Jangan Kau Benci Ayah (dan/atau) Ibumu
Ada sebuah komentar (di blog ini) yg mengusik diriku. Aku tuliskan di sini komentar tersebut:
gmna klo qu ta’ cinta pada ayah qu??
bakl msuk surga ga?
kaw enak cekalee,,
punya ortu bae!!
disini ayahku jahatnya naudzubillah deh!!
aku benci banget sama dya,,
najis!!
jangan2 dya itu dajjal ya??
hehehe,,,
amin deh!!
aku benci ayah,,benciiiiiiiiii!!!!!!!!!
dya jahat!!!!!!!!!
tadi dya jotosin ade aku,,
trus aku bela,,
tapy,,aku maw di cekek sama dya,,
ayah macem apa tuh?!
aku aja ga abis pikir kok ada ayah yang durhaka ma anaknya ,,
hehhe,,
emang jamn dagh edan!!
makanya lo nak cilik,,
sayangin bner2 ortu lo yang keren abis itu,,
lo bner2 manusya yang “lucky!”
salam ya bwat orut lo,,
gw doain byar nanti kalian skeluarga masuk surga,,
jangan lupa doain qu jga yawh,,
byar bner2 bahagya en masuk surga,,
udah ga usah doain ayahku,,
doain aja aku sama ummi en ade2 ku yang masuk surga,,
sweet regard,,
Membaca komentar ini, aku langsung terdiam dan termenung…teringat dengan cerita beberapa teman dan kenalanku, yang intinya nyaris serupa. Mereka MEMBENCI orang tua mereka (ayah atau ibu, atau bahkan keduanya). Mereka beranggapan orang tua mereka mempunyai kesalahan yg begitu besar, yg menurut mereka tidak bisa dimaafkan. Yang lebih parahnya, ada juga yg menganggap orang tuanya yg bersalah itu TIDAK ADA…dengan kata lain, dia hanya mengakui keberadaan salah satu orang tuanya. Di kasus lain, dia lebih ‘memilih’ orang tua temannya sebagai orang tuanya.
“Astaghfirullah…”
Aku hanya bisa beristighfar tiap kali teringat cerita teman2ku dan kenalan2ku itu. Terutama jika mengingat cerita temanku yg sedemikian membenci ayahnya, sehingga menyebut kata ayah pun merupakan pantangan baginya. Dia lebih suka menyebutnya “si itu” sebagai pengganti kata ayah. Suatu ironi…yg membuat hatiku sedih.
Di sisi lain, aku juga mempunyai teman yg sedemikian cintanya pada ayahnya. Sepeninggal ibunya, temanku ini berusaha membaktikan dirinya pada ayahnya. Bahkan ketika ayahnya sakit, dia rela untuk meninggalkan pekerjaannya…untuk pulang kampung, demi menjenguk ayahnya. Dia berkata bahwa tindakannya ini merupakan sebagai ‘balas dendam’, karena ketika ibunya meninggal, dia masih kecil dan tidak bisa berbuat apa2. Suatu pengalaman hidup yg memaksaku menengok kembali lembaran hidupku, apakah bakti yg telah aku berikan kepada orang tuaku?
Saudara-saudaraku…aku hendak menyoroti cerita yg pertama, karena untuk cerita yg kedua merupakan sikap yg memang dianjurkan oleh agama kita yg sempurna ini. Insya ALLOH kali lain aku akan bahas juga.
Bagaimana mungkin seorang anak membenci (salah satu atau bahkan kedua) orangtuanya?
Pertanyaan ini sering sekali mengganggu pikiranku. Aku sempat diskusi dengan temanku yg membenci ayahnya itu. Dia menganggap ayahnya mempunyai kesalahan yg sangat besar kepada keluarganya, terutama kepada ibunya, sehingga dia tidak bisa memaafkan kesalahan ayahnya itu. Sayang sekali dia tidak mau bercerita tentang kesalahan ayahnya itu.
Semula aku pikir ayahnya menikah lagi (berpoligami), namun setelah selesai dia mengeluarkan (hampir seluruh) unek2nya, ternyata ayahnya tidak berpoligami, bahkan jika mendengar ceritanya, aku yakin ayahnya adalah ayah/orang tua yg bertanggung jawab.
Aku ajak diskusi dia, mengapa dia mesti membenci ayahnya…namun tidak ada alasan ‘kuat’ yg dia utarakan yg masuk logikaku. *maaf, aku tidak bisa ceritakan alasan2nya itu…untuk menghindari ghibah* Akhirnya aku hanya bisa memberikan solusi padanya untuk lebih sering berinteraksi dengan ayahnya, coba mendekat, dan tindakan2 persuasif lainnya.
Temanku yg lain, PERNAH membenci ayahnya, karena ayahnya menikah lagi….secara diam-diam. Ketika dia dan keluarganya (ibu serta kakak2nya) tahu mengenai pernikahan ayahnya (yang kedua), sontak dia membenci sekali ayahnya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu…akhirnya dia bisa berkompromi dengan status ayahnya yg beristri dua. Bahkan ketika keluarga istri keduanya datang, saat ayahnya meninggal, kedua istri tersebut nampak ‘kompak’ dan berbagi cerita.
Saudara-saudaraku, inti pesan yg hendak aku sampaikan adalah JANGAN KAU BENCI ORANG TUAMU!! Agama Islam telah menganjurkan agar kaum muslim/muslimat menghormati kedua orang tuanya. Mungkin kita sudah sangat hafal dengan ayat Al Isra’(17):23,“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.“
Dalam ayat tersebut sudah jelas dituliskan bahwa sikap kita kepada orang tua:
- Berbuat baik
- Memelihara (menampung) keduanya apabila mereka telah lanjut
- Jangan berkata AH. Dengan merujuk ayat di atas, MEMBENTAK sudah merupakan perbuatan yg TERLARANG
Saudara-saudaraku, apabila anda ada yg masih membenci orang tua anda (atau ayah anda), ingatlah bahwa ayah anda telah berjuang dengan sekuat tenaga membesarkan anda. Beliau banting tulang mencari nafkah untuk membiayai sekolah anda, membelikan mainan kesukaan anda, mengajak anda jalan2. Bahkan ketika anda masih dalam kandunganpun, ayah anda telah bersusah payah untuk membelikan makanan bergizi untuk ibu anda yg akan anda serap, demi keinginan melihat anaknya lahir dan tumbuh dengan sehat.
Jika anda masih tidak bisa berkompromi dengan alasan2 di atas, maka aku hendak ingatkan hal yang lain lagi.
Apakah anda ingat orang tua Nabi Ibrahim? Dalam kisah Nabi Ibrahim as, disebutkan bahwa ayahanda beliau adalah PEMBUAT PATUNG/BERHALA. Dengan demikian, secara aqidah, ayahanda Ibrahim as jelas tidak seiman dengan nabi Ibrahim as.
Lalu, apakah Nabi Ibrahim as membenci ayahnya?
Demi ALLOH, Nabi Ibrahim tidak lantas membenci ayahnya. Kita bisa baca, bahwa Nabi Ibrahim as senantiasa berbicara dengan ayahnya, mengajaknya untuk meninggalkan pekerjaannya selaku pembuat patung/berhala, serta mengikuti beliau, untuk menyembah ALLOH SWT. Apa jawaban ayahnya Nabi Ibrahim as? Beliau MENCACI MAKI, MEMARAHI, bahkan MENGUSIR Nabi Ibrahim as.
Lantas, mendapat perlakuan demikian, bencikah Nabi Ibrahim as kepada ayahnya?
Demi ALLOH, Nabi Ibrahim as tidak membenci ayahnya. Beliau memilih berpisah BAIK-BAIK dengan ayahnya, seraya berdoa semoga ayahnya diberi hidayah oleh ALLOH SWT.
Memang, kita bukanlah tipe Nabi, yg sedemikian luhur budi pekertinya. Namun, contoh dari Nabi Ibrahim as diharapkan bisa membuka mata hati kita…sejahat apapun orang tua kita, beliau tetap orang tua kita. Tidak bisa anda menyebut ayah/ibu yg anda benci dg ucapan “bekas ayah saya” atau “bekas ibu saya” atau “bekas orang tua saya”.
Darah dan daging beliau berdua ada di dalam tubuh anda. Tidak bisa anda menggantinya, sekalipun dengan mengganti seluruh darah anda dengan darah orang lain yg anda inginkan menjadi orang tua anda. Tidak bisa anda ganti daging2 yg sekarang melekat di tulang anda, dengan daging2 dari orang lain…demi menghapus ‘rekaman’ orang tua anda.
Saudara-saudaraku, orang tua yg tidak seimanpun bukan menjadi alasan untuk membenci mereka berdua. Ketahuilah, sesungguhnya hidayah itu hanya ALLOH SWT yg berkuasa atasnya. Jika anda telah memeluk Islam sementara kedua orang tua anda belum masuk Islam, itu berarti ALLOH SWT mempercayakan anda untuk menjadi jalan bagi kedua orang tua anda agar keduanya masuk Islam.
Berikanlah contoh yg baik, perlakukan keduanya dg perlakuan terbaik. Ingatlah kasih dan sayang yg telah mereka berikan sejak anda masih kecil hingga kini.
Jika mereka tetap bertahan tidak mau masuk Islam, bahkan (seperti ayahnya Nabi Ibrahim as) mengusir anda, tetaplah bersikap baik kepada keduanya. Doakan keduanya untuk mendapatkan hidayah sebagaimana anda mendapatkan hidayah dari ALLOH SWT untuk masuk Islam. Tidak perlu kita berubah sikap menjadi benci dan menjauh dari keduanya, kecuali keduanya bersikap yg membahayakan keselamatan anda…maka hendaknya anda pergi menjauh.
Sementara bagi yg kedua orang tuanya sama2 beragama Islam, ketahuilah TIDAK ADA SATU ALASANPUN UNTUK MEMBENCI ORANG TUA ANDA..!! Apapun perbuatan dan sikap beliau, itu orang tua anda. Perlihatkan kasih dan sayang kepada mereka berdua. Apabila ada perbuatan/sikap mereka yg tidak berkenan di hati anda (membuat kesal dan marah), ingatlah bahwa anda pun di saat kecil pernah berbuat hal yg serupa, yg membuat ibu+ayah anda marah. Namun toh mereka berdua tetap menyayangi anda.
So, mari saudara2ku yg masih membenci orang tuanya, mulai sekarang, marilah kita bersama hapus rasa benci itu. Ingatlah selalu kebaikan keduanya…buang jauh2 semua ingatan tentang sikap/perbuatannya yg tidak berkenan di hati mereka.
Sebagai penutup, aku ingatkan kembali hadits Rasululloh SAW tentang orang yg harus kita hormati/patuhi. Ibumu…Ibumu…Ibumu….Bapakmu. Dengan demikian, perbanyaklah berbakti kepada orang tua kita, tidak pilih2 antara ayah dan ibu. Insya ALLOH kita akan meraih kebahagiaan dunia-akhirat.
Semoga artikel ini bermanfaat.
*ps: teruntuk kedua orang tuaku, mohon maaf jika anakmu ini belum bisa berbakti sepenuhnya…*

