Warung Makan Buka di bulan Ramadhan, Bagaimana?
Jika kita perhatikan, tiap kali menyambut Ramadhan, seringkali kita melihat adanya himbauan2 (bahkan di beberapa tempat ada demonstrasi2) yg meminta warung makan/rumah makan untuk tutup selama bulan Ramadhan. Bahkan, di beberapa tayangan televisi kita bisa lihat adanya razia2 dan penutupan terhadap rumah makan. Beberapa kota yg melakukan razia adalah kota Padang, Palembang, dan beberapa kota di Sumatera (aku tidak sempat lihat fenomena yg sama di kota2 di pulau Jawa, atau barangkali terlewatkan?).
Aku pribadi, dalam memandang ‘fenomena’ ini, TIDAK SETUJU dengan sikap+aksi2 yg dilakukan (baik razia ataupun demo-demo, bahkan himbauan).
“Wah, anda tidak Islami….!”
“Sikap anda tidak mencerminkan sikap seorang muslim!”
“Anda tidak menghormati orang2 Islam…!!”
“Hmm…keren juga nih pemikirannya..”
Hmm…mungkin demikian beberapa komentar yg ada di benak anda-anda semua. Mungkin provokatif ya? Mari kita tinjau dulu alasan2ku…
Ada beberapa alasan mengapa aku tidak setuju dg demo, himbauan bahkan razia dan/atau penertiban terhadap rumah makan:
1. Rumah makan ‘mesti’ buka untuk memenuhi kebutuhan makan saudara2 kita yg tidak puasa. Sebagai contoh, beberapa perempuan akan mendapat menstruasi selama bulan Ramadhan ini. Jika semua warung tutup, bagaimana mereka bisa makan? Hal yg sama berlaku untuk saudara2 kita yg sedang sakit. Jika mereka tidak makan, mereka tidak bisa minum obat (yg sebagian besar mesti makan dulu sebelum minum obat). Selain itu, ada juga anak kecil dan orangtua yg tidak terbebani kewajiban puasa. Jadi, tidak ada salahnya warung makan buka kan??
2. Beberapa pemilik rumah makan adalah saudara2 kita juga, sesama muslim. Kini permasalahannya, apakah mereka tidak boleh berdagang selama bulan Ramadhan? Jika mereka tidak boleh berdagang karena alasan bulan Ramadhan, berarti kita merampas hak mereka untuk mendapat keuntungan. Lagipula para saudara kita, para pemilik rumah makan, bisa mendapat keuntungan dari orang2 yg tidak puasa (lihat poin 1 maupun orang2 non muslim yg ingin makan siang). Jadi, mengapa kita mesti melarang warung makan untuk tutup?
3. Warung2 makan yg buka bisa kita jadikan sebagai ‘test case’ bagi puasa/shaum kita, apakah kita bisa konsisten untuk berpuasa ataukah malah tergoda untuk buka puasa??
Justru dengan adanya warung2 yg buka, kita bisa nilai kualitas puasa kita, apakah benar Lillahi Ta’ala (karena ALLOH SWT semata) ataukah ikut2an saja?
Dengan alasan2 yg aku kemukakan di atas, maka kita tidak perlu melarang pemilik warung untuk menutup usahanya kan? Jadi, janganlah kita ‘merampas’ hak usaha saudara2 kita…karena kita bisa termasuk golongan orang2 yg dzalim.
Semoga artikel ini mencerahkan kita


setuju mas, tidak seharusnya kita memaksakan “keislaman” kita kepada orang lain dengan menghimbau apalagi memaksa warung utk tutup di bulan ramadhan.
kmaren liat di tipi, razia warung2 di Padang, rada sakit ati juga. padahal pintu warung tsb cuma dibuka sedikit (muat seorang utk lewat) dan dari yang saya lihat di tipi, kebanyakan yg makan juga orang-orang dari etnis tionghoa.
selain itu, dengan hilangnya warung2 dari peredaran, berkurang juga “medan perang” dalam ramadhan ini.. seperti seseorang pertapa yg akan sangat mudah bertapa di hutan karena ga ada orang.
Komentar oleh yeni setiawan — October 4, 2006 @ 10:54 am
setuju banget.
Komentar oleh andian — October 4, 2006 @ 11:53 pm
Betul,tetapi mohon hargai bulan ramadhan. Kalau yang saya lihat dialog tadi malam pada salah satu media elektronik, yang ditekankan oleh Petinggi Padang adalah untuk tidak secara BLAK-BLAKAN makan pada waktu puasa dibulan ramadhan. Silahkan makan ditempat makan (restoran), tetapi mohon hormati saudara lain yang shaum. Pemerintah Daerah Padang tidak melarang pengusaha kuliner untuk melakukan aktivitas bisnisnya, tetapi hanya menganjurkan untuk menyesuaikan dengan situasi. TAKUT MISKIN?
Komentar oleh Azil — October 5, 2006 @ 9:00 am
AMBIGU? GAK KONSISTEN. CEPAT PERBAIKI BAHASANYA!
*hihihi… nyamar jadi vini*
Komentar oleh Azil — October 5, 2006 @ 9:03 am
setuju mas, tapi perlu juga menghormati orang yang lagi puasa. bagaimana kalau warungnya dipindah ke dalam rumah aja, biar ada bedanya antara ramadlan dan gak….
Komentar oleh khoer — October 5, 2006 @ 9:38 am
wah-wah..
ini sama sekali tidak memikirkan orang non-muslim yah..
cuma disebut *satu* kali dan itu juga dalam *tanda kurung* keterangan tambahan saja, sebagai pembenar alasan lain yaitu motif bisnis pengusaha restoran muslim!
Jadi sepertinya ini lebih penting daripada kebebasan pemeluk agama lain untuk makan seperti biasa ya..
Terlepas dari apakah non-muslim tidak menghargai / mendukung orang puasa dengan tetap buka rumah makan, saya kira niat puasa adalah menahan diri, bukan menahan orang lain..
Walaupun makan di depan orang puasa adalah tidak sopan, tidak beretika, namun bukan berarti boleh dipukuli atau dilarang makan..
Mana aspek menahan diri-nya…………….
-
—
-
harap komentar (dari pemilik blog).
trim’s
salam.
.yog..
Komentar oleh yogi — October 5, 2006 @ 3:14 pm
Assalamualaikum…
klo boleH HoLy kasiH komentar…
agama Islam itu universal dan tidak mengikat…
semua yang kita lakukan itu tergantung dari niatnya,,okeH2..
AllaHu Akbar!!!!!!!!!!!
Wassalamualaikum…
Komentar oleh HoLy — October 9, 2006 @ 3:26 pm
assalamualaikum
anda punya kepedulian yang tinggi terhadap keislaman.
sepertinya orang seperti anda diperlukan untuk memberikan wacana keislaman di forum2 diskusi yang ada di internet.
kami dari www.mysumbar.com mengajak anda untuk bergabung di ‘global forum of sumatera barat’ yang menjadi sarana diskusi tentang berbagai hal, tidak tertutup untuk orang sumbar saja, tapi untuk siapa saja yang juga peduli dengan sumbar.
kami harapkan keikutsertaan anda.
silakan join di http://mysumbar.com/profile.php?mode=register
terima kasih
Komentar oleh mysumbar — October 16, 2006 @ 10:28 pm
ini baru namanya islam
Moga kita semua masuk surga…Amin
Komentar oleh petani miskin — October 17, 2006 @ 3:54 am
yang bilang kalo membuka warung makan dibulan ramadhan setuju itu hanya orang yang nggakk tahan puasa makanya dia bilang setuju!!!! -__-
Komentar oleh amat khan — December 22, 2006 @ 1:23 pm
puasa kan urusan kita masing2 sm Tuhan kan? knp harus sibuk ngurusin org laen yg gak puasa? menasehati boleh, tapi indahnya kalo gak pake caci maki dan kekerasan.
masa BANGGA menang TANPA BERPERANG?
Komentar oleh cumausul — September 4, 2008 @ 3:07 pm