Mengucapkan Selamat Natal Itu Penting Atau Tidak?
Bismillah,
Tiap tanggal 25 Desember, kaum Nasrani akan merayakan hari Natal, hari yang mereka percaya sebagai hari lahirnya tuhan mereka, Yesus (yang di Islam lebih dikenal sebagai Nabi Isa as). Mirip dengan lebaran, hari Natal merupakan hari kaum Nasrani berpesta pora, meski ada juga yang berusaha memaknai arti hari Natal tersebut dengan pendekatan secara agama.
Nah, sudah menjadi ‘penyakit’ tahunan kaum Islam, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia, mengenai perlu tidak sih mengucapkan selamat natal kepada mereka?
MUI, terutama di jaman Buya Hamka menjadi ketuanya, sudah jelas2 mengharamkan pemberian selamat hari Natal, terlebih lagi hadir dalam acara keagamaan yang terkait dengan hari Natal ini. Meski mengandung kontroversi dan selalu menjadi bahan perdebatan, toh fatwa MUI ini masih banyak yang mengikuti dan patuh. Fatwa lengkap MUI mengenai hal ini bisa anda baca di sini.
Di jaman dulu, Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya, juga sudah menerapkan hukum yang serupa dengan fatwa MUI ini. Alasan mereka, perayaan Natal merupakan bagian dari syiar agama Nasrani. Mereka punya pendapat bahwa kaum muslim wajib menjauhi berbagai perayaan orang-orang kafir, menjauhi dari sikap menyerupai perbuatan-perbuatan mereka, menjauhi berbagai sarana yang digunakan untuk menghadiri perayaan tersebut, tidak menolong seorang muslim didalam menyerupai perayaan hari raya mereka, tidak mengucapkan selamat atas hari raya mereka serta menjauhi penggunaan berbagai nama dan istilah khusus didalam ibadah mereka.
Sementara itu, Yusuf Qardhawi memberikan fatwa yang ’sedikit’ berbeda. Beliau membolehkan mengucapkan selamat natal (atau hari besar lainnya) kepada mereka yang CINTA DAMAI, terlebih kepada mereka yang mempunyai hubungan darah, seperti saudara, ataupun bertetangga (yg baik).
Jika saya tidak salah baca, saya pernah baca bahwa bolehnya mengucapkan selamat natal ini terutama ditujukan kepada kaum muslim yang bermukim di negara yg mayoritas Nasrani. Alasan di artikel yg pernah saya baca, serupa dengan pendapat Yusuf Qardhawi (atau jangan2 artikel yg saya baca itu juga artikel dari YQ? Entahlah).
Saya sendiri bersikap moderat konservatif, dalam artian tetap menghormati kaum Nasrani, namun saya berada dalam lingkup atau wawasan mengucapkan selamat natal adalah hal yang tidak penting (bagi saya). Mengapa tidak penting? Karena, menurut saya pribadi, Natal sudah merupakan bagian dari ke-tauhid-an seorang Nasrani.
Saya berpatokan kepada ayat Al Qur’an, surat yg saya yakin kita semua sudah hafal, yakni Al Kafirun(109). Di sana, pada ayat 6 tertulis,“Untukmu agamamu,untukku agamaku”. Surat ini turun, seingat saya ketika Rasululloh SAW ditawari kaum kafir Quraisy untuk ‘bergantian’ menyembah tuhan masing-masing. Jadi, minggu ini kaum kafir nyembah ALLOH SWT, minggu depan kaum muslim yg gantian nyembah tuhannya kaum kafir.
Selain itu, saya juga berpatokan kepada sang suri tauladan. Sepanjang saya ketahui, dalam shirah nabawi tidak tersebut (atau disebutkan) Rasululloh SAW mengucapkan selamat hari natal kepada kaum Nasrani yg ada saat itu, terutama raja Heraklius dari Romawi. Well, barangkali perayaan Natal belum marak saat itu, tapi saya yakin bahwa Rasululloh SAW sudah dipersiapkan ALLOH SWT untuk memberikan contoh mengenai hal2 yang terkait dengan tauhid.
Namun, saya TIDAK AKAN MENYALAHKAN atau MELARANG kepada saudara2 sesama muslim yg mengucapkan selamat Natal. Seperti yg saya tulis di atas, ada 2 pendapat mengenai mengucapkan selamat natal ini. Terlebih kepada saudara muslim yang hidup di negara Barat, atau bahkan punya saudara atau keluarga yg beragama Nasrani.
Jadi, tidak perlu saling menyalahkan.
Yang mengucapkan selamat Natal tidak perlu menyalahkan yg tidak mengucapkan. Apalagi dengan embel2 bahwa yg tidak mengucapkan selamat natal berarti tidak tenggang rasa, tidak ada jiwa sosial (bergaul), dan sebagainya dan sebagainya.
Demikian pula yg tidak mengucapkan tidak perlu serta merta memaksakan pendapatnya kepada saudara sesama muslim yang mengucapkan selamat. Apalagi dengan ucapan mengancam bahwa yg mengucapkan selamat natal akan masuk neraka. Wah wah wah…suatu tindakan, yg menurut saya, tidak bijak.
Setiap orang (terutama muslim) akan dimintai pertanggung jawaban untuk setiap tindakannya. Ilmu pengetahuan mengenai boleh tidaknya mengucapkan selamat natal berarti sudah anda ketahui. Masalah anda pilih yang mana, ikutilah yang anda anggap sesuai. Masing-masing pendapat punya alasan yang kuat.
Jadi, anda pilih yang mana?


Assalamualaikum..
Mas atau Pak ya?? terima kasih untuk tausyiahnya dengan bahasa yang mudah dipahami. Saya betah mbacanya dan menambah pengetahuan keagamaan. Jazakallah
Komentar oleh Fitri — December 24, 2008 @ 6:43 pm
Assalamu’alaikumwarohmatullahiwabarokaatuhu. Syukron katsiira atas Tausiyahnya. Bagi Qq sendiri,lbh baik tdk mengucapkan Natal. Demi kehati-hatian.
Komentar oleh QqCakep — December 25, 2008 @ 2:09 pm
tulisannya boleh saya tulis kembali di blog saya?
thanks kalau boleh…
Komentar oleh al hafizh — December 27, 2008 @ 8:16 am
jika anda tidak sepakat katakan tidak, dan jiak ya maka katakanlah ya……..! tapi untuk saya pantang memberikan selamat untuk kaum nasrani, karena yidak ada tuntunanya dalam syariah islam.
Komentar oleh alung — January 10, 2009 @ 1:29 am
Alloh pernah menegur Rasululloh pada saat selesai tawaf pada hajinya selama beliau masih berdakwah di Makkah
Pada saat itu para kafir Quraisy berkata pada Rasul “Hai Muhammad, engkau berhaji di tanah nenek moyangmu, maka kami minta engkau juga menghormati agama nenek moyangmu. Sentuhlah kaki Latha dan Uzza yang ada di ka’bah”
Akal pikiran Rasul saat itu menyatakan bahwa tidak apa-apa sekedar menyentuh kaki Latha dan Uzza, pada saat Rasul hampir melaksanakan permintaan kafir Quraisy tsb
maka turunlah firman Alloh yang melarang belia
“….sungguh hampir saja engkau kafir karena mengikuti hawa nafsumu, sesungguhnya itu adalah tipu daya Syaiton”
Jadi jelas kan gmana hukumnya kasi ucapan selamat natal?
sepele sieh..dan memenuhi azas toleransi antarumat beragama(Pendidikan Pancasila kelas 1 SD)
Tapi hal yang sepele tsb ternyata tidak disukai Alloh, lalu apalah artinya diri ini ketika Alloh tidak suka kepada kita?
Komentar oleh erick — January 10, 2009 @ 9:22 pm
Ada sedikit slogan buat pembanding bagi yg suka berpikir. Saudara2ku, rasanya sangat sering kita mendengar(tanpa berpikir) bahwa ada hal yang HALAL tapi ga disukai Allah tetapi tetap diartikan sebagai BOLEH dilakukan dan tidak berdosa..(lucu aja).
Sebenarnya persepsi kita ttg Allah itu seperti apa, yaa? Kok bisa bilang: Allah suka ini, Allah ga suka itu, seakan-akan DIA itu punya tingkatan emosi yang sama dengan kita2..he..he..
seakan-akan Allah itu pimpinan Parpol Islam…
sama kayak MUI dengan Fatwa Haramnya atas GOLPUT. (sori ngelantur).
Btw, hal yang selalu saya yakini adalah bahwa Allah yang saya sembah juga menyayangi umat yang merayakan Natal..
karena Dia MahaPenyayang..
karena jika ada satu partikel saja (apalagi manusia) yang dibenci-Nya, berarti Dia telah menanggalkan sifat Maha-Penyayangnya itu!
Salam.
Komentar oleh allie — January 27, 2009 @ 7:22 pm
mas Fahmi mau nanya,
Kalau Selamat Natal diartikan Selamat hari lahir Isa (Iesus) gimana.
Semacam: “Selamat Ulang Tahun ISA A.S.”
Tapi nggak ikut2 ibadah/doa2/nyanyi2 nya tentu saja.
Misalnya datang ke rumah silaturahmi, mengucap selamat, tapi kalau ada nyanyi2, doa, atau mulai ibadah, bisa langsung pulang dulu..
Komentar oleh Yogi — February 12, 2009 @ 4:17 pm
Assalamualaikum,
Pak Haji / Uztad, ato apalah…
Pertama - tama..
Saya setuju dengan Sodara/i Alie tentang pendapatnya.
Bahwa Allah SWT itu Maha Penyayang.
Dan tidak ada satu pun umat-Nya yg tidak disayangi-Nya.
Kedua - dua..
Menurut saya Anda (mungkin jg umat muslim yg pny pengetahuan cetek ttg agama) SALAH dalam menganggap bahwa agama selain ISLAM adalah KAFIR.
Itu adalah pemahaman terbodoh yang tersebar luas d masyarakat muslim.
Jika Anda tahu (tapi saya berani menjamin bahwa Anda pasti tidak tahu) bahwa ISLAM adalah gabungan dari agama - agama sebelum islam.
Karena itu ISLAM disebut agama sempurna.
Dan karena itu pulalah agama selain ISLAM BUKANLAH KAFIR !!!
Dan tentunya kita tidak bisa menyalahkan begitu saja orang” yg tdk memeluk ISLAM, karena pada kenyataannya Allah menciptakan agama tersebut dan bukan ajaran yg menyimpang.
Ketiga - tiga..
Segeralah menyadari akan kesalahan Anda yang menganggap bhw agama selain ISLAM itu adalah KAFIR. (dan saya juga berharap pada umat muslim yg lainnya)
Karena sesungguhnya ISLAM itu sendiri terdiri dari agama yang berbeda-beda yang disempurnakan.
Keempat-empat..
Sya mohon maaf apabila ada tulisan saya yg tak berkenan.
Saya hanya menyampaikan kebenaran bukan untuk mencari musuh.
Terima Kasih,
Komentar oleh Hamba Allah — February 24, 2009 @ 6:03 pm
Asalamuaallaikum wrwb hidup didunia untuk beribadah dan menghayati hidup ini dgn sepenuh hati untuk mendapat nikmat ALLAH SWT yang 99nikmat.setidaknya sbgai hamba Allah swt kita sll memanfaatkan hidup ini dgn hidup yang lebih bermanfat untuk saudara kita .tak ada manfaat pabila kita menyalah kan orang lain cobalah kita renungi perjalannan hidup kita tentu kita lebih hina dari pada orang yang sll kita lihat celah dan kesalahhan nya berhentilah menyalahkan orang lain dan berlajarlah untuk bisa lebih memanfaatkan hidup untuk bisa ber istiqomah jika saudara/saudri ingin bersilaturahim silahkan kirim imel ke dwiputriyanti_yanti@yahoo.co.id syukron wasallam
Komentar oleh putri — March 2, 2009 @ 8:53 am
#
Ada sedikit slogan buat pembanding bagi yg suka berpikir. Saudara2ku, rasanya sangat sering kita mendengar(tanpa berpikir) bahwa ada hal yang HALAL tapi ga disukai Allah tetapi tetap diartikan sebagai BOLEH dilakukan dan tidak berdosa..(lucu aja).
Sebenarnya persepsi kita ttg Allah itu seperti apa, yaa? Kok bisa bilang: Allah suka ini, Allah ga suka itu, seakan-akan DIA itu punya tingkatan emosi yang sama dengan kita2..he..he..
seakan-akan Allah itu pimpinan Parpol Islam…
sama kayak MUI dengan Fatwa Haramnya atas GOLPUT. (sori ngelantur).
Btw, hal yang selalu saya yakini adalah bahwa Allah yang saya sembah juga menyayangi umat yang merayakan Natal..
karena Dia MahaPenyayang..
karena jika ada satu partikel saja (apalagi manusia) yang dibenci-Nya, berarti Dia telah menanggalkan sifat Maha-Penyayangnya itu!
Salam.
Komentar oleh allie — January 27, 2009 @ 7:22 pm
berhati-hatilah dengan komentar diatas…
terserah antum2 sekalian yang mau berpendapat apa saja tentang ucapan selamat natal…
tapi ingatlah selalu…apa dengan kita mengucapkan selamat natal bukannya kita menyetujui dengan ajaran agama tersebut?
Sedangkan Islam adalah agama yang paling mulia
hati2 dengan tipu daya syetan…
Komentar oleh lojer — March 18, 2009 @ 10:41 am
Iya berhati-hatilah..Jangan salah mengerti dengan komentar Allie di atas. Jangan sampai salah mengerti. Allie tak pernah menyebut “setuju” atau “tak setuju” dengan soal ucap mengucap natal itu. Allie hanya mengingatkan bahwa Allah itu milik semua Umat.
Dan, jika kita memang mengakui bahwa Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam, mestinya kita bisa melepaskan diri dari mengagungkan bahasa Arab.
Allah tak (pernah) memerlukan bahasa buatan manusia apalagi mengikuti grammar dan gaya bahasanya. Nah, klo koment yg ini untuk yang lebih suka ber-antum ria daripada ber-Anda ria.
Salam selalu.
Komentar oleh allie — March 18, 2009 @ 6:47 pm
Jangan tulis : Natal sudah merupakan bagian dari ke-tauhid-an seorang Nasrani.
Tapi tulislah: Natal sudah merupakan bagian dari AQIDAH seorang Nasrani.
Karena orang musyrik itu dipastikan tidak bertauhid!!!
Tauhid itu (esa) lawan dari Syirik (sekutu)
Komentar oleh sandhi — March 19, 2009 @ 12:41 pm
Bahkan umat Islam makin berani lagi untuk menyerupai ibadah (bertasyabbuh) Natal nasrani dengan mengadopsinya ke dalam acara peringatan dan perayaan Maulid Nabi shalallahu alaihi wassalam.
Padahal tidak ada kepastian tentang tanggal hari kelahiran (maulid) Nabi . Dan cukuplah hal ini menjadi tanda bukti nyata yang menunjukkan bahwa Nabi , para sahabat dan para ulama setelah mereka, tidaklah menaruh perhatian besar dalam masalah hari ulang tahun (maulid) Nabi .
Karena jika seandainya hari ulang tahun kelahiran (maulid) beliau adalah perkara yang penting untuk dirayakan, memiliki keutamaan yang besar, dan memiliki arti yang mendalam dalam Islam, maka pasti akan ditegaskan oleh Nabi dalam hadits-hadits beliau, sebagai konsekuensi dari kesempurnaan Islam dan semangat beliau dalam menunjukkan kebaikan kepada ummatnya. Juga pasti akan dinukil dari para sahabat tentang tanggal kelahiran beliau sebagai konsekuensi sikap amanah mereka dalam menyampaikan ilmu.
Bahkan ketika Khalifah Umar bin al-Khaththab bermusyawarah mengenai perlunya penanggalan Islam, para sahabat hanya mengemukakan dua pilihan, yakni (1) memulai tahun Islam dari sejak diutusnya Muhammad sebagai rasul atau (2) sejak beliau hijrah ke Madinah. Akhirnya, pilihan Khalifah Umar -yang disepakati para sahabat- jatuh pada yang terakhir. Khalifah Umar beralasan, Hijrah adalah pembeda antara yang haq dan yang batil [Târîkh ath-Thabari, 2/3]. Saat itu tidak ada seorang sahabat pun yang mengusulkan tahun Islam dimulai sejak hari lahirnya Nabi .
Ini membuktikan bahwa para sahabat bukanlah orang-orang yang biasa mengkultuskan Nabi Muhammad , sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa . Hal itu karena mereka tentu sangat memahami benar sabda Nabi sendiri yang pernah menyatakan:”Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa putra Maryam, karena sesungguhnya aku hanya sekadar seorang hamba-Nya.” [HR. Bukhari dan Ahmad].
Maka merayakan ulang tahun hari kelahiran Nabi dan menjadikannya hari besar di dalam Islam adalah tidak memiliki landasan yang kuat. Tidak kuat dari sisi aqidah Islam dan juga tidak kuat dari sisi penanggalan kelahirannya. Bahkan jangan-jangan itu adalah hari wafatnya beliau yang seharusnya kita berduka karenanya dan tidak selayaknya kita bergembira di bulan wafatnya Nabi . Apalagi Rasulullah telah mencukupkan dua hari raya bagi umat Islam yaitu : Idul Adhha dan Idul Fithri.
Peringatan Natal dimulai tahun 325 M dipelopori Paus Liberius, jauh sebelum kedatangan Islam. Namun Nabi dan para sahabatnya yang hidup berdampingan dengan kaum Nasrani tidak pernah mengadopsi hari raya Natal (maulid Isa ) ini ke dalam Islam dalam bentuk perayaan maulid Nabi Muhammad . Maka akankah kita menyalahi perintah Rasulullah dengan menambah lagi hari raya berupa ulang tahun kelahiran beliau yang meniru-niru tata cara ibadah kaum Nasrani dengan hari raya Natal-nya?
Allah berfirman,artinya,“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka (Yahudi dan Nashrani) setelah datang kepadamu ilmu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim.” [Al-Baqarah :145].
Imam Muslim dalam muqaddimah Shahih Muslim (1/10) membawakan suatu riwayat yang sampai sanadnya kepada Muhammad bin Siriin, beliau berkata: “Sesungguhnya ilmu itu agama, maka lihatlah dari manakah kalian mengambil agama kalian”
Bukankah Rasulullah telah bersabda: مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
(“Barang siapa yang meniru tradisi suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut.”) [Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud] .
Komentar oleh sandhi — March 19, 2009 @ 12:47 pm
buat Allie dan Hamba Allah:
Allah memang Maha Penyanyang, namun tidak semua yang telah Ia ciptakan, Ia ridho terhadap perbuatan makhluqNya.
Ketika seorang hamba beribadah, yakni berdoa, memohon, atau meminta hanya kepada Allah dan bukan kepada selain Allah, maka Allah pasti menyanyanginya.
Sebaliknya jika seorang hamba memepersekutukan Allah dan beribadah, memohon atau meminta kepada selain Allah, seperti kepada jin, iblis, para nabi, berhala bahkan malaikat yang terdekat dengan Allah sekalipun, maka hamba ini dikatakan telah melakukan kemusyrikan dan Allah murka kepadanya.
Inilah yang menjadi pembeda antara ISLAM dengan agama lainnya seperti nasrani.
Oleh karenanya disinilah kesempurnaan Tauhid Islam yang benar-benar memurnikan ibadah hanya kepada Allah saja dan bukan kepada yang lain.
Itulah juga sebabnya kenapa orang nasrani tetap dikatakan kafir (tertutup) walau mereka ber-Tuhan yang sama, TAPI mereka telah menyelewengkannya dengan beribadah, berdoa, meminta dan memohon kepada selain Allah.
Dikatakan musyrik karena mereka beribadah kepada Allah namun pada saat bersamaan juga beribadah,berdoa,meminta dan memohon kepada selain Allah.
Komentar oleh sandhi — March 19, 2009 @ 1:05 pm
Allah menciptakan malaikat dan mereka senantiasa taat kepadaNYa. Maka Allah memuji mereka dan menyayangi mereka. Di sisi lain, Allah telah menciptakan iblis dan kita tahu Allah itu Maha Penyayang. Tapi Allah murka kepada iblis karena iblis melanggar perintahNya dan menghukum iblis dengan ancaman Neraka.
Maka, sekali lagi tidak semua yang Allah ciptakan, akan ia sayangi semua. Tergantung apa yang diperbuat hambaNya. Mereka sekedar memilih, jalan yang mana untuk mencapai kasih sayang Allah atau jalan mana yang menjerumuskan kepada murkaNya dan siksaanNYa.
Komentar oleh sandhi — March 19, 2009 @ 1:12 pm
Ketika seorang hamba diciptakan Allah, maka ungkapan syukur yang selayaknya adalah beribadah hanya kepadaNya sehingga Allah ridha dan kasih sayangNya tercurah. Inilah hak Allah yaitu untuk disembah dan diibadahi.
Maka mewujudkan rasa syukur atas penciptaan dirinya dengan beribadah kepada selain Allah adalah sebuah kesalahan fatal. Di sinilah kaum pagan, musyrikin dan para penyembah dan pemohon kepada Nabi-nabi salah jalan.
Ibarat berterima kasih bukan kepada orang yang telah memberinya manfaat dan hadiah.
Maka tidaklah sama ISLAM dengan agama lainnya.
Hanya akal dan hati yang bersih saja yang dapat menyadari hal ini. Tentunya dengan hidayah Allah.
Komentar oleh sandhi — March 19, 2009 @ 1:19 pm
Sifat Maha Penyayang itu bisa berarti Maha Pengampun.
Sebesar apapun dosa seorang hamba termasuk melakukan kesyirikan, namun bila ia bertobat, maka Allah akan mengampuni dan menyayanginya. Inilah bedanya Allah dengan manusia. Allah itu tidak pendendam ataupun pembenci. Ia mengampuni sbesar apapun dosa itu dan iapun seketika itu langsung menyayangi hambaNya yang bertobat.
Maka adalah tepat bila Allah itu disifati dengan Maha Penyayang dan Maha Pengampun.
Komentar oleh sandhi — March 19, 2009 @ 1:30 pm
assalamu’alaikum
buat si pemilik blog ini,mungkin lebih baik jangan masukin artikel yang cendrung membuat umat muslim jadi bimbang atau ragu…katakanlah mana yang haq dan mana yang bathil..agar semua niatan baik kita diterima sepenuhnya oleh ALLAH SWT…amin
(“Barang siapa yang meniru tradisi suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut.”) [Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud] .
hadist ini sudah benar2 menyatakan kepada kita umat islam janganlah meniru ajaran agama lain…maaf dan terima kasih sebelumnya
Komentar oleh LOJER — March 19, 2009 @ 2:23 pm
Saya cocok dengan komentar Sdr Sandhi di nomor 17. Saya cuma membayangkan bahwa setelah berkomentar di beberapa nomor sebelumnya, nomor 17 itu yang menunjukkan Anda sudah mulai memahami Sifat Penyayang Allah (maaf). Sy berpendpt bgitu karena komentar no 17 itu agak kontras dengan semangat komentar2 sebelumnya.
Klo riwayat tentang iblis yang ingkar terus dimurkai Tuhan itu sendiri saya kok tidak merasa perlu untuk percaya. Mestinya sejarahnya bukan seperti itu (pendapat pribadi). Cerita seperti itu justru hanya menunjukkan bahwa Tuhan kurang berkuasa atas hati Iblis (makhluknya). Gampangnya: Iblis itu produk Salah bikin, malapraktik gitu..dan yang melakukan malapraktik itu….Tuhan (mustahil, kan?). Saya muslim, tapi tuhan yang saya sembah bukan tuhan yang mengutuk iblis, bukan tuhan yang Lebih mencintai Nabi Muhammad daripada saya dan Anda semua. Saya berpikir tentang perbedaan proyeksi kita atas “karakter” Tuhan. Oke, lain kali kita sambung jika si Empunya blog berkenan. Salam.
Komentar oleh allie — March 23, 2009 @ 6:01 pm
Mohon maaf jika komentar-komentar saya kurang berkenan di hati saudara-saudaraku semua. Bukan bermaksud menghembuskan keragu-raguan, sekedar mengasah ide dan pikiran sportif dengan tetap mengakui kuasa Tuhan. Btw, nampaknya kita menyediakan banyak “bahan” buat si empunya blog buat nulis buku..he..he.
Smg kalimat sy sebelumnya tak disalahartikan: Sy yakin Allah jg menyayangi Nabi2 yg lain (bahkan kita semua), bukan hanya Nabi Muhammad, Allah ga pilih kasih. Kita menyembah Allah yang adil. Salam.
Komentar oleh allie — March 23, 2009 @ 7:05 pm
janganlah menilai dan mengukur Allah dengan ukuran kita manusia, misalnya saudara tidak bisa memuji saya walau itu fakta karena didalam hati saudara ada rasa tidak suka. cintanya Allah adalah semurni-murninya cinta. Allah bukan anak kecil yang ngambek kerjanya atau mahluk tidak berdaya sehingga kita harus membelanya mati-matian, Allah maha besar, dasyat dan Benar. siapa sih kita sok mau jadi penasihat-Nya, buat saya mau ucapin met natal atau tidak lihat hati nurani aja, siapa sih diantara kita sudah sedemikian sucinya sehingga tiada lagi dosa dan cela sehingga merasa berhak jadi wakil Allah di dunia, saat penghakiman siapa pun dia mau turunan arab kah, sunda atau pelacur sekalipun semua dihakimi ? lebih baik instropeksi diri sendiri jangan malah nanti malu saat hakim akhir zaman meminta pertanggungjawaban semua yang kita ucapkan dan perbuatan kita yang sok jubir Allah ?
Komentar oleh laelah — April 1, 2009 @ 8:04 am
Saya ke situs ini cuma nyasar dari google, tapi ga nyangka bakalan nemu situs ekstrimis begini.
Rasanya bukan rahasia umum lagi kalau dalam diri muslim pada umumnya (saya ga bilang semuanya) selalu kental rasa benci. Saya penasaran penyebabnya.
Kenapa sih mas/mbak kok toleran dikit ga bisa? Kita seharusnya menjaga kultur asli Indonesia yang baik, sambil sama-sama membangun negara kita yang lagi susah ini. Harusnya berteman ga usah lihat2 agama.
Komentar oleh Omri — April 4, 2009 @ 9:29 pm
Tuh karena judul seperti ini sering di ulang2 mas Omri jd mengira umat muslim jd tidak toleran, itu akibat ketidak tahuan orang Awam akan agama Islam. Padahal kalau boleh dicermati seluruh negara mayoritas muslim, umat lain selalu bebas2 aja tuh menjalankan ibadahnya. justru kalau umat muslimnya sedikit, menjalankan ibadahnya tdk boleh, contohnya memakai jilbab. Jadi kalau kami tdk mau mengucapkan selamat natal bukan berarti tidak toleran sayangku, tp kami menjalankan ajaran kami sebaik-baiknya, jd mohon dimengerti ya, Mohon maaaf banget kami ingin menjalankan syariat islam dg sungguh2. tapi kalau kerjasama yg lain ayok, toh diperusahaan saya saat ini 70% nasrani kok, dan meraka nggak papatuh, kami tidak ikut merayakan natal atau tdk tersinggung jika tdk mengucapkan selamat natal, karena dia tahu, kami yg muslim ini menjalankan syariat kami…..paham kan..?
Komentar oleh hanif — April 11, 2009 @ 2:14 pm
Ass.wr.wb.
Barangkali ada baiknya kita semua mengetahui lebih jelas dulu apa itu salam dan untuk apa diucapkan? agar tidak terjadi polemik diantara kita umat beragama.
Kalau kita coba difinisikan bahwa Salam itu berasal dari As-Salam (Nama Allah yang artinya Keselamatan), jadi bila diucapkan oleh seorang muslim seharusnya sudah diketahui maksud diucapkannya yaitu menDOAkan orang yang mendengar salam agar SELAMAT.
Tapi selamat yang bagaimana dan seperti apa yang maksudkan??
Salam yang dimaksudkan dalam umat Islam adalah Selamat sampai Ke Surga Darussalam, sehingga mendapat kata Selamat dari Allah atas kesuksesan kita melewati ujian di dunia, “salamun qaulam mirrabirrahim” (QS Yasin 36:56) karena kita harus tahu bahwa di Dunia ini kita terancam, bisa masuk perangkap ditipu-daya syaitan sehingga masuk neraka. Dan siapa yang mampu untuk membuat kita selamat seperti itu?… tidak lain hanya dari Allah saja dengan Rahmat (kasih sayang) dan Berkahnya… (assalammualaikum warahmatullah wabarokatuh = keselamatan untuk kalian semua dengan rahmat dan berkah Allah)
Akan tetapi salam yang diucapkan selain salam Islam yang sering kita dengar pada kebanyakkan manusia-manusia sekarang ini seperti, “selamat pagi, selamat siang, selamat ulang tahun, selamat dan sukses, selamat hari raya” adalah salam tidak memiliki makna spiritual seperti yang dimaksud dalam salamnya orang Islam, barangkali hanya sebatas basa-basi/sapaan biasa (tidak ada makna yg jelas) atau sekedar ungkapan rasa turut ikut bergembira atas acara-acara tertentu bisa dikatakan hanya ikut-ikutan (kebiasaan/latah), salam seperti ini hakikatnya tidaklah tulus.
Akan sangat berbeda bila itu menyangkut ucapan selamat berkaitan dengan hari besar keagamaan selain Islam. Orang Islam yang mengucapkan Salam ini memilki makna bahwa si pengucap salam tidak paham akan Agama (cara hidup di dunia menurut petunjuk yang benar ‘yakni Islam’), dan secara tidak langsung mengakui adanya agama (cara lain) lain selain Islam. Padahal Allah katakan kepada kita “tidak ada agama yang diridhoi Allah selain Islam” atau dengan kata lain tidak ada agama yang benar selain agama petunjuk dari Allah (Islam), sehingga bila kita yang mengaku umat Islam tetapi masih mengakui (mengimani) ada Agama lain selain Islam, bukankah itu bertentangan dengan petunjuk Allah?
Sebagai contoh ucapan nya seperti “Selamat Hari Natal” apa makna spirituallnya ???
Apakah berarti selamat lah kalian melalui perayaan hari Raya Natal ….cobalah renungi lebih dalam makna yang terkandung didalam ucapan selamat seperti itu.
Berkaitan dengan teloransi antar umat beragama, tentunya bukan berarti kita umat Islam harus menggadaikan keimanan kita akan kebenaran Islam. Seharusnya para penganut Agama lain juga ikut memahami permasalahan ini, bahwa ini adalah Akidah kami, tolong dapat dimaklumi, jangan dijadikan suatu alasan bahwa dengan tidak mengucapkan salam berarti kami tidak teloransi dengan penganut agama lain. Secara induvidu dan keduniaan umat Islam tentu ada teloransi. Karena seperti yang firmankan dalam surat Al-Kafirun, Bagi kami agama kami dan bagi kamu agama kamu.
Demikian semoga jadi bahan masukkan dan bermanfaat
Wass.
Note:
KAFIR = artinya tertutup dari kebenaran yang absolut (Islam).
AGAMA = Cara menjalani hidup di Dunia menurut petunjuk Tuhan.
Komentar oleh MDA — May 18, 2009 @ 11:47 am
kok ga daftar di blogspot? takut dibanned sama google ya? web isinya ganas begini
)
Komentar oleh ninja — May 28, 2009 @ 8:23 pm
Diskusi memanas karena makin merasuk dalam syaraf2 sportif otak kita; mudah2an bukan karena emosi semata. Semoga bukan keraguan yang menjadi akibat dari koment2 saya sebelumnya, melainkan sikap sportif yang timbuh di hati saudara2ku muslim maupun non muslim. Tuhan tidak (perlu)beragama, saudaraku.. Agama mengajarkan kebaikan..kebaikan..dan kebaikan. Kebenaran yang diklaim manusia bukanlah kebenaran yang hakiki. Yakinlah bahwa Tuhan yang sebenar-benarnya tuhan pasti adil (tak berpihak) dan benar2 penyayang. Sadarkah Saudara2ku bahwa Tuhan (Allah) yang ada dalam pikiran kita itu hanyalah SEBUAH PROYEKSI saja? Proyeksi yang terbatasi oleh kemampuan pikir kita? Mari kita yakini agama kita masing2 dengan damai.
Komentar oleh Allie — May 29, 2009 @ 5:57 pm
Saya tak pernah habis pikir. Agama Islam mengklaim diri sebagai agama terakhir yang menyempurnakan agama Yahudi dan Kristen. Yang saya tak pernah mengerti, wong agama Islam aja enggak pernah mengenal nama YHWH, Tuhan yang disembah dalam agama Yahudi dan Kristen. Dari sudut pandang Yahudi dan Kristen, kalau memang Islam mengaku berasal dari Tuhan yang sama dengan agama Yahudi dan Kristen, maka Islam sudah melanggar hukum Taurat yang menyebut ‘Jangan ada sesembahan lain selain YHWH’ karena Islam menyembah Tuhan yang namanya Allah, Tuhan yang tak dikenal dalam agama Yahudi dan Kristen.
Tuhan yang disembah Islam berbeda dengan Tuhan yang disembah Yahudi dan Kristen. Nah kalau benang merahnya saja tidak nyambung, bagaimana mungkin kita bisa percaya klaim sebagai agama penyempurna itu benar? Jangan2 malah Islam menyesatkan Yahudi dan Kristen dengan menyuruh orang menyembah Tuhan selain YHWH? Hm…
Komentar oleh orang biasa — June 2, 2009 @ 7:07 pm
Bwt “orang biasa”; Sy rasa Anda keliru menyimpulkan. “YHWH” atau “Allah” atau “debata mula jadi” hanya sebutan buatan manusia. Itu istilah dalam bahasa manusia (bisa berbeda-beda tergantung bahasa lokal setempat) untuk merujuk pada “Tuhan”. Di jawa disebut Gusti Alloh. So, jgn terjebak pada sebutan.
—
Jika yang disembah orang Yahudi itu adalah “Yang menciptakan Alam semesta Ini; yang maha adil, maha cerdas, dll (Asmaul Husna)”, saya sbg muslim berani mengatakan bahwa yang disembah itu adalah Allah yg juga selalu saya sembah. (kenyataanya???)
-
Begitupun jika yang disembah oleh umat Nasrani itu adalah “Yang menciptakan Yesus”, sy yakin itu Allah juga, sama dgn yg saya sembah. (Kenyataannya??);
Yang disembah umat Islam adalah Yang Menciptakan Yesus!! (bukan Yesus-nya)
–Lagi, meskipun sama2 menyebutnya Allah, jika yang saudara2 sesama muslim sembah adalah Tuhan yang “mau membenci”, tuhan yang “mau mengutuk” atau tuhan yang “bisa jatuh cinta/rindu/ dan kagum pada manusia” ; jelas itu bukan Allah yang selalu saya sembah. Tuhan itu mestinya dzat suci yang tak terkotori oleh kebencian dan sifat2 manusia. So, think carefully and make a logical conclusion. Salam selalu.
Komentar oleh allie — June 3, 2009 @ 5:36 pm
Belum terlambat khan, ikutan nich …. saya setuju dgn komen 28 dan perlu ditambahkan bahwa sebenarnya kaum kalian (Yahudi) diberi suatu kelebihan oleh Tuhan, ijinkan saya posting ayat2 Al-Qur’an ttg Bani Israel semoga bisa menjadi pertimbangan iman :
S U R A T A L - B A Q A R A H
2:40. Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).
2:47. Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat
2:83. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.
2:85. Kemudian kamu (Bani Israel) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.
2:108. Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israel meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.
2:211. Tanyakanlah kepada Bani Israel: “Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka”. Dan barang siapa yang menukar ni`mat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.
2:246. Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israel sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha mengetahui orang-orang yang lalim.
S U R A T A L - I M R O N
3:49. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel ( yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.”
3:52. Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kami lah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.
3:93. Semua makanan adalah halal bagi Bani Israel melainkan makanan yang diharamkan oleh Israel (Yakub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar”.
S U R A T A L - M A A I D A H
5:46. Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.
5:70. Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israel, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.
5:72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.
5:78. Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.
5:110. (Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israel (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.”
Tetapi wahai orang biasa kalaupun anda tidak percaya thd ayat2 tsb, maka bolehlah anda bertanya kepada diri anda dengan logika, kenapa atau ada apa dgn Yahudi dan Nasrani padahal mereka juga menyembah kpd Tuhan, lihatlah tata cara menyembah Tuhan semuanya diukur dengan ukuran dunia, padahal disekelilingmu masih banyak orang miskin (patut dikasihani), sifat inilah yg menelorkan ke seluruh penjuru dunia semuanya diukur dengan duniawi dan masih banyak lagi, sementara yg Nasrani kenapa ? kaum Nasrani tidak menTuhankan Satu tetapi tiga, jadi Islamlah penengahnya ajaran Islam berasaskan Tuhan itu Satu dan tidak membedakan status manusia untuk menyembahNya, baik itu bagi kaum miskin atau kaya semuanya sama, hanya imanlah yg membedakan status manusia dimata Tuhan yang Satu.
Demikian terima kasih.
Komentar oleh manusia — June 12, 2009 @ 10:24 am
Sumbang Saran dalam mensikapi perbedaan Agama:
Barangkali kita harus sepakati terlebih dahulu bahwa:
Masalah perbedaan dalam agama sering kali memang tidak akan bisa mencapai titik temu, karena masing-masing pihak mengklaim bahwa agamanyalah yang benar…
Akan tetapi sebagai bahan masukkan (saran) bagi masing-masing pihak (pemeluk agama) dari saya adalah:
1. Kita sepakat bahwa Agama mengajarkan adanya Tuhan sebagai yang telah menciptakan, mengatur dan menguasai segala sesuatunya.
2. Kita percaya bahwa Agama mengajarkan akan adanya kehidupan yang kekal Abadi setelah kematian, dan agama merupakan petunjuk yang harus diikuti bagi manusia untuk menjalani kehidupan di Dunia ini atau jalan hidup.
3. Bahwa Agama adalah suatu hal yang sangat penting untuk diketahui manusia, karena tidak hanya berkaitan dengan masalah keduniaan saja (status, ritual ibadah, perkawinan) tetapi dia menyangkut masalah pengetahuan hidup dan mati kita, jadi ini merupakan masalah yang sangat-sangat-sangat penting sekali (bukan masalah sepele). karena dalam kehidupan ini kita diharuskan untuk memilih, yang memiliki konsekuensi yang sangat besar antara peluang dan resiko yang akan didapat nantinya.
4. Bahwa dari fakta yang ada sekarang, sudah ada banyak agama-agama yang diyakini oleh banyak orang pula, yang masing-masing mengklaim agamanya yang paling benar.
5. Bila kita menyadari pada poin 3, maka sudah selayaknya kita memilih agama (petunjuk) yg paling benar, kenapa?
Jawabnya:
1. hidup hanya sekali, dan ia merupakan suatu kesempatan yang juga hanya satu kali juga(maaf kalau saya tidak percaya akan adanya reinkarnasi, karena memang baru dalam kehidupan yang saya alami sekarang inilah yang bisa saya rasakan, dan saya belum pernah merasakan kehidupan lainnya sebelum sekarang) Jadi kalau kita menyakini hidup ini hanya sekali atau hanya satu kali kesempatan, maka dalam memilih tentu saja harus betul-betul dilakukan dengan tepat, jangan sampai salah pilih. karena tidak ada kesempatan kedua setelah kita mati sehingga akan menyesal dan penyelsanan seperti ini sudah tidak ada gunanya.
2. Buktikanlah kebenaran Agama-agama yang ada, ujilah dengan banyak hal, antara lain, faktor kebenaran perkataan-perkataan yang disampaikan, sejarah pertama kali diturunkan sampai dengan perkembangannya saat ini, apakah ada perubahan-perubahan seiring waktu perkembangannya, apakah ada interpensi dari penguasa (demi kepentingan penguasa sehingga ajaran-ajaran agama dimodifikasi dan disesuaikan menurut selera penguasa). karena agama itu adalah petunjuk dari Tuhan (bukan kata-kata/ide manusia).
3. Bila ada keragu-raguan atau yang belum dimengerti mengenai ajaran agama, maka tanyakanlah kepada orang-orang mengerti (pakar) dibidang agamanya, jangan menayakan kepada sembarang orang (dikhawatirkan akan menyesatkan/tidak tepat sasaran). janganlah malu untuk mengakui kesalahan dan menerima kebenaran.
4. Jangalah mau menang sendiri dalam mengemukan pendapat tentang agama dan menyalahkan pendapat orang lain tanpa dasar yang jelas dan kuat (dari Tuhan / Nabi), karena belum tentu pendapat yang anda utarakan itu benar secara absolut.
5. Pahamilah Agama itu untuk kepentingan diri kita sendiri terlebih dahulu secara sempurna, sebelum mengajak orang lain, dan kalaupun mau mengajak orang lain jangan memaksanya.
6.Bila anda telah menyakini suatu agama dengan baik, maka saling tolong-menolonlah dalam kebenaran akan jalan yang baik ajaklah orang-orang terdekat anda dengan cara yang bijak.
7. Dalam mengajak orang lain (dakwa) prinsipnya adalah karena dilandasi adanya rasa kasihan (iba) terhadap saudara yang belum mendapat petunjuk. Iba karena memikirkan nasibnya kelak di hari kemudian, yang rugi, terhina dan tersiksa karena salah memilih jalannya. dan bukan didasari oleh karena mempertahankan keberan pendapat masing-masing.
Oleh karena itu selama tidak ada tindakan yang membahayakan (yang mengancam/membahayakan pihak agama lain) marilah kita saling hormat-menghormati antar sesama pemeluk agama dan kepercayaan, dan memberikan kebebasan bagi pemeluk agama untuk menjalankan agamanya masing-masing. karena kita semua sedang dalam proses ujian untuk memilih yang terbaik untuk diri kita sendiri.
Demikian saran saya untuk semua, marilah kita sama-sama tolong menolong untuk keselamatan kita.
Mudah-mudahan saran ini bermanfaat.
Lebih kurang saya mohon maaf.
M. Darwin Akasa (Pslembang)
Komentar oleh MDA — July 2, 2009 @ 8:13 am
SAYA STUJU SEKALI DENGAN KOMENTAR NO:8 DAN KURANG LEBIH PENDAPAT SAYA SAMA.
OLEH KARENA ITU SAYA ULANG DI SINI…
Pak Haji / Uztad, ato apalah…
Pertama - tama..
Saya setuju dengan Sodara/i Alie tentang pendapatnya.
Bahwa Allah SWT itu Maha Penyayang.
Dan tidak ada satu pun umat-Nya yg tidak disayangi-Nya.
Kedua - dua..
Menurut saya Anda (mungkin jg umat muslim yg pny pengetahuan cetek ttg agama) SALAH dalam menganggap bahwa agama selain ISLAM adalah KAFIR.
Itu adalah pemahaman terbodoh yang tersebar luas d masyarakat muslim.
Jika Anda tahu (tapi saya berani menjamin bahwa Anda pasti tidak tahu) bahwa ISLAM adalah gabungan dari agama - agama sebelum islam.
Karena itu ISLAM disebut agama sempurna.
Dan karena itu pulalah agama selain ISLAM BUKANLAH KAFIR !!!
Dan tentunya kita tidak bisa menyalahkan begitu saja orang” yg tdk memeluk ISLAM, karena pada kenyataannya Allah menciptakan agama tersebut dan bukan ajaran yg menyimpang.
Ketiga - tiga..
Segeralah menyadari akan kesalahan Anda yang menganggap bhw agama selain ISLAM itu adalah KAFIR. (dan saya juga berharap pada umat muslim yg lainnya)
Karena sesungguhnya ISLAM itu sendiri terdiri dari agama yang berbeda-beda yang disempurnakan.
Keempat-empat..
Sya mohon maaf apabila ada tulisan saya yg tak berkenan.
Saya hanya menyampaikan kebenaran bukan untuk mencari musuh.
Terima Kasih,
Komentar oleh Romel — September 7, 2009 @ 5:34 pm
Assalamualaikum,
Setelah saya membaca artikel ini saya sangat terkejut, simpati saya dengan Pak Haji/Ustad yg menulis artikel ini/pemilik blog ini menjadi pudar setelah membaca artikel ini.
Sebelum membaca artikel ini saya membaca yg lain dan saya anggap sebagian artikelnya sangat bagus sekali dan bermanfaat untuk kita semua terutama yg berumat muslim.
Saya di sini ingin mengatakan bahwa Artikel anda adalah suatu ungkapan PEMAHAMAN yg tidak benar yg selama ini beredar dan tertanam di sebagian pikiran orang muslim indonesia(maaf.. tidak untuk saya) !! atau bisa di bilang anda/penulis artikel ini memiliki pengetahuan yg sangat minim dalam pengetahuan/wawasan.
Sebenar nya teori ini terpengaruh oleh surat keputusan bersama antara mentri agama dan mentri dalam negri tentang mengatur perayaan - perayaan keagamaan, yg spesial hanya untuk/di INDONESIA dan saya tidak pernah menemukan pd negara islam lain nya.
kalo tidak salah fenomena ini di umumkan pada tahun 1980an(correct me if i’m wrong) dan keputusan ini banyak di pahami SEBAGIAN umat islam di indonesia.
Orang tua saya memeluk agama kristen (protestan) dan saya sendiri memeluk agama ISLAM , Sebelum nya saya mohon maaf, bukan saya mau menyombongkan diri, di sini saya hanya ingin berbagi rasa kepada saudara2 sekalian,,,
Menurut saya orang indonesia itu lebih ARAB ketimbang ORANG ARAB, karena sebagian umat muslim beranggapan bahwa agama kristen itu berasal dari negara barat/eropa, dan sebagian orang muslim di indonesia juga taunya arab itu hanya arab saudi waktu Naik Haji/Umroh atau jadi TKI, mereka tidak tau palestina, mesir, lebanon dll… anda bisa cek di wikipedia berapa banyak populasi orang yg memeluk agama kristen di negara timur tengah.
Kenapa saya bilang seperti itu, pd kesempatan saya mengunjungi negara timur tengah untuk berlibur dengan orang tua saya pd bulan desember, terutama beberapa hari sebelum dan sesudah hari natal, dan saya lihat banyak sekali restoran atau tempat2 umum lainnya yg pemiliknya beragama islam turut memasang pohon natal dan menyapa selamat natal dan tahun baru kepada siapa saja dalam bahasa arab, klo tidak salah mereka mengatakan ” عيد الميلاد والسنة الجديدة الآمنة ” dan saya lihat juga di siaran TV lokal pejabat tinggi dan syekh negara tersebut turut menghadiri perayaan natal di gereja2 besar seperti katedral di kota masing2 negara dan mereka mengucapkan selamat natal dan tahun baru secara terbuka di depan ribuan, bahkan jutaan umat kristen/katolik.
Itu semua saya lihat dgn mata kepala saya sendiri yaitu waktu saya berkunjung ke arab saudi, mesir, lebanon dan palestina.
Dan saya mohon kepada penulis artikel ini untuk di pertimbangkan kembali apa bila ingin menulis sesuatu yg sepenuhnya tidak anda mengerti, karena semua itu akan berdampak sangat buruk untuk semua kalangan.
Karena saya yakin Allah yang saya sembah juga menyayangi umat yang merayakan Natal atau Perayaan agama lain nya..
Karena Dia MahaPenyayang dan Pengasih..
Dan saya yakin sekali artikel ini akan berbuntut ke FANATISME KELAS SOSIAL(atau yg kita sering dengar dengan kata FANATIK AGAMA)…
Fanatik adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebut suatu keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu yang positif atau yang negative, pandangan mana tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah diubah atau diperbaiki.
Lihat dalam sejarah,,, Pemimpin besar yg lahir dari fanatisme agama, tidak akan pernah berhasil memperdamaikan manusia, tetapi justru akan menimbulkan benih kericuhan, kecemburuan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Oleh karena itu, sekali lagi saya tekankan kepada seluruh pembaca untuk memulai dari sekarang kita bersama-sama menjauhkan diri dari kegiatan pembangunan fanatisme agama.
Sebab fanatisme juga bisa melahirkan manusia-manusia yg BERHATI KERDIL, POLA PIKIR YG SEMPIT, KETERBATASAN WAWASAN dan EGOISME yang berlebihan yg akan berakhir dgn bentrok/perselisihan antar manusia.
Sebenarnya bukan saya melarang orang lain untuk memiliki sifat fanatik dgn agama atau sebagainya.
Membangun fanatisme itu boleh-boleh saja, tetapi fanatisme yang positif saja.
Dan inti buat saya, fanatisme itu tetap diperlukan, tapi fanatisme yang saya maksud adalah fanatisme yang terukur.
Fanatisme yang terukur adalah suatu cara pandang dan keyakinan yang tidak menegasikan keberadaan keyakinan/paham orang lain dan tidak menggangu hak-hak orang lain dalam kebebasan nya.
Dan saya tegaskan, “FANATIK AGAMA” ITU BERBEDA DENGAN “IMAN”.!
Dan apabila anda memiliki perbedaan pendapat, please feel free untuk menghubungi saya, dengan senang hati saya akan menjelaskan lebih dalam.
Terima Kasih dan salam damai untuk semua saudara-saudara yg membaca, terutama Penulis Artikel ini/Pemilik Blog ini.
Wassalam
H. Romel Saputra Junior, Ph.D
email: romel[at]consultant.com
Komentar oleh Romel — September 7, 2009 @ 7:40 pm
selamat natal deh buat yang penulis blog !
Komentar oleh malice — December 16, 2009 @ 10:50 pm
km ngomong gak ada dasar gan, dlm Al-quran aj gk ada larangan sprt it,jd klu MUI mengharam kan nasi dan menghalal kan babi lu mau ngikut??????mk nya gan lu ikutin aja yang ada di Al-quran.biar jgn sesat.dimana rasa slg menghargai dan menghormati yang sll digaungkan umat muslim berarti cuma dibibir aj ye….
Komentar oleh vansuparna — December 16, 2009 @ 11:06 pm
selamat natal dan tahun baru 2010 !
horee horee !! libur panjang !!
Komentar oleh lizardking — December 17, 2009 @ 12:34 am
Selama kita mau menerima ucapan Idul Fitri dari pemeluk agama lain. Selama kita mau menerima bingkisan Idul Fitri dari pemeluk agama lain. Selama kita masih mencari2 dana perayaan Halal bihalal dari pemeluk agama lain.
Tak ada alasan untuk mengharamkan mengucapkan Selamat Natal kepada penganut Nasrani. Salah-salah kita dicap mau cari untungnya saja.
Yang penting hati ikhlas dan damai dalam mengucapkan dan menerima ucapan.
Komentar oleh Sumit — December 17, 2009 @ 12:37 am
Menurut saya, ulasan dan statement Anda ini hanya memprovokasi kesenjangan sosial diantara umat beragama di Indonesia.
Di Arab dan Palestina saja, umat Muslim hidup rukun dgn umat Kristiani, dan saling bertegur sapa dan mengucapkan selamat pada hari raya masing².
Saya melihat bahwa org Indonesia ini lbh Arab drpd org Arab itu sendiri, dan begitu sempit dlm melihat suatu hal…
Islam itu bukanlah agama yg cetek dan SARA dan tdk dpt berbaur dgn umat lain…
MAAP, SAYA RASA ILMU ANDA MASIH KURANG DLM MEMAKNAI ISLAM!
dan statement Anda ini, membuat Islam terlihat menjadi agama yg ekslusif dan tdk dapat berbaur dgn umat lainnya yg juga ciptaan Allah Swt.
Oh iya..apakah Anda tau dgn perkataan:
Jikalau Anda ingin dihormati, maka hormatilah org lain terlebih dahulu..
Jikalau Anda ingin disayangi, maka sayangilah org lain terlebih dahulu..
sekian saja reply saya.. harap page ini diclosed aja, krn provocated
wassalam
Komentar oleh Ziptta — December 17, 2009 @ 12:59 am
ada link bagus nih : http://aqse.multiply.com/journal/item/30
Komentar oleh aqse — December 17, 2009 @ 2:56 am
Assalamu’alaykum,
Buat saudaraku penulis blog, syukron atas informasinya. Insyaallah bermanfaat bagi banyak orang walaupun banyak pro dan kontra. Karena memang jalan dakwah itu tidak mudah, penuh liku dan duri. Kita berdoa semoga saudara2 kita yg beriman agar selalu diberi hidayah dan tidak tersesat oleh tipu daya syaitan. Tetaplah berdakwah melalui blog, inilah ladang amal antum.
Bagi saudara2ku yg komentar,
Jika Anda benar2 ingin memahami Islam, Al Quran, dan Al Hadits. Silakan cari rujukan kepada ahlinya, ulama yg Anda yakini keshalihan dan kejujurannya. Kalau perlu baca kitab-kitab mereka. Jangan hanya berargumen berdasarkan pemahaman dan logika Anda sendiri, kemudian menjadikan logika Anda sebagai satu2nya jalan kebenaran. Belajarlah pada ulama, mengajilah kepada ustadz2 yg Anda percaya. Itu kalau Anda memang mau mencari kebenaran sesungguhnya, tapi kalau Anda hanya ingin memenangkan nafsu dan pendapat Anda sendiri ya terserah. Silakan cari referensi mengenai hukum ‘Mengucapkan Selamat Natal’, ‘Siapa itu orang yg dianggap KAFIR’ di buku atau internet banyak insyaallah. Sekaligus bertanya pada ulama yg berkompeten.
@Allie,
Allah itu memang Maha Penyayang, tapi Allah juga Maha Adil dan Maha Berkehendak. Nah, kl Anda mengatakan bahwa semua org dgn agama apapun pasti disayang Allah, berarti buat apa Allah menciptakan neraka dan surga? masukkan surga aja semua kl gt.
Wallahu’alam Bishshowab,
Komentar oleh fiqy — December 17, 2009 @ 8:11 am
@fiqy: tentunya neraka buat mereka yang menolak disayang Allah (dengan bertingkah laku sekehendak hati melawan kehendak Allah), apa pun agamanya.
Komentar oleh Sumit — December 17, 2009 @ 10:12 pm
@fiqy
coba anda liat komentar no 32, saya sangat setuju ama komentarnya dan saya liat tulisan anda seperti ini”Jika Anda benar2 ingin memahami Islam, Al Quran, dan Al Hadits. Silakan cari rujukan kepada ahlinya, ulama yg Anda yakini keshalihan dan kejujurannya. Kalau perlu baca kitab-kitab mereka.”
1. yang menulis komentar no 32 adalah “yang menulis itu siapa. “H. Romel Saputra Junior, Ph.D” beliau seorang Haji dan PH.D”,, dia seorang haji, dan saya rasa seorang haji memiliki pendalaman tentang agama islam yang baik.
2. kitab-kitab mereka? waduhhh…dipertanyakan ini..
salam damai.
anw,, selamat natal semuanya.
Komentar oleh shadow — December 25, 2009 @ 11:44 pm