Tausyiah275

October 15, 2009

Islam, Gempa, Dan Angka-angka (Numerologi)

Bismillah,

Kita sudah ketahui bahwa Islam merupakan agama yang sempurna dan ‘meminta’ para pemeluknya agar LEBIH BANYAK mengedepankan AKAL daripada sesuatu yang tidak jelas juntrungannya. Akan tetapi, pada kenyataannya, seringkali para pemeluknya, bahkan yang mengaku dirinya berakal dan mengerti ttg Islam, justru membuat Islam menjadi ‘norak’.

Saya ambil contoh adalah keterkaitan antara Islam dan angka-angka (yang lazimnya disebut numerologi).

Sekitar 2-3 tahun lalu, saya sempat membaca artikel yang mengaitkan Islam dengan angka 19. Inti dari artikel yang saya baca itu, angka 19 merupakan ‘pondasi’ dari banyak hal di Islam, karena banyak hal di Al Qur’an ternyata berhubungan dengan angka 19.

Terus terang, saya tertawa saja membaca penjelasan si penulis itu. Banyak hal yang terasa dipaksakan agar memenuhi keinginan si penulis, bahwa 19 selalu ada di Al Qur’an.

Sejenak, saya teringat dengan ilmu guthak gathuk di Jawa *tolong koreksinya jika salah*. Ilmu guthak gathuk ini biasanya digunakan untuk ‘menghubung-hubungkan’ sesuatu dengan angka. Yaa…mirip dengan yang dilakukan si penulis angka 19 itu lah. Biasanya ilmu guthak gathuk ini banyak dipraktikkan oleh para pejudi atau paranormal. Berbagai cara mereka lakukan agar ilmu ini bisa diterapkan dan dipercaya oleh orang-orang sekitarnya.

Nah, terkait dengan hal ini, saya jadi teringat dengan peristiwa yang baru terjadi, yakni gempa bumi di Padang.

Tidak berselang lama dari kejadian gempa di Padang, alamat email dan yahoo messenger saya dipenuhi dengan berita-berita yang mengait-ngaitkan gempa di Padang dengan ayat Al Qur’an.

Berikut kutipannya

“Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qur’an!” demikian bunyi pesan singkat yang beredar. Siapa pun yang membuka Al-Qur’an dengan tuntunan pesan singkat tersebut akan merasa kecil di hadapan Allah Swt. Demikian ayat-ayat Allah Swt tersebut:

17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16): “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58): “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”

8.52 (QS. Al Anfaal: 52): (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”

Sejenak saya merasa dejavu, sebelum akhirnya saya tertawa.

Jika hendak konsisten, mestinya si penulis ini juga menyertakan bencana-bencana gempa lain yang terjadi di Indonesia dengan ayat-ayat Al Qur’an seperti yg dia lakukan pada bencana di Padang ini. Padahal, jika diperhatikan rincian bencana-bencana gempa lain tidaklah selalu berhubungan dengan ayat-ayat Al Qur’an mengenai kemurkaan ALLOH SWT ataupun bencana.

Apa buktinya?

Jika merujuk ke situs BMG, anda akan bisa temukan banyak gempa yang terjadi di Indonesia. Silakan cek setiap bencana gempa, katakanlah yang skalanya cukup besar, di atas 6, dengan ayat Al Qur’an, maka akan kita ketahui bahwa tidak semua gempa berhubungan dengan ayat Al Qur’an.

Saya juga sempat membaca di beberapa situs bahwa ‘tidak nyambungnya’ gempa dan Al Qur’an bisa terlihat pada gempa di Aceh (2004) dan di Yogya (2006).

Dari hasil pencarian, gempa dan tsunami di Aceh terjadi pada 26 Desember 2004 pada pukul 7:58. Jika melihat Al Qur’an (7:58), maka akan didapat bunyi ayat sebagai berikut:
“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”

Sementara itu gempa di Yogya 27 Mei 2006 terjadi jam 05.55 pagi. Kita cek Al Qur’an (5:55), maka didapat ayat:
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”

Lagipula, saya kok yakin karena Al Qur’an merupakan petunjuk bagi SEMUA UMAT MANUSIA, maka ayat-ayatnya TIDAK BOLEH diartikan/diterjemahkan/ditafsirkan sesuai keinginan suatu masyarakat/negara. Dengan kata lain, jika hendak mencocokkan gempa dengan Al Qur’an, maka ‘mestinya’ masyarakat Jepang yg berhak mengatakan bahwa Al Qur’an ‘cocok’ dengan kondisi negara mereka karena begitu seringnya terjadi dan terkena gempa. Toh, tetap saja bahwa MENCOCOKKAN (WAKTU KEJADIAN) GEMPA DENGAN AL QUR’AN adalah perbuatan orang2 (maaf) bodoh dan tidak mengerti!

Justru sebagai umat Islam yang diminta menggunakan akal dan nalar (logika), umat Islam mesti BISA MEMBACA AYAT TERSIRAT, dalam hal ini gempa. Umat Islam mestinya bisa menguasai ilmu gempa, termasuk cara penanggulangannya, lalu cara membuat bangunan tahan gempa. Itu akan memperlihatkan bahwa Islam benar2 agama yg menggunakan nalar dan logika. Bukan dengan cara menghubung-hubungkan gempa dengan ayat lalu menyebarkannya, yang malah akan membuat kegelisahan di kalangan masyarakat.

Umat Islam hendaknya menggunakan angka-angka sebagai sarana untuk menjabarkan dan membuktikan kerasionalan Islam, bukan malah sebaliknya, membuat Islam “nampak bodoh” dengan memaksakan angka-angka dengan ayat Al Qur’an. :-)

Semoga berguna.

September 23, 2009

Puasa Syawal, Susah Atau Mudah?

Bismillah,

Pertama-tama, saya ucapkan Selamat ‘Idul Fitri 1430 H. Taqabballahu Minna Wa Minkum, Shiyamana Wa Shiyamakum. Maaf lahir dan batin untuk segala kesalahan yang pernah saya lakukan di blog ini, facebook, ataupun di yahoo messenger. :-) Semoga di 11 bulan berikutnya, kita bisa mempertahankan semangat Ramadhan hingga kita bertemu lagi dengan bulan mulia itu. Aamiin :-)

Puasa Syawal adalah ibadah yang bisa dilakukan di bulan Syawal, sebagai upaya untuk menyempurnakan shaum Ramadhan yang telah kita lakukan. Anda bisa membaca artikelnya di sini.

Pertanyaan yang timbul, apakah puasa Syawal itu mudah atau susah?

Mengapa ada pertanyaan seperti itu? Karena walaupun puasa Syawal itu ‘hanya’ 6 hari, jauh lebih pendek jika dibandingkan dengan puasa Ramadhan yang 29-30 hari, namun bagi kebanyakan kaum muslim, puasa Syawal ini dirasa sangat berat untuk dilakukan. Hal ini, jika dipikir secara logika, memang benar. Dilihat dari jumlah hari, puasa Syawal itu mudah, tapi kenyataannya sulit dilakukan.

Apa pasal puasa Syawal (cenderung) sulit dilakukan?

Ada beberapa penyebab mengapa puasa Syawal cenderung sulit (dan enggan) dilakukan.

Pertama, kaum muslim merasa dirinya baru bebas dari kewajiban puasa Ramadhan. Mereka beranggapan puasa di bulan Ramadhan sudah cukup sebagai sarana ibadah, terutama untuk puasa di bulan lain tidak terlalu penting. Walhasil, mereka merasa tidak perlu menuaikan puasa Syawal.

Kedua, bisa jadi kaum muslim tidak mengetahui manfaat dari puasa Syawal. Manfaat puasa Syawal adalah untuk menyempurnakan ibadah puasa yang telah dilakukan di bulan Ramadhan. Sebagaimana sabda Rasululloh SAW, dari Abu Ayyub rodhiyallahu anhu: “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup’.” [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164] Selain itu, anda bisa baca kembali poin 1.

Ketiga, masalah kebersamaan. Puasa Ramadhan terasa lebih mudah dilakukan karena orang-orang di sekeliling anda juga berpuasa. Sementara untuk puasa Syawal, anda akan berpuasa sementara orang-orang lain cenderung tidak berpuasa. Adalah hal yang aneh, jika di Indonesia, yg mayoritas penduduknya beragama Islam, sulit untuk puasa sunnah. Bagi orang-orang yg pernah tinggal di negara non muslim, saya yakin akan lebih mudah untuk menuaikan puasa sunnah, karena mereka sudah terbiasa puasa di tengah-tengah orang yang tidak berpuasa. Terlebih bagi kaum muslim di Jakarta, yg sehari-hari mesti berhadapan dg cuaca cukup panas dan teriknya matahari.

Nah, menurut anda sendiri, puasa Syawal mudah atau sulit?

August 27, 2009

Sahur Itu Diakhirkan, Bukan Di Awal!

Bismillah,

Sebuah kondisi yang menarik untuk diamati adalah waktu sahur. Ternyata banyak sekali keluarga muslim yang masih salah kaprah tentang sahur. Salah kaprah dalam hal ini adalah melakukan sahur sepagi mungkin. Bahkan saya masih ingat, tetangga saya yang di Bandung, mereka sahur jam 3 pagi.

Hal ini tidaklah dilarang, tapi sebenarnya tidak sesuai dengan anjuran dan contoh Rasululloh SAW yang senantiasa mengakhirkan sahur beliau. Hal ini berdasarkan hadits berikut: Dari Anas bin Malik (dan dalam satu riwayat darinya bahwa Zaid bin Tsabit bercerita kepadanya) bahwa Nabiyullah dan Zaid bin Tsabit[18] makan sahur bersama. Tatkala keduanya telah selesai sahur, Nabi berdiri pergi shalat, maka shalatlah beliau. Aku bertanya kepada Anas, “Berapa lama antara keduanya selesai makan sahur dan mulai shalat?” Anas berkata, “Sekitar (membaca) lima puluh ayat”

Membaca 50 ayat Al Qur’an secara tartil membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit. Dari keterangan di atas, berarti waktu sahur Rasululloh SAW cenderung di sekitar 20-30 menit menjelang sholat Subuh.

Tujuan mengakhirkan sahur sudah jelas, agar kita tidak terlalu cepat merasa lapar saat menjalankan shaum.

Tentu saja mesti dibedakan antara MAKAN SAHUR dengan MEMASAK SAHUR. Untuk memasak menu sahur, tentulah tergantung pada menu yang hendak disantap. Bisa jadi butuh waktu 1-2 jam untuk memasaknya. Meski demikian, saya dan istri biasanya tidak memilih menu makanan yang lama dimasak. Istri saya biasanya sudah menyiapkan menu sahur di malam hari, sehingga saat sahur tidak butuh waktu lama untuk menyiapkannya.

Jangan lupa, sahur sebaiknya dilakukan, karena ada keutamaan dan manfaat di dalamnya.

Semoga berguna. :-)

August 24, 2009

Imam Tarawih 23 Raka’at, Tolong Bacaannya Yang Tartil Ya?!

Bismillah,

Alhamdulillah, kita telah memasuki bulan Ramadhan, bulan yang dinantikan oleh orang2 yang beriman. Saya sendiri sudah 5 tahun ‘menikmati’ bulan Ramadhan di Jakarta, jadi sedikit banyak sudah ‘berkelana’ ke beberapa masjid pada saat bulan Ramadhan, untuk mengetahui lebih banyak nuansa Ramadhan di ibukota.

Dari sekian masjid yang saya kunjungi, beraneka ragam jumlah raka’at sholat tarawihnya. Rata-rata jika tidak 11 raka’at, ya 23 raka’at.

Namun dari saya bisa tarik benang merah. Imam yg 11 RAKA’AT, BACAANNYA TARTIL (JELAS). Sementara yg 23 RAKA’AT, BACAANNYA (TERUTAMA FATIHAH) BENAR2 CEPAT, NYARIS TIDAK MENGINDAHKAN TAJWID.

Terus terang, saya kecewa dg imam-imam sholat tarawih yg LEBIH MEMENTINGKAN JUMLAH RAKA’AT DARIPADA MEMPERHATIKAN BACAAN.

Bacaan yg tidak tartil ini seringkali diikuti dengan gerakan sholat yang cukup cepat. Padahal, setahu saya Rasululloh SAW menganjurkan sholat yg tuma’ninah, tenang, alias tidak terburu-buru. Memang, Rasululloh SAW pernah menyatakan agar imam sholat MEMPERCEPAT sholatnya, terutama jika ada jama’ah yg sudah tua. Tapi harap ingat, CEPAT BUKAN BERARTI TIDAK TARTIL DAN TIDAK TUMA’NINAH!

Mudah-mudahan para imam tarawih (yg 23 raka’at) menyadari ‘kesalahan’ yang mereka lakukan ini. Anda boleh saja tarawih 23 raka’at, tapi tolong bacaannya tetap tartil. :-)

August 18, 2009

Niatnya Wangi Kesturi, Tapi…

Bismillah,

Ramadhan sudah di depan mata. Tidak terasa kita sudah didatangi (lagi) untuk yang kesekian kalinya oleh tamu yang agung ini. Tamu yang begitu memuliakan kita, big sales yang tidak ada duanya, bahkan membuat kita selalu merindukan Ramadhan.

Ada beberapa hal yang selalu menjadi ganjalan pikiran saya setiap Ramadhan. Kali ini saya ketengahkan artikel tentang SALAH PAHAM orang tentang BAU MULUT YANG SEWANGI KESTURI.

Hadits lengkapnya adalah sebagai berikut:
Abu Hurairah r.a, berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman, (dalam satu riwayat: dari Nabi, beliau meriwayatkan dari Tuhanmu, Dia berfirman 8/212), “Setiap amal anak Adam itu untuknya sendiri selain puasa, sesungguhnya puasa itu untuk Ku (dalam satu riwayat: Tiap-tiap amalan memiliki kafarat, dan puasa itu adalah untuk Ku 8/212), dan Aku yang membalasnya. Puasa itu perisai. Apabila ada seseorang di antaramu berpuasa pada suatu hari, maka janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak (dan dalam satu riwayat: jangan bertindak bodoh 2/226). Jika ada seseorang yang mencaci makinya atau memeranginya (mengajaknya bertengkar), maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa.’ (dua kali 2/226) Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah adalah lebih harum daripada bau kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang dirasakannya. Yaitu, apabila berbuka, ia bergembira; dan apabila ia bertemu dengan Tuhannya, ia bergembira karena puasanya itu.”

Nah, hadits di atas seringkali DISALAH ARTIKAN dan DISALAH PAHAMI oleh banyak orang. Mereka TIDAK MENJAGA KEBERSIHAN DAN KEHARUMAN MULUTNYA. Akibatnya, seringkali kita alami, saat bulan puasa jika kita berbincang-bincang (atau bahkan sekedar buka mulut) terasa sekali bau mulut yang tidak enak, bahkan memusingkan dan bisa membuat kita mual.

Hendak menegur mereka, seringkali kita merasa tidak enak. Namun jika mereka ditegur, mereka selalu menggunakan dalil hadits di atas. “Lho, bau mulut ini ga enak kan menurut anda, kalo menurut ALLOH SWT bau mulut saya ini lebih wangi dari bau kasturi lho.”

Hal ini terjadi karena mereka tidak mau gosok gigi atau membersihkan mulut mereka. Selain dengan alasan hadits di atas, juga ada anggapan dan salah pemahaman bahwa saat puasa itu DILARANG UNTUK GOSOK GIGI!

Padahal jika kita merujuk ke kitab-kitab manapun, tidak ada hadits Rasululloh SAW yg melarang menggosok gigi (siwak). Hanya saja, yg mesti diperhatikan adalah JANGAN MENELAN AIR KUMUR DG SENGAJA!

Nah, bagi sebagian saudara kita, mereka memilih tidak gosok gigi dg alasan takut menelan air kumur. Padahal jika kita berniat dan sungguh-sungguh, kita sebenarnya bisa gosok gigi (dan berkumur) dengan hati-hati dan tidak sampai tertelan air kumurnya.

Anda bisa bayangkan jika semua orang memilih tidak memperhatikan kebersihan mulutnya selama puasa, lalu anda ajak bercakap-cakap, bwehhhh…bau mulutnya akan terasa mengganggu sekali. Bau mulut sendiri saja kadang kita tidak tahan, apalagi bau mulut orang lain. ;-)

Saya sendiri, alhamdulillah, tidak terlalu takut untuk gosok gigi selama puasa (dan di bulan Ramadhan). Bahkan saya kenal dg 1 rekan kerja yg selalu membawa sikat gigi dan odol. Sebelum wudhu, dia selalu gosok gigi, sekalipun di bulan puasa. Posisinya sebagai manajer, sehingga memang penampilan cukup penting. Tapi alasannya bukan karena penampilan (duniawi), tapi karena baginya sikat gigi merupakan hal ‘wajib’.

Anda sendiri bagaimana? Masih tidak mau gosok gigi dg alasan takut menelan air kumur, tapi dengan demikian anda berarti ‘menyengsarakan’ orang2 sekitar anda (terutama yg anda ajak obrol)? Atau anda mulai punya kesadaran bahwa wangi kasturi bisa didapat walau mulut anda senantiasa dijaga kebersihannya? ;-)

August 11, 2009

Menikah Di Depan Jenazah. Ajaran Siapa Itu?

Bismillah,

Sebuah fenomena yg kian marak terjadi belakangan ini mengganggu pikiran saya. Yakni fenomena menikah di depan jenazah (pada umumnya jenazah ayah dari salah satu calon mempelai). Saya perhatikan hal ini sejak sekitar 10 tahun terakhir. Jika saya tidak salah, saya mulai membaca hal ini di sebuah koran untuk Jawa Barat.

Banyak alasan yg membuat fenomena ini terjadi. Dari sekian banyak alasan, satu hal yg membuat saya kian tak habis pikir. Alasan tersebut adalah agar (jenazah) sang ayah ‘menyaksikan’ pernikahan anaknya. Atau karena wasiat ayahnya yg ingin menyaksikan pernikahan anaknya, tapi tidak kesampaian karena keburu dijemput ajal.

Padahal, seseorang yg sudah mati tidak ada daya upaya lainnya. Ruhnya sudah dicabut dari jasadnya, sehingga yg tersisa hanyalah seonggok badan yang siap untuk dikonsumsi oleh cacing tanah dan perlahan akan hancur.

Saya juga cari riwayat2, entah itu hadits atau ijma’ para ulama, tidak ada yg menyebutkan dan membolehkan hal seperti ini.

Jika diperhatikan dengan seksama, justru ada kontradiksi di acara pernikahan di depan jenazah. Jenazah identik dg kematian dan berkaitan dengan kesedihan. Sementara pernikahan mempunyai hubungan erat dg kebahagiaan. Jadi, apakah bisa kebahagiaan dicampurkan dengan kesedihan seperti itu?

Singkat kata, saya bisa katakan MENIKAH DI DEPAN JENAZAH ADALAH HAL YANG TERLALU MENGADA-ADA. Bahkan bisa dikatakan bid’ah!

Semoga berguna.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham