Tausyiah275

July 4, 2008

Orang Beriman PASTI Masuk Surga

Romadhoni : Dari Abu Said Al Khudri ra. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Allah memasukkan penghuni Sorga ke Sorga, Dia memasukkan orang yang di kehendakiNya dengan rahmatnya dan memasukkan penghuni Neraka ke Neraka, kemudian Dia berfirman : “Lihatlah orang yang kamu sekalian dapati di dalam hatinya iman seberat biji sawi, maka keluarkanlah ia”. Kemudian mereka dikeluarkan dari neraka seperti arang, mereka telah terbakar maka mereka dilemparkan di sungai hidup (Nahrul hayat), lalu mereka tumbuh di dalamnya, sebagaimana biji-bijian itu tumbuh di tanah yang dibawa banjir, tidaklah kamu melihatnya, bagaimana ia tumbuh dengan kuning emas”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Makna dari hadits di atas adalah siapa saja yg memiliki keimanan kepada ALLOH SWT, insya ALLOH dia akan dikeluarkan dari neraka.

Yang bisa menjadi diskusi di sini adalah siapa yg akan diselamatkan dari neraka? Apakah hanya orang Islam (yg beriman) ataukah juga termasuk orang2 non muslim, yg saat di dunia, pernah terbetik dalam hatinya bahwa mereka meyakini adanya ALLOH SWT (namun tidak pernah diumumkan)?

July 1, 2008

Keutamaan Sholat Berjama’ah, Shaf Pertama, dan Pahala Sholat Isya&Subuh

Romadhoni (6/24/2008 8:47:40 AM): Abu Hurairah radhiyallahu’anhu mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala azan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan undian, niscaya mereka melakukan undian itu. Seandainya mereka mengetahui pahala bersegera pergi menunaikan shalat, niscaya mereka berlomba-lomba kepadanya. Dan, seandainya mereka mengetahui pahala jamaah shalat isya dan subuh, niscaya mereka mendatanginya meskipun dengan merangkak.” [HR. Bukhari no. 341]

Makna dari hadits di atas:
1. Menjadi muadzin adalah hal yg mulia dan mempunyai keistimewaan dan keutamaan di sisi ALLOH SWT.

2. Jika melakukan sholat berjama’ah, bagi pria carilah dan raihlah shaf terdepan, karena merupakan sebaik-baik shaf. Sementara bagi perempuan, shaf terbaik adalah yg paling belakang. *silakan bacaa lagi di sini*

3. Apabila di dekat lokasi anda terdapat masjid, sebaiknya segera sholat berjama’ah apabila waktunya tiba.

4. Sholat Isya dan sholat Shubuh berjama’ah mempunyai keutamaan yg sangat besar.
*hadits dan nasehat ini terutama ditujukan pada diri saya pribadi, agar lebih bersemangat sholat berjama’ah*

April 21, 2008

Kerancuan Kisah Menjelang Wafatnya Rasulullah SAW

Bismillah,

Saya dapatkan dari inbox, semoga bermanfaat.

Dec 15, ‘05 2:15 PM
for everyone

Assalamu’alaikum wr wb

Beberapa bulan yang lalu ketika saya sedang surfing di belantara internet, saya pernah menemukan satu artikel menarik disuatu website. Artikel itu ada yang berjudul “Detik Terakhir” atau ada judul versi lain yaitu “Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rasulullah”, atau juga “Air Mata Rasulullah saw”. Mungkin beberapa dari kita ada yang familiar dengan kisah di dalam artikel tersebut. Silahkan search di Google dengan tiga keyword diatas, maka akan anda temukan kisah itu banyak di posting di berbagai macam website. Bahkan kisah itu sering bertebaran di bulletin board friendster, juga pernah saya lihat di multiply ini. Ya, kisah yang menggambarkan suasana wafatnya manusia mulia di hadapan Fatimah dan Ali itu berhasil membuat orang yang membacanya terharu biru dan rindu dengan sosok Rasulullah saw.

***Saya berhasil mendapatkan artikel yang dimaksud. Berikut adalah isi artikel tersebut***

AIR MATA RASULLULAH SAW

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah
berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai ding! in, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” - “Umatku, umatku, umatku”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Tapi ada yang janggal di kisah itu. Didalam artikel itu tidak dijelaskan siapa yang menceritakan kisah itu. Juga tidak jelas diambil dari riwayat-riwayat manakah kisah itu, padahal kisah itu menceritakan momentum wafatnya Nabi kita yang mulia yang sudah seharusnya kisah itu bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Kalau dalam ilmu hadits, perkara seperti ini dinamakan laa asla lahu (tidak ada sandarannya) karena tidak adanya kejelasan siapa perawi yang meriwayatkan kisah itu dan dari kitab apa kisah itu diambil.

Jadi apakah suasana Rasulullah saw ketika beliau wafat sama seperti artikel tersebut. Saya coba untuk mencarinya didalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang ditulis oleh KH Moenawar Chalil terbitan PT. Bulan Bintang Cetakan ke-7, tahun 1994. Buku ini berjumlah delapan jilid dan kisah tentang wafatnya Nabi Muhammad saw ada didalam buku ini di jilid ke tujuh halaman 193. Saya tidak menemukan kisah seperti artikel diatas dalam buku ini. Gema Insani Press juga telah menerbitkan kembali buku ini tahun 2001 dengan jumlah enam jilid.

Lalu siapakah yang ada disisi Rasulullah saw ketika beliau wafat, Fatimah dan Ali, ataukah Aisyah ?. Didalam buku rujukan saya tadi jillid ke tujuh hal. 193 dikisahkan ketika Nabi saw kesehatannya mulai terlihat membaik, para sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan Ali meminta izin kepada Nabi saw untuk bisa pergi mengerjakan urusannya masing-masing karena hampir setengah bulan mereka selalu sibuk merawat Nabi saw sehingga banyak keperluan mereka sehari-hari yang terbengkalai. Maka Abu Bakar pergi ke rumah istrinya, Kharijah di Sunuh (nama suatu kampung di pinggir kota Madinah) dan dua sahabat lain, Umar dan Ali pun pergi meninggalkan rumah Rasulullah. Yang tinggal hanyalah Aisyah lalu kemudian datang Abdurahman bin Abi Bakar saudara laki-laki Aisyah. Dan ketika itulah Rasulullah saw wafat. Rasulullah saw wafat diwaktu matahari sedang terang-terangnya, pada hari Senin tanggal 13 Rabi’ul awwal tahun ke XI Hijriah, atau pada tanggal 8 Juni 632 Masehi [hal.196]. Para ulama ahli tarikh ada yang berselisih pendapat tentang tanggal wafatnya Nabi saw. Tapi bukan itu yang akan dibahas disini.

Mungkin hadits berikut akan lebih menjawab dipangkuan siapakah Nabi saw wafat. Dari hadits Abdullah bin Aun dari Ibrahim at-Taimi dari al-Aswad, dia berkata, Ditanyakan kepada Aisyah, mengenai perkataan orang-orang yang menerangkan bahwa Rasulullah saw telah memberikan wasiat kepada Ali maka ia berkata, “Apa yang diwasiatkan Rasulullah kepada Ali ?” Aisyah menjawab, “Beliau (Rasulullah) menyuruh agar bejana tempat buang air kecil dibawakan, kemudian ia bersandar dan akulah yang menjadi tempat sandarannya, tak lama kepala beliau terkulai jatuh dan ternyata beliau telah wafat tanpa aku ketahui. Jadi bagaimana mungkin orang-orang itu mengatakan bahwa Rasulullah saw memberikan wasiat kepada Ali ?” [Shahih al-Bukhari, kitab al-Wasaya 5/356 dari Fathul Baari, dan Muslim, kitab al-Wasiyah hadits no.1637]. Hadits tersebut ada didalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah yang ditulis oleh Ibnu Katsir, terbitan Darul Haq, Jakarta, Cetakan pertama tahun 2004 halaman 58.

Entah apa motivasi si pembuat artikel tanpa riwayat tersebut, yang jelas ada penyimpangan sejarah yang terjadi dan kalau dirunut dengan serius dan teliti tentang siapa yang berada di balik pembuatan kisah berbau propaganda tersebut, maka akan dengan mudah terjawab dan dengan mudah pula akan terlihat ada motivasi apa dibalik pembuatan kisah itu. Kelihatannya perkara ini hanyalah hal yang kecil bagi beberapa orang. Tapi dalam konteks ini kita sedang membicarakan sosok manusia mulia yang menjadi teladan bagi seluruh umat Islam di dunia, yang tentu dalam menceritakan setiap gerak-geriknya haruslah mempunyai dasar atau dalil yang shahih dan bisa dipertanggung jawabkan.

Dan yang lebih menyedihkan dibandingkan isi dari artikel itu sendiri adalah biasanya diakhir artikel yang laa asla lahu itu selalu dinstruksikan untuk disebar ke teman-teman yang lain. Harapan dengan disebarnya artikel itu mungkin ingin membuat temannya untuk ikut terharu dan lebih mencintai Rasulullah saw dan itu adalah niat yang sungguh baik. Sayangnya cara yang ditempuh kurang tepat. Padahal Al Quran telah jelas melarang hal tersebut, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” [QS. 17:36].

Dan hendaknya kita juga selalu ingat hadits yang satu ini agar lebih berhati-hati dalam meriwayatkan kisah atau hadits yang berhubungan dengan Rasulullah saw. Hadits yang diriwayatkan dari Salamah bin Akwa, ia berkata. Aku telah mendengar Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa yang mengatakan atas (nama)ku apa-apa (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”. [HR Bukhari (1/35) dll, HR. Imam Ahmad (4/47)].

Wassalamu’alaikum wr wb

April 1, 2008

Ongkos Naik Haji 2008 Naik (Lagi)

Bismillah,

Bagi para calon jama’ah haji Indonesia, jika memungkinkan tunaikan haji sesegera mungkin karena tiap tahun ongkos naik haji terus menerus naik.

Untuk tahun ini, diperkirakan kenaikan ONH sebesar US$ 450, lebih kurang Rp 4,5 juta. Ini berarti total ONH tahun ini berkisar US$ 1,800 untuk naik haji jenis regular (biasa) hingga lebih kurang US$ 5,500 untuk haji plus.

Hmmm…dengana kenaikan ONH tiap tahun, bagaimana pendapat anda? Saya sendiri merasa sedih, karena jika dibandingkan dengan Malaysia, ONH dari Indonesia dirasa cukup mahal. Anda bisa baca di sini untuk perbandingannya.

Sementara itu, beberapa waktu lalu, terjadi keributan antara pengusaha perjalanan haji dengan departemen agama. Mereka mempermasalahkan penyetoran uang US$3,000 kepada departemen agama, bukan melalui biro penyelenggara haji.

Rupanya naik haji masih menjadi ajang bisnis yg menggiurkan ya?
*geleng2 kepala*

January 27, 2008

Jangan Bersuka Cita Atas Kematian Orang

Selesai sudah sebuah riwayat seorang anak Adam. Usai dirawat sekian lama dan menyedot perhatian yang begitu luar biasa, akhirnya malaikat Izrail datang mencabut nyawanya, pertanda Sang Khalik sudah memanggilnya.

Beragam reaksi yang muncul. Ada yg bersedih, ada yg bergembira, ada yg bersorak-sorak, ada juga yg menanggapi dengan biasa.

Soeharto, bagi banyak kalangan, dianggap mempunyai dosa yang begitu menggunung. Banyak korban aturan/kebijakannya yg merasa diperlakukan begitu tidak adil. Bahkan banyak yg mati tidak ketahuan rimbanya.

Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap?

Terlepas dari kesalahan2 yg pernah dilakukan, seorang muslim tidak etis dan tidak pantas merayakan kematian seseorang (sekalipun dianggap musuh), terlebih orang tersebut masih saudara kita (sesama muslim). Mari kita tengok contoh dari suri tauladan kita, Rasululloh SAW, ketika salah satu musuh terbesar beliau, Abu Jahal, tewas di kancang perang Badr. Apakah beliau lantas bersuka cita dan ‘mensyukuri’ matinya, apalagi bersorak sorai.

Sepanjang sejarah yg aku baca, aku tidak temukan perasaan suka cita yang dilakukan Rasululloh SAW setiap ada musuh2nya mati. Beliau tetap tenang, karena beliau tahu jauh ke depan.

Setiap yg wafat/berpulang ke Rahmatullah, akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan amalannya di dunia. Jika di dunia sering berbuat onar/ricuh serta melakukan banyak kejahatan, insya ALLOH siksaan dari malaikat sudah menunggu. Demikian juga halnya jika banyak berbuat kebajikan selama di dunia, insya ALLOH kemudahan akan didapat.

Daripada kita meributkan keadaan Soeharto, lebih baik kita tengok dan muhasabah diri kita sendiri. Seberapa banyak amal yg sudah kita siapkan untuk menyongsong ajal yg akan datang (tanpa kita ketahui)? Siapkah kita jika malaikat Izrail datang mencabut nyawa kita? Apa yang kita lakukan saat kita wafat nanti? Sedang beribadah dan berbuat kebajikan? Atau malah sedang asyik berbuat maksiat?

Jangankan meributkan, untuk mengomeli saja rasanya sudah tidak pantas.

Langkah ‘netral’ untuk menyikapi wafatnya Soeharto adalah bersikap sesuai dengan hak dan kewajiban kita selaku muslim. Sebagai seorang muslim yg wafat, maka sudah haknya untuk disholatkan (sholat jenazah) dan didoakan serta dikuburkan dengan layak.

Sementara kasus pengadilan yang dialamatkan kepadanya, ‘lupakan’lah. Pengadilan dunia sudah saatnya diarahkan kepada kroni2nya yang masih hidup dan menikmati hasil korupsi. Soeharto akan mendapat jatah pengadilannya (sesuai amalannya) sejak masuk liang lahat kelak, insya ALLOH.

December 15, 2007

Hoax (Baru) Dari Aceh

Seorang anak kecil ditemukan di Aceh Barat, Ditubuh anak itu terdapat Tulisan Nama Allah, dan anak itu bisa berbicara dengan binatang apapun, ini tanda kiamat sudah hampir dekat, Sebarkan berita ini ke 10 orang, Insyaallah dalam jangka 10 hari anda akan mendapat rezeki besar, kalau tidak anda akan mendapat kesulitan tiada henti, ini amanah jangan diremehkan.kabar ini datangnya dari TGK.HASBI AMIN, wakil MPU ACEH

Kembali sebuah hoax beredar.
Duh, umat Islam Indonesia dibombardir dengan berbagai macam hoax. Apakah sedemikian takutnya musuh Islam sehingga tipuan2 seperti ini diluncurkan?

Wallahualam






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham