Kesaksian Spiritual Haji (02)
Teguran Allah: Jangan Menunda Berbuat Baik
Saat itu kami telah mengenakan busana ikhrom. Baru tiba di sebuah penginapan di Mekkah dekat kawasan Pasar Seng dari miqot Bir Ali. Badanku terasa letih. Selain perjalanan cukup jauh dan lalu lintas Mekkah padat, jemaah harus memindahkan koper yang cukup berat. Sebagai yang pertama kali masuk kamar, aku merasa mendapat hak memilih tempat tidur yang paling menyenangkan. Kamar itu memuat lima tempat tidur, empat di antaranya bertingkat dua. Jadi tidak salah bila aku memilih tempat tidur tunggal. Aku merebahkan diriku sejenak, melepaskan penat. Sayup terdengar satu per satu teman-temanku datang. Ada yang bergembira mendapat dipan bawah. Namun ada yang berceloteh sebab mesti menempati dipan atas. Kulirik yang terakhir datang adalah seorang kakek yang harus menempati dipan atas terakhir. Dan terjadilah konflik bathin. Haruskah aku memberikan tempatku?
Karena merasa letih aku memutuskan untuk menunggu sampai teman-temanku saja yang menempati dipan bawah rela memberikan tempatnya. Tiba-tiba aku merasa mual. Dan muntah tak terkendali muncrat mengotori sepre. Tiba-tiba terdengar “suara”: “Mengapa kamu seperti itu, padahal kamu sudah mengenakan ikhrom?”
Segera aku istigfar. Ya Allah, ampunilah perbuatan buruk hambaMu. Muntahku tidak kunjung reda. Istriku datang menghampiri setelah diberitahu kondisiku. Kepadanya kubisikkan bahwa aku sedang ditegur. Akhirnya kuputuskan untuk membersihkan tempat tidurku dan memberikannya kepada sang kakek. “Pak, pindah saja ke tempat saya. Tetapi maaf yah, tempatnya agak kotor kena muntah.” Usulku sambil sambil membuka sepree untuk dipindahkan.
“Terima kasih Mas, nggak apa-apa kok. Tempatnya masih bersih.” Sang kakek itu menyetujui tawaranku. Namun, rasa mualku belum reda. Rasa malu bertambah ketika hampir semua jemaah sudah berangkat tawaf umrah dan pimpinan rombongan berkata: “Wah kalau Mas Budi masih sakit, tawaf umrahnya bisa diundur besok saja.” Tidak ada lain yang dapat kukerjakan kecuali memperbanyak istigfar. Sementara istri dengan setia menggosok minyak angin di sekitar leher dan dada. Secara berangsur badan terasa segar. Dan aku putuskan ikut rombongan terakhir untuk tawaf umrah.
Ada rasa takzim saat pertama kali memasuki pintu Babus Salam Masjidil Haram. Alhamdulillah, aku bisa melihat masjid itu. Teringat cerita seorang karibku yang lebih dulu pergi haji. Ada salah satu anggota jemaahnya yang tidak bisa melihat masjid sebesar itu. Jemaah itu baru bisa melihatnya setelah istigfar beberapa kali. Karena pelataran utama padat sekali, kami memutuskan untuk tawaf di lantai dua yang lebih lowong. MasyaAllah!!! Aku yang dikira kurang sehat ternyata mampu tawaf dengan semangat. Bahkan sering ditegur karena berada jauh di depan meninggalkan rombongan. Pimpinan rombongan kaget, “Lho, tadi Mas Budi kelihatannya sakit. Kok sekarang nampak sehat sekali?”
Allah tidak saja Maha Pengampun, Allah membalas kebaikan dengan kebaikan. Aku mendapat ganti tempat tidur yang lebih baik. Lebih empuk, lebih dekat ke kamar mandi dan kamar makan. Juga ada jendela kaca sehingga aku bisa melihat kondisi jalan di luar. Subhanallah. Teguran itu pelajaran seumur hidupku.Tidak ada rasa malu sedikitpun untuk menceritakannya kepada siapapun. Berbuat baik jangan ditunda-tunda!
Tawaf Latihan Berislam
Buku Haji karangan Dr. Ali Syariati - semoga Allah membalas kemurahannya membagi ilmu - menegaskan jemaah haji hendaknya berlaku pasif selagi tawaf. Pasif dalam kepasrahan sepenuhnya mengikuti simulasi gerak objek semesta di dalam orbitnya masing-masing mengelilingi pusat semesta. Pasif seperti elektron berotasi seputar inti atom. Pasif seperti aliran sungai menuju samudera. Jemaah harus menghindari lonjakan ekspresi hawa nafsu yang menimbulkan gesekan atau membuat diri terlempar keluar orbit. Pasrahkan jiwa sepenuhnya di dalam genggaman pengaturan dan pewalian Allah. Leburlah diri di dalam penghayatan doa yang melantunkan kepapaan hamba di hadapan Allah, Rabb Semesta Alam Yang Maha Perkasa dan Maha Agung.
Aku memperingatkan mengingatkan istri untuk disiplin menghayati makna tawaf itu. Ketika memulai tawaf haji, kami memutuskan untuk mendekap sikut sebab kuatir tidak sengaja menyikut orang lain. Pandangan kami lebih sering tertumpu ke lantai. Bila ada barang yang dapat mengganggu, seperti tissue atau peniti, kami pungut sembari berdoa: “Ya Allah, sebagaimana hambaMu membuang halangan ini, maka hilangkan pula halangan dalam perjalanan hidup hamba.” Kami bergerak mengambang mengikuti arus. Pada putaran keenam kami terdorong mendekati bangunan Kabah hingga menempel di dindingnya. Alhamdulillah, aku tetap diberikan disiplin memperingatkan diri sendiri dan istri, “Ingat, ini hanya batu bangunan biasa. Tidak memberikan mudharat atau manfaat. Kalau ingin menyentuhnya, sentuh saja sekarang tanpa mengharap apa-apa.” Kami menempelkan tangan sekali di dinding Kabah. Lalu melanjutkan tawaf.
Kesempatan Mencium Hajar Aswad
Melewati Rukun Yamani, kami melihat banyak orang berebut ingin mencium Hajar Aswad. Dalam hati aku merintih, “Ya Allah, tentu saja hambaMu ini ingin mengikuti sunah rasulMu mencium Hajar Aswad. Namun bila untuk itu kami harus menyakiti orang lain, kami tidak mau.”
Terdengar ’suara’, “InsyaAllah, engkau akan diberikan kesempatan mencium Hajar Aswad.” Tangan kananku tak terkendali bergerak sehingga terkecup bibir. Aku sampaikan pesan ’suara’ itu kepada istriku Adelina yang rapat memegang pinggangku.
Kami terus ikut mengambang mendekati Hajar Aswad. Ketika jaraknya semakin mendekat, kulihat seorang mengambil tongkat dari balik gamisnya. Aku kaget. Untuk apa tongkat itu? Ketika memperhatikan orang-orang saling berebut, aku sempat histeris dan memperingatkan semua orang dalam bahasa Indonesia dan Inggris, “Jangan menyakiti orang di sini. Don’t hurt anybody here!” Teriakku lantang beberapa kali.
Situasi tidak membaik. Akhirnya aku kembali membathin. “Ya Allah, hambaMu ini tidak ingin mencium Hajar Aswad sebab nanti akan menyakiti orang lain.” Kami kemudian terdorong keluar mendekati Maqom Ibrahim dan sudah memulai putaran ketujuh. Terakhir! Ya, itu putaran terakhir. Jadi tidak mencium Hajar Aswad adalah ketentuan Allah. Kami pasrah.
Tiba-tiba aku teringat bahwa tempat sesuci ini tentunya dijaga oleh banyak Malaikat. Lalu kucoba membuka komunikasi, meminta mereka untuk mendoakan kami. “Wahai para Malaikat yang menjaga tempat ini, tidakkah kalian ketahui bahwa selama ini aku selalu mengakui keberadaan kalian dengan berdzikir kepada Allah. Dengan membacakan ayat suci Al Quran yang mengabadikan pernyataan kalian pada saat-saat awal penciptaan Adam.” Sepulang haji sering kurenungkan mengapa kata ‘kalian’ terpilih digunakan kepada Malaikat yang suci? Rasanya pilihan kata itu arogan. Apakah kata itu terpaksa kupilih sekedar untuk mendudukkan keistimewaan manusia dibanding Malaikat di hadapan Allah?
Setelah membaca ‘super-istigfar’ aku lalu melafazkan Al Baqarah ayat 32 yang memuat pengakuan para Malaikat. “Subhanaka laa ilmalanaa illa maa allam tanaa innaka antal ‘alimul hakiim.” Maha Suci Engkau. Tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Terdengar kembali suara, “Bersabarlah sebentar di sini.” Tidak ada lagi yang kukerjakan kecuali bersabar. Tidak memaksakan diri. Tenang-tenang saja menunggu giliran. Kami semakin mendekati Hajar Aswad. Terlihat dua orang wanita tipikal Timur Tengah. Salah satu dari keduanya berteriak lantang kepada orang-orang sekitar. Mungkin mereka mengharapkan para laki-laki memberi mereka kesempatan mencium Hajar Aswad.
Rasanya tidak terduga kami sudah berada tepat di depan Hajar Aswad. Kucermati penampilannya. Nampak banyak tonjolan seperti batu bopeng. Tanganku bergerak mengusap. Dingin. Tak terasa istimewa. Aku tidak menciumnya. Mungkin karena tadi tanganku telah kukecup.
Kemudian kuminta istriku untuk menciumnya. Dia kaget dengan kesempatan ini. Dia nampak ragu dan memberikan dulu kesempatannya kepada dua orang wanita tadi dengan bahasa Inggris seadanya. “Sisters, kiss… kiss.” Kedua wanita itu mencium Hajar Aswad bergantian. Istriku tetap bengong menatap Hajar Aswad. Suatu kesempatan yang sangat langka mengingat demikian banyaknya orang di situ. Waktu serasa berhenti untuk kami. Hingga aku terpaksa berteriak, “Adek, cepat cium!” Lalu istriku menciumnya. Dua kali. Aku melihat seorang di depan kami berteriak lantang menunjuk ke arah kami. “Barkah…barkah… barkah!”
Oh, anak-anak kami. Pahamilah kesaksikan ini sebagai tanda keberadaan Tuhan kita. Berislam sesungguhnya mendidik jiwa menghayati ketentuan dan pewalian Allah sajalah yang terbaik. Ya Allah, karuniakan kepada kami lebih banyak kesaksian nikmatnya hanya menjadi hambaMu.
Doa Di Depan Multazam
Setelah Hajar Aswad kami mendapat kesempatan berdoa di depan Multazam, pintu Kabah yang terbuat dari emas. Tempat terbaik untuk berdoa. Allah kembali menjaga disiplin kami. Dengan penuh keharuan, aku berseru sambil menunjuk Multazam, “Kami tidak datang ke sini untuk melihat gedung ini. Tetapi kami ingin bertemu dengan Pemiliknya!”
Rasa haru semakin meliputi dada. Air mata hangat menetes mengaliri pipi. Merasakan kenikmatan itu sebagai pertanda penerimaan Pemilik rumah tua itu. Namun masih tersisa keraguan. “Ya Allah, jangan sampai air mata yang mengalir ini dari seorang yang munafik. Karena seorang munafik menitikkan air mata dengan menggersangkan hatinya.”
Sahabat, kenikmatan saat itu tidak terbelikan uang. Air mata tumpah semakin deras. Sementara dada terasa terangkat mengembang. Nikmat. Tenang. Damai. Tak terlintas kuatir atau cemas. Ya Allah, hambaMu datang memenuhi panggilanMu.
Kupanjatkan doa dengan terlebih dahulu memohon ampun atas segala dosa dan kesalahanku selama ini. Termasuk atas kebodohanku meminta sesuatu yang tidak pantas. Tidak pantas dalam ilmuNya. Tidak sesuai dengan yang telah ditetapkanNya untukku.
Begitu puas rasanya berdoa di situ. Aku mensyukuri nikmat bimbingan Allah selama ini. Musibah yang mengguncangkan jiwa selama ini reaksi terhadap dekapan kasihNya. Guncangan itu membuka mata bathin yang selama ini tertutup deru amarah, bujukan syahwat, dan prasangka buruk kepada Allah. Aku juga mensyukuri menerima undanganNya menunaikan haji.
Di depan Multazam itu, aku menyebutkan kembali satu per satu “empat kata” yang selama ini “diperdengarkan” kepadaku: “Bersih, Sabar, Syukur, Ilmu.” Empat kata yang menadai pintu-pintu hikmah. Hanya diperlukan satu kunci untuk dapat memasuki semua pintu hikmah: Cinta!
Dapatkan Cinta Allah dengan mencintai makhlukNya. Kami berdoa agar Allah menjaga mahligai rumah tangga kami. Membimbing kami sebagai orang tua yang diberi amanah mendidik anak keturunan menjadi hambaNya yang bertakwa. Tentu saja, ada juga permintaan khusus untuk anak-anak kami yang tidak ingin kuceritakan di sini. Sekembali ke Indonesia, aku menjaga empat kata tersebut dengan menjalankan sholat Dhuha empat rakaat setiap pagi sebelum berangkat ke kantor. Rakaat pertama, selesai Fatihah, aku membaca ayat yang berkenaan dengan “Bersih”. Rakaat kedua “Sabar”, ketiga “Syukur” dan terakhir “Ilmu”.
bersambung

