Ibadah Itu Jangan Egois
Bismillah,
Sebuah fenomena yg menarik saya amati, dilakukan oleh banyak kaum muslim Indonesia (sejauh ini pengamatan dilakukan di Indonesia, karena saya masih hidup di Indonesia. Entahlah jika suatu saat nanti ALLOH SWT berkehendak menyimpan hamba-Nya yg satu ini ke negara lain). Saya yakin jika kita mau merenung, bisa jadi saya dan anda juga termasuk orang2 yg terlibat dalam fenomena ini.
Fenomena yg menurut saya menarik ini adalah fenomena jor2an ibadah untuk kepentingan diri sendiri. Bisa dikatakan ibadah tipe ini adalah ibadah (yg) egois.
Hmmm…seperti apakah ibadah yg egois itu?
Ibadah yg egois adalah ibadah yg dilakukan karena untuk kepentingan dirinya sendiri. Saya ambil beberapa contoh:
- Si A bersedekah karena berharap ALLOH SWT membalasnya berlipat ganda.
- Pak B menyumbangkan pakaian2 bekasnya karena dia merasa pakaian2 bekas tersebut membuat rumahnya sesak.
- Seseorang sholat demi menyelamatkan dirinya dari api neraka.
- Si L naik haji berkali-kali, sementara tetangganya ada yg kelaparan.
- Masih banyak lagi.
Coba anda perhatikan lagi daftar di atas, apakah anda pernah melakukan hal di atas atau yg setipe dengan itu?
Sesungguhnya Islam adalah agama yg mengajarkan sosial kepada para pemeluknya. Artinya, ibadah ‘kolektif’ (bersama) justru dihargai lebih tinggi. Tidak usah jauh-jauh, sholat berjama’ah saja contohnya.
Anda akan temukan hadits, bahwa sholat berjama’ah mempunyai pahala yg lebih besar daripada sholat sendiri (ibadah ‘egois’). “Shalat jama’ah pahalanya melebihi shalat sendiri-sendiri dengan dua puluh tujuh derajat.” (Mutafaq’alaih)
Bahkan Rasululloh SAW jelas2 mengecam imam yg, saat berdoa, lebih mementingkan dirinya. “Barangsiapa mengimami suatu kaum lalu mengkhususkan do’a untuk dirinya, maka dia telah mengkhianati mereka.” (HR. Aththusi)
Lalu, bagaimana mengubah paradigma ibadah yg egois itu?
Saya termasuk orang yg masih belajar juga, tapi (berdasarkan contoh di atas) kita bisa ubah niat kita sebagai berikut:
- Si A bersedekah karena berharap ALLOH SWT membalasnya berlipat ganda.
Nah, kita ubah niat seperti di atas dengan niat seperti ini. “Ya ALLOH, saya bersedekah untuk menolong saudara saya agar tidak menderita kesulitan.”
- Pak B menyumbangkan pakaian2 bekasnya karena dia merasa pakaian2 bekas tersebut membuat rumahnya sesak.
Pada poin ini, mirip dg poin di atas. Ubah niat kita menjadi,”Ya ALLOH SWT, semoga pakaian yg saya berikan ini bermanfaat bagi saudara saya agar bisa berpakaian dan beribadah kepada-Mu dg pakaian yg lebih baik.”
Rasululloh SAW bahkan menyatakan bahwa orang yg MENYANTUNI anak yatim, akan dekat dengan beliau di surga kelak. Hal ini sudah jelas sekali menyatakan bahwa SOSIAL jauh lebih utama dari EGOIS.
Bahkan kita sudah sering mendengar cerita bagaimana seseorang mendapatkan pahala haji padahal dia tidak ikut naik haji. Pahala yg dia dapat karena dia MEMBERIKAN/MENOLONG TETANGGANYA yg kesulitan untuk hidup (dg lebih layak).
Demikian, semoga kita bisa menjadikan ibadah kita lebih bermanfaat bagi orang lain, tidak melulu karena keinginan pribadi (keegoisan) kita.


Assalamu’alaikum yaa akhii…
Ana paham maksud dan tujuan tulisan antum. Namun dalam penyampaian maksud tersebut di atas ada beberapa hal yang tetap kita harus pegang teguh yaitu at-Tawaazun (keseimbangan) yaitu Islam tidak hanya mengahrgai manusia sebagai makhluk sosial melainkan juga makhluk individual, toh nanti kita dihisab juga tidak berjama’ah toh?! semoga ana dan antum hisabannya mudah, amiin. Jadi kalau menurut Saya kita sebagai manusia yang dhaif layak untuk memohon kepada Allah dalam niat kita suatu niat yang sempurna yaitu selain mendapat pahala juga dapat membantu saudara kita. Keinginan mendapat pahal sama sekali tidak keliru jadi jangan dibenturkan dengan keinginan berempati atau melakukan amalan sosial. Toh dalam Islam orang sekaliber Bunda Theresa yang amalan sosialnya begitu banyak tetap tidak diterima. Kesimpulannya mari bersama-sama kita sempurnakan amalan kita agar mendapatkan keberuntungan akhirat dan juga keberuntungan dunia. Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wafil aakhirati hasanah waqinaa ‘adzaabannaar. Salam ta’dziim. wass. ww
Komentar oleh Abu Ihsan — August 11, 2008 @ 9:41 pm
Assalamualaikum ya akhi..
Dalam menjalankan perintah agama, adanya sifat khauf(takut akan siksa Allah/neraka) dan Raja’(harap akan nikmat/balasan kebaikan/surga) adalah mutlak dibutuhkan dan diwajibkan. Dengan adanya sifat khauf dan raja’ akan memotivasi diri kita untuk semakin kepada Allah SWT. Jadi jika shalat dengan maksud agar terhindar dari api neraka, itulah khauf yang dibenarkan..Wallahu a’lam bisshawaab…
Komentar oleh Neysa — September 3, 2008 @ 3:09 am
apa yang saudaraku paparkan ada benarnya sesuatu tergantung pada niat untuk itu segala perbuatan dan gerak yang kita lakukan kiata luruskan niat dan ikhlas karena Allah SWT. dengan demikian ibadah kita diterima Allah SWT. Amin
Komentar oleh yanto — September 9, 2008 @ 12:35 pm
Assalamu’alaikum..
menurut saya bukan egois tapi salah niat..
tapi jangan lupa juga, bahwa Alloh sendiri yang menjanjikan hal-hal berikut:
- siapa yang bersedekah akan Alloh lipat gandakan balasannya, 10 kali, 70 kali , 700 kali bahkan sampai tak terhingga
- siapa yang sedang disempitkan rizkinya maka datangilah dan tolong orang-orang disekitar kita yang jauh lebih sempit dari kita agar Alloh datang buat nolong kita
masa sampean gak percaya sama janji-janji ini, ini Alloh sendiri loh yang bilang di Al-Quran, coba deh dibuka-buka lagi Al-Qurannya..
masa orang berharap akan datangnya janji Alloh gak boleh..
saya setuju tuh sama komentarnya Nesya..
salam,
saiful azzam
Komentar oleh Saiful Azzam — January 23, 2009 @ 4:48 pm
memang benar ALLAH telah menjanjikan hal2 tersebut tapi jika seseorang melakukan sesuatu karena ingin mendapatkan sesuatu dari ALLAH atau ingin mendapatkan pahala itu adalah suatu kesalahan.semua harus iklas
Komentar oleh iklan — September 16, 2009 @ 11:34 pm