Tausyiah275

January 3, 2007

Belum Haji Sudah Mabrur

*renungan bagi kita, selagi masih suasana idul Adha…agar jangan malas dan ‘kalah’ berqurban*

Oleh : Ahmad Tohari

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
‘’Pak, saya mau mengambil tabungan,'’ kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
‘’O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?'’

‘’Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.'’
‘’Mau ambil berapa?'’ tanya saya.

‘’Enam ratus ribu, Pak.'’
‘’Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?'’

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
‘’Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.'’

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

‘’Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?'’

‘’Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.'’

‘’Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.'’

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim,laki2 dan perempuan mukmin,laki2 dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki2 dan perempuan yang benar,laki2 dan perempuan yang khusyuk,laki2 dan perempuan yang bersedekah, laki2 dan perempuan yang berpuasa, laki2 dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki2 dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar ” ( QS 33 : 35)

11 Komentar »

URI untuk TrackBack artikel ini: http://tausyiah275.blogsome.com/2007/01/03/belum-haji-sudah-mabrur/trackback/

  1. :’(

    Komentar oleh mBu — January 3, 2007 @ 8:52 am

  2. oh really2 nice story

    Komentar oleh irwanto — January 4, 2007 @ 12:06 pm

  3. Saya sungguh terharu membaca artikel tersebut, orang miskin seperti Yu Timah saja mau berkurban, bagaimana nih dengan orang2 kaya?

    Komentar oleh rita — January 4, 2007 @ 4:13 pm

  4. Kisah2 semacam ini memang perlu, untuk senantiasa mengingatkan diri ini. Malu rasanya diri ini setelah baca kisah ini.

    Komentar oleh Hasbi — January 4, 2007 @ 11:54 pm

  5. Subhanallah…

    Komentar oleh untitled — January 17, 2007 @ 10:05 pm

  6. ya allah, ak malu neteskan air mata setelah baca cerita ini. salut buat yu timah semoga saya punya keiklasan yang sama. dan bisa bercermin.

    Komentar oleh trio — April 7, 2007 @ 11:37 am

  7. Kisah ini mengingatkan saya pada kisah seseorang dijaman nabi, ingin naik haji tapi tidak jadi berangkat lantaran uangnya habis untuk menolong orang miskin. nabi katakan mereka itu termasuk haji mabur.

    Komentar oleh djoko — July 23, 2007 @ 8:02 am

  8. Subhanallah…
    Kisah yang membuat hati tertunduk malu, sungguh sebuah amal utama , semoga bisa diambil hikmahnya .

    Komentar oleh ummu_isham — September 7, 2007 @ 1:06 pm

  9. subhanaallah
    begitu besar karunia Allah sehingga orang yang seharusnya wajib di bantu, ia merelakan hartanya untuk ber kurban.
    Maha Besar Allah

    Komentar oleh Renie — September 15, 2008 @ 11:47 am

  10. subhanallah…..kisah yg sangat menginspirasi…

    Komentar oleh bee — October 17, 2008 @ 10:02 pm

  11. saya sangat terharu membacanya………
    mudah-mudahan kita semua dapat menirunya..

    Komentar oleh baiti — August 25, 2009 @ 11:42 am

RSS feed untuk komentar di artikel ini.

Tulis Komentar Anda

Baris dan paragraf akan dipisahkan otomatis, alamat email tidak akan tampil, tag HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



ini fitur anti spam: silakan ketik kata yang ada di kotak...






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham