Tausyiah275

October 29, 2007

Larangan Terhadap Orang Yg Hendak Jum’atan

Masuk Kategori: HOT NEWS

Hari Sabtu pagi kemarin, di sebuah televisi swasta, aku menyaksikan sebuah berita yg membuat aku mengurut dada.

Berita yg aku maksud adalah larangan dari sejumlah warga NU terhadap warga Muhammadiyah yg hendak melakukan sholat Jum’at. Kejadian ini berlangsung di Banyuwangi, Jawa Timur.

Rincian kejadiannya adalah sebagai berikut. Warga Muhammadiyah mempunyai sebuah masjid yg (jika aku lihat dari tayangan di televisi) ukurannya tidak sebesar masjid milik warga NU. Warga Muhammadiyah sering menggunakan masjid tersebut untuk kegiatan mereka, termasuk sholat ‘Ied pada 12 Oktober 2007 lalu (sekedar mengingatkan, lebaran warga Muhammadiyah lebih cepat 1 hari dibandingkan lebaran warga NU dan mayoritas kaum muslim lain, yg jatuh pada 13 Oktober 2007).

Nah, pada tgl 26 Oktober 2007 lalu, warga NU melarang warga Muhammadiyah sholat Jum’at di masjid mereka itu, dengan alasan sebagai berikut:
1. Masjid warga Muhammadiyah terlalu kecil ukurannya, sehingga lebih tepat disebut langgar/mushola.
2. Jaraknya tidak terlalu jauh dari masjid NU (50-100 meter). Para pemuka NU menyatakan jarak yg terlalu dekat akan memusingkan umat untuk mendengarkan khutbah Jum’at, karena pengeras suara dari masing2 masjid akan ‘berbicara’ pada saat yg bersamaan.

Sempat terjadi adu mulut antar warga NU dan warga Muhammadiyah, sebelum akhirnya ketua Muhammadiyah datang dan berusaha menengahi (dan syukurnya berhasil). Sayang sekali tidak dijelaskan solusi apa yg diambil, namun dari tayangan yg aku lihat, banyak warga Muhammadiyah yg batal sholat Jum’at di masjid milik mereka.

Saat kasus ini diselidiki lebih jauh, perselisihan warga NU dan warga Muhammadiyah ini terjadi agak lama (jika aku tidak salah dengar). Namun, hal ini kian meruncing pada saat terjadi perbedaan penentuan hari Lebaran 1428 H, dan ‘meledak’ pada 26 Oktober 2007 lalu.

Ternyata sikap para petinggi Muhammadiyah untuk berbeda hari Lebaran mempunyai dampak yg tidak baik, setidaknya yg terjadi di kalangan masyarakat kebanyakan yg masih fanatik dengan golongannya. Alih-alih berpendapat bahwa perbedaan pendapat itu adalah rahmat (dg menetapkan lebaran berbeda), yg terjadi malah nyaris jatuh korban.

Jadi, apakah tahun depan akan berbeda lagi lebarannya, untuk menunggu jatuh korban (yg ’sebenarnya’)? Naudzubillah…

October 27, 2007

Merayakan Lebaran Dengan Mabuk

Masuk Kategori: Seri Kesalahan2

Di Bandung dan Jakarta (dan barangkali di kota-kota lain), ada generasi muda yg mempunyai cara yg berbeda untuk merayakan Lebaran. Alih-alih (minimal) mempererat silaturahim atau dengan menggiatkan ibadah mereka (usai menjalani training selama sebulan penuh), mereka malah memilih minum minuman keras untuk merayakannya.

Di Padang sendiri, tindakan mabuk massal ini berujung petaka denga menelan korban. Sebanyak 8 orang pemuda tewas usai menenggak minuman keras, serta belasan lainnya masuk rumah sakit karenanya.

Alasan mereka mabuk, karena mereka menganggap Ramadhan sudah usai maka mereka ‘boleh’ mabuk.

Wah wah wah…pemahaman agama yg sangat keliru sekali, karena menganggap hanya di bulan Ramadhan saja tidak boleh berbuat kejahatan, sementara di bulan2 lain boleh (dan dianggap biasa).

Nampaknya sudah saatnya kita menjadi da’i untuk lingkungan sekitar kita. Tentu saja sesuai dengan kemampuan kita.

October 26, 2007

Aliran Al Qiyadah JELAS SESAT!

Masuk Kategori: HOT NEWS

Belakangan ini muncul aliran sesat baru, yakni aliran Al Qiyadah Al Islamiyah. Aliran (Islam) sesat ini dinilai melenceng dari Islam karena beberapa hal:
1. Adanya pengakuan si ‘pendiri’ aliran, bahwa dirinya adalah Nabi dan Rasul.
2. Tidak mengakui Rasululloh SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir (dalam syahadat mereka, tidak mengikutsertakan nama Rasululloh SAW).
3. Tidak perlu menjalankan rukun Islam
4. Tidak perlu sholat 5 waktu

MUI sendiri telah menyatakan bahwa aliran ini sesat serta sudah meminta pihak kepolisian menindak tegas aliran ini. Anehnya, pihak kepolisian nampak lambat menangani kasus ini, terbukti dengan digelarnya kegiatan aliran sesat ini di sebuah hotel di kawasan Jakarta Pusat.

Meski dinilai lambat, pihak kepolisian tetap menjalankan tugasnya. Mereka menangkap beberapa pengikut aliran ini yang sedang menyebarkan aliran ini ke masyarakat sekitar. Dalam pengakuannya, mereka menyatakan bahwa aliran ini adalah Islam yg sesungguhnya. Bahkan mereka menyatakan bahwa mereka sholat hanya sesuai sholatnya Rasululloh SAW yakni qiyamul lail. *aneh sekali, mereka tidak mendirikan sholat wajib, melainkan lebih memilih qiyamul lail yg hukumnya sunnah*

Dari beberapa berita, terutama yg aku lihat di televisi, beberapa ulama yg dimintai pendapatnya menyatakan bahwa mereka sudah jelas MURTAD alias keluar dari Islam. Para ulama bahkan ada yg lebih ekstrim lagi, mereka menyatakan agar aliran itu membuat agama baru, tidak mendompleng Islam. Hal ini dikarenakan Islam sudah jelas aturannya.

Aku sendiri sempat melihat bai’at dan pembacaan syahadat aliran ini. Benar2 aneh dan tidak masuk akal…terlebih lagi saat mendengar wawancara dengan pendiri aliran ini. Dia menyatakan bahwa tindakannya ini (menyatakan diri sebagai nabi dan menyebarkan aliran ini) didasarkan pada peristiwa MIMPI sebanyak 6 kali yang dialaminya. *wah, gawat sekali jika mimpi ‘manusia biasa’ dijadikan acuan. bagaimana jika ada yg mimpi jadi presiden indonesia lalu dia ‘ngotot’ jadi presiden?*

Dalam tayangan tersebut, aku melihat para pengikut aliran ini MEMPUNYAI KESAN orang2 yg pintar. Tapi mengapa mereka memilih aliran sesat ini? Jawabannya, menurutku, adalah mereka merasa ‘terbelenggu’ dengan aturan dan kewajiban yg mesti mereka lakukan di Islam. Sebagai contoh, mereka tidak mau sholat 5 waktu tapi lebih memilih qiyamul lail. Dengan kata lain, mereka memilih hawa nafsu mereka dan tidak mau ‘bercape-cape’ dalam menjalankan syariat.

‘Hebatnya’, mereka malah berani menyuruh MUI dan umat Islam lain untuk bertobat dan ikut aliran ini!! Wah wah wah…makin kacau saja orang2 ini.

Semoga pihak kepolisian segera menindak para aliran ini seperti halnya yg dilakukan ke Lia Eden.

Bagaimanapun, ini menambah daftar aliran sesat di Indonesia dan nabi2 palsu.

Berikut file2 liputan Al Qiyadah:
- File 1
- File 2
- File 3
- File 4
- File 5
- File 6
- File 7

October 20, 2007

Bacaan di Akhir Pekan - Berbuka Puasa dengan Pengemudi Taksi

Masuk Kategori: Hikmah

bondan winarno” bondanw@gmail.com

Wed, 10 Oct 2007 04:08:56 -0700

Berbuka Puasa dengan Pengemudi Taksi

Keluarga JS-ku,

Terpancing kebahagiaan yang terpancar dari tulisan Dadi Krismatono ttg buka puasa bersama, saya langsung teringat kejadian yang baru saja terjadi kemarin petang.

Ketika saya melangkah di lorong kedatangan bandara Soekarno-Hatta, azan magrib baru saja berkumandang. Di tempat antrean taksi, saya lihat pemuda yang saya hampiri sedang menikmati tajil gratis yang disediakan Angkasa Pura bagi siapa saja yang memerlukannya. Semula saya ingin pindah ke taksi di sebelah yang tampak pengemudinya tidak berbuka puasa. Tetapi, si pemuda dgn ramah mempersilakan saya masuk ke taksinya.

Sesungguhnya, perasaan saya mendua. Tentulah sudah waktunya bagi dia untuk berbuka dengan makan besar. Dia tentu tidak sadar membawa penumpang tujuan Bogor yang akan membuatnya baru akan sempat makan besar sekitar 90 menit lagi. Tetapi, bukankah itu juga rezekinya?

Maka saya pun memakai taktik berpura-pura. “Wah, Mas, baiknya kita buka puasa dulu, ya? Saya juga perlu buka, nih. Ada warung padang dekat sini?” Ternyata dia tidak tahu tempat yang pantas untuk berbuka. Maka, saya arahkan dia menuju RM Garuda di Pluit.

Setiba di sana, ia mohon izin buka puasa di tempat lain. Saya “memaksanya” menemani saya “berbuka” di dalam. Ia mengikuti saya malu-malu.

Setelah semua hidangan tersaji — sekitar 14 macam hidangan — saya pun menyilakan dia makan. Dia bingung. Setiap hidangan yang saya sodorkan, dia tolak. Akhirnya dia mengaku. “Saya bingung, Pak. Maaf. Lauknya banyak sekali.”

Lalu saya singkirkan beberapa piring lauk ke meja sebelah, sehingga hanya sekitar 7 hidangan tinggal di meja. Dia masih tetap termangu-mangu. Saya mulai dengan mengambil ayam pop, dan menyorongkan piring kepadanya. Dia menolak lagi. Lalu, dengan ragu dia mengambil setusuk sate. Saya ambil ikan bilis cabe hijau, dia mengambil juga, tetapi hanya 2-3 ikan bilis kecil.

“Ayo, dong. Jangan malu. Ambil lagi,” pinta saya. Lalu dia menyendok satu potong udang kecil dari sambal goreng udang. Setelah setengah piring, saya sorongkan dendeng balado yang hanya diambil sepotong kecil. Lalu, atas paksaan saya, dia ambil lagi sepotong kecil gulai tunjang.

Saya baru sadar bahwa ternyata dia tidak tahu tatacara makan di rumah makan padang. Dia malu dan hanya mengambil sedikit dari beberapa porsi, tanpa sadar bahwa saya harus membayar untuk seporsi penuh dari porsi-porsi yang dicicipinya.

Saya memang membayar mahal untuk makan malam itu. Tetapi, di dalam perjalanan, si pemuda berkata: “Terima kasih banyak, Pak. Tadi itu untuk pertama kalinya saya makan di restoran. Semoga budi baik Bapak dibalas Allah. Saya sih cuma orang kecil yang tidak mampu.”

Saya terdiam. Agaknya saya terlalu abai selama ini, bahwa di negeri kita ini masih cukup banyak orang-orang yang seperti si pemuda pengemudi taksi itu.

Terima kasih, Tuhan, Engkau telah membukakan mataku.

Selamat Idulfitri, man-temans. Maaf lahir dan batin.

*Jeng Juminten mbeber klasa*
*dodol kupat ngarep gapura*
*Menika dinten Riyaya*
*menawi lepa nyuwun ngapura.*

**
Salam,
Bondan

*ps: kita harus bersyukur bahwa kita mampu makan di restoran. Jangan sungkan untuk memberi kelebihan harta kita kepada orang yg tidak seberuntung kita dalam hal materi. Ajakan ini terutama ditujukan kepada pemilik blog.*

October 19, 2007

Antara Puasa Syawal Dan Hutang Puasa Ramadhan

Masuk Kategori: Fiqh, Ensiklopedia Islam, Puasa

Tanya:”Assalamu’alaykum Wr Wb, mas..”
Jawab:”Wa’alaykumsalam Wr Wb. Ada yg bisa saya bantu?”

T:”Kita ketemu lagi ya? Begini…saya mau tanya tentang puasa Syawal”
J:”Iya…kita ketemu lagi di bulan Syawal. Silakan bertanya, semoga saya bisa membantu?”

T:”Puasa Syawal itu berapa hari ya? Saya agak lupa, 6 hari atau 7 hari?”
J:”Berdasarkan contoh dari Rasululloh SAW, puasa Syawal dilakukan selama 6 hari.”

T:”Kok 6 hari? Kenapa bukan 7 hari? Kan biar pas dari Senin sampai Minggu.”
J:”Jadi begini. Puasa Syawal melengkapi puasa Ramadhan yg baru kita lakukan. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa barangsiapa puasa Ramadhan lalu diikuti puasa Syawal selama 6 hari, ibaratnya dia sudah berpuasa selama setahun penuh.”

T:”Waaahhh…hebat sekaliiii…tapi saya kok jadi bingung. Kok bisa dihitung selama setahun ya?”
J:”Perhitungannya begini. Amal ibadah dihitung 10x, sehingga 1 bulan puasa Ramadhan = 10 bulan puasa. Lalu 6 hari puasa Syawal = 60 hari puasa = 2 bulan puasa. Total 10 + 2 bulan = 12 bulan berpuasa.”

T:”Ooo…begitu yaa..? Ada hadits atau dalilnya ga mas? Saya bukannya tidak yakin, tapi biar lebih sreg.”
J:”Ini dalilnya. “Barangsiapa berpuasa Ramadhan (penuh) lalu diikuti dengan berpuasa enam hari dalam bulan Syawal maka dia seperti berpuasa seumur hidup. (HR. Muslim)”

T:”Lalu, mas…bagaimana sih pelaksanaan puasa Syawal itu?”
J:”Sama seperti puasa2 pada umumnya. KIta berpuasa selama 6 hari di bulan Syawal.”

T:”Apakah mesti berturut-turut? Maksud saya, langsung puasa dari Senin - Sabtu?”
J:”Tidak perlu dilakukan berturut-turut. Yang penting dilakukan di bulan Syawal.”

T:”Istri saya ingin berpuasa Syawal, tapi dia masih punya hutang puasa Ramadhan. Bagaimana dong? Mana yang mesti didahulukan?”
J:”Saya sendiri punya pendapat silakan lakukan puasa yg bisa istri anda lakukan. Jika ingin puasa Syawal dulu, silakan. Jika ingin melunasi hutang puasa Ramadhan dulu, boleh juga…malah lebih baik.”

T:”Ya…saya mengerti. Lebih baik melunasi hutang Ramadhan dulu baru Syawalan ya? Karena puasa Ramadhan itu WAJIB sedang puasa Syawal itu SUNNAH. Bukan begitu mas?”
J:”Ah, anda tepat sekali. Memang itu maksud saya. Hanya saja, kita tidak bisa ’saklek’ begitu.”

T:”Saklek bagaimana? Saya kok tidak mengerti…”
J:”Jadi begini. Puasa Syawal, sesuai penjelasan di atas, MESTI dilakukan di bulan Syawal. Waktunya pendek. Sementara kaum perempuan dalam sebulan itu akan mendapatkan haid/mens selama 7-10 hari. Dengan demikian makin pendek waktu yg dimiliki kaum perempuan.”

T:”Lalu? Lalu?”
J:”Dari penjelasan dan logika itu, saya sendiri TIDAK MELARANG istri saya untuk Syawalan dahulu baru kemudian melunasi hutangnya di bulan-bulan berikutnya.”

T:”Jadi, bagaimana kesimpulannya mas?”
J:”Kesimpulannya:
1. Puasa Syawal, selama 6 hari, dilakukan HANYA DI BULAN SYAWAL
2. Boleh tidak dilakukan berturut-turut
3. Bagi kaum perempuan, sebaiknya lebih baik lunasi dulu hutang puasa Ramadhan baru Syawalan. Tapi menurut saya, sah-sah saja jika hendak Syawalan terlebih dahulu, baru melunasi hutang Ramadhan. Penyebabnya karena waktu Syawal hanya sebentar (hanya 1 bulan).”

T:”Tapi mas…saya kok lebih sreg lunasi hutang Ramadhan baru Syawalan. Ibaratnya, kok ngejar yg sunnah dulu sementara yg wajib malah ditunda? Saya malah punya pikiran, eh, analogi begini. Bagaimana kita sholat sunnah bada’ Isya (yg sunnah) sementara kita belum sholat Isya (yg wajib)?”
J:”Betul sekali. Itu sebabnya, silakan pilih dan tetapkan keyakinan anda. Jika anda, eh, istri anda yakin bahwa dia hendak melunasi Ramadhan dulu baru Syawalan ya monggo. Mau Syawalan dulu, seperti istri saya, juga monggo. Intinya: JANGAN MEMPERSULIT diri sendiri..”

T:”Ok mas…terima kasih…”
J:”Sama-sama…”

T:”Wassalamu’alaykum wr wb…”
J:”Wa’alaykumsalam wr wb. Oya, Taqabalallahu minna wa minkum. Shiyaamana wa shiyaamakum. Minal ‘aidin wal faizin. Maaf lahir dan batin ya mas?”

T:”Oya ya…sama-sama mas…aamiin…”
J:*salaman dg mas T*

*artikel terkait: Puasa Syawal*

October 12, 2007

Bacaan di Akhir Pekan - Lebaran itu Haknya Allah, Kok Diributkan?

Masuk Kategori: Fiqh, Hikmah, Dari Inboxku, Puasa

Wawancara Majalah TEMPO, 4 Oktober 2007

Mustofa Bisri:
Lebaran itu Haknya Allah, Kok Diributkan

Lengannya cepat-cepat ditarik setiap kali ada lawan bicara berusaha menjemba tangannya untuk dicium. Tampaknya dia jengah dengan tradisi mencium tangan para kiai. Di daftar riwayat hidupnya, tertera pekerjaan sebagai penulis. Padahal, kalau mau, dia bisa menyebut “Pengasuh Pondok Pesantren”, “Rais Syuriah PB NU”, atau atribut bergengsi lain.

Jadwalnya selalu padat, dia kerap bepergian. Tapi, di bulan Ramadan, Ahmad Mustofa Bisri menjadi mudah ditemui. Datang saja ke Kompleks Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin atau Taman Pelajar di Rembang, Jawa Tengah. Pasti Gus Mus–begitu dia biasa disapa–ada di sana. Sejak kakaknya, Cholil Bisri, wafat, dialah yang menjadi pengasuh pondok peninggalan orang tua mereka. ”Selama 11 bulan saya kerap meninggalkan rumah. Kini giliran satu bulan bersama keluarga di rumah,” begitu dalihnya menampik berbagai undangan berceramah dan sebagainya.

Supel dan hangat, Mustofa Bisri mudah bergaul dengan siapa saja. Kehidupan sosialnya, yang luas dan kaya, terbaca dengan mudah. Ketika dia menikahkan anaknya pada Agustus lalu, misalnya, tamu mengalir dari mana-mana, tanpa mengenal kelas, suku, agama.

Kiai Bisri adalah teman berbincang yang asyik. Tutur katanya lembut–nyaris tanpa tekanan, bahkan saat menyampaikan soal yang tidak ia sukai. Asap rokok nyaris tidak berhenti mengepul dari mulutnya saat dia memberikan wawancara. Rokok kretek sigaret dan kretek filter bergantian dia isap melalui sebuah pipa gading cokelat. ”Saya sedang banyak keinginan. Mau nulis buku, bikin novel, cerpen, dan juga merampungkan 50 tulisan dalam satu tema, tapi baru selesai lima,” ujarnya. Produktivitasnya dalam menulis, baik sastra maupun buku agama, sulit ditandingi kiai lain.

Di ruang tamu rumahnya, dihiasi hamparan karpet hijau tanpa perabot, Gus Mus menerima Imron Rosyid dan Rofiuddin dari Tempo pada Jumat malam pekan lalu. Sembari lesehan, dia menjelaskan keberagaman beragama, termasuk dalam hal merayakan Idul Fitri. Ditemani secangkir kopi lelet dan beragam kue suguhan santrinya, waktu dua jam terasa cepat berlalu.

Berikut ini nukilannya.

Bagaimana Anda melihat perbedaan penetapan Idul Fitri tahun ini?
Akar masalahnya adalah negara kita bukan negara agama, bukan pula negara sekuler. Jadi pemerintah bingung, he-he-he…. Menurut pakemnya, yang berwenang menetapkan Lebaran adalah pemerintah. Dulu zaman Nabi ndak sulit-sulit, cah angon lapor lihat bulan, Nabi hanya tanya, “Kamu syahadat tidak?” “Ya, saya syahadat.” Sudah gitu saja. Nabi kemudian bilang kepada bilal untuk diumumkan. Jadi ndak disumpah atau pakai teropong. Jadi, kalau pemerintah sudah menetapkan, itu sudah cukup. Cuma pemerintah itu ingin harmoni, menenggang perasaan, minta pendapat segala, bagaimana organisasi-organisasi Islam. Ndak usah begitu.

Jadi sebaiknya ormas-ormas Islam tinggal mengikut pemerintah?
Ya, pemerintah saja yang menetapkan. Yang tidak cocok, ya, sudah biarkan. Wong negara Pancasila, kok. Orang tidak puasa, tidak salat saja dibiarkan, kok. Orang Indonesia harus bersyukur. Negara-negara lain dikasih Lebaran sama Tuhan hanya sekali, kita dikasih dua, malah gegeran. Coba tanya kepada pedagang ternak, Idul Adha kemarin mereka senang sekali; hari ini belum laku, besok masih ada Lebaran. Jadi kenapa ribut? Lebaran itu haknya Tuhan.

Dasarnya kita mengikuti pemerintah itu apa?
Dasarnya, memang dari dulu yang menetapkan itu sultan. Zaman sekarang sultan itu pemerintah. Jadi, kalau kita lihat di kitab-kitab, penetapan awal Ramadan, hari raya, semuanya pemerintah. Perbedaan perhitungan hisab dan rukyat itu wajar dan sudah terjadi dari dulu.

Tapi sekarang kan terjadi perbedaan….
Karena sekarang kita cuma melihat pada perbedaan metode penetapan. Kita lupa siapa yang berhak menetapkan. Makanya istilah NU itu tidak menetapkan, tapi ikhbar, memberitahukan. Orang-orang NU mau ikut, ya, silakan. Tidak, ya, silakan. Pemerintah mau memaksakan? Wong bukan negara Islam. Jadi caranya menetapkan saja. Siapa yang tidak mau, ya, sudah. Kenapa sih harus diseragamkan? Kalau semua harus seragam, nanti balik ke Orde Baru.

Mungkin maksudnya agar rakyat tidak bingung?
Rakyat enggak bisa bingung. Wong sudah bingung terus-terusan. Segala masalah bikin bingung. Gusti Allah itu paham sekali sama hamba-Nya, jadi kita enggak usah ribut. Agama itu mudah. Tapi, kalau orang memperberat agama, dia akan kesulitan sendiri. Perkara mudah, ya, sudah dibuat mudah.

Dulu apa pernah muncul perbedaan penetapan Ramadan atau Lebaran?
Ndak, karena semua tahu itu adalah haknya Allah. Dan semua taat kepada pemerintah. Sekarang ini kan ada permasalahan politis segala….

Maksud Anda sekarang ada ormas Islam tertentu tidak taat terhadap penetapan pemerintah?
Bukan begitu. Dalam soal ini, mereka beranggapan itu adalah soal keyakinan yang tidak bisa dipaksakan, terutama oleh pemerintahan yang bukan Islam. Seperti yang saya katakan di awal tadi, kita itu bukan negara agama dan juga bukan negara sekuler. Karena bukan negara sekuler, jadi ngurusi Lebaran dan ngurusi haji. Tapi, karena bukan negara agama, ya, tidak memaksakan.

Di Arab atau di negara lain, apakah dua metode penghitungan bisa isatukan?
Ya, enggak bisa. Kan, sudah berabad-abad. Itu muncul ketika ada ilmu falak, ilmu hisab. Orang-orang bisa menghitung. Yang satu melihat tradisi pada zaman Nabi yang melihat langsung. Sedangkan yang paham ilmu perbintangan bisa menghitung sendiri. Kalau yang terjadi tidak sama, kita ambil hikmah saja. Ooh… ternyata Gusti Allah memberikan Lebaran dua kali.

Upaya Wakil Presiden mempertemukan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah untuk mencari solusi, menurut Anda, apakah ada manfaatnya?
Kita itu kan senangnya harmoni, aman, salatnya bareng-bareng. Sebetulnya, yang harus bareng itu hatinya. Kalau hatinya enggak bisa bareng, bagaimana badannya bisa?

Pentingkah ada satu Lebaran saja?
Enggak penting. Yang lebih penting, penganggur masih banyak, kemiskinan masih jauh dari penyelesaian. Tapi urusannya Gusti Allah yang malah diributkan.

Pada level umat kerap timbul masalah. Tahun lalu, ada ormas dilarang menggunakan lapangan karena Lebarannya tidak sama dengan pemerintah…. Itu karena orang enggak ngerti bahwa penetapan Lebaran haknya pemerintah. Kalau pemerintah menetapkan Lebaran hari Senin, misalnya, semua aparat pemerintah, dari gubernur, bupati, sampai lurah, harus taat hari Senin. Ormas yang lain boleh saja beda, tapi jangan pakai fasilitas milik pemerintah. Kalau Anda Selasa, ya, cari lapangan lain. Jadi itu jalan tengahnya.

Jadi Islam itu beragam?
Beragam. Dari dulu sudah beragam. Ada Syiah, ada Khawaridj, segala macam. Islam itu ada lebih dari 70 golongan.

Apakah keragaman ini yang memunculkan kategorisasi Islam keras, moderat, atau Islam “garis tengah”?
Itu kan ada ajarannya semua. Dari dulu sudah ada ajaran keras, seperti Khawaridj, yang hanya mau memaksakan pendapatnya sendiri. “Pokoknya yang tidak sama dengan saya itu kafir.” Itu bawaan manusia, mbegug (berkukuh–Red.) dengan pendapatnya sendiri, memutlakkan dirinya sendiri. Juga ada yang toleran dan moderat.

Ada dampak kategorisasi itu dalam kehidupan kita?
Untuk pembelajaran demokrasi, ya, positif dengan adanya perbedaan-perbedaan. Segi negatifnya juga ada, karena terjadi benturan. Apalagi kalau benturan itu keras dengan keras.

Kategorisasi itu bukan berasal dari Islamnya?
Muslim yang memahami Islam dapat berbeda-beda. Tapi Islamnya tetap satu. Gusti Allah satu, nabinya satu, kitabnya satu. Dalam memahami kitab memang berbeda. Ada yang memandang teks, ada yang kontekstual. Padahal di Quran itu ada asbabun nuzul. Quran itu tidak rekaman, hadis bukan rekaman. Nabi tidak merekam (Gus Mus menirukan seperti orang berbicara di depan rekaman) hadis, tapi hadis disabdakan sesuai dengan konteks pada saat itu.

Bagaimana menyikapi perbedaan itu?
Dari zaman sahabat, sudah ada perbedaan. Cuma, mereka diajari oleh Nabi, ada yang prinsip, ada yang tidak prinsip. Pernah ada dua orang datang ke Rasulullah, mengadukan bacaan Qurannya yang tidak sama. Dijawab, kalau kalian semua itu baik, tidak usah gegeran. Kita sering menggegerkan hal-hal yang tidak prinsip. Yang prinsip adalah tauhid aqidah. Laillah ha Illallah Muhammadurasulullah, itu yang paling prinsip. Yang lain-lain tidak prinsip. Salat zuhur itu mesti empat rakaat, ndak bisa dipikir-pikirkan lagi. Jangan karena waktu subuh itu enak buat olahraga, terus kemudian dipikir-pikirkan enak bila ditambah rakaatnya. Itu ndak bisa. Menetapkan Ramadan, Lebaran, juga masalah kecil yang bukan prinsip.

Menurut Anda, yang lebih sulit menerima perbedaan itu masyarakat biasa atau elite?
Rakyat bergantung pada elite (Gus Mus mengutip pepatah Arab yang artinya orang itu bergantung pada elite, pada pemimpinnya). Kalau pemimpinnya korupsi, rakyatnya nyopet. Pemerintah menjarah pabrik, rakyatnya menjarah toko. Makanya, pemimpin harus mulai mengajari orang supaya bisa berbeda, bukan memaksakan keseragaman terus-menerus.

Ada yang bilang kelompok garis keras–yang sukar menerima perbedaan–kian mendapat tempat di Indonesia. Apa komentar Anda?
Dari dulu sampai sekarang, ada orang yang amat ngotot dan ada yang tidak. Mungkin nanti bergantung pada rakyat Indonesia, apakah mayoritasnya nanti adalah (golongan) yang ngotot atau tidak. Kelompok yang ngotot ini timbul karena banyak sebab. Mungkin kaku hatinya, jengkel karena melihat yang lunak, yang moderat ndak berhasil. Ada faktor ekonomi juga. Ke depan nanti tergantung sejauh mana kita mau mempelajari agama itu sendiri.

Maksudnya, kelompok garis keras kurang mempelajari agama?
Secara kelakar ada yang mengatakan sampean baru belajar sampai bab ghodob, bab marah, terus berhenti. Jadi sampean marah terus, he-he-he…. Padahal nanti ada bab sabar, bab tawaduk, bab segala macam, masih banyak sekali. Kalau mau belajar terus, insya Allah akan mantap. Saya khawatir terhadap orang yang merasa sudah sempurna, lalu menganggap yang lain jahanam semua. Ini malah berbahaya. Orang yang memutlakkan diri sendiri itu sudah syirik, minimal syirik samar, karena yang mutlak benar itu hanya Allah.

Apakah kelompok yang ingin Indonesia harus jadi negara agama perlu diberi kesempatan?
Ya, tidak semudah itu. Negara agama itu seperti siapa? Saudi bukan negara Islam, ia negara wahabi. Pakistan negara militer. Anda bayangkan saja misalnya Indonesia nanti kalau jadi negara agama. Lalu siapa kira-kira presidennya. Terus siapa menterinya.

Belakangan banyak dai muda berdakwah secara ngepop. Apa pendapat Anda tentang fenomena ini?
Itulah yang saya sebut semangat keberagamaan. Orang kota melihat perlu ada modernisasi dakwah. Dulu Hamka menjadi terkenal karena dia orang pesantren yang mengerti bahasa kota. Sekarang jarang orang desa punya bahasa itu. Maka orang kota yang tampil, entah itu artis atau siapa saja yang merasa ngerti agama. Memang ada sabda Rasul yang mengatakan, “Sampaikan dariku walau satu ayat.” Kemudian orang berbondong-bondong, meski hanya punya satu ayat, langsung jadi mubalig. Dia menyampaikan bagus-bagus saja, tapi agar tidak hanya satu ayat, dia harus nyetrum aki, ngecas, supaya tidak habis atau lemah baterai.

Bisa beri contoh bahwa dakwah para ustad kontemporer baru sebatas semangat?
Lihat saja perilakunya. Yang dibicarakan itu-itu saja, soal ibadah mahdoh, ibadah murni, ibadah ritual. Padahal Islam ada ibadah sosial. Kenapa tidak bicara tentang keadilan, hak asasi manusia, kemanusiaan, kejujuran dalam pergaulan hidup? Bagaimana menyantuni orang dhoif dan seterusnya? Itu tidak bisa diselesaikan dengan pidato, ceramah, khotbah. Kalau Islam tampil menegakkan keadilan, memberantas korupsi, membela orang lemah, itu menjadi dakwah tersendiri. Orang akan melihat bahwa Islam itu mulia.

Kami dengar banyak yang mencalonkan Anda menjadi Gubernur Jawa Tengah pada
pemilihan tahun depan?

Saya itu diminta untuk pidato kebudayaan di Dewan Kesenian Cabang Rembang saja tidak mau, kok, disuruh jadi gubernur. Jelas tidak mau. Kalau disuruh baca cerpen, saya mau. Kebanyakan orang sudah tahu siapa saya. Istilahnya, “wong gak genah”, he-he-he….

Mustofa Bisri

Lahir: Rembang, 10 Agustus 1944
Pendidikan: Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir
Pekerjaan: - Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin
– Rais Syuriah PB Nahdlatul Ulama
– Penulis puisi dan cerita pendek, kerap menulis dengan nama samaran M. Ustov Abi Sri






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham