Kisah Berhaji (06)
3.2 Kejadian 7
Usai tawaf, kami menuju sumur zam-zam yg terletak didalam areal masjidil Haram bagian bawah. Disini saya kembali tercengang. Sebuah mata air yg hampir tak mungkin ada di daerah ini. Mekkah dapat anda lihat sebagai pegunungan batu. Masjidil Haram berada di tengah-tengah seperti lembah,sekelilingnya dapat anda temukan hanyalah bukit batu yg sangat sulit dihancurkan. Ini pula yg menyebabkan pembangunan konstruksi di kota Mekkah sangat lamban.
Jangankan tumbuhan subur, kurma pun malas tumbuh disini. Ironisnya, terdapat air sumur zam-zam yg debitnya luar biasa besar yg dipompa dengan pipa-pipa sampai ke Madinah, Jeddah, Yaman, dan daerah lainnya selain untuk keperluan orang ber Hajji. Berjuta-juta orang datang setiap harinya, namun sumur ini tak pernah ada keringnya.
Analisa dan rasa saya mulai jalan. Andaikan memang ada sungai bawah tanah yg mengalir dibawah Mekkah, akankah bertahan sedemikian lamanya ? Perhitungannya bukan 1400 tahun yg lalu, melainkan perhitungan dari Ibrahim. Entah berapa ribu tahun. Karena sungai bawah tanah dapat berubah alirannya hanya dalam kurun waktu puluhan tahun saja. Namun sumur zam-zam ini tak pernah kering dan senantiasa menyediakan air yg dibutuhkan Jamaah yg datang ke sini. Seolah olah ia ada memang untuk kebutuhan ibadah ini. Saat itu tak ada lagi dibenak saya teori kebetulan yg dahulu. (more…)

