Tausyiah275

September 12, 2007

Bermaaf-maafan Menjelang Ramadhan Dan Saat Lebaran

Hampir setahun lalu, aku menulis sebuah artikel berisi tradisi menjelang Ramadhan. Dalam salah satu poin, aku tuliskan bahwa di Indonesia berlaku tradisi untuk mengucapkan maaf kepada orang lain, meminta maaf atas kesalahan2 yg pernah diperbuat, beberapa hari menjelang Ramadhan dimulai.

Aku berniat MENGGUGAT tradisi ini. Mengapa? Kembali, Rasululloh SAW TIDAK PERNAH MENCONTOHKAN kegiatan ini!

Lho, bukankah ini perbuatan baik? Kenapa dilarang?

Saudara2ku, kegiatan maaf memaafkan memang baik, tapi hendaknya DILAKUKAN TIDAK SAJA MENJELANG RAMADHAN, namun (jika perlu) dilakukan tiap hari setelah sebelumnya melakukan muhasabah.

Aku sendiri jelas mempunyai banyak kesalahan, terlebih lagi karena kita semua bukanlah Nabi yang ma’sum (terjaga dari kesalahan). Namun demikian, sekali lagi, aku TIDAK PERNAH MENEMUKAN hadits ataupun contoh Nabi, bahkan ijtihad para ulama, yg menyatakan/mencontohkan sikap/tindakan saling memaafkan menjelang Ramadhan.

Perbuatan meminta maaf hendaklah dilakukan segera setelah kita melakukan perbuatan salah, baik sengaja ataupun tidak. Bukankah hal tidak mungkin, apabila pada 17 Agustus lalu, saat kita menonton acara 17an, lalu kita menginjak kaki seseorang…lalu baru meminta maaf sekarang?

Selain itu, ‘tradisi’ meminta maaf ini kadangnya sifatnya musiman. Maksudnya, 2 hari menjelang Ramadhan, si A meminta maaf kepada si B, tapi saat tarawih malam pertama, si A berbuat kesalahan dan tidak meminta maaf. Walhasil, permintaan maaf yg dilontarkan si A beberapa hari yg lalu terkesan hanya sebatas ucapan di bibir saja, tidak diikuti dg niat dan tindakan yg nyata.

Hal kedua yg hendak aku gugat adalah pernyataan maaf saat Lebaran (’Idul Fitri) tiba. Sama halnya dg tradisi bermaaf-maafan menjelang Ramadhan, untuk kasus ini aku juga tidak temukan di hadits manapun. Barangkali hanya tradisi di Indonesia dan kaum Muslim di Timur saja ya?

Rasululloh SAW sendiri memberikan contoh, pada saat Lebaran tiba, beliau mengucapkan,”taqabbalallahu minaa wa minka”, yang maknanya, “Semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda.” Hanya saja, hadits ini dianggap dhaif oleh ulama Al Baihaqi.

Adapun di masyarakat kita, sudah terjadi salah kaprah. Ucapan yg senantiasa terlontar adalah “Minal ‘Aidzin wal Faidzin”, yg diteruskan dg “Mohon Maaf Lahir Batin”. Padahal, ucapan lengkapnya adalah “Ja’alanallahu Wa Iyyakum Minal ‘Aidin Wal Faidzin”, yg artinya “Semoga ALLOH SWT menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang)”.

Padahal sebenarnya ucapan tersebut hanyalah KEBIASAAN di masyarakat. Selain itu, ucapan tersebut lebih layak diberikan kepada orang2 yg memang telah berhasil menjalani ibadah Ramadhan dg ibadah yg benar serta berbekas di bulan2 selanjutnya.

Sayangnya, kesalahkaprahan ini sudah sedemikian merasuk. Orang2 yg puasa Ramadhannya masih ‘bolong2′, kemudian tetap mengeluh saat Ramadhan tiba (sehingga hatinya tidak ikut berpuasa dg baik) ikut diucapi kalimat ini.

Lalu, ucapan Lebaran seperti apa yg ‘benar’?

Memang, ucapan Lebaran ini tidak termasuk kepada ritual/ibadah. Tidak dicontohkan oleh Rasululloh SAW, bukan berarti ucapan Minal ‘Aidzin ini lantas dilarang. Aku sendiri menulis artikel ini tidak berarti ‘mengharamkan’ ucapan2 Lebaran yg berlangsung di masyarakat kita…justru aku juga senang dg ucapan2 Lebaran tersebut, karena pada dasarnya ucapan2 tersebut adalah DOA.

Aku hanya berniat ‘meluruskan’ dan memberitahukan apa2 (pengetahuan agama) yg aku ketahui. Tugasku hanya menyampaikan, tidak ada paksaan untuk mengikuti apa2 yg aku tuliskan, karena aku manusia biasa, bisa jadi yg aku ucapkan dan tuliskan justru salah.

Jadi…jika anda-anda pendukung gerakan ini merasa tersudutkan atau telinganya menjadi panas serta hatinya geram apalagi sampai merasa kebakaran jenggot, aku minta maaf untuk kelancanganku ini.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham