Tausyiah275

March 27, 2008

Himbauan Bagi Wartawan/wati Muslim(ah)

Masuk Kategori: HOT NEWS, Hikmah, Seri Kesalahan2

Bismillah,

Lebih kurang satu minggu ini, saya mendapati banyak sekali berita yg mengaitkan kembali Aa Gym. Jika sebelumnya para tukang ghibah meributkan sikap poligami yg dianut Aa Gym, maka kali ini, isu yg dilontarkan adalah kemungkinan perceraian Aa Gym dengan teh Ninih, istri pertamanya.

Begitu gencar para wartawan tukang ghibah ini menghembuskan dan memberitakan hal ini, hingga seringkali mereka mengambil asumsi sendiri dan menuliskan hal2 yg bertolak belakang dengan kenyataan. Misalnya, sikap teh Ninih dianggap sebagai istri yg PURA-PURA tegar dengan dipoligami, dan masih banyak lagi.

Yg aku herankan dan sesalkan, banyak sekali wartawan tukang ghibah beragama Islam. Setidaknya, dalam salah satu tayangan infotainment yg sempat (tidak sengaja) saya lihat, nampak beberapa wartawan mengenakan jilbab, berusaha mewawancarai narasumber.

Ya ALLOH…mbak, anda kok ‘tega’ sih menjadi tukang ghibah demi mengganjal perut anda? Apa anda lebih memilih makan bangkai saudara anda di akhirat kelak, dengan memberitakan keburukan/aib (bahkan lebih parahnya lagi cenderung mengada-adakan berita bohong) keluarga lain?

Padahal, apalah artinya gaji yg anda makan kelak, jika akhirnya di akhirat kelak nanti anda juga akan makan bangkai saudara anda?

Saya, di artikel ini, hanya hendak menghimbau kepada para saudari2 saya yang bekerja sebagai wartawati pencari gosip. Hendaknya anda pindah profesi, mencari pekerjaan lain. Atau jika anda masih ingin menjadi wartawati, hendaknya meninggalkan profesi wartawati pencari gosip. Masih banyak berita2 lain serta sumber2 berita lain yg bisa anda temui tanpa perlu mengorbankan kehidupan anda di akhirat kelak.

Saya yakin anda tahu, bahwa salah satu alasan MUI (dan NU) mengharamkan infotainment adalah kebanyakan berita yg anda tayangkan berisip gosip/ghibah, kemudian membongkar aib2 saudara2 (seiman) kita sendiri, juga ‘mengada-adakan’ sesuatu yg sebenarnya tidak ada sebelumnya. Saya sendiri menganggap manfaat infotainment sangat tidak sebanding dengan mudharatnya, terlalu kecil. Bahkan cenderung masuk ke tayangan televisi yang tidak mendidik.

Infotainment hanya ‘bermanfaat’ ketika berita yg ditampilkan adalah berita2 yg bersifat positif seperti acara kelahiran anak, pernikahan, dan berita2 yg membahagiakan lain. Komposisi berita2 itu sangatlah kecil, barangkali hanya 1 dari 10 berita. Sisanya? Keranjang sampah mungkin lebih layak menampung berita2 itu.

Menjadi wartawan/wati gosip jelas tidak ada nilai plusnya bagi masyarakat. Masyarakat akan dibuat tetap bodoh, tidak mau berpikir, dan seterusnya…dan seterusnya. Anda sendiri jelas2 mempertaruhkan nasib anda di akhirat kelak demi kenikmatan sesaat.

Tapi, bagaimanapun, anda punya kebebasan dan hak memilih. Saya sendiri hanya bisa mengingatkan selaku sesama muslim. Saya juga bukan berarti tidak punya keburukan, tidak terlepas dari kesalahan juga, hanya saja saya bukanlah pencari berita gosip seperti wartawan/wati infotainment.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham