Puisi Suami yang Minta Ijin Poligami
*selagi ramai masalah poligami…berikut humor yg agak2 basi…;-)*
Istriku,
Jika engkau bumi, akulah matahari
Aku menyinari kamu
Kamu mengharapkan aku
Ingatlah bahtera yg kita kayuh, begitu penuh riak gelombang
Aku tetap menyinari bumi, hingga kadang bumi pun silau
Lantas aku ingat satu hal
Bahwa Tuhan mencipta bukan hanya bumi, ada planet lain yg juga mengharap
aku sinari
Jadi..
Relakanlah aku menyinari planet lain, menebar sinarku
Menyampaikan faedah adanya aku, karna sudah kodrati
dan Tuhan pun tak marah…
Artikel terkait:
- Poligami vs Playboy
- Poligami di Amerika Serikat? Kenapa Tidak?
- Hentikan Mengghibah Aa Gym!!!
- Ini Halal, Itu Haram, Jadi Anda Pilih Yang Mana?
- Press Release dari Aa Gym
- Balasan Puisi Sang Istri …
- Surat-surat Pendukung Poligami
- Jangan Haramkan Yang Halal, Juga Jangan Halalkan Yang Haram
- Efek Samping Poligami


bener2 siap tuh jadi ‘matahari’..?
Komentar oleh mBu — December 7, 2006 @ 8:39 am
puisi yang aneh dan tidak realistis!
*mencuci baju*
mgkn lebih baik klo jgn di perumpamakan sbg “matahari”
menyinari satu planet untuk berlangsung dg baik ajah belum mampu/merata. Bgmn mgkn kompeten untuk planet2 yg lain sinarnya?
*ra nyambung* kekekekkekekekkk…
puisi balasan:
Jgn jadikan kekasih Tuhan ku sebagai dasar perbuatan mu
Jgn bilang Tuhan tidak akan marah
cukuplah katakan: tidak sanggup aku mengkhianati cinta yg ada tanpa engkau ketahui
*ngeloyor*
Komentar oleh Febz — December 7, 2006 @ 3:01 pm
walah…norak banget puisinya.lagi kegatelan kali penyairnya!!!
Komentar oleh irf — December 8, 2006 @ 4:33 pm
Gak lengkap baca puisi ini tanpa membaca balasan dari Sang Istri:
Suamiku…
Bila Kau memang matahari…
Aku rela kau berikan sinarmu tuk planet lain…
Karena mereka juga butuh sinarmu…
Dan aku pun tak kan pernah kekurangan cahayamu…
Tapi bila kau hanya sebuah lilin…
Janganlah bermimpi menyinari planet lain…
Kamar kitapun belum sanggup kau terangi…
Berkacalah pada cermin disudut sana…
Di tengah remang-remang cahayamu…
Lihatlah siapa dirimu, mentari atau lilin???…
Komentar oleh Vinley — December 9, 2006 @ 2:52 pm
intinya masih banyak wanita yang menjadi istri belum siap untuk berbagi suaminya dengan yang lain meskipun itu untuk menjalankan sunnah rasul, saya rasa perlu seorang wanita yang punya kelebihan untuk tulus n ikhlas yang amat sangat untk menjalankan semua itu(poligami)
Komentar oleh nik — February 23, 2007 @ 11:22 am
ha ha ha ha mbak mbak yang saya hormati kami orang laki laki akan senantiasa berbuat baik pada wanita kami berfikir poligami karena sebagian di antara kami idak mendapat kebahagiaan dari istri kami jadi jika seorang istri selalu dapat membahagiakan suami pastilah seorang suami akan setia.jadi tergantung istri bisa tidak membahagiakian suami,. ca cauw
Komentar oleh andika — April 1, 2007 @ 2:40 pm
ha ha ha ha
puisinya gila banget,
ada ada aja….keliatan banget kalo ngebet
ngapain lagi sinar matahari minta izin bumi..
ah gak siip puisinya
wah balasan puisinya ok banget,,,ndak kampungan
Istriku….
dalam resah kau tersenyum menghibur
dalam suka kau merayu mesra
ketika anak-anak kita menangis dan meratap
kau begitu indah menyapa
masih adakah wanita seperti kau
istriku mentariku
menerangi rongga2 gelisah
istriku bumiku
tempatku merebahkan jiwa
untuk istriku tercinta
gembong
galussia@yahoo.co.id
Komentar oleh Gembong — September 11, 2007 @ 12:41 pm
ah ikutan coment, klo ndak cocok DILARANG MAIDO !!!!
BLAJAR BERPUITIS AHHHHH :
Oh istriku, cintaku , sayang ku….
maukah ku jadikan ratu di istanaku…
karna tlah membahagiakan ku..
yakiinlah sayangku….
kau lah orang hebat dalam hidupku…
kaulah orang besar dlm duniaku…
kau cerdas dngan akal pikirmu…
akam jadi mulia & bahagya dlm hidupmu
terwujud ratu dlm istanaku
kalo bisa ridho dan iklas
terhadap kehallalan dari robbimu….
smoga makin banyak caloon nisa’2 yg ingin dan menjadi RATU RATUne bIDADARI….
Komentar oleh 2My At — September 19, 2007 @ 8:15 am
SAHA ETA ANU JADI MATAHARINA MONYET NYA MUN NGABUAT PUSI TEH ATU HARUS TAU SAHA MATAHARINA KOMENTAR NU LAIN GE KITU
Komentar oleh NADYA — January 8, 2008 @ 8:27 pm
suamiku darimana engkau tahu bahwa dirimu adalah matahari !!!
Komentar oleh NURAENI — April 27, 2008 @ 3:43 pm
Matahariku, kau menyinari planet-planet dalam galaksi kita ini. Kau layak untuk menyinari planet-planet lain selain bumi. Sementara ini banyak bumi yang tidak rido engkau menyinari planet lain, walaupun itu bukan dosa. Mengingkari Al-Qur’an berarti orang fasik lho.
Komentar oleh Yasup — September 26, 2008 @ 10:01 am
rugi kalau di Ibaratkan bumi karena bisa dirusak oleh semua mahluk, tapi kalau di Ibaratkan malaikat mungkin lebih o’k cuy. met puasa tuk yg menjalankan.
Komentar oleh ratu — August 27, 2009 @ 8:39 am