Bacaan di Akhir Pekan-Insya ALLOH
“Insya ALLOH saya datang…”
“Insya ALLOH kalo sempet…”
Kita seringkali mendengar (setidaknya) dua kalimat di atas di kehidupan sehari-hari. Kata-kata Insya ALLOH merupakan yg hendak aku sorot. Kata ini seringkali terlontar apabila seseorang berjanji pada lawan bicaranya.
Insya ALLOH sendiri terdiri dari kata IN(jika), SYA’A(menghendaki), dan ALLOH. Dengan demikian, jika dirangkai, insya ALLOH mempunyai arti=jika ALLOH SWT menghendaki.
Seorang muslim, yg telah mengucapkan insya ALLOH, HENDAKNYA berikhtiar sekuat tenaga untuk mewujudkan apa yg dia ucapkan. Misalnya, seperti pada contoh kalimat di atas. Si Fulan ditanya si Badrul, apakah dia mau datang ke majelis taklim. Si Fulan menjawab,”Insya ALLOH saya datang…”.
Nah, si Fulan hendaknya berupaya mengusahakan untuk datang ke majelis taklim, sesuai janji yg dia ucapkan. Dia mesti mengatur jadwalnya, agar pada waktu yg telah ditentukan, dia bisa datang. Apabila dia telah berupaya semaksimal mungkin (telah mengatur waktu dan jadwal sebaik mungkin), namun ternyata ada halangan mendadak yg dia tidak bisa hindari, maka itu berarti ALLOH SWT tidak menghendaki si Fulan datang ke majelis taklim, karena DIA telah menetapkan sesuatu yg lebih penting ditangani si Fulan di tempat lain.
Namun, sayang sekali, Insya ALLOH kini menjadi sekedar ‘lipstik’ atau kata untuk mengelak (mengeles). Kini, jika seseorang mengucapkan insya ALLOH, (pada umumnya) bisa diperkirakan 68% lebih dia tidak akan hadir. Padahal, sebenarnya TIDAK ADA halangan yg tidak bisa membuat dia hadir. Ketidakhadirannya biasanya dikarenakan dia malas, atau mengerjakan hal lain yg sebenarnya tidak terlalu penting.
Ini berarti pribadi yg bersangkutan TIDAK ADA NIAT yg ‘benar’ dalam berjanji. Akibatnya, orang2 menjadi ‘SALAH MENGERTI’ dan BERPIKIRAN NEGATIF tentang insya ALLOH. Dipikirnya orang yg mengucapkan insya ALLOH akan berkelit ataupun tidak hadir ataupun tidak memenuhi ucapan yg dilontarkan.
Dua buah kisah menarik, yg pernah aku dan Bapakku alami, terkait dengan insya ALLOH ini.
Bapakku pernah marah kepada seseorang yg mempertanyakan ucapan insya ALLOH yg dilontarkan Bapakku. Alkisah, Bapakku ditanya seseorang tentang kesediaannya untuk menghadiri sebuah acara. “Insya ALLOH” demikian jawab Bapakku. Eh, orang tersebut bertanya,”Insya ALLOH-nya benar ga nih Pak?” Mungkin maksudnya bercanda, atau hendak memastikan kehadiran Bapakku. Namun, Bapakku menjadi geram dg pertanyaan orang tersebut, karena Bapakku (alhamdulillah) selama ini tidak pernah ada niatan ‘mempermainkan’ kata Insya ALLOH tersebut. Akhirnya, orang tersebut menyadari ‘kekeliruannya’ yg ‘menyalah artikan’ insya ALLOH. Dia bercerita bahwa sikap ‘apatis’nya terhadap insya ALLOH karena banyak orang berlindung di balik kata Insya ALLOH.
Kisahku sendiri nyaris serupa.
Suatu ketika, seorang temanku bertanya apakah aku akan datang ke tempatnya. Aku bilang insya ALLOH. Nah, ketika aku benar2 datang, dia ‘heran’. “Eh, kamu kan bilang insya ALLOH, kok ternyata datang beneran sih? Kirain bercanda?” Giliran aku yg bingung kok temanku berpendapat demikian. Ternyata, dia sering ‘dijanjikan’ datang dg ucapan Insya ALLOH. Aku sendiri saat itu belum tahu bahwa (banyak?) orang yg menyalahgunakan insya ALLOH.
Ada pendapat, apabila seseorang berjanji (tanpa mengucapkan insya ALLOH) lalu tidak memenuhi janjinya tersebut (dengan alasan apapun), maka orang tersebut akan dianggap sebagai pendusta. Sedangkan jika sudah mengucapkan insya ALLOH, namun dia tidak hadir karena alasan yg dibuat-buat, maka dia akan termasuk orang yg mengingkari janji. Sedangkan (seperti aku tulis di atas) jika dia sudah mengucapkan insya ALLOH serta sudah berusaha semaksimal mungkin namun ternyata masih gagal memenuhi janjinya, itu tidak lain karena kehendak ALLOH SWT.
Mudah-mudahan kita tidak termasuk kepada orang-orang yg menyalahgunakan kata insya ALLOH.
Oya, darimana kata insya ALLOH ini muncul? Ada baiknya kita tengok sejenak kepada surat Al Kahfi(18):23-24. Di sana tertulis,“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, — kecuali (dengan menyebut): “Insya-Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”.”
Ayat ini turun sebagai teguran kepada Nabi Muhammad SAW, karena beliau menjanjikan akan menjawab pertanyaan orang Quraisy tentang beberapa hal. Saat itu, beliau menjawab,”Besok aku akan jawab pertanyaan-pertanyaan itu.” Kemudian Rasululloh SAW menunggu wahyu dari ALLOH SWT untuk membantu menjawab pertanyaan2 tersebut. Ternyata berhari-hari tidak ada wahyu dari ALLOH SWT untuk menolong Rasululloh SAW menjawab pertanyaan tersebut. Yg turun malah Al Kahfi(18):23-24, sebagai teguran dan pengingat kepada Rasululloh SAW agar TIDAK MUDAH MENGUMBAR JANJI.
Sebagai penutup, ucapan insya ALLOH tercantum pada:
- Al Baqarah(2):70,“Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”"
- Yusuf(12):99,“Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman”.”
- Al Kahfi(18):69,“Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun”.”
- Al Kahfi(18):23-24,“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, — kecuali (dengan menyebut): “Insya-Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”.”
- Al Qashash(28):27,“Berkatalah dia (Syuaib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.”
- As Shaaffaat(37):102,“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.”
- Al Fath(48):27,“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.”
- Al Qalam(68):18,“dan mereka tidak mengucapkan: “Insyaa Allah“,”

