Tausyiah275

August 24, 2009

Imam Tarawih 23 Raka’at, Tolong Bacaannya Yang Tartil Ya?!

Bismillah,

Alhamdulillah, kita telah memasuki bulan Ramadhan, bulan yang dinantikan oleh orang2 yang beriman. Saya sendiri sudah 5 tahun ‘menikmati’ bulan Ramadhan di Jakarta, jadi sedikit banyak sudah ‘berkelana’ ke beberapa masjid pada saat bulan Ramadhan, untuk mengetahui lebih banyak nuansa Ramadhan di ibukota.

Dari sekian masjid yang saya kunjungi, beraneka ragam jumlah raka’at sholat tarawihnya. Rata-rata jika tidak 11 raka’at, ya 23 raka’at.

Namun dari saya bisa tarik benang merah. Imam yg 11 RAKA’AT, BACAANNYA TARTIL (JELAS). Sementara yg 23 RAKA’AT, BACAANNYA (TERUTAMA FATIHAH) BENAR2 CEPAT, NYARIS TIDAK MENGINDAHKAN TAJWID.

Terus terang, saya kecewa dg imam-imam sholat tarawih yg LEBIH MEMENTINGKAN JUMLAH RAKA’AT DARIPADA MEMPERHATIKAN BACAAN.

Bacaan yg tidak tartil ini seringkali diikuti dengan gerakan sholat yang cukup cepat. Padahal, setahu saya Rasululloh SAW menganjurkan sholat yg tuma’ninah, tenang, alias tidak terburu-buru. Memang, Rasululloh SAW pernah menyatakan agar imam sholat MEMPERCEPAT sholatnya, terutama jika ada jama’ah yg sudah tua. Tapi harap ingat, CEPAT BUKAN BERARTI TIDAK TARTIL DAN TIDAK TUMA’NINAH!

Mudah-mudahan para imam tarawih (yg 23 raka’at) menyadari ‘kesalahan’ yang mereka lakukan ini. Anda boleh saja tarawih 23 raka’at, tapi tolong bacaannya tetap tartil. :-)

27 Komentar »

URI untuk TrackBack artikel ini: http://tausyiah275.blogsome.com/2009/08/24/imam-tarawih-23-rakaat-tolong-bacaannya-yang-tartil-ya/trackback/

  1. Ya saya juga mengharapkan yang demikian, karena pahala orang yang sholatul lail 11 rokaat sangatlah banyak manfaatnya dibandingkan dengan 23 rokaat. Bukan begitu! disetiap masjid mana saja sampai sekarang sudah modern yaitu 11 rokaat, mengingat waktu dan kodisi banyak orang tuanya. Terima kasih.

    Komentar oleh kadar — August 24, 2009 @ 9:11 am

  2. sebenarnya solusi yang bisa dilakukan adalah mengingatkan Imam tersebut.itu adalah kesalahan personal bukan merupakan kesalahan tarawih 23 rokaat sendiri..dan apakah kita sendiri sudah mumpuni menjadi Imam tarawih???mencela orang lain lebih gampang daripada melihat kesalahan kita sendiri..Postingan seri kesalahan sholat mohon di kroscek karena ini hanya menyangkut kesalahan bacaan alqur’an..
    Tarawih 23 atau 11 sah-sah saja.11 rokaat sudah modern?? tolong dikroscek kembali..kalo kita tilik dari 23 rokaat sendiri (20 rokaat tarawih,3 witir)banyak terkandung pelajaran yang bisa diambil.Tahukah bahwasannya dengan melaksanakan 23 rokaat kita dalam 1 bulan bisa menghatamkan Alqur’an full 30 juz. bisa ditilik dari jumlah rukuk ayat dikalikan dengan jumlah rokaat sehingga dalam 1 malam Insya Allah bisa menamatkan 1 juz.sehingga sebulan dapat khatam Alqur’an dalam sholat tarawih…sungguh hebat Ulama pada jaman terdahulu memikirkan makruk (rukuk) ayat alqur’an sehingga dapat menjadi acuan dalam pembacaan ayat saat tarawih…Wallahu A’lam.

    Komentar oleh lutfi — August 25, 2009 @ 1:46 pm

  3. good comment to sodara lutfi….saya support commentnya…

    Komentar oleh kamal — August 27, 2009 @ 10:05 am

  4. dukungan buat saudara lutfi

    Komentar oleh rief — August 27, 2009 @ 8:18 pm

  5. Assalamu’alaikum
    Saudaraku yg kumuliakan,
    mengenai pelaksanaan Tarawih dg cepat adalah fatwa Madzhab Syafii, karena mesti dibuat lebih ringan dan cepat daripada shalat fardhu, karena tarawih adalah shalat sunnah yg dilakukan secara berjamaah, maka tidak boleh disamakan dengan shalat fardhu, Ihtiraaman wa ta’dhiiman lishalatilfardh (demi memuliakan shalat fardhu) diatas shalat sunnah.

    melakukan shalat sunnah dg cepat adalah diperbolehkan bahkan pernah dilakukan oleh Rasul saw, dalilnya adalah bahwa riwayat Aisyah ra bahwa Rasul saw pernah melakukan shalat sunnah sedemikian cepatnya seakan beliau tidak shalat dari cepatnya. (Shahih Bukhari).

    riwayat lainnya bahwa Rasul saw melakukan shalat sedemikian cepatnya seakan beliau saw tak membaca fatihah, akan tetapi beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujudnya (Shahih Bukhari)

    demikian riwayat riwayat diatas memberikan kefahaman bagi kita bahwa shalat sunnah boleh cepat, dan pada madzhab Syafii bahwa shalat Tarawih berjamaah hendaknya dipercepat agar tak disamakan dengan shalat fardhu, juga sekaligus mengenalkan kembali sunnah Nabi saw, bahwa Nabi saw pun sering melakukan shalat sunnah dg cepat,

    pengingkaran dimasa kini adalah karena muslimin sudah tidak lagi mengetahui bahwa shalat sunnah dg cepat itu adalah sunnah Nabi saw, maka perlu dihidupkan dan dimakmurkan agar muslimin tidak alergi dan kontra terhadap sunnah Nabinya saw.

    mengenai orang tua yg tak mampu mengikuti cepatnya gerakan Imam sebaiknya duduk, shalatnya tetap sah karena shalat sunnah boleh dilakukan sambil duduk walaupun tidak udzur sekalipun, berbeda dg shalat fardhu yg tak boleh dilakukan sambil duduk kecuali ada udzur,

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    Wallahu a’lam
    http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=8&id=8975#8975

    Komentar oleh zul — August 28, 2009 @ 2:02 pm

  6. Wah… udah Ana perkirakan, kita akan tetap terjebak pada perbedaan rakaat yang masing-masing biasa kita lakukan. Dan masing-masing, mesti “dalil naqli”nya patut/layak “didiskusikan”, demikian juga “dalil aqli”nya gak cukup logis, pada akhirnya sangat percaya dengan dalil-dalil itu sambil tetap membenarkan apa yang selama ini menjadi kebiasaannya.
    1.Shalat sunnah maupun fardhu, tetap saja kita sedang menghadap YANG MAHA KUASA.
    2.Yang “lebih tuma’ninah”, lebih berkualitas dari yang “tuma’ninah saja”.
    3.Ana kahawatir, Imam-imam madzhab yang lain tidak berpendapat sama dengan Imam Syafi’i, padahal diskusi kita berkaitan dengan masalah yang tidak dibatasi ruang dan waktu sebagaimana para imam itu hidup dan berijtihad.

    Komentar oleh Yoed — August 28, 2009 @ 3:53 pm

  7. “Ana kahawatir, Imam-imam madzhab yang lain tidak berpendapat sama dengan Imam Syafi’i, padahal diskusi kita berkaitan dengan masalah yang tidak dibatasi ruang dan waktu sebagaimana para imam itu hidup dan berijtihad.”
    Akhir zaman makin banyak orang awam yang bahkan jauh terlihat lebih pintar dan lebih tahu dari ke-empat madzhab yg terdahulu, ana penasaran, gimana cara belajarnya…

    Komentar oleh iskandar — August 29, 2009 @ 11:44 am

  8. Assalaaam…
    Lama sy tak berkunjung ke sini..
    Ternyata pendapat sy juga sama…
    Saya juga setuju mas…jadi itulah kelemahan sholat tarawih yg 23 reka’at.
    Sebenernya 23 reka’at ato 11 reka’at sama2 baik kl di dasari dengan niat yg ikhlas..tp untuk manusia pada zaman ini agak sedikit punya pendapat yg berbeda.salah satunya mengenai ini.
    Banyak orang mengira lebih banyak lebih besar pahalanya,sehingga melupakan tujuan dari sholat itu sendiri…dan melupakan tajwid dan makhrojnya.

    Komentar oleh ugo — August 30, 2009 @ 5:05 pm

  9. Assalaaam pak iskandar..
    Sy teringat dengan firman Alloh yg kurang lebihnya Dia berfirman bahwa Alqur’an diwarisi oleh hamba2 Alloh yang beriman,dan mereka ada yg menganiaya diri mereka sendiri,ada yg setengahnya,dan ada yang bersegera…
    Mungkin itu pak …Alloh memberi petunjuk kepada siapa yg Dia kehendaki…Insya Alloh.

    Komentar oleh ugo — August 30, 2009 @ 5:13 pm

  10. Ass. Wr. Wb
    jangan terlalu dipermasalahkan bagi imam tarawih yang sholatnya 23 rokaat yg tdk tartil.. kalau Saya beda saya adalah seorang imam tarawih 23 rokaat, tapi alhmadulillah anggapan orang tartil ko, kami tdak ada tausiyah sebelumnya, setelah isya zikir sebentar lalu sholat tarawih 23 rokaat, karema istilah tarawih dikenal pertama kali pada masa kholifah utsman sebelumnya tidak, masing-masing sahabat mengerjakannya sendiri-sendiri tidak berjamaah, karena memang rasulullah sendiri melaksanakannya waktu itu tidak berjamaah.. bahkan rasulullah sholat malam pada bulan ramadhan banyak rokaatnya karena ingin mendekatkan kepada Alloh swt.

    Komentar oleh Acep — August 31, 2009 @ 1:20 pm

  11. Assalaam…
    Menurut sy Sebenernya 11 reka’at ato 23 reka’at tidak ada yg salah.Yg salah jika menyalahkan diantara salah satu keduanya.Tetapi pada hati kecil yang paling dalam pada diri manusia Alloh mengetahuinya,mana yg bener2 ikhlas dalam menghadap Nya dan mana yg ada sesuatu yg walau sedikit tetapi merubah niatnya yang seharusnya ikhlas.
    Contoh sesuatu dalam hati:
    a.Kurang berapa lagi sih reka’atnya ya..?
    b.Wah..lega..kurang satu reka’at lagi …
    c.Wah yg ini bagus nih ..cepet sholatnya
    d.Wah yg ini bagus nih ..cepet sholatnya
    dll…
    Kemarin sy sholat yg 23 reka’at yg cepat sekali gerakannya sampai2 sy belum sujud imam sudah duduk diantara dua sujud.
    kemudian setelah sholat selesai sy menanyakan pada salah seorang…
    “Pak bagaimana sholatnya tadi pak”dia langsung jawab “wah semakin banyak semakin gede pahalanya,..tentang diterima ato gak itu urusan Alloh”
    kemudian sy bertanya lagi “Trus manfaat yg bapak peroleh dr sholat seperti tadi apa pak?”dia menjawab “manfaat tak begitu penting ,yg penting pahalanya..!”
    Mungkin jawaban seperti ini sangat banyak ditemukan dilingkungan kita…yg kurang memahami tujuan dr sholat itu sendiri…
    Tetapi alhamdulillah masih mau melaksanakan sholat tarawih dari pada yg tidak…mungkin hanya butuh proses untuk memahami tujuan sholat…Semoga amal ibadah kita diterima disisi Alloh dan bermanfaat bagi iman kita…AAmiin

    Komentar oleh ugo — August 31, 2009 @ 11:18 pm

  12. Assalamu’alaykum Wr. Wb.
    Bismillahirrohmaanirrohim…

    Saudaraku seiman.
    Marilah bersama-sama, menunaikan sholat Tarawih dengan khusu dan tuma’ninah.
    Siapa diantara kalian merasa lebih baik dengan jumlah rakaatnya, maka sesungguhnya syaitan telah membisikkan kedalam hati kalian perbuatan sombong, sebagaimana iblis merasa lebih baik dari nabi Adam AS.

    Himbauan yang disarankan oleh penulis tentu bijaksana, tidak menyalahkan. apakah salah sesama muslim mengingatkan agar kita lebih meningkatkan lagi dalam hal beribadah kepada Allah.
    Penulis dalam hal ini juga tidak merasa bahwa 11 rokaat lebih baik.
    Di Masjidil Haram 23 rokaat, di Masjid komplek saya 11 rokaat, tidak ada masalah. Yang bermasalah yang tidak sholat taraweh & Witir tanpa halangan apapun.

    Saudaraku, mari kita tunaikan sunah sholat taraweh dan witir. Ini adalah kesempatan yang Mulia, kesempatan yang sangat kita tunggu-tunggu, mengharap rahmat, ampunan dari ALLAH Azza Wa Jalla.

    Semoga setelah bulan puasa ini, kita mendapatkan Taqwa disisi Allah, sebagaimana janji-Nya.
    Amin…

    Komentar oleh abdul SYAKUR — September 1, 2009 @ 5:05 pm

  13. “” AMMA AHADUKUM IMAAM FAL YUKHOFFIF”"”".. artinya.. barang siapa dintara kamu diangkat menjadi imam sholat maka percepatlah gerakanmu..karena kadar iman sesorang tidak sama dengan seseorang lainnya..dikhawatirkan orang yang baru tumben sholat jadi males lagi untuk sholat karena kapok…

    Komentar oleh riskon maulana — September 3, 2009 @ 1:50 pm

  14. Assalaam…
    Perlu digaris bawahi kalimat “percepat gerakanmu”
    Meenurut sy bukan berarti”
    a.Mengabaikan tajwid
    b.Ingat.!Imam kayaknya harus punya “feelling”bahwa gerakannya telah diikuti makmum maksudnya “memberi waktu kepada makmum untuk mengikuti gerakannya”karena makmum tidak boleh bareng ataupun mendahului imam.
    Dan memang terlalu pelan juga tidak bagus karena bisa membuat makmum melamun walaupun sebentar.
    Saya teringat firman Alloh yang menyuruh kita untuk megajarkan sholat kepada keluarga kita dengan cara “bersabar dalam mengerjakannya”
    Kata “bersabar dalam mengerjakannya” bisa mengandung arti kedua-duanya yaitu antara bersabar dalam mengajarkan dan bersabar dalam melakukan sholat..
    Untuk tepat ayatnya memang sy agak lupa sekiranya ada yg ingat nohon ditampilkan disini…
    semoga sedikit bermanfaat….Aamiin

    Komentar oleh ugo — September 3, 2009 @ 8:02 pm

  15. sholat sunah dan sholat wajib tak ada bedanya, semua harus dilakukan dengan tuma,nina,tartil…yang mebedakan wajib adalah NIATNYA..praktek sholatnya sama….

    Komentar oleh beruk — September 4, 2009 @ 1:56 pm

  16. Giliran dapat nikmat maunya… yang banyak… giliran shalat tarawih maonya yang sedikit… mao enaknya ajah… dasar…

    Komentar oleh Supriyadi — September 5, 2009 @ 3:00 pm

  17. Assalaam
    Sebenarnya Alloh telah mentakdirkan ada 11 dan ada 23 reka’at setelah masa rosululloh sampai sekarang ..agar dapat terlihat siapa yang dihatinya ada penyakit….

    Komentar oleh ugo — September 6, 2009 @ 2:49 pm

  18. Korelasi Shalat berjamaah dan Persatuan Islam

    Tujuan yang paling utama dari perintah shalat berjamaah adalah menciptakan dan membina hubungan persaudaraan antara sesama jamaah, dalam rangka saling tolong menolong dalam menghadapi berbagai macam persoalan kehidupan didunia maupun akhirat untuk menuju suatu cita-cita persatuan dan kesatuan umat Islam untuk mencapai suatu kemenangan didunia dan akhirat, yang mana pesan-pesan ini dapat kita simak dari uraian seruan azan dan iqamat yang dikumandangkan untuk mengajak umat islam untuk menunaikan shalat berjamaah, seperti : Allahu Akbar =Allah Dia Besar, ini mengisyaratkan bahwa selain dari Allah itu kecil dan diharapkan orang yang mengabdi padaNya haruslah berjiwa besar dan tidak kerdil apalagi berputus asa. Asyhadu an Laa Ilaha Illallah yang bermakna “ Aku bersaksi Tidak ada Penguasa (yang Kuasa) selain Allah. ini mengisyaratkan bahwa selain dari Allah tidak ada yang memiliki kekuasaan mutlak dan abadi dialam semesta ini, dan semuanya tunduk pada kehendakNya.
    Wa Asyhadu anna Muhammadurrasullullah. Maknanya Aku bersaksi Muhammad itu adalah utusan Allah , yang menyampaikan kebenaran dari Allah Pencipta dan pemilik (Rabb) Alam semesta dan segala isinya ini. bahwa apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW bukanlah sesuatu yang sepele dan tidak memiliki tujuan guna kepentingan manusia. “ Mari menunaikan shalat ini ” mengisyaratkan bahwa didalam shalat itu terkandung berbagai kebutuhan dalam rangka pembinaan jiwa dan raga manusia yang memiliki tujuan utama agar setiap pelaku shalat dapat tercegah dari perbuatan keji dan mungkar yaitu perbuatan menganiaya diri sendiri maupun orang lain, Sabda Rasulullah saw yang bermaksud:” Barang siapa yang shalatnya tidak dapat menahan daripada melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya shalatnya itu hanyalah menambah kemurkaan Allah SWT dan jauh dari Allah SWT.” inilah yang menjadi titik awal dalam melangkah untuk menuju tujuan yang selanjutnya yaitu “ Mari mencapai kemenangan/kebahagiaan ”.
    Karena kemenangan itu mustahil dicapai jika umat Islam itu sendiri masih dalam keadaan menganiaya dirinya maupun orang lain, dan sekali lagi, “ Allah Dia Besar ” jadi umat Islam itu haruslah mempunyai cita-cita yang besar pula sesuai dengan kepada siapa mereka mengabdi dan tidak terjebak pada sesuatu hal yang kecil-kecil sehingga mereka saling bermusuhan dan tergelincir dari tujuan.
    Dalam pelaksanaan shalat berjamaah ini juga memiliki beberapa tingkatan dimulai dari shalat berjamaah berskala kecil (keluarga, kantor), shalat berjamaah di surau,mushalla dan sejenisnya lalu shalat berjamaah di masjid juga diwajibkan shalat berjamaah pada hari jumat dan selanjutnya shalat berjamaah di mesjidil haraam sebagai jamaah terbesar yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan negara yang berbeda,
    Jika perintah shalat berjamaah ini tidak dimaknai secara bijak sesuai dengan tujuan maka yang terjadi hanyalah kumpul-kumpul saja namun tidak membawa berkah atau manfaat bagi para jamaah itu sendiri. Dan jika suatu amalan sudah tergelincir dari tujuan maka yang terjadi pastilah kesesatan demi kesesatan yang justru akan menghasilkan kemurkaan demi kemurkaan pula.
    Jika kita berbicara masalah shalat berjamaah maka indentik dengan berjamaah, maka para imam shalatlah yang dituntut sebagai orang yang pertama yang seharusnya tercegah dari perbuatan keji (menganiaya diri) dan mungkar (menganiaya orang lain) sebagai konsekwensi dari ke-Imam-annya, untuk menjadi orang yang dapat dipercaya 100%. Jadi bukan hanya sekedar mengimami shalat jamaah berulang² untuk mencari kehormatan, uang atau mencari popularitas saja, tapi tidak tau, tidak mau tau, atau pura² tidak tau tujuan shalat yang dipimpinnya dan mengabaikan makmumnya, tetapi para imamlah yang pertama sebagai pelopor tercegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. para imamlah yang seharusnya mencari solusi dan menolong jamaahnya, bukan memanfaatkan jamaah untuk solusi kehidupannya, jadi pencerahan dan pengkaderisasian imam – imam yang jujur, amanah dan bisa dipercaya adalah fase-fase dalam mewujudkan kemenangan Islam atau Islam yang rahmatan lil alamiin, sebab jika seorang imam shalat itu tidak jujur, amanah dan bisa dipercaya sudah pastilah imam tersebut munafik dan apa yang bisa diharap dari orang munafik ? bukan jalan yang lurus yang ditunjukkan Allah tetapi justru kemurkaanNya.,sebagaimana yang terjadi selama ini.
    Sesungguhnya jalan atau berbagai fasilitas untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan umat Islam itu sudah dipersiapkan Allah dan Nabi Muhammad SAW sejak dahulu kala hanya mungkin kita tidak memperhatikan serta memaknai dan memanfaatkan fasilitas-fasilitas tersebut untuk suatu tujuan yang besar dan mulia. Justru sebagian kita memperdebatkannya untuk mencari pamor dan pertikaian. Misalnya : bacaan shalat harus dengan bahasa arab sesuai dengan sunnah Nabi dan shalat harus mengerti yang diucapkannya sesuai dengan firman Allah dalam QS ; An Nisaa 43 “(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,…) perintah-perintah ini bertujuan agar minimal para imam wajib mengerti bahasa arab secara dialog bukan hanya sekedar bisa membaca.sehingga setiap imam yang ada di permukaan bumi ini dapat berdialog langsung untuk bertukar pikiran dan saling membantu dalam menghadapi masalah yang terjadi dalam kehidupan jamaahnya tanpa harus terkendala masalah bahasa. dan mengingat sarana komunikasi yang ada saat ini seperti hp, internet dll, membuktikan bahwa persatuan umat Islam sedunia itu bukan suatu yang mustahil.
    Tentulah setiap jamaah dalam satu mesjid, mushallah dan lain-lain yang ada dimuka bumi ini ada yang berkelebihan dan ada yang kekurangan dalam hal rejeki yang diberikan Allah bukankan mereka bisa berbagi meskipun berlainan daerah atau negara. bukankah sesama umat Islam itu bersaudara ? jikalau para imam itu jujur, bisa dipercaya dan tidak mengingkari janji, bukankah bantuan-bantuan seperti hibah, zakat dll buat kemaslahatan umat Islam bisa disalurkan melalui para imam-imam ini dan pasti sampai dan tepat sasaran, juga bantuan-bantuan dari negara-negara yang peduli dengan pemberantasan kebodohan dan kemiskinan, lagipula setiap imam shalat itu wajib mengetahui dan peduli keadaan para jamaahnya juga umat Islam diwilayahnya yaitu tentang kehidupannya, akidahnya dan menjadi solusi bagi jamaahnya sehingga imam itu bukan hanya sekedar memimpin shalat tetapi juga memimpin dan menjadi contoh dalam berakhlak sehari-hari, jika ini tidak diterapkan yang terjadi adalah kesia-siaan .
    Dan fasilitas lain yang sudah dipersiapkan Allah adalah tempat-tempat ibadah yang ada dimuka bumi ini sebagai tempat para imam –imam ini melakukan aktifitasnya. Seperti masjid, mushalla, surau, tanpa perlu pembiayaan lagi, juga jabatan imam adalah sakral dan dihormati oleh warga disekitarnya.
    Kalau kita mau meneliti lebih mendetail lagi masih banyak kemudahan-kemudahan yang sudah dipersiapkan Allah untuk mempersatukan umat Islam sedunia. Juga bisa diorganisir mulai dari imam besar mesjidil haram, imam besar yang ada diIbukota Negara, Propinsi/Kabupaten, Kecamatan, Kelurahan bahkan imam mushallah yang ada Rw-Rw.dengan satu link atau jaringan.
    Namun para imam ini haruslah dididik untuk berjiwa besar dan menghargai perbedaan dan tidak berkutet dengan hal-hal yang kecil atau khilafiah yang justru hanya menimbulkan pertikaian dan permusuhan tetapi mereka harus berfikir untuk tujuan dari shalat yang dipimpinnya dan kemaslahatan jamaahnya.
    Dengan cara ini juga kita bisa mengetahui dan mengenal para imam atau jamaah yang tidak mau bergabung atau mengadakan persatuan demi kemaslahatan umat. Bahwa merekalah yang selama ini justru menginginkan atau dipersiapkan unutk menimbulkan perpecahan diantara umat Islam itu sendiri.
    Demikianlah sekilas ulasan dari saya yang tentu masih banyak kekurangan dan kekeliruan namun ambillah sisi positifnya saja dan disempurnakan untuk tujuan agar terselamatkannya sebagian dari umat Islam didunia ini dari kebodohan , kemiskinan dan kemurtadan , yah mudah-mudah dapt tercegah dari perbuatan keji dan mugkar.
    Sehingga kita bisa hidup nyaman dimuka bumi ini bersama saudara-saudara Islam kita, Dan akhirnya segala urusan kembali kepada Allah, jika Dia berkehendak tentu tidak ada yang mustahil. amiin .

    Komentar oleh Muhammad Dharmawan — September 7, 2009 @ 11:28 pm

  19. Assalaam
    Kultum yang disampaikan oleh Bapak Muhammad Dharmawan walaupun memang agak panjang tapi Saya sangat setuju sekali pak,dijelaskan secara rinci dan detail.
    Dan semoga kita semua bisa saling nasehat - menasehati dalam kebenaran dan menetapi dalam kesabaran antar sesama.aamiin

    Komentar oleh ugo — September 9, 2009 @ 6:56 am

  20. assalaam
    Saya punya sedikit problem nih…
    Pada zaman sekarang sy sering merasakan keanehan terutama di musholla atau di masjid yg imamnya tidak tetap baik pada waktu sholat wajib ataupun sunnah seperti tarawih diantaranya:
    1.Saat membaca surat Al fatihah terutama di reka’at ke 3 atau 4 ,saya merasa sepertinya sy sudah membaca dengan kecepatan standart tp kok masih kalah cepat kemudian mencoba lagi tuk menambah kecepatan tp tetap saja gak kekejar,coba tambah kecepatan super seolah-olah dalam hati walhasil dapet juga.ternyata mereka hanya membacanya sekitar 10 detik!
    2.Pada takhyat akhir justru sebaliknya dari Al fatihah sangat lamaaaa….sepertinya kekhusuannya hanya pada saat takhyat akhir.
    Dan kejadian ini hampir tiap hari saya alami baik di rumah maupun di tempat kerja!sehingga sy harus menyesuaiakan kecepatan yang tergantung dari sosok imam yg tampil
    Kalau seperti ini terus kayaknya emang bener sesuai sabda nabi”bahwa nanti keadaan ummatku seperti buih”
    ini baru dilihat dari segi sholat dan masih banyak yg lainnya!!!

    Komentar oleh ugo — September 14, 2009 @ 10:51 pm

  21. RENUNGKANLAH..
    Islam menuntun penganutnya hidup di dunia bahagia dan di akhirat masuk surga dengan pedoman kepada Al qur’an dan Hadits.
    Bahagia adalah : Suatu perasaan yang tidak didasari oleh materi yang mengakibatkan tidak ada lagi rasa : was-was, takut, gelisah, stress ; karena hidup dan mati ini hanya karena Allah semata
    Surga adalah : Segala sesuatu yang paling menyenangkan di dunia ini, tidak ada seujung kukunya kesenangan di surga.
    Sedangkan neraka adalah : segala sesuatu yang paling menyakitkan di dunia ini, tidak ada seujung kukunya kesakitan di neraka
    Jadi apalah artinya kesenangan di dunia ini kalau nantinya mengakibatkan diri digiring ke neraka.
    RENUNGKANLAH..
    >Hidup di dunia ini adalah kompetisi untuk menentukan tempat kita kelak di akhirat yaitu surga atau neraka. Ini sangat tergantung kepada persiapan apa yang dilakukan untuk mencapai tempat mana yang kita inginkan nanti di akhirat.
    >Salah satu ibadah namun utama adalah shalat, dimana begitu istimewanya shalat, sampai-sampai Jibril pun tidak dipercaya oleh Allah untuk menyampaikan perintah shalat kepada Rasulullah.
    >Allah menyuruh langsung Rasulullah untuk datang menghadap dalam bentuk Mi’raj agar langsung didengar perintah shalat tersebut oleh Rasulullah.
    >Rasulullah saat sakratul mautnya, berpesan untuk umatnya : Peliharalah Shalat, peliharalah shalat, peliharalah shalat…
    RENUNGKANLAH..
    >Sabda Rasulullah saw, : di akhirat nanti ada orang yang membawa shalatnya di hadapan Allah swt, kemudian shalatnya diterima dan dilipat-lipat seperti dilipat lipatnya kain usang dan kotor lalu shalatnya itu dibantingkan ke wajahnya.
    >Sabda Rasulullah saw, : Bagi orang yang berangan-angan dalam shalatnya, maka ia tidak akan memperoleh apapun selain dari angan-angannya itu.
    >Sabda Rasulullah saw, : Sesungguhnya perumpamaan shalat itu seperti orang yang mandi. Bila seseorang mandi 5 kali sehari, tetapi badannya belum juga bersih, boleh jadi karena air yang digunakan untuk mandi tersebut memang kotor, atau di waktu mandi ia tidak menggunakan sabun. Jadi jika ada orang yang mengerjakan shalat 5 kali sehari, tetapi perilakunya masih saja buruk, berarti orang tersebut belum memahami benar akan artinya shalat.
    HAKEKAT SHALAT …
    Pada hakekatnya shalat adalah aktifitas yang mempunyai arti sebagai berikut :
    >Menyanjung dan memuji Allah : Allahu Akbar, Maha suci Allah dan Maha Agung , Maha Tinggi Allah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang
    >Membuat janji/komitmen dengan Allah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya karena Allah semata dan tidak akan menserikatkan Allah.
    >Memohon kepada Allah : Meminta : jalan yang lurus, ampunan, disayangi, cukupi kekurangan, tinggikan derajad, rezeki, petunjuk, kesehatan
    >Mendoa’kan Rasulullah : shalawat
    FAKTA …
    Fakta yang ada dalam lingkungan kita adalah :
    >Bagaimana agar sembahyang kita bisa khusuk, sehingga keluarlah berbagai macam aturan yang didominasi oleh kata-kata jangan dan harus, misalnya : jangan bawa pikiran yang lain dalam shalat, wajah harus tetap ke sajadah dan lainnya.
    >Shalat dilakukan hanya sebagai suatu pemenuhan kewajiban sehingga sering dilakukan buru-buru, tetapi saat berdo’a cukup lama.
    >Sementara mulut mengucapkan bacaan shalat, namun hati melanglang buana entah kemana, tahu-tahu shalat sudah selesai. Ini tidak beda dengan orang mabok, tidak mengerti apa yang sedang diucapkannya. Inilah yang dikatakan dalam QS:Al ma’un 107 :004-005 : Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (yakni) orang-orang yang lalai dari shalatnya.
    >Sebaliknya, QS Al Mu’minun 23:001-002 Sesungguhnya beruntunglah orang orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya,
    >Coba kita ingat-ingat : bila dipanggil atasan, betapa kita datang dengan rapi dan bertutur kata lembut, dan mengerti persis apa yang akan diucapkan, jarang terpikir hal-hal lain, apalagi bila itu menyangkut kelangsungan jabatan.
    >Berjanji dalam shalat tidak akan menserikatkan Allah, tetapi kenyataannya dalam shalat secara tidak sadar telah melakukan serikat bagi Allah. (Syirik)
    >Syirik bukan saja menyembah berhala, tetapi juga bila kalbu ini didominasi oleh hal-hal selain Allah. (Syirik adalah dosa yang tidak berampun).
    SHALAT KITA…
    Penduduk Indonesia yang dominan beragama Islam dan melaksanakan shalat, namun shalatnya tidak dapat mencegah yang keji dan mungkar sesuai dengan tujuan shalat itu sendiri QS Al ‘Ankabuut 29:045: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Ini bisa kita lihat dari betapa banyak maksiat yang masih terjadi berupa : perkosaan, perzinahan, pembunuhan, korupsi, penipuan, perampokan, penyogokan dlsb.
    TAFAKURLAH…
    Mari bertafakur sejenak untuk memperkuat keyakinan ilahiyah, sebab sabda Rasulullah : Bertafakur sejenak, lebih baik daripada ibadah satu tahun :
    >Bila datang kepada kita malaikat jibril yang menyampaikan bahwa umur kita tinggal 2 jam lagi, apa yang akan diperbuat ? tentulah sikap yang timbul adalah : dengan rasa takut, rendah diri dan penuh harap tanpa lagi menghiraukan harta, istri dan anak : mendirikan shalat tobat dan memohon ampunan-Nya. Bahkan selama 2 jam tersebut akan digunakan untuk memperbanyak ibadah-ibadah lainnya.
    >Maka anggaplah bahwa shalat ini adalah shalat yang terakhir, seolah-olah habis shalat ini akan meninggal. QS An Naml 27:003 : (yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.
    >Tidak dihitung amalan yang lain apabila shalat tidak diterima.
    >Kita akan berkomunikasi langsung dengan Allah yang Maha Melihat, Maha Mendengar. QS Asy Syu’araa’ 26:218 : Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang),
    >Syirik adalah dosa yang tidak berampun. QS An Nisa’ 04:48 : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. QS An Nisa’ 04:116 : Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.
    >Shalat adalah peluang besar untuk meraih surga QS Al Baqarah 02:277 : Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
    >Percuma hidup di dunia bila nanti di akhirat akan masuk neraka.
    >Setan akan menggoda dari segala sisi dan segala cara.
    TANAMKAN DALAM KALBU…
    Setelah keyakinan ini tertanam kokoh dalam kalbu, maka secara otomatis sikap kita adalah : >Berpakaian yang terbaik untuk ketemu dengan Allah (shalat)
    >Mengikhlaskan waktu untuk ketemu dengan Allah (shalat)
    >Setiap akan memulai suatu pekerjaan, selalu memohon kepada Allah agar terlindung dari godaan setan
    >Mengucapkan bacaan shalat dengan tenang dan sabar, tidak tergesa-gesa
    >Berusaha untuk mengerti apa yang diucapkan dalam shalat sehingga mulut berucap, kalbu tidak dibiarkan terdominasi oleh selain Allah yaitu dengan memberikan tugas : mengartikan apa yang sedang diucapkan. Wajar apabila masih saja ada gangguan bagi kalbu yang melanglang buana, tetapi dengan cepat kembali kepada Allah.
    >Janji kepada Allah dalam shalat, yakni : sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah karena Allah semata, dijadikan sebagai alat control dalam setiap akan memulai tindakan. Sehingga bila tindakan yang akan dilakukan tersebut bukan karena Allah semata, maka tidak perlu dilakukan. Misalnya : Bila ada niat dalam hati hendak melakukan zina atau korupsi, segera tanya kalbu ini, apakah ini kita hadirkan atau lakukan karena Allah ? Bila tidak, tentu segera meninggalkan niat berbuat tersebut.
    AMALKANLAH…
    Bila shalat yang dilakukan berdasarkan keyakinan tersebut di atas, maka akan terasa bahwa betapa shalat itu nikmat, sehingga sehabis shalat akan terasa tentram dalam kalbu.
    Keyakinan ilahiyah ini jualah yang antara lain akan membuahkan shalat yang mana selaras antara mulut yang mengucapkan dengan kalbu yang menghayati maknanya dan otak mengingat kebesaran-Nya. (Khusyu’). Shalat seperti inilah yang dapat mencegah Keji dan Mungkar .
    Insya Allah.

    maaf hasil copy dari website saya

    Komentar oleh ugo — September 14, 2009 @ 10:54 pm

  22. Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.

    Masih ada aja yang profokasi, kalau ente mo 11 rekaat dan pasti 4+4+3 rekaat silahkan bang, di arab 23 rekaat lho n 2+2+2+2+2+2+2+2+2+2 witir 2+1 jadi lebih baik kita menegur yang tidak tarwih, Wassalam MA’AP

    Komentar oleh Abid — September 15, 2009 @ 8:25 am

  23. aslm..ikhwany rohimakumulloh..
    dalam sholat itu sendiri ada rukun2 yang harus kita ketahui dan di praktekkan..walpun itu sholat sunnah,ttp ada rukun2nya yang mana apabila tidak dikerjakan,maka sholatnya tidak sah..menanggapi dr saudara lutfi,beliau menyinngung dengan sebuah hadits dg pengertian bahwa rasul SAW pernah mengerjakan sholat dengan cepat..al-hadits au kama qaul..
    perlu kita ketahui juga bahwa dalam sholatnya beliau pun,kita yakin bahwa rukun2nya tetap di kerjakan..diantaranya adalah tuma’ninah..tuma’ninah termasuk rukun yang harus dikerjakan bagi orang yang ingin sholat..jadi,secepat3nya beliau,ttp tuma’ninah tidak akan beliau tinggalkan..
    kedua,surat al-fatihah..termasuk rukun juga yang harus dibaca dengan benar makhroj2nya dan panjang pendeknya..jadi,klo sampe tajwid itu ditinggalkan,maka sholatnya tidak sah..dari situ,ulama juga mengharuskan kita untuk belajar tajwid karena sangat erat hubungannya dengan sholat kita dan memberikan status sah tidaknya sholat kita..
    wallohu a’lam bis showab..
    sukron,wassalam..

    Komentar oleh jakfar — September 30, 2009 @ 9:46 pm

  24. Sholat tarawih 11 rokaat keterangan dari hadits adalah mutawatir (dia atas shoheh), sedangkan yang 23 rokaat merupakan bid’ah (alias mengada-ngada), ingat hadits yang berbunyi “SHOLATLAH KALIAN SEBAGAIMANA KALIAN MELIHAT SAYA (MUHAMMAD) SHOLAY.

    Komentar oleh AHMAD TASIKHUN, S.Kom — October 17, 2009 @ 5:38 pm

  25. to:kadar
    hukum tidak bisa dibantah dengan kondisi/zaman/keadaan, mau modern ataupun masa lalu. sunnah 23 rakaat merupakan ajaran para sahabat dan sebenarnya tidak ada batasan jumlah rakaatnya. nabi membenarkan kita mengikuti salah satu dari sahabat nabi. yang saya pertanyakan adalah justru, shalat 4 rakaat salam afwan saya blm pernah dengar dalilnya dan mengikuti ulama mana(mungkin krn kebodohan saya). sedangkan setahu saya, dalam hadits mutafaqun ‘alaih (bukhori_muslim) yang diriwayatkan oleh abu hurairah dijelaskan bahwa shalat sunnah malam hari adalah dua rakaat salam. sekian, wallohu a’lam.

    Komentar oleh khoiron — October 20, 2009 @ 1:00 pm

  26. problemnya ada di imamnya mas!

    hm, kesalahan prsonal yg kemudian coba diarahkan ke statement: ‘lebih baik taraweh sebelas roka’at aja’..ckckck..

    lucu, statement anda diparagraf 3 itu lowh. klo kata statistik, sample space bung fahmi ini tidak luas..

    buktinya, taraweh di msjid dkt sy 23 roka’at tartil juga kena tuh..

    yap,saya setuju,problem ada di imam.
    dan memang, sample saya tidak cukup luas, karena memang keterbatasan waktu untuk mengunjungi masjid2 di jakarta.

    demikian,
    terima kasih komentarnya dan sudah mengerti maksud postingan saya ini :-)

    Komentar oleh pecinta Muhammad SAW — October 26, 2009 @ 11:35 am

  27. Problemnya bukan pd imam-nya, mas, tapi pd iman-nya.

    Dari komen no 2 mengenai khatam, apa ada khatam mendengarkan Al-Quran?
    Bukankah khatam Al-Quran adlh satu orang tuntas membaca 30 juz, sebulan, sepekan, 3 hari?

    Tanya dalam hati saja bgmana imam-imam tsb yang jenggotnya dicukur habis jika hidup di jaman Rasul dan bertemu kemudian ditanya “Siapa yang memerintahkan antum mencukur jenggot?” (hr At-Thabrani)
    Dari hal ini aja bisa diketahui siapa yang berani menentang Rasul (QS An-Nisaa 114)
    “jangan dibesar-besarkan ini hanya masalah kulit aja”
    Menentang perintah Rasul kok dianggap sepele?

    “Sesama muslim jangan menghujat”
    Siapa berani memastikan dirinya muslim, jika menentang Rasul?

    Semoga Allah menerima taubat hambanya yang mau berusaha taat kepada Allah & Rasul-Nya (belum tentu saya sdh 100% taat, tp berusaha).
    Referensi: Tafsir QS Al-Kahfi 103-110.
    Seorang dikatakan muslim jika ia taat, bukan dari sedikit-banyaknya rakaat shalatnya.

    Diperintahkan mengucapkan “Allohumma Sholli A’la Muhammad …” kok malah taat kpd yg ngajarin nambah “Sayyidina”?
    Diperintahkan untuk mengucapkan doa, kok malah taat kpd yg ngajarin menyanyikannya (sholawatan)?
    Diperintahkan membiarkan jenggot, kok taat kpd yg ngajarin mencukur jenggot.

    Komentar oleh Abu Dias — November 12, 2009 @ 9:00 am

RSS feed untuk komentar di artikel ini.

Tulis Komentar Anda

Baris dan paragraf akan dipisahkan otomatis, alamat email tidak akan tampil, tag HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



ini fitur anti spam: silakan ketik kata yang ada di kotak...






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham