Hadits Dha’if dan Hasan tentang Doa Berbuka Puasa
Saat aku menerima postingan ini, aku KAGET BUKAN MAIN…!!! Ternyata doa yg selama ini diajarkan kepada kita (bahkan sejak kecil) BUKAN doa yg ’shahih’ jika merujuk kepada pernyataan/rujukan yg disodorkan. Hmmm… ![]()
Hadits dha’if tentang doa berbuka puasa :
Dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwasannya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan, “Allahumma laka shumtu wa bika amantu …” (HR Abu Dawud no. 2358, Baihaqi 4/239 dan lainnya)
Hadits tersebut di atas dikatakan mursal karena Mu’adz bin Zuhrah adalah seorang tabi’in bukan seorang sahabat, jadi ada sanadnya yang terputus antara sahabat dan tabi’in sehingga haditsnya dikategorikan dha’if.
Sementara itu hadits yang hasan tentang doa berbuka puasa adalah sebagai berikut :
Doa yang biasa diucapkan Rasulullah SAW ketika berbuka puasa, “DzaHabazh zhuma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah” yang artinya “Telah hilang rasa haus dan urat - urat telah basah serta pahala telah ditetapkan, insya Allah” (HR. Abu Dawud no. 2357, Ad Daraquthni III/1401 no. 2247, dan Al Hakim no. 1/422, hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Irwaa-ul Ghaliil no. 920)
Referensi:
1. Al Masaa-il, Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darul Qalam, Jakarta, Cetakan Kedua, Tahun 2004 M.
2. Adab Harian Muslim Teladan, Abdul Hamid bin Abdurrahman As Suhaibani, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Januari 2005 M, hal. 184-185.
Kesimpulan:
wah, aku sendiri setelah sekian lama berpuasa (sejak kecil), baru mengetahui bahwa “Allahumma laka shumtu wa bika amantu …” bukan doa yg dicontohkan Rasululloh. So, insya ALLOH sejak kemarin (Kamis, 6 Oktober 2005) aku berdoa 2 macam, “Allahumma laka shumtu wa bika amantu …” dan “DzaHabazh zhuma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah”.
Bagi anda2, mungkin ini merupakan hal baru juga…barangkali kita berdoa keduanya agar tidak terjadi selisih paham/tidak saling menyalahkan bahkan (ekstrimnya) saling mengafirkan.
catatan: hasil search di internet, doa “DzaHabazh zhuma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah” banyak dibaca/diamalkan di Malaysia.
(untuk tulisan Arabnya, bisa diclick di sini.)


Coba tanya dulu ama teman yang ada di malaysia n negara lain
saya lihat ada beberapa saudara kita di negara lain menggunakan doa ini
Komentar oleh andriansah — October 7, 2005 @ 10:06 am
Coba tanya dulu ama teman yang ada di malaysia n negara lain
saya lihat ada beberapa saudara kita di negara lain menggunakan doa ini
Komentar oleh andriansah — October 7, 2005 @ 10:08 am
tulisan arabnya dong.. susah baca yg dilatinkan
maaf..ndak ada scanner
Komentar oleh iang — October 7, 2005 @ 10:32 am
haaaaaa?????
jadi selama ini????
wah ngapalin lagi dong….
silakan gunakan doa yg sudah mbak Endhoot hapal…
masing2 punya dalil…:)
Komentar oleh endhoot — October 7, 2005 @ 11:06 am
maaf…
bener ngga info ini…
http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=496
Salah satu cuplikannya :
Bayangkan bukan lagi sururi, tapi ikhwan ini yang mengisi, karena masalah fulus. Diberi mobil, diberi dauroh, diberi bangunan, apa lagi…? Dan ini rasanya sudah terjawab atau paling tidak tersebut
semua rangkaiannya dan orang-orangnya juga kan berarti…?
Aunur Rofiq Gufron sudah, Yusuf Baisa sudah kamu tahu, Abu Nida sudah disinggung, Abu Haidar sama dengan Al-Sofwa, karena bekerjasama dengan Al-Sofwa sampai sekarang. Bahkan Al-Sofwa bikin cabang di
Bandung dan yang mengurusnya Abu Haidar cs. Adapun Abdul Hakim Amir Abdat dari satu sisi lebih parah dari mereka, dan sisi lain sama saja. Bahwasannya dia ini, dari satu sisi lebih parah karena dia
otodidak dan tidak jelas belajarnya, sehingga lebih parah karena banyak menjawab dengan pikirannya sendiri.
Memang (Abdul Hakim) dengan hadits tetapi kemudian hadits diterangkan dengan pikirannya sendiri, sehingga terlalu berbahaya, mengerikan, sampai-sampai dia melepas hijab ketika kajian, “Tidak ada■
mana ? Hijab itu…?”, begitu ? Jadi akhwat tidak pakai hijab dengan ikhwan, kemudian dia menertawakan gamis. Ini ‘ihtiza bi Sunnah !!! memperolok-olokan Sunnah !!!. Keras sekali hukumnya dalam hukum
Islam. Sururiy yang tadi itu tidak sampai separah ini, dia mengatakan kepada teman-teman yang pakai jubah itu bahwa mereka pakai rok katanya. “Ada apa kamu pakai rok? Kayak perempuan”!!! Maksudnya mau
membantah, kalau kamu katakan “Inikan Sunnah”. Dan dia akan bantah bahwa ini bukan Sunnah, sekalian menonjolkan ilmunya, “nih saya tahu”, dengan cara memperolok-olokkan Sunnah !!!
Padahal kalaupun itu adalah Jibliyyah, karena paling sedikitnya adalah Jibiliyyah (sesuatu yang dipakai oleh Rasulullah, namun tidak dianjurkan pada ummatnya dan bukan Sunnah). Itupun para Ulama
mengatakan, “Tidak boleh diperolok-olokkan”. Kenapa? Karena kalau memperolok-olokan berarti memperolok-olokan apa yang dipakai Rasul. “Hadza adzim, besar sekali di sisi Allah!!! Ini kekurangan
ajarannya Abdul Hakim ini disebabkan karena dia menafsirkan seenak sendiri dan memahami seenaknya sendiri. Tafsirnya dengan Qultu, “saya katakan, saya katakan”, begitu. “Ya.., di dalam riwayat ini꿬ni■
dan saya katakan…”, seakan-akan dia kedudukannya seperti para ulama, padahal dari mana dia belajarnya !!?
Ini yang jadi masalah sehingga banyak yang disaksikan oleh teman-teman yang perlu diteliti lagi, itu banyak berita-berita tentang Abdul Hakim, yang dia ngobrol dengan perempuan tanpa hijab sama sekali,
pakai celana panjang, pakai kaos ketat, ketika ditegur, “Saya sedang menasehati”, terus juga dia masih merokok, kemudian juga masih sering musbil, masih sering pakai pantalon, karena dia mencela gamis
dia pakai pantalon, celana ketat yang sampai disebutkan oleh Syaikh Yahya Al Hajuri di Yaman. Ketika ditanyakan tentang Abdul Hakim, “Siapa ?” lalu diterangkan kemudian sampai pada pantalon (celana
tipis yang biasa dipakai untuk acara resmi ala Barat, red). 밐ah huwa Mubanthal (pemakai panthalon, celana panjang biasa yang memperlihatkan pantatnya dan kemaluannya itu) ?. Dijawab, “Iya
syaikh”. “Allah, yakfi, yakfi, yakfihi annahu mubanthal.” Cukup kamu katakan dengan dia memakai panthalon saja untuk dikatakan ‘Jangan mengaji sama dia■ Sudah cukup bagi saya, apalagi yang lebih dari
itu.
Seorang da’i Seorang yang mengajarkan Sunnah maka harus dimulai dari dirinya untuk memakai yang tidak membentuk pahanya dan pantatnya, itu sudah harus. Ini ketika ditanyakan kepada Syaikh Yahya Al
Hajuri, ada catatannya, ada kasetnya. Ini Abdul Hakim Abdad !!?.
wassalam,
mshmencarikebenaran
wah, mas Wong Cilik…saya tidak ingin memperkeruh suasana
Komentar oleh wongcilik — October 8, 2005 @ 7:43 am
infonya bener ga
coba link kesini :
http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=496
Salah satu cuplikannya :
Bayangkan bukan lagi sururi, tapi ikhwan ini yang mengisi, karena masalah fulus. Diberi mobil, diberi dauroh, diberi bangunan, apa lagi…? Dan ini rasanya sudah terjawab atau paling tidak tersebut
semua rangkaiannya dan orang-orangnya juga kan berarti…?
Aunur Rofiq Gufron sudah, Yusuf Baisa sudah kamu tahu, Abu Nida sudah disinggung, Abu Haidar sama dengan Al-Sofwa, karena bekerjasama dengan Al-Sofwa sampai sekarang. Bahkan Al-Sofwa bikin cabang di
Bandung dan yang mengurusnya Abu Haidar cs. Adapun Abdul Hakim Amir Abdat dari satu sisi lebih parah dari mereka, dan sisi lain sama saja. Bahwasannya dia ini, dari satu sisi lebih parah karena dia
otodidak dan tidak jelas belajarnya, sehingga lebih parah karena banyak menjawab dengan pikirannya sendiri.
Memang (Abdul Hakim) dengan hadits tetapi kemudian hadits diterangkan dengan pikirannya sendiri, sehingga terlalu berbahaya, mengerikan, sampai-sampai dia melepas hijab ketika kajian, “Tidak ada■
mana ? Hijab itu…?”, begitu ? Jadi akhwat tidak pakai hijab dengan ikhwan, kemudian dia menertawakan gamis. Ini ‘ihtiza bi Sunnah !!! memperolok-olokan Sunnah !!!. Keras sekali hukumnya dalam hukum
Islam. Sururiy yang tadi itu tidak sampai separah ini, dia mengatakan kepada teman-teman yang pakai jubah itu bahwa mereka pakai rok katanya. “Ada apa kamu pakai rok? Kayak perempuan”!!! Maksudnya mau
membantah, kalau kamu katakan “Inikan Sunnah”. Dan dia akan bantah bahwa ini bukan Sunnah, sekalian menonjolkan ilmunya, “nih saya tahu”, dengan cara memperolok-olokkan Sunnah !!!
Padahal kalaupun itu adalah Jibliyyah, karena paling sedikitnya adalah Jibiliyyah (sesuatu yang dipakai oleh Rasulullah, namun tidak dianjurkan pada ummatnya dan bukan Sunnah). Itupun para Ulama
mengatakan, “Tidak boleh diperolok-olokkan”. Kenapa? Karena kalau memperolok-olokan berarti memperolok-olokan apa yang dipakai Rasul. “Hadza adzim, besar sekali di sisi Allah!!! Ini kekurangan
ajarannya Abdul Hakim ini disebabkan karena dia menafsirkan seenak sendiri dan memahami seenaknya sendiri. Tafsirnya dengan Qultu, “saya katakan, saya katakan”, begitu. “Ya.., di dalam riwayat ini꿬ni■
dan saya katakan…”, seakan-akan dia kedudukannya seperti para ulama, padahal dari mana dia belajarnya !!?
Ini yang jadi masalah sehingga banyak yang disaksikan oleh teman-teman yang perlu diteliti lagi, itu banyak berita-berita tentang Abdul Hakim, yang dia ngobrol dengan perempuan tanpa hijab sama sekali,
pakai celana panjang, pakai kaos ketat, ketika ditegur, “Saya sedang menasehati”, terus juga dia masih merokok, kemudian juga masih sering musbil, masih sering pakai pantalon, karena dia mencela gamis
dia pakai pantalon, celana ketat yang sampai disebutkan oleh Syaikh Yahya Al Hajuri di Yaman. Ketika ditanyakan tentang Abdul Hakim, “Siapa ?” lalu diterangkan kemudian sampai pada pantalon (celana
tipis yang biasa dipakai untuk acara resmi ala Barat, red). 밐ah huwa Mubanthal (pemakai panthalon, celana panjang biasa yang memperlihatkan pantatnya dan kemaluannya itu) ?. Dijawab, “Iya
syaikh”. “Allah, yakfi, yakfi, yakfihi annahu mubanthal.” Cukup kamu katakan dengan dia memakai panthalon saja untuk dikatakan ‘Jangan mengaji sama dia■ Sudah cukup bagi saya, apalagi yang lebih dari
itu.
Seorang da’i Seorang yang mengajarkan Sunnah maka harus dimulai dari dirinya untuk memakai yang tidak membentuk pahanya dan pantatnya, itu sudah harus. Ini ketika ditanyakan kepada Syaikh Yahya Al
Hajuri, ada catatannya, ada kasetnya. Ini Abdul Hakim Abdad !!?.
menurut hemat saya, daripada saling menyalahkan/mengafirkan, lebih baik beribadah sesuai dengan keyakinan masing2, selama ibadah yg dilakukan tersebut MEMPUNYAI DALIL YANG SHAHIH. jika ada orang yg masih menyalahkan amalan orang lain, maka perlu dipertanyakan…
demikian menurut saya.
Komentar oleh wongcilik — October 8, 2005 @ 8:03 am
Assalamu ‘alaikum
wa’alaykumsalam wr wb
Ana pernah mendengar penuturan salah seorang, bahwa doa berbuka shaum tersebut diucapkan setelah berbuka dengan air putih dan 3 butir korma. Karena, kalimat telah hilang dahaga, dan telah basah urat-urat, mengindikasikan bahwa tubuh kita sudah terbasahi oleh air.
Ana tidak tahu apakah yang lebih benar itu diucapkan sebelum membatalkan shaum atau setelah membatalkannya dengan air dan 3 butir korma.
saya sendiri ‘menganut’ prinsip baca doa dulu baru membatalkan shaum
barangkali ada yg punya referensi yg lebih lengkap??
Wassalamu ‘alaikum wrb
wa’alaykumsalam wr wb
Komentar oleh aep saepudin — October 12, 2005 @ 2:06 am
Assalaamu’alaikum wa Rahmatullaah.
wa’alaykumsalam wr wb
Afwan, ana komentar sedikit.
Pertama, niat itu (amalan hati) menjadi acuan yang sangat penting dalam beramal (begitu juga ilmu).
Jika seseorang pada suatu hari di bulan Ramadhan berniat untuk membatalkan puasanya hari itu maka puasanya untuk hari itu otomatis batal, meskipun ia telah tidak makan-minum dan tidak seks sampai matahari terbenam.
Sangat disayangkan sekali jika anda telah berniat puasa, kemudian sahur dan menghindari dari hal-hal yang membatalkan puasa sampai matahari terbenam kok terus membatalkan puasanya dengan seperti apa yang dilakukan ikhwan di atas! Jadi intinya berbuka puasa itu bukan dan tidak sama dengan membatalkan puasa…
Berikutnya yaitu bahwa salah satu saat dimana doa itu mustahab adalah saat berbuka puasa. Apapun doanya asalkan benar Insya Allaah pasti akan dikabulkan oleh Allaah SwT.
Sebaiknya memang doa itu dilakukan seharusnya sesuai dengan Sunnah, baik cara, saat, dan isinya.
tepat sekali…itu maksud saya
Wallaahu A’lam.
Wassalaamu’alaikum wa Rahmatullaah.
wa’alaykumsalam wr wb
Komentar oleh aherm — November 18, 2005 @ 9:57 pm
Ass,saya baru mulai belajar salaf tapi saya gak tau mana salafy yang benar?saya sudah pernah ngaji ke Ust.Abdul Hakim & Ust.Muhammmad As Sewed.Situs ini salaf yang mana?saya orang awam jadi gak tau mana yang benar.Apakah di tubuh Salafi sudah terjadi perpecahan?pada suatu kajian di Ust.Abdul Hakim ada Ikhwan yang menayakan perihal Ust.Muhammad As Sewed,beliau dng penuh kasih sayang dalam menjelaskan siapa Ust.As Sewed,tapi dalam situs ini kok beliau ditikam & di jelekkan.Ustad As Sewed & Ust Abdul Hakim isi kajiannya sama semua, berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah.Banyak orang yang ragu apakah Salaf itu benar atau tidak setelah adanya makalah ini.Kalaulah manhaj Salaf itu benar tapi kok ada perpecahan diantara dainya?.Tolong jangan buat orang ragu.
wa’alaykumsalam wr wb
terus terang mas Bayu, saya sendiri tidak begitu paham dan mengikuti apa itu salafy, dst dst…
insya ALLOH kali lain saya bahas tentang salafy…insya ALLOH
untuk ‘amannya’ lebih baik anda ikut dengan pengajian yg ‘general’…agar tidak mudah ‘ribut’ dg ‘aliran’ lain…:)
maaf jika ada salah2 kata…:)
Komentar oleh Bayu Siskory — April 5, 2006 @ 5:54 am
Ana heran dengan pemahaman salaf model nt yang engga punya adab nt seperti tong kosong kejadian 1992 di ungkit lagi padahal orgnya dah berubah sedang kesalahan nt malu untuk merujuk kepada kami yang dakwah kami semangkin pesat insyaallah kesalahan nt akan kita bongkar dengan kedatangan masyayih Madinah bln juli 2006 sudah saatnya model pemahaman nt di jelaskan kepada mereka
maaf mas Abu…komentar anda ini ditujukan ke siapa?
saya?
tolong diperjelas komentarnya….agar tidak salah tangkap:)
Komentar oleh Abu Sulaiman Bahfi — April 5, 2006 @ 7:54 am
sebelum masuk ramadhan, saya pernah ikut pengajian yang mengatakan do’a buka puasa itu memang allahumma lakasumtu…
tapi baca do’a nya sesudah buka(makan).
bukan sebelum makan.
ini gimana nih stadz
Komentar oleh chanks — September 30, 2006 @ 10:14 pm
TAHUN 2005 ANA PERNAH IKUT KAJIAN ABDUL HAKIM ABDAT DI BEJ DAN ANA MENYAKSIKAN DENGAN MATA KEPALA SENDIRI HAKIM ABDAT BERBICARA TANPA HIJAB DENGAN AKHWAT YANG IKUT DI KAJIANNYA SEHABIS TAKLIM. DAN DIA NAIK LIFT BERSAMA DENGAN PARA AKHOWAT YANG TAKLIM, PADAHAL IKHWAN2 LAIN MENJAUH DARI LIFT UNTUK MEMBERI KESEMPATAN PARA AKHOWAT MENGGUNAKAN LIFT TERLEBIH DAHULU. LALU DIMANA WARA’NYA HAKIM ABDAT ?
Komentar oleh ABU SALAMAH — November 2, 2006 @ 4:50 pm
Semuatu tergantung sama niat…jika Qta berdo’a semata2 Karena aLLah …insa ALLaH …..Selamat BErPuasa
…
Komentar oleh aLI — September 19, 2007 @ 5:33 pm
Coba dengarkan kajian salaf di http://ahlusunnah.web.id disana ada penjelasan bahwa do’a berbuka puasa yang banyak diamalkan kaum muslimin tidak ada 1-pun yang shahih, termasuk ““DzaHabazh zhuma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah”
Komentar oleh abdillah — September 20, 2007 @ 10:34 am
Coba dengarkan kajian salaf di http://ahlussunnah.web.id disana ada penjelasan bahwa do’a berbuka puasa yang banyak diamalkan kaum muslimin tidak ada 1-pun yang shahih, termasuk ““DzaHabazh zhuma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah”
Komentar oleh abdillah — September 20, 2007 @ 10:35 am
assalamualaikum
Komentar oleh anjar — September 26, 2007 @ 7:13 am
iya pak sy ok….
Komentar oleh agussuhartono — September 29, 2007 @ 9:18 pm
Assalamu’alaikum wr wb
‘Sesungguhnya Alloh mendengar dan mengabulkan setiap do’a yang di panjatkan’
Wassalam
Komentar oleh saepuloh — October 5, 2007 @ 6:11 pm
asalamu alaikum.
mf ana cuma ingin meluruskan komentar no.5 di atas.
memang yang namanya dakwah sunnah itu selalu ada rintangannya, menguhajatnya, mengkritiknya dan memusuhinya (ust zulkarnain dalam kajiannya pernah mengatakan: tidak ada yang selamat dari hujatan&kritikan, sampai rosululloh pun demikian bahkan Alloh ta’alapun juga dihujat&dikritik oleh hamba-hambanya yang tidak tahu diri itu).
demikian juga dengan para da’i sunni ini seperti ust abdul hakim abdat&ust aunurofiq dan yang lainya, setahu ana mereka itu dalam kajiannya tidak pernah menta’yin seseorang berbeda dengan kaset rekaman kajian yang ana tahu dari para da’i yang kebanyakan bekas laskar jihad yang mudah menta’yin seseorang, memfonis seseorang sebagai ahli bid’i, surury, dan sebagainya. seperti yang terdapat di www.salafy.or.id. Fakta.bloksome, tau tukpencari alhaq.wordpress itu
semua tudingan itu jelas sekali terlalu dipaksakan untuk menghabisi dakwah sunni ini, ketahuilah wahai saudaraku bahwa memerangi para da’i serta da’wah sunnah yang dibawa oleh mereka, itu sama halnya dengan memusuhi agama ini dan kalau sudah demikian berarti telah memusuhi Alloh&RosulNya maka bertaqwalah wahai saudaraku…
bahkan yang ana ketahui mereka (para da’i yang selalu di musuhi ini)selalu memuji ust umar asewet, memuji ust ust zulkarnain yang dari makasar itu ust ‘adnan dari manado, bahkan mereka mengatakan kalau ust assewet adalah seorang salafi (baca artikel ust firanda) dan do’a mereka kepada ust zulkarnain semoga ust zul menjadi seorang ulama…
subhanalloh..
lihatlah wahai saudaraku… para ust pengusung dakwah sunnah ini.. subhanalloh. sedangkan kalian, masih saja ada dari sebagian orang yang senantiasa mengujatnya..
hakim abdat ngrokok, isbal, bantalon, tanpa hijab, otodidak, dsb. wahai saudaraku istighfarlah semoga Alloh mengampunimu.. itu dulu ya akhi, lebih dari belasan tahun yang lalu… itupun beliau tidak identik dengan hal itu (memang pernah isbal) tidak terus-terusan kemudian beliau rujuk, kepada kebenaran sedangkan antum masih sibuk dengan hujatan.
kalau memakai bantalon setahu ana itu tidak bahkan beliau selalu pakai gamis itupun dengan catatan ya kalau ukuran salafy atau bukan salafy itu tidak dengan memakai gamis… karena tidak ada keterangan dari Nabi atau sahabat kalau tidak pakai gamis telah keluar dari ahlusunnah ya, betul tidak..
kemudian masalah beliau otodidak, setahu ana beliau itu dari LIPIA lho, kemidian beliau sibuk di maktabah mengumpulkan dan mempelajari hadits-hadits shohih dan dhoif dari berbagai kitab para ulama, dan buktinya beliau syaikh Ali al halabi, syaikh Muhammad musa alu nasr, syaikh salim al hilali, syaikh ibrahim ar-ruhaili, dan lain-lain mereka telah berulang kali dating keindonesia selau bersama dengan ust Abdul hakim, ust aunurofiq dll.
seandainya para ust ini ahli bid’ah, sururi, maka apakah para ulama ini tidak tahu kalau mereka susuri bukankah para ulama telah datang beberapa tahun keindonesia berulang kali kok tidak datang kepada para ust bekas laskar jihad yang selalu membid’ahkan mereka itu, atau akan amtum katakan kalau para ulama itu selama ini tidak ngerti meneliti dan memahami kepada siapa dia akan datang?
maka sebenarnya itu adalah penghinaan terhadap para ulama ahlusunnah kalau mereka tidak paham masalah pokok seperti ini apalagi ini menyangkut manhaj dan aqidah kaum muslimin di suatu negeri, maka yang menghina para ulama itulah yang sebenarnya surury, sebab dhobit surury itu jelas (diantaranya yaitu melecehkan ulama ahlusunnah)
walhasil sekarang gara-gara terpengaruh oleh hasutan ini, orang yang baru kemarin saja keluar dari jamaah tabilgh dan katanya ikut kajian di salafy lisannya telah ringan mengucapkan surury, mubtady kepada para asatidz yang telah menghabiskan waktunya untuk berdakwah mengeluarkan kaum muslimin dari kesyirikan dan kebid’ahan. dan hal yang seperti ini ringan saja mereka melontarkan kata-kata sururi itu, seperti disa’at minum teh panas saat bertamu dirumah temannya, ngobrol santai sambil ngangkat kedua kakinya setelah kajian mereka dll. Dan yang demikian bukan Cuma satu atau dua orang saja dari para mad’u yang baru balajar ini yang mengatakan sururi itu, tetapi puluhan, ratusan atau bahkan lebih dari itu.
subhanalloh, allohul musta’an.
wassalamu alaikum
Komentar oleh kang mas — December 25, 2007 @ 10:49 am
nanggapi coment no 5
Setahu saya al ustadz abdul hakim bin amir abdat tidak seperti yang anda katakan
Komentar oleh war — April 3, 2008 @ 2:04 pm
jngn suka bhng ama orang tua jik a kamu sudah tua, nanti kamu akan dapat balasan seratus kali perilaku kamu pada
ornag tuamu
Komentar oleh awaluddin — September 3, 2008 @ 2:55 pm
saya orang awam jadi heran apa benar para salaf suka mencela saudaranya yang juga salaf, apakah kalau padi sebakul kemudian ada beras satu biji terus padi sebakul itu dinamakan beras, yang saya pernah baca menuntut ilmu itu yang utama, apakah diri anada sudah sebagaimana yang di parintahkan oleh Allah dan Rasulnya, apakah para ulama mengajarkan untuk membuang waktu hanya untuk mencela saudaranya .
Komentar oleh eko — December 2, 2008 @ 2:35 pm
wah .. salah info tuh … Hakim Abdat itu gak lulus di LIPIA makanya gak .. kalo dia ngaku dah lulus sampai benar2 selesai .. pasti bohong! ..
Tahun 2000an dia masih ngerokok .. ada anak UI mergokin dia di rumahnya di poltangen .. thaun 2003an …
Dia kagak ada sanadnya … gak jelas siapa gurunya .. kalo dia murid seorang syekh .. pasti sang sykeh mengakui sebagai murid ….. tapi tak ada satu pun sykeh yang mengakuinya
Komentar oleh salafi_parah — March 2, 2009 @ 12:49 am
Abdul hakim tidak kuliah sampai S1, dia cum belajar otodidak di perpustaan di LIPIA, mahasiswa LIPIA tau siapa dia sebenarnya
Komentar oleh ari — April 7, 2009 @ 3:37 am
syaikh Al Albani juga otodidak,lalu apakah anda akan membuang ilmu syaikh Al Albani???!
anak ingusan tidak usah banyak komentar, apalagi ngomentari ustadz salafy setinggi ustadz Abdul Hakim Abdat!! anda itu masih kucing garong, tidak pantas ngeang-ngeong membentak singa… he2..
Komentar oleh abu zaid — April 9, 2009 @ 6:39 pm
anda juga kucing garong, menyamakan abdul hakim abdat dengan albani? albani itu diakui semua ulama di dunia, sedangkan abdul hakim abdat? siapa yang mengakuinya? hadits aja gak ngerti kok malah jadi ustadz.Dia sering mengatakan orang-orang bodoh, padahal dirinya sendiri juga bodoh, lihat saja karangannya Al-Masail. Rancu, kontroversi, seola2h ngerti hadits, padahal MUTAHADDITS. Membidahkan shalat taraweh 23 rakaat, padahal KOMITE TETAP UNTUK FATWA DAN RISET ILMIYAH Pimpinan syaikh Abdul Aziz bin bas mengatakan bukan Bid’ah. Saya salut, ternyat ilmu abdul hakim lebih tinggi dari para ulama yang terkumpul dalam KOMITE TETAP UNTUK FATWA
Komentar oleh ari — April 18, 2009 @ 12:49 am
di stasiun tv lokal khususnya di indonesia tercinta,,, setiap kali saat saat berbuka puasa dari thun ke tahun sampai skarang pasti di sambut dengan bacaan do’a allahumma lakashumtu wabika ammanthu,,,, ta ada teguran apapun dari kalangan manhaj salaf, ,, why why
Komentar oleh farrel — April 19, 2009 @ 4:23 am
ada kebiasaan salafy yang umum digunakan oleh para syekh dan murid2nya, yaitu mencaci maki lawan, dengan menggunakan kata-kata kasar, seperti, himar, anjing, dan lain-lain. tapi anehnya mereka tidak berani mengatakan hal itu kepada yahudi dan nasrani yang jelas2 musuh islam. sungguh terbalik dari ajaran salafusshaleh yang sebenarnya, dimana mereka saling berkasih sayang sesama muslim, dan sangat keras terhadap orang kafir, sadarlah, sadarlah.
selanjutnya, adalah fanatik buta terhadap syekh, walaupun syekh sangat kentara salahnya.
para syekh menasehatkan muridnya agar selalu belajar kepada orang yang ahli dan mumpuni dalam masalah agama, tapi sebagian orang-orang yang dianggap syekh sendiri juga tidak pernah berguru kepada ulama.
contohnya udah banyak.
Abdul Hakim Abdat siapa syekhnya?
Dia selalu mencaci maki orang yang tidak semazhab dengan dirinya, dia bilang bodoh, keras kepala, bukan ahli agama, tidak tahu alquran dan hadits, bukan ahli hadits.
dia sendiri juga gak pernah berguru,gak punya syekh.
kalau dia punya syekh, tentu syekh tersebut menyatakan bahwa abdul hakim adalah muridnya, nyatanya tidak ada satupun ulama saudi yang mengaku abdul hakim sebagai muridnya, baik yang bermazhab salaf maupun tidak, di yaman juga tidak ada.
entah kenapa dia dianggap sebagai dai salafi.
Komentar oleh sulistiro — April 21, 2009 @ 9:50 pm
asstagfirullah….
abdul hakim abdat…saya juga tidak punya guru…tapi saya bukan ustadz….tobatlah…bisa2 anda sesat lagi menyesatkn
Komentar oleh arif — August 13, 2009 @ 12:01 pm
Lha ini para ahli manhaj salaf yang puinter2, ahli hadits, dan predikat super lainnya kok pada gak mudeng njelasin kapan doa buka puasa dibaca. Malahan pada namimah, ghibah, fitnah gak jelas. Ngapain sih ngomongin abdul hakim abdat, gue aja kagak kenal dan gak perlu kenal karena tampaknya bukan orang yang penting untuk dikenal.
Doa buka puasa itu setelah berbuka, minimal setelah ta’jil atau minum air. Kenapa? Orang yang pernah belajar ilmu Shorof alias pernah nyantri, belajar dengan bener dan punya guru tempat bertanya kalau gak mudeng mustinya bisa memahaminya.
Kalimat-kalimat dalam doa puasa semuanya menggunakan fi’il maadli yang bermakna lampau atau telah terjadi. Bahasa inggrisnya past tense. Shumtu, aamantu, afthortu, dzahaba, ibtallat, tsabata semuanya adalah fi’il maadli yang artinya telah berpuasa, telah beriman, telah berbuka, telah pergi, telah hilang, telah tetap. Menjadi rancu jika orang berdoa dan atas rizqimu aku telah berbuka tapi nyatanya ia belum berbuka. Bukan berarti gak boleh berdoa sebelum berbuka, cuman jadi aneh karena yang ia ucapkan tidak sesuai yang ia lakukan.
Orang berdoa mah bebas sepanjang tidak melanggar aturan Allah dan Rasulnya. Allah memerintahkan: berdoalah kalian pasti Aku kabulkan. Tidak dikatakan berdoalah seperti doanya Rasul. Orang berdoa tidak dibatasi apapun sehingga tidak masalah ia berdoa minta mobil, lulus ujian, dsb meskipun tidak ada contoh doa itu dari Rasul. Apalagi ada hadits meskipun dhoif, dengan isi doa yang baik tentu doa itu sangat utama karena diucapkan juga oleh Rasulullah. Ojo kaku-kaku masalah doa, ini bid’ah lah, hadits dhoiflah. Berpikirlah dengan jernih, orang berdoa sesuai dengan apa yang ia butuhkan. Rasulullah berdoa sesuai kebutuhan Rasul saat itu, sehingga gak mesti sama doa kita dengan Rasul.
Komentar oleh Albarq — August 20, 2009 @ 4:16 pm
Tapi maknanya berkaitan tu. Qq sndiri baru tahu sore ini ketika seorang teman di YM mengirimkannya. Cari info dah. Alhamdulillah nemu keterangan di sini. Atas petunjuk teman dari MP.
Komentar oleh QqCakep — August 21, 2009 @ 3:21 pm
udah lah mas / mbak..jangan mencaci memaki orang laen yang jelas sadarlah wahai kaum muslimin…belajar..belajar pakai dalil yg paling benar menurut qur’an dan sunah…kita kembalikan jika ada peraselisihan….cari hadis yang sangat mutawatir….dan hujjah yang kuat..jgn membanggakan golongan karena akan timbul fitnah dan petaka….mari saudaraku kita kembali ke qura’an dan sunah….
Komentar oleh juki — August 28, 2009 @ 1:54 pm