Tausyiah275

August 31, 2008

Ramadhan Menjadi Bulan Mengumbar Nafsu

Bismillah,

Malam ini, saya mengantar istri tercinta berbelanja untuk keperluan sahur besok pagi. Sebagaimana kita ketahui, bahwa mulai besok, insya ALLOH kita akan mulai menjalankan ibadah shaum selama 1 bulan penuh.

Kami berniat (dan ternyata memang) belanja tidak banyak. Satu ekor ayam, telur 1/2 kg, nugget serta beberapa keperluan lain, seperti tissue, hanya belanja itu, tidak lebih dan tidak kurang. Bukan karena tanggal tua sehingga kami mesti berhemat, tapi lebih karena saya memang sudah meminta istri saya untuk tidak banyak belanja.

Saat berbelanja di sebuah toko swalayan itu, saya mendapati begitu banyak orang2 ramai2 memborong. Mulai dari ayam sekian ekor, mie instan sekian banyak, buah, bla bla bla. Menyaksikan itu semua, saya hanya bisa tertegun dan merenung.

Ternyata masih banyak di antara kita, sesama muslim, yg masih salah memaknai Ramadhan (ibadah shaum). Ibadah shaum, sebagaimana diketahui, mempunyai salah satu tujuan untuk LEBIH BEREMPATI dengan KAUM MISKIN (tidak berpunya), yg selama ini sulit untuk makan dan minum.

Namun, apa yg saya lihat, aksi borong dan belanja, yg menurut saya, berlebihan, malah lebih diminati dan menjadi ‘tujuan’ dari banyak kaum muslim. Setidaknya hal ini yg sudah saya lihat di malam ini.

Padahal, sebenarnya untuk menjalankan ibadah shaum tidaklah perlu dengan sikap yg berlebihan dengan belanja barang2 kebutuhan. Karena pada hakikatnya, ibadah shaum ‘hanya’ memindahkan waktu/jadwal makan saja. Sisa waktu (mestinya) lebih banyak diisi dengan ibadah atau sejenisnya.

Akibat dari aksi borong dan perasaan istimewa terhadap ibadah shaum (yg sebenarnya salah kaprah) sudah jelas, MEMBENGKAKNYA ANGGARAN RUMAH TANGGA. Anda bisa baca kembali artikel yg saya buat dan tulis 2 tahun lalu. Artikel tersebut, insya ALLOH, akan selalu sesuai dengan kondisi kaum muslim (terutama di Indonesia), selama paradigma kaum muslim terhadap bulan Ramadhan masih ’salah’.

Padahal, KEISTIMEWAAN TERHADAPA BULAN RAMADHAN mestinya diwujudkan dengan IBADAH, BUKAN DENGAN MENU SAHUR DAN BERBUKA!!!

Jika kita mau jujur dan benar2 ingin meneladani Rasululloh SAW, kita bisa lihat bahwa selama beliau berpuasa Ramadhan, BELIAU TIDAK PERNAH MENGISTIMEWAKAN MENU SAHUR DAN BUKA PUASA. Bahkan jika kita mau lebih teliti, Rasululloh SAW sudah ‘berpesan’, bahwa berbuka puasa itu cukup dengan kurma atau air putih, sebagaimana hadits2 berikut:
Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air.” (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma.Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”

Jadi, mengapa kita mesti bermewah-mewah dalam sahur dan buka puasa? Bukankah dengan bermewah-mewah, sebenarnya kita justru sudah menjadi budak dari hawa nafsu dan bukannya kita yg mengendalikannya?

Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membawa pencerahan serta menghemat anggaran belanja. *senyum*

August 12, 2008

Ketika Tawakal Salah Dipahami

Bismillah,

Tawakal adalah sebuah kata yg cukup akrab di telinga kita, terutama karena tawakal ini cukup sering dilontarkan para khatib Jum’at dalah khutbah2 mereka. Bahkan, tawakal sudah menjadi kosa kata dalam percakapan sehari-hari.

“Sudah bu, tawakal saja…”
“Yg tawakal ya pak?”
*dan masih banyak percakapan sejenis lainnya*

Sebenarnya, apakah tawakal itu? Jangan-jangan pemahaman tawakal kita selama ini salah karena kita cenderung mencari mudahnya saja? Atau malahan kita sama sekali tidak mengerti apa itu tawakal?

Tawakal, berdasar penuturan Rasululloh SAW, adalah BERSERAH DIRI KEPADA ALLOH SWT SETELAH SEBELUMNYA BERIKHTIAR DAN BERUSAHA SEMAKSIMAL MUNGKIN.

Sebuah kisah yg menunjukkan arti tawakal, saya cukil dari sebuah hadits riwayat Ibnu Hibban. Seorang sahabat hendak beribadah, namun tidak mengikat untanya. Ketika Rasululloh SAW menegurnya, sang sahabat menjawab bahwa dia bertawakal kepada ALLOH SWT. Lantaran jawaban itu, Rasululloh SAW menjawab,”IKATLAH unta itu, baru bertawakal kepada ALLOH SWT.”

Tawakal semodel ini berarti tawakal yg mempunyai hubungan sebab akibat.

Sementara itu, ada juga tawakal ‘jenis’ lain, yakni kebalikan tawakal di atas, tawakal tanpa sebab akibat. Contoh dari tawakal ini adalah kematian atau musibah.

Untuk tawakal jenis kedua, tentu saja kita tidak bisa menghindar atau menyalahkan orang lain (apalagi kepada ALLOH SWT) atas kejadian yg kita alami. Terlebih misalnya, rumah kita kebakaran akibat kecerobohan tetangga kita. Di saat seperti inilah, tawakal mesti dilakukan.

Ucapkan “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.” disertai dengan penghayatan yg sungguh2 sehingga keikhlasan akan menyelimuti batin kita.

Celakanya, masyarakat kita cenderung salah memahami tawakal. Tawakal yg seharusnya terkait sebab akibat dianggap sebagai tanpa sebab akibat. Akibatnya jelas, masyarakat kita mempunyai mental yg parah.

Contoh dari salah memahami tawakal:
“Ah, saya sudah miskin…tawakal saja saya sih.”

“Besok saja hendak ujian nih.”
“Sudah belajar?”
“Tidak…saya kan tawakal kepada ALLOH SWT.”

“Pak, kita punya hutang. Kapan kita mau bayar?”
“Sebentar…saya hendak berdoa kepada ALLOH SWT dulu. Minta petunjuk.”
*usai berdoa*
“Bagaimana pak, kapan kita lunasi hutang?”
“Saya bertawakal saja kepada ALLOH SWT.”
“Lho, jadi ga kerja cari uang?”
“Lha, saya kan sudah bertawakal?”

Demikianlah secuplik dialog yg terjadi di masyarakat kita. Anda mungkin tahu dialog2 di atas, baik yg mirip ataupun bahkan sama persis. Atau barangkali anda sendiri termasuk di antaranya?

Saudara-saudaraku, kesalahan memahami tawakal seperti yg terjadi di atas itu, yg membuat kita tidak pernah bisa maju. Padahal masyarakat muslim merupakan mayoritas di negeri ini, padahal Islam mengajarkan kemajuan (progresivitas), namun itu semua tidak nampak dan seakan tidak pernah ada.

Lantas, apa yg mesti kita lakukan?

Pertama, apabila ada suatu persoalan, kita cermati dahulu. Apakah persoalan ini termasuk yg ada sebab akibat, ataukah memang yg benar2 tidak ada kaitan sebab akibat?

Kedua, jika memang termasuk persoalan tanpa sebab akibat, maka sudah selayaknya kita benar2 berserah kepada ALLOH SWT. Sebaliknya, jika persoalannya adalah persoalan ‘duniawi’, maka KITA WAJIB BERIKHTIAR.

Ketiga, selama kita berikhtiar, iringi ikhtiar kita dengan doa. Panjatkan doa-doa yg menunjang. Misalnya kita berikhtiar mencari rejeki, maka iringi dengan doa minta rejeki yg halal dan banyak. Jika ikhtiar mendapatkan keturunan, maka perbanyak doa Nabi Zakaria as dan Nabi Ibrahim as, selain berusaha dengan melakukan hubungan suami istri dengan sehat.

Keempat, yg terakhir, setelah poin 1-3 sudah kita kerjakan, nah…barulah kita bertawakal. Serahkan semuanya pada ALLOH SWT. Karena DIA-lah yg berhak menentukan apakah semua ikhtiar dan doa kita akan dikabulkan. Jika belum dikabul, jangan menyerah untuk berdoa, karena doa merupakan salah satu senjata kaum Muslim.

Semoga artikel ini berguna.

August 11, 2008

Jadwal Ramadhan 1429 H (2008 M)

Jadwal Imsakiyah untuk Ramadhan 1429 H (2008 M) (terutama Jakarta) bisa diambil di sini.

Untuk kota2 lain, bisa diambil di sini.

August 8, 2008

Ibadah Itu Jangan Egois

Masuk Kategori: Hikmah, Seri Kesalahan2

Bismillah,

Sebuah fenomena yg menarik saya amati, dilakukan oleh banyak kaum muslim Indonesia (sejauh ini pengamatan dilakukan di Indonesia, karena saya masih hidup di Indonesia. Entahlah jika suatu saat nanti ALLOH SWT berkehendak menyimpan hamba-Nya yg satu ini ke negara lain). Saya yakin jika kita mau merenung, bisa jadi saya dan anda juga termasuk orang2 yg terlibat dalam fenomena ini.

Fenomena yg menurut saya menarik ini adalah fenomena jor2an ibadah untuk kepentingan diri sendiri. Bisa dikatakan ibadah tipe ini adalah ibadah (yg) egois.

Hmmm…seperti apakah ibadah yg egois itu?

Ibadah yg egois adalah ibadah yg dilakukan karena untuk kepentingan dirinya sendiri. Saya ambil beberapa contoh:
- Si A bersedekah karena berharap ALLOH SWT membalasnya berlipat ganda.
- Pak B menyumbangkan pakaian2 bekasnya karena dia merasa pakaian2 bekas tersebut membuat rumahnya sesak.
- Seseorang sholat demi menyelamatkan dirinya dari api neraka.
- Si L naik haji berkali-kali, sementara tetangganya ada yg kelaparan.
- Masih banyak lagi.

Coba anda perhatikan lagi daftar di atas, apakah anda pernah melakukan hal di atas atau yg setipe dengan itu?

Sesungguhnya Islam adalah agama yg mengajarkan sosial kepada para pemeluknya. Artinya, ibadah ‘kolektif’ (bersama) justru dihargai lebih tinggi. Tidak usah jauh-jauh, sholat berjama’ah saja contohnya.

Anda akan temukan hadits, bahwa sholat berjama’ah mempunyai pahala yg lebih besar daripada sholat sendiri (ibadah ‘egois’). “Shalat jama’ah pahalanya melebihi shalat sendiri-sendiri dengan dua puluh tujuh derajat.” (Mutafaq’alaih)

Bahkan Rasululloh SAW jelas2 mengecam imam yg, saat berdoa, lebih mementingkan dirinya. “Barangsiapa mengimami suatu kaum lalu mengkhususkan do’a untuk dirinya, maka dia telah mengkhianati mereka.” (HR. Aththusi)

Lalu, bagaimana mengubah paradigma ibadah yg egois itu?

Saya termasuk orang yg masih belajar juga, tapi (berdasarkan contoh di atas) kita bisa ubah niat kita sebagai berikut:
- Si A bersedekah karena berharap ALLOH SWT membalasnya berlipat ganda.
Nah, kita ubah niat seperti di atas dengan niat seperti ini. “Ya ALLOH, saya bersedekah untuk menolong saudara saya agar tidak menderita kesulitan.”

- Pak B menyumbangkan pakaian2 bekasnya karena dia merasa pakaian2 bekas tersebut membuat rumahnya sesak.
Pada poin ini, mirip dg poin di atas. Ubah niat kita menjadi,”Ya ALLOH SWT, semoga pakaian yg saya berikan ini bermanfaat bagi saudara saya agar bisa berpakaian dan beribadah kepada-Mu dg pakaian yg lebih baik.”

Rasululloh SAW bahkan menyatakan bahwa orang yg MENYANTUNI anak yatim, akan dekat dengan beliau di surga kelak. Hal ini sudah jelas sekali menyatakan bahwa SOSIAL jauh lebih utama dari EGOIS.

Bahkan kita sudah sering mendengar cerita bagaimana seseorang mendapatkan pahala haji padahal dia tidak ikut naik haji. Pahala yg dia dapat karena dia MEMBERIKAN/MENOLONG TETANGGANYA yg kesulitan untuk hidup (dg lebih layak).

Demikian, semoga kita bisa menjadikan ibadah kita lebih bermanfaat bagi orang lain, tidak melulu karena keinginan pribadi (keegoisan) kita.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham