Tausyiah275

June 18, 2008

Islam dan Sihir

Bismillah,

Sihir atau ilmu gaib adalah sebuah ilmu yg dilarang dipelajari di dalam Islam. Kita bisa dapati hal ini dalam Al Qur’an dan hadits Rasululloh SAW.
- “Mereka belajar suatu ilmu yang membahayakan diri mereka sendiri dan tidak bermanfaat buat mereka.” (Al Baqarah(2): 102)

- “Jauhilah tujuh perkara besar yang merusak. Para sahabat bertanya: Apakah tujuh perkara itu, ya Rasululloh? Jawab Nabi, yaitu: 1) menyekutukan ALLOH SWT; 2) sihir; 3) membunuh jiwa yang oleh ALLOH SWT diharamkan kecuali karena hak; 4) makan harta riba; 5) makan harta anak yatim, 6) lari dari peperangan; 7) menuduh perempuan-perempuan baik, terjaga dan beriman.” (HR Bukhari dan Muslim)

Di jaman sekarang, sihir tidaklah hilang. Dia masih ada, karena masih ada orang (sesat) yg mempelajari dan mengamalkannya. Juga masih ada orang2 yg percaya pada sihir. Banyak sekali contohnya, orang sakit berobat ke dukun minta jampi2. Ada juga orang yg ingin pintar, ingin kaya, mencari jodoh, semuanya datang ke paranormal untuk konsultasi dan minta solusi. Padahal sebenarnya solusi yg diberikan para dukun dan paranormal itu tidaklah berdasar. Namun demikian, pikiran manusia kadang irrasional, bahkan banyak para pejabat yg minta ilmu ini itu demi menjaga kelangsungan jabatan mereka dan senantiasa menang dalam pemilihan.

Selain itu, dukun dan paranormal seringkali ditanya mengenai skor sepakbola (selagi ramai piala Eropa), lalu ditanya juga mengenai barang2 yg hilang. Padahal semuanya itu tidak ada pengetahuan pada dukun tersebut!

Rasululloh SAW sendiri telah jelas-jelas menyatakan bahwa pergi ke dukun atau paranormal adalah HAL YG HARAM!
- “Tidak termasuk golongan kami, barangsiapa yang menganggap sial karena alamat (tathayyur) atau minta ditebak kesialannya dan menenung atau minta ditenungkan, atau menyihir atau minta disihirkan.” (HR Bazzar dengan sanad yang baik)

- Ibnu Mas’ud juga pernah berkata:”Barangsiapa pergi ke tukang ramal, atau ke tukang sihir atau ke tukang tenung, kemudian ia bertanya dan percaya terhadap apa yang dikatakannya, maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.” (HR Bazzar dan Abu Ya’la dengan sanad yang baik)

- “Tidak akan masuk sorga pencandu arak, dan tidak pula orang yang percaya kepada sihir dan tidak pula orang yang memutuskan silaturrahmi.” (HR Ibnu Hibban)

Sihir mempunyai berbagai bentuk, di antaranya adalah santet dan pelet.

Pelet sendiri adalah usaha dari seseorang (laki-laki atau perempuan) untuk mendapatkan perhatian/kasih sayang (atau dicintai) dari lawan jenisnya dengan cara2 yg tidak masuk akal. Ada yg mesti mengambil rambut lawan jenisnya sebanyak 7 helai, atau mesti mengambil baju dalam, dst dst. Dari caranya saja, kita sudah bisa ambil kesimpulan bahwa hal tersebut jelas2 tidak masuk akal dan bertentangan dengan nalar manusia normal (sehat jiwanya).

Namun demikian, pelet masih seringkali dicari, terutama oleh kaum muda yg merasa cintanya tidak kesampaian. Jadi, jangan heran, jika ada ungkapan “Cinta ditolak, dukun bertindak” *terbahak-bahak*. Namun ini demikian adanya. Anda bisa lihat di banyak media (terutama koran) mengenai praktik pelet memelet ini.

Sementara untuk santet (atau tenung), hal seperti ini merupakan hal yg sulit dipercaya meski kita masih bisa jumpai hal2 seperti itu. Ada beberapa kejadian yg pernah dialami oleh teman dan kerabat saya:
- Ibunya ditenung/disantet hingga meninggal. Pada saat hendak meninggl, dari kepalanya keluar barang2 yg aneh seperti paku, pecahan kaca.

- Seorang teman, saat dipijat, mendadak dari punggungnya keluar pecahan beling.

Sebenarnya masih ada beberapa cerita lain, namun tidak perlu saya tulis di sini.

Lantas, bagaimana sikap kita?

Saudara2ku, kita TIDAK PERLU TAKUT dengan sihir! ALLOH SWT sudah memberikan cara agar kita terlindung dari perbuatan sihir, sebagaimana kita bisa baca di Al Falaq(113):4, “(Dan aku berlindung diri) dari kejahatan tukang meniup simpul.” Meniup simpul di sini adalah perbuatan sihir yg biasa dilakukan di jaman Rasululloh SAW.

Hal lain yg bisa kita lakukan adalah memperbanyak dzikir, bersedekah, berbuat baik kepada orang lain. Dengan dzikir, pikiran kita akan senantiasa ‘terhubung’ dengan ALLOH SWT, sehingga mempersulit hal2 lain, karena ALLOH SWT (insya ALLOH) akan selalu menjaga kita. Sementara bersedekah sesungguhnya menolak bala, sebagaimana sabda Rasululloh SAW,“Bersegeralah untuk bersedekah. Sebab, yang namanya bala tidak bisa mendahului sedekah.” Sementara dengan berbuat baik kepada orang lain, maka kebaikan (insya ALLOH) akan datang juga kepada kita (aamiin).

Semoga kita bisa terhindar dari sihir.

June 15, 2008

Islam dan Bekam (Sehat Dengan Bekam)

Masuk Kategori: Ensiklopedia Islam

Bismillah,

Islam sangat memperhatikan kesehatan (dan kebersihan). Dalam satu hadits yg terkenal, Rasululloh SAW berkata,”Bersuci (thaharah) sebagian daripada iman” (HR Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi). Sebagian dari kita mungkin lebih mengenal “kebersihan sebagian dari iman”, padahal pernyataan ini bukan berasal dari Rasululloh SAW.

Kembali pada kesehatan.

Rasululloh SAW dan para sahabat serta para ulama, sangat memperhatikan kesehatan. Dalam berbagai riwayat, jika kita menelusuri perjalanan hidup Rasululloh SAW, sangat jarang kita temui mereka jatuh sakit. Dengan kata lain, mereka senantiasa menjaga kesehatan mereka dengan baik, karena tubuh merupakan sebagian nikmat dari ALLOH yg menjadi amanah untuk dijaga karena akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Banyak cara untuk menjaga kesehatan, antara lain dengan menjaga makanan yg dikonsumsi. Saya sempat menuliskan (ulang) beberapa hal tentang adab makan, mungkin bisa saudara2 baca ulang.

Hal lain yg dianjurkan Rasululloh SAW untuk menjaga kesehatan, tidak hanya pencegahan namun juga pengobatan adalah sebagai berikut, dari Ibnu Abbas r.a. Rasululloh SAW bersabda : “Kesembuhan (obat) itu ada pada tiga hal: dengan minum madu, pisau hijamah (bekam), dan dengan besi panas. Dan aku melarang ummatku dengan besi panas.” (HR Bukhari)

Dari hadits di atas, minum madu mungkin hal yg biasa, sementara besi panas jelas dilarang oleh Rasululloh SAW. Karenanya mari kita fokus pada bekam.

Apakah bekam itu?

Anda bisa membaca di sini tentang bekam. Banyak keterangan2 di sana yg bisa menjelaskan kepada anda, arti bekam. Namun, saya akan jelaskan secara singkat di sini.

Berbekam adalah salah satu metode pengobatan yg dilakukan Rasululloh SAW (dan saya yakin para sahabat mengikutinya, meski saya belum menemukan riwayat yg shahih tentang keikutsertaan para sahabat). Saya sendiri baru awal tahun ini tertarik lebih dalam tentang bekam.

Alhamdulillah, saya merasakan manfaat yg cukup terasa dampaknya usai berbekam. Pengobatan tipe ini jelas tidak disarankan bagi saudara2 yg jijik dg darah ataupun tidak kuat melihat darah. Beberapa teman saya, yg phobia darah, malah jadi ‘teler’ usai berbekam.

Banyak tempat bekam yg tersebar di Jakarta ataupun di kota-kota lainnya. Saya sendiri biasa berbekam di sebuah mall di daerah Kalibata. Tarif yg saya keluarkan yaaa…cukup lumayan lahh. Namun, hasil yg didapat rasa-rasanya tidak seberapa jika dibandingkan dengan uang yg dikeluarkan. Demi kesehatan, janganlah kita sungkan untuk merogoh kocek.

Rasululloh SAW mencontohkan berbekam sebagaimana hadits berikut, Anas bin Malik r.a. menceritakan bahwa : “Rasululloh SAW biasa melakukan hijamah pada pelipis dan pundaknya. Beliau melakukannya pada hari ketujuhbelas, kesembilanbelas atau keduapuluhsatu.” (HR Ahmad).

Yang mesti diperhatikan, hari-hari di atas didasarkan pada penanggalan qamariyah, bukan tgl kalender syamsiah yg selama ini kita gunakan.

Anda penasaran dengan bekam? Silakan datang ke tempat bekam setempat, dan nikmati hasilnya!!

May 27, 2008

Adab Makan Rasululloh SAW

Bismillah,

Lanjutan dari artikel sebelumnya.

Ada baiknya kita meniru adab makan Rasululloh SAW, karena selaku manusia terbaik yang pernah diciptakan ALLOH SWT, tentu perilaku beliau tidak terlepas dari segala kebaikan.

Berikut adalah adab makan Rasululloh SAW:

* Rasulullah SAW menyukai dlafaf – makanan yang banyak tangan memakannya
* Membaca doa yang bermaksud :- ‘Dengan nama Allah, Ya Allah Ya Tuhanku, jadikanlah hidangan ini nikmat yang disyukuri yang sampai nikmat syurga ke atas nya.’

* Makan cara hamba - semasa duduk makan, baginda merapatkan antara kedua lututnya dan antara kedua tapak kakinya – tapak kaki kanan di atas tapak kaki kiri.
* Tidak memakan makanan yang sangat panas karena tidak (ada) berkah (diumpamakan memakan api).

* Tidak makan dengan dua anak jari karena cara demikian adalah cara makan syaitan.
* Menyukai kueh faludzaj – ramuan – minyak samin, madu lebah, tepung gandum.

* Menyukai roti syair, mentimun dan ruthab (kurma yang belum kering) ditambah dengan garam.
* Menyukai anggur dan semangka dimakan bersama roti dan gula atau ruthab.

* Makan ruthab dengan tangan kanan dan biji di tangan kiri baginda diberi makan kepada kambing yang lalu lalang di tempat baginda makan.
* Makan anggur dengan memegang tangkainya sehingga air anggur kelihatang pada janggutnya seperti benang mutiara.

* Menyukai susu dengan tamar (al-athyabin – dua yang terbaik)
* Menggemari daging – penghulu makanan di dunia dan di akhirat – khasiat menguatkan pendengaran.

* Menyukai roti berkuah dengan daging dan buah labu dan bersabda bahwa labu itu adalah pohon Nabi Allah Yunus a.s. Pernah menyarankan Aisyah ra memasak gulai dengan membanyakkan labu – akan menguatkan hati orang yang berduka ***untuk yang ini, saya belum temukan hadits mengenai makan labu***
* Menyukai daging burung (tetapi tidak pula ikut menangkap burung).

* Tidak menundukkan kepala saat makan daging burung tetapi mengangkatkan daging ke mulutnya dan menggigitnya.
* Menyukai roti dengan minyak samin.

* Menggemari daging kambing – bagian lengan dan bahu, Kurma madinah (al-ajwah – berasal dari syurga) – penawar racun dan sihir - adalah antara yang paling digemari di kalangan tamar.
* Sayur-sayuran yang digemari baginda pula adalah al-handaba, al-badzaruj dan al-hamqa’/ar-rajlah.

* Tidak menyukai bagian daging spt. buah pinggang, zakar dan biji zakar, ghudad, darah, empedu dll. ***ini berarti Rasululloh SAW tidak suka jeroan…***
* Tidak menyukai bawang putih, bawang merah dan daun bawang prei (al-kurrats) .

* Tidak pernah mencela makanan – kalau disukai, dimakan – kalau tidak disukai, ditinggalkan.
* Tidak menggemari dhab.

* Suka menghabiskan sisa makanan dengan anak jarinya – makanan yang penghabisan banyak barakahnya.
* Menjilat sisa makanan pada anak jari – yang tidak diketahui makanan mana yang paling berkat.

* Tidak menyapu dengan sapu tangan.
* Selesai makan – dibaca ‘Segala puji-pujian bagi Allah. Ya Allah Ya Tuhanku, bagiMu segala pujian. Engkau anugerahkan makanan, maka Engkau anugerahkan kekenyangan. Engkau anugerahkan kepuasan (kehilangan haus). Bagi Engkau segala pujian yang tidak dimungkiri keutamaannya, yang tidak ditinggalkan dan yang diperlukan kepadanya’

* Membasuh tangan dan menyapu sisa air ke muka.
* Minum dengan tiga kali teguk dan dibaca sebelum setiap teguk : Bismillah - dan selepas setiap teguk : Alhamdulliah.

* Minum senafas dan tidak bernafas dalam bekas minuman yang diminum melainkan semasa menghisap.
* Memberikan kelebihan air kepada orang yang lebih mulia kedudukannya baik di sisi di kiri atau di kanan baginda dan bersabda kepada orang yang tidak mendapat air bahwa sunat mengutamakan (orang yang lebih mulia kedudukannya).

* Tidak menyukai air susu dan madu diminum bersama karena tidak melambangkan tawaddak.
* Pemalu dalam perihal makan – tidak meminta kepada keluarga baginda makanan/minum – tetapi kalau diberi, baginda makan atau minum. Kadangkala bangun sendiri untuk mendapatkan makanan/minuman.

So, mari mulai dari sekarang kita coba mencontoh Rasululloh SAW dalam makan :)

Sholat Jama’ (Jamak) dan Qashar

Bismillah,

Pada kesempatan ini, saya hendak menjelaskan pengertian sholat jama’ dan sholat qashar. Latar belakang artikel ini dibuat, karena ada seorang temanku yg ’salah’ membedakan sholat jama’ dan qashar. Semoga artikel ini bisa menambah pengetahuan baginya dan bagi anda semua.

Yang dimaksud dengan sholat jama’ adalah menggabungkan 2 sholat dalam 1 waktu. Sebagai contoh menggabungkan sholat Dhuhur dan Ashar, serta sholat Maghrib dan Isya.

Dalil yang digunakan adalah:
1) Dari Muadz bin Jabal bahwa Rasululloh SAW apabila beliau melakukan perjalanan sebelum matahari condong (masuk waktu sholat zuhur), maka beliau mengakhirkan sholat zuhur kemudian menjamaknya dengan sholat ashar pada waktu ashar, dan apabila beliau melakukan perjalanan sesudah matahari condong, beliau menjamak sholat zuhur dan ashar (pada waktu zuhur) baru kemudian beliau berangkat. Dan apabila beliau melakukan perjalanan sebelum magrib maka beliau mengakhirkan sholat magrib dan menjamaknya dengan sholat isya, dan jika beliau berangkat sesudah masuk waktu magrib,maka beliau menyegerakan sholat isya dan menjamaknya dengan sholat magrib. (Hadits Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).

2)Rasululloh SAW menjamak sholat magrib dan isya pada malam yang hujan. Dalil lainnya yaitu salah satu perbuatan sahabat, dari Nafi’: bahwa Abdulloh Ibnu Umar sholat bersama para umara (pemimpin) apabila para umara tersebut menjamak sholat magrib dan isya pada waktu hujan. (HR Bukhori)

3) Rasululloh SAW menjamak antara sholat zuhur dan ashar dan antara sholat magrib dan Isya bukan karena rasa takut dan hujan. (HR Muslim)

4) Adalah Rasululloh SAW dalam peperangan Tabuk, apabila hendak berangkat sebelum tergelincir matahari, maka beliau mengakhirkan Dzuhur hingga beliau mengumpulkannya dengan Ashar, lalu beliau melakukan dua shalat itu sekalian. Dan apabila beliau hendak berangkat setelah tergelincir matahari, maka beliau menyegerakan Ashar bersama Dzuhur dan melakukan shalat Dzuhur dan Ashar sekalian. Kemudian beliau berjalan. Dan apabila beliau hendak berangkat sebelum Maghrib maka beliau mengakhirkan Maghrib sehingga mengerjakan bersama Isya’, dan apabila beliau berangkat setelah Maghrib maka beliau menyegerakan Isya’ dan melakukan shalat Isya’ bersama Maghrib“. (HR Tirmidzi)

5) Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjama antara Zhuhur dan Ashar jika berada dalam perjalanan, juga menjama antara Maghrib dan Isya. (HR Bukhari)

Ada beberapa syarat melakukan sholat jama’, yaitu:
1. Bepergian jauh dan tujuannya bukan untuk bermaksiat.
2. Apabila melakukan sholat berjama’ah, maka imamnya harus musafir juga.
3. Karena sedang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat yang betul-betul sulit ditinggalkan. Misalnya seorang dokter yang mesti melakukan operasi.

Ada 2 jenis sholat jama’, yakni:
1. Jama’ Taqdim (ada juga yg menuliskan ta’dim, takdim, dst)
Jama’ taqdim adalah ‘menarik’ lebih awal waktu sholat. Jadi, apabila kita hendak bepergian yg kira2 cukup jauh di waktu Dhuhur, usai sholat Dhuhur kita lanjutkan dengan sholat Ashar. Hal yang sama berlaku untuk sholat Isya’, yang dilakukan di saat Magrib.

Yang tidak diperbolehkan dijama’ taqdim adalah Dhuhur di waktu Subuh, ataupun Magrib di waktu Ashar. Selain itu tidak boleh menjama’ Ashar dg sholat Jum’at (di hari Jum’at).

Untuk melaksanakan sholat jama’ taqdim, maka ada hal-hal yg mesti diperhatikan:
a. Kerjakan dulu sholat Dhuhur baru Ashar (atau Magrib dulu baru Isya).
b. Niat jama’ dilakukan saat hendak sholat Dhuhur atau Magrib. Dengan demikian, tidak sah jika niat jama’ dilakukan saat sholat Ashar atau Isya.
c. Dilakukan ‘menyambung’, dalam artian, tidak melakukan sholat sunnah setelah sholat Dhuhur atau Magrib.

2. Jama’ Takhir (ada juga yg menulis ta’hir, taqhir, dst)
Jama’ takhir kebalikan dari poin 1. Dengan demikian, kita ‘mengulur’ sholat di waktu berikutnya. Berdasarkan poin 1, maka kita bisa simpulkan bahwa jama’ takhir itu berarti sholat Dhuhur & Ashar di waktu Ashar, dan sholat Maghrib & Isya di waktu Isya.

Hal yg tidak diperbolehkan adalah Isya di saat Subuh dan Ashar di saat Maghrib.

Untuk melaksanakan sholat jama’ takhir, maka ada hal-hal yg mesti diperhatikan:
a. Niat jama’ tetap dilakukan di saat sholat Dhuhur atau Magrib.
b. Kita masih berada dalam perjalanan pada saat Ashar atau Isya.

Khusus untuk sholat jama’ takhir, kita mesti mendahulukan waktu sholat yg terakhir. Sebagai contoh, jika kita jama’ takhir Dhuhur dan Ashar, maka kita sholat Ashar dahulu barulah sholat Dhuhur.

Tata cara sholat jama’ sama dengan sholat biasa.

Sementara itu, yang dimaksud dengan sholat qashar adalah menyingkat sholat. Sholat yang bisa disingkat hanya sholat dengan jumlah raka’at 4, yakni Dhuhur, Ashar, dan Isya. Sementara Magrib, terlebih lagi Subuh, tidak bisa disingkat.

Dalil-dalilnya:
1) “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (An Nisa 101).

2) “Saya telah bertanya kepada Anas tentang mengqashar shalat. Jawabnya: Rasululloh SAW apabila ia berjalan jauh 3 mil atau 33 farskah (25,92 km), maka beliau shalat dua rakaat” (Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud dari Yahya bin Mazid r.a)

3) “Telah berkata Ibnu Abbas: Rasululloh SAW pernah sembahyang jama’ antara Dhuhur dan Ashar, dan antara Maghrib dan Isya, bukan diwaktu ketakutan dan bukan di dalam pelayaran (safa). Lantas ada orang bertanya kepada Ibnu Abbas: mengapa Nabi SAW berbuat begitu? Ia menjawab: Nabi SAW berbuat bgitu karena tidak mau memberatkan seorangpun daripada umatnya”. (HR Imam Muslim)

4) Dari Muhammad bin Ja’far : ” Telah bercerita kepadaku Syu’bah, dari Yahya bin Yazid Al-Hanna’i yang menuturkan : “Aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang mengqashar shalat. Sedangkan aku pergi ke Kufah maka aku shalat dua raka’at hingga aku kembali. Kemudian Anas berkata : “Artinya : Adalah Rasululloh SAW manakala keluar sejauh tiga mil atau tiga farskah (Syu’bah ragu), dia mengqashar shalat. (Dalam suatu riwayat) : Dia shalat dua rakaat”. (HR Imam Ahmad (3/129) dan Al-Baihaqi (2/146).

5) Dari Ya’la bin Umayyah bahwasanya dia bertanya kepada Umar ibnul Kaththab –radhiallahu anhu tentang ayat ini seraya berkata: “Jika kamu takut di serang orang-orang kafir”, padahal manusia telah aman ?!”. Sahabat Umar –radhiallahu anhu menjawab: “Aku sempat heran seperti keherananmu itu lalu akupun bertanya kepada Rasululloh SAW tentang hal itu dan beliau menjawab: “(Qashar itu) adalah sedekah dari ALLOH SWT kepadamu, maka terimahlah sedekah ALLOH SWT tersebut.” (HR. Muslim, Abu Dawud)

Untuk melakukan sholat Qashar, maka kita mesti berniat untuk sholat Qashar. Karena disingkat menjadi 2 raka’at, maka perlakuannya serupa dengan sholat Shubuh.

Selain itu ada juga syarat-syarat yang mesti diperhatikan:
1. Orang yang melakukan qashar = musafir.
2. Seseorang dikatakan musafir jika menempuh lebih kurang 88 km (atau lebih). Di hadits lain disebutkan bahwa Rasululloh SAW jika bepergian lebih dari 15 km, beliau juga melakukan qashar, seperti hadits berikut,“Dari Yahya bin Yazid al-Hana?i berkata, saya bertanya pada Anas bin Malik tentang jarak shalat Qashar. Anas menjawab: “Adalah Rasululloh SAW jika keluar menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh beliau shalat dua rakaat.” (HR Muslim)

Pertanyaannya, apakah boleh kita menggabungkan jama’ dan qashar?

Di dalam bukunya, As-Shalah (hal 181), Prof.Dr. Abdullah Ath-Thayyar menyatakan bahwa Rasululloh SAW pernah melakukan gabungan jama’ dan qashar sekaligus. Pendapat ini juga merupakan fatwa para ulama termasuk syaikh Abdul Aziz bin Baz.

Semoga bermanfaat

May 25, 2008

Adab Makan Minum

Bismillah,

Berikut ini adalah adab makan dan minum yg dicontohkan Rasululloh SAW.

Makan MESTI dengan tangan kanan
1 Dari Jabir r.a., dari Rasulullah SAW sabdanya,”Janganlah kamu makan dengan tangan kiri, karena hanya syetan yang makan dengan tangan kiri.”.

2 Dari Ibnu ‘Umar r.a., katanya Rasulullah SAW bersabda,”Apabila kamu makan dan minum, makan dan minumlah dengan tangan kanan, karena hanya setan yang makan minum dengan tangan kiri.”.

3 Dari Iyas bin Salamah bin Akwa’ r.a., dia mengatakan bahwa bapaknya menceritakan kepadanya,”Seorang laki-laki makan dekat Rasulullah SAW dengan tangan kiri. Maka bersabda beliau kepadanya,”Makanlah dengan tangan kanan !”. Jawab orang itu,”Aku tidak bisa !”. Sabda Nabi SAW,”Tidak bisa ? Tidak ada orang yang melarangmu melainkan perasaan sombongmu.”. Kata Iyas,”Orang itu benar-benar menjadi tidak dapat mengangkat tangan ke mulutnya.”

May 22, 2008

Adab Berpakaian Ala Rasululloh SAW

Masuk Kategori: Ensiklopedia Islam

Bismillah,

Ini sekedar sharing aza..tidak mesti dituruti…namun, alangkah baiknya jika memang bisa. Hanya saja, sayangnya, masih banyak yang memandang dengan pandangan ‘aneh’. Tapi, yang terpenting (menurut akal manusia) adalah kesiapan mental dicap teroris ;-)

Berikut ini adalah adab berpakaiannya Rasululloh SAW:
* Kain sarung/selindang/penutup badan/ baju kemeja (qamish)/jubah.
* Menyukai warna hijau dan putih.
* Qaba’ (baju luar) dari kain sundusin.
* Pakaian yang tinggi di atas kedua tapak kakinya, kadangkala setengah betis, kemeja terikat dengan kancing baju – kadangkala baginda membuka kancing itu semasa solatnya. Kadangkala mengerjakan solat dengan berselimut yang dicelup kumkuma.

* Kadangkala memakai kain sehelai/sarung – yang tiada kain lain di atasnya – kadangkala diikatkan kedua hujungnya di antara kedua bahunya. Kadangkala mengimami solat jenazah atau mengerjakan solat di rumah (umpamanya solat malam) dengan cara yang demikian.
* Memakai kain bertampal – pakaian cara hamba.
* Mempunyai dua helai pakaian khusus untuk solat Jumaat.
* Mempunyai pakaian hitam tetapi disedekahkan kepada orang – maksud riwayat Ummu Salmah r.a. – terserlah ketampanan/keputihan kulit baginda apabila memakai pakaian hitam.

* Kadangkala mengerjakan solat memakai syamlah – kain bulu hitam.
* Memakai cincin. Kadangkala baginda keluar dan pada cincinnya terdapat benang terikat untuk mengingatkan baginda terhadap sesuatu. Baginda chapkan surat-surat yang dikirim dengan cincinnya supaya penerima surat berkenaan mengenali baginda.
* Memakai qalansuah (kupiah); dengan atau tanpa serban.
* Mempunyai serban as-sahab – awan. Diberikan kepada Sayyidina Ali r.a.

* Semasa memakai pakaian baginda berdoa (maksudnya) :- “Segala puji-pujian bagi Allah yang menganugerahkan kpdaku pakaian di mana dengan pakaian ini akau menutup auratku dan aku memperelokkan diriku pada manusia.
* Memakai dengan memulakan sebelah kanan dan membuka pakaian dengan memulakan sebelah kirinya.
* Menyedekahkan pakaian lamanya kepada orang miskin – maksud sabda Baginda - diberikan kerana Allah dan dianugerahkan kebajikan selagi pakaian berkenaan menutup aurat sipenerima samada hidup atau mati.
* Mempunyai tikar tidur dari kulit yang sudah disamak – diisikan kulit kayu kurma yang halus. Panjang lebih kurang dua hasta. Lebar lebih kurang sehasta sejengkal.

* Mempunyai baju ‘aba-ah (baju terbuka depannya, dipakai di atas baju lain) yang dibentangkan/dilipat dua lapis untuk baginda setiap kali berpindah tempat duduk.
* Nama bendera : Al-‘Uqab.
* Nama pedang perang : Zulfaqar. Lain-lain pedang : Ak-Mikhzam, Ar-Rasub, Al-Qadlib – tangkai pedang dihiasi perak. Tali pedang dari kulit yang disamak. Tiga helai tali dari perak.
* Nama busur baginda ialah Al-Katum, tempat pananannya bernama Al-Kafur.

* Nama untanya : Al-‘Udl-ba, Nama kudanya : Al-Duldul, Nama kaldainya : Ya’fur. Nama kambingnya: ‘Ainah.
* Mempunyai tempat bersuci/berwuduk dan minum dari tembikar. Ramai anak-anak kecil mendapat barakah dari tempat ini.

Bagi kita, yang hidup di masa ‘modern’, mungkin banyak hal yang ‘tidak sesuai’ dengan kondisi kita…tapi it’s ok…yang penting, kita coba untuk mencontoh + melakukannya sebatas kemampuan kita…tidak ada paksaan kok ;-)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham