Untuk Tukul Arwana
Artikel ini dibuat tidak ada maksud untuk mengghibah sesama saudara muslim, karena yg dituju dari artikel ini adalah SIKAP dan PERBUATAN Tukul, BUKAN PRIBADINYA.
Tukul Arwana, siapa sih yg tidak kenal dengan nama ini?
Pelawak yg kini sukses sebagai pembawa acara Empat Mata di sebuah stasiun televisi ini telah menjadi sebuah ‘icon’ kerja keras dan konsistensi terhadap pekerjaan yg ditekuni dengan segenap hati. Jika kita sempat membaca cuplikan biografi Tukul, anda akan menemukan betapa berat perjuangan yg dilakukan Tukul hingga akhirnya, atas ijin ALLOH SWT, Tukul berhasil meraih kesuksesan yg dia raih saat ini.
Rating acara yg dipandu Tukul, tak pelak mempunyai angka yg cukup tinggi. Dampaknya jelas, banyak perusahaan yg mengiklankan produk2nya di acara Tukul ini. Jika anda sempat menonton Empat Mata, anda akan melihat begitu banyak iklan yg dipasang untuk menyelingi acara ini. Dirasa belum cukup, iklan2 terselubung juga tampil dalam acara, entah berupa minuman energi, obat batuk, dan banyak iklan lainnya.
Banyak orang menilai, acara Empat Mata ini bertujuan ‘menelanjangi’ serta menertawakan diri sendiri. Selain itu, materinya yg ringan (tidak terlalu banyak berpikir) serta tampilnya bintang tamu-bintang tamu yg membuat mata ’segar’ membuat acara ini kian digemari.
Aku sendiri bukanlah penonton tetap Empat Mata. Acara ini aku tonton ’sesempatnya’ saja…tidak mesti tiap hari. Selain karena ada urusan lain, ada beberapa hal yg menyebabkan aku tidak begitu menyukai acara Empat Mata.
Pertama, tindakan mencium bintang tamu perempuan. Hampir di tiap episode, Tukul mencium (pipi) bintang tamu perempuan. Memang, tidak semuanya bersedia dicium…ada juga yg menolak. Namun, yaaa…bukan namanya Tukul jika ‘tidak berhasil’ mencium bintang tamunya.
Padahal, menurut Islam (jadi bukan menurutku), DILARANG MENYENTUH LAKI-LAKI/PEREMPUAN YG BUKAN MAHRAMNYA. Menyentuh saja tidak boleh, apalagi menciumnya, walau sekedar pipi. Well…ini sebenarnya nasihat buatku juga, yg kadang masih bersentuhan dg perempuan bukan mahram, walau ’sekedar’ berjabat tangan. Mudah2an aku bisa lebih berhati-hati lagi di masa depan.
Buatku sendiri, tindakan Tukul ini membuat risih (BUKAN IRI lho…). Apalagi jika Tukul ‘mengejar2′ si bintang tamu untuk cipika cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri). Terus terang, hal ini membuatku masygul…dan tercenung. Baiklah, anggap saja istrinya tidak cemburu, tapi toh tetap saja, hal itu tidak etis menurut agama.
Kedua, dalam acaranya, Tukul berhasil menciptakan jargon2 yg menjadi ciri khasnya. “Katro”, “Ta’ sobek-sobek”, “Kembali ke laptop”, “Ndeso”, adalah sebagian jargon (baru) yg menjangkiti masyarakat. Tidak sedikit yg menjadikannya ‘bumbu’ bahasa/obrolan.
Sah-sah saja Tukul menciptakan jargon ataupun istilah baru (yg disukai masyarakat). Namun, hendaknya Tukul juga MEMPERHATIKAN GAYA BAHASANYA. Tidak sedikit ucapan2 yg bersifat menghina atau mengolok-olok, baik ke bintang tamu ataupun ke rekan kerjanya, yg menurutku kebablasan. Misalnya kepada rekannya Febri, yg bertugas di bagian alat musik (band), yg seringkali ‘adu olok2′, istilah2 yg terlalu vulgar (menurutku) kerap dilontarkan keduanya. Dari muka kerbau, monyet, dan seterusnya acapkali terlontar dari mulut mereka.
Ok jika mereka menganggap itu sekedar guyon. Tapi, apakah guyonan seperti itu layak dikonsumsi masyarakat? Jika guyonan itu dilakukan di kalangan teman2 yg BENAR2 AKRAB, MUNGKIN TIDAK MASALAH (meski sebenarnya tidak baik juga). Namun jika ‘disebar luaskan’ (dan aku yakin akan ditiru masyarakat) apakah hal itu baik?
Terlebih lagi acara Tukul ini, aku yakin, juga ditonton oleh anak-anak, yg SANGAT MUDAH MENIRUKAN APA YG DIA LIHAT. Apakah Tukul tidak ingat dengan ‘kasus’ Smack Down? Barangkali Tukul (dan tim kreatifnya) beranggapan bahwa ini hanyalah ucapan, bukan tindakan…sehingga mereka menganggap enteng hal ini? Entahlah.
Yang jelas, aku melihat acara Empat Mata ini sebagai media untuk belajar kata2 yg kurang etis.
Ini juga menjadi nasihat bagi diriku, untuk bisa berkata-kata dan menulis hal2 yg lebih baik.
Terakhir, sikap Tukul yg seringkali merendahkan dirinya. Di beberapa episode, aku sempat melihat Tukul bersikap (akting?) menyemir sepatu bintang tamunya dg gaya yg mirip budak.
Hmm…mungkin ini sebenarnya beda pandangan saja, tapi bagiku kok tindakan seperti itu nampak hina sekali. Maksudnya memang untuk melucu, tapi apa tidak ada cara lain yg lebih pantas?
Belum lagi akting Tukul menjadi anjing dan mengigit ‘tulang’ yg dilempar oleh bintang tamunya. Kesan MENGHINAKAN DIRI kok lebih dominan dibanding MENERTAWAKAN DIRI?
Bagiku, menertawakan diri ‘lebih baik’ daripada menghinakan diri, karena menertawakan diri (menurutku) identik muhasabah (introspeksi diri sendiri). Jika memang ada kekurangan/kelemahan ataupun kesalahan, kita ‘mungkin’ akan tertawa…karena kita sadar bahwa kita hanya manusia biasa, dan saat melakukan muhasabah kita sudah tahu bahwa kesalahan itu sebenarnya bisa dihindari (tidak dilakukan).
Sementara menghinakan diri sendiri, jelas kurang baik. Ini akan membuat orang menganggap rendah (hina) kita. Orang yg hina, belum tentu orang yg miskin. Orang kaya pun bisa tampak hina, jika dia bersikap tidak wajar (terutama berdasar pandangan agama).
So, bagi Tukul, alangkah baiknya jika anda mengevaluasi lagi sikap dan tindakan serta gaya bahasa anda dalam membawakan acara. Aku yakin orang akan lebih menghormati anda bila saat membanyol (melucu), anda menggunakan cara2 yg terhormat, dibanding sekedar berlari-lari menggigit tulang.
Percayalah Tukul, penonton (apalagi aku) akan bosan jika disuguhi cara2 yg ‘tidak intelek’ seperti itu. Apalagi jika sampai dicap tayangan yg tidak mendidik. Aku tunggu perubahannya di acara Empat Mata lho…
*artikel ini dibuat juga sebagai cermin bagi tingkah lakuku, agar bisa menuju/berbuat yg lebih baik di hadapan ALLOH SWT*

