Bersih-bersih Dan Mandi Menjelang Ramadhan
Bismillah,
Salah kaprah lain yang sering dilakukan kaum muslim Indonesia adalah beramai-ramai mandi dan keramas menjelang Ramadhan tiba. Tradisi ini biasanya dilakukan selambatnya 1 hari menjelang Ramadhan. Jadi, misalnya tahun ini Ramadhan dimulai hari Sabtu tgl 22 Agustus 2009, maka Jum’at malam (21 Agustus 2009) kita akan banyak mendapati banyak kaum muslim mandi malam atau bahkan memadati kolam dan mandi di sana. Bahkan ada yang rela mandi pagi dan bersih-bersih (jam 3 pagi) di hari pertama Ramadhan agar tidak ketinggalan tradisi ini.
Saya hanya bisa tertawa saja melihat tingkah laku saudara seiman ini. Mereka begitu jor-joran untuk bersih-bersih (mandi, berendam, atau apapun itu) secara fisik menjelang Ramadhan, namun seringkali bersih-bersih secara mental/rohani cenderung dilupakan. Bahkan tidak sedikit yang sibuk bersih-bersih di awal Ramadhan, namun ternyata ibadah shaumnya tidak jelas nasibnya.
Hal yg membuat miris adalah bercampurnya (di dalam kolam) antara laki-laki dan perempuan. Bahkan di beberapa tempat, kumpul2 ini dg baju yg minim, bahkan ada yg (maaf) hanya model sarung dan (maaf lagi) menonjolkan bagian2 tertentu tubuhnya, yg bisa mengundang syahwat.
Jelas sekali bahwa perbuatan ini (bersih2 menjelang bulan Ramadhan, apalagi sampai bercampur laki-perempuan bukan mahram) tidak pernah diajarkan dalam Islam.
Yang ingin saya tekankan di sini, bersih-bersih (fisik) menjelang Ramadhan bukanlah hal yang terlalu penting. Lebih penting menyiapkan diri untuk fokus beribadah pada saat Ramadhan.
Salah kaprah lainnya adalah bermaaf-maafan menjelang Ramadhan dan Lebaran.


yang dimandikan cuma jasmaninya saja, dan apalagi mandinya di kolam pemandian umum yang tidak ada batas antara laki-laki dan perempuan jelas bukan mau bersih2 tapi cuci muka dan cari cewek doang, banyak mudhorotnya
Komentar oleh misteriwan — August 20, 2009 @ 9:29 am
Tidak selamanya suatu tradisi itu buruk lalu atas nama Tuhan kita mengecamnya, mengatakannya bid’ah, ingkar sunnah, dll. Tradisi “padusan” kalo hendak digali secara lebih arif, tanpa tendensi apapun, barangkali akan kita temukan beberapa hikmah yang juga cukup penting sebagai pembelajaran hidup yang lebih baik.. Jika yang kita lihat hari ini tradisi “padusan” tampak dalam bentuk “mandi bareng”, apalagi sampai campur lawan jenis, artinya tradisi tersebut telah bergeser dari arti yang sesungguhnya. Tradisi padusan, umumnya ada di tanah jawa, ntah dari mana dan sejak kapan tradisi ini mulai berkembang, namun pabila di lihat dari sudut yang berbeda terdapat beberapa makna yang baik untuk dipelajari. Saya menemukan blog yang menulis makna padusan, mudah2an bisa menjadi referensi untuk kita belajar bersama menjadi hamba Allah yang arifin.
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH DI BULAN SUCI RANADHAN, MAAF LAHIR DAN BATIN.
Komentar oleh thoib soebhanto — August 21, 2009 @ 12:58 pm
Maaf.. alamat blognya tertinggal. Buka di sini http://enaknemen.blogspot.com/2009/08/memaknai-padusan.html
Komentar oleh thoib soebhanto — August 21, 2009 @ 12:59 pm
Mas FAhmi,..bersih2 menjelang ramadhan boleh dong?…kan mau membersih kan dosa,..ya jasmani juga dibersihin dong,..apalagi kalo daki msih menempel,…yg mandi seminggusekali,…kalo mau ramadhan,..mandi dulu deh biar ga bau pas terawehan,..heeeeeeee
Komentar oleh bunga — August 24, 2009 @ 2:08 pm
ikuti apa yang dilakukan baginda Rasullulloh SAW aja,supaya jelas dasarnya,tidak sekedar mengikuti tradisi semata
Komentar oleh hamba Alloh — August 26, 2009 @ 5:48 pm
setuju dengan mas thoib, jangan semua tradisi di musuhi dan di hilangkan. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, dan islam bukan agama yang mengganti budaya dan adat asal tidak menyimpang dari syariat. Apalagi padusan pada dasarnya adalah baik. Tergantung kita menyikapinya.
Komentar oleh udhin — August 31, 2009 @ 2:31 pm
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. QS; Al Maa’idah ayat : 6
Allah memerintahkan kepada orang yang beriman “ orang-orang yang percaya kepada Allah”, dalam perintah ini jelas bahwasanya berwudhuk itu begitu penting karena walaupun tidak ada air dapat menggunakan tanah, sehingga tidak ada alasan untuk tidak mengerjakannya, ketika Allah memerintahkan menggunakan tanah ketika tidak ada air maka dapat diambil kesimpulan bahwa berwhuduk bukan hanya sekedar untuk membersihkan namun sebagai sarana untuk mengigatkan dan peringatan bagi setiap pelaku shalat sebelum mengerjakan shalat atau menghadap Allah.
Perintah agar membasuh wajah , wajah disitulah letaknya rasa malu malu adalah sebagian dari iman , karena orang yang tidak memiliki rasa malu lagi diumpamakan muka tembok, muka tebal, muka badak dll. Seorang yang memiliki rasa malu pasti akan menjaga wajahnya dari noda kehinaan dan ketercelaan, orang yang tidak memiliki rasa malu lagi maka mereka tidak berbeda dengan hewan.
Kemudian membasuh kedua tangan hingga kesiku untuk mengingatkan agar jangan sikut kekanan dan kiri seperti tetangga, teman dan lain-lain, dan membiarkan orang disekeliling kita nyaman dari kejahatan tangan kita, tangan juga menyimbolkan kekuasaan diharapkan agar dengan kekuasaannya tidak menganiaya orang lain dan memberi kesempatan orang lain untuk maju dan bahagia, dan cara untuk mengingatkan bahwa karena tangan itulah banyak manusia yang celaka didunia dan akhirat.
Menyapu kepala sesungguhnya dikepala itulah letaknya otak atau pikiran secara abstrak atau akal, menyapu kepala dimaksudkan agar menyapu pikiran-pikiran kotor yang melekat seperti serakah dengki, hasut, dll , sehingga pikiran itu menjadi bersih dan suci sehingga siap untuk menghadap Allah yang Suci pula. Karena akal itulah manusia jadi sombong dan lupa diri sehingga banyak manusia yang lupa pada Penciptanya, kemuliaan manusia terletak pada akalnya jika manusia tidak menggunakan akalnya maka manusia itu juga tidak ada beda dengan hewan atau benda kecuali hanya beda fisik saja namun tabiat dan akhlak sama.
Membasuh kaki sebatas mata kaki ini mengingatkan agar jangan menginjak-injak dan mendepak orang-orang yang lemah, dan mengingatkan agar kaki itu dibawa untuk melangkah ketempat-tempat yang baik dan bermanfaat bukan ketempat yang membawa celaka dan maksiat.
Jika setiap pelaku shalat yang minimal lima kali mengerjakan wudhuk dan senantiasa mengingat manfaat dan faedah dari perintah Allah ini niscaya perintah berwhuduk ini saja dapat mencegah seseorang dari sebagian perbuatan keji dan mungkar juga senantiasa memohon ampun atas anggota –anggota tubuh tersebut seraya memohon agar Allah membimbing kita dalam mengendalikan semua itu
dari :ponpesgratis.blogspot.com
Komentar oleh Muhammad Dharmawan — September 7, 2009 @ 11:34 pm
aslm..ikhwany rohimakumulloh
padusan itu,kita secara syar’i masih belum pernah mendengar..
dalam ushul fiqh,itu ada ulasan yang berkata,al’uruf muhakkamah..adat itu bisa dijadikan hukum, dengan syarat tidak syadz(keluar syar’i)..jadi menurut saya,klo adat itu bisa bergeser ke arah yang gak bener,saran saya lebih baik di tinggal kan aja..kita emang harus di tuntut untuk lebih bijaksana dan arif dalam menyikapi suatu adat..tapi kita juga salah kaprah dalam mengartikan al’islam rohmatan lil alamin..yang dimaksud disini adalah,islam itu diantaranya selain menjaga manusia lebih bisa berjalan sesuai koridor dan fitroh manusiawinya,kita pun juga bisa diselamatkan nanti di akhirat..hal itu tidak bisa dijadikan dalil untuk padusan karena satu yang harus kita ingat,apakah adat yang kita anut itu tidaK syadz dan dapat menyelamatkan kita nantinya di mizan?!
wallohu a’lam bis syowab..
sukron,wassalam
Komentar oleh jakfar — September 30, 2009 @ 9:57 pm