Tausyiah275

September 27, 2009

Tragedi Pembagian Zakat, Antara Ego Dan Manfaat

Masuk Kategori: Fiqh, Seri Kesalahan2, Zakat

Bismillah,

Sebagai salah satu kewajiban kaum muslim (yang mampu dan sudah memenuhi nisab) adalah membayar zakat.

Sayangnya, pembagian zakat di Indonesia seringkali dibarengi dengan permasalahan, yakni adanya tragedi, entah itu para mustahiq pingsan, terinjak-injak, bahkan pernah ada yang meninggal dunia. Padahal jika dicermati dengan seksama, hal ini mestinya tidak perlu terjadi.

Saya sendiri beranggapan tragedi zakat seperti ini akan terus terjadi di masa-masa mendatang. Keyakinan dan anggapan ini didasarkan pada EGO yang dimiliki oleh para muzakki.

Barangkali saya didasari suudzon (buruk sangka) kepada para muzakki ini, dengan menganggap para muzakki ini mementingkan EGO. Saya berharap suudzon saya salah, namun hal ini saya rasa beralasan karena sebenarnya badan zakat di Indonesia sudah cukup banyak dan kinerjanya sudah lebih baik. Sehingga, MESTINYA, para muzakki ini cukup menyerahkan zakat mereka kepada badan ini, dan biarkan badan ini yang bekerja, mendistribusikan zakat dengan baik dan sesuai dengan porsinya.

Bagi saya, menyuruh para mustahiq datang berbondong-bondong, terlebih sampai terjadi kericuhan dan tragedi, adalah hal yang merendahkan martabat para mustahiq. Kesannya bossy sekali yak? Selain itu, hal seperti ini akan membuat distribusi zakat tidak akan sampai dan sesuai dengan tujuannya.

Mestinya, para muzakki itulah yg datang ke tempat para mustahiq. Terlebih jika ada data statistik tentang jumlah warga miskin, hal ini akan sangat memudahkan pembagian zakat.

Sayangnya, semua ‘kemudahan’ ini masih ‘ditutup’ dengan kepongahan dan egoisme para muzakki. Terlebih dengan adanya bisikan setan yang akan membisikkan dan meniupkan sifat riya’ dan sum’ah ke dalam lubuk hati.

Bagaimana menurut anda?

September 23, 2009

Puasa Syawal, Susah Atau Mudah?

Bismillah,

Pertama-tama, saya ucapkan Selamat ‘Idul Fitri 1430 H. Taqabballahu Minna Wa Minkum, Shiyamana Wa Shiyamakum. Maaf lahir dan batin untuk segala kesalahan yang pernah saya lakukan di blog ini, facebook, ataupun di yahoo messenger. :-) Semoga di 11 bulan berikutnya, kita bisa mempertahankan semangat Ramadhan hingga kita bertemu lagi dengan bulan mulia itu. Aamiin :-)

Puasa Syawal adalah ibadah yang bisa dilakukan di bulan Syawal, sebagai upaya untuk menyempurnakan shaum Ramadhan yang telah kita lakukan. Anda bisa membaca artikelnya di sini.

Pertanyaan yang timbul, apakah puasa Syawal itu mudah atau susah?

Mengapa ada pertanyaan seperti itu? Karena walaupun puasa Syawal itu ‘hanya’ 6 hari, jauh lebih pendek jika dibandingkan dengan puasa Ramadhan yang 29-30 hari, namun bagi kebanyakan kaum muslim, puasa Syawal ini dirasa sangat berat untuk dilakukan. Hal ini, jika dipikir secara logika, memang benar. Dilihat dari jumlah hari, puasa Syawal itu mudah, tapi kenyataannya sulit dilakukan.

Apa pasal puasa Syawal (cenderung) sulit dilakukan?

Ada beberapa penyebab mengapa puasa Syawal cenderung sulit (dan enggan) dilakukan.

Pertama, kaum muslim merasa dirinya baru bebas dari kewajiban puasa Ramadhan. Mereka beranggapan puasa di bulan Ramadhan sudah cukup sebagai sarana ibadah, terutama untuk puasa di bulan lain tidak terlalu penting. Walhasil, mereka merasa tidak perlu menuaikan puasa Syawal.

Kedua, bisa jadi kaum muslim tidak mengetahui manfaat dari puasa Syawal. Manfaat puasa Syawal adalah untuk menyempurnakan ibadah puasa yang telah dilakukan di bulan Ramadhan. Sebagaimana sabda Rasululloh SAW, dari Abu Ayyub rodhiyallahu anhu: “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup’.” [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164] Selain itu, anda bisa baca kembali poin 1.

Ketiga, masalah kebersamaan. Puasa Ramadhan terasa lebih mudah dilakukan karena orang-orang di sekeliling anda juga berpuasa. Sementara untuk puasa Syawal, anda akan berpuasa sementara orang-orang lain cenderung tidak berpuasa. Adalah hal yang aneh, jika di Indonesia, yg mayoritas penduduknya beragama Islam, sulit untuk puasa sunnah. Bagi orang-orang yg pernah tinggal di negara non muslim, saya yakin akan lebih mudah untuk menuaikan puasa sunnah, karena mereka sudah terbiasa puasa di tengah-tengah orang yang tidak berpuasa. Terlebih bagi kaum muslim di Jakarta, yg sehari-hari mesti berhadapan dg cuaca cukup panas dan teriknya matahari.

Nah, menurut anda sendiri, puasa Syawal mudah atau sulit?

August 27, 2009

Sahur Itu Diakhirkan, Bukan Di Awal!

Bismillah,

Sebuah kondisi yang menarik untuk diamati adalah waktu sahur. Ternyata banyak sekali keluarga muslim yang masih salah kaprah tentang sahur. Salah kaprah dalam hal ini adalah melakukan sahur sepagi mungkin. Bahkan saya masih ingat, tetangga saya yang di Bandung, mereka sahur jam 3 pagi.

Hal ini tidaklah dilarang, tapi sebenarnya tidak sesuai dengan anjuran dan contoh Rasululloh SAW yang senantiasa mengakhirkan sahur beliau. Hal ini berdasarkan hadits berikut: Dari Anas bin Malik (dan dalam satu riwayat darinya bahwa Zaid bin Tsabit bercerita kepadanya) bahwa Nabiyullah dan Zaid bin Tsabit[18] makan sahur bersama. Tatkala keduanya telah selesai sahur, Nabi berdiri pergi shalat, maka shalatlah beliau. Aku bertanya kepada Anas, “Berapa lama antara keduanya selesai makan sahur dan mulai shalat?” Anas berkata, “Sekitar (membaca) lima puluh ayat”

Membaca 50 ayat Al Qur’an secara tartil membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit. Dari keterangan di atas, berarti waktu sahur Rasululloh SAW cenderung di sekitar 20-30 menit menjelang sholat Subuh.

Tujuan mengakhirkan sahur sudah jelas, agar kita tidak terlalu cepat merasa lapar saat menjalankan shaum.

Tentu saja mesti dibedakan antara MAKAN SAHUR dengan MEMASAK SAHUR. Untuk memasak menu sahur, tentulah tergantung pada menu yang hendak disantap. Bisa jadi butuh waktu 1-2 jam untuk memasaknya. Meski demikian, saya dan istri biasanya tidak memilih menu makanan yang lama dimasak. Istri saya biasanya sudah menyiapkan menu sahur di malam hari, sehingga saat sahur tidak butuh waktu lama untuk menyiapkannya.

Jangan lupa, sahur sebaiknya dilakukan, karena ada keutamaan dan manfaat di dalamnya.

Semoga berguna. :-)

August 24, 2009

Imam Tarawih 23 Raka’at, Tolong Bacaannya Yang Tartil Ya?!

Bismillah,

Alhamdulillah, kita telah memasuki bulan Ramadhan, bulan yang dinantikan oleh orang2 yang beriman. Saya sendiri sudah 5 tahun ‘menikmati’ bulan Ramadhan di Jakarta, jadi sedikit banyak sudah ‘berkelana’ ke beberapa masjid pada saat bulan Ramadhan, untuk mengetahui lebih banyak nuansa Ramadhan di ibukota.

Dari sekian masjid yang saya kunjungi, beraneka ragam jumlah raka’at sholat tarawihnya. Rata-rata jika tidak 11 raka’at, ya 23 raka’at.

Namun dari saya bisa tarik benang merah. Imam yg 11 RAKA’AT, BACAANNYA TARTIL (JELAS). Sementara yg 23 RAKA’AT, BACAANNYA (TERUTAMA FATIHAH) BENAR2 CEPAT, NYARIS TIDAK MENGINDAHKAN TAJWID.

Terus terang, saya kecewa dg imam-imam sholat tarawih yg LEBIH MEMENTINGKAN JUMLAH RAKA’AT DARIPADA MEMPERHATIKAN BACAAN.

Bacaan yg tidak tartil ini seringkali diikuti dengan gerakan sholat yang cukup cepat. Padahal, setahu saya Rasululloh SAW menganjurkan sholat yg tuma’ninah, tenang, alias tidak terburu-buru. Memang, Rasululloh SAW pernah menyatakan agar imam sholat MEMPERCEPAT sholatnya, terutama jika ada jama’ah yg sudah tua. Tapi harap ingat, CEPAT BUKAN BERARTI TIDAK TARTIL DAN TIDAK TUMA’NINAH!

Mudah-mudahan para imam tarawih (yg 23 raka’at) menyadari ‘kesalahan’ yang mereka lakukan ini. Anda boleh saja tarawih 23 raka’at, tapi tolong bacaannya tetap tartil. :-)

August 20, 2009

Bersih-bersih Dan Mandi Menjelang Ramadhan

Masuk Kategori: Fiqh, Seri Kesalahan2, Puasa

Bismillah,
Salah kaprah lain yang sering dilakukan kaum muslim Indonesia adalah beramai-ramai mandi dan keramas menjelang Ramadhan tiba. Tradisi ini biasanya dilakukan selambatnya 1 hari menjelang Ramadhan. Jadi, misalnya tahun ini Ramadhan dimulai hari Sabtu tgl 22 Agustus 2009, maka Jum’at malam (21 Agustus 2009) kita akan banyak mendapati banyak kaum muslim mandi malam atau bahkan memadati kolam dan mandi di sana. Bahkan ada yang rela mandi pagi dan bersih-bersih (jam 3 pagi) di hari pertama Ramadhan agar tidak ketinggalan tradisi ini.

Saya hanya bisa tertawa saja melihat tingkah laku saudara seiman ini. Mereka begitu jor-joran untuk bersih-bersih (mandi, berendam, atau apapun itu) secara fisik menjelang Ramadhan, namun seringkali bersih-bersih secara mental/rohani cenderung dilupakan. Bahkan tidak sedikit yang sibuk bersih-bersih di awal Ramadhan, namun ternyata ibadah shaumnya tidak jelas nasibnya.

Hal yg membuat miris adalah bercampurnya (di dalam kolam) antara laki-laki dan perempuan. Bahkan di beberapa tempat, kumpul2 ini dg baju yg minim, bahkan ada yg (maaf) hanya model sarung dan (maaf lagi) menonjolkan bagian2 tertentu tubuhnya, yg bisa mengundang syahwat. :-(

Jelas sekali bahwa perbuatan ini (bersih2 menjelang bulan Ramadhan, apalagi sampai bercampur laki-perempuan bukan mahram) tidak pernah diajarkan dalam Islam.

Yang ingin saya tekankan di sini, bersih-bersih (fisik) menjelang Ramadhan bukanlah hal yang terlalu penting. Lebih penting menyiapkan diri untuk fokus beribadah pada saat Ramadhan.

Salah kaprah lainnya adalah bermaaf-maafan menjelang Ramadhan dan Lebaran.

August 18, 2009

Niatnya Wangi Kesturi, Tapi…

Bismillah,

Ramadhan sudah di depan mata. Tidak terasa kita sudah didatangi (lagi) untuk yang kesekian kalinya oleh tamu yang agung ini. Tamu yang begitu memuliakan kita, big sales yang tidak ada duanya, bahkan membuat kita selalu merindukan Ramadhan.

Ada beberapa hal yang selalu menjadi ganjalan pikiran saya setiap Ramadhan. Kali ini saya ketengahkan artikel tentang SALAH PAHAM orang tentang BAU MULUT YANG SEWANGI KESTURI.

Hadits lengkapnya adalah sebagai berikut:
Abu Hurairah r.a, berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman, (dalam satu riwayat: dari Nabi, beliau meriwayatkan dari Tuhanmu, Dia berfirman 8/212), “Setiap amal anak Adam itu untuknya sendiri selain puasa, sesungguhnya puasa itu untuk Ku (dalam satu riwayat: Tiap-tiap amalan memiliki kafarat, dan puasa itu adalah untuk Ku 8/212), dan Aku yang membalasnya. Puasa itu perisai. Apabila ada seseorang di antaramu berpuasa pada suatu hari, maka janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak (dan dalam satu riwayat: jangan bertindak bodoh 2/226). Jika ada seseorang yang mencaci makinya atau memeranginya (mengajaknya bertengkar), maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa.’ (dua kali 2/226) Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah adalah lebih harum daripada bau kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang dirasakannya. Yaitu, apabila berbuka, ia bergembira; dan apabila ia bertemu dengan Tuhannya, ia bergembira karena puasanya itu.”

Nah, hadits di atas seringkali DISALAH ARTIKAN dan DISALAH PAHAMI oleh banyak orang. Mereka TIDAK MENJAGA KEBERSIHAN DAN KEHARUMAN MULUTNYA. Akibatnya, seringkali kita alami, saat bulan puasa jika kita berbincang-bincang (atau bahkan sekedar buka mulut) terasa sekali bau mulut yang tidak enak, bahkan memusingkan dan bisa membuat kita mual.

Hendak menegur mereka, seringkali kita merasa tidak enak. Namun jika mereka ditegur, mereka selalu menggunakan dalil hadits di atas. “Lho, bau mulut ini ga enak kan menurut anda, kalo menurut ALLOH SWT bau mulut saya ini lebih wangi dari bau kasturi lho.”

Hal ini terjadi karena mereka tidak mau gosok gigi atau membersihkan mulut mereka. Selain dengan alasan hadits di atas, juga ada anggapan dan salah pemahaman bahwa saat puasa itu DILARANG UNTUK GOSOK GIGI!

Padahal jika kita merujuk ke kitab-kitab manapun, tidak ada hadits Rasululloh SAW yg melarang menggosok gigi (siwak). Hanya saja, yg mesti diperhatikan adalah JANGAN MENELAN AIR KUMUR DG SENGAJA!

Nah, bagi sebagian saudara kita, mereka memilih tidak gosok gigi dg alasan takut menelan air kumur. Padahal jika kita berniat dan sungguh-sungguh, kita sebenarnya bisa gosok gigi (dan berkumur) dengan hati-hati dan tidak sampai tertelan air kumurnya.

Anda bisa bayangkan jika semua orang memilih tidak memperhatikan kebersihan mulutnya selama puasa, lalu anda ajak bercakap-cakap, bwehhhh…bau mulutnya akan terasa mengganggu sekali. Bau mulut sendiri saja kadang kita tidak tahan, apalagi bau mulut orang lain. ;-)

Saya sendiri, alhamdulillah, tidak terlalu takut untuk gosok gigi selama puasa (dan di bulan Ramadhan). Bahkan saya kenal dg 1 rekan kerja yg selalu membawa sikat gigi dan odol. Sebelum wudhu, dia selalu gosok gigi, sekalipun di bulan puasa. Posisinya sebagai manajer, sehingga memang penampilan cukup penting. Tapi alasannya bukan karena penampilan (duniawi), tapi karena baginya sikat gigi merupakan hal ‘wajib’.

Anda sendiri bagaimana? Masih tidak mau gosok gigi dg alasan takut menelan air kumur, tapi dengan demikian anda berarti ‘menyengsarakan’ orang2 sekitar anda (terutama yg anda ajak obrol)? Atau anda mulai punya kesadaran bahwa wangi kasturi bisa didapat walau mulut anda senantiasa dijaga kebersihannya? ;-)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham