Lebaran Berbeda? Jangan Donk!
Saudara-saudaraku, kita sudah memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Ini berarti 1 Syawal akan segera tiba dan itu berarti umat Islam (Indonesia) kembali akan berdebat dan berbeda pendapat mengenai penentuan kapan 1 Syawal tiba. ‘Penyakit’ ini, anehnya, hanya muncul pada saat penentuan 1 Syawal, sementara untuk hari raya Idul Adha tidak ada masalah.
Jauh-jauh hari, Muhammadiyah sudah mengeluarkan pernyataan bahwa (menurut mereka) 1 Syawal akan jatuh pada 12 Oktober 2007. Sementara NU dan Pemerintah sendiri, meski belum secara pasti menetapkan, dari kalender yg beredar dan kita gunakan, 13 Oktober 2007 yg dinyatakan sebagai awal 1 Syawal 1428H.
Aku sendiri, terus terang, merasa lelah melihat perdebatan tiada akhir untuk penentuan 1 Syawal ini. Sekian ratus tahun lalu, rasa-rasanya tidak pernah ada cerita kaum Islam ribut untuk masalah seperti ini.
TOLONG, PARA PEMIMPIN ORGANISASI ISLAM DI INDONESIA….JANGANLAH KALIAN EGOIS, DENGAN LEBIH MEMENTINGKAN GOLONGAN KALIAN SENDIRI!!
Tanya: “Lho, Mas, kok anda menganggap para pemimpin organisasi Islam tersebut egois?”
Jawab: “Ya…saya memang menyatakan mereka egois!”
T: “Lho, apa sebabnya Mas? Hati2 lho jika bicara!!”
J: “Justru saya merasa saya sudah cukup hati-hati dan sopan berbicara. Saya katakan mereka egois karena sikap mereka membuat umat terpecah belah! Logikanya, bagaimana mungkin, para kaum muslim di sebuah negara merayakan hari raya yg berbeda? Maaf, ini tidak masuk logika saya…kecuali anda bisa menjelaskan!”
T: “Bukankah mereka juga menggunakan dan punya pendapat yg shahih untuk menetapkan hari raya 1 Syawal?”
J: “Saya tahu itu, dan saya juga yakin ilmu mereka, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan mereka juga bagus. Mereka juga pasti punya alasan, namun bagaimanapun…sikap mereka membuat umat resah dan menjadikan saling menyalahkan.”
Percakapan imajiner di atas mungkin pernah kita dengar, bahkan barangkali kian sering kita dengar seiring dengan adanya perbedaan merayakan 1 Syawal. Aku sempat lihat, lebih kurang 3-4 kali kita, umat Muslim di Indonesia, merayakan 1 Syawal di hari yg berbeda (berdasr kalender Masehi). Yg sering aku tangkap, kegelisahan umat yg begitu meruyak dan membubat miris hati.
Di saat umat lain sudah tiba di permukaan bulan (dan mengeksplor dan meneliti bulan) serta mulai ‘berebut’ menjelajah planet, bahkan galaksi lain, umat Islam (terlebih lagi umat Islam di Indonesia) masih saja ribut di tataran yg (sebenarnya) sederhana ini.
T: “Lantas, apa pendapat dan solusi dari anda, Mas?”
J: “Baik…saya akan jelaskan sebagai berikut. Menurut saya, kaum muslim di Indonesia hendaknya MEMPERCAYAKAN KEPADA PEMERINTAH untuk MENETAPKAN 1 SYAWAL INI!”
T: “Lho, mengapa kita mesti bergantung pada pemerintah?”
J: “Saudaraku, saya punya pendapat bahwa pemerintah punya wewenang untuk mengambil/menetapkan suatu kebijakan untuk menenangkan umat. Dalam kasus ini, agar umat tidak terpecah belah dalam penentuan 1 Syawal, hendaknya pemerintah segera melakukan tindakan.”
T: “Tindakan seperti apa yg Mas maksudkan?”
J: “Pemerintah bisa mengutus dan memerintahkan sebuah lembaga/organisasi yg independen (dari kepentingan organisasi2 agama) dan mempunyai ilmu pengetahuan di bidang astronomi untuk melakukan perhitungan dan pengamatan agar didapat hasil final tentang awal 1 Syawal.”
T: “Aduh, saya tidak mengerti…bisa Mas jelaskan lebih lanjut?”
J: “Begini…di Indonesia sudah banyak ahli2 astronomi, terutama yg beragama Islam. Tidak sedikit di antara mereka mempunyai ilmu agama dan ilmu astronomi yang lebih mendalam daripada rakyat kebanyakan. Mereka ada yg bekerja di LAPAN, ada yg menjadi pengamat. Nah, pemerintah bisa meminta mereka bersama-sama dengan ulama (dari berbagai aliran), untuk duduk bersama, melakukan pengamatan, merumuskan dan akhirnya menetapkan kapan 1 Syawal dimulai.”
T: “Hmmm…betul juga. Ide yg bagus, terutama mengundang dan mengikutsertakan ulama dari berbagai aliran. Dengan demikian, kesepakatan yg diambil tidak bersifat sepihak dan merugikan serta menyalahkan orang lain.”
J: “Ah, tepat sekali…anda mulai mengerti maksud saya.”
T: “Lalu…lalu…?”
J: “Saya malah mempunyai usulan, bagaimana jika penelitian yg dilakukan para ilmuwan dan ulama tersebut juga dijelaskan kepada masyarakat, bahkan jika perlu disiarkan secara langsung prosesnya. Misalnya, proses melihat bulan (hilal). Kamera televisi, bahkan kamera digital di jaman sekarang sudah mempunyai tingkat ketelitian dan hasil pengamatan yg cukup teliti. Dari sana, rakyat bisa melihat (dan dilibatkan) secara langsung proses yg sedang berlansung. Jika memang bulan tampak, maka 1 Syawal sudah segera tiba. Sebaliknya 1 Syawal akan ‘mundur’ apabila dari hasil pengamatan ternyata tidak tampak bulan. Hasilnya kaum muslim tidak ‘dibodohi’ seperti selama ini. Selain itu, dengan adanya keterlibatan kaum muslim, akan membuat kaum muslim Indonesia juga ikut bertanggung jawab serta lebih dewasa dalam bersikap.”
T: (menyimak)
J: “Saya sendiri yakin, selama ini pemerintah melakukan hal di atas. Namun, kaum muslim (yg notabene adalah masyarakat awam) lain tidak, eh, belum dilibatkan. Mudah2an usul saya ini bisa diterima dan dilakukan.”
T: “Oooo…begitu ya. Jadi, kenapa sekarang di Indonesia selalu terjadi perbedaan 1 Syawal ya Mas?”
J: “Seperti yg saya katakan tadi, para pemimpin ormas (organisasi massa) Islam di Indonesia kadang (atau malah sering?) selalu egois. Mereka lebih mengedepankan kepentingan golongannya dibandingkan kepentingan umat semua. Mereka lebih suka menyalahkan dan memicu persoalan serta perbedaan, daripada duduk bersama dan mencari solusi. Apakah mereka tidak menyadari bahwa umat menjadi terpecah belah dan terkotak-kotak akibat tindakan egois mereka?”
T: “Ya ya ya…betul juga. Saya setuju dengan pendapat anda.”
J: “Begitulah…padahal mestinya umat Islam tidak perlulah dipusingkan dengan perbedaan2 ‘tidak penting’ seperti ini. Kapan majunya kita jika energi dan waktu kita habis terbuang percuma untuk mengurus hal2 seperti ini?”
T: “Setuju. Nah, omong-omong, sikap anda sendiri bagaimana tentang 1 Syawal ini?”
J: “Insya ALLOH saya akan ikut pemerintah, nurut saja…tapi bukan berarti tidak kritis. Seperti yg saya sebutkan di atas, saya yakin pemerintah kita tidak sembarangan menentukan 1 Syawal. Banyak pihak, ilmuwan dan ulama, dilibatkan.”
T: “Jika saya ikut 1 Syawal ormas yg berbeda, bagaimana?”
J: “Yaa…itu hak anda, saya tidak bisa melarang dan memaksa anda ikut pendapat saya. Hanya saja saya jadi ga sreg…”
T: “Ga sreg gimana tho?”
J: “Yaaa…kok bisa, umat Islam ada yg sudah Lebaran sementara ada umat Islam lain yg masih puasa?”
T: “Bukannya kebalik? Sudah lebaran kok masih puasa?”
J: “Ya ya ya…itu bergantung dari sudut pandang siapa.”
T: “Tapi tali silaturahim kita tidak putus kan Mas?”
J: “Lho, kenapa beda pendapat seperti ini mesti memutuskan tali silaturahim?”
T: “Soalnya saya sering mendengar berita, karena beda merayakan 1 Syawal, lantas kampung A memusuhi kampung B. Bahkan di dalam keluarga, anak dan bapak bisa bermusuhan karena si anak ikut ormas sementara si bapak ikut pemerintah, atau malah sebaliknya.”
J: “Wah wah wah….ternyata ruyam toh masalahnya karena beda 1 Syawal?”
T: “Betul juga Mas. Eh, omong2, nama Mas siapa ya? Dari tadi kita ngobrol, saya belum kenalan nich..”
J: (terdiam seribu bahasa)

