Tausyiah275

April 30, 2007

Informasi Beasiswa Mempelajari Islam

Masuk Kategori: HOT NEWS, Dari Inboxku

Greeting of peace from AMAN

The Asian Muslim Action Network (AMAN), with the support of Rockefeller Foundation is pleased to announce the sixth round of Research Fellowship program for young Muslim scholar in Southeast Asia.

Themes of this round are :
- Popular Islam
- Globalisation and Identity Politics
- Islam and Changing gender reality
- Islamic values. economic activities and social responsibilities

Candidate must be from countries like Thailand, Vietnam, Cambodia, Laos, Indonesia, Malaysia, and the Phillipines and women are strongly encouraged to apply. Proposal in the field of Islamic values, economic activities and social responsibilities will be given priority for this round.

Closing date of application is 30 November 2007, for futher information visit our website http://fellowship.arf-asia.org/ If you are interested to apply, please send us research proposal (problem statement, objective, methodology, expected impacts) and application form (also available on the website).

Please, forward and distribute this information to all your collegues from your networks, who could benefit this program. If you have any question about this program, feel free to contact us.

Warm Regards,

Dwi Rubiyanti Kholifah (Ruby)
Program Cordinator of Research Fwllowship
Program Islam in Southeast Asia: Views from Within AMAN
House 1562/113, Soi 1/1 Mooban Pibul, Pracharaj
Road,Bangkok 10800, Thailand
Tel: 66-2-9130196, Fax: 66-2-9130197
Email: aman@arf-asia.org

===

University of Birmingham & Islamic Relief Worldwide.

Deadline: May 07–April 08 (extended to September 2009 subject to funding confirmation)

Religious & Development Research Programme (DFID-funded)
This is an international research partnership (joint appointment between the University and the policy and research unit of Islamic Relief) that is exploring the relationships among several major world religions, development in low-income countries and poverty reduction. Applicant will be an employee of IR but will split his/her time between the two organisations. Applicant must hold a relevant master’s degree with strong preference for a completed PhD and have social science research experience in developing countries. Applicant should also be sympathetic to Islamic humanitarian values.

Further information (& for application packs) can be obtained by visiting following web-site/s:

www.islamic-relief.com
www.islamic-relief.org. uk
www.bham.ac uk
www.hr.bham.ac.uk/jobs or also by email to: hr@islamic-relief. org.uk
Closing date: 2 May 2007.

April 29, 2007

Memberi Hadiah Itu Bagus, Tapi….

Masuk Kategori: Hikmah, Muamalah, Seri Kesalahan2

based on true story:

Seorang perempuan, katakan namanya Nina mengeluh mengenai kondisi yg dialami kantornya. Suasana kantor sedang tidak kondusif, karena sudah hampir 3 bulan terakhir, pembayaran gaji selalu terlambat. Sementara itu, jajaran direksi cenderung diam, tidak banyak tindakan atau pemberitahuan mengenai keterlambatan gaji. Bahkan, dalam salah satu email yg diterima para karyawan, jajaran direksi mengumumkan bahwa mereka akan merekrut staf baru dan kendaraan operasional baru.

Belum usai ‘masalah’ ini, rekan Nina, sebut saja namanya Susan, mengajak teman2 kerjanya untuk menyumbang, menyisihkan sebagian uang, untuk membeli hadiah yg ditujukan kepada salah seorang jajaran direksi yg akan merayakan ulang tahun. Ajakan Susan ini sebenarnya tidak banyak ditanggapi oleh teman2 kerjanya, terutama oleh Nina. Selain mereka sudah tidak gajian selama sekian lama, mereka berpikiran ‘apa gunanya’ memberi hadiah kepada direksi, yg secara finansial dan materi, kondisinya lebih baik dari mereka.

Cuplikan cerita di atas mungkin pernah kita jumpai, bahkan mungkin pernah kita alami sendiri. Di saat susah, kita malah diajak menyumbang seseorang, katakanlah boss kita, yg alih2 menuaikan kewajibannya dg membayar gaji staf2nya, namun malah mendapat hadiah istimewa karena dia berulang tahun.

Islam sendiri memang ‘menganjurkan’ untuk saling memberi hadiah, sebagaimana sabda Rasululloh SAW,“Hendaknya kamu saling memberi hadiah. Sesungguhnya pemberian hadiah itu dapat melenyapkan kedengkian.” (HR. Tirmidzi dan dan Ahmad)

Jika kita merujuk kepada hadits di atas, apa yg dilakukan oleh Susan tidaklah salah. Namun, mesti diperhatikan juga, SIAPA DAN BAGAIMANA KONDISI YG HENDAK MEMBERI DAN HENDAK DIBERI HADIAH tersebut. Hal ini berdasarkan bahwa Islam juga mempunyai asas KEADILAN.

Untuk kasus Nina dan Susan, aku punya pandangan bahwa KITA TIDAK PERLU MEMBERI HADIAH KEPADA DIREKSI tersebut. Pertama, kondisi keuangan para staf sedang tidak stabil. Daripada digunakan untuk membeli hadiah bagi boss mereka yg, maaf, tidak bertanggung jawab (karena belum juga membayar gaji), lebih baik uang tersebut digunakan untuk keperluan hidup. Kedua, posisi boss yg lebih berkecukupan, bagiku, ‘tidak layak’ menerima hadiah dari orang2 yg sedang dalam kesusahan. Adalah lebih ‘masuk akal’ dan bermanfaat jika yg menerima hadiah adalah orang2 yg LEBIH MEMBUTUHKAN. Ketiga, memberi perhatian terhadap boss yg sedang ulang tahun, tidaklah mesti dengan memberikan hadiah (materi). Kerja keras serta dedikasi dan loyalitas yg diperlihatkan oleh staf, menurutku, jauh lebih ‘bermanfaat’ dan berkesan. Keempat, alih2 ingin mendapatkan ‘pujian’ dari boss…si boss malah berpikir,”Wah, staf2ku orang2 kaya semua…meski tidak gajian sekian lama, mereka masih bisa memberi hadiah buatku. Jadi, tidak perlu cepet2 bayar gaji mereka.” Nah lho…repot kan?

Semoga kita lebih ‘mawas’ diri dalam memberi hadiah. BUKAN berarti aku memprovokasi orang untuk tidak menghargai orang, dg memberi hadiah, tapi setidaknya kita mesti lebih bisa menempatkan diri dan tahu siapa yg diberi hadiah.

Memberi hadiah kepada orang yg LEBIH berkecukupan, ibaratnya memberi garam ke laut. Terlebih lagi jika hadiah yg diberikan merupakan ‘paksaan’, karena sebenarnya kondisi kita sendiri sedang tidak berkecukupan/sedang kesulitan.

April 27, 2007

Taubatan Nasuha Itu HARUS!!

Istilah Taubatan Nasuha mungkin jarang kita dengar. Istilah yg lebih sering kita dengar dan lebih sering diutarakan, baik oleh para ustadz, ulama, ataupun di masyarakat adalah taubat atau tobat. Makna keduanya, sekilas sama, namun istilah taubatan nasuha merupakan istilah yg lebih ‘tepat’ dan akan dibahas di artikel ini.

Terma dari akar kata “t-w-b” dalam bahasa Arab menunjukkan pengertian: pulang dan kembali. Sedangkan taubat kepada Allah SWT berarti pulang dan kembali ke haribaan-Nya serta tetap di pintu-Nya. Definisi ini diutarakan oleh Yusuf Qardhawi, salah seorang ulama besar asal Mesir.

Sementara istilah Taubatan Nasuha, berasal dari Al Qur’an, At Tahrim(66):8,“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.”

Pengertian murni dalam bertaubat adalah benar2 dilakukan karena ingin kembali ke jalan-Nya. Dia menyesali perbuatan buruknya di masa lalu serta berjanji untuk TIDAK MELAKUKANNYA/MENGULANGINYA di kemudian hari. Hasilnya adalah ALLOH SWT akan menghapus kesalahan2 yg pernah dilakukannya. Dalam satu referensi, aku dapatkan pernyataan dari Al Kulabi, yg menyatakan bahwa taubatan nasuha dilakukan dengan meminta ampunan dengan lidah, menyesal dengan hatinya, serta menjaga tubuhnya untuk tidak melakukannnya lagi.

Dengan demikian, taubat nasuha HARUSLAH HASIL KOORDINASI LIDAH, HATI DAN TUBUH. Bisa dikatakan, taubat nasuha MIRIP dengan iman, diyakini dg hati, diucapkan dg lisan, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Taubat nasuha merupakan solusi dari ALLOH SWT kepada hamba2Nya yg pernah berbuat kesalahan (dosa) dan kemudian menyadarinya, serta ingin kembali ke jalan yg benar. Hal ini dikarenakan tidak ada manusia yg tidak pernah berbuat kesalahan. Manusia bukanlah malaikat, yg selalu bersih, tanpa noda…karena setan, selaku musuh manusia, akan selalu menggoda manusia ke dalam perbuatan maksiat dan melanggar aturan ALLOH SWT, hingga akhir jaman.

Hinakah orang yg berbuat salah kemudian menyadari kesalahannya dan ingin kembali ke sisi ALLOH SWT? Sesungguhnya tidaklah hina orang yg bertaubat, karena ALLOH SWT sendiri menyukai orang2 yg bertaubat, sebagaimana tercantum di Al Baqarah(2):222,“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.

Hal ini wajar jika ALLOH SWT menyukai orang2 yg bertaubat, karena ALLOH SWT sendiri SUKA MENERIMA TOBAT, Al Baqarah(2):160,“kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Ada juga orang yg mengaku bertobat, tapi kembali berulangkali melakukan kesalahan yg sama. Aku jadi teringat ceramah Zainudin MZ, yg menyatakan orang yg demikian tobatnya adalah tobat sambal. Ngaku tobat (kapok) makan sambal, tapi di kesempatan lain akan mencoba lagi makan sambal…dan saat pedas dirasa, dia tobat lagi, tapi makan lagi sambal, demikian seterusnya…

Dengan demikian, taubat nasuha ialah taubat yang mengandungi ciri-ciri berikut:
1. Menyesal di atas dosa/maksiat yang dilakukan. Untuk dosa/perbuatan maksiat yg ‘biasa’, dilakukan dg memohon ampunan kepada ALLOH SWT. Sedangkan jika kesalahan dilakukan kepada sesama manusia, maka hendaklah dia meminta maaf kepadanya serta mengembalikan hak yg dia rampas (jika ada).
2. Berniat (dg sungguh2) tidak akan mengulanginya lagi.
3. Memohon taubat kepada ALLOH SWT.
4. ‘Menghapus’ kesalahan masa lalu dg banyak beramal soleh.

Mudah2an artikel ini berguna….

Dicari Guru Teladan untuk menerima penghargaan Inspiring Teacher Award 2007

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Inspiring Teacher Award 2007 adalah salah satu wujud dedikasi Lembaga Pengembangan Insani sebagai jejaring pendidikan Dompet Dhuafa dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional 2007.

Inspiring Teacher Award 2007 adalah ajang pemberian penghargaan bagi guru-guru dari seluruh Indonesia yang telah memberikan berbagai inspirasi dalam proses belajar-mengajar.

Masyarakat dapat mengajukan guru yang dianggap pantas menjadi kandidat penerima penghargaan Inspiring Teacher Award 2007 dengan memenuhi persyaratan sbb:

Syarat Umum:
- WNI
- Pria atau wanita
- Berstatus guru Indonesia

Syarat Khusus :
- Guru direkomendasikan oleh Kepala Sekolah atau rekan guru atau orangtua siswa
- Guru yang mempunyai pendapatan di bawah UMR (slip gaji/ honor bulan terakhir dilampirkan)
- Pengalaman mengajar minimal 10 tahun
- Usia minimal 30 tahun
- Foto copy ijazah terakhir
- Pas foto ukuran 4 x 6 sebanyak 2 buah
- Fotocopy KTP
- Surat keterangan dari sekolah

Formulir pendaftaran dan berkas yang diperlukan paling lambat diterima panitia pada tanggal 29 April 2007 Informasi pendaftaran : Ibad (08158115992), Evi (0813 11172100), Willy (081809105125), Yanti (08151682757)

atau :

LPI Dompet Dhuafa
Jl. Raya Parung Bogor Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor 16310
Telp. (0251) 612044, 610818, 610817, Fax. (0251) 615016
www.lpi-dd.net
e-mail : panitia@lpi-dd.net

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat dilihat/ download di sini(pdf 81.3 kb) atau di ini(pdf 48.3 kb). Formulir pendaftaran dapat dilihat/ download di sini (word doc 68.8 kb) Poster kegiatan dapat dilihat di ini

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Panitia Inspiring Teacher Award 2007

Makmal Pendidikan LPI Dompet Dhuafa
Jl. Raya Parung Bogor Ds. Jampang Kec. Kemang Kab.
Bogor 16310
Telp. (0251) 612044, 610818, 610817, Fax. (0251)
615016
e-mail: makmal.pendidikan@gmail.com

April 25, 2007

Islam dan Menimbun Barang

Masuk Kategori: Fiqh, Muamalah, Lain-lain

Sudah beberapa waktu terakhir ini, kita sering mendengar dan membaca berita, mengenai terjadinya kekurangan bahan makanan, bahan bakar minyak, ketersediaan pasokan gas untuk memasak, dan berita2 lain yg terkait dengan menipisnya ketersediaan kebutuhan pokok. Seringkali hilangnya kebutuhan pokok ini sedemikian parahnya, hingga menimbulkan pemandangan antrian yg cukup panjang.

Contoh kasus paling mudah, adalah hilangnya ketersediaan beras di beberapa daerah. Hal ini mengakibatkan harga beras menjadi naik. Akibatnya, di daerah2 tersebut terjadi antrian yg cukup panjang untuk membeli beras (yg harganya cukup terjangkau). Inisiatif pemerintah untuk melakukan import beras, ternyata tidak menjadikan antrian menjadi lebih pendek.

Bahkan, operasi pasar (penjualan beras murah) yg dilakukan pemerintah, juga mengakibatkan terjadinya antrian penduduk yg cukup panjang.

Dari hasil penelitian dan penyelidikan yg dilakukan pemerintah, ternyata ada beberapa distributor beras yg MENIMBUN BERAS. Mereka sengaja melakukannya untuk mendapatkan keuntungan yg lebih besar, seperti yg telah terjadi. Harga beras yg sebelum mereka timbun, katakanlah seharga Rp 3500/kg, setelah mereka timbun (yg berakibat harga beras naik) harganya naik menjadi lebih dari Rp 4500/kg. Suatu kenaikan yg cukup fantastis…belum lagi jika kita kalikan dengan sekian ratus ribu kilogram beras yg mereka timbun…bisa dibayangkan betapa besar duit yg masuk ke kantong mereka.

Terkait kasus penimbunan seperti ini, ternyata Islam menunjukkan diri sebagai ajaran yg lengkap, karena ada aturan yg sudah jelas di Islam mengenai penimbunan ini. Melalui hadits Rasululloh SAW, “Siapa menimbun bahan makanan selama empat puluh malam, maka sungguh ALLOH SWT tidak lagi perlu kepadanya.” (HR Ahmad, Hakim, Ibnu Abu Syaibah, dan Bazzar)
dan
“Tidak akan menimbun kecuali orang berbuat dosa” (HR Muslim)

Dari 2 hadits di atas, sudah bisa kita simpulkan (sementara), bahwa ISLAM MELARANG KERAS UMATNYA UNTUK MENIMBUN BAHAN KEBUTUHAN POKOK. Tindakan menimbun ini merupakan tindakan EGOIS, karena berusaha menumpuk kekayaan atas penderitaan orang lain.

Untuk lebih tegasnya, Rasululloh SAW menjelaskan,“Sejelek-jelek manusia adalah orang yg suka menimbun. Jika dia mendengar harga murah, merasa kecewa dan jika mendengar harga naik, merasa gembira.” (HR Razin dan Jaminya).

Selain itu, Rasululloh SAW juga menyatakan bahwa rezeki hanyalah untuk pedagang2 yg meraih keuntungan dg ‘wajar’. Hal ini berdasar hadits beliau,“Saudagar itu diberi rezeki, sedangkan yg menimbun dilaknat.” (HR Ibnu Majah dan Hakim)

Kesimpulannya:
1. Kita harapkan, pemerintah lebih menindak tegas para penimbun bahan kebutuhan pokok, karena hal itu akan menyengsarakan rakyat. Selain itu, wibawa pemerintah akan jelek di mata masyarakat, jika membiarkan tindakan penimbunan, apalagi jika dilakukan oleh pejabat pemerintah.
2. Apabila kita menjadi pedagang, hendaklah berdagang dg baik. Menambah kekayaan di atas penderitaan rakyat banyak, insya ALLOH, tidak akan diridhoi ALLOH SWT. Harta yg didapat pun tidak akan berkah, karena banyak hak rakyat di dalamnya, yg telah diperlakukan dg tidak adil (dzalim).

April 20, 2007

Untuk Tukul Arwana

Masuk Kategori: HOT NEWS, Hikmah

Artikel ini dibuat tidak ada maksud untuk mengghibah sesama saudara muslim, karena yg dituju dari artikel ini adalah SIKAP dan PERBUATAN Tukul, BUKAN PRIBADINYA. ;-)

Tukul Arwana, siapa sih yg tidak kenal dengan nama ini?

Pelawak yg kini sukses sebagai pembawa acara Empat Mata di sebuah stasiun televisi ini telah menjadi sebuah ‘icon’ kerja keras dan konsistensi terhadap pekerjaan yg ditekuni dengan segenap hati. Jika kita sempat membaca cuplikan biografi Tukul, anda akan menemukan betapa berat perjuangan yg dilakukan Tukul hingga akhirnya, atas ijin ALLOH SWT, Tukul berhasil meraih kesuksesan yg dia raih saat ini.

Rating acara yg dipandu Tukul, tak pelak mempunyai angka yg cukup tinggi. Dampaknya jelas, banyak perusahaan yg mengiklankan produk2nya di acara Tukul ini. Jika anda sempat menonton Empat Mata, anda akan melihat begitu banyak iklan yg dipasang untuk menyelingi acara ini. Dirasa belum cukup, iklan2 terselubung juga tampil dalam acara, entah berupa minuman energi, obat batuk, dan banyak iklan lainnya.

Banyak orang menilai, acara Empat Mata ini bertujuan ‘menelanjangi’ serta menertawakan diri sendiri. Selain itu, materinya yg ringan (tidak terlalu banyak berpikir) serta tampilnya bintang tamu-bintang tamu yg membuat mata ’segar’ membuat acara ini kian digemari.

Aku sendiri bukanlah penonton tetap Empat Mata. Acara ini aku tonton ’sesempatnya’ saja…tidak mesti tiap hari. Selain karena ada urusan lain, ada beberapa hal yg menyebabkan aku tidak begitu menyukai acara Empat Mata.

Pertama, tindakan mencium bintang tamu perempuan. Hampir di tiap episode, Tukul mencium (pipi) bintang tamu perempuan. Memang, tidak semuanya bersedia dicium…ada juga yg menolak. Namun, yaaa…bukan namanya Tukul jika ‘tidak berhasil’ mencium bintang tamunya. :-(

Padahal, menurut Islam (jadi bukan menurutku), DILARANG MENYENTUH LAKI-LAKI/PEREMPUAN YG BUKAN MAHRAMNYA. Menyentuh saja tidak boleh, apalagi menciumnya, walau sekedar pipi. Well…ini sebenarnya nasihat buatku juga, yg kadang masih bersentuhan dg perempuan bukan mahram, walau ’sekedar’ berjabat tangan. Mudah2an aku bisa lebih berhati-hati lagi di masa depan. :-)

Buatku sendiri, tindakan Tukul ini membuat risih (BUKAN IRI lho…). Apalagi jika Tukul ‘mengejar2′ si bintang tamu untuk cipika cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri). Terus terang, hal ini membuatku masygul…dan tercenung. Baiklah, anggap saja istrinya tidak cemburu, tapi toh tetap saja, hal itu tidak etis menurut agama.

Kedua, dalam acaranya, Tukul berhasil menciptakan jargon2 yg menjadi ciri khasnya. “Katro”, “Ta’ sobek-sobek”, “Kembali ke laptop”, “Ndeso”, adalah sebagian jargon (baru) yg menjangkiti masyarakat. Tidak sedikit yg menjadikannya ‘bumbu’ bahasa/obrolan.

Sah-sah saja Tukul menciptakan jargon ataupun istilah baru (yg disukai masyarakat). Namun, hendaknya Tukul juga MEMPERHATIKAN GAYA BAHASANYA. Tidak sedikit ucapan2 yg bersifat menghina atau mengolok-olok, baik ke bintang tamu ataupun ke rekan kerjanya, yg menurutku kebablasan. Misalnya kepada rekannya Febri, yg bertugas di bagian alat musik (band), yg seringkali ‘adu olok2′, istilah2 yg terlalu vulgar (menurutku) kerap dilontarkan keduanya. Dari muka kerbau, monyet, dan seterusnya acapkali terlontar dari mulut mereka.

Ok jika mereka menganggap itu sekedar guyon. Tapi, apakah guyonan seperti itu layak dikonsumsi masyarakat? Jika guyonan itu dilakukan di kalangan teman2 yg BENAR2 AKRAB, MUNGKIN TIDAK MASALAH (meski sebenarnya tidak baik juga). Namun jika ‘disebar luaskan’ (dan aku yakin akan ditiru masyarakat) apakah hal itu baik?

Terlebih lagi acara Tukul ini, aku yakin, juga ditonton oleh anak-anak, yg SANGAT MUDAH MENIRUKAN APA YG DIA LIHAT. Apakah Tukul tidak ingat dengan ‘kasus’ Smack Down? Barangkali Tukul (dan tim kreatifnya) beranggapan bahwa ini hanyalah ucapan, bukan tindakan…sehingga mereka menganggap enteng hal ini? Entahlah.

Yang jelas, aku melihat acara Empat Mata ini sebagai media untuk belajar kata2 yg kurang etis.

Ini juga menjadi nasihat bagi diriku, untuk bisa berkata-kata dan menulis hal2 yg lebih baik. :-)

Terakhir, sikap Tukul yg seringkali merendahkan dirinya. Di beberapa episode, aku sempat melihat Tukul bersikap (akting?) menyemir sepatu bintang tamunya dg gaya yg mirip budak.

Hmm…mungkin ini sebenarnya beda pandangan saja, tapi bagiku kok tindakan seperti itu nampak hina sekali. Maksudnya memang untuk melucu, tapi apa tidak ada cara lain yg lebih pantas?

Belum lagi akting Tukul menjadi anjing dan mengigit ‘tulang’ yg dilempar oleh bintang tamunya. Kesan MENGHINAKAN DIRI kok lebih dominan dibanding MENERTAWAKAN DIRI?

Bagiku, menertawakan diri ‘lebih baik’ daripada menghinakan diri, karena menertawakan diri (menurutku) identik muhasabah (introspeksi diri sendiri). Jika memang ada kekurangan/kelemahan ataupun kesalahan, kita ‘mungkin’ akan tertawa…karena kita sadar bahwa kita hanya manusia biasa, dan saat melakukan muhasabah kita sudah tahu bahwa kesalahan itu sebenarnya bisa dihindari (tidak dilakukan).

Sementara menghinakan diri sendiri, jelas kurang baik. Ini akan membuat orang menganggap rendah (hina) kita. Orang yg hina, belum tentu orang yg miskin. Orang kaya pun bisa tampak hina, jika dia bersikap tidak wajar (terutama berdasar pandangan agama).

So, bagi Tukul, alangkah baiknya jika anda mengevaluasi lagi sikap dan tindakan serta gaya bahasa anda dalam membawakan acara. Aku yakin orang akan lebih menghormati anda bila saat membanyol (melucu), anda menggunakan cara2 yg terhormat, dibanding sekedar berlari-lari menggigit tulang.

Percayalah Tukul, penonton (apalagi aku) akan bosan jika disuguhi cara2 yg ‘tidak intelek’ seperti itu. Apalagi jika sampai dicap tayangan yg tidak mendidik. Aku tunggu perubahannya di acara Empat Mata lho… ;-)

*artikel ini dibuat juga sebagai cermin bagi tingkah lakuku, agar bisa menuju/berbuat yg lebih baik di hadapan ALLOH SWT*






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham