Tausyiah275

March 31, 2007

Sedekah Dikembalikan Kontan Berlipat

Masuk Kategori: Hikmah, Dari Inboxku

Pada pagi yang biasanya mendung itu, Istriku berucap perlahan seolah takut membuatku marah. “Pak, antar ke pasar yuk, sudah habis persediaan di rumah, Ibu masih ada sedikit uang, biar Allah saja yang mencukupkan”

Akhir-akhir ini memang aku sangat sensitif karena sedang tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan, sudah enam bulan dan entah sampai kapan. Sepanjang-jalan ke pasar kami tidak banyak berbicara. Istriku cukup memahami situasi kegalauanku sehingga tidak banyak bertanya. Bagaimana tidak galau 10 hari lagi adalah waktunya hutang-hutang pinjaman usaha ke Bank harus kami cicil kembali untuk pembayaran bulan ini dan luar biasa rekening bank sampai bisa bernilai nol karena dipotong pembayaran atomatis. Sementara pembayaran hasil usaha belum dibayar, sudah terlambat tujuh bulan dan entah kapan serta bagaimana terealisasinya. “Ya Allah lindungilah aku dan keluargaku dari tekanan hutang piutang” do’aku dalam hati.

Seperti biasa di pasar kelompok basah tidak ada barang palsu, semua asli ciptaan Allah. Sayur, daging, ikan pasti sulit cari yang palsu, aduuh rasanya harus bersyukur masih mudah merasakan keaslian ciptaanNya.

Tiada terasa sampailah ke pedagang beras dan Istriku berujar:”Pak, uang kita tidak cukup membeli beras, masih terlalu mahal, mudah-mudahan beras di rumah cukup untuk beberapa hari ke depan, kita pulang saja, cukup untuk hari ini”

Tertegun dan sedih dalam hati “Ya Allah sampailah saatnya aku tidak sanggup membeli beras, percuma menggerutu hasil operasi pasar, mudahkanlah kami ya Allah”

Seminggu setelah itu, usai sholat Subuh, aku teringat adik pengojeg yang memiliki 2 tanggungan sementara menanggung pula adik iparnya beserta 1 anak yatim masih harus membagi dua hasil ojegnya setiap hari dengan tetangganya. Terlintas pula tetangga tukang bangunan yang sedang tidak memiliki pekerjaan sementara Istrinya menjadi pembantu rumah tangga harian dengan 4 tanggungan anak. Mereka pasti lebih sulit dari aku.

Menjelang waktu Dhuha, Istriku menelepon bank, mudah-mudahan sudah ada pembayaran, ternyata belum…dug seperti dipukul palu untuk kesekian kalinya. Istriku menangis karena merasa terdesak, kami hanya dapat melakukan Dhuha dan Istikharah saat itu. Setelah selesai tiba-tiba aku teringat bahwa masih ada jalan untuk membeli beras dibanding pengojeg dan tukang bangunan itu, dengan meminjam kembali ke Bank. Diawali sholat mutlak, kupanjatkan pada Allah bahwa aku tidak mau menganiaya diri sendiri dengan menambah hutang, aku punya sedikit keleluasaan berhutang, bila kubelikan 3 karung beras dan 2 karung ku sedekahkan pada pengojeg dan tukang bangunan untuk memudahkan mereka, ku harap hanya Allah saja yang memudahkan seluruh urusanku apapun bentuknya.

Hari itu kami berhutang kembali, tidak lebih, hanya untuk 3 karung beras dengan niat 2 karung sedekah ikhlas karena Allah SWT. Sepulang dari pasar kami langsung ke rumah tetangga tukang bangunan, kami serahkan 1 karung saat Istrinya masih bekerja. Hanya ada 1 rasa saat itu, lega berbuat sesuatu yang diperlukan orang lain, mudah-mudahan mendatangkan kebaikan bagi semua.

Keesokan malamnya dalam hujan setelah menempuh 1,5jam perjalanan, datang adik beserta istrinya yang ternyata sedang hamil 7 bulan untuk mengambil beras. Selama ini mereka menerima raskin 5Kg/Bln/Jiwa, kembali hanya ada 1 rasa saat itu, lega berbuat sesuatu yang diperlukan orang lain, mudah-mudahan mendatangkan kebaikan bagi semua.

Hari ini adalah saatnya pembayaran cicilan pinjaman bank, Ya Allah Alhamdulillah dalam rekening sudah ada pembayaran hasil pekerjaan dan kami tidak perlu mencicil tapi karena ijin Allah dapat dilunasi semua. Kalau dibandingkan secara matematis maka beras sedekah itu dibayar kontan oleh Allah sebesar 300 kali lipat.

Allah Maha Pengatur. Terlambat satu hari, denda dan bunga bank cukup menyakitkan. Lebih cepat satu hari, rasa bergantungnya pada Allah akan terasa lain dan tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Ternyata rejeki tidak hanya uang, tetapi momen, kesehatan, keselamatan, kejernihan hati dan fikiran, kenikmatan beribadah dan beramal dan masih banyak lagi… semua adalah rejeki.

Bonus yang didapat karena Allah adalah membebaskan satu keluarga dari pinjaman rentenir dan memberikan satu keluarga lain sarana usaha. Maha Suci Allah, kami memiliki jalan lagi dari Allah untuk mengumpulkan harta bekal `pulang’ kami nanti. Ya betul-betul harta untuk bekal kami sendiri bukan untuk diwariskan. Sedangkan harta yang katanya milik kita, sebenarnya bukan harta kita tapi harta warisan ahli waris kita…Astagfirullah jangan sampai kita sibuk mengurus harta ahli waris kita sementara kita lupa `bekal pulang harta’ kita sendiri.

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan” (QS 2: 245)

Salam,
Tabuat Ahusan

artikel terkait:
- manfaat sedekah
- belum haji sudah mabrur

March 26, 2007

Putra Putri Rasululloh SAW

Setelah sebelumnya istri-istri Rasululloh SAW, kini aku muat artikel tentang putra putri Rasululloh SAW.

Putra Nabi

Abdullah bin Muhammad
Putra beliau dari Khadijah, meninggal ketika masih kecil.

Ibrahim bin Muhammad (wafat 10 H)
Putra Nabi dari Mariah Qibtiah. Dia hanya hidup selama 18 bulan. Nabi menyaksikan ketika dia menghembuskan nafas yang terakhir sambil meneteskan air mata, beliau berkata “mata boleh meneteskan air, hati boleh bersedih, tapi kita tidak boleh mengucapkan kalimat yang tidak diridai Allah”.

Qasim bin Muhammad
Putra beliau dari Khadijah yang meninggal ketika masih kecil.

Putri Nabi

Fatimah binti Muhammad (wafat 11 H)
Putri bungsu Rasulullah SAW dari Khadijah yang paling disayangi oleh Rasulullah SAW. Dia tergolong wanita Quraisy yang genius dan pintar bicara. Dia menikah dengan Ali bin Abu Thalib. Dari perkawinan ini lahirlah Hasan, Husain, Ummi Kultsum dan Zainab. Dia meninggal 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah. Dan dari Fatimah Az-Zahro¡¦ini lahirlah dzuriyah Rasul sampai sekarang, yang di masyarakat lazim dijuluki Sayid, Habib ataupun Syarief.

Ruqaiah binti Muhammad (wafat 2 H)
Putri Rasulullah SAW. dari Khadijah yang dipersunting oleh Utbah bin Abu Lahab sewaktu Jahiliah. Setelah munculnya Islam dan turunnya ayat yang berarti “Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan dia juga akan celaka” (S. Al-Masad ayat 1)dia langsung dicerai oleh suaminya atas perintah Abu Lahab. Dia memeluk Islam bersama ibunya. Kemudian dia dinikahi oleh Usman bin Affan dan ikut bersama suaminya hijrah ke Abessina (habasyah ), kemudian mereka kembali dan menetap di Madinah seterusnya meninggal di kota itu pula.

Ummi Kultsum binti Muhammad (wafat 9 H/639 M)
Putri Rasulullah dari Khadijah yang dipersunting oleh Utaibah bin Abu Lahab pada masa Jahiliah. Setelah turunnya ayat yang artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia juga akan binasa.” (S. Al-Masad ayat 1) ia dicerai oleh Utaibah atas perintah Abu Lahab. Sepeninggal kakaknya, Ruqaiyah, istri pertama Usman dia dinikahi oleh Usman bin Affan. Dia ikut berhijrah ke Madinah.

Zainab binti Muhammad (wafat 8 H.)
Putri sulung Rasulullah yang dipersunting oleh Abul Ash bin Rabi’. Dia memeluk agama Islam dan ikut hijrah ke Madinah, sementara suaminya bertahan dalam agamanya di Mekah sampai dia tertawan dalam perang Badar. Di saat itu, Rasulullah meminta kepadanya untuk menceraikan Zainab, lalu diceraikannya. Setelah dia masuk Islam, Rasulullah SAW. mengawinkan mereka kembali.

March 25, 2007

Sifat Nabi dan Rasul - Tabligh

Masuk Kategori: Ensiklopedia Islam

Tabligh mempunyai arti MENYAMPAIKAN WAHYU KEPADA UMATNYA. Sifat ini terkait dengan sifat Amanah, yg tidak akan berbuat curang dalam menyampaikan ajaran ALLOH SWT kepada umat. Dengan demikian, Nabi dan Rasul MUSTAHIL KITMAN (menyembunyikan wahyu).

Maksud dari sifat ini, Nabi dan Rasul akan senantiasa menyampaikan wahyu, apapun bahaya/ancaman yg datang kepada mereka. Kita barangkali sudah pernah dan sering mendengar cerita Nabi Ibrahim yg dibakar, kemudian Nabi Yahya yg dibunuh, bahkan Rasululloh SAW sendiri diancam akan dibunuh serta mendapat perlakuan diasingkan oleh kaumnya.

Hal ini menjelaskan bahwa tugas Nabi dan Rasul sangatlah berat…namun, mereka tidak akan menganggap berat, karena mereka selalu yakin bahwa ALLOH SWT akan senantiasa membantu mereka.

artikel terkait:
- Shiddiq
- Amanah
- Fathonah

March 24, 2007

Bacaan di Akhir Pekan - Doa dan Bungkusan yang Ruwet

Malam Jum’at di Masjid Rungkut Jaya. Suatu kali.

Beberapa ayat telah dikupas dari berbagai tafsir: Jalalain, Al-Mishbah, Al-Azhar, Adz-Dzikra, Fii Dzilalil Qur’an, dan beberapa tafsir berbahasa Jawa dan Inggris.
“Saya pernah berdoa yang tak biasa, Pak,” kata Bu Kus membuka sesi pertanyaan.
“Apa itu, Bu Kus?” tanya Pak Suherman Rosyidi, Sang Ustadz.

“Suatu kali saya berdoa: Ya Allah, jadikan saya isteri yang selalu terlihat cantik di mata suami.”
“Doa yang bagus, dong,” sergah Pak Ustadz, “lalu apa yang terjadi?”

“Ya, memang bagus, Pak Herman. Tetapi, esok harinya wajah saya mulai ditumbuhi jerawat yang saya tidak tahu darimana datangnya. Banyak. Beberapa hari kemudian malah memenuhi seluruh wajah. Saya jadi kebingungan. Akhirnya mau tidak mau saya harus menjalani perawatan kecantikan wajah ke sebuah salon kecantikan, suatu hal yang tidak pernah saya lakukan. Saya harus datang ke tempat itu untuk membersihkan jerawat di muka saya. Berkali-kali. Berhari-hari. Hasilnya tentu saja mengejutkan saya. Wajah saya menjadi lebih bersih dari semula. Lebih cantik.”
“Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?”

“Ya, sih Pak. Tetapi itu belum seberapa, Pak.”
“Maksudnya gimana?”

“Saya juga pernah berdoa yang tak biasa, Pak. Doa yang lain.”
“Apa itu?”

“Saya berdoa agar Allah menjadikan saya isteri yang setia pada suami.”
“Doa yang bagus juga. Lalu apa yang terjadi, Bu?”

“Esok harinya, suami saya jatuh sakit. Tak bisa bangun. Ia harus dirawat di rumah sakit. Berhari-hari. Saya mau tak mau harus menungguinya selama terbaring itu. Saya bahkan sampai merasa itu semua seperti ujian bagi saya. Ujian terhadap kesetiaan saya, apakah saya tetap setia pada suami apa tidak. Saya seketika teringat akan doa yang pernah saya panjatkan sebelumnya.”
“Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?”

“Ya, sih, Pak.”
“Lalu sekarang, pertanyaannya Ibu apa?”

“Bukan pertanyaan, Pak.”
“Lalu apa?”

“Sekarang ini, saya justru merasa takut untuk berdoa. Gimana ini?”

***
“Apakah Tuhan memberikan apa yang engkau harap dengan mengantarkannya dalam bungkusan yang indah?” Neno Warisman pernah bertanya demikian pada sebuah acara di televisi, mengutip pernyataan seorang pakar yang aku lupa namanya.

“Tidak!” lanjut Neno. “Tuhan tidak mengantarkan apa yang engkau minta dalam sebuah bungkusan yang menarik lagi indah. Bahkan Ia mengantarkannya dalam bungkusan yang jelek, ruwet, carut-marut, dan kelihatannya sukar untuk dibuka.

Pertanyaannya adalah: mengapa?”
“Itu tidak lain karena Ia ingin melihat bagaimana engkau membuka bungkusan itu dengan penuh kesabaran, telaten, bersusah-payah lapis demi lapis, sedikit demi sedikit, terus, terus, dan terus. Tak pernah berhenti apalagi berpaling. Hingga pada akhirnya bungkus terakhir terbuka dan engkau mendapatkan sesuatu yang engkau harapkan ada di dalamnya.”

Bukankah Allah pasti akan mengabulkan apa yang hamba-Nya pinta? Kuncinya kalau begitu adalah: jangan pernah berhenti memuja. Jangan pernah berhenti berharap.

Allah tidak tidur.
Allah Maha Mengetahui.
Allah Maha Mendengar.
Dia Maha Rahman dan Maha Rahim.

Sungguh tak ada yang sepatutnya kita lakukan kecuali selalu berprasangka baik pada setiap pemberian-Nya. Entah nikmat, entah musibah. Karena musibah pun mungkin hanyalah bungkus belaka; yang selayaknya kita yakini bahwa itu semua hanya karena Ia ingin melihat kita membukanya dengan sepenuh cinta.

March 22, 2007

Jangan Kau Benci Ayah (dan/atau) Ibumu

Ada sebuah komentar (di blog ini) yg mengusik diriku. Aku tuliskan di sini komentar tersebut:

gmna klo qu ta’ cinta pada ayah qu??
bakl msuk surga ga?
kaw enak cekalee,,
punya ortu bae!!
disini ayahku jahatnya naudzubillah deh!!
aku benci banget sama dya,,
najis!!
jangan2 dya itu dajjal ya??
hehehe,,,
amin deh!!
aku benci ayah,,benciiiiiiiiii!!!!!!!!!
dya jahat!!!!!!!!!
tadi dya jotosin ade aku,,
trus aku bela,,
tapy,,aku maw di cekek sama dya,,
ayah macem apa tuh?!
aku aja ga abis pikir kok ada ayah yang durhaka ma anaknya ,,
hehhe,,
emang jamn dagh edan!!
makanya lo nak cilik,,
sayangin bner2 ortu lo yang keren abis itu,,
lo bner2 manusya yang “lucky!”
salam ya bwat orut lo,,
gw doain byar nanti kalian skeluarga masuk surga,,
jangan lupa doain qu jga yawh,,
byar bner2 bahagya en masuk surga,,
udah ga usah doain ayahku,,
doain aja aku sama ummi en ade2 ku yang masuk surga,,
sweet regard,,

Membaca komentar ini, aku langsung terdiam dan termenung…teringat dengan cerita beberapa teman dan kenalanku, yang intinya nyaris serupa. Mereka MEMBENCI orang tua mereka (ayah atau ibu, atau bahkan keduanya). Mereka beranggapan orang tua mereka mempunyai kesalahan yg begitu besar, yg menurut mereka tidak bisa dimaafkan. Yang lebih parahnya, ada juga yg menganggap orang tuanya yg bersalah itu TIDAK ADA…dengan kata lain, dia hanya mengakui keberadaan salah satu orang tuanya. Di kasus lain, dia lebih ‘memilih’ orang tua temannya sebagai orang tuanya.

“Astaghfirullah…”

Aku hanya bisa beristighfar tiap kali teringat cerita teman2ku dan kenalan2ku itu. Terutama jika mengingat cerita temanku yg sedemikian membenci ayahnya, sehingga menyebut kata ayah pun merupakan pantangan baginya. Dia lebih suka menyebutnya “si itu” sebagai pengganti kata ayah. Suatu ironi…yg membuat hatiku sedih.

Di sisi lain, aku juga mempunyai teman yg sedemikian cintanya pada ayahnya. Sepeninggal ibunya, temanku ini berusaha membaktikan dirinya pada ayahnya. Bahkan ketika ayahnya sakit, dia rela untuk meninggalkan pekerjaannya…untuk pulang kampung, demi menjenguk ayahnya. Dia berkata bahwa tindakannya ini merupakan sebagai ‘balas dendam’, karena ketika ibunya meninggal, dia masih kecil dan tidak bisa berbuat apa2. Suatu pengalaman hidup yg memaksaku menengok kembali lembaran hidupku, apakah bakti yg telah aku berikan kepada orang tuaku?

Saudara-saudaraku…aku hendak menyoroti cerita yg pertama, karena untuk cerita yg kedua merupakan sikap yg memang dianjurkan oleh agama kita yg sempurna ini. Insya ALLOH kali lain aku akan bahas juga.

Bagaimana mungkin seorang anak membenci (salah satu atau bahkan kedua) orangtuanya?

Pertanyaan ini sering sekali mengganggu pikiranku. Aku sempat diskusi dengan temanku yg membenci ayahnya itu. Dia menganggap ayahnya mempunyai kesalahan yg sangat besar kepada keluarganya, terutama kepada ibunya, sehingga dia tidak bisa memaafkan kesalahan ayahnya itu. Sayang sekali dia tidak mau bercerita tentang kesalahan ayahnya itu.

Semula aku pikir ayahnya menikah lagi (berpoligami), namun setelah selesai dia mengeluarkan (hampir seluruh) unek2nya, ternyata ayahnya tidak berpoligami, bahkan jika mendengar ceritanya, aku yakin ayahnya adalah ayah/orang tua yg bertanggung jawab.

Aku ajak diskusi dia, mengapa dia mesti membenci ayahnya…namun tidak ada alasan ‘kuat’ yg dia utarakan yg masuk logikaku. *maaf, aku tidak bisa ceritakan alasan2nya itu…untuk menghindari ghibah* Akhirnya aku hanya bisa memberikan solusi padanya untuk lebih sering berinteraksi dengan ayahnya, coba mendekat, dan tindakan2 persuasif lainnya.

Temanku yg lain, PERNAH membenci ayahnya, karena ayahnya menikah lagi….secara diam-diam. Ketika dia dan keluarganya (ibu serta kakak2nya) tahu mengenai pernikahan ayahnya (yang kedua), sontak dia membenci sekali ayahnya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu…akhirnya dia bisa berkompromi dengan status ayahnya yg beristri dua. Bahkan ketika keluarga istri keduanya datang, saat ayahnya meninggal, kedua istri tersebut nampak ‘kompak’ dan berbagi cerita.

Saudara-saudaraku, inti pesan yg hendak aku sampaikan adalah JANGAN KAU BENCI ORANG TUAMU!! Agama Islam telah menganjurkan agar kaum muslim/muslimat menghormati kedua orang tuanya. Mungkin kita sudah sangat hafal dengan ayat Al Isra’(17):23,“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Dalam ayat tersebut sudah jelas dituliskan bahwa sikap kita kepada orang tua:
- Berbuat baik
- Memelihara (menampung) keduanya apabila mereka telah lanjut
- Jangan berkata AH. Dengan merujuk ayat di atas, MEMBENTAK sudah merupakan perbuatan yg TERLARANG

Saudara-saudaraku, apabila anda ada yg masih membenci orang tua anda (atau ayah anda), ingatlah bahwa ayah anda telah berjuang dengan sekuat tenaga membesarkan anda. Beliau banting tulang mencari nafkah untuk membiayai sekolah anda, membelikan mainan kesukaan anda, mengajak anda jalan2. Bahkan ketika anda masih dalam kandunganpun, ayah anda telah bersusah payah untuk membelikan makanan bergizi untuk ibu anda yg akan anda serap, demi keinginan melihat anaknya lahir dan tumbuh dengan sehat.

Jika anda masih tidak bisa berkompromi dengan alasan2 di atas, maka aku hendak ingatkan hal yang lain lagi.

Apakah anda ingat orang tua Nabi Ibrahim? Dalam kisah Nabi Ibrahim as, disebutkan bahwa ayahanda beliau adalah PEMBUAT PATUNG/BERHALA. Dengan demikian, secara aqidah, ayahanda Ibrahim as jelas tidak seiman dengan nabi Ibrahim as.

Lalu, apakah Nabi Ibrahim as membenci ayahnya?

Demi ALLOH, Nabi Ibrahim tidak lantas membenci ayahnya. Kita bisa baca, bahwa Nabi Ibrahim as senantiasa berbicara dengan ayahnya, mengajaknya untuk meninggalkan pekerjaannya selaku pembuat patung/berhala, serta mengikuti beliau, untuk menyembah ALLOH SWT. Apa jawaban ayahnya Nabi Ibrahim as? Beliau MENCACI MAKI, MEMARAHI, bahkan MENGUSIR Nabi Ibrahim as.

Lantas, mendapat perlakuan demikian, bencikah Nabi Ibrahim as kepada ayahnya?

Demi ALLOH, Nabi Ibrahim as tidak membenci ayahnya. Beliau memilih berpisah BAIK-BAIK dengan ayahnya, seraya berdoa semoga ayahnya diberi hidayah oleh ALLOH SWT.

Memang, kita bukanlah tipe Nabi, yg sedemikian luhur budi pekertinya. Namun, contoh dari Nabi Ibrahim as diharapkan bisa membuka mata hati kita…sejahat apapun orang tua kita, beliau tetap orang tua kita. Tidak bisa anda menyebut ayah/ibu yg anda benci dg ucapan “bekas ayah saya” atau “bekas ibu saya” atau “bekas orang tua saya”.

Darah dan daging beliau berdua ada di dalam tubuh anda. Tidak bisa anda menggantinya, sekalipun dengan mengganti seluruh darah anda dengan darah orang lain yg anda inginkan menjadi orang tua anda. Tidak bisa anda ganti daging2 yg sekarang melekat di tulang anda, dengan daging2 dari orang lain…demi menghapus ‘rekaman’ orang tua anda.

Saudara-saudaraku, orang tua yg tidak seimanpun bukan menjadi alasan untuk membenci mereka berdua. Ketahuilah, sesungguhnya hidayah itu hanya ALLOH SWT yg berkuasa atasnya. Jika anda telah memeluk Islam sementara kedua orang tua anda belum masuk Islam, itu berarti ALLOH SWT mempercayakan anda untuk menjadi jalan bagi kedua orang tua anda agar keduanya masuk Islam.

Berikanlah contoh yg baik, perlakukan keduanya dg perlakuan terbaik. Ingatlah kasih dan sayang yg telah mereka berikan sejak anda masih kecil hingga kini.

Jika mereka tetap bertahan tidak mau masuk Islam, bahkan (seperti ayahnya Nabi Ibrahim as) mengusir anda, tetaplah bersikap baik kepada keduanya. Doakan keduanya untuk mendapatkan hidayah sebagaimana anda mendapatkan hidayah dari ALLOH SWT untuk masuk Islam. Tidak perlu kita berubah sikap menjadi benci dan menjauh dari keduanya, kecuali keduanya bersikap yg membahayakan keselamatan anda…maka hendaknya anda pergi menjauh.

Sementara bagi yg kedua orang tuanya sama2 beragama Islam, ketahuilah TIDAK ADA SATU ALASANPUN UNTUK MEMBENCI ORANG TUA ANDA..!! Apapun perbuatan dan sikap beliau, itu orang tua anda. Perlihatkan kasih dan sayang kepada mereka berdua. Apabila ada perbuatan/sikap mereka yg tidak berkenan di hati anda (membuat kesal dan marah), ingatlah bahwa anda pun di saat kecil pernah berbuat hal yg serupa, yg membuat ibu+ayah anda marah. Namun toh mereka berdua tetap menyayangi anda.

So, mari saudara2ku yg masih membenci orang tuanya, mulai sekarang, marilah kita bersama hapus rasa benci itu. Ingatlah selalu kebaikan keduanya…buang jauh2 semua ingatan tentang sikap/perbuatannya yg tidak berkenan di hati mereka.

Sebagai penutup, aku ingatkan kembali hadits Rasululloh SAW tentang orang yg harus kita hormati/patuhi. Ibumu…Ibumu…Ibumu….Bapakmu. Dengan demikian, perbanyaklah berbakti kepada orang tua kita, tidak pilih2 antara ayah dan ibu. Insya ALLOH kita akan meraih kebahagiaan dunia-akhirat.

Semoga artikel ini bermanfaat.
*ps: teruntuk kedua orang tuaku, mohon maaf jika anakmu ini belum bisa berbakti sepenuhnya…*

March 18, 2007

Sifat Nabi dan Rasul - Amanah

Masuk Kategori: Ensiklopedia Islam

Setelah Shiddiq, sifat Nabi dan Rasul berikutnya, yg PASTI dimiliki, adalah AMANAH. Amanah berarti DAPAT DIPERCAYA. Rasululloh SAW sendiri sebelum menjadi Rasul, beliau sudah digelari Al Amin (Yang Dapat Dipercaya). Dengan demikian, tidak mungkin seorang Nabi dan Rasul bersifat/bersikap KHIANAT (curang).

Amanah diterapkan para Nabi dan Rasul dalam bentuk SELALU menyampaikan SEMUA ajaran yg diterimanya. TIDAK ADA satupun yg disembunyikan. Dengan demikian, MUSTAHIL mereka menyelewengkan atau berbuat curang atas ajaran ALLOH SWT.

Apabila saat ini banyak orang (tidak cuma orang kafir, bahkan kaum muslim sekalipun) yg memperdebatkan ajaran yg dibawa Rasululloh SAW, yg menyatakan bahwa Rasululloh SAW menyembunyikan atau berbuat curang dalam menyampaikan ajaran-Nya. Naudzubillah….jangan sampai kita termasuk orang2 yg berpikiran demikian (menganggap Rasululloh SAW berbuat curang).

Dengan demikian, Rasululloh SAW bukan termasuk orang yg sulit dipercaya.

artikel terkait:
- Shiddiq
- Tabligh
- Fathonah






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham