Tausyiah275

October 6, 2007

(ber)I’tikaf

Ramadhan hanya bersisa lebih kurang 5-6 hari lagi. Berarti sudah lebih dari 10 hari terakhir kita lewati.

Sebagaimana contoh dari Rasululloh SAW, 10 hari terakhir di bulan Ramadhan merupakan hari-hari yg paling beliau nantikan, karena dalam 10 hari tersebut, terdapat 1 malam yg begitu istimewa, yg telah kita ketahui bersama, yakni Lailatul Qadr, 1 malam yg lebih baik dari 1000bulan. Dengan kata lain, dalam 10 hari terakhir, Rasululloh SAW mencontohkan untuk memperbanyak dan menggiatkan ibadah.

Al Qur’an sudah menjelaskan dengan gamblang mengenai malam Lailatul Qadr ini, dalam surat Al Qadr(97),“(1)Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. == (2)Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? == (3)Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. == (4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. == (5)Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Aku sudah tulis artikel tentang Lailatul Qadr di sini.

Salah satu cara untuk mendapatkan malam Lailatul Qadr adalah dengan i’tikaf.

Apakah sebenarnya i’tikaf itu?
I’tikaf berasal dari bahasa Arab yang artinya tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu. Jika diterapkan di Islam, terutama terkait dg contoh dari Rasululloh SAW, i’tikaf berarti tinggal di dalam masjid yang dilakukan seseorang dengan niat tertentu (dalam hal ini untuk mencari dan meraih malam Lailatul Qadr).

Apakah ada syarat khusus dalam melakukan i’tikaf?
Dari beberapa literatur, aku dapatkan keterangan bahwa syarat melakukan i’tikaf adalah:
1. Beragama Islam.
2. Berakal (tidak gila atau pingsan).
3. Di dalam masjid, tidak sah kalau di rumah (ini adalah SYARAT MUTLAK).
4. Berniat (menyengajakan diri untuk i’tikaf, bisa diucapkan atau dalam hati).
5. Berpuasa (untuk poin ini, ada pendapat dari Mazhab Maliki, berpuasa merupakan syarat mutlak).
6. Suci (dari hadats kecil dan besar).

Apakah i’tikaf itu berarti di masjid terus menerus?
Dari pengalamanku serta yg pernah aku dengar, contoh dari Rasululloh SAW adalah SENANTIASA BERDIAM di dalam masjid. Beliau MENINGGALKAN kegiatan yg terkait dengan keduniawian. *Terus terang, untuk pertanyaan ini aku belum mendapatkan sumber referensi yg shahih untuk menjadi acuan jawaban. Insya ALLOH aku akan cari lagi referensi yg layak.*

Bagaimana pengalaman i’tikaf anda?
Pengalaman i’tikafku, selama 10 hari, secara berturut-turut, aku berdiam di masjid. Kegiatan yg dilakukan tidak hanya membaca Al Qur’an dan sholat terus menerus. Namun juga membaca buku (terutama yg terkait dengan agama) kemudian juga diskusi (dg titik berat masalah keagamaan).

Lalu, bagaimana makan dan mandi?
Untuk makan, dapat pasokan/ransum dari rumah (di beberapa masjid, makanan disediakan oleh pihak masjid). Sementara untuk mandi, aku gunakan kamar mandi masjid untuk mandi.

Saya tidak bisa berdiam terus di masjid, karena saya tidak libur. Apakah i’tikaf saya sah?
Hmmm…aku tidak berwenang menilai. Hanya saja, jika merujuk dari arti i’tikaf, insya ALLOH i’tikafnya sah, karena sudah BERDIAM DI MASJID. Namun jika merujuk dari contoh Rasululloh SAW yg aku tahu, tentu saja ada perbedaan.

Pertanyaan terakhir barangkali muncul dari artikel yg sempat aku muat, tentang acara i’tikaf yg dilakukan di beberapa masjid di Jakarta.

Memang, jika merujuk pada aktivitas kita di jaman sekarang yg kian padat, 10 hari terus menerus untuk i’tikaf di masjid adalah hal yg sulit. Namun, seperti yg aku tulis, jika merujuk dari arti i’tikaf, berdiam dalam masjid, rasa2nya tidak ada alasan untuk tidak melakukan hal ini.

Sebagai solusi untuk i’tikaf di jaman sekarang, para pesertanya mesti mempersiapkan diri, terutama fisiknya. Hal ini dikarenakan acara i’tikaf akan dimulai sekitar pukul 12 malam, diawali dengan membaca Al Qur’an sekian ayat, diikuti sholat malam, ceramah singkat, sahur, membaca Al Qur’an dan diakhiri dengan sholat Subuh berjama’ah.

Dengan kegiatan yg cukup padat, apabila para peserta i’tikaf mesti masuk kantor di pagi harinya, maka dia mestilah mempersiapkan fisiknya agar pasokan gizi dan jatah istirahatnya cukup. Jangan sampai produktivitas kerja menurun karena i’tikaf, lalu kegiatan i’tikaf disalahkan!!

Untuk tahun ini, insya ALLOH aku sudah berniat i’tikaf, namun tidak seperti i’tikaf yg lalu (10 hari berturut-turut di masjid). I’tikaf kali ini, aku akan berusaha menyempatkan diri menghabiskan beberapa malam di masjid di dekat rumah, insya ALLOH.

Hidayah Itu…

Kata hidayah merupakan salah satu kata yg sangat populer di telinga kita. Tidak saja dalam dialog/ceramah keagamaan, namun juga dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya belum memakai jilbab, karena belum dapat hidayah … ”
“Ya ALLOH, berikan kami taufik dan hidayah…”
“Hatinya sudah tidak bisa menerima hidayah”
*dan masih banyak contoh penggunaan hidayah dalam kehidupan sehari-hari*

Sebenarnya apakah hidayah itu?

Jika merujuk dari bahasa Arab, hidayah mempunyai arti karunia atau hadiah. Apabila konteks hidayah digunakan di Islam, hidayah mempunyai pengertian petunjuk atau bimbingan dari ALLOH SWT. Bisa juga dikatakan ‘pencerahan’. Aku pernah bahas sekilas di sini.

Dari hasil pencarian dan belajar yg aku lakukan selama ini, aku mempunyai kesimpulan:
“HIDAYAH ITU MESTI DICARI, MESKI KADANG DIA MENGHAMPIRI”

Maksud dari kalimat di atas adalah, untuk mendapatkan pencerahan, seseorang mestilah mencarinya. Namun kadangkala pencerahan itu datang seketika, tanpa diundang dan tidak disangka.

Sebagai ilustrasi, aku berikan 2 poin:
Hidayah yg mesti dicari:
Nabi Ibrahim as, sebelum menemukan siapa Tuhan yg sesungguhnya (ALLOH SWT), beliau melakukan pencarian yg tidak kenal lelah. Beliau sempat berpikir, bahwa bintang, bulan, dan matahari adalah Tuhannya, sebelum beliau mendapatkan pencerahan, bahwa hanya ALLOH SWT yg palilng pantas dan layak menjadi Tuhan dari semua yg ada di bawah langit dan bumi.

Hidayah yg datang tiba-tiba/tidak diperkirakan sebelumnya:
Seorang penjahat kambuhan (residivis) yg telah sekian tahun menjadi momok dan biang kerok di kampungnya, tiba-tiba bertobat dan menjadi seseorang yg alim, rajin beribadah, dan menjadi orang yg berguna di masyarakatnya. Saat ditanya apa penyebab/alasannya, si residivis mengatakan bahwa hatinya mendadak ‘tersentuh’ saat mendengar adzan subuh.

Contoh lain hidayah bisa dibaca di sini dan sini.

Sayangnya, menurutku, terjadi salah kaprah penggunaan kata hidayah di masyarakat Indonesia. Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, hidayah itu HARUS SELALU DITUNGGU. Maksudnya begini….banyak perempuan yg tidak memakai jilbab atau menutup auratnya dengan alasan mereka belum mendapat hidayah. Padahal, jika merujuk pada pernyataanku, hidayah itu SEHARUSNYA dicari dahulu. Dalam artian, manusia mesti ikhtiar.

Yg dimaksud ikhtiar mencari hidayah, yaa…seperti Nabi Ibrahim as. Merenung, berpikir (bedakan kedua hal tersebut dg melamun), kemudian bergaul dg orang2 yg memang membuat kita bisa mendapatkan hidayah tersebut.

Dengan kata lain, jika perempuan tersebut memang memang berkeinginan memakai jilbab, banyaklah bergaul dg perempuan yg berjilbab juga. Cari tahu, ngobrol, bertanya ttg berjilbab dan seluk beluk serta suka dukanya. Kebanyakan perempuan muslim di Indonesia beralasan mereka belum berjilbab karena belum mendapat hidayah. Bagaimana bisa mendapat hidayah, jika pergaulan mereka lebih banyak berhura-hura, ber-hedon ria, atau bahkan malah sudah memasang sikap skeptis dan antipati terhadap yg namanya jilbab.

Memang, bukan berarti hidayah tidak akan ‘hinggap’ ke dalam qalbu mereka. ALLOH SWT mempunyai hak preogatif untuk menurunkan dan memberikan hidayah-Nya kepada siapa saja yg Dia kehendaki. Salah satu cerita yg fenomenal adalah cerita masuk Islamnya Umar bin Khatb. Siapa yg akan menduga, bahkan Rasululloh SAW sendiri tidak menyangka, bahwa Umar akan masuk Islam, karena siapapun tahu, Umar adalah penentang Islam yg paling keras…salah satu pentolan ‘begajul’ dari kalangan Quraisy.

Tapi, sekali lagi, jika ALLOH SWT sudah menetapkan, manusia mana yg bisa menolak?

Semoga artikel ini bermanfaat.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham