Tausyiah275

May 29, 2007

Suami Dilarang Berhubungan Badan Dg Istri Yg Sedang Haid

Masuk Kategori: Fiqh, Lain-lain

Artikel ini aku buat sehubungan dengan salah satu pencarian ke artikel oral dan sex dalam Islam. Si pencari menggunakan kata kunci “berhubungan badan dengan perempuan haid”, yg ternyata mengarah ke artikel tersebut. Ketika aku lihat lebih detail, ternyata artikel tentang sex dan haid belum ada, sehingga aku putuskan untuk menulis dan memuat artikel ini.

Al Qur’an, secara implisit, telah menyatakan bahwa HAID ADALAH KOTORAN dan MELARANG SEORANG SUAMI UNTUK BERGAUL (BERHUBUNGAN BADAN) DENGAN ISTRINYA KETIKA ISTRINYA SEDANG HAID. “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran“. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Al Baqarah(2):222)

Dari ayat di atas, yg dimaksud dengan dilarang berhubungan badan adalah dalam konteks suami memasukkan (maaf) alat kelaminnya ke dalam (maaf) alat kelamin istrinya. Sementara untuk hubungan sex yg TIDAK MELIBATKAN ALAT KELAMIN PEREMPUAN, Rasululloh SAW MENGIJINKANNYA.

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Lakukanlah segala-galanya kecuali jima”

Seorang penanya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Apa yang halal bagiku dari istriku ketika dia sedang haid?” Rasulullah menjawab, “Ikatkan kencang-kencang ikat pinggangnya, kemudian terserah kepadamulah yang bagian atasnya.”

Dari Masruq, dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah, “Apa yang halal bagiku dari istriku ketika sedang haid?” Aisyah menjawab, “Semuanya halal kecuali kemaluan.”

Jika merujuk dari ulama2 4 mazhab, maka Imam Syafi’i dan Imam Hanafi berpendapat, bahwa haram hukumnya untuk istimta’ (bersenang-senang, dalam konteks ini adalah berhubungan badan) dengan istri ketika dia sedang haid, pada bagian tubuh antara pusat dan lutut tanpa ada sesuatu yang menghalanginya, dan dibolehkan jika ada penghalang, seperti pakaian dan sebagainya. Tetapi jima’ tidak dibolehkan sama sekali sekalipun memakai penghalang.

Dengan kata lain, kedua Imam di atas membolehkan si suami-istri untuk berhubungan sex dan mencapai kepuasan TANPA MELAKUKAN PENETRASI. Penghalang digunakan untuk mencegah/menghindari si suami ‘kebablasan’.

Sedangkan Imam Maliki berpendapat, tidak boleh melakukan jima’ dengan istri ketika sedang haid, tetapi sekedar istimta’ pada bagian tubuh yang ada antara pusat dan lutut, ada dua pendapat: Pertama dilarang sekalipun ada sesuatu penghalang. Itulah pendapat yang masyhur. Kedua, boleh sekalipun tidak ada penghalang.

Pendapat Imam Maliki nyaris serupa dengan dengan kedua Imam sebelumnya.

Terakhir, Imam Hambali mempunyai pendapat bahwa boleh hukumnya untuk istimta’ dengan istri ketika dia sedang haid dan nifas pada bagian tubuh yang ada antara pusat dan lutut tanpa sesuatu penghalang. Yang diharamkan hanyalah jima’.

Di beberapa referensi kedokteran yg aku dapatkan, ternyata saat mens (haid), saluran antara vagina dan rahim (mulut rahim ) sedang terbuka sehingga akan mudah masuknya penyakit ke dalam rahim di samping itu juga ada resiko yang cukup fatal di mana kalau sampai ada udara yang masuk kedalam rahim saat melakukan hubungan badan. Kalau misalnya ada udara terdorong masuk ke dalam mulut rahim lalu masuk ke dalam pembuluh darah, ini akan membawa kuman ke jantung sehingga menimbulkan gangguan jantung. Kalau terbawa ke otak, dengan cepat akan terjadi suatu reaksi alergi atau akan menyebabkan gangguan otak (akan mengalami kejang-kejang dan diikuti dengan kematian mendadak).

Belakangan kalangan kedokteran berhasil menemukan fakta bahwa saat tidak suci kondisi kelamin wanita sangat rentan jika terjadi gesekan atau kemasukan benda asing. Saat itu sel-sel di dalam kelamin wanita keadaannya tidak sama dengan saat suci.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa wanita yang biasa tetap melakukan hubungan sex saat haid atau nifas mempunyai resiko kanker yang lebih tinggi dari yang tidak.

Dengan demikian, ternyata terbukti lagi bahwa Al Qur’an merupakan wahyu dari ALLOH SWT, BUKAN KARANGAN MUHAMMAD SAW. Mengapa? Karena di jaman Rasululloh SAW dulu tidak ada penjelasan medis (secara akal), namun Al Qur’an sudah jauh mendahului menetapkan larangan ini (berhubungan badan dg istri yg sedang haid).

Mudah2an artikel ini berguna dan menambah keyakinan kita.

May 27, 2007

Sekolah-sekolah Islam

Masuk Kategori: Tarbiyah, Dari Inboxku

SEKOLAH ISLAM TERPADU (SIT) di JAKARTA

1. Aisyiyah (TK)Jl. Limau III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan(021) 726 9453
2. Al FurqonJl. Seha II No. 14, Jakarta Selatan(021) 725 0203
3. Al-Azhar 1 (Pusat)Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan(021) 724 3933
4. Al-Azhar 2 (Kemandoran)Jl. Kemandoran I No. 41, Jakarta Barat(021) 532 9556
5. Al-Azhar 3 (Kemang)Jl. Kemang Raya No. 7, Jakarta Selatan(021) 7179 3333
6. Al-HikmahJl. Bangka II No. 24, Pela Mampang, Jak - Selatan(021) 718 0688
7. Al-IkhlasJl. Cipete III No. 12 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan(021) 765 7942
8. Al-IshmahJl. Sawo Raya 30, Kranggan, Pondok Gede(021) 845 5625
9. Al-IzharJl. RS Fatmawati Kav. 49, Jakarta Selatan(021) 769 0992
10. Al-KhoirotJl. Masjid Condet Batu Ampar, Kramat Jati, Jkt Timur(021) 801 3364
11. Al-MarjanJl. Palem Raya Blok H-7, Duta Indah, Pd. Gede(021) 846 6127
12. Al-MughniJl. Jend. Gatot Subroto Kav. 26, Jakarta Selatan(021) 5296 1471
13. Ar-Rahman MotikSetibudi Utara D-1-2-3, Jakarta Selatan(021) 526 0844
14. At-Taubah (nampaknya sudah pindah, belum ada konfirmasi alamat terbaru)
15. At-TaufiqCempaka Putih Timur VI, Jakarta Pusat(021) 424 1150
16. Bakti MulyaPondok Indah(021) 765 3628
17. IqroJl. H. Ayat, Komp. Angkatan Laut, Pd. Gede(021) 848 4612
18. MadaniaPrapanca, Jakarta Selatan
19. Madharijut ThalibinJl. Yayasan No. 100, Gandul Utara765 9043
20. Miftahul UlumJl. Raya Lenteng Agung Gg Kancil 1 / 43, Jagakarsa(021) 782 0314
21. Pondok Duta (021) 870 6111
22. Riyadhul JannahJl. Sarinah 1 Pengadegan No. 8, Jakarta Selatan (021) 794 5448

SEKOLAH ISLAM TERPADU (SIT) DeBoTaBek

1. Al KautsarJl. Raya Bintara komp. Mas naga Bintara Jaya, Bekasi Barat(021) 884 4834
2. Al-Hikmah BekasiJl. Wibawa Mukti II No. 5, Jati Asih, Bekasi(021) 8240 2687
3. Al-ImanMasjid Al-Iman, Komp. LKBN Antara, Bintara Jaya, Bekasi(021) 864 0044
4. Al-MuqorobinJl. Mahoni No. 1A, Beji, Depok(021) 7720 5574
5. Al-MuzammilJl. Tangkuban Perahu, Graha Indah, Jati Asih, Bekasi(021) 8499 4346
6. Al-QalamJl. Pemuda No. 11, Depok Lama, Depok(021) 775 5912
7. Al-UtsmaniyahJl. Fisabilillah, Kp. Dukuh, Pasar Mukti, Citereup(021) 876 3753
8. Ar-RoyyanPerum. Beji Permai Tanah Baru, Beji, Depok(021) 7720 0278
9. As SalamahJl. Pamulang Raya No. 17, Benda Barat Ujung, Pamulang(021) 7463 1734
10. Asy-SyukriahJl. KH. Hasyim Ashari Km. 3, Cipondoh, Tangerang(021) 5575 1260
11. At-TaufiqJl. Putri Tunggal No. 17, Harjamukti, Cimanggis, Depok(021) 873 3222
12. AuliaJl. Bintaro IX, Bintaro Jaya, Tangerang(021) 7486 0864
13. Bahrul Ulum PuspitekKomp. Puspitek (Masjid), Serpong, Tangerang(021) 756 0212 psw 4700
14. Baitul Mal STANKomp. Masjid baitul Mal, Kampus STAN, Jurangmangu(021) 735 9117
15. BaitussalamJl. Raya Kartika Sejahtera No. 1, Inkopad, Bojong Gede(0251) 553 527
16. Bina Isniyah (MI)Komp. Batan Indah Blok N No 57, Serpong, Tangerang(021) 756 4250
17. Darul Abidin*Jl. Karet Hijau No. 29, Beji, Depok(021) 7720 0857
18. Darul HikmahJl. H. Awi Jatiluhur, Jatiasih, Bekasi(021) 8241 0887
19. Fajar HidayahKota Wisata Cibubur, Cileungsi(021) 8249 2462
20. HusnayainJl. Rambutan No.13C Perum Harapan Baru, Bekasi Barat(021) 884 6274
21. Nurul FikriJl. Situ Indah No. 116, Kelapa Dua, Cimanggis, Depok(021) 719 4413
22. RuhamaPondok Sukmajaya Blok E-2, Depok II, Depok(021) 770 0038
23. Taufiqur RahmanPerum Pemata Hijau Permai Blok J, Kaliabang Tengah Bekasi Utara(021) 887 9221
24. Thariq bin ZiyadPerum. Pondok Hijau Permai, Bekasi Timur (021) 8240 5687
25. Ummul Quro*Jl. Karet Hijau No. 29, Beji, Depok (021) 7720 0857
26. Ummul QuroJl. Baru Salabenda No. 1, Parakan Jaya Kemang, Bogor (0251) 505 753

TK KARAKTER: TAK HANYA MENEKANKAN ASPEK KOGNITIF
Alamat Playgroup dan Taman Kanak - Kanak Karakter:
Jl. Raya Bogor Km 31 No 46 Cisalak, Cimanggis, Depok Telp. (021) 871 2022

TK Islam Al Izhar Pondok Labu: MENGAJARKAN NILAI KEAGAMAAN LEWAT BERMAIN*
*Alamat TK Islam Al Izhar Pondok Labu :
Perguruan Islam Al Izhar Pondok Labu Jl. RS Fatmawati Kav. 49 Jakarta 12450 Telp. 021-7695542, 7690992 dan 7506128

TK Mini Pak Kasur: BERMAIN SAMBIL BELAJAR DI TK MINI
Alamat TK Mini Pak Kasur :
(1.) Jl. Cikini V No. 2-3 Jakarta Pusat Telp. 021-338123 dan 338179
(2.) Jl. H. Nur No. 49 Pejaten Pasar Minggu, Jakarta Selatan Telp. 021-7946568
(3.) Jl. Nusa Indah II Cipinang Indah, Jakarta Timur Telp. 021-85903321
(4.) Jl. Niaga Raya Kemang Pratama Bekasi - Kemang Pratama Telp. 021-82409357
(5.) Jl. Verbena Banjar, Banjar Wijaya, Tangerang Telp. 021-55744061

TK Khas Daarut Tauhid: METODE UNIK AGAR HATI ANAK TERTATA BAIK
Alamat TK Daarut Tauhid :
Jl. Geger Kalong Girang No. 67 Bandung Telp. 022-2007956 / 2014374

TK Islam Al Jabr.
Alamat : Jl. Bango II No. 38 Pondok Labu, Jakarta Selatan 021-75913675, 75913678

May 26, 2007

Menyelusuri Makna Memberi

Masuk Kategori: Hikmah, Dari Inboxku

London, pertengahan Januari, di pagi hari. Aku tengah terpukau oleh birunya langit serta binarnya sang mentari. Cabang serta reranting pohon buah pear dan plum yang tinggi menjulang dan telanjang tanpa dedaunan itu tampak kontras dengan birunya langit. Suasana pagi itu tampak cerah dan ceria. Seakan hatiku bersenandung. Berkidung. Betapa tidak karena beberapa pekan terakhir ini suasana winter yang melankolis begitu menampak. Dari hari kehari langit nampak kusam kelabu diiringi rintik gerimis, kadang hujan lebat dan bahkan berangin kencang.

Tiba-tiba telefon berdering. Aku segera menjawabnya dengan perasaan bungah, gembira, hatiku menduga-duga siapa gerangan. Oh, ternyata salah seorang sahabatku. Elsye. Ia bertanya kenapa aku kedengarannya begitu senang dan bahagia. Kutanya balik dari mana ia tahu kalau aku bahagia. “Dari getar getar suaramu, Teteh. Aku bisa merasakan, aku tahu dan kenal dirimu, bukan ?” jawabnya.

Lalu kubilang: “Syukur deh, Elsye. Kamu ko brilyan banget sih. Pinter. Aku seneng dan bahagia memang,” kataku. “Walau bukan karena aku punya apa-apa.” Kedengarannya ia ingin tahu kenapa kali ini aku sangat lain dan malah bahagia..

“Lagi jatuh cinta ya, Teteh? ”

Dugaan Elsye ini membuat aku tertawa. ‘”Yeep bisa jadi, El. Tapi bisa lebih dari itu. ” Jawabanku yang satu ini malah membuat Elsa tambah penasaran. Agar Elye tidak semakin kebingungan, aku teruskan kata-kataku : “Aku bahagia karena bisa mencoba memberi apa yang kupunya. Tenaga, kebebasan, waktu, akal budi, perhatian dan yaaa bahkan keceriaan.” imbuhku. ‘Ohh I see..’ tukasnya.

Mendengar jawabanku itu, aku merasakan betapa sahabatku nampak ikut bahagia dan bersyukur pula. Karena ia pun tahu, memang akhir-akhir ini aku tengah dirundung galau tak menentu. Kiranya cocok diumpamakan sebagai seorang pasien yang lagi menderita sakit, tetapi sang dokter tak bisa mendiagnosa apa penyakitnya. Aku sempat membuat perumpamaan seperti itu. Kata yang kuucapkan itu rupanya mengena.

“Oh, Tetehku lagi seneng nih karena bisa memberi,” ujarnya. “Hemm, memberi. Jadi topik kita kali ini memberi, niih ?” Lanjut dia seperti setengah menyindir.

“Kamu telefon emangnya mau dengar ceramah atau mau diskusi atau apa..?,” tanyaku balik.

“Engga siih. Cuma mau tahu gimana kabarnya, ada perkembangan apa gituuu, habis aku kawatir banget sama Teteh, terutama akhir akhir ini. Hampir dua minggu Teteh engga muncul di pengajian kita jadi kawatir banget, gituuu loh Teh”, Elsa menerangkan kekhawatirannya.

“Oh iya aku tahu, makasih. Aku kerjanya rajin nelefonin temen-temen, masih ingat, kan ? Kalau giliran si Teteh gak nelefon, kalian bingung. Bener ngggak ?”, tanyaku setengah menuntut dalam bumbu canda.

“Bener seratus persen, Teteh tuh orangnya ekstra komunikatif. Kalau engga mengirim email, ya sms atau nelefon. Nah makanya kalau kita engga dengar suaranya atau namanya nongol di milis, kita malah yang jadi bingung. Kan biasanya Teteh muncul secara rutin di salah satu media kontak itu.. Lagian kalau kita ngobrol di telefon juga bukan ngegunjing, tapi ya obrolan yang produktif, walaupun kadang Teteh suka komplain, kritis gitu. Sori ya Teh,” rajuk Elsa. Aku membenarkan.Kufikir kali ini malah dia yang agak judes.

Sahabatku yang satu ini memang “she speaks her mind,” begitu kata orang Inggris. Mengatakan apa adanya. Ceplas ceplos. Kadang galak atau judes kedengaranya, walau tidak bermaksud menyakiti. Aku sempat mohon dengan memelas. “Duuh jangan dijudesin Tetehnya dong. Aku jadi sedih”.

Lain Elsye, lain pula dengan wong Wonogiri, Jawa Tengah, mas Bambang yang rajin mengirimkan email dan suportif banget terhadapku itu. Ia suka komplain jenis lain. Ia suka protes kalau gaya bicaraku macam khotbah. “Orang jadi terancam bosan lo dengernya kalau gaya mengutarakan sesuatu darimu model khotbah seperti itu,” katanya terus terang. Hmm aku sempat kesel juga dikritik sama orang Jawa Tengah ini. Tapi ya aku harus menerima kritikannya untuk kebaikan diriku. Mungkin selama ini aku tidak menyadari tabiat komunikasiku itu.

“Eiih makasih aku diingetin niih. Sori lah kalau aku sok atau belagak macam ustadzah aja, padahal aku tak ada potongan untuk tukang ceramah khan ? Atau mungkin gaya bicaraku sok konsultatif ya ? Bergaya macam konsultan di mana bagi orang lain bisa begitu menyebalkan ? ” begitu penjelasanku. Akhirnya aku minta maaf, karena aku memang tidak bermaksud sok menggurui.

Kembali ke Elsye. Ia melanjutkan, “Tapi kita seneng aja ko denger pengalaman hidup Teteh yang lumayan ruwet dan ribet, sok sibuk walaupun sibuknya memang beneran. Habis gak mau bagi-bagi siiih. Anyway, nanti kalau pengajian, giliran Teteh dong kasih kultum, bagi-bagi pengalaman dan ilmunya ya Teh ?”. Aku cuma bisa mengiyakan.

Aku jadi senyum- senyum sendirian mendengar kata-kata “bagi-bagi pengalaman dan ilmu.” Ilmu apa sih yang kumiliki?

“Oya tadi tuh kata kata ‘memberi’ itu memang ada penjabarannya Teh ? Bisa diterusin artinya ?” El memulai lagi.

“OK tadi aku bilang ‘Aku bahagia… karena bisa memberi apa yang kupunya. Misalnya tenaga, kebebasan, waktu, akal budi, perhatian dan yaaa bahkan keceriaan yaa.’”

“OK, aku coba jabarkan ya. Bahwa saat ini kita, ehh.. aku diberi nikmat kesehatan fisik berarti aku punya tenaga untuk bantu orang dengan tenagaku atau fisikku seperti menyopiri * bemoku. Aku punya kebebasan untuk menolong siapa saja, tanpa membedakan ras golongan, bangsa, warna dan agama. Kalau soal waktu bisa diatur, walau aku sempit dan sibuk tetap kuusahakan.

Kemudian Allah memberikan aku sedikit akal budi, maksudnya kita khan gak bodoh-bodoh amat ya. Artinya di saat aku dihadapkan dengan kesulitan atau teman yang mendapat kesulitan, aku mencoba membantu dengan mencari solusi yang kiranya tepat dan memadai. Aku percaya tidak ada kesulitan di dunia yang tidak bisa kita atasi.

Satu lagi niih, Allah rupanya melimpahkan rasa mudah iba yang dalam. Empati. Hatiku mudah koyak. Kayaknya rapuh banget gitu. Aku percaya Allahlah yang menyelipkannya ke sanubari hingga mampu melahirkan rasa iba, simpati sekaligus empati kepada orang-orang yang terkena musibah, korban kedzaliman, perang sehingga hatiku tergerak untuk segera berbuat, setidaknya perhatian.

Nah, sedikit buktinya di saat aku ceria, kamupun ikut bahagia, iya khan ? Jadi aku pun, agak GR nih, sudah memberi kebahagiaan untukmu, bukan ?’” jelasku. Syukurlah, loncatan ucapan itu di dalam hati aku susul dengan istighhfar. Siapa tahu aku baru saja melakukan show off, riya ?

Sahabatku diam mendengarkan celotehanku. Lalu kusambung: “Jadi El, dari pengalaman yang Teteh alami dan rasakan, aktivitas ‘memberi’ itu bukan main maknanya. Dahsyat sekali. Seringnya kita tidak memahami, mau memberi sesuatu mikirnya lama dan bahkan menghitung-hitung untung dan ruginya. Aku sendiri tidak menyadari sampai aku membaca tulisan pengalaman orang-orang, ada beberapa ungkapan yang aku suka lalu mencocokan dengan hadith-hadith, misalnya seperti di bawah ini: “Jika kamu ingin menerima banyak, maka kamu harus lebih dahulu memberi banyak.”…Begitu kira-kira kutipan yang saya baca di sebuah buku.

“Siapa yang ingin dicintai, maka belajarlah mencintai orang lain dulu”

Dan ini yang paling berat buat kita: “Siapa yang ingin dicintai Allah maka cintailah Rasulnya.'’ .

“Tapi aku sudah merasakan betapa diri kita sendirilah yang akan merasakan bagaimana hati diliputi oleh rasa bahagia, ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain. Jadi sesungguhnya justru kita sendirilah yang merasakan paling bahagia di saat kita bisa memberikan bantuan. Selain tentunya, perasaan hati fihak lain yang telah ikhlas kita bantu.”.

“Misalnya apa, Teh?’” sergah Elsye.

“Dari hal-hal yang kecil. Sederhana. Ya, misalnya menjaga anak atau bayi teman yang berstatus sebagai mahasiswa ketika dirinya yang sedang belajar untuk menempuh ujian. Mengantar pulang teman yang rumahnya jauh dan sudah malam. Mengantar sahabat ke bandara yang musti check-in diwaktu subuh dan seterusnya. Ah pokoknya banyak deh, pokoknya yang bisa meringankan kesusahan orang, kurang lebihnya begitu ibuu,” kataku.

Lanjutku, “Jadi memberi atau sedekah itu tidak mesti besar, walaupun cuma dengan setengah kurma, yang penting ikhlas”. Elsyepun tertawa. “Ah aku engga mau dikasih kurma setengah. Aku mau satu doos dari toko Zam-zam di Green Street”, kelakarnya.

“Sama deh, Teh. Aku juga belum bisa bersadakah dalam bentuk materi,” lanjut El. Dia nampak menyetujui pendapatku. “Siapa bilang ? Rumahmu yang dijadikan sebagai tempat pengajian, minimal seminggu sekali, bukankah itu Elsa sudah memberi ? Itu pun jelas pula sebagai sedekah. Memberikan tempat untuk perbuatan menuju kebaikan, pastinya sudah pula mendapatkan pahala. Setidaknya rumahmu mendapatkan baroqah dan rakhmat dari Allah, bahkan telah pula menolong agama Allah.”

Kali ini Elye agak nampak bingung dengan kata-kata “menolong agama Allah.”

“Artinya…” aku narik napas sebentar, ” El memperlancar jalannya syiar agama, dakwah, buat teman-teman yang ingin meningkatkan keimanannya, sang gurupun mengamalkan ilmu agamanya, belum rasa ukhuwah yang terjalin antara kita, jadi berarti El memberi dan menolong agama Allah. Coba berapa hikmah dan baroqah yang Elsa dapat?” ‘ Sepertinya Elsye baru menyadari hal ini.

“Bayangkan…para malaikat diatas rumahmu yang mengepakkan sayapnya lalu melaporkan kepada sang Khalik, ‘Ya Rabb ummatmu tengah menyebut dan membesarkan namamuMu,’ padahal Allah tahu apa yang ummatnya tengah lakukan”, aku menambahkan.

Akhirnya kututup percakapan di telefon dan kita berjanji untuk jumpa di pengajian pada Jumat minggu depan. “Bener lo Teh datang ya. Kita kangen banget niih. Sambel cabe ijo sudah nunggu di kulkas tuh minta dilahap seusai pengajian,” tutup Esyel. Kami pun berpisah saling meminta maaf dan mendoakan.

***

Lain halnya dengan sahabatku, yang aku sebut sebagai adik, yaitu Iwan. Ia pernah tiba-tiba mengeluh pada saat ia mengalami futur, di saat dia membutuhkan bantuan, seakan orang tak mau tahu dengan problemnya. Apalagi membantu dalam bentuk materi:

Ia mengeluh, “Perasaan sih saya banyak memberi, membantu gitu loh, bukan memberi uang siih, maksud saya beri bantuan berupa tenaga dan fikiran, pengetahuanku, membantu orang, walaupun saya tidak bilang minta dibayar, mbok ngerti gitu.Tapi di saat saya perlu bantuan, saya tidak mendapat bantuan tuuh, saya jadi bingung dan gak paham jadinya nih” , keluhnya.

“Ooops sori. Astaghfirullah al aziim,” lanjutnya. Dia rupanya menyadari kekeliruannya dan menetralisir sendiri. “Kalau begitu saya mengharapkan dibalas oleh mereka yang saya bantu. Salah ya Teh ? Aku engga ikhlas dong ya ? Semua buyar deh amalku ya?,” sesalnya.

“Ntar dulu Wan. Masalahnya jelas tidak pada awalnya ? Ada hitam di atas putih tidak. Apa tidak bisa dibedakan dulu antara business atau amal, atau fisabilillah ? Kalau tidak jelas dari awalnya, memang kita dan semuanya bisa susah dong. Sorry no free lunch, sir, ” ketusku.

“Tapi betul ko Wan, kau tidaklah sendirian. Aku juga kadang suka begitu frustrasi di saat aku perlu bantuan, butuh bantuan, rasanya tidak ada yang memberikan bantuan. Diriku merasa banget sedih dan ada kecewa. Sampai aku kadang terloncat untuk bilang, “Biarin. Lihat ntar lo. Aku mau hidup sendiri aja, semua kukerjain sendiri aja, aku tidak boleh bergantung sama orang, aku harus mandiri.”

Bukankah itu prinsip yang keliru ? Padahal kita tahu hukumnya, kalau kita memberi bantuan atau bersadakah mustinya kita tidak harus mengharapkan balasan dari orang yang kita beri bantuan. Bersedekah selayaknya dilakukan tanpa pernah mengharap balasan dari orang yang kita beri, demikian kata beberapa pakar dan hadith. Karena kita yakin bahwa Allahlah yang akan membalas kita, bukan dari orang yang kita bantu.

“Iya bener, Teh, begitu mestinya ya. Tetapi kadang keikhlasan kita diuji terus sama Allah ya. Yakinlah bahwa Tuhan akan membalas, tapi tidak lewat orang yang kita tolong atau beri bantuan. Allah akan memberi pertolongan dari arah yang tidak kita duga dan ketahui, bukan?’”

‘Wan…niiih aku dapat cuplikan dari tulisan Aa Gym: sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan pelipat ganda rezeki. Sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, di mana tiap-tiap butir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Maha Kaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah ! ”

Iwan tertawa mendengarkan bahwa balasan itu akan datang 100 kali 7 bulir, berarti 700 kali lipat. “Ah itu mah nanti di akhirat kali. Teh. Itu pun kalau Allah berkenan melimpahkan RakhmatNya buat kita. Sekarang gimana caranya jadi orang ikhlas..susah niih euy ,” ujarnya sambil meneruskan ketikannya di komputer.

“Tapi,” kataku lanjut, “aku sudah merasakan sendiri ko bahwa kita yang akan merasakan sendiri kaya gimana si hati, bahagia, seneng di saat kita bisa memberikan sesuatu kepada orang laini, ya atau iya? Jadi sesungguhnya keuntungannya ya kita sendiri yang akan merasakan kebahagiaan itu.” Iwan setuju dengan pendapatku terakhir ini.

***

Nah yang ini, rada aneh tetapi menarik, adalah yang terjadi pada adikku yang bernama Wahyu. Selama ini ia merasa dirinya belum mampu untuk berbuat, atau memberi, karena keterbatasannya, entah waktu atau ilmu.

“Aku belum bisa terjun dulu, Teh. Apalagi memberi dalam bentuk materi. Tetapi bukan itu masalahnya. Wahyu berkata, “aku sendiri masih membenahi diri, agamaku masih pas-pasan, kondisi ekonomiku saja masih morat-marit, juga aku belum bisa memberikan contoh yang baik sebagai sosok muslim yang sholeh. Jadi maaf ya Teh, aku belum bisa bantu apa-apa dulu deh,” ujarnya ketika aku mengundangnya untuk bergabung di sebuah paguyuban.

Rasanya kecut juga hati ini. Padahal selama ini dia selalu kritis terhadap keadaan sosial di negeri kita, banyak memberi saran, banyak mengharap tapi kenapa giliran kuajak gabung, ko malah menghindar ? Mungkin ia masih beralasan bahwa keperluan diri pribadinya sendiri masih banyak, masih merasa miskin materi atau miskin ilmu sehingga tidak bisa membantu orang lain. Hanya dirinyalah yang tahu.

“OK adikku, kita hanya memberi peluang bagi mereka yang mau beramal, bersadakah dalam bentuk tenaga dan waktu, dan semuanya itu harus dilandasi oleh keikhlasan.” begitu jawabku untuk adikku yang satu ini. Padahal, bukankah Islam, agama kita, mengajarkan kita untuk tetap bersedekah di waktu lapang maupun di waktu sempit? Seperti dikatakan di surat Ali-Imran: 133-134 : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Artinya : Anjuran mulia dari Allah swt ini bermakna, bahwa dalam kondisi sesulit apa pun, manusia masih bisa memberikan sesuatu di jalan Allah. Meski cuma sedikit, secuil, yang terpenting adalah pemberian dilakukan dengan keikhlasan dan hanya mengharap ridho Illahi.

Tapi aku bisa memaklumi bahwa setiap orang memiliki sikap, prinsip dan pemahaman yang berbeda-beda. Tergantung dari pemahaman dasar dan naluri keTauhidan kita masing masing. Yang aku yakini, sekali kita bersyahadat, bertestimoni, atau memberikan pengakuan, maka di situ ada sebuah perjanjian, komitmen.

Seyogyanyalah testimoni atau kesaksian ini dipelajari, dipahami hingga mampu merembes turun ke dalam sanubari kita. Sehingga bukan cuma sekedar basa-basi, karena born muslim, pemantes, untuk mengisi spasi kosong di KTP atau cuma sekedar ucapan yang hanya terhenti sampai di kerongkongan belaka.

Adiku Iwan, dulu rajin memberikan tausiah lewat telefon. Misal input atau masukan seperti ini: “Teh, jadikan sebuah kebiasaan membaca Al-Quran, lalu kita baca makna dan pahami isinya. Juga hadith. Lalu kita pilih, pahami, ayomi dan mencoba mengamalkannya. Tidak usah banyak banyak, pilih yang kita suka, jadikan favorit, “ujarnya.

Dari buku karya Dr. Yusuf Qardawi yang berjudul Fiqih Prioritas telah aku temukan beberapa petikan hadith yang aku suka, lalu kupindahkan ke buku harian. Buku itu sendiri sudah tampak lecek karena berulang-ulang kubaca, penuh coretan di sana sini. Ada beberapa hadith yang kuhafal dan yang satu ini kumasukkan ke hati dan mencoba untuk mengamalkannya:“Barangsiapa yang membantu menyelesaikan kesusahan seseorang di dunia (lebih-lebih lagi saudara sesama Islam), niscaya Allah akan membantu menyelesaikan kesusahannya di dunia dan akhirat”. (Imam Bukhari)

London, pertengahan Januari, di pagi hari. Aku terus terpukau oleh birunya langit serta binarnya sang mentari. Semua itu nikmat dan pemberian dari Allah semata. Aku kini terus mencoba mensyukuri semua nikmat yang Allah berikan itu dengan menyusuri makna terdalam dari aktivitas memberi. Kemudian berjuang sebisaku, untuk melakukannya. Saya yakin, Anda telah pula melakukan hal yang juga serupa.

By Al Shahida

May 25, 2007

Islam Sejati - Salah Satu Sempalan Islam (Islam Sesat) di Indonesia

Masuk Kategori: Aqidah, HOT NEWS, Seri Kesalahan2

Beberapa waktu yg lalu, aku sempat membahas mengenai aliran sesat (juga nabi2 palsunya) di Indonesia. Nah, Rabu malam kemarin, aku sempat menyaksikan langsung, di metro tv, tayangan Metro Realitas yg menyajikan Islam Sejati. Aliran islam ini ditengarai sebagai aliran sesat, karena banyak ajarannya yg tidak sesuai.

Sebenarnya aliran ini sudah pernah aku baca sebelumnya, namun hanya sepotong-sepotong informasi yg aku dapatkan. Dari tayangan Metro Realitas, aku dapatkan potongan informasi pelengkap lainnya.

Pada tayangan tersebut, disebutkan bahwa kesesatan islam sejati itu dikarenakan:
1. Sholat menghadap 4 arah mata angin, yakni utara, barat, timur dan selatan. Salah satu ‘pembelaan’ pengikut islam sejati adalah di Islam sholat seperti ini (menghadap ke 4 arah mata angin) dikenal sebagai SHOLAT MENCARI REJEKI. Dari berbagai referensi, aku tidak temukan satupun contoh dari ulama apalagi hadits dan sunnah Rasululloh SAW tentang sholat mencari rejeki dg cara menghadap 4 arah mata angin.

2. Sholatnya dilakukan 3 waktu (3 kali) dalam sehari. Aku tidak dapatkan informasi yg lebih lengkap tentang waktu pelaksanaan sholat versi islam sejati ini. Padahal sudah jelas, Islam (melalui Rasululloh SAW) sudah mengajarkan bahwa sholat dilakukan 5 waktu.

3. Keyakinan bahwa bulan 6 (Juni) 2007 akan terjadi kiamat. Tidak diketahui secara pasti tanggal terjadinya. Islam sendiri sudah mengajarkan bahwa KIAMAT TIDAK DIKETAHUI KAPAN DATANGNYA.

Dari tayangan tersebut, didapatkan juga informasi mengenai sholat 4 arah mata angin ini. Pada hari Minggu menghadap Timur, Senin menghadap Selatan, Selasa menghadap Barat, Rabu menghadap Utara, Kamis menghadap Timur, Jum’at menghadap Selatan, dan Sabtu menghadap Barat.

Tokoh islam sejati ada 2 orang, yakni Ahyari dan Heri (bin Nacim? tidak terlalu jelas). Yg bisa diwawancarai adalah Ahyari, namun seperti biasa, dia berkelit dengan menyatakan ini itu. Sedangkan Heri tidak diketahui keberadaannya, setelah sempat ditangkap dan diperiksa kejaksaan daerah Lebak (Banten).

Ternyata sempalan2 Islam (baca: Islam yg sesat) masih bisa tumbuh subur di Indonesia. Aku sendiri punya teori sendiri mengenai penyebabnya…nanti aku akan bahas, sekarang masih dalam mengumpulkan referensi dan diskusi dengan orang2 yg cukup relevan.

May 22, 2007

Saudara Sepersusuan

Masuk Kategori: HOT NEWS, Fiqh, Lain-lain

Di artikel lalu, tentang mahram dan muhrim, aku sempat bahas bahwa salah satu penyebab mahram adalah sepersusuan (disusui). Berawal dari pertanyaan, apa maksud sebenarnya dari sepersusuan, maka aku tulis artikel ini, semoga bermanfaat sekaligus sebagai pelengkap artikel mahram dan muhrim.

Istilah/kegiatan sepersusuan sendiri bukanlah hal yg lazim di kalangan masyarakat Indonesia, meski ada juga yg melakukannya. Akan tetapi, hal ini bukanlah hal yg aneh di jazirah Arab, terlebih lagi di zaman Rasululloh SAW, kegiatan ini sudah menjadi lumrah, bahkan menjadi mata pencaharian bagi banyak wanita/ibu yang berasal dari dusun, yg notabene kurang mampu.

Bahkan jika kita menelusuri riwayat Rasululloh SAW, kita akan menemukan bahwa beliau disusukan kepada seorang perempuan, seperti halnya yg kebanyakan dilakukan oleh para bangsawan2 Arab di Mekah. Dalam sirah nabawiyah disebutkan, pada awalnya Muhammad kecil (saat bayi) nyaris tidak mendapatkan ibu susuan, karena kondisi Muhammad kecil sudah menjadi yatim (kehilangan ayah). Hal yang sama terjadi pada ibu susuan Muhammad, Halimah, yg karena hidupnya serba kekurangan, nyaris tidak mendapatkan bayi yg ‘memadai’ dan ‘layak’ untuk disusui.

Berikut aku nukilkan sebagian cerita tersebut.

Akan tetapi Halimah bint Abi-Dhua’ib yang pada mulanya menolak Muhammad, seperti yang lain-lain juga, ternyata tidak mendapat bayi lain sebagai gantinya. Di samping itu karena dia memang seorang wanita yang kurang mampu, ibu-ibu lainpun tidak menghiraukannya. Setelah sepakat mereka akan meninggalkan Mekah. Halimah berkata kepada Harith bin Abd’l-’Uzza suaminya: “Tidak senang aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim itu dan akan kubawa juga.”

Kembali ke topik…

Pada saat seorang anak disusukan kepada seorang ibu, maka akan timbul dan terjadi PERTALIAN DARAH, yg secara otomatis akan membuat anak tersebut HARAM/DILARANG MENIKAH dengan anak yang menyusu si ibu, baik anak kandung ibu itu ataupun anak lain yg sempat menyusui.

Al Qur’an sendiri sudah menyatakan larangan pernikahan antara saudara yg sepersusuan,“Dan (diharamkan atas kalian) ibu-ibu kalian yang telah menyusukan kalian dan saudara-saudara perempuan kalian dari penyusuan.” An-Nisa(4):23.

Untuk lebih mudahnya, aku gunakan ilustrasi berikut…

Emil kecil menyusu kepada ibu Dian. Ibu Dian ini mempunyai 2 orang anak, 1 laki-laki, dan 1 perempuan, masing2 bernama Doni dan Lea. Ibu Dian ini berprofesi sebagai ibu susuan bagi orang2 sekitarnya. Katakanlah, ada Fitri (anak pak Husni) dan Henny (anak bu Eka), yg ikut disusukan kepada bu Dian.

Akibatnya, jika telah besar nanti, Emil DILARANG MENIKAHI Lea, Fitri dan Henny, karena mereka berempat menyusu pada ibu yg sama. Demikian juga Doni dilarang menikahi Fitri dan Henny (untuk kasus yg sama, yakni saudara sepersusuan), sementara Doni dilarang menikahi Lea karena mereka keturunan yg sama.

Dikarenakan hal di atas, maka pengadaan BANK SUSU merupakan HAL TERLARANG. Mengapa? Karena pada umumnya bank susu (jika ada) CENDERUNG TIDAK MEMPEDULIKAN asal muasal dan garis keturunan dari pedonor susu.

Lho, tapi jika asal usulnya diketahui, bukannya boleh? Aku tetap berpendirian, LEBIH BAIK DILARANG!

Bingung?

Baik, aku berikan ilustrasi lagi…

Seorang bapak muda, pak Adrian, ditinggal mati oleh istrinya setelah melahirkan anak pertamanya, Ariel. Atas bujuan pak Anthony, pak Adrian kemudian disarankan untuk membeli susu dari bank susu.

Pihak bank susu sendiri barangkali hanya menuliskan nama pedonor, katakan bu Aprilia.

Hingga saat itu, barangkali tidak masalah, karena pak Adrian mengetahui bahwa pedonornya adalah bu Aprilia.

Yang akan menjadi masalah apabila pak Adrian tidak menelusuri kehidupan bu Aprilia setelah mendonorkan susunya ke bank susu. Jika bu Aprilia ternyata sudah menikah dan mempunyai anak perempuan, misalnya Maya, sedangkan pak Adrian dan Ariel tidak tahu, maka suatu saat di masa depan, bisa jadi Ariel akan bertemu dengan Maya dan akhirnya menikah. Padahal, mereka berdua sudah ‘disambungkan’ dengan air susu yg berasal dari ibu yg sama.

Apabila ini terjadi, maka pernikahan Ariel dan Maya HARUS DIBATALKAN, karena bertentangan dg An Nisa(4):23 di atas.

Berdasar ’skenario’ di atas, maka BUKAN HAL YG BIJAK jika didirikan bank susu, yg menampung air susu dari ibu2, karena hal ini bisa mengaburkan tali persaudaraan/hubungan darah.

Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa mencerahkan kita.

May 19, 2007

A China Town Lady

Masuk Kategori: Dari Inboxku

Pertama kali wanita ini datang ke kelas khusus non Muslims (Islamic Forum for non Muslims) saya sangka sekedar iseng-iseng. Dia datang tapi hanya duduk sebentar lalu meninggalkan ruangan. Tapi minggu selanjutnya dia datang lagi. Sampai pada akhirnya saya Tanya: “who are you and are interested in learning Islam?”. Dia menjawab: “yes, I feel disconnection”.

Setelah tanya kenapa merasa “disconnected?” Dia mengatakan bahwa saya selalu berbicara tentang Islam dan agama lain, tapi agamanya tidak pernah disebutkan. Saya Tanya: “What is your religion?” Dia menjawab bahwa dia beragama Budha. Sementara dalam kelas itu saya biasanya konsentrasi kepada agama Kristen, katolik dan Yahudi.

Maka sejak itu setiap kali dia hadir di kelas, saya selalu menyebutkan beberapa kaitan diskusi dengan agama-agama lain, termasuk Budha. Bagaimana agama budha misalnya menitik beratkan ajarannnya pada “alam” dan “spiritual”, yang sesungguhnya Islam lebih jauh memperhatikan hal-hal tersebut, tapi dengan pendekatan yang imbang (balanced). Saya juga sempat memberikan hadiah sebuah buku milik Harun Yahya “Islam and Budhism”.

Sejak itu perhatiannya ke kelas semakin konsentrasi. Bahkan setiap kali selasai belajar biasanya dengan sopan (adat china) meminta kalau saya bisa berbicara khusus dengannnya. Anehnya, sebelum memulai pembicaraan biasanya sudah meneteskan airmata. Saya Tanya: “what really makes you crying?”. Dia bilang bahwa hatinya cenderung ke agama Islam, tapi terlalu banyak dosa yang telah diperbuatnya.

Saya kemudian menanyakan: “Dosa apa yang terlalu memberatkan anda?”. Dia menjawab bahwa dia itu adalah penyembah berhala (patung-patung) yang menurutnya: “Unforgivable” dalam islam. Rupanya dalam salah satu diskusi saya menjelaskan bahwa semua dosa diampuni kecuali dosa “syirik”.

Setelah saya menjelaskan bahwa dosa syirik yang dimaksud adalah ketika sudah menjadi Muslim lalu tetap melakukan berbagai kesyirikan, maka dia menjadi senang. Bahkan sejak itu, setiap kali ke kelas, dengan bahasa Inggerisnya yang kental china, bersemangat untuk mengajukan berbagai pertanyaan tentang masalah-masalah praktis dalam Islam, misalnya shalat.

Eirine (saya belum menanyakan nama asli chinanya), itulah nama yang
selama ini kita kenal. Wanita yang berpenampilan sangat sederhana ini
rupanya berpendidikan tinggi. Beliau adalah professor anthropology pada City College, sebuah universitas negeri di bagian atas (up town) kota New York. Rupanya yang memperkenalkan Islam kepadanya adalah murid-murid Muslim yang belajar di college tersebut. Secara kebetulan, saya memang cukup dikenal di kalangan mahasiswa di college ini karena beberapa kali memberikan ceramah tentang Islam.

Bertepatan dengan malam Nuzul Al Qur’an, di masjid Al-Hikmah yang dimiliki oleh masyarakat Muslim Indonesia diadakan “Open House Iftar” atau acara buka puasa bersama dengan tetangga-tetangga non Muslim. Rupanya Eirine juga hadir dalam acara tersebut. Saya yang kebetulan sebelum berbuka puasa itu menjelaskan kepada non Muslim mengenai Islam, melihat Eirine nampak serius mendengarkan.

Setelah berbuka puasa, saya terkejut karena biasanya Eirine tidak terbiasa langsung mendekat ke saya sebelum memberikan isyarat. Biasanya dengan mengangkat tangan atau isyarat yang lain. Tapi saat itu setelah selesai memakan kue-kuean, persis di saat akan dilaksanakan shalat magrib, dia mendekat dan mengatakan: ” I think I don’t have any reason to delay it any more”. Saya tanya: “delaying what?” Dia bilang: “I wanted to be a Muslim tonight”.

Dengan bersyukur kepada Allah SWT segera saya umumkan kepada jama’ah yang memang membludak malam itu bahwa seorang sister akan mengucapkan syahadah. Di saat saya minta untuk mengucapkan syahadah sebelum magrib, dia minta kalau diberi waktu lagi. Saya tanya kenapa? Dia menjawab: “I am nervous”. Maka saya putuskan untuk memberikan waktu kepadanya hingga Isha.

Alhamdulillah, dihadapan jama’ah Isha masjid Al-Hikmah, wanita China Town ini mengucapkan syahadah diiringi linangan airmata dan pekik takbir jama’ah masjid Al-hikmah. Allahu akbar!

Senin lalu, Eirine menyempatkan diri mengikuti ceramah saya tentang “Why al Qur’an?” di pace University. Di universitas ini beberapa waktu lalu ditemukan Al Qur’an di WC dua kali, dan sempat menjadi issue besar. Untuk itu, Muslim Students Association menggelar public forum untuk menjelaskan kepada kemunitas Pace Universitas tentang Al Qur’an dan kenapa Al Qur’an itu begitu disucikan. Eirine yang hadir hari itu sudah lengkap dengan penutup kepalanya.

Bu Prof., selamat dan doa kami menyertai!

New York, 5 Nopember 2006
M. Syamsi Ali






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham