Ramadhan Menjadi Bulan Mengumbar Nafsu
Bismillah,
Malam ini, saya mengantar istri tercinta berbelanja untuk keperluan sahur besok pagi. Sebagaimana kita ketahui, bahwa mulai besok, insya ALLOH kita akan mulai menjalankan ibadah shaum selama 1 bulan penuh.
Kami berniat (dan ternyata memang) belanja tidak banyak. Satu ekor ayam, telur 1/2 kg, nugget serta beberapa keperluan lain, seperti tissue, hanya belanja itu, tidak lebih dan tidak kurang. Bukan karena tanggal tua sehingga kami mesti berhemat, tapi lebih karena saya memang sudah meminta istri saya untuk tidak banyak belanja.
Saat berbelanja di sebuah toko swalayan itu, saya mendapati begitu banyak orang2 ramai2 memborong. Mulai dari ayam sekian ekor, mie instan sekian banyak, buah, bla bla bla. Menyaksikan itu semua, saya hanya bisa tertegun dan merenung.
Ternyata masih banyak di antara kita, sesama muslim, yg masih salah memaknai Ramadhan (ibadah shaum). Ibadah shaum, sebagaimana diketahui, mempunyai salah satu tujuan untuk LEBIH BEREMPATI dengan KAUM MISKIN (tidak berpunya), yg selama ini sulit untuk makan dan minum.
Namun, apa yg saya lihat, aksi borong dan belanja, yg menurut saya, berlebihan, malah lebih diminati dan menjadi ‘tujuan’ dari banyak kaum muslim. Setidaknya hal ini yg sudah saya lihat di malam ini.
Padahal, sebenarnya untuk menjalankan ibadah shaum tidaklah perlu dengan sikap yg berlebihan dengan belanja barang2 kebutuhan. Karena pada hakikatnya, ibadah shaum ‘hanya’ memindahkan waktu/jadwal makan saja. Sisa waktu (mestinya) lebih banyak diisi dengan ibadah atau sejenisnya.
Akibat dari aksi borong dan perasaan istimewa terhadap ibadah shaum (yg sebenarnya salah kaprah) sudah jelas, MEMBENGKAKNYA ANGGARAN RUMAH TANGGA. Anda bisa baca kembali artikel yg saya buat dan tulis 2 tahun lalu. Artikel tersebut, insya ALLOH, akan selalu sesuai dengan kondisi kaum muslim (terutama di Indonesia), selama paradigma kaum muslim terhadap bulan Ramadhan masih ’salah’.
Padahal, KEISTIMEWAAN TERHADAPA BULAN RAMADHAN mestinya diwujudkan dengan IBADAH, BUKAN DENGAN MENU SAHUR DAN BERBUKA!!!
Jika kita mau jujur dan benar2 ingin meneladani Rasululloh SAW, kita bisa lihat bahwa selama beliau berpuasa Ramadhan, BELIAU TIDAK PERNAH MENGISTIMEWAKAN MENU SAHUR DAN BUKA PUASA. Bahkan jika kita mau lebih teliti, Rasululloh SAW sudah ‘berpesan’, bahwa berbuka puasa itu cukup dengan kurma atau air putih, sebagaimana hadits2 berikut:
Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air.” (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma.Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”
Jadi, mengapa kita mesti bermewah-mewah dalam sahur dan buka puasa? Bukankah dengan bermewah-mewah, sebenarnya kita justru sudah menjadi budak dari hawa nafsu dan bukannya kita yg mengendalikannya?
Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membawa pencerahan serta menghemat anggaran belanja. *senyum*


iya memang benar adanya masyarakat kita terlena dengan shoping mungkin dengan artikel anda ini dapat mengugah rasa empati kita semua terhadap masyarakt miskin.
Komentar oleh mujahidin — September 1, 2008 @ 5:14 am
memang sangat memprihatinkan sekali,,,,menghadapi “Tamu Allah” tidak justru menyiapkan hati yang bersih malah sebaliknya…menu makanan yg berlebihan justru diutamakan…ditengah kondisi seperti ini…mestinya kita umat islam..sadar bahwa makna puasa yaitu mengendalikan diri lebih dihayati lagi.terima kasih artikelnya.semoga dapat menyadarkan banyak orang.amin.
Komentar oleh agus — September 1, 2008 @ 8:28 am
Assalamu’alaikum wr wb…Betul itu mas fahmi,tempo hari teman saya juga melihat orang yang lagi belanja d swalayan main aksi borong makanan berbuka puasa,sahur dari yang manis,asin,pedas dan gurih semua lengkap.Katanya Ramadhan kan setahun sekali..jadi ya gak apa2 lah sekali2 gitu katanya,dan yang lebih aneh lagi dia pulang dng wajah tidak puas…masih ada yang kurang katanya..Mas Fahmi tahu siapa orangnya?ya..benar SAYA SENDIRI!!!WUAAAAA…HIKS…HIKS…tunjuk hidung sendiri…:(
Komentar oleh yayan — September 5, 2008 @ 1:00 pm
Assalamualaikum. alangkah indahnya bila uang kita, kita sisihkan bagi orang dhu’afa diantara kita. kita salurkan lewat panti asuhan atau anak yatim piatu, mungkin itu lebih bermakna bagi mereka
Komentar oleh aHMad nurkholis — September 5, 2008 @ 3:17 pm
Luarrrrr biasa. Kita yang baca uraian ini pasti dapat mengambil manfaatnya. Penulis sengaja memberi judul dengan kalimat negatif, agar orang tergugah untuk membacanya.
Komentar oleh susilo — September 6, 2008 @ 9:07 am