Tausyiah275

September 5, 2009

Buka Bersama Vs Tarawih Bersama

Bismillah,

Beberapa waktu lalu, saya mendapat email yg ‘mempertanyakan’ apa yg dipilih, apakah buka bersama atau tarawih?

Isi emailnya seperti berikut

Ass.wr.wb.

Punten, ah… sekadar mengamalkan surat Al ‘Ashr…

Kalau mengadakan buka bersama, apakah shalat Maghrib terpikirkan?
Biasanya, sih, karena diadakan di mall, kita terpaksa menjamatakhirkan shalat Maghrib…

Setelah acara makan, apakah ada acara shalat Isya’ dan tarawih bersama?
Biasanya, sih, habis makan kita ha-ha-hi-hi, ngobrol dan kongkow sampai malam…
(* lebih parahnya, acara karaoke dulu sampai waktu sahur lagi… *)

Sayang juga tuh pahala yang kita tinggalkan…
Shalat Maghrib dan Isya yang tidak tepat waktu…
Padahal kalau shalat berjamaah di masjid,
ada pahala saat melangkahkan kaki ke mesjid,
ada peningkatan pahala 27 derajat karena shalat berjamaah,
ada pahala shalat sunnat muakkad
Padahal kalau shalat tarawih
ada pahala besar 11 rakaat yang menanti kita…
ada pahala karena mendengarkan ceramah…

Memang sih, kita bisa bilang ini hanya satu hari dari 30 hari shaum…
tapi… itu dia… sayang banget pahala yang tidak bisa kita raih..

Bagaimana kalau ditunda dulu acara buka bersamanya sampai setelah lebaran?
Memang, bukan buka bersama lagi, tapi kalau tujuannya silaturahmi dengan makan bersama…
bisa dilakukan nanti….

Tergelitik dengan isi email tersebut, saya menjawab email tersebut sebagai berikut (jawaban saya dalam huruf miring):

Ass.wr.wb.

wa’alaykumsalam wr wb

Punten, ah… sekadar mengamalkan surat Al ‘Ashr…
Kalau mengadakan buka bersama, apakah shalat Maghrib terpikirkan?
Biasanya, sih, karena diadakan di mall, kita terpaksa menjamatakhirkan shalat Maghrib…

solusinya simple saja, saya sudah biasa lakukan hal berikut:
1. siapkan dulu ta’jil
2. buka secukupnya + sholat magrib dulu
3. baru hunting tempat makan

Setelah acara makan, apakah ada acara shalat Isya’ dan tarawih bersama?

bisa saja, tinggal cari tempatnya yg mendukung
atau jika perlu, usai magrib, jgn dulu makan ‘besar’ tapi ngobrol2 dulu sambil nyemil.
usai isya + tarawih bersama, baru mencari tempat makannya

Biasanya, sih, habis makan kita ha-ha-hi-hi, ngobrol dan kongkow sampai malam…
(* lebih parahnya, acara karaoke dulu sampai waktu sahur lagi… *)

wah, saya sih tidak pernah separah itu :D

Sayang juga tuh pahala yang kita tinggalkan…
Shalat Maghrib dan Isya yang tidak tepat waktu…
Padahal kalau shalat berjamaah di masjid,
ada pahala saat melangkahkan kaki ke mesjid,
ada peningkatan pahala 27 derajat karena shalat berjamaah,
ada pahala shalat sunnat muakkad
Padahal kalau shalat tarawih
ada pahala besar 11 rakaat yang menanti kita…
ada pahala karena mendengarkan ceramah…

jika memang mau nyari pahala seperti itu, saya usul lokasi buka barengnya di jl sabang (Jakarta Pusat). di sana:
- tempat makan banyak dan buka sampai malam
- ada masjid di belakang djakarta theatre

Memang sih, kita bisa bilang ini hanya satu hari dari 30 hari shaum…
tapi… itu dia… sayang banget pahala yang tidak bisa kita raih..

Bagaimana kalau ditunda dulu acara buka bersamanya sampai setelah lebaran?
Memang, bukan buka bersama lagi, tapi kalau tujuannya silaturahmi dengan makan bersama…
bisa dilakukan nanti….

kenapa mesti menunda jika solusinya sudah ada? :-)

Bagi saya, salah satu makna Ramadhan adalah bersilaturahim dengan rekan-rekan lama, entah 1 smp, 1 sma, atau teman kuliah. Memang tidak salah ajakannya, agar tidak lalai dengan ibadah, tapi (menurut saya) mengapa kesannya mempersulit silaturahim?

Anda sendiri akan memilih buka bersama atau tarawih bersama (dan meninggalkann kegiatan silaturahim)? ;-)

3 Komentar »

URI untuk TrackBack artikel ini: http://tausyiah275.blogsome.com/2009/09/05/buka-bersama-vs-tarawih-bersama/trackback/

  1. Assalaam
    Kl sy nih…
    Buka bersama dengan minum juis dulu terus sholat maghrib bersama dan biasanya di tempat makan malam telah disediakan walau kecil,to bs secara bergantian..
    setelah itu makan dikit terus kabur pulang soalnya tempatnya dari rumah paling sekitar 10 menit perjalanan…kalau jauh ya terpaksa tidak ikut,,habis yg datang para big bos yg kurang memperhatikan hal tersebut diatas…heee.hee

    Komentar oleh ugo — September 5, 2009 @ 6:41 pm

  2. Hakikat Syahadat
    Ajaran yang paling mendasar dalam Agama Islam ialah : Adanya pengucapan atas suatu pengakuan atau persaksian (bersyahadat), barulah seseorang itu diakui beragama Islam dan sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw. Ketika seseorang telah berikrar dalam satu pengakuan atau persaksian yang diucapkannya dengan sadar, mengerti dan memahami yaitu Asyhadu an Laa Ilaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadurrasullullah. Inilah sebagai pintu gerbang keber-Islaman seseorang yang baru dimasukinya Jika keliru dalam memasuki pintu ini maka yang terjadi adalah “ Terkesan jasadnya saja yang memasuki pintu itu namun pikiran dan hatinya masih diluar gerbang atau terkesan jasadnya saja yang Islam namun hati dan pikirannya masih ragu – ragu atau kafir (ingkar).
    Orang² yang demikian ini hanya mengutamakan pembangunan² fisik atau kesalehan jasad saja serta simbol² untuk menampilkan keberIslaman mereka namun pikiran dan hatinya penuh perseteruan yaitu keragu²an dan keingkaran pada Allah dan RasulNya serta keserakahan dan kedengkian antar sesama. Dengan demikian dapat dipahami nenek moyang atau orangtua yang beragama Islam tidak lantas anaknya otomatis beragama Islam, sampai anak tersebut juga bersyahadat dengan ucapan yang sama, untuk itulah makanya ucapan syahadat ini diperintahkan supaya diucapkan ketika anak baru lahir, sebagai lafaz dzikir atau menjelang sakratul maut juga diulang² dalam setiap azan, shalat, dll. agar dipahami dan meresap kedalam hati seperti air, meresap ketanah yang keras lagi tandus dan menyuburkannya
    Bersaksi atau menjadi saksi dengan satu ucapan yang tidak dimengerti artinya atau dipahami maksudnya adalah suatu hal yang keliru karena orang yang diangkat sebagai saksi dipengadilan saja harus mengetahui atau menyaksikan permasalahan kesaksiannya minimal dia mengerti permasalahan bukan hanya sekedar mengucap² saja, seseorang yang benar² menyaksikanlah yang dapat diambil persaksiannya dan dapat memberikan bukti² atau dalil² dari ucapan persaksiannya.
    Umpama : Jika seseorang menjadi saksi lalu mengucapkan Asyhadu an Laa Ilaha Illallah yang bermakna “ Aku bersaksi “bahwasanya Tidak ada tuhan selain Allah. maka seseorang tadi harus bisa membuktikan atau menampilkan dalil² bahwa tidak ada yang berhak disebut tuhan selain dari Allah, namun dia juga harus terlebih dahulu mengerti, memahami serta bisa menjabarkan siapa orang yang pertama kali mencetuskan kata tuhan itu dan apa arti atau maksud dari kata itu, sebelum menambahnya dalam daftar Asma –asma Allah dalam Asma ul Husna.
    Misalnya menyelediki apakah tuhan itu sebuah nama dari satu benda, seseorang atau sesembahan yang selain dari Allah yang sudah ada sebelum Islam itu hadir di Indonesia atau sebuah kata yang diciptakan penjajah dengan tujuan pengembangan suatu agama tertentu, sebuah kata yang dijadikan gelar pada seorang manusia sehingga menjadi hilang kemanusiaannya sehingga orang rela untuk menyembah dan memujinya dan meminta pertolongan padanya, yang mana boleh jadi tanpa suatu ” kata/nama ” yang diciptakan atau direkayasa sesuai dengan bahasa daerah yang menjadi target ! lalu disosialisasikan, maka agama tersebut tidak bisa berkembang atau kemudian kehilangan akidah atau doktrinnya, misalnya dalam agama Kristen mereka memberi gelar tuhan kepada Yesus, yang sebelumnya bergelar Mesiah, Al masih seorang anak manusia yang dilahirkan dari rahim seorang wanita. Jika tidak ada kata tuhan maka otomatis Yesus akan turun jadi manusia kembali , jadi kata tuhan itulah satu-satunya yang menyokong Yesus sehingga banyak manusia yang menaruh harapan dan menyembahnya, sementara umat kristen sendiri tidak tau asal usul dari kata tuhan itu kecuali sebuah kata causa prima padahal kata apa saja bisa dikategorikan causa prima dan disakralkan apabila banyak orang yang mendukungnya apalagi dengan pemaksaan dan kekerasan. sebagaimana yang terjadi ketika paulus mengangkat yesus menjadi god pada saat itu pengikut yesus yang tidak mengakui yesus itu adalah god maka mereka dibantai dan yang tau makna god yang sebenarnya itu hanyalah paulus dan kawan-kawannya dan bagi yang lain dianggap sebuah kata causa prima, kemudian kata tuhan tersebut diwarisi turun temurun, lalu diambil, diangkat dan disosialisasikan untuk pencapaian dari suatu tujuan politik untuk persatuan dan kebersamaan, dll.
    Jadi jelas kata tuhan atau god itu adalah julukan yang direkayasa manusia sebagai gelar kepada Yesus dan kata tersebut bersifat lokal dan tidak universal dan setiap agama yang ada di Indonesia atau dunia sebenarnya telah memiliki nama-nama atau gelar terhadap apa yang mereka sembah dan puja yang sebelumnya sudah ada didalam ajaran kitab suci mereka yang harus mereka sucikan dan besarkan, dengan menyisipkan atau memaksakan sesuatu nama atau gelar yang baru justru akan mengacaukan akidah-akidah mereka.
    Dengan demikian umat islam juga harus bisa mengerti bahwa mereka diperintahkan untuk mengikuti Sunnah Nabi Muhammad Saw dengan mensucikan dan membesarkan Nama dan Asma-asma Allah bukan mengikuti sunnah Paulus orang yahudi atau Orang tak dikenal (OTK), seseorang yang bersaksi harus terlebih dahulu memahami ucapan yang dipersaksikannya dan tujuannya karena bisa jadi dia mengigau atau saksi palsu / dusta / keliru apalagi menujukan kata tuhan atau god itu pada Allah .
    Sesungguhnya Asma-asma yang diajarkan Allah itu memiliki makna dan tujuan yang fitrah sehingga manusia bisa mengenal siapa dirinya dan siapa Penciptanya, misalnya Allah menjuluki diriNya dengan Rabb ,makna Rabb adalah Tuan/Pemilik ini dapat menjelaskan bahwa kita adalah hamba atau milikNya, sehingga sebagai hamba kita mengerti bagaimana harus bersikap terhadap Tuan atau Pemilik kita dan apa ganjaran yang akan kita peroleh jika kita patuh dan setia padaNya dan apa resiko jika kita mengingkari dan menghianatiNya, demikian juga dengan Malik = Raja dengan memahami ini maka kita dapat mengerti sebagai rakyatNya apa resiko yang akan kita hadapi jika kita mengingkari aturan-aturanNya, dan Illaha = Penguasa/Yang Kuasa ini juga mengisyaratkan bahwa kita dan seluruh alam semesta ini berada didalam kekuasaanNya dan tidak ada seorangpun manusia yang bisa lari dariNya, setiap manusia pasti mati dan kembali kepadaNya lalu akan ditanyakan apa-apa yang sudah mereka kerjakan dan akan diperlihatkan bekas-bekas atau akibat dari hasil-hasil kerja mereka selama hidup didunia ini.
    Perlu dipahami secara bijak dan diwaspadai bahwa ajaran agama itu diturunkan atau diajarkan dengan kata-kata dan dengan kata-kata itu pulalah Iblis dan kawan-kawan menyesatkan manusia dengan cara menghilangkan, merubah atau mengaburkan sehingga kehilangan makna yang akhirnya kehilangan arah dan tujuan.
    Perlu dimaklumi bahwasanya Allah memiliki Asma ul Husna sendiri yang berasal dari Dia dan hanya pantas ditujukan untuk diriNya saja yang bersifat agung, permanen dan abadi.
    Qs;Yusuf 40 (Kamu tidak mengabdi yang selain Allah, kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menghamba selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ).
    Qs; Az Zumar 45 (Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati).
    Qs;Al A’raaf 180 ” Untuk Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang/meyelewengkan nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
    Nah, pikirkanlah ! sementara Allah sendiripun tidak pernah menurunkan keterangan tentang itu dan Nabi pun tidak pernah menyuruhnya, Siapa yang akan menjadi penanggung jawabnya ? kenapa untuk yang ini, kita tidak mengikuti apa yang dikehendaki Allah dan sunnah Nabi Muhammad Saw dengan menyebut Allah dengan Rabb, Illahi ,Ar Rahmaan, (Asma Ul husna). Bukankah dengan demikian lebih nyata keberIslaman kita dan pasti lurus jalan kita, lagi pula Nabi sendiri kan yang menjadi penanggung jawabnya, apakah kita tidak percaya padanya ?
    Perlu dipahami baik² bahwa Allah adalah Nama Zat yang tidak dapat/boleh diterjemahkan kedalam bahasa-bahasa lain. kecuali sifat-sifatNya dan Allah hanya memberikan Asma²Nya saja pada kita dan tidak ada satupun kita yang bisa melihat atau membayangkan ZatNya atau wujudNya, maka untuk ini kita harus berhati² dengan Asma² yang ditujukan pada Allah karena bisa jadi musryik karena yang dimaksud dengan syirik kepada Allah itu diantaranya adalah mempersekutukan Zat, Nama², maupun Sifat² Allah, karena bagi Allah semua itu bersifat agung, permanen dan abadi, lagipula sarana yang paling efektif bagi iblis dan pengikutnya untuk menyesatkan manusia adalah dengan melalaikan asma-asma yang datang dari Allah dengan asma-asma baru yang dipopulerkan meski tanpa makna dan maksud yang jelas atau ” kata ” yang disakralkan dan dikultuskan dan tak jarang disosialisasikan dan dipertahankan dengan kekerasan dan intimidasi sehingga banyak manusia yang menyampaikan permohonan dan rasa syukur pada nama-nama yang mereka buat-buat sendiri yang mana akhirnya tidak mencapai sasaran, Atau apakah kita boleh memberi nama² atau gelar² baru kepada Allah menurut semau kita atau hanya berdasarkan kesepakatan sekelompok orang atau dari nenek moyang kita ? (QS: Al Maa’idah 104 ; Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati dari bapak-bapak kami”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?
    Dalam ajaran agama selain dari Islam, Nama sembahan mereka boleh berubah-ubah sesuai dengan bahasa daerah dimana agama tersebut akan dikembangkan juga bisa ditambah atau dikurangkan sesuai dengan keinginan manusia , dan ironisnya tak jarang manusia yang menyampaikan ajaran tersebut juga jadi sasaran penyembahan atau minta disembah. dan hal yang demikian ini tidak berlaku pada agama Islam, Perlu diketahui dalam ajaran agama Islam tidak dikenal dengan istilah toleransi dalam beragama (Akidah dan Ibadah ) lebih baik kita berbeda dalam satu kepastian dari pada bersatu dan bersama dalam suatu kesesatan, namun demikian ajaran agama Islam sangat-sangat menjujung tinggi toleransi kemanusiaan dan saling tolong menolong antar sesama manusia serta bisa memahami dan menghargai makna perbedaan guna saling mengenal dan berkomunikasi.
    Demikian juga jika ada seseorang yang bersaksi “Asyhadu an Laa Ilaha Illallah” Yang bermakna “Aku bersaksi Tidak ada Penguasa (Yang Kuasa) kecuali Allah. Maka dia juga harus bisa membuktikan bahwasanya selain yang bernama Allah tidak ada yang berkuasa di alam semesta ini dan dia juga harus bisa menampilkan dalil² dan bukti² serta bertanya kepada setiap orang “Apakah nama² yang disembah dan dipuja-puji orang dan dianggap berkuasa menolong mereka selama ini sehingga mereka rela mengabdi (menghamba) padanya, selain dari yang bernama Allah itu memiliki kekuasaan dialam semesta ini ? misalnya berkuasa untuk hidup terus menerus tanpa mengantuk dan tidur serta tidak pernah mati, atau berkuasa menjadikan serta menumbuhkan bibit² yang ditanam manusia untuk makanan selama ini atau menurunkan hujan, atau berkuasa menciptakan bumi, bulan, matahari atau apa saja yang ada dialam semesta ini guna kepentingan manusia serta memeliharanya atau memberi kehidupan dan rezeki kepada seluruh makhluk yang ada dialam semesta ini ? atau mampu menciptakan manusia dengan segala keunikan dan keingkarannya, dan mana buktinya ?
    Dan setiap orang juga diberi kesempatan untuk mencari dan meneliti di kitab suci masing², perlu dimengerti setiap ajaran dari kitab suci yang ada dimuka bumi berasal dari 3 sumber :
    1. Berasal dari hasil pemikiran dan pengkajian manusia.
    2. Berasal dari Petunjuk dari Pencipta Alam semesta ini.
    3. Berasal dari Perkataan/Ajaran langsung dari Pencipta Alam semesta ini.
    Jika kitab suci tersebut ajarannya berasal langsung dari Pencipta alam semesta ini dapat dibuktikan dari pernyataan yang tertulis didalam kitab suci tersebut, seperti penjelasan tentang, bagaimana Dia menciptakan alam semesta ini, seperti langit, bumi dan lain-lain dan apa tujuannya, bagaimana Dia menciptakan manusia dan berasal dari apa mahkluk yang ada dialam semesta ini, bagaimana Dia mengatur alam semesta dan memenuhi kebutuhan mahkluk yang telah diciptakan-Nya, dan bagaimana akhir dari perjalanan alam semesta dan segala isinya ini dan semua penjelasan ini harus dapat dibuktikan dan diterima secara akal/rasio manusia karena kitab suci itu diadakan adalah untuk memberi penerangan kepada manusia yang berakal. dan jika kitab suci tersebut bukan berasal langsung dari pencipta Alam semesta ini atau hasil dari pemikiran manusia sudah pasti dia tidak bisa mengungkapkan tentang rahasia penciptaan alam semesta ini dan tujuannya kecuali hanya hal-hal tentang perbuatan baik atau buruk dan bagaimana cara menyembah, bersyukur dan mengabdi kepada Pencipta alam semesta ini. dengan memahami ini jika selain dari yang bernama Allah itu ternyata tidak ada yang berkuasa berbuat demikian, maka jelaslah dapat dipahami mengapa dia mengucapkan “Tidak ada Penguasa (Yang Kuasa) kecuali Allah” Maka secara otomatis dia akan berikrar dengan mengucapkan “Iyyaaka na`budu wa Iyyaa ka nasta`in Ihdinash shiraathal mustaqiim, yang maknanya : Hanya kepadaMu kami mengabdi (menghamba) dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami kejalan yang lurus . Karena hanya Allah yang berkuasa memberi pertolongan dan petunjuk juga menyiksa dan menyesatkan siapa saja yang dikehendakiNya tanpa ada yang mampu mencegah sedangkan manusia hanyalah sekedar menyampaikan saja sesuai dengan kemampuannya, dan bagi orang-orang sebelumnya yang mendapat petunjuk dari Alloh mereka memiliki komitmen ” Kami berasal dari Allah dan dilahirkan kedunia untuk mengabdi kepada Allah lalu akan pulang kembali kepada Allah”
    Oleh : Muhammad Dharmawan
    Web : ponpesgratis.blogspot.com

    Komentar oleh Muhammad Dharmawan — September 7, 2009 @ 11:18 pm

  3. semoga allah mengampuni dosa2 kita…

    ya allah ya tuhan ku, ampuni dosa ku ya allah ya…

    Komentar oleh blacklotus — September 19, 2009 @ 7:31 am

RSS feed untuk komentar di artikel ini.

Tulis Komentar Anda

Baris dan paragraf akan dipisahkan otomatis, alamat email tidak akan tampil, tag HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



ini fitur anti spam: silakan ketik kata yang ada di kotak...






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham