Tausyiah275

December 9, 2006

DT Sepi Dari Jama’ah? So What?

Beberapa hari lalu, aku sempat membaca berita bahwa pesantren DT kini menjadi sepi, karena banyak jama’ah (terutama dari kaum perempuan) yg tidak lagi menghadiri pengajian (yg umumnya pengunjungnya membludak). Dari berita tersebut, disebutkan bahwa ini merupakan EFEK DARI POLIGAMI YG DILAKUKAN AA GYM.

Sejenak aku terdiam…hmmm…berpikir….

Nampaknya ALLOH SWT sudah mulai ‘membuka’ topeng munafik ibadah kita. Maaf jika kata-kataku ini agak keras dan tidak berkenan. Namun, dari sini terlihat, bahwa barangsiapa yg beribadah (ke DT) dg IKHLAS, maka aku yakin dia tidak akan terpengaruh dg tindakan poligami Aa Gym. Sementara yg datang ke pengajian DT dengan mempunyai niat selain mencari ridho ALLOH SWT, maka saat ini dia sudah menunjukkan dirinya yg sebenarnya.

Tanpa bermaksud menghakimi dan memvonis para jama’ah, karena aku + adikku pernah menyaksikan sendiri, mayoritas jama’ah yg datang ke DT banyak yg ingin bertemu dg Aa Gym dan BERFOTO dengan beliau. Bahkan dalam satu obrolan dg adikku, yg cukup tahu kondisi DT, dia berkata bahwa jama’ah ibu2 seringkali bersolek habis2an untuk datang ke pengajian DT. Bahkan dalam banyak kesempatan, mereka tidak sungkan untuk berkata bahwa Aa Gym-lah yg menjadi daya tarik mereka datang ke pengajian.

Astaghfirullah…

1. Ibadah yg dilandasi dg niat selain ALLOH SWT tidak akan diterima.
Rasululloh SAW sendiri menyatakan bahwa segala ibadah dinilai oleh ALLOH SWT berdasarkan NIAT. Maka, tertipulah dan celakalah jika kita beribadah dg mengharap imbalan atau apapun itu, yg bukan didasarkan semata-mata untuk ALLOH SWT.

2. Masjid + ulama dijadikan objek wisata&pemuas nafsu.
Maaf jika kata2 ini agak kasar bahkan cenderung ‘tidak beretika’. Namun dari kejadian ini (serta fenomena yg terjadi), kita bisa lihat bahwa datang ke DT untuk foto2 dg Aa Gym, serta kecenderungan ibu2 untuk bersolek sebelum datang ke DT, maka masjid&ulama sudah menjadi objek wisata serta pemuas nafsu. Padahal, Rasululloh SAW sudah mengecam istri2 yg bersolek selain untuk suaminya.

Memang, harus aku akui, pesona Aa Gym memang cukup menghipnotis dan meninabobokan mayoritas rakyat Indonesia, yg membutuhkan da’i panutan. Namun, celakanya, bangsa Indonesia melakukan pengidolaan dan panutan yg berlebihan…bahkan cenderung mengultuskan. Akibatnya, masyarakat menuntut Aa Gym begitu banyak karena besarnya harapan serta ekspektasi mereka kepada Aa Gym.

Walhasil, ketika Aa Gym melakukan poligami, para pengidola dan pengultusnya langsung ‘babak belur’…seperti George Foreman dijotos pukulan straight oleh Muhammad Ali dan terkapar tanpa habis pikir mengapa dia jatuh. Ungkapan kecewa, marah, caci maki, dsb langsung dilontarkan kepada Aa Gym, tanpa mau mengerti alasan Aa Gym melakukan poligami serta ijin yg sudah dikeluarkan teh Ninih dan anak2 beliau.

Jadi, ketika aku baca berita bahwa pondok pesantren DT kini sepi dari jama’ah pengajian….SO WHAT? Jika pengajian2 yg dibawakan Aa Gym lantas DIBOIKOT oleh para (bekas) pengagumnya, MEMANG KENAPA?

Saudara2ku, melalui artikel ini, aku hendak mengajak saudara2ku, terutama yg kecewa terhadap sikap Aa Gym, untuk melakukan introspeksi terhadap diri kita, terutama yg terkait dg NIAT IBADAH. Apa sih niat ibadah yg selama ini kita lakukan?

Apakah kita datang ke pengajian hanya untuk memandangi wajah ustadznya?
Apakah kita sholat ke masjid karena malu dengan tetangga?
Apakah kita (bersikap) sholat dg (seakan-akan) khusyuk untuk dilihat orang?
Apakah kita membaca surat2 yg panjang dalam sholat agar dibilang berilmu oleh orang lain?
Apakah kita membaca Al Qur’an untuk didengar para tetangga, agar dibilang jago ngaji?
dan masih banyak apakah2 lain, yg dasarnya niat ibadahnya BUKAN karena ALLOH SWT?

Jika memang masih (pernah) ada (setidaknya 1) niat ibadah seperti yg aku sebut di atas…maka sesungguhnya kita mesti bersyukur bahwa ALLOH SWT berniat membersihkan hati kita, agar kita beribadah kepada-Nya dg hati yg tulus, bersih serta ikhlas.

Mari…mari….mari kita luruskan lagi niat ibadah kita…jangan tertipu oleh pesona dunia…jangan tertipu oleh penampilan…karena jika dunia dan penampilan yg menjadi tolok ukur kita dalam beribadah, janganlah heran jika banyak orang yg kecewa dg agama…. (ps: pesan ini juga ditujukan kepada aku sendiri….)

Selamat merenung dan meluruskan kembali niat ibadah kita…. :)

Pak SBY, Anda Sudah Tidak Adil!!!

Masuk Kategori: HOT NEWS

Keputusan Presiden SBY untuk melakukan ‘revisi’ terhadap undang-undang pernikahan perkawinan, bagiku, merupakan sebuah blunder (’bermuka dua’ serta membingungkan) yg tidak semestinya tidak dilakukan oleh seorang pemimpin. Mengapa aku sebut blunder serta membingungkan?

1. Revisi tersebut sangat terkesan DIPAKSAKAN.
Pemaksaan yg aku maksud adalah revisi ini muncul sebagai imbas dari pernikahan kedua (poligami yg dilakukan) Aa Gym. Padahal, jika presiden hendak KONSISTEN (merujuk terhadap kasus poligami), revisi mestinya dilakukan sejak akhir 80an atau pertengahan 90-an, karena banyak tokoh yg beken di jamannya itu juga melakukan poligami. ;-)

Selain itu, pemaksaan bisa dilihat sebagai kekhawatiran ibu Ani, barangkali takut pak SBY berpoligami kali yee…?? ;-)

2. Revisi yg MEMBINGUNGKAN.
Poligami jelas2 DIHALALKAN/DIBOLEHKAN oleh Al Qur’an, meski dengan syarat yg TIDAK MUDAH. Sementara revisi undang-undang, jika aku amati sekilas (jadi harap maklum jika masih ada salah persepsi) cenderung MEMPERSULIT NAMUN TIDAK MEMBERI SOLUSI YG MENYELURUH.

3. Tindakan yg ‘BERMUKA DUA’.
Keputusan melakukan revisi, bagiku merupakan tindakan bermuka dua (dobel standar), karena hanya dalam hitungan 3 hari (jika aku merujuk dari berita yg beredar) aparat negara (terutama dibantu oleh staf menteri pemberdayaan perempuan) ‘berhasil memaksakan’ sebuah revisi uu. Sementara PORNOGRAFI, YG SUDAH DIUSUNG DAN DIAJUKAN SEJAK AWAL TAHUN…HINGGA HARI INI TIDAK ADA KEPUTUSAN YG JELAS.

Mungkin presiden SBY termasuk orang yg SULIT MEMBEDAKAN HALAL - HARAM. Padahal, aku sudah tulis di artikel “Ini Halal, Itu Haram, Jadi Anda Pilih Yang Mana?” bahwa batasan/perbedaan halal-haram yg terjadi di muka kita sudah sedemikian jelas, tapi mengapa presiden SBY malah ‘berkecenderungan’ memilih yg haram?

Sedikit menyimpang, presiden SBY sendiri sudah 6 bulan lebih TIDAK BISA MEMUTUSKAN KASUS LAPINDO. Namun untuk kasus poligami, cepet bener tindakannyeee….!! *gunakan logat Betawi untuk mengucapkannya* Mestinya anda buat dulu keputusan ttg Pornografi, Playboy, Lapindo, baru ngurus poligami. Lah ini, prioritasnya kok kebolak-bolak….not talking

Akhirnya aku termenung…yak…pak SBY, ternyata ANDA SEORANG PRESIDEN, BUKAN SEORANG PEMIMPIN. Tidak heran anda bersikap dan bertindak seperti ini, karena yg anda emban adalah tugas presiden, bukan tugas seorang pemimpin…shame on you

ps: insya ALLOH jika aku sudah baca dg lebih teliti mengenai revisi UU, aku bahas juga di sini…jika sempet ;-)

Bacaan di Akhir Pekan - “Uang Korupsi Itu Merusak Anak Saya”

Masuk Kategori: Hikmah, Dari Inboxku

“Uang Korupsi Itu Merusak Anak Saya”
Jamil Azzaini - Kubik Leadership

Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa korupsi di Indonesia sudah terlalu besar dan diluar kontrol. Korupsi sudah merasuki semua sendi kehidupan dan telah terjadi baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Pernyataan presiden yang disampaikan pada acara Presidential Lecture di Istana Negara pada Rabu, 2 Agustus 2006, itu mengisyaratkan bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia masih jauh dari harapan.

Kendati pelaku korupsi tampak tak terjamah, tapi yakinkah kita bahwa mereka benar-benar lolos dari jerat hukum? Ngomong-ngomong soal korupsi saya ingin berbagi cerita.

Suatu hari, saya diundang untuk berbicara di depan staff dan pimpinan sebuah perusahaan ternama. Pada kesempatan tersebut saya berbicara tentang “hukum kekekalan energi”, yang intinya, menurut hukum kekekalan energi dan semua agama, apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita di dunia. Dengan kata lain, apabila kita melakukan “energi positif” atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan “energi negatif” atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula.

Ketika sesi tanya jawab, salah seorang pimpinan di perusahaan itu mengkritik pedas “hukum kekekalan energi”. Walau saya sudah menjelaskan dengan beragam argumen ilmiah dan contoh-contoh dalam kehidupan nyata, dia tetap tidak yakin. Sampai kami berpisah, kami masih pada pendapat masing-masing.

Tujuh bulan berlalu, pimpinan itu tiba-tiba menelpon saya. “Pak Jamil, saya ingin bertemu anda,” ujarnya singkat.

Karena penasaran, undangan dari beliau saya prioritaskan. Singkat kata, pada waktu dan tempat yang telah disepakati kami bertemu.

Rupanya beliau tiba lebih dulu di tempat kami janjian. Begitu saya datang, beliau segera menyambut dengan sebuah pelukan erat. Cukup lama beliau memeluk saya. “Maafkan saya pak Jamil. Maafkan saya,” ucapnya, sambil terisak dan terus memeluk saya. Karena masih bingung dengan kejadian ini saya diam saja.

Setelah kami duduk, beliau membuka percakapan. “Saya sekarang yakin dengan apa yang pak Jamil dulu katakan. Kalau kita berbuat energi positif maka kita akan mendapat kebaikan dan bila kita berbuat energi negatif maka pasti kita akan mendapat keburukan,” ujarnya.

“Bagaimana ceritanya sekarang kok bapak jadi yakin?” tanya saya.

“Selama saya menjabat pimpinan di perusahaan itu, saya menerima uang yang bukan menjadi hak saya. Semuanya saya catat. Jumlahnya lima ratus dua puluh enam juta rupiah,” katanya.

Sembari menarik napas panjang beliau melanjutkan bercerita. Kali ini tentang anaknya.

“Anak saya sekolah di Australia. Karena pengaruh pergaulan, dia terkena narkoba. Sudah saya obati dan sembuh. Ketika liburan, dia ke Amerika dan Kanada. Tidak disangka, disana dia bertemu dengan teman pengguna narkobanya ketika di Australia. Anak saya sebenarnya menolak menggunakan lagi. Namun dia dipaksa dan akhirnya anak saya kambuh lagi, bahkan makin parah, pak.” Selama bercerita, beliau tak henti mengusap pipinya yang basah dengan air mata yang terus meleleh seperti tak mau berhenti.

“Pak Jamil tahu berapa biaya pengobatan narkoba dan penyakit anak saya?” Tanpa menunggu jawaban saya, lelaki separuh baya itu berkata lirih, “Biayanya lima ratus dua puluh enam juta rupiah. Sama persis dengan uang kotor yang saya terima, pak!”

Beliau tertunduk dan menggeleng-gelengkan kepala disertai isak tangis yang makin keras. Dengan terbata lelaki itu berkata, “Uang korupsi itu telah merusak anak saya, pak. Saya menyesal. Saya bukan orang tua yang baik. Saya telah merusak anak saya, pak!”

Saya peluk erat lelaki itu. Saya biarkan air matanya tumpah.
Tangisnya semakin keras….

Wahai saudara, haruskah menunggu anak kita menjadi pengguna narkoba dan sakit untuk berhenti korupsi?

Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham