Tausyiah275

July 26, 2007

Tata Cara Mandi Besar

Di artikel lalu, aku telah tuliskan alasan/penyebab kita mesti mandi wajib/mandi besar/mandi junub/mandi janabah. Kini, aku akan tuliskan tata cara mandi besar.

Ada beberapa riwayat/cara untuk melakukan mandi junub ini.
1. Riwayat Aisyah r.a
“Aisyah r.a. berkata: Sesungguhnya Rasululloh SAW apabila mandi janabat (mandi besar), memulai dengan membasuh kedua tangannya, lalu membasuh kemaluannya dengan tangan kiri, kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, lalu menggosok-gosok kulit kepalanya hingga basah, kemudian mencucurkan air tiga kali pada kepalanya, lalu ke seluruh tubuhnya.” (H.R. Bukhari-Muslim)

2. Riwayat Maimunah r.a., isinya hampir serupa dengan hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah. Perbedaannya adalah MENGGOSOK-GOSOKKAN TANGANNYA KE TANAH. Hadits lengkapnya adalah sebagai berikut,Maimunah berkata, “Aku pernah meletakkan (dalam satu riwayat lain : menuangkan) air untuk Rasulullah untuk dipakai mandi [janabah, 1/ 68] [dan aku menutupnya]. Beliau lalu membasuh kedua tangannya dua atau tiga kali, kemudian menuangkan air [dengan tangan kanannya] atas tangan kirinya, lalu beliau membasuh kemaluan: dan apa-apa yang ada di sekitarnya yang terkena kotoran. Beliau lalu menggosok-gosokkan tangannya dengan tanah (dan dalam satu riwayat: menggosokkannya ke dinding, 1/70; dalam riwayat lain: dengan tangan atau dinding, 1/71 dan 72) [sebanyak dua atau tiga kali] [kemudian mencucinya], lalu berkumur-kumur, mencuci hidungnya dengan air, membasuh wajah dan kedua tangannya [dan membasuh kepalanya tiga kali 1/71], (dalam satu riwayat: berwudhu seperti wudhunya untuk shalat, hanya saja tidak membasuh kakinya, 1/68), kemudian menyiramkan air ke seluruh tubuhnya, lalu bergerak dari tempatnya dan mencuci kedua kakinya, [kemudian dibawakan sapu tangan kepada beliau, tetapi beliau tidak menggunakannya untuk mengusap tubuhnya (dalam satu riwayat: lalu aku bawakan penyeka/handuk, tapi beliau memberi tanda begini, yang maksudnya beliau tidak memerlukannya), (dalam riwayat lain: lalu aku bawakan kain, tetapi tidak beliau ambil, beliau malah mengibaskan {sisa-sisa air di tubuhnya} dengan kedua tangannya.)].”

Hadits di atas diambil dari Shahih Bukhari di kitab mandi.

Jadi, secara garis besar, berdasar kedua riwayat di atas, urutan mandi besar adalah:
1. Membasuh kedua tangan,
2. Membasuh kemaluan dengan tangan kiri (tangan kanan mengguyur air ke bagian kemaluan),
3. (Optional) Menggosok-gosokkan tangannya ke tanah,
4. Berwudhu seperti biasa,
5. Membasuh kepala (hingga basah merata di kepala), dan
6. Membasuh seluruh badan.

Untuk perempuan yang berambut panjang dan ikal/lebat, poin (5) akan dirasa menyulitkan karena akan membuat rambut mereka susah kering. Bahkan untuk beberapa perempuan, rambut yg basah akan membuat mereka sakit kepala. Lantas bagaimana solusinya? Ternyata Rasululloh SAW memberi keringanan, dengan cara mengikat rambutnya lalu mencucurkan air di atas kepalanya tiga kali, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut, “Kata Ummi Salam r.a., saya pernah bertanya kepada Rasululloh SAW: “Ya Rasululloh, saya wanita yang berambut panjang dan lebat, apakah saya harus membuka ikatan rambut saya? Nabi SAW menjawab: “Tidak perlu, cucurkan tiga gayung air pada kepalamu, itu sudah cukup.” (H.R. Muslim)

Lalu, siapa yg mesti saya ikuti? Aisyah r.a atau Maimunah r.a? Tidak perlu saling menyalahkan, ikuti saja salah satu, yang membuat anda mantap. Insya ALLOH keduanya benar, karena didasari hadits yg shahih.

Semoga artikel ini bermanfaat.

July 24, 2007

Hari Anak dan Anak Yatim

Masuk Kategori: HOT NEWS, Fiqh, Hikmah, Lain-lain

Tanggal 23 Juli diperingati sebagai hari Anak di Indonesia. Biasanya, di berbagai tempat di Indonesia, dilakukan pergelaran ataupun acara hiburan untuk memperingatinya. Puluhan, ratusan anak diundang dan ikut berpartisipasi dalam acara tersebut, didampingi oleh orang tuanya.

Saudaraku, kegiatan di atas tidaklah salah. Sah-sah saja (bahkan manusiawi sekali) para orang tua mempunyai keinginan untuk membahagiakan anak-anak mereka, dengan mengajak jalan-jalan, membelikan mainan, ataupun mengikutsertakan anak mereka dalam acara2 seperti yg aku tulis di atas.

Namun, alangkah lebih baik lagi, jika para orang tua tersebut mendidik anaknya untuk belajar berbagi keceriaan dan kesenangan dengan anak-anak yatim, anak-anak yang tidak seberuntung anak-anak mereka, baik dalam hal kesejahteraan (materi) maupun kasih sayang. Mulai ajari dan tumbuhkan perasaan empati kepada anak-anak untuk lebih menghargai dan mau berbagi dengan lingkungan sosialnya, terlebih lagi masih banyak sekali anak-anak yang tidak seberuntung mereka.

Metodenya bermacam-macam. Dari pengalamanku dan cerita2 yang aku dengar, aku tuliskan saja beberapa cara mendidik anak untuk menumbuhkan empati:
1. Ajak mereka pergi ke panti asuhan. Jika perlu, rayakan ulang tahun di panti asuhan, berbagi keceriaan dengan teman-teman sebayanya yang, barangkali, tidak pernah merayakan ulang tahun.
2. Berikan uang kepada anak kita, untuk diberikan kepada pengemis (tentu saja pastikan pengemisnya layak menerima). Dengan begitu, kita mengajarkan anak kita untuk tidak sungkan memberi kepada orang yg berhak.
3. Tidak perlu tampil bermewah-mewah, meski kita mampu untuk itu. Penampilan sederhana akan membuat anak lebih mudah bergaul dengan semua kalangan, tanpa perlu melihat kelas sosial.
4. (Bagi ibu-ibu) Anak diajak ke pasar tradisional untuk belanja. Perlihatkan kepada mereka, bahwa pedagang di pasar adalah sosok yg penuh semangat untuk bekerja, tidak pantang menyerah.
5. Di hari Jum’at, berikan uang Rp1000-Rp5000 untuk dimasukkan ke dalam kotak amal. Didik mereka agar mulai terbiasa berinfaq, insya ALLOH saat mereka besar nanti, tangan mereka juga akan mudah untuk menyumbang.
(silakan tambahkan cara2 untuk menumbuhkan empati, di bagian komentar ya?)

Kewajiban orang tua terhadap anaknya sudah pernah aku bahas (termasuk memberi anak nama yang baik). Silakan baca tayangan tivi yg tidak mendidik (untuk mencegah dampak negatif tv kepada anak), tidak membunuh anak karena takut miskin, serta poin2 penting lainnya.

Jangan sampai anak kita tumbuh menjadi orang yg ‘gemar’ menghardik (membentak) anak yatim, karena sesungguhnya orang2 yg menghardik anak yatim sudah jelas dicap sebagai pendusta agama. Perhatikan firman ALLOH SWT sebagai berikut,”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? — Itulah orang yang menghardik anak yatim, — dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Al Maa’un(107):1-3)

Bayangkan, baru sebatas tindakan menghardik dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin saja sudah ALLOH SWT anggap sebagai pendusta agama…karenanya, aku sangat tersentak dan miris ketika mendengar kabar bahwa ada demonstrasi anak yatim yg diusir paksa. Masya ALLOH…maka tidak heran jika Indonesia selalu dilanda bencana demi bencana, karena orang2nya masih banyak yang tidak etis memperlakukan anak yatim (dan orang miskin).

Yuk saudaraku, mari kita belajar lebih menghargai anak yatim dan anak miskin…serta menularkan kebaikan ini. Jika kebajikan sudah banyak disebar di Indonesia, insya ALLOH bencana2 itu akan diangkat ALLOH SWT.

July 21, 2007

Bacaan Di Akhir Pekan - 75 Ribu Menjadi 7,5 Juta

Masuk Kategori: Hikmah

Kita mungkin sudah sering mendengar cerita/pengalaman orang lain mengenai manfaat sedekah. Salah satunya adalah janji ALLOH SWT yang akan membalas hingga 100x lipat (dan masih bisa lebih besar lagi) untuk sedekah yang dilakukan. Cerita di bawah ini bisa menjadi salah satu bukti ALLOH SWT tidak pernah ingkar janji.

Pak Irham, demikian tokoh kita kali ini. Bersama istrinya, ibu Ati, mereka berdua bekerja sebagai staf IT (Information Technology). Setelah beberapa lama bekerja, mereka berhasil mempunyai sebuah laptop yang bisa mereka gunakan sebagai sarana hiburan di rumah.

Selang waktu, mereka berencana memasang koneksi internet murah meriah di rumah mereka. Persoalan mulai timbul ketika mereka berpikir bahwa mereka mulai membutuhkan komputer baru, karena jika laptop yang ada sekarang akan digunakan untuk terhubung ke internet, sementara ada salah satu pihak yang ingin bekerja, maka jelas tidak mungkin laptop dimatikan.

Pikiran ini terus menghantui benak suami istri ini. Hingga pada saat pemasangan alat untuk koneksi internet, mereka memberikan uang lelah (tips) kepada petugas pemasang. Selain sebagai rasa terima kasih atas layanan yang telah diberikan si petugas (yg sedemikian baik dan ramah), mereka juga berniat menyumbang/sedekah, karena mereka berdua tahu bahwa gaji seorang petugas seperti, katakanlah mas Edo, tidaklah besar.

Ternyata sedekah yang mereka lakukan, langsung dibayar kontan oleh ALLOH SWT. Tidak sampai seminggu setelah mereka ‘bersedekah’ kepada mas Edo, pak Irham mendapat sebuah laptop dari kantornya bekerja. Bukan laptop baru, serta tidak bisa dimiliki (masih milik kantor alias inventori kantor), namun jika menilik harga laptop tersebut, sebesar Rp 7,5 juta di pasaran, MASYA ALLOH….TEPAT 100X LIPAT DARI SEDEKAH yang pak Irham dan ibu Ati berikan kepada mas Edo.

Ucapan terima kasih kepada ALLOH SWT dan keyakinan (yang kian tebal) akan janji ALLOH SWT membuat pasangan suami istri ini lebih giat untuk bersedekah dan membantu orang lain.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih ragu-ragu dengan janji ALLOH SWT? Atau malah kita sudah sering menjadi saksi dari janji ALLOH SWT?

Mari…mari…kita perbanyak sedekah dan membantu orang lain, terutama orang-orang yang tidak seberuntung kita. Insya ALLOH, jika kita niatkan IKHLAS, maka balasan yg berlipat ganda akan diberikan, tidak saja di akhirat, bahkan di dunia pun akan dibayar kontan.

July 19, 2007

HENTIKAN Politisasi Haji!!

Masuk Kategori: HOT NEWS, Seri Kesalahan2

Beberapa hari lalu, Menteri Agama mengeluarkan pernyataan yang sangat MENGEJUTKAN jika tidak disebut MEMBINGUNGKAN. Pernyataan tersebut adalah MEMBOIKOT PENGIRIMAN JAMA’AH HAJI KE SAUDI ARABIA diakibatkan pemerintah Arab Saudi berencana melarang pesawat-pesawat terbang Indonesia. Yang pernah aku baca (sayangnya aku lupa sumbernya), larangan ini terkait keselamatan dan keamanan pesawat2 dari Indonesia yg dirasa sangat minim (jika tidak ingin disebut TIDAK ADA).

Pelarangan pesawat2 terbang dari Indonesia juga sudah dilakukan oleh komite dari Eropa Bersatu beberapa hari lalu. Namun, setelah dilakukan pendekatan dan inspeksi dari ketua penerbangan tim EU, nampaknya didapat hasil bahwa tim penerbangan dari EU terlalu dini mengambil kesimpulan.

Herannya, untuk masalah ini (dg pemerintah Arab Saudi), pemerintah Indonesia seperti tidak berpikir panjang. Menag bukannya berdiskusi dg pemerintah Arab Saudi, tapi secara sepihak mengeluarkan pernyataan boikot haji!! Yang lebih ‘parahnya’, hal ini didukung oleh beberapa tokoh Islam lainnya.

Melalui artikel ini, aku mengharapkan agar MENTERI AGAMA MENGHENTIKAN TINDAKAN BOIKOTNYA. HENTIKAN POLITISASI IBADAH HAJI!

Pak Menteri, apa anda tidak terpikir apa resiko dari tindakan anda itu?
1. Anda melarang kaum muslim untuk naik haji karena masalah penerbangan. Padahal masalah penerbangan mestinya bisa diselesaikan baik-baik.
2. Anda tidak bisa memilah dan memisahkan antara politik dan agama. Politik boleh konfrontasi, tapi ibadah (agama) yg merupakan tuntunan dari Rasululloh SAW mesti jalan terus.
3. Jika memang penerbangan dilarang, tugas anda adalah memikirkan cara alternatif, bukannya malah mengeluarkan pernyataan seperti ini, malah memperkeruh suasana.
4. Jabatan menteri itu efeknya besar. Tindakan dukungan dari tokoh2 Islam lainnya (di sini dan di sini) menunjukkan anda jangan asal bunyi atau asal boikot begitu saja. Untung saja masih ada yg berani menolak.
5. Adapun alasan bahwa pemerintah Arab Saudi tidak memperlakukan jama’ah haji Indonesia dg baik, itu justru mesti anda bahas baik, bukan main boikot begitu saja.

Oya pak, lebih baik pak menteri cek masalah catering saja, jangan sampai kejadian tahun kemarin terulang lagi. Naik haji kok kelaparan, piye toh?

Duh, pemerintah Indonesia memang aneh-aneh saja…
*geleng2 kepala*
terima kasih untuk mas Naif

Rahmat, Taufik, Hidayah, dan Inayah

Masuk Kategori: Ensiklopedia Islam

Keempat kata di atas seringkali kita temui, tidak saja dalam acara pengajian atau hal2 yg terkait agama, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya, apakah makna sebenarnya dari 4 kata di atas?

Rahmat = kasih sayang (dari) ALLOH SWT;
Taufik = restu/ijin (dari) ALLOH SWT untuk amal-amal baik yg kita lakukan;
Hidayah = petunjuk dan bimbingan (dari) ALLOH SWT;
Inayah = bantuan dan pertolongan (dari) ALLOH SWT.

Rinciannya akan aku jelaskan kali lain, insya ALLOH

July 14, 2007

Bacaan di Akhir Pekan - Kesan Orang Saat Kita Mati Nanti

Masuk Kategori: HOT NEWS, Hikmah

Beberapa hari terakhir, kita dikejutkan dengan meninggalnya salah seorang saudara kita, Muhammad Taufik atau yang lebih dikenal dengan nama Taufik Savalas. Dia meninggalkan dunia yang fana ini, menghadap Sang Khalik, setelah mengalami kecelakaan yang cukup parah di daerah Jawa Tengah.

Menyaksikan sepak terjang Taufik Savalas selama hidupnya, dia tidak hanya rajin ‘mencari’ dunia (dengan bekerja keras) namun juga mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak (banyak menyantuni kaum yang tidak beruntung, naik haji, dst dst).

Ketika aku melihat tayangan di televisi yang menunjukkan betapa banyaknya orang yang mengantar Taufik Savalas, aku bisa bayangkan betapa banyak kebaikan yang telah ditebarnya. Belum lagi saat menyaksikan kesaksian orang2 tentang Taufik Savalas.

Hampir semua saksi menyatakan bahwa Taufik Savalas adalah pribadi yang mengesankan, baik, ramah, tidak sombong, rendah hati, dan kata2 yang mewakili kebaikan. Belum lagi saat para saksi juga menyatakan bahwa almarhum adalah guru spiritual yang baik, senantiasa mengajak kepada kebajikan, menjadi penengah apabila terjadi pertikaian, menjadi penyejuk apabila suasan panas melanda.

Terus terang, aku iri sekali dengan rahimahullah (trims buat mas Luthfi), terutama bagaimana rahimahullah dikenang orang. Nyaris semua orang mengatakan, yang intinya, rahimahullah adalah orang baik.

Adapun cara rahimahullah meninggal adalah kuasa ALLOH SWT bagaimana DIA menjemput hamba-Nya.

Aku yakin, rasa kehilangan tidak hanya dirasakan oleh keluarga rahimahullah. Banyak orang yang merindukan kehadiran rahimahullah, karena nyaris semua orang mengatakan bahwa saat hidupnya, kehadiran rahimahullah senantiasa membawa keceriaan dan aura positif kepada orang2 di sekitarnya.

Berbeda dengan para penjahat. Kematian mereka justru melegakan banyak orang, karena selama hidupnya mereka senantiasa membuat keonaran dan meresahkan masyarakat.

Saat hendak dikuburkan, mereka juga tidak dipedulikan banyak orang. Bahkan banyak orang malah bersyukur dan mencibir serta tidak ambil pusing dengan lokasi kuburan mereka.

Jadi, mari kita tengok lagi perjalanan hidup dan amalan kita (muhasabah). Lihatlah ‘catatan’ kita…kesan apa yang akan kita dapatkan saat kita mati nanti? Orang2 merindukan (kehadiran) kita? Atau orang2 malah tidak mempedulikan kematian kita…bahkan bersyukur karena kepergian kita?

Mari…mari…perbanyak amal kebajikan…tidak saja dengan sholat, puasa, atau ibadah lain yg sifanya vertikal (kepada ALLOH SWT) namun perbanyak juga amal kebajikan yg sifatnya horizontal (kepada sesama manusia). Perbanyak sedekah, santuni anak yatim, menyumbang panti asuhan, menyumbang korban bencana, dst dst.

Semoga saat kita meninggalkan dunia yang fana ini nanti, orang2 akan senantiasa merindukan kita.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham