Tausyiah275

May 27, 2008

Sholat Jama’ (Jamak) dan Qashar

Bismillah,

Pada kesempatan ini, saya hendak menjelaskan pengertian sholat jama’ dan sholat qashar. Latar belakang artikel ini dibuat, karena ada seorang temanku yg ’salah’ membedakan sholat jama’ dan qashar. Semoga artikel ini bisa menambah pengetahuan baginya dan bagi anda semua.

Yang dimaksud dengan sholat jama’ adalah menggabungkan 2 sholat dalam 1 waktu. Sebagai contoh menggabungkan sholat Dhuhur dan Ashar, serta sholat Maghrib dan Isya.

Dalil yang digunakan adalah:
1) Dari Muadz bin Jabal bahwa Rasululloh SAW apabila beliau melakukan perjalanan sebelum matahari condong (masuk waktu sholat zuhur), maka beliau mengakhirkan sholat zuhur kemudian menjamaknya dengan sholat ashar pada waktu ashar, dan apabila beliau melakukan perjalanan sesudah matahari condong, beliau menjamak sholat zuhur dan ashar (pada waktu zuhur) baru kemudian beliau berangkat. Dan apabila beliau melakukan perjalanan sebelum magrib maka beliau mengakhirkan sholat magrib dan menjamaknya dengan sholat isya, dan jika beliau berangkat sesudah masuk waktu magrib,maka beliau menyegerakan sholat isya dan menjamaknya dengan sholat magrib. (Hadits Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).

2)Rasululloh SAW menjamak sholat magrib dan isya pada malam yang hujan. Dalil lainnya yaitu salah satu perbuatan sahabat, dari Nafi’: bahwa Abdulloh Ibnu Umar sholat bersama para umara (pemimpin) apabila para umara tersebut menjamak sholat magrib dan isya pada waktu hujan. (HR Bukhori)

3) Rasululloh SAW menjamak antara sholat zuhur dan ashar dan antara sholat magrib dan Isya bukan karena rasa takut dan hujan. (HR Muslim)

4) Adalah Rasululloh SAW dalam peperangan Tabuk, apabila hendak berangkat sebelum tergelincir matahari, maka beliau mengakhirkan Dzuhur hingga beliau mengumpulkannya dengan Ashar, lalu beliau melakukan dua shalat itu sekalian. Dan apabila beliau hendak berangkat setelah tergelincir matahari, maka beliau menyegerakan Ashar bersama Dzuhur dan melakukan shalat Dzuhur dan Ashar sekalian. Kemudian beliau berjalan. Dan apabila beliau hendak berangkat sebelum Maghrib maka beliau mengakhirkan Maghrib sehingga mengerjakan bersama Isya’, dan apabila beliau berangkat setelah Maghrib maka beliau menyegerakan Isya’ dan melakukan shalat Isya’ bersama Maghrib“. (HR Tirmidzi)

5) Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjama antara Zhuhur dan Ashar jika berada dalam perjalanan, juga menjama antara Maghrib dan Isya. (HR Bukhari)

Ada beberapa syarat melakukan sholat jama’, yaitu:
1. Bepergian jauh dan tujuannya bukan untuk bermaksiat.
2. Apabila melakukan sholat berjama’ah, maka imamnya harus musafir juga.
3. Karena sedang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat yang betul-betul sulit ditinggalkan. Misalnya seorang dokter yang mesti melakukan operasi.

Ada 2 jenis sholat jama’, yakni:
1. Jama’ Taqdim (ada juga yg menuliskan ta’dim, takdim, dst)
Jama’ taqdim adalah ‘menarik’ lebih awal waktu sholat. Jadi, apabila kita hendak bepergian yg kira2 cukup jauh di waktu Dhuhur, usai sholat Dhuhur kita lanjutkan dengan sholat Ashar. Hal yang sama berlaku untuk sholat Isya’, yang dilakukan di saat Magrib.

Yang tidak diperbolehkan dijama’ taqdim adalah Dhuhur di waktu Subuh, ataupun Magrib di waktu Ashar. Selain itu tidak boleh menjama’ Ashar dg sholat Jum’at (di hari Jum’at).

Untuk melaksanakan sholat jama’ taqdim, maka ada hal-hal yg mesti diperhatikan:
a. Kerjakan dulu sholat Dhuhur baru Ashar (atau Magrib dulu baru Isya).
b. Niat jama’ dilakukan saat hendak sholat Dhuhur atau Magrib. Dengan demikian, tidak sah jika niat jama’ dilakukan saat sholat Ashar atau Isya.
c. Dilakukan ‘menyambung’, dalam artian, tidak melakukan sholat sunnah setelah sholat Dhuhur atau Magrib.

2. Jama’ Takhir (ada juga yg menulis ta’hir, taqhir, dst)
Jama’ takhir kebalikan dari poin 1. Dengan demikian, kita ‘mengulur’ sholat di waktu berikutnya. Berdasarkan poin 1, maka kita bisa simpulkan bahwa jama’ takhir itu berarti sholat Dhuhur & Ashar di waktu Ashar, dan sholat Maghrib & Isya di waktu Isya.

Hal yg tidak diperbolehkan adalah Isya di saat Subuh dan Ashar di saat Maghrib.

Untuk melaksanakan sholat jama’ takhir, maka ada hal-hal yg mesti diperhatikan:
a. Niat jama’ tetap dilakukan di saat sholat Dhuhur atau Magrib.
b. Kita masih berada dalam perjalanan pada saat Ashar atau Isya.

Khusus untuk sholat jama’ takhir, kita mesti mendahulukan waktu sholat yg terakhir. Sebagai contoh, jika kita jama’ takhir Dhuhur dan Ashar, maka kita sholat Ashar dahulu barulah sholat Dhuhur.

Tata cara sholat jama’ sama dengan sholat biasa.

Sementara itu, yang dimaksud dengan sholat qashar adalah menyingkat sholat. Sholat yang bisa disingkat hanya sholat dengan jumlah raka’at 4, yakni Dhuhur, Ashar, dan Isya. Sementara Magrib, terlebih lagi Subuh, tidak bisa disingkat.

Dalil-dalilnya:
1) “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (An Nisa 101).

2) “Saya telah bertanya kepada Anas tentang mengqashar shalat. Jawabnya: Rasululloh SAW apabila ia berjalan jauh 3 mil atau 33 farskah (25,92 km), maka beliau shalat dua rakaat” (Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud dari Yahya bin Mazid r.a)

3) “Telah berkata Ibnu Abbas: Rasululloh SAW pernah sembahyang jama’ antara Dhuhur dan Ashar, dan antara Maghrib dan Isya, bukan diwaktu ketakutan dan bukan di dalam pelayaran (safa). Lantas ada orang bertanya kepada Ibnu Abbas: mengapa Nabi SAW berbuat begitu? Ia menjawab: Nabi SAW berbuat bgitu karena tidak mau memberatkan seorangpun daripada umatnya”. (HR Imam Muslim)

4) Dari Muhammad bin Ja’far : ” Telah bercerita kepadaku Syu’bah, dari Yahya bin Yazid Al-Hanna’i yang menuturkan : “Aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang mengqashar shalat. Sedangkan aku pergi ke Kufah maka aku shalat dua raka’at hingga aku kembali. Kemudian Anas berkata : “Artinya : Adalah Rasululloh SAW manakala keluar sejauh tiga mil atau tiga farskah (Syu’bah ragu), dia mengqashar shalat. (Dalam suatu riwayat) : Dia shalat dua rakaat”. (HR Imam Ahmad (3/129) dan Al-Baihaqi (2/146).

5) Dari Ya’la bin Umayyah bahwasanya dia bertanya kepada Umar ibnul Kaththab –radhiallahu anhu tentang ayat ini seraya berkata: “Jika kamu takut di serang orang-orang kafir”, padahal manusia telah aman ?!”. Sahabat Umar –radhiallahu anhu menjawab: “Aku sempat heran seperti keherananmu itu lalu akupun bertanya kepada Rasululloh SAW tentang hal itu dan beliau menjawab: “(Qashar itu) adalah sedekah dari ALLOH SWT kepadamu, maka terimahlah sedekah ALLOH SWT tersebut.” (HR. Muslim, Abu Dawud)

Untuk melakukan sholat Qashar, maka kita mesti berniat untuk sholat Qashar. Karena disingkat menjadi 2 raka’at, maka perlakuannya serupa dengan sholat Shubuh.

Selain itu ada juga syarat-syarat yang mesti diperhatikan:
1. Orang yang melakukan qashar = musafir.
2. Seseorang dikatakan musafir jika menempuh lebih kurang 88 km (atau lebih). Di hadits lain disebutkan bahwa Rasululloh SAW jika bepergian lebih dari 15 km, beliau juga melakukan qashar, seperti hadits berikut,“Dari Yahya bin Yazid al-Hana?i berkata, saya bertanya pada Anas bin Malik tentang jarak shalat Qashar. Anas menjawab: “Adalah Rasululloh SAW jika keluar menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh beliau shalat dua rakaat.” (HR Muslim)

Pertanyaannya, apakah boleh kita menggabungkan jama’ dan qashar?

Di dalam bukunya, As-Shalah (hal 181), Prof.Dr. Abdullah Ath-Thayyar menyatakan bahwa Rasululloh SAW pernah melakukan gabungan jama’ dan qashar sekaligus. Pendapat ini juga merupakan fatwa para ulama termasuk syaikh Abdul Aziz bin Baz.

Semoga bermanfaat

8 Komentar »

URI untuk TrackBack artikel ini: http://tausyiah275.blogsome.com/2008/05/27/sholat-jama-jamak-dan-qashar/trackback/

  1. koh tanya,
    dulu pas dapet materi ini (pas esde) sama kayak tulisan koh. waktu jamak itu mendahulukan yg akhir baru yg dijamak.

    untuk dzuhur dan ashar gag masalah karena rakaatnya sama. nah yg jadi masalah ketika menjamak maghrib dan isya, padahal ini yg sering, karena waktunya yg deket.

    biasanya kalo jamak takhir maghrib dan isya tuh tetep sesuai urutan waktu sholat, 3 + 4 rakaat.

    piye itu koh ?

    sebenarnya ada 2 pendapat yg pernah saya baca dan dengar, yakni mendahulukan yg akhir dan mendahulukan yg awal. Namun, dari sebuah buku, saya lupa judulnya, disebutkan bahwa Rasululloh SAW MENCONTOHKAN mendahulukan yg akhir. Informasi lebih lengkap menyusul, saya sedang cari bukunya.

    Demikian

    Komentar oleh paydjo.Net — May 27, 2008 @ 12:00 pm

  2. oya, soal qashar.
    pernah baca hadits, kalo musafir itu sholat 5 waktunya boleh qashar, dan ini adalah shadaqah dari Allah, jadi diutamakan untuk qashar bukan menggenapkannya. mosok nolak shadaqah dari Allah.

    biasanya kalo dah sampe tujuan tetep sholat sesuai rakaatnya, gag diqashar.
    piye koh ?

    saya sudah tuliskan hadits yg ‘mirip’ dg mas Paydjo sebutkan. Ada beberapa penafsiran untuk hal ini (qashar), terutama untuk rentang waktu seseorang disebut musafir. Dari beberapa ulama yg pernah saya ikut pengajiannya, mereka menyebut 3 (tiga) hari sebagai batas seseorang disebut musafir. Jadi, katakanlah mas Paydjo pergi ke Bandung selama 4 hari, maka 3 hari-nya ‘boleh’ qashar (dan jama’), tapi di hari ke-4, mesti sholat sesuai dg waktunya.

    Demikian.

    Komentar oleh paydjo.Net — May 27, 2008 @ 12:03 pm

  3. yang saya tanyakan apakah jama takhir boleh juhur dulu bru ashar kan abis shalat ashar kan ga ada shalat lagi

    mbak Sri, larangan sholat setelah sholat ashar itu adalah untuk sholat sunnah. pengecualian sholat setelah sholat ashar adalah untuk sholat jamak (takhir) dan/atau sholat jenazah.
    demikian

    Komentar oleh sri — June 24, 2008 @ 11:12 am

  4. Bagus2 untuk mengingatkan lagi nih.. jamak dan qashar

    Komentar oleh alifaiq — June 25, 2008 @ 8:08 am

  5. Maaf nih, 1 mil itu bukannya 1,6 km (mil darat) atau 1,8 km (mil laut)/info dari http://id.wikipedia.org/wiki/Mil. Jadi kalo mnrt haditsnya 3 mil, seharusnya 4,8 km (mil darat) atau 5,4 Km (mil laut), knp jd 88 Km atau 15 Km berarti 1 milnya 5 Km, penetapan ini apa sekedar kehati2an ulama agar umat islam tidak gampang melakukan jama’ sholat , atau ada dalil yang menguatkan agar jarak tempuhnya minimal 15 km/88km?, krn setahu saya haditsnya ya sebagaimana yg tertera diatas

    Komentar oleh Abu Faruq — June 30, 2008 @ 3:24 pm

  6. Asw. terima kasih atas artikelnya…

    Saya baru bener-bener paham tata cara shalat Jamak..masalahnya saya sering berpergian jauh, jadi saya kadang-kadang bingung juga dijamak g ya???? saya lebih sering shalat dikendaraan, jadi saya tayamum kemudian shalat dengan arah kiblat sesuai arah kendaraan, karena saya pernah juga baca buku tentang tata cara shalat di kendaraan.

    mau nanya, mana yang lebih baik dijamak atau shalat dikendaraan aja..?? makasih

    Komentar oleh Eko Sedane Putra — July 4, 2008 @ 8:55 pm

  7. assalamaualikum
    maaf mau tanya apakah bnar ketika jama’ qashar imamnya harus sma2 musafir? klo mislkan dengan imam yang bukan musafir gman? sya biasnya ikut sholat imam masjid 4 rakaat utk dhuhur, kemudian saya lanjutkan 2 rakaat ashar. karena sya berpergian sendiri.mohon tanggapannya

    Komentar oleh joko — July 30, 2008 @ 1:04 pm

  8. Ass.

    Mengenai jama Takhir, mohon saya di beri tahu referensi buku nya. karena yang selama ini saya kerjakan itu shalat maghrib dulu baru shalat isya..
    sebelumnya saya ucapkan terima kasih

    Wassalam

    Komentar oleh Fadil — September 1, 2008 @ 10:39 am

RSS feed untuk komentar di artikel ini.

Tulis Komentar Anda

Baris dan paragraf akan dipisahkan otomatis, alamat email tidak akan tampil, tag HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



ini fitur anti spam: silakan ketik kata yang ada di kotak...






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham