Beretika Dalam Memberikan Komentar
Semula aku tidak berniat menuliskan (dan memuat) artikel ini, karena aku beranggapan para pengunjung blog (serta memberikan komentarnya) adalah orang2 yg dewasa dan matang pemikirannya. Namun, dalam kenyataannya, dalam banyak artikel yg bersifat serius, aku sering dapati komentar2 yg *maaf kalo agak kasar* tidak beretika.
Beberapa ‘model’ komentar yg tidak beretika aku tuliskan di sini:
- Menghina agama lain, baik itu Tuhan, Nabi/Rasul, maupun ustadz/ulama/pemuka agama lain
- Menghina cacat fisik orang
- Menghina penulis artikel, tanpa melakukan konfirmasi/diskusi/tabayyun (cross-check)
- Melontarkan caci maki, baik kepada penulis artikel maupun orang2 lain yg berkomentar di artikel itu
- Mengghibah/menggosipkan orang
- dan masih banyak lagi model2 komentar2 yg tidak beretika lainnya
Blog ini pun tidak terlepas dari komentar2 yg tidak beretika itu. Semula aku tidak terlalu ‘ngeh’ dengan komentar2 ini, karena aku sendiri jarang online untuk memeriksa komentar2 yg masuk. Namun, beberapa hari lalu, aku sempat baca komentar ini dan ini, barulah aku ‘tersadarkan’ bahwa (nampaknya) banyak komentar2 tidak senonoh dan tidak beretika yg masuk.
Aku segera cek di bagian komentar, dan memang, aku dapati beberapa komentar tidak beretika seperti yg (mas?) Execute sebut. Walhasil, aku segera filter komentar2 dari ‘provokator’ itu.
Saudara-saudaraku, aku hendak mengingatkan pada diri sendiri dan pada para pengunjung blog, hendaknya kita berkomentar yg lebih beretika.
“Lalu, ukuran beretika atau tidak seperti apa?”
Hmmm…mungkin poin2 yg aku sebutkan di atas bisa jadi acuan…tapi barangkali yg bisa dijadikan acuan juga adalah jenis artikelnya. Jika artikelnya bernuansa humor/guyon, yaa…mungkin kita bisa memberi komentar yg bernuansa becanda/guyon juga. Tapi, JANGAN MENGHINA ATAU MELONTARKAN KATA2 KOTOR…itu menunjukkan level anda bergaul.
Aku sendiri masih melihat dalam 1-2 minggu ini, jika komentar2 tidak pantas itu masih muncul, mungkin aku akan set ‘moderate’ untuk komentar2 yg masuk, sehingga bisa terhindar dari kata2 yg tidak pantas.
So, dari sini, aku mengajak saudara2ku (dan tentu saja aku sendiri) untuk lebih beretika dalam memberikan komentar…

