Tausyiah275

October 25, 2009

Bayi Rusia Dengan Tulisan Al Qur’an. Hoax Atau Keajaiban?

Masuk Kategori: HOT NEWS, Hoax

Bismillah,

Sudah sekitar 2 minggu ini aku banyak menerima informasi mengenai adanya bayi yang di tubuhnya muncul tulisan Al Qur’an. Si bayi ini berasal dari Rusia, sebuah negara yang masih identik dengan ajaran atheisme, yakni tidak mempercayai adanya Tuhan.

Dalam tulisan yang saya terima, tertulis bahwa di beberapa bagian tubuhnya mendadak muncul ayat-ayat Al Qur’an dengan ayat-ayat yang tampil random.

Bagaimana kita, umat Islam, menyikapi fenomena ini?

Di satu sisi, begitu banyak komentar dan tanggapan yang masuk, entah itu pro maupun kontra. Pro dalam artian, banyak kaum muslim yang merasa takjub dan meyakini bahwa kejadian ini merupakan salah satu keajaiban yang diperlihatkan ALLOH SWT kepada kaum atheis di Rusia. Seakan-akan ALLOH SWT menyuruh para atheis di Rusia (dan dunia) untuk meyakini keberadaan-Nya dengan peristiwa ini.

Namun, ada juga yang bersifat kontra, dalam artian menolak mentah-mentah ini adalah keajaiban dari ALLOH SWT. Mereka berpendapat ini adalah ulah dari orang tua si bayi yang ingin mencari popularitas. Bahkan seorang dokter mengatakan bahwa si anak menderita penyakit kulit yang dikenal dengan istilah ’skin writting’. Penyakit ini ada pada setiap 5% dari populasi negeri. Jika menderita penyakit ini, seseorang dapat menulis apa saja di kulitnya seperti halnya pada sebuah kue.

Saya sendiri bersikap hati-hati dalam fenomena ini. Sudah terlalu banyak hal-hal ajaib yang pernah saya bahas, yang ternyata di kemudian hari adalah hoax (berita bohong) semata. Nah, saya melihat bayi dengan tulisan Al Qur’an ini juga mempunyai ciri-ciri yang sama dengan hoax2 yang pernah saya tulis.

Bagi saya, ALLOH SWT tidak perlu memperlihatkan keajaiban seperti ini. Jika kita mau renungkan sedikit lebih dalam serta mau jujur pada hati nurani, sebenarnya keajaiban dan keberadaan ALLOH SWT sudah ada di sekitar kita. Alam yang tercipta, kemudian lahirnya bayi, belum lagi Al Qur’an itu sendiri sudah menunjukkan keberadaan ALLOH SWT.

Namun, sayangnya masih banyak manusia yg sudah tertutup hatinya dari hidayah-Nya. Mereka akan mengatakan apapun untuk menolak mentah-mentah bukti-bukti yang nyata terlihat jelas di depan mereka.

Intinya, kaum muslim meesti lebih waspada dengan berita2 seperti ini. Hendaknya cross-check dahulu, tidak semudah itu mempercayai sebuah berita, apalagi yang tidak jelas dan tidak bisa dibuktikan keberadaannya.

Semoga berguna :-)

October 15, 2009

Islam, Gempa, Dan Angka-angka (Numerologi)

Bismillah,

Kita sudah ketahui bahwa Islam merupakan agama yang sempurna dan ‘meminta’ para pemeluknya agar LEBIH BANYAK mengedepankan AKAL daripada sesuatu yang tidak jelas juntrungannya. Akan tetapi, pada kenyataannya, seringkali para pemeluknya, bahkan yang mengaku dirinya berakal dan mengerti ttg Islam, justru membuat Islam menjadi ‘norak’.

Saya ambil contoh adalah keterkaitan antara Islam dan angka-angka (yang lazimnya disebut numerologi).

Sekitar 2-3 tahun lalu, saya sempat membaca artikel yang mengaitkan Islam dengan angka 19. Inti dari artikel yang saya baca itu, angka 19 merupakan ‘pondasi’ dari banyak hal di Islam, karena banyak hal di Al Qur’an ternyata berhubungan dengan angka 19.

Terus terang, saya tertawa saja membaca penjelasan si penulis itu. Banyak hal yang terasa dipaksakan agar memenuhi keinginan si penulis, bahwa 19 selalu ada di Al Qur’an.

Sejenak, saya teringat dengan ilmu guthak gathuk di Jawa *tolong koreksinya jika salah*. Ilmu guthak gathuk ini biasanya digunakan untuk ‘menghubung-hubungkan’ sesuatu dengan angka. Yaa…mirip dengan yang dilakukan si penulis angka 19 itu lah. Biasanya ilmu guthak gathuk ini banyak dipraktikkan oleh para pejudi atau paranormal. Berbagai cara mereka lakukan agar ilmu ini bisa diterapkan dan dipercaya oleh orang-orang sekitarnya.

Nah, terkait dengan hal ini, saya jadi teringat dengan peristiwa yang baru terjadi, yakni gempa bumi di Padang.

Tidak berselang lama dari kejadian gempa di Padang, alamat email dan yahoo messenger saya dipenuhi dengan berita-berita yang mengait-ngaitkan gempa di Padang dengan ayat Al Qur’an.

Berikut kutipannya

“Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qur’an!” demikian bunyi pesan singkat yang beredar. Siapa pun yang membuka Al-Qur’an dengan tuntunan pesan singkat tersebut akan merasa kecil di hadapan Allah Swt. Demikian ayat-ayat Allah Swt tersebut:

17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16): “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58): “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”

8.52 (QS. Al Anfaal: 52): (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”

Sejenak saya merasa dejavu, sebelum akhirnya saya tertawa.

Jika hendak konsisten, mestinya si penulis ini juga menyertakan bencana-bencana gempa lain yang terjadi di Indonesia dengan ayat-ayat Al Qur’an seperti yg dia lakukan pada bencana di Padang ini. Padahal, jika diperhatikan rincian bencana-bencana gempa lain tidaklah selalu berhubungan dengan ayat-ayat Al Qur’an mengenai kemurkaan ALLOH SWT ataupun bencana.

Apa buktinya?

Jika merujuk ke situs BMG, anda akan bisa temukan banyak gempa yang terjadi di Indonesia. Silakan cek setiap bencana gempa, katakanlah yang skalanya cukup besar, di atas 6, dengan ayat Al Qur’an, maka akan kita ketahui bahwa tidak semua gempa berhubungan dengan ayat Al Qur’an.

Saya juga sempat membaca di beberapa situs bahwa ‘tidak nyambungnya’ gempa dan Al Qur’an bisa terlihat pada gempa di Aceh (2004) dan di Yogya (2006).

Dari hasil pencarian, gempa dan tsunami di Aceh terjadi pada 26 Desember 2004 pada pukul 7:58. Jika melihat Al Qur’an (7:58), maka akan didapat bunyi ayat sebagai berikut:
“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”

Sementara itu gempa di Yogya 27 Mei 2006 terjadi jam 05.55 pagi. Kita cek Al Qur’an (5:55), maka didapat ayat:
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”

Lagipula, saya kok yakin karena Al Qur’an merupakan petunjuk bagi SEMUA UMAT MANUSIA, maka ayat-ayatnya TIDAK BOLEH diartikan/diterjemahkan/ditafsirkan sesuai keinginan suatu masyarakat/negara. Dengan kata lain, jika hendak mencocokkan gempa dengan Al Qur’an, maka ‘mestinya’ masyarakat Jepang yg berhak mengatakan bahwa Al Qur’an ‘cocok’ dengan kondisi negara mereka karena begitu seringnya terjadi dan terkena gempa. Toh, tetap saja bahwa MENCOCOKKAN (WAKTU KEJADIAN) GEMPA DENGAN AL QUR’AN adalah perbuatan orang2 (maaf) bodoh dan tidak mengerti!

Justru sebagai umat Islam yang diminta menggunakan akal dan nalar (logika), umat Islam mesti BISA MEMBACA AYAT TERSIRAT, dalam hal ini gempa. Umat Islam mestinya bisa menguasai ilmu gempa, termasuk cara penanggulangannya, lalu cara membuat bangunan tahan gempa. Itu akan memperlihatkan bahwa Islam benar2 agama yg menggunakan nalar dan logika. Bukan dengan cara menghubung-hubungkan gempa dengan ayat lalu menyebarkannya, yang malah akan membuat kegelisahan di kalangan masyarakat.

Umat Islam hendaknya menggunakan angka-angka sebagai sarana untuk menjabarkan dan membuktikan kerasionalan Islam, bukan malah sebaliknya, membuat Islam “nampak bodoh” dengan memaksakan angka-angka dengan ayat Al Qur’an. :-)

Semoga berguna.

September 27, 2009

Tragedi Pembagian Zakat, Antara Ego Dan Manfaat

Masuk Kategori: Fiqh, Seri Kesalahan2, Zakat

Bismillah,

Sebagai salah satu kewajiban kaum muslim (yang mampu dan sudah memenuhi nisab) adalah membayar zakat.

Sayangnya, pembagian zakat di Indonesia seringkali dibarengi dengan permasalahan, yakni adanya tragedi, entah itu para mustahiq pingsan, terinjak-injak, bahkan pernah ada yang meninggal dunia. Padahal jika dicermati dengan seksama, hal ini mestinya tidak perlu terjadi.

Saya sendiri beranggapan tragedi zakat seperti ini akan terus terjadi di masa-masa mendatang. Keyakinan dan anggapan ini didasarkan pada EGO yang dimiliki oleh para muzakki.

Barangkali saya didasari suudzon (buruk sangka) kepada para muzakki ini, dengan menganggap para muzakki ini mementingkan EGO. Saya berharap suudzon saya salah, namun hal ini saya rasa beralasan karena sebenarnya badan zakat di Indonesia sudah cukup banyak dan kinerjanya sudah lebih baik. Sehingga, MESTINYA, para muzakki ini cukup menyerahkan zakat mereka kepada badan ini, dan biarkan badan ini yang bekerja, mendistribusikan zakat dengan baik dan sesuai dengan porsinya.

Bagi saya, menyuruh para mustahiq datang berbondong-bondong, terlebih sampai terjadi kericuhan dan tragedi, adalah hal yang merendahkan martabat para mustahiq. Kesannya bossy sekali yak? Selain itu, hal seperti ini akan membuat distribusi zakat tidak akan sampai dan sesuai dengan tujuannya.

Mestinya, para muzakki itulah yg datang ke tempat para mustahiq. Terlebih jika ada data statistik tentang jumlah warga miskin, hal ini akan sangat memudahkan pembagian zakat.

Sayangnya, semua ‘kemudahan’ ini masih ‘ditutup’ dengan kepongahan dan egoisme para muzakki. Terlebih dengan adanya bisikan setan yang akan membisikkan dan meniupkan sifat riya’ dan sum’ah ke dalam lubuk hati.

Bagaimana menurut anda?

September 23, 2009

Puasa Syawal, Susah Atau Mudah?

Bismillah,

Pertama-tama, saya ucapkan Selamat ‘Idul Fitri 1430 H. Taqabballahu Minna Wa Minkum, Shiyamana Wa Shiyamakum. Maaf lahir dan batin untuk segala kesalahan yang pernah saya lakukan di blog ini, facebook, ataupun di yahoo messenger. :-) Semoga di 11 bulan berikutnya, kita bisa mempertahankan semangat Ramadhan hingga kita bertemu lagi dengan bulan mulia itu. Aamiin :-)

Puasa Syawal adalah ibadah yang bisa dilakukan di bulan Syawal, sebagai upaya untuk menyempurnakan shaum Ramadhan yang telah kita lakukan. Anda bisa membaca artikelnya di sini.

Pertanyaan yang timbul, apakah puasa Syawal itu mudah atau susah?

Mengapa ada pertanyaan seperti itu? Karena walaupun puasa Syawal itu ‘hanya’ 6 hari, jauh lebih pendek jika dibandingkan dengan puasa Ramadhan yang 29-30 hari, namun bagi kebanyakan kaum muslim, puasa Syawal ini dirasa sangat berat untuk dilakukan. Hal ini, jika dipikir secara logika, memang benar. Dilihat dari jumlah hari, puasa Syawal itu mudah, tapi kenyataannya sulit dilakukan.

Apa pasal puasa Syawal (cenderung) sulit dilakukan?

Ada beberapa penyebab mengapa puasa Syawal cenderung sulit (dan enggan) dilakukan.

Pertama, kaum muslim merasa dirinya baru bebas dari kewajiban puasa Ramadhan. Mereka beranggapan puasa di bulan Ramadhan sudah cukup sebagai sarana ibadah, terutama untuk puasa di bulan lain tidak terlalu penting. Walhasil, mereka merasa tidak perlu menuaikan puasa Syawal.

Kedua, bisa jadi kaum muslim tidak mengetahui manfaat dari puasa Syawal. Manfaat puasa Syawal adalah untuk menyempurnakan ibadah puasa yang telah dilakukan di bulan Ramadhan. Sebagaimana sabda Rasululloh SAW, dari Abu Ayyub rodhiyallahu anhu: “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup’.” [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164] Selain itu, anda bisa baca kembali poin 1.

Ketiga, masalah kebersamaan. Puasa Ramadhan terasa lebih mudah dilakukan karena orang-orang di sekeliling anda juga berpuasa. Sementara untuk puasa Syawal, anda akan berpuasa sementara orang-orang lain cenderung tidak berpuasa. Adalah hal yang aneh, jika di Indonesia, yg mayoritas penduduknya beragama Islam, sulit untuk puasa sunnah. Bagi orang-orang yg pernah tinggal di negara non muslim, saya yakin akan lebih mudah untuk menuaikan puasa sunnah, karena mereka sudah terbiasa puasa di tengah-tengah orang yang tidak berpuasa. Terlebih bagi kaum muslim di Jakarta, yg sehari-hari mesti berhadapan dg cuaca cukup panas dan teriknya matahari.

Nah, menurut anda sendiri, puasa Syawal mudah atau sulit?

September 5, 2009

Buka Bersama Vs Tarawih Bersama

Bismillah,

Beberapa waktu lalu, saya mendapat email yg ‘mempertanyakan’ apa yg dipilih, apakah buka bersama atau tarawih?

Isi emailnya seperti berikut

Ass.wr.wb.

Punten, ah… sekadar mengamalkan surat Al ‘Ashr…

Kalau mengadakan buka bersama, apakah shalat Maghrib terpikirkan?
Biasanya, sih, karena diadakan di mall, kita terpaksa menjamatakhirkan shalat Maghrib…

Setelah acara makan, apakah ada acara shalat Isya’ dan tarawih bersama?
Biasanya, sih, habis makan kita ha-ha-hi-hi, ngobrol dan kongkow sampai malam…
(* lebih parahnya, acara karaoke dulu sampai waktu sahur lagi… *)

Sayang juga tuh pahala yang kita tinggalkan…
Shalat Maghrib dan Isya yang tidak tepat waktu…
Padahal kalau shalat berjamaah di masjid,
ada pahala saat melangkahkan kaki ke mesjid,
ada peningkatan pahala 27 derajat karena shalat berjamaah,
ada pahala shalat sunnat muakkad
Padahal kalau shalat tarawih
ada pahala besar 11 rakaat yang menanti kita…
ada pahala karena mendengarkan ceramah…

Memang sih, kita bisa bilang ini hanya satu hari dari 30 hari shaum…
tapi… itu dia… sayang banget pahala yang tidak bisa kita raih..

Bagaimana kalau ditunda dulu acara buka bersamanya sampai setelah lebaran?
Memang, bukan buka bersama lagi, tapi kalau tujuannya silaturahmi dengan makan bersama…
bisa dilakukan nanti….

Tergelitik dengan isi email tersebut, saya menjawab email tersebut sebagai berikut (jawaban saya dalam huruf miring):

Ass.wr.wb.

wa’alaykumsalam wr wb

Punten, ah… sekadar mengamalkan surat Al ‘Ashr…
Kalau mengadakan buka bersama, apakah shalat Maghrib terpikirkan?
Biasanya, sih, karena diadakan di mall, kita terpaksa menjamatakhirkan shalat Maghrib…

solusinya simple saja, saya sudah biasa lakukan hal berikut:
1. siapkan dulu ta’jil
2. buka secukupnya + sholat magrib dulu
3. baru hunting tempat makan

Setelah acara makan, apakah ada acara shalat Isya’ dan tarawih bersama?

bisa saja, tinggal cari tempatnya yg mendukung
atau jika perlu, usai magrib, jgn dulu makan ‘besar’ tapi ngobrol2 dulu sambil nyemil.
usai isya + tarawih bersama, baru mencari tempat makannya

Biasanya, sih, habis makan kita ha-ha-hi-hi, ngobrol dan kongkow sampai malam…
(* lebih parahnya, acara karaoke dulu sampai waktu sahur lagi… *)

wah, saya sih tidak pernah separah itu :D

Sayang juga tuh pahala yang kita tinggalkan…
Shalat Maghrib dan Isya yang tidak tepat waktu…
Padahal kalau shalat berjamaah di masjid,
ada pahala saat melangkahkan kaki ke mesjid,
ada peningkatan pahala 27 derajat karena shalat berjamaah,
ada pahala shalat sunnat muakkad
Padahal kalau shalat tarawih
ada pahala besar 11 rakaat yang menanti kita…
ada pahala karena mendengarkan ceramah…

jika memang mau nyari pahala seperti itu, saya usul lokasi buka barengnya di jl sabang (Jakarta Pusat). di sana:
- tempat makan banyak dan buka sampai malam
- ada masjid di belakang djakarta theatre

Memang sih, kita bisa bilang ini hanya satu hari dari 30 hari shaum…
tapi… itu dia… sayang banget pahala yang tidak bisa kita raih..

Bagaimana kalau ditunda dulu acara buka bersamanya sampai setelah lebaran?
Memang, bukan buka bersama lagi, tapi kalau tujuannya silaturahmi dengan makan bersama…
bisa dilakukan nanti….

kenapa mesti menunda jika solusinya sudah ada? :-)

Bagi saya, salah satu makna Ramadhan adalah bersilaturahim dengan rekan-rekan lama, entah 1 smp, 1 sma, atau teman kuliah. Memang tidak salah ajakannya, agar tidak lalai dengan ibadah, tapi (menurut saya) mengapa kesannya mempersulit silaturahim?

Anda sendiri akan memilih buka bersama atau tarawih bersama (dan meninggalkann kegiatan silaturahim)? ;-)

August 27, 2009

Sahur Itu Diakhirkan, Bukan Di Awal!

Bismillah,

Sebuah kondisi yang menarik untuk diamati adalah waktu sahur. Ternyata banyak sekali keluarga muslim yang masih salah kaprah tentang sahur. Salah kaprah dalam hal ini adalah melakukan sahur sepagi mungkin. Bahkan saya masih ingat, tetangga saya yang di Bandung, mereka sahur jam 3 pagi.

Hal ini tidaklah dilarang, tapi sebenarnya tidak sesuai dengan anjuran dan contoh Rasululloh SAW yang senantiasa mengakhirkan sahur beliau. Hal ini berdasarkan hadits berikut: Dari Anas bin Malik (dan dalam satu riwayat darinya bahwa Zaid bin Tsabit bercerita kepadanya) bahwa Nabiyullah dan Zaid bin Tsabit[18] makan sahur bersama. Tatkala keduanya telah selesai sahur, Nabi berdiri pergi shalat, maka shalatlah beliau. Aku bertanya kepada Anas, “Berapa lama antara keduanya selesai makan sahur dan mulai shalat?” Anas berkata, “Sekitar (membaca) lima puluh ayat”

Membaca 50 ayat Al Qur’an secara tartil membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit. Dari keterangan di atas, berarti waktu sahur Rasululloh SAW cenderung di sekitar 20-30 menit menjelang sholat Subuh.

Tujuan mengakhirkan sahur sudah jelas, agar kita tidak terlalu cepat merasa lapar saat menjalankan shaum.

Tentu saja mesti dibedakan antara MAKAN SAHUR dengan MEMASAK SAHUR. Untuk memasak menu sahur, tentulah tergantung pada menu yang hendak disantap. Bisa jadi butuh waktu 1-2 jam untuk memasaknya. Meski demikian, saya dan istri biasanya tidak memilih menu makanan yang lama dimasak. Istri saya biasanya sudah menyiapkan menu sahur di malam hari, sehingga saat sahur tidak butuh waktu lama untuk menyiapkannya.

Jangan lupa, sahur sebaiknya dilakukan, karena ada keutamaan dan manfaat di dalamnya.

Semoga berguna. :-)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham