
Poin terakhir, yakni menyantuni (memberi pertolongan) saudara2 yg memerlukan, jelas sekali bukti bahwa Islam itu mengajarkan kasih sayang.

4. “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak mengecewakannya (membiarkannya menderita) dan tidak merusaknya (kehormatan dan nama baiknya).” (HR. Muslim)
Salah satu bentuk kasih sayang adalah tidak ingin mengecewakan orang yg kita cintai dan sayangi.

5. “Tiada beriman seorang dari kamu sehingga dia mencintai segala sesuatu bagi saudaranya sebagaimana yang dia cintai bagi dirinya.” (HR. Bukhari)
Ini adalah hadits yg sudah sedemikian terkenal, dan SANGATLAH JELAS bahwa Islam mengajarkan kasih sayang!

6. “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta kasih dan belas kasih seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing) maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)
Ini juga salah satu hadits yg seringkali dijadikan sandaran bahwa Islam mengajarkan kasih sayang.

7. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” (Al Isra(17):24)
Ayat Al Qur’an ini menjelaskan tentang kasih sayang kita kepada orang tua kita.

8. “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan ALLOH, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa ALLOH mengampunimu? Dan ALLOH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nuur(24):22)
Ayat ini menjelaskan bahwa orang2 yang diberi kelebihan (terutama di bidang materi) hendaknya membantu saudara2nya yang kekurangan.

Dari hadits-hadits dan ayat-ayat di atas, kita bisa lihat bahwa bentuk kasih sayang yg diajarkan Islam kepada para pemeluknya bersifat universal. Berlaku untuk semua manusia, semua golongan. Namun, tentu saja kaum muslim, sebagai saudara seiman mempunyai prioritas yg lebih tinggi, terutama jika saudara seiman tersebut posisinya dekat dengan kita. Tetangga 1 RT, tetangga 1 RW, bahkan dalam 1 negara pun, saudara seiman mempunyai hak untuk diprioritaskan.

Bahkan jika kita mau telaah lebih lanjut, kasih sayang yg ‘mesti’ dilakukan oleh seorang muslim tidaklah melulu kepada sesama manusia, namun juga kepada makhluk-makhluk lain sebagai ciptaan ALLOH SWT. Barangkali anda ingat, mengapa saat hendak menyembelih hewan, kita diperintahkan untuk menggunakan pisau/senjata yang sangat tajam? Tujuannya tidak lain agar hewan tersebut tidak tersiksa terlalu lama, menderita kesengsaraan karena rasa sakit disembelih oleh senjata yg tumpul.

Dengan demikian, jelaslah kasih sayang dalam Islam LEBIH BAIK daripada kasih sayang yg ‘diajarkan’ di hari Valentine, yang lebih banyak tertuju pada orang2 terdekat (pacar/suami/istri).

Permasalahannya, seberapa banyak kaum muslim yg mau menyebarkan kasih sayang? Kita masih lihat banyak sesama muslim gontok2an, saling menyerang, dst dst. Jadi yg SALAH adalah PEMELUKNYA, BUKAN AGAMANYA.

Atau coba kita berkaca pada diri kita sendiri.
- Apakah anda menyayangi seseorang karena hartanya?
- Apakah anda menyayangi seseorang karena wajahnya?
- Apakah anda menyayangi seseorang karena kedudukannya?
- Apakah anda sudah pernah membantu seorang nenek tua di pinggir jalan?
- Apakah …
Dan masih banyak apakah lagi.

Tujuan saya memberikan contoh di atas bukanlah untuk menjadi riya’ atau ujub. Tapi sebagai peringatan dan saran, bahwa Islam tidak akan pernah dianggap mengajarkan kasih dan sayang, jika kita selaku pemeluknya ternyata masih belum menyebarkan kasih dan sayang tanpa memandang status, golongan, harta, bahkan agama sekalipun.

Semoga kita semua, termasuk saya sendiri (penulis artikel ini), bisa mulai (lebih) menyebarkan kasih dan sayang pada banyak orang. Tentunya didasarkan (diniatkan) karena ALLOH SWT, agar perbuatan kita ini menjadi bernilai ibadah.

November 22, 2008

Menemukan Jodoh Anda

Bismillah,

Seperti janji saya tempo hari, yang akan membahas tentang pernikahan, saya akan mulai dengan (menemukan) jodoh. Jadi, harap diperhatikan bahwa upaya menemukan jodoh di sini adalah DALAM RANGKA MENIKAH, bukan hal2 yg lain. ;-)

Jodoh merupakan salah satu dari sekian rahasia ALLOH SWT kepada makhluk-Nya (baca: manusia), di samping rejeki dan kematian.

Sebenarnya apa sih jodoh itu?

Banyak definisi tentang jodoh. Saya hanya akan menjelaskan definisi jodoh dengan pendapat pribadi saya, jadi akan banyak unsur subyektifitas dan ‘ngawur’ dalam definisi saya.

Jodoh, menurut saya, adalah pasangan (yg diikat dengan tali pernikahan, terutama secara agama/Islam), serta bersedia menemani sisa hidup kita, dalam suasana duka dan suka, tidak hanya di dunia namun juga di akhirat (terutama di surga).

Pertanyaan yg akan timbul, jika ada orang yg hingga meninggal, dia tidak menikah, berarti dia tidak punya jodoh?

Untuk hal ini, saya teringat dengan ucapan salah seorang guru saya. Beliau mengatakan bahwa ALLOH SWT menciptakan (ada) orang2 yg tidak diberi jodoh di alam dunia. Bagi mereka telah disiapkan jodoh di akhirat (baca: surga, jika mereka memang masuk surga kelak).

Saya ‘cut’ dulu untuk urusan jodoh di akhirat ini, kita akan bahas di lain waktu, insya ALLOH. Kini saya hendak fokus dulu pada jodoh di dunia.

Untuk menikah, tentulah mesti ada pasangannya. Nah, pasangan ini yg seringkali dianggap sebagai jodoh (termasuk pada definisi yg saya uraikan di atas).

Menemukan jodoh, sulit-sulit gampang. Ada yg menyebutkan, jodoh itu adalah orang yg kita rindukan setiap saat walau hanya bertemu sesaat. Ada juga yg menyebutkan, jodoh itu adalah orang yg membuat kita ingin menghabiskan sisa waktu hidup kita bersamanya. Bahkan ada yg menyebutkan, jodoh itu adalah orang yg sudah kita nikahi. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Khusus untuk pernyataan terakhir ini, mesti lebih berhati-hati. Jika kasusnya poligami, MUNGKIN saja itu jodohnya. Tapi jika kasusnya kawin cerai, nah…itu mesti lebih dicermati sebelum mengatakan bahwa pasangan nikahnya adalah jodohnya.

Banyak cara ALLOH SWT untuk mempertemukan seseorang dengan jodohnya. Ada yg di sekolah atau kampus kuliah (mungkin banyak yg mengalami hal ini). Ada yg bertemu di tempat kerja, bioskop, diskotik, masjid, atau bahkan gara-gara tabrakan atau bersenggolan.

Saya tidak akan membahas cara2 bertemu jodoh, karena itu merupakan rahasia-Nya. Namun saya bisa membantu anda cara menemukan jodoh kita dengan cara yg, insya ALLOH, baik.

Bagi laki2, kriteria jodoh (perempuan) yg hendak dia nikahi, ‘relatif mudah’ karena ada panduan dari Rasululloh SAW, dalam haditsnya yg terkenal. Rasululloh SAW menjelaskan ada 4 kriteria perempuan yg ‘boleh’ dinikahi (baca: dijadikan jodoh) oleh seorang laki2, yakni kecantikan, kekayaan, kehormatan (kedudukan), dan agama. Tapi nikahilah perempuan yg paling baik agamanya, karena lelaki itu akan beruntung. Hadits lengkapnya sebagai berikut: “Seorang wanita dinikahi karena empat hal : karena hartanya, kecantikannya, keturunannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya beruntung kedua tanganmu” (HR. Ahmad)

Bagi perempuan, dia juga berhak memilih lelaki yg hendak menikahinya. Meski tidak ada panduan ‘resmi’ dari Rasululloh SAW bagi perempuan, untuk kriteria calon suaminya, saya menggunakan panduan yg sama. Yakni, terimalah nikah seorang lelaki karena si lelaki taat beragama.

Lalu, bagaimana dan kapan bertemu jodoh?

Tidak ada pola ataupun cara yg ‘pasti’ untuk menemukan jodoh. Banyak cara yg dialami seseorang untuk menemukan jodohnya, terserah bagaimana ALLOH SWT berkehendak, seperti yg saya tulis di atas.

Namun, karena jodoh adalah sesuatu yg berharga, hendaknya dia (dicari dan) ditemukan dengan cara dan di tempat yg baik. Menggunakan ilmu pelet, mencari jodoh di tempat dugem, atau barangkali di tempat pelacuran, jelas bukan cara mencari jodoh yg ‘dianjurkan’. Karena dg cara (dan tempat) yg ‘tidak benar’, sulitlah kiranya kita bisa menemukan hal yg baik dan benar juga.

Beberapa teman menceritakan pengalamannya. Mereka menemukan jodohnya di tempat pengajian, di kampus, di tempat kerja. Intinya tempat2 yg ‘baik’ dan jauh dari hal2 yg (secara agama) dinilai tidak baik.

Lalu, kapan kita akan bertemu dg jodoh kita?

Nah, yg jelas kita mesti berusaha. Memperluas pergaulan, mencari informasi ini itu, merupakan salah satu ikhtiar kita. Jika kita sudah bertemu dg seseorang yg membuat hati kita (istilahnya) ‘deg’, BISA JADI itu adalah tanda bahwa kita sudah bertemu dg jodoh kita.

Saya sendiri bertemu dengan istri saya di kampus, saat kuliah.

Nah, bagaimana anda bertemu dg jodoh anda? Bagi yg belum bertemu, kini saatnya untuk mulai berusaha. :-)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham