Jabatan Itu Amanah, BELUM TENTU Nikmat!
Proses reshuffle (pergantian menteri) yg baru dilakukan presiden SBY pada tanggal 7 Mei 2007 lalu, meninggalkan satu hal yg menggelitik pada diriku. Hal tersebut adalah reaksi SUKA CITA yang ditunjukkan oleh beberapa keluarga menteri yg baru diangkat ataupun menteri yg masih dipertahankan presiden SBY.
Rata-rata jawaban mereka sama, BERSYUKUR KARENA (MASIH) MENJADI MENTERI.
Saudara-saudaraku, mari kita merenung sejenak, apakah jabatan menteri itu suatu kenikmatan atau suatu amanah? Layakkah kita senang mendapatkan jabatan itu? Ataukah malah sedih/takut?
Ada baiknya kita merenungkan dan berpikir sejenak serta mengambil hikmah dari cerita berikut:
Abu Dzar yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW,”Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memberiku jabatan?” Kemudian Rasulullah menepuk pundak Abu Dzar, lalu beliau bersabda, ‘’Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau itu lemah, sedangkan jabatan itu amanah, dan jabatan itu akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memperolehnya dengan benar dan melaksanakan kewajiban yang diembankan kepadanya.'’
Perhatikan pula bahwa (jabatan) menteri berarti orang tersebut menjadi PEMIMPIN, dan setiap pemimpin (tidak peduli seberapa besar kekuasaannya) akan dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana hadits berikut,‘’Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.'’ (HR Muslim)
Secara pribadi aku INGIN percaya bahwa menteri2 yg telah ditugasi pak SBY merupakan pribadi2 yg kompeten di bidangnya, namun kenyataannya aku melihat masih ada beberapa menteri yg (menurutku) diangkat BUKAN berdasar kemampuannya (kompetensinya). Padahal, Rasululloh SAW sudah ‘mengancam’ orang2 yg memberi jabatan BUKAN kepada orang yg kompeten, “Barangsiapa yang mengangkat seseorang (untuk suatu jabatan) karena semata-mata hubungan kekerabatan dan kedekatan, sementara masih ada orang yang lebih tepat dan ahli daripadanya, maka sesungguhnya dia telah melakukan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman”. (HR al-Hakim)
Anda-anda mungkin tahu dan bisa melihat, siapa menteri2 yg diangkat berdasar kekerabatan dan kedekatan. Herannya, mereka tidak diganti oleh presiden SBY.
Kembali lagi ke topik. Dengan melihat hadits dan tindakan Rasululloh SAW, haruskah mereka bersyukur menjabat sebagai menteri? Jika mereka memang kompeten dan ahli di bidangnya, ‘bolehlah’ mereka BERSYUKUR karena itu berarti mereka DIBERI KESEMPATAN BISA MENERAPKAN ILMU dan KEAHLIAN MEREKA UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT.
Menurut Islam, jika seseorang merasa dirinya tidak kompeten, SEHARUSNYA DIA TIDAK MENERIMA JABATAN APAPUN YG DITAWARKAN. Terlebih menjadi seorang menteri, yg akan terkait dengan masyarakat banyak. Jika salah langkah, alih2 membantu presiden, masyarakat malah akan menderita sehingga mengecam dan meminta mundur. Bisa dibayangkan, di akhirat kelak, berapa banyak masyarakat, yg menderita karena salah kebijakannya, menuntut dan meminta keadilan.
Jadi, belum tentu jadi menteri itu nikmat lho…
artikel terkait:
- dipercaya itu sulit
- sifat Nabi & Rasul - Amanah

